Tag Archives: surah al-anbiyaa’

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 108-112

4 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 108-112“Katakanlah: ‘Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah bahwasanya Ilahmu adalah Ilah Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri [kepada-Nya].’ (QS. 21:108) Jika mereka berpaling, maka katakanlah: ‘Aku telah menyampaikan kepadamu sekalian [ajaran] yang sama [antara kita] dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?’ (QS. 21:109) Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan [yang kamu ucapkan] dengan terang-terangan dan Dia mengetahu siapa yang kamu rahasiakan. (QS. 21:110) Dan aku tiada mengetahui, boleh jadi hal itu cobaan bagimu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu. (QS. 21:111) (Muhammad) berkata: ‘Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil. Dan Rabb kami adalah Rabb Yang Mahapemurah lagi Yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan.’ (QS. 21:112)” (al-Anbiyaa’: 108-112)

Allah Ta’ala berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik: inna maa yuuhaa ilayya anna maa ilaaHukum ilaaHuw waahidun faHal antum muslimuun (“Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, bahwasanya Ilahmu adalah Ilah Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri,”) yaitu hendaklah kalian mengikutinya dengan berserah diri dan tunduk kepadanya.

Fa in tawallau (“Jika mereka berpaling”) ,yaitu meninggalkan apa yang aku serukan kepada mereka; faqul aadzantukum ‘alaa sawaa-i (“Maka katakanlah: ‘Aku telah menyampaikan kepadamu sekalian,’”) yaitu aku beritahukan kepada kalian bahwasanya aku memerangi kalian, sebagaimana kalian memerangiku. Aku membebaskan diri dari kalian, sebagaimana kalian membebaskan diri dariku.

Dia berfirman: wa immaa takhaafanna min qaumin khiyaanatan fanbiddz ilaiHim ‘alaa sawaa-in (“Dan Jika kamu khawatir akan pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur,”) yaitu hendaklah pengetahuanmu dan pengetahuan mereka tentang pelanggaran berbagai perjanjian itu adalah sama.

Demikian pula di sini: Fa in tawallau faqul aadzantukum ‘alaa sawaa-i (“Jika mereka berpaling, maka katakanlah: ‘Aku telah menyampaikan kepadamu sekalian”) aku beritahukan kepada kalian tentang pembebasan diriku dari kalian dan pembebasan diri kalian dariku, karena pengetahuanku tentang hal itu.

Firman-Nya: wa in adrii aqariibun am ba’iidum maa tuu’aduun (“Dan aku tidak mengetahui, apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?”) Itu pasti terjadi, akan tetapi aku tidak tahu tentang dekat (cepat) dan jauhnya (lamanya).

innaHuu ya’lamul jaHra minal qauli wa ya’lamu maa taktumuun (“Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan,”) yaitu sesungguhnya Allah Mahamengetahui seluruh yang ghaib serta mengetahui apa yang ditampakkan dan disembunyikan hamba-hamba-Nya. Dia pun Mahamengetahui hal-hal yang dhahir dan tersembunyi, Mahamengetahui tentang rahasia dan apa yang disembunyikan, Mahamengetahui apa yang dikerjakan di saat terang-terangan atau sembunyi-sembunyi serta mereka akan dibalas, baik sedikit maupun banyak.

Firman-Nya: wa in adrii la’allaHu fitnatul lakum wa mataa’un ilaa hiin (“Dan aku tidak mengetahui, boleh jadi hal itu cobaan bagimu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu,”) yaitu aku tidak tahu, boleh jadi ini fitnah bagi kalian dan kesenangan sampai batas waktu. Ibnu Jarir berkata: “Boleh jadi ditundanya hal itu menjadi fitnah bagi kalian dan kesenangan hingga batas waktu yang ditentukan. Demikian yang diceritakan oleh ‘Aun dari Ibnu `Abbas. Wallahu a’lam.”

Qaala rabbihkum bil haqqi (“Dia berkata: ‘Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil,’”) yaitu, putuskanlah di antara kami dan di antara kaum kami yang mendustakan kebenaran.

Qatadah berkata: “Para Nabi berkata: rabbanaftah bainanaa wa baina qauminaa bil haqqi wa anta khairul faatihiin (“Ya Rabb kami berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan haq dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.’”) (QS. Al-A’raaf: 89). Dan Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengucapkannya.”

Dari Malik, dari Zaid bin Aslam, Rasulullah saw. jika menyaksikan peperangan, “Dia berkata (berdo’a): Qaala rabbihkum bil haqqi (“Dia berkata: ‘Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil,’”)

Firman-Nya: wa rabbunar rahmaanul musta’aanu ‘alaa maa tashifuun (“Dan Rabb kami ialah Rabb Yang Mahapemurah lagi Yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan.”) Yaitu, terhadap apa yang mereka katakan dan tuduhkan, dan mereka membuat berbagai kedustaan dan kebohongan. Allahlah tempat memohon pertolongan bagi kalian dalam masalah tersebut. Hanya milik Allah pujian dan nikmat.

