Tag Archives: sungai

Pasar-Pasar di Surga

16 Feb

Pasar-Pasar di Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Di surga terdapat pasar-pasar (tempat-tempat) orang-orang mukmin berkumpul setiap hari Jum’at. Di sana mereka berkumpul saling mengingat dunia. Mereka memuji Allah swt karena Dia telah memasukkan mereka ke dalam surga. Kenikmatan dan anugerah Allah swt yang telah mereka terima sungguh sangat besar.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Di surga terdapat pasar. Orang-orang akan mendatanginya setiap hari Jum’at, lalu angin utara bertiup sepoi-sepoi meniupkan parfum misik ke wajah dan pakaian mereka sehingga menambah keindahan dan ketampanan mereka. lalu mereka pun pulang kepada istri-istri mereka, sedangkan mereka telah makin indah dan makin tampan. Para istri mereka pun berkata, ‘Demi Allah, engkau makin indah dan tampan.’” (HR Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Musayyab bahwa ia bertemu dengan Abu Hurairah ra. Lalu Abu Hurairah berkata, “Aku memohon kepada Allah agar Allah berkenan mengumpulkan kita di pasar surga.” Lalu Abu Sa’id bertanya, “Apakah di surga ada pasar?” Abu Hurairah ra. menjawab, “Ya.” Lalu beliau membacakan hadits yang di antaranya ada kalimat, “Lalu, ia mendatangi pasar dengan disertai kemudahan oleh malaikat. Di sana akan didapati sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Di sana ia mendapatkan apa yang dia inginkan. Di sana tidak ada yang dibeli, juga tidak ada yang dijual. Di pasar itulah, para ahli surga bertemu satu dengan lainnya. Maka bertemulah mereka yang mendapatkan posisi tinggi dengan mereka yang mendapatkan posisi di bawahnya, bahkan yang lebih bawah lagi, yang tampak perbedaan dari pakaiannya. Di surga mereka tidak mempersoalkan pakaian itu, kecuali yang tampak oleh mereka adalah keindahannya sebab di surga tidak akan ditemukan kesedihan.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ahli surga ketika masuk surga, mereka menempati posisi mereka berkat keutamaan amal-amal mereka. lalu mereka diizinkan –seperti layaknya hari Jum’at dan hari-hari dunia- lalu Allah mendatangi mereka. ditampakkan ‘Arsy Allah kepada mereka yang sedang berada di taman-taman surga. Lalu diletakkan mimbar-mimbar dari cahaya, mimbar-mimbar dari mutiara, mimbar-mimbar dari yakut, mimbar-mimbar dari zabarjad, mimbar-mimbar dari emas, dan mimbar-mimbar dari perak. Yang lebih rendah dari mereka juga duduk berdekatan dengan misik dan kafur. Tidak ada yang tahu kalau ada lagi yang lebih utama dari orang-orang yang duduk di atas kursi.” Abu Hurairah berkata, “Wahai Rasulallah, apakah kita bisa melihat Tuhan kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, apakah kalian melihat bulan di malam bulan purnama membuat mata perih?” para shahabat menjawab, “Tidak.” Rasulullah saw. bersabda, “Demikian juga tidak akan perih melihat Tuhan kalian di surga, dan tak seorang pun yang tersisa dari majelis tersebut, kecuali Allah swt yang memang hadir, sampai-sampai Allah berfirman kepada seseorang, ‘Tidakkah kau ingat, wahai Fulan, saat engkau melakukan ini dan itu?’ Lalu Allah mengingatkan sebagian perjalanannya di dunia. Kemudian orang itu berkata, ‘Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah ampunia?’ Allah menjawab, ‘Benar, engkau telah Aku ampuni. Karena keluasan ampunan-Ku, engkau dapat menempati posisi yang seperti ini.’ Lalu tiba-tiba ada awan menutupi mereka dari atas dan hujan kebaikan pun turun membasahi mereka. mereka tidak terkena apa-apa kecuali seperti angin bertiup. Lalu Allah berfirman, ‘Bangkitlah menemui apa yang telah Aku janjikan dari kemuliaan. Ambillah apa yang kauinginkan.’ Rasulullah saw. bersabda, “Lalu mereka mendatangi pasar…” dan seterusnya hingga sampai pada perkataan, “Hal itu karena di surga tidak ada seorang pun yang sedih.”
Abu Hurairah berkata, “Kemudian kami semua pulang ke rumah masing-masing dan bercerita kepada istri-istri kami.” Lalu mereka [para istri] menjawab, ‘Selamat datang, engkau datang makin tampan dan makin baik. Lebih baik atau lebih utama dari sebelum berangkat.’ Lalu mereka [para shahabat] menjawab, ‘Hari ini kami duduk bersama Tuhan kami Yang Mahaperkasa. Tentu sudah menjadi hak kami untuk berubah sebagaimana mestinya.’” (HR Ibnu Majah)

