Tag Archives: surah al-hajj

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 77-78

13 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 77-78“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan. (QS. 22:77) Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilihmu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu Pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. 22:78)” (al-Hajj: 77-78)

Para imam rahimahumullah berbeda pendapat tentang ayat sujud yang kedua dalam surat al-Hajj ini, apakah disyari’atkan sujud atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Firman-Nya: wa jaaHiduu fillaaHi haqqa jiHaadiHi (“Dan beijihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya,”) yaitu dengan harta, lisan dan jiwa-jiwa kalian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Firman-Nya: Huwajtabaakum (“Dia telah memilihmu,”) yaitu, wahai umat ini! Allah telah memisahkan dan memilih kalian atas seluruh umat serta mengutamakan, memuliakan dan mengistimewakan kalian dengan Rasul-Nya yang termulia dan syari’at-Nya yang amat sempurna. Wa maa ja’ala ‘alaikum fid diini min haraj (“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,”) yaitu, Dia tidak membebani kalian dengan sesuatu yang kalian tidak mampu, serta tidak mengharuskan kalian dengan sesuatu yang memberatkan kalian, kecuali Dia menjadikan untuk kalian kelapangan dan jalan keluar. Shalat yangmerupakan rukun Islam yang paling besar setelah dua kalimat syahadat, diwajibkan dalam keadaan hadir empat raka’at dan di dalam keadaan safar dengan diqashar menjadi dua raka’at. Di waktu rasa takut (perang), sebagian imam melakukan shalat satu raka’at, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits.

Dia pun dapat shalat dalam (keadaan) berjalan dan berkendaraan (berkuda), menghadap kiblat atau tidak menghadap kiblat. Demikian pula dalam shalatsunnah di waktu safar, dia dapat menghadap kiblat atau tidak menghadapnya. Berdiri di dalam shalat dapat gugur karena udzur penyakit, di mana orang yang sakit dapat melakukan shalat dalam keadaan duduk, jika tidak mampu dia dapat melakukannya dengan berbaring di atas lambung kanannya serta rukhshah dan keringanan lain dalam seluruh fardhu dan kewajiban. Untuk itu Nabi bersabda: “Aku diutus dengan agama yang hanif dan kasih. Hadits-hadits dalam masalah ini cukup banyak.

Ibnu `Abbas berkata tentang firman-Nya: Wa maa ja’ala ‘alaikum fid diini min haraj (“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,”) yaitu suatu kesempitan.” Firman-Nya: millata abiikum ibraaHiim (“[Ikutilah] agama orang tuamu, Ibrahim.”) Ibnu Jarir berkata: “Dibaca nashab dengan takdir,” Dan Dia sekali-kali lak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,” yang berarti kesulitan, bahkan Dia memberikan keluasan bagi kalian seperti agama bapak kalian, Ibrahim as. Ibnu Jarir pun berkata: “Boleh jadi pula dibaca manshub atas takdir, ikutilah agama bapak kalian, Ibrahim.” (Aku berkata) Makna yang terkandung di dalam ayat ini seperti firman-Nya: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus.” dan ayat seterusnya. (QS. Al-An’ aam: 161).

Firman-Nya: Huwa sammaakumul muslimiina min qablu (“Dia telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu.”) Dalam masalah ini, Imam `Abdullah Ibnul Mubarak berkata dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya ini, yaitu Allah. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, `Atha’, adh-Dhahhak, as-Suddi, Muqatil bin Hayyan dan Qatadah. Mujahid berkata: “Allah telah menamai kalian orang-orang muslim dari dahulu dalam kitab-kitab terdahulu dan di dalam adz-Dzikr.”