selesai

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 105-107

4 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 104-107“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauhul Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku Yang shalih.(QS. 21:105) Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang beribadah kepada Allah. (QS. 21:106) Dan tiadalah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. 21:107)” (al-Anbiyaa’: 105-107)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang apa yang diwajibkan dan diputuskan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih berupa kebahagiaan di dunia dan di akhirat serta mendapatkan warisan bumi di dunia dan di akhlrat, seperti firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raaf: 128)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa hal ini telah tertulis di dalam catatan-catatan syar’i dan qadar serta pasti akan terjadi. Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah Kami ticlis dalam LauhulMahfuzh. ”

Al-A’masy berkata, Aku bertanya kepada Said bin Jubair tentang firman Allah Ta’ala: wa laqad katabnaa fiz zabuuri mim ba’di dzikri (“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah [Kami tulis dalam] Lauhul Mahfuzh,”) maka ia berkata: “Taurat, Injil dan al-Qur’an.”
Ibnu `Abbas, asy-Sya’bi, al-Hasan, Qatadah dan lain-lain berkata: “Zabur adalah Kitab yang diturunkan kepada Dawud, sedangkan adz-Dzikr adalah Taurat.”

Dari Ibnu `Abbas pula bahwa adz-Dzikr adalah al-Qur’an. Sedangkan Mujahid berkata: “Zabur adalah kitab-kitab yang ada setelah adz-Dzikr. Sedangkan adz-Dzikr adalah Ummul Kitab di sisi Allah.”Itulah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir 0,. Demikian pula Zaid binAslam berkata: “Yaitu Kitab pertama.” Ats-Tsauri berkata: “Itulah al-Lauhal-Mahfuzh.”

Mujahid berkata dari Ibnu `Abbas: annal ardla yaritsuHaa ‘ibaadiyash shaalihuun (“Bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih,”) yaitu tanah surga. Demikian yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah, Mujahid, Sa’id bin Jubair, asy-Sya’bi, Qatadah, as-Suddi, Abu Shalih, ar-Rabi’ bin Anas dan ats-Tsauri. Abud Darda berkata: “Kami adalah orang-orang yang shalih.” Sedangkan as-Suddi berkata: “Mereka adalah orang-orang yang beriman.”

Dan firman-Nya: inna fii Haadza labalaghal liqaumin ‘aabidiin (“Sesungguhnya [apa yang disebutkan] dalam [surat] ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang beribadah kepada Allah,”) yaitu sesungguhnya al-Qur’an yang telah Kami turunkan kepada Nabi Kami, Muhammad ini benar-benar menjadi penyampai dan mencukupi bagi kaum yang beribadah. Mereka adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang disyari’atkan, dicintai dan diridhai-Nya. Mereka pun lebih memilih ketaatan kepada Allah di atas ketaatan kepada syaitan dan hawa nafsu mereka.

Firman-Nya: wa maa arsalnaaka illaa rahmatal lil ‘aalamiin (“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”) Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menjadikan Muhammad sebagai rahmat bagi semesta alam. Yaitu, Dia mengutusnya sebagai rahmat untuk kalian semua. Barangsiapa yang menerima rahmat dan mensyukuri nikmat ini, niscaya dia akan berbahagia didunia dan di akhirat. Sedangkan barangsiapa yang menolak dan menentangnya, niscaya dia akan merugi di dunia dan di akhirat.

Muslim di dalam Shahihnya meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata: “Ya Rasulallah! Sumpahilah orang-orang musyrik itu.” Beliau ber-sabda: “Sesungguhnya Aku tidak diutus sebagai orang yang melaknat. Aku diutus hanyalah sebagai rahmat.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas: wa maa arsalnaaka illaa rahmatal lil ‘aalamiin (“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”) ia berkata: “Barangsiapa yang mengikutinya, niscaya hal itu menjadi rahmat di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang tidak mengikutinya, niscaya dia akan ditimpa suatu ujian yang mengenai seluruh umat berupa bencana alam, perubahan bentuk dan fitnah.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 104

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 104“’Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu,’ maka nantikanlah apa yang menggembirakan kalian. (Yaitu) pada hari Kami menggulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. (QS. 21:104)” (Al-Anbiyaa’: 104)

Allah Ta’ala berfirman, inilah kejadian hari Kiamat: yauma nath-wis samaa-a kathayyis sijilli lilkutubi (“Yaitu pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas,”) al-Bukhari berkata dari Ibnu `Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah menggenggam bumi pada hari Kiamat, sedangkan langit berada di tangan kanan-Nya.” Lafazh ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Ibnu Abi Hatim berkata bahwa Ibnu `Abbas berkata: “Allah menggulung tujuh lapis langit dengan makhluk yang ada di dalamnya serta tujuh lapis bumi dengan makhluk yang ada di dalamnya yang kesemuanya digulung dengan tangan kanan-Nya. Semua itu berada di tangan-Nya seperti sebuah biji kecil.

Firman-Nya: kathayyis sijilli lilkutubi (“Seperti menggulung lembaran-lembaran kertas,”) dikatakan, yang dimaksud as-Sijl adalah kitab. Wallahu a’lam.