&

Dua Macam Orang yang Dijanjikan Surga oleh Allah jika Mereka Sabar

16 Feb

Dua Macam Orang yang Dijanjikan Surga oleh Allah jika Mereka Sabar
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Allah swt. berfirman dalam hadits Qudsi, “Jika hamba-Ku ditimpa musibah dengan kedua matanya [matanya buta], lalu ia bersabar maka Aku akan mengganti kedua matanya dengan surga.” (HR Ahmad dari Anas ra. dan Thabrani dari Ibnu Jarir ra)

Pada hadits qudsi yang lain Allah berfirman: “Ketika Aku mencabut kemuliaan-Ku pada hamba-Ku, lalu ia bersabar sambil instropeksi diri, maka aku tidak melihat imbalan yang setimpal kecuali surga.” (HR Bukhari dari Anas ra. dan Ahmad dari Abu Umamah ra)

Pada hadits qudsi yang lain Allah berfirman: “Ketika Aku mencabut kemuliaan-Ku pada hamba-Ku di dunia maka tidak ada balasan yang setimpal dari sisi-Ku kecuali surga. Oleh karena itu, ia tetap memuji hal tersebut.” (HR Turmudzi dari Anas ra.)

Sebuah hadits riwayat Ibnu Abdillah bin Namir, dari Ishaq bin Sulaiman Hariz Ibnu Usman, dari Syurahbil bin Syuf’ah, dari Ibnu Abdi Salma bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang tiga orang putranya meninggal dunia dalam keadaan masih berlum baligh, kecuali mereka akan menemuinya pada salah satu di antara delapan pintu surga, dari mana saja ia akan memasukinya.” (Sunan Ibnu Majah)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abdurrahman bin al-Asbahani, dari Dzukwan, dari Abu Sa’id ra. bahwa sejumlah perempuan memohon kepada Rasulullah saw. “Sempatkanlah waktu untuk kami, wahai Rasulallah, untuk menasehati kami.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Wanita [muslimah] manapun yang tiga anaknya meninggal dunia dalam keadaan masih belum baligh maka mereka akan menjadi tamengnya dari api neraka.” seorang wanita bertanya, “Bagaimana jika hanya dua?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, dua juga.” Syarik mengatakan dari Ibnu Ashbahani, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id, dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Anak yang belum usia baligh.” (Shahih Bukhari)

Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya, dari Imam Malik, dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin Musayyab, dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim yang ditinggal mati oleh tiga orang putranya, lalu ia disentuh api neraka, kecuali sumpah akan menjadi penghalangnya.” (Shahih Muslim)

&

Di Surga Tidak Ada Tidur

16 Feb

Di Surga Tidak Ada Tidur
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Diceritakan dari Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Abi Aufa ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidur adalah saudara kematian, sedangkan di surga tidak ada tidur.” (HR Ibnu Adiy dalam al-Kamil, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dan Abu Syaikh dalam Tarikh Ashfahany. Syaikh Albani menyebutkan dalam silsilah al-Ahadits ash-Shahihah)

Ini adalah kenikmatan besar yang diterima orang-orang beriman saat di surga. Mereka membayangkan dan sedikit berfikir tentang kenikmatan tersebut, tetapi yang mereka dapatkan ternyata berupa kenikmatan agung, yang telah Allah ciptakan untuk orang-orang mukmin. Kenikmatan itu akan terus-menerus dan tidak akan terputus. Orang-orang mukmin akan hidup di surga dalam seluruh waktunya, tidak sedetikpun hilang tanpa kenikmatan dan kegembiraan. Bersama panjangnya usia yang tidak ada habisnya itu. Sedangkan kalau saja tidur akan terjadi di surga, berarti kenikmatan itu sempat terputus.

Allah berfirman yang artinya:
“Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Huud: 108)

Ghairu maj-dzuudz, berarti tidak putus-putusnya dari mereka. surga merupakan kerajaan yang sangat besar, tempat orang-orang beriman akan berjalan-jalan di dalamnya senantiasa dalam kesibukan.