Wa fii Haadzaa (“Dan begitu pula dalam [al-Qur’an] ini,”) yaitu al-Qur’an, demikian yang dikatakan oleh yang lainnya. Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: liyakuunar rasuulu syaHiidan ‘alaikum wa takuunu syuHadaa-a ‘alan naasi (“Agar Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu menjadi saksi atas segenap manusia,”) yaitu Kami menjadikan kalian seperti itu sebagai umat yang wasath (pertengahan), adil, terpilih dan menjadi saksi bagi seluruh umat dengan keadilan kalian agar pada hari Kiamat, kalian menjadi: syuHadaa-a ‘alan naasi (“saksi bagi seluruh manusia”) Karena pada waktu itu, seluruh umat mengakui kepemimpinan dan keutamaan mereka dibandingkan dengan umat yang lain. Untuk itu, persaksian mereka diterima pada hari Kiamat, yaitu tentang kenyataan bahwa para Rasul telah menyampaikan risalah Rabb mereka. Rasul (Muhammad saw) pun menjadi saksi atas umat ini bahwa dia telah menyampaikannya kepada mereka. Masalah ini telah dibahas terdahulu pada firman-Nya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikanmu umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas diri-mu, ” (QS. Al-Baqarah: 143).

Firman-Nya: fa aqiimush shalaata wa aatuz zakaata (“Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat,”) yaitu terimalah oleh kalian nikmat yang besar ini dengan mensyukurinya secara benar, maka tunaikanlah hak Allah oleh kalian dengan melaksanakan apa saja yang difardhukan, mentaati apa saja yang diwajibkan dan meninggalkan apa saja yang diharamkan. Di antara hal tersebut yang paling penting adalah mendirikan shalat dan menunaikan zakat, yaitu berbuat baik kepada sesama makhluk Allah dengan sesuatu yang diwajibkan kepada orang kaya untuk orang yang fakir dengan mengeluarkan satu bagian hartanya dalam satu tahun untuk orang-orang yang lemah dan orang-orang yang membutuhkan, sebagaimana telah dijelaskan dan dirinci dalam pembahasan yang lalu dalam ayat zakat di surat at-Taubah.

Dan firman-Nya: wa’tashimuu billaaHi (“Dan berpeganglah kamu pada tali Allah,”) yaitu berpegang teguh kepada Allah, minta tolonglah, bertawakkal dan mintalah dukungan kepada-Nya. Huwa maulaakum (“Dia adalah pelindungmu,”) yaitu pemelihara, penolong dan pemberi kemenangan bagi kalian dari musuh-musuh kalian. Fani’mal maulaa wa ni’mal wakiil (“Maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong,”) yaitu sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong dari musuh-musuh kalian. Wallahu a’lam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 75-76

13 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 75-76“Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari Malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamelihat. (QS. 22:75) Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan. (QS. 22:76)” (al-Hajj: 75-76)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia memilih beberapa utusan diantara para Malaikat untuk menyampaikan apa saja yang dikehendaki-Nya berupa syari’at dan ketentuan-Nya, serta memilih beberapa utusan di antara manusia untuk menyampaikan risalah-Nya. innallaaHa samii’um bashiir (“Sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamelihat,”) yaitu Mahamendengar seluruh perkataan hamba-hamba-Nya serta Mahamelihat mereka lagi Mahamengetahui siapa di antara mereka yang berhak menerima hal tersebut. Sebagaimana Dia berfiman: allaaHu a’lamu haitsu yaj’alu risaalataHu (“Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan.”) (QS. Al-An’aam: 124).

Firman-Nya: ya’lamu maa baina aidiiHim wa maa khalfaHum wa ilallaaHi turja’ul umuur (“Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan.”) Yaitu Mahamengetahui apa yang dilakukan oleh para Rasul-Nya tentang risalah yang mereka emban. Tidak ada sesuatu pun perkara yang tersembunyi. Karena Dia Mahamengawasi mereka serta menyaksikan apa yang dikatakan mereka serta menolong dan memelihara mereka.

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memeliharamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maa-idah: 67)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 73-74

13 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 73-74“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (QS. 22:73) Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS. 22:74)” (al-Hajj: 73-74)

Allah Ta’ala berfirman memperingatkan tentang rendahnya berhala-berhala dan kebodohan akal para penyembahnya. yaa ayyuHan naasu dluriba matsalun (“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan,”) tentang apa yang disembah oleh orang-orang yang jahil kepada Allah lagi menyekutukan-Nya. Fastaimi’uulaHu (“Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu”) yaitu dengar dan fahamilah oleh kalian.