Pendapat yang shahih dari Ibnu `Abbas bahwa as-Sijl adalah lembaran-lembaran. Pendapat ini dikatakan oleh `Ali bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi dari Ibnu `Abbas dan dinashkan oleh Mujahid, Qatadah dan selain mereka serta dipilih oleh Ibnu Jarir, karena kata itulah yang dikenal dalam bahasa. Atas dasar ini, maka maknanya adalah, yaitu pada hari Kami gulung langit seperti gulungan lembaran-lembaran kertas, yaitu yang ada di atas kertas dengan makna sesuatu yang ditulis, seperti firman-Nya,

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya),” (QS. Ash-Shaaffaat: 103). Yaitu, di atas pelipis-nya. Kata itu memiliki banyak pengertian dalam bahasa.

Firman-Nya: kamaa bada’naa awwala khalqin nu’iiduHu wa’dan ‘alainaa innaa kunnaa faa’iliin (“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya,”) yaitu ini pasti terjadi, yakni pada hari Allah meniupkan kembali para makhluk sebagai makhluk yang baru, sebagaimana Dia memulai penciptaan mereka pertama kali. Dia Mahakuasa untuk mengulang penciptaan mereka. Hal itu pasti terjadi, karena merupakan bagian dari janji Allah yang tidak akan diingkari dan tidak akan berubah, Dia Mahakuasa atas semua itu. Untuk itu Dia berfirman: innaa kunnaa faa’iliin (“Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: Rasulullah berdiri memberikan nasehat kepada kami dan bersabda: “Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan kepada Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan, sebagaimana Kami menciptakannya pertama kali, maka Kami megulanginya sebagai janji dari kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Disebutkan hadits itu secara lengkap, ditakhrij dalam ash-Shahihain.)

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya: kamaa bada’naa awwala khalqin nu’iiduHu (“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitutah Kami akan mengulanginya,”) setiap sesuatu akan binasa sebagaimana keadaan pertama kali.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 98-103

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 98-103“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. (QS. 21:98) Andaikata berhala-berhala itu ilah-ilah, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. (QS. 21:99) Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar. (QS. 21:100) Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka, (QS. 21:101) mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diinginkan oleh mereka. (QS. 21:102) Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari Kiamat), dan mereka disambut oleh para Malaikat. (Malaikat berkata): ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.’ (QS. 21:103)” (al-Anbiyaa’: 98-103)

Allah Ta’ala berfirman mengajak dialoq penduduk Makkah yang termasuk orang musyrik Quraisy serta para pengabdi berhala dan patung-patung yang mengikuti agama mereka.
Innakum wa maa ta’buduuna min duunillaaHi hashabu jaHannama (“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan jahanam.”)

Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu bahan bakarnya. Seperti firman-Nya: waquuduHan naasu wal hijaaratu (“Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”) (al-Baqarah: 24)
Ibnu ‘Abbas berkata pula: “hashabu jaHannama; adalah pohon-pohon jaHannam.” Di suatu riwayat ia berkata: “Yaitu kayu-kayu neraka Jahannam yang hitam legam.”

Firman-Nya: antum laHaa waariduun (“Kamu pasti masuk ke dalamnya,”) yaitu memasukinya. Lau kaana Haa-ulaa-i aaliHatam maa waraduuHaa (“Andaikata berhala-berhala itu ilah-ilah, tentulah mereka tidak masuk neraka,”) yaitu seandainya berhala-berhala dan tandingan-tandingan yang kalian jadikan sebagai ilah selain Allah itu benar, niscaya mereka tidak akan datang memasuki neraka. Wa kullun fiiHaa khaaliduun (“Dan semuanya akan kekal di dalamnya,”) yaitu seluruh penyembah dan yang disembah akan kekal di dalamnya. laHum fiiHaa zafiirun (“Mereka merintih di dalam api,”) sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: laHum fiiHaa zafiiruw wa syaHiiq (“Di dalamnya mereka zafiir dan syahiiq,”) (QS. Huud: 106)

Zafiir adalah keluarnya nafas-nafas mereka, sedangkan syahiiq adala hmasuknya nafas-nafas mereka. waHum fiiHaa laa yasma’uuna (“Dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar.”)

Firman-Nya: innal ladziina sabaqat laHum minnal husnaa (“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami.”) ‘Ikrimah berkata: “Yaitu rahmat.” Sedangkan yang lainnya berkata: “Yaitu kebahagiaan.”

Ulaa-ika ‘anHaa mub’aduun (“Mereka itu dijauhkan dari neraka,”) ketika Allah Ta’ala menyebutkan penghuni neraka dan siksaannya disebabkan kesyirikan mereka kepada Allah, Dia mengiringinya dengan menyebutkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang berbahagia. Mereka adalah orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan kebahagiaan dari Allah serta telah mendahulukan amal-amal shalih di dunia. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Bagi orang orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik,” (QS. Yunus: 26). Maka, sebagaimana mereka berbuat amal baik di dunia, maka Allah pun memperbaiki tempat kembali dan pahala mereka serta menyelamatkan mereka dari siksaan dan memberikan mereka pahala yang melimpah. Maka Dia berfirman: Ulaa-ika ‘anHaa mub’aduun. Laa yasma’uuna hasiisaHaa (“Mereka itu dijauhkan dari neraka, mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka,”) yaitu daya bakarnya terhadap jasad-jasad.