&

Cuaca Surga

16 Feb

Cuaca Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Di surga tidak ada terik matahari yang menyengat dan salju yang sangat dingin. Cuaca cerah menerangi penghuninya, dengan suasana yang sangat menghanyutkan perasaan dan tiada bandingannya, tidak mungkin untuk dapat diungkapkan dengan kata-kata, kecuali kalau kita sudah mengalaminya.

Di dunia, dalam satu tahun, ada saatnya kita merasa nyaman dan segar dengan cuaca dan suhu udara yang pas terasa di kulit. Biasanya itu terjadi pada malam hari. Sedangkan di surga cuacanya senantiasa sesuai dengan fisik dan jiwa manusia, dengan ukuran yang pas, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah berkaitan dengan kesenangan-kesenangan di surga.

Firman Allah yang artinya:
“Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi Balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera, di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.” (al-Insaan: 11-14)

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat “Laa yarauna fiiHaa syamsaw wa laa zam Hariiran” berarti mereka tidak merasakan panas yang terik dan dingin yang menyengat. Menurut kebanyakan mufasir, masa-masa di surga seperti saat menjelang fajar atau saat matahari akan terbenam. Pendapat ini sangat jelas. Allah swt. menyebutkan: “Laa yarauna fiiHaa syamsaw wa laa zam Hariiran” juga firman Allah: “wa daaniyatan ‘alaiHim dhilaaluHaa” naungan di sini memiliki tingkat ketebalan yang mengandung udara sehingga menjadikan iklim di surga menjadi sangat menyenangkan, wallaaHu a’lam.

Abu Abdillah Turmudzi dalam Nawadirul Ushul menyebutkan sebuah hadits dari Abban dari Hasan dan Abu Qilabah bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulallah, apakah di surga ada malam?” Rasulullah saw. menjawab, “Apa yang telah engkau siapkan untuk itu?” Orang itu menjawab, “Aku mendengar firman Allah: ‘Dan di dalamnya bagi mereka ada rizki pagi dan petang.’ [Maryam: 62].’” Aku [perawi hadits] berkata, “Malam itu waktu antara pagi dan petang.” Rasulullah saw. bersabda, “Di surga tidak ada malam. Di sana ada sinar dan cahaya. Pagi mengantarkan mereka pada keadaan santai dan santai mereka mengantarkan mereka pada pagi. Lalu, akan datang pada mereka saat-saat untuk shalat. Pada saat itulah mereka menunaikan shalat. Para malaikat pun mengucapkan salam kepada mereka.” (HR Ibnul Mubarak, dalam Zawa-id az-Zuhd)

&

Bejana di Surga

16 Feb

Bejana di Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Bejana di surga bermacam-macam, ada yang berfungsi sebagai perhiasan, ada pula yang berfungsi untuk makan dan minum. Al-Qur’an telah menjelaskan tentang hal ini. Bejana-bejana itu terbuat dari emas dan ada juga yang terbuat dari perak, dengan berbagai bentuk dan model yang mengagumkan sehingga menambah keindahan segala yang ada di surga. Makan dan minum pun menjadi santai. Keindahan teko, cawan dan gelas makin menyempurnakan rasa minuman sehingga menambah kenikmatan dan kesenangan orang-orang mukmin. Mereka pun hidup dalam kekekalan, kenikmatan, dan kesenangan yang mengagumkan. Tidak ada sesuatupun yang telah disiapkan Allah di surga, kecuali itu bentuk keindahan dan kesenangan. Inilah salah satu bentuk pahala yang telah dijanjikan Allah kepada para hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya yang artinya:

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik, sebagai Balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (al-Waaqi’ah: 17-24)

Imam Ibnu Katsir, Ibnu Jarir, ash-Shabuni, dalam Mausu’ah al-Qur-aniyah al-Muyassarah, menjelaskan makna ayat-ayat di atas.
“Bi akwaabin,” berarti gelas-gelas yang sangat besar dan bundar tanpa bungkus.
“Abaariq” merupakan bentuk jamak dari kata “ibriq”, yang berarti teko atau cerek yang terbungkus dengan warna yang bening.
“wa ka’sim min ma’iin” artinya gelas-gelas berisi khamr yang lezat bagi yang meminumnya, yang memancar dari mata air.