Innal ladziina yad’uuna min duunillaaHi lay yakhluquu dzubaabaw wa lawij-tama’uu laHu (“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya,”) yaitu jikalau seluruh berhala dan tandingan yang kalian sembah itu bersatu untuk menciptakan seekor lalat pun, niscaya mereka tidak akan sanggup.

Sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’: “Siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang menciptakan sesuatu seperti ciptaan-Ku. Maka, hendaklah dia menciptakan dzarrah, lalat atau biji seperti ciptaan-Ku.” (Ditakhrij oleh penyusun dua kitab shahih).

Kemudian, Allah Ta’ala berfirman pula: wa iy yaslub-Humudz dzubaabu syai-al laa yastanqidzuuHu minHu (“Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu,”) yaitu mereka amat lemah untuk menciptakan seekor lalat pun, bahkan yang lebih sangat lemah lagi dari itu, mereka lemah untuk menantangnya dan menolong diri darinya seandainya lalat itu merampas sesuatu dari wewangian yang ada di atasnya, kemudian dia ingin menyelamatkannya, niscaya dia tidak akan sanggup. Padahal lalat itu makhluk Aah yang paling lemah dan paling rendah.

Untuk itu Allah berfirman: dla’ufath-thaalibu wal math-luubu (“Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah pulalah yang disembah.”) Ibnu `Abbas berkata: “ath-thaalibu” adalah patung dan “al-math-luubu” adalah lalat.” Inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir dan itu adalah rangkaian kalimat yang paling jelas. As-Suddi dan selainnya berkata: “ath-thaalibu” adalah yang menyembah dan “al-math-libu” adalah berhala.”

Kemudian Diaberfirman: maa qadarullaaHa haqqa qadriHi (“Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya,”) yaitu mereka tidak mengenal kedudukan dan keagungan Allah disaat mereka menyembah selain-Nya yang tidak mampu melawan seekor lalatpun karena kelemahannya.
innallaaHa laqawiyyun ‘aziiz (“Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa,”) yaitu Dia Mahakuat di mana dengan ketetapan dan kekuatan-Nya, Dia telah menciptakan segala sesuatu.

Firman-Nya: ‘aziiz (“Mahaperkasa,”) yaitu Dia perkasa atas segala sesuatu, menundukkan dan mengalahkannya. Tidak ada yang mencegah dan mengalahkan-Nya karena keagungan dan kekuasaan-Nya, Dialah yang Mahaesa lagi Mahaperkasa.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 71-72

13 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 71-72“Dan mereka beribadah kepada selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. Dan bagi orang-orang yang dhalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun. (QS. 22:71) Dan apabila dibacakan dihadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami dihadapan mereka. Katakanlah: ‘Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?’ Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 22:72)” (al-Hajj: 71-72)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan orang-orang musyrik tentang kebodohan, kekafiran dan sikap mereka yang beribadah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak diturunkan sulthan tentangnya, yaitu hujjah dan bukti. Untuk itu Dia berfirman: maa lam yunazzil biHii sulthaanaw wa maa laisa laHum biHii ‘ilmun (“Apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya,”) yaitu apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya tentang apa yang mereka buat dan dustakan. Semua itu hanyalah perkara yang mereka terima dari orang tua dan nenek moyang mereka tanpa dalil dan hujjah, dan asalnya adalah dari tipu daya syaitan dan sesuatu yang dihiasinya.

Untuk itu, Allah Ta’ala mengancam mereka dengan firman-Nya: wa maa lidh-dhaalimiina min anshaar (“Dan bagi orang-orang yang dhalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun,”) yaitu seorang penolong yang menolong mereka dari Allah yang menimpakan adzab dan hukuman, yang mereka derita. Kemudian Dia berfirman: wa idzaa tutlaa ‘alaiHim aayaatinaa bayyinaatin (“Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang,”) yaitu apabila disebutkan kepada mereka ayat-ayat al-Qur’an, dalil-dalil dan bukti-bukti yang jelas tentang keesaan Allah dan sesungguhnya tidak ada Ilah (yang haq) kecuali Dia serta seluruh