Firman-Nya: wa Hum fii masytaHat anfusuHum khaaliduun (“Dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diinginkan oleh mereka,”) Dia menyelamatkan mereka dari kecelakaan dan bahaya serta memberikan kepada mereka sesuatu yang diminta dan disukai. ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya: “Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itudijauhkan dari neraka, “mereka adalah para wali Allah yang melintasi shirath dengan kecepatan yang lebih dahsyat daripada kilat, tinggallah orang-orang kafir di dalamnya sebagai bangkai, sesuai yang telah kami ceritakan.

Sedangkan yang lain berkata, bahkan ayat ini turun sebagai pengecualian dari orang-orang yang disembah. Serta dikeluarkan dari mereka ‘Uzair dan al-Masih, sebagaimana yang dikatakan oleh Hajjaj bin Muhammad al-A’war dari Ibnu Juraij dan ‘Utsman, dari ‘Atha, dari Ibnu ‘Abbas: Innakum wa maa ta’buduuna min duunillaaHi hashabu jaHannama antum laHaa waariduun (“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan jahanam. Kalian pasti masuk ke dalamnya.”) kemudian dikecualikan dengan firman-Nya: innal ladziina sabaqat laHum minnal husnaa (“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami.”) dikatakan, mereka adalah para Malaikat, Isa dan orang-orang yang disembah selain Allah yang serupa dengan mereka. Demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, al-Hasan dan Ibnu Juraij.

Firman-Nya: laa yahzunuHumul faja’ul akbar (“Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar,”) yang dimaksud adalah kematian. Pendapat ini di-riwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq, dari Yahya bin Rabi’ah, dari ‘Atha. Dikatakan pula bahwa yang dimaksud dengan kedahsyatan yang besar adalah tiupan sangkakala. Pendapat ini dikatakan oleh al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas dan Abu Sinan, Sa’id bin Sinan asy-Syaibani serta dipilih oleh Ibnu Jarir dalam tafsimya.

Firman-Nya: wat-tatalaqqaa Humul malaa-ikatu Haadzaa yaumukumul ladzii kuntum tuu’aduun (“Dan mereka disambut oleh para Malaikat: ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu,’”) yaitu para Malaikat berkata kepada mereka dalam rangka memberikan kabar gembira pada hari kembalinya mereka jika mereka keluar dari kubur-kubur mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 95-97

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 95-97“Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami). (QS. 21:95) Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya juj dan Ma juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. 21:96) Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang dhalim. (QS. 21:97)” (al-Anbiyaa’: 95-97)

Allah Ta’ala berfirman: wa haraaman ‘alaa qaryatin (“Sungguh tidak mungkin atas suatu negeri.”) Ibnu `Abbas berkata: “Yaitu wajib, di mana sungguh telah ditakdirkan bahwa penduduk suatu negeri yang telah dibinasakan, tidak akan pernah kembali (hidup) ke dunia sebelum hari Kiamat.” Demikian yang ditegaskan oleh Ibnu `Abbas, Abu Ja’far al-Baqir, Qatadah dan selain mereka. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: hattaa idzaa futihat ya’juuju wa ma’juuju (“Hingga apabila dibukakan tembok Ya’ju dan Ma’juj,”) telah kami jelaskan terdahulu bahwa mereka adalah termasuk keturunan Adam, bahkan mereka termasuk keturunan Nuh as. dari putera-putera Yafits, Abu Turki. Sedangkan Turki merupakan kelompok kecil di antara mereka yang ditingalkan di belakang bendungan yang dibangun oleh Dzulqarnain.

hattaa idzaa futihat ya’juuju wa ma’juuju (“Hingga apabila dibukakan tembok Ya’ju dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi,”) cepat sekali berjalan membawa kerusakan.

Al-hadbu: adalah permukaan bumi yang tinggi, inilah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Abu Shalih, ats-Tsauri dan selain mereka. Begitulah sifat mereka ketika keluar, seakan-akan orang yang mendengar pun menyaksikan langsung hal tersebut.

Walaa yunab-bi-uka mitslu khabiir (“Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh Yang Mahamengetahui,”) (QS. AI-Faathir:14). Ini adalah kabar dari Rabb Yang Mahamengetahui tentang apa yang terjadi dan yang sedang terjadi. Dia Yang Mahamengetahui perkara ghaib langit dan di bumi, tidak ada Ilah yang diibadahi secara benar kecuali Dia. Cerita keluarnya mereka telah banyak disebutkan di dalam hadits-hadits Nabawi.