Ibnu Abbas berkata, “Tidak diperas sebagaimana khamr di dunia, bak air, khamr maupun yang lain. Sedangkan khamr yang dimaksud di sini adalah khamr yang mengalir atau memancar dari mata air, tidak seperti khamr di dunia yang akan keluar kalau sudah diperas dan melalui suatu proses.

Firman Allah swt. yang artinya:
“(yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”. (az-Zukhruf: 69-71)

Dalam tafsir disebutkan bahwa makna ayat “Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas.” Adalah diedarkan kepada seluruh ahli surga bejana-bejana yang terbuat dari emas, di dalamnya terdapat makanan dan gelas-gelas yang di dalamnya terdapat minuman. Para ahli tafsir berkata, “Bejana-bejana surga adalah alat yang mereka gunakan untuk minum, yang di dalamnya terdapat minuman, sebagaimana firman Allah: “Dan Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca,” (al-Insaan: 15)

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Janganlah kalian mengenakan sutra [haris] dan sutra [dibaj], dan janganlah kalian menggunakan bejana dari emas dan perak, dan jangan pula makan menggunakan piring dari emas dan perak. Sebab bejana emas dan perak [di dunia] untuk mereka [orang-orang kafir]. Sedangkan bagi kalian adalah di akhirat.” (HR Muslim, periwayatan ini dengan makna, sedangkan lafalnya mirip dan diringkas, lihat Mukhtashar Shahih Muslim)

Firman Allah yang artinya:
“Dan Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.” (al-Insaan: 15-17)

“Dan Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak” artinya mereka akan dikelilingi oleh pelayan-pelayan yang membawakan bejana-bejana yang terbuat dari perak, di dalamnya terdapat makanan dan minuman, sebagaimana kebiasaan orang-orang terhormat dan memiliki kemewahan di dunia (ash-Shabuni).

Dengan demikian, keperluan setiap orang akan terpenuhi. Bejana-bejana ini adalah piring-piring yang sebagian terbuat dari emas, sedangkan sebagian lagi terbuat dari perak, sebagaimana firman Allah, yang artinya:
“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”. (az-Zukhruf: 71)

Imam ar-Razi berkata, “Di antara dua ayat ini tidak terdapat pertentangan karena mereka terkadang menggunakan bejana dari emas dan terkadang dari perak.” (Tafsir al-Kabir)

Allah berfirman: wa akwaabin kaanat qawaariiraa. Kata “akwaab” berarti gelas-gelas yang halus dan bening seperti kaca. Disebutkan dalam al-Muhith, arti dari kata “Kaanat” pada ayat di atas adalah Allah menciptakan dengan kekuasaan-Nya. Hal ini makin menguatkan kekaguman terhadap Allah yang memadukan antara putihnya perak dan kemurniannya, serta perpaduan antara transparannya kaca dan kejernihannya.

“Qawaariira min fidl-dlatin” berarti perpaduan antara beningnya kaca dan indahnya perak. Ibnu Abbas berkata, “Tidak ada benda di surga yang sama dengan di dunia, kecuali sekedar nama yang sama. Artinya, di surga pasti lebih indah, lebih mulia, dan lebih tinggi. Jika kamu mengambil satu perak dari jenis perak dunia, lalu kamu bentuk setipis mungkin hingga seperti tipisnya sayap lalat, niscaya tak ada satupun benda yang ada di belakangnya yang terlihat. Namun gelas-gelas surga terlihat bening, dipadu dengan putihnya perak.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin di surga memiliki tenda-tenda yang terbuat dari mutiara yang diberi lubang, dua kebun terbuat dari perak, baik bejana maupun segala yang ada di kebun tersebut, dan dua kebun terbuat dari emas, baik bejana maupun segala yang ada di kebun tersebut.” Artinya, setiap mukmin memiliki dua kebun. (Misykah al-Mashabih)

&

Ahli Surga Tidak Perlu Buang Air Kecil atau Air Besar, Tidak Meludah, Tidak Ingusan

16 Feb

Ahli Surga Tidak Perlu Buang Air Kecil atau Air Besar, Tidak Meludah, Tiak Ingusan
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Di antara kenikmatan yang akan diterima ahli surga adalah disana tidak ada kotoran kecil atau besar dan segala yang jorok atau sampah. Semua itu menambah kehormatan ahli surga dan demi menjaga wibawa mereka. mereka tinggal di surga dan Allah swt. memuliakan mereka dengan sebesar-besar penghormatan. Semua ini merupakan ciptaan baru yang akan diciptakan Allah swt. kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di surga. Dia Mahaberkuasa terhadap segala sesuatu. Dia akan menciptakan hamba-hamba-Nya tidak buang air besar dan kecil, tidak meludah, serta tidak ingusan seperti ketika di dunia, dan Dia Mahakuasa untuk menghilangkan semua itu. Allah swt. menciptakan sesuatu yang mengalir keluar dari badan manusia dengan aroma harum, seperti parfum misik.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kelompok pertama yang akan masuk surga itu berwajah tampan dan cantik, seperti bulan di malam purnama. Kemudian, cahaya wajah orang-orang yang mengikuti di belakangnya, seperti bintang kejora yang paling gemerlap cahayanya di langit, setelah itu cahaya-cahaya itupun turun. Mereka tidak perlu buang air kecil, tidak perlu buang air besar, tidak meludah, dan tidak ingusan. Sisir mereka terbuat dari perak [dalam riwayat lain disebutkan dari emas]. Aroma keringat mereka seperti parfum misik, aroma dupanya harum mirip seperti dupa India. Istri-istri mereka adalah para bidadari [dalam suatu riwayat disebutkan bahwa setiap orang memiliki dua istri yang sumsum betisnya terlihat dari balik daging karena kecantikannya]. Tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka, tidak saling dengki, hati mereka satu. Mereka bertasbih kepada Allah, setiap pagi dan petang.” (HR Bukhari)

Sifat-sifat terpuji, indah, dan baik menjauhkan mereka dari berbagai karakter kekurangan sebagaimana ketika masih di dunia. Hal tersebut agar orang-orang beriman makin menyadari keagungan ciptaan Allah swt yang Mahakuasa atasa segala sesuatu.

Penulis menemukan sebuah hadits di saat Rasulullah saw. membacakan sebuah ayat kepada para shahabatnya, yakni Allah berfirman:
“… dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam Keadaan buta, bisu dan pekak. tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam. tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.” (al-Israa’: 97)

Salah seorang shahabat Rasulullah saw. bertanya, “Wahai Rasulallah, bagaimana mereka bisa berjalan dengan menggunakan wajah mereka?” Rasulullah saw. menjawab, “Sesungguhnya Dzat yang mampu menjalankan mereka dengan kaki-kaki mereka, juga mampu membuat mereka berjalan dengan menggunakan wajah-wajah mereka.” (HR Turmudzi dari Abu Hurairah ra)

Allah telah menciptakan kita di dunia dalam bentuk yang seperti ini sehingga kita bisa hidup dan Dia juga Mahakuasa untuk menciptakan kita di akhirat dengan ciptaan sebagaimana yang Dia kehendaki. Allah tidak menghendaki apapun bagi orang-orang beriman ketika mereka di surga, kecuali kebahagiaan, kegembiraan, dan kejelasan mereka berada dalam kenikmatan yang agung dari Allah, Dzat Yang Mahamulia. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. bahwa di antara mereka tidak ada dengki, hati mereka saling menyatu dalam cinta, persaudaraan, kasih, rela dan saling menerima, dan Allah telah membuat mereka suka bertasbih dan berdzikir, seperti Dia mengilhamkan pada nafas. wallaaHu a’lam.

&

Naungan Surga

12 Mei

Surga Kenikmatan Yang Kekal;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Selain pepohonan yang tak pernah putus berbuah selama 100 tahun, Allah juga menuturkan tentang pohon-pohon surga dan tempat bernaungnya,

“Dan golongan kanan, Alangkah bahagianya golongan kanan itu. berada di antara pohon bidara yang tak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas,” (al-Waaqi’ah: 27-30)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air.” (al-Mursalaat: 41)

“Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti dan teduh….” (ar-Ra’du: 35)

“Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (Yaasiin: 55-56)

“Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.” (al-Insaan: 14)

“Dan selain dari dua syurga itu ada dua syurga lagi. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? kedua syurga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.” (ar-Rahmaan: 62-64)

Dalam Tafsir ash-Shabuni disebutkan, dzawaataa afnaan adalah cabang karena ia memiliki daun dan buah, dan di antaranya yang menaungi dan memberikan buah.
Dalam tafsir lain juga disebutkan, mud Hammataan; maksudnya adalah yang kelihatan seperti gelap karena sangat hijau. Hal itu karena banyak disiram air. Dalam al-Qur’an disebutkan, yang artinya:

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang Suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.”(an-Nisaa’: 57)

Ayat ini menguatkan adanya naungan yang menaungi di surga, dan tentu akan kelihatan sangat indah berada di bawah pohon rindang, banyak daunnya yang dapat menaungi. Hal ini diungkapkan dengan ungkapan yang sangat indah, dhillan dhaliilan.