Imam Ahmad berkata, bahwa an-Nuwas bin Sam’an al-Kullabi berkata: Suatu hari Rasulullah saw. menceritakan tentang Dajjal, terkadang beliau pelankan suaranya dan terkadang beliau keraskan suaranya, sampai kami mengira beliau berada di atas pohon kurma. Beliau bersabda: “Bukan Dajjal yang aku amat takuti bagi kalian. Jika ia keluar dan aku ada di antara kalian, maka akulah pembela kalian. Dan jika ia keluar, sedangkan aku tidak berada di antara kalian, maka setiap orang akan menjadi pembela bagi dirinya sendiri. Allah adalah khalifahku atas setiap muslim. Dia adalah seorang pemuda berambut keriting pendek dan matanya tajam. Dia akan keluar di perbatasan antara Syam dan Irak.’

Lalu beliau menyeru ke kanan dan ke kiti: ‘Hai hamba-hamba Allah! Kokohlah kalian,’ -Kami bertanya: ‘Ya Rasulullah! Berapa lama tinggalnya di dalam dunia?’ Beliau menjawab: `40 hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan dan satu hari seperti satu Jum’at. Seluruh hari-hari itu seperti hari-hari kalian.’ Kami bertanya: ‘Ya Rasulullah! Satu hari yang seperti satu tahun itu, apakah mencukupi untuk shalat satu hari satu malam.’ Beliau menjawab: `Tidak, ukurlah dengan ukurannya.’

Kami bertanya pula: ‘Ya Rasulullah, bagaimana kecepatannya di dunia?’ Beliau menjawab: `Seperti awan mendung yang ditiup angin. Dia melewati daerah, lalu diajaknya mereka dan mereka pun memperkenankannya. Maka dia perintahkan langit, lalu turunlah hujan dan dia perintahkan tanah lalu tumbuhlah tanam-tanaman. Binatang-binatang mereka pun mengalami perkembangan dengan memanjang seperti ditiup udara, pinggang-pinggangnya melebar dan puting-puting susunya semakin membesar. Dia pun melewati suatu daerah dan menyeru mereka, akan tetapi mereka menolaknya. Maka harta-harta mereka pun mengikutinya, sehingga mereka menjadi orang-orang miskin yang tidak memiliki harta sedikit pun. Dia pun melewati tempat reruntuhan dan berkata: ‘Keluarkanlah perbendaharanmu, maka perbendaharaan tempat itu pun mengikutinya seperti ratu-ratu lebah.

Dia pun memerintahkan seorang laki-laki untuk dibunuh. Maka, dia pun memenggalnya dengan pedang dan dibelahnya menjadi dua bagian seperti anak panah. Kemudian dia menyerunya dan laki-laki itu pun menerimanya. Di saat mereka berada dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba Allah swt. mengutus al-Masih bin Maryam as., lalu diturunkannya di sisi menara putih di sebelah timur Damaskus yang berada di antara Muhr dan Datin dengan meletakkan kedua tangannya di atas sayap-sayap dua Malaikat. Lalu dia mengikuti Dajjal, meraihnya dan membunuhnya di pintu Lud sebelah timur.

Di saat mereka seperti itu, tiba-tiba Allah memberi wahyu kepada `Isa as.: “Sesungguhnya Aku akan mengeluarkan seorang hamba-Ku yang tidak tunduk kepadamu untuk memerangi mereka. Lalu hamba-Ku menuju Thur, maka Allah swt. mengutus Ya’juj dan Ma’juj, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: (“Dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.”) Lalu, `Isa dan para sahabatnya amat senang kepada Allah swt. Maka Dia mengutus kepada mereka ulat-ulat di pundak-pundak mereka, hingga mereka menjadi bangkai-bangkai seperti kematian satu jiwa. Maka,`Isa dan para sahabatnya turun di mana tidak didapatinya lagi di bumi satu rumah pun kecuali pasti dipenuhi oleh tengkorak-tengkorak dan bangkai-bangkai mereka. Lalu, `Isa dan para sahabatnya pun amat senang kepada Allah swt, maka Dia pun mengutus satu ekor burung seperti punuk unta kepada mereka yang dapat membawa dan melempar mereka sesuai kehendak Allah.”

Ibnu Jabir berkata, ‘Atha bin Yazid as-Saksaki bercerita kepadaku,bahwa Ka’ab atau selainnya berkata: “Lalu burung itu melempar mereka ke Mahbil.” Ibnu Jabir berkata: “Aku bertanya: `Ya Abu Yazid, dimana Mahbil itu? Dia menjawab: ‘Di tempat terbit matahari.’ Dia berkata: `Allah mengutus hujan di tempat di mana tidak ada lagi rumah yang dihuni selama 40 hari. Lalu hujan itu membersihkan tanah, hingga dibiarkan seperti sebuah tempat yang licin. Dikatakan kepada tanah: `Tumbuhkanlah buahmu dan kembangkan barakahmu.’ Pada hari itu satu orang memakan satu delima, maka mereka cukup dengan itu, Allah memberkahi hingga unta mencukupi satu kelompok manusia, susu sapi mencukupi setengah kelompok dan satu ekor kambing mampu mencukupi satu keluarga.

Di saat mereka berada dalam kondisi de-mikian, tiba-tiba Allah , mengutus angin sejuk yang berhembus di bawah ketiak-ketiak mereka. Hingga ruh setiap muslim -atau mukmin- dicabut, dan yang tersisa hanyalah manusia-manusia terburuk yang berperilaku seperti himar (keledai) dan merekalah yang akan mengalami hari Kiamat (yang) akan tiba.” (Muslim meriwayatkannya sendiri, tanpa al-Bukhari serta diriwayatkan oleh Ash-haabus Sunan dari jalan `Abdurrahman bin Zaid bin Yazid bin Jabir. At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.”)

Juga dijelaskan di dalam hadits, bahwa `Isa bin Maryam melakukan haji di Ka’bah. Imam Ahmad berkata dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh, dia akan berhaji di rumah ini dan sungguh, dia akan berumrah setelah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.” (Al-Bukhari meriwayatkannya sendiri).

Firman-Nya: wa aqrabal wa’dul haqqu (“Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar,”) yaitu hari Kiamat. Jika kegoncangan, kehancuran dan bencana ini telah terjadi, maka terjadilah dan telah dekatlah hari Kiamat. Jika itu telah terjadi, maka orang-orang kafir berkata: “Inilah hari yang sulit.”

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: fa idzaa Hiya syaakhishatun abshaarul ladziina kafaruu (“Maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir,”) disebabkan dahsyatnya perkara besar yang mereka saksikan. Yaa wailanaa (“Aduhai celakalah kami,”) yaitu mereka mengatakan: “Aduhai celakalah kami.”

Qad kunnaa fii ghaflatim min Haadzaa (“Sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini,”) yaitu dunia. Bal kunnaa dhaalimiin (“Bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim,”) mereka mengakui kedhaliman terhadap diri-diri mereka di mana hal tersebut tidaklah bermanfaat bagi mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 92-94

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 92-94“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agamamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka beribadahlah kepada-Ku. (QS. 21:92) Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kamilah masing-masing golongan itu akan kembali. (QS.21:93) Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya. (QS. 21:94)” (al-Anbiyaa’: 92-94)

Ibnu `Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Qatadah dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata tentang firman-Nya: inna HaadziHii ummatukum ummataw waahidatan (“Sungguhnya ini adalah agamamu; agama yang satu,”) agama kalian adalah agama yang satu. Al-Hasan al-Bashri berkata: “Di dalam ayat ini Allah menjelaskan kepada mereka apa-apa yang mereka takuti dan apa-apa yang mereka berikan.”

Kemudian Dia berfirman: inna HaadziHii ummatukum ummataw waahidatan (“Sungguhnya ini adalah agamamu; agama yang satu,”) yaitu sunnah kalian adalah sunnah yang satu. Firman-Nya: HaadziHii; adalah isim inna, sedangkan =ummatukum= adalah khabar inna, yaitu ini adalah syariat kalian yang telah dijelaskan dan ditegaskan kepada kalian.

Firman-Nya: ummataw waahidatan; dinashabkan sebagai haal (kata keterangan). Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: wa ana rabbukum fa’buduun (“Dan Aku adalah Rabb-mu maka beribadahlah kepada-Ku,’) yaitu bahwa yang dimaksud adalah beribadah kepada Allah, Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dengan berbagai syari’at kepada para Rasul-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maa-idah: 48)

Firman-Nya: wa qath-tha’uu bainHum amraHum (“Dan mereka telah memotong-motong urusan agama mereka di antara mereka,”) yaitu para umat berbeda pendapat dalam menghadapi para Rasul-Nya, yaitu antara orang yang membenarkan dan orang yang mendustakan mereka. Untuk itu, Dia berfirman: kullun ilainaa raaji’uun (“Kepada Kamilah masing-masing golongan itu akan kembali,”) yaitu pada hari Kiamat, sehingga masing-masing orang akan dibalas sesuai amalnya. Jika baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan dan jika buruk, maka ia akan mendapatkan keburukan. Untuk itu Dia berfirman: famay ya’mal minash shaalihaati wa Huwa mu’min (“Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, sedangkan ia beriman,”) yaitu hatinya membenarkan dan mengerjakan amal shalih.

Falaa kuf-raana lisaa’yiHi (“Maka tidak ada pengingkaran terhadap amalan-nya itu”) seperti firman-Nya: “Tentu Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalannya dengan baik.” (QS. Al-Kahfi: 30). Yaitu, aktifitasnya yang berupa amal tidak akan dihapuskan, bahkan akan disyukuri (dihargai). Tidak ada seberat dzarrah pun yang akan didhalimi.

Untuk itu Dia berfirman: wa innaa laHuu kaatibuun (“Dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya,”) yaitu ditulis seluruh amalnya dan tidak ada sedikit pun yang disia-siakan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 91

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 91“Dan (ingatlah kisah) wanita (Maryam) yang telah memelihara kehormatan-nya, lalu Kami tiupkan ke dalam (rahim)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa’: 91)

Wal latii ah-shanat farjaHaa (“Dan ingatlah [kisah] wanita yang telah memelihara kehormatannya,”) yaitu Maryam.

Firman-Nya: wa ja’alnaaHaa wabnaHaa aayatal lil ‘aalamiin (“Dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda [kekuasaan Allah yang besar] bagi semesta alam”) yaitu sebagai dalil bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan jika Dia menghendaki sesuatu, Dia mengatakan: “Jadilah,” maka jadilah. Ibnu Abi Hatim berkata dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya: lil ‘aalamiin (“Bagi semesta alam”) ia berkata: “Yaitu jin dan manusia.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 89-90

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 89-90“Dan (ingatlah ksah) Zakariya, tatkala ia menyeru Rabbnya: ‘Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkanku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang paling baik.’ (QS. 21:89) Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS. 21:90)” (al-Anbiyaa’: 89-90)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang hamba-Nya, Zakariya ketika dia meminta kepada Allah untuk dianugerahkan seorang anak yang nantinya akan menjadi seorang Nabi. Kisah ini telah diuraikan secara panjang lebar diawal surat Maryam dan surat Ali-‘Imraan. Sedangkan di dalam ayat ini diceritakan lebih singkat. Idz naadaa rabbaHuu (“Tatkala ia menyeru Rabbnya,”) secara sembunyi-sembunyi dari kaumnya. Rabbi laa tadzarni fardan (“Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkanku hidup seorang diri,”) tanpa anak dan tanpa ahli waris yang mengurus urusan manusia setelahku. Wa anta khairul waaritsiin (“Dan Engkau-lah Waris yang paling baik,”) do’a dan pujian yang sesuai dengan permintaan.

Allah Ta’ala berfirman: fastajabnaa laHuu wa Habnaa laHuu yahyaa wa ash-lahnaa laHuu zaujaHu (“Maka Kami memperkenankan do’anya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung,”) yaitu isterinya. Ibnu `Abbas, Mujahid dan Said bin Jubair berkata: “Dia adalah wanita mandul yang tidak dapat melahirkan, lalu dia dapat melahirkan.”

Firman-Nya: innaHum kaanuu yusaari’uuna fil khairaati (“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik,”) yaitu dalam mengerjakan amal-amal taqarrub dan amal-amal ketaatan. Wa yad’uunanaa raghabaw wa raHaban (“Dan mereka berdo a kepada Kami dengan harap dan cemas.”) Ats-Tsauri berkata: “Mengharapkan apa-apa yang ada di sisi Kami dan cemas kehilangan apa-apa yang ada di sisi Kami.”

Wa kaanuu lanaa khaasyi’iin (“Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”) Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu orang-orang yang membenarkan apa yang diturunkan oleh Allah.” Abu Sinan berkata: “Al-khusyu’ adalah rasa takut yang lazim ada dalam hati dan tidak dapat terpisah selama-lamanya.” Al-Hasan, Qatadah dan adh-Dhahhak berkata: adalah orang-orang yang merendahkan diri kepada Allah,”

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 87-88

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 87-88“Dan (ingatlah kisah) Dzunnun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap bahwa: ‘Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dhalim.’ (QS. 21:87) Maka Kami memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikanlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS. 21:88)” (al-Anbiyaa’: 87-88)

Kisah ini diceritakan dalam ayat ini, dalam surat ash-Shaaffaat dans urat Nuun (al-Qalam). Hal itu dikarenakan bahwa Yunus bin Mata as. diutus oleh Allah kepada penduduk daerah Ninawa, yaitu suatu daerah di negeri Mousul. Dia menyeru mereka kepada Allah Ta’ala, akan tetapi mereka enggan menerimanya dan tetap berada di dalam kekufuran mereka. Lalu dia keluar dari lingkungan mereka dengan penuh kemurkaan dan mengancam mereka dengan siksaan setelah tiga hari. Ketika mereka telah terbukti mendapatkannya dan mereka pun mengetahui bahwa Nabi tersebut tidak berdusta, merekapun keluar ke lembah-lembah bersama anak-anak kecil, binatang-binatang ternak dan hewan-hewan mereka serta memisahkan antara ibu-ibu dengan anak-anak mereka, kemudian mereka berdo’a dan meminta pemeliharaan serta meminta pertolongan kepada Allah. Unta-unta dan anak-anaknya bersuara, sapi-sapi dan anak-anaknya juga bersuara serta kambing dan anak-anaknya mengembik. Maka, Allah pun mengangkat adzab dari mereka.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan mengapa tidak ada suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)

Adapun Yunus as. pergi dengan menaiki perahu bersama kaumnya. Perahu itu pun diterpa gelombang (ombak) besar bersama mereka dan mereka merasa takut tenggelam. Lalu, mereka mengundi tentang siapa seorang di antara mereka yang harus dibuang untuk meringankan beban perahu tersebut, maka undian pun jatuh kepada Yunus. Akan tetapi, mereka enggan untuk membuangnya, lalu mereka pun mengulangnya dan undian pun jatuh lagi kepada Yunus. Akan tetapi, mereka enggan untuk membuangnya, lalu mereka pun mengulangnya dan undian pun jatuh lagi kepada Yunus.

Allah Ta’ala berfirman: fasaaHama fakaana minal mudHa-dliin (“Kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.”) (QS. Ash-Shaaffaat:141). Yaitu, undian itu jatuh kepadanya, lalu Yunus berdiri dan membuka bajunya, kemudian dia menceburkan dirinya ke dalam laut. Sesungguhnya Allah mengutus di laut hijau itu [sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud] seekor ikan paus yang menembus lautan. Hingga saat Yunus datang, ikan itu pun menelannya ketika Yunus menceburkan dirinya dari perahu itu. Maka Allah memberikan ilham kepada ikan paus itu: “Janganlah engkau memakan daging Yunus dan merusak tulang-tulangnya, karena Yunus bukan rizkimu dan perutmu menjadi pelindungnya.”

Firman-Nya: wa dzannuuni (“Dan ingatlah kisah Dzunnun,”) yaitu ikan paus itu. Tepatlah mengidhafah-kannya dengan perbandingan ini.

Firman-Nya: idz dzaHaba mughaadlaban (“Ketika ia pergi dalam keadaan marah.”) Adh-Dhahhak berkata: “Murka kepada kaumnya.” Fa dhanna al-lan naqdira ‘alaiHi (“ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya,”) yaitu Kami mempersempitnya di dalam perut ikan itu. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu `Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak dan lain-lain serta dipilih oleh Ibnu Jarir, dan ia mendukungnya dengan firman Allah: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq: 7)

‘Athiyyah al-`Aufi berkata: wa dhanna al-lan naqdira ‘alaiHi; yaitu Kami memutuskan atas hal tersebut, seakan-akan dia menjadikan hal itu dengan makna takdir. Karena orang Arab berkata dan adalah satu makna. Seorang penyair berkata:
Masa yang lalu itu tidak akan kembali.
Engkau Mahaberkah apa yang Engkau takdirkan terhadap perkara itu.

Di antaranya firman Allah Ta’ala: “Maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan,” (QS.Al-Qamar: 12). Yaitu “qudira” (ditentukan).

Firman-Nya: fanaadaa fidh-dhulumaati al laa ilaaHa illaa anta subhaanaka innii kuntu minadh dhaalimiin (“Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, bahwa ‘Tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dhalim.’”) Ibnu Mas’ud berkata: “Kegelapan perut ikan, kegelapan laut dan kegelapan malam.” Demikian yang diriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ‘Amr bin Maimun, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Ka’ab, adh-Dhahhak, al-Hasan dan Qatadah.

Ibnu Mas’ud, Ibnu `Abbas dan lain-lain berkata: “Hal itu adalah ketika ikan paus tersebut pergi di laut hingga mencapai dasar laut, maka Yunus mendengar tasbihnya batu kerikil di dasar laut itu, di sanalah dia berdo’a: laa ilaaHa illaa anta subhaanaka innii kuntu minadh dhaalimiin (“Tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Engkau. Mahasuci Engkau; sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orangyang dhalim.”)

Firman-Nya: fastajabnaa laHuu wa najjainaaHu minal ghammi (“Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan”) yaitu Kami mengeluarkannya dari perut ikan dan kegelapan tersebut. Wa kadzaalika nunjil mu’miniin (“Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”) yaitu jika mereka berada di dalam kesulitan dan mereka berdo’a kepada kami dengan penuh berserah diri. Apalagi jika mereka menggunakan do’a ini di saat mendapatkan ujian. Anjuran menggunakan do’a tersebut telah datang dari pemimpin para Nabi.

Imam Ahmad berkata, Isma’il bin `Umair bercerita kepada kami, dari Yunus bin Abu Ishaq al-Hamdani, dari Ibrahim bin Muhammad bin Sa’ad, dari Muhammad ayah kami, dari Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik do’a Dzunnun adalah ketika berada di perut ikan (bahwa) = laa ilaaHa illaa anta subhaanaka innii kuntu minadh dhaalimiin = Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim).’ Karena, tidak ada seorang muslim pun yang berdo’a kepada Rabbnya dengan do’a tersebut melainkan pasti akan dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi dan an-Nasa’i dalam Amalul Yaum wal LailaH).

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 85-86

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 85-86“Dan (ingatlah kisah) Isma’il, Idris, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. (QS. 21:85) Kami telah masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang shalih.(QS. 21:86)” (al-Anbiyaa’: 85-86)

Isma’il yang dimaksud adalah putera Ibrahim as. Ceritanya telah disebutkan di dalam surat Maryam, demikian pula Idris. Sedangkan Dzulkifli sesuai dengan dhahir kalimatnya, dia tidak digabungkan dengan para Nabi, akan tetapi dia memang seorang Nabi. Ulama lain berkata, dia hanyalah seorang laki-laki shalih dan dia seorang raja dan hakim yang adil. Ibnu Jarir tidak memberikan pendapat dalam masalah tersebut. Ibnu Juraij berkata dari Mujahid tentang firman-Nya: wa dzalkifli (“Dan Dzulkifli,”) ia berkata: “Dia adalah seorang laki-laki shalih selain Nabi yang menjamin Nabi kaumnya, yaitu dengan cara mencukupkan urusan kaumnya, mengurus mereka dan memutuskan hukum di antara mereka dengan keadilan. Maka, dia pun mengerjakannya, hingga dinamai Dzulkifli. Demikian yang diriwayatkan dariIbnu Abi Najih dari Mujahid.

Bersambung