Dalam Mausu’ah al-Qur’aniyah al-Muyassarah disebutkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta beramal shalih, akan dimasukkan ke dalam surga yang kekal dan penuh kenikmatan. Di sana, mereka tinggal untuk selamanya. Mereka memiliki istri-istri dari para bidadari yang sebelumnya menjadi istri di dunia. Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan senantiasa ada naungan sehingga akan terasa sejuk dan tidak panas.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa lafadz “dhillan dhaliilan”, berarti tempat dengan naungan yang banyak, lebat, baik dan jernih. Berarti di sana akan ada naungan yang seantiasa menaungi, orang-orang akan hidup di sana dengan tenang.

&

Cahaya di Surga

12 Mei

Surga Kenikmatan Yang Kekal;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Berkenaan dengan pembahasan ini, Ibnu Taimiyah berkata, “Di surga tidak ada matahari, juga tidak ada bulan, tidak ada malam dan tidak ada siang, tetapi mereka akan mengetahui pagi dan petang dengan cahaya yang tampak dari arah ‘Arsy.”

Imam Qurthubi berkata, “Para ulama mengatakan bahwa di surga tidak ada malam dan siang, tetapi mereka senantiasa dalam cahaya selamanya. Mereka dapat mengetahui datangnya malam dengan tertutupnya tirai atau hijab dan terkuncinya pintu, dan mereka dapat mengetahui datanganya siang dengan tersingkapnya tirai atau hijab dan terbukanya pintu. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Farah bin al-Jauzy.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat, “….dan di dalamnya bagi mereka ada rizky pagi dan petang. Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (Maryam: 62-63). Maksudnya adalah dalam rentang masa seperti waktu pagi dan petang sebab di surga tidak ada malam dan siang. Akan tetapi, mereka berada dalam rentang masa yang di sana mereka dapat mengetahui melalui cahaya dan pelita.

&

Raihan (Rezeki) di Surga

12 Mei

Surga Kenikmatan Yang Kekal;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Allah berfirman yang artinya: “Jika dia [orang yang mati] itu termasuk didekatkan [kepada Allah] maka dia memperoleh ketenteraman dan rizky serta surga [yang penuh] kenikmatan.” (al-Waaqi’ah: 88-89)

Diceritakan dari Abu Usman bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika salah seorang dari kalian diberi rizky maka janganlah ditolak sebab itu keluar dari surga.” (HR Turmudzi dan Nasa’i)

Rasulullah saw. juga menyatakan bahwa raihan [rizky] ahli surga terbaik adalah hanna’ [pacar kuku]. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Raihan [rizky] ahli surga terbaik adalah hanna’ [pacar kuku].” (HR Thabrani)

Raihan adalah rizky yang baik, demikianlah pendapat para mufasir, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits Rasulullah saw. (HR Nasa’i) bahwa udara yang baik adalah untuk yang baik ketika roh dicabut, di dalam kubur, dan pada saat masuk surga.

&

Pembicaraan Surga

12 Mei

Surga Kenikmatan Yang Kekal;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Imam Baihaqi meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Setelah Allah swt. menciptakan surga ‘Adn dan menumbuhkan pepohonannya, Allah berfirman kepada surga: ‘Bicaralah!’ Lalu surga mengatakan, ‘Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. (al-Mu’minuun: 1)’”

Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id al-Khudri dari Rasulullah saw. beliau bersabda, “Allah swt. menciptakan surga yang batu batanya terbuat dari emas dan perak, adonannya terbuat dari parfum misik, lalu Allah berfirman kepada surga: ‘Bicaralah!’ Surga pun berkata, ‘Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. (al-Mu’minuun: 1).’ Lalu Allah berfirman, ‘Beruntung kamu menjadi tempat raja-raja.’”

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dengan muquf dari Abu Sa’id al-Khudri, “Setelah menciptakan surga yang batu batanya terbuat dari emas dan perak, Allah berfirman kepada surga, ‘Berbicaralah!’ surga pun berkata, ‘Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. (al-Mu’minuun: 1).’ Lalu Allah berfirman, ‘Beruntung kamu menjadi tempat raja-raja.’” (HR Baihaqi)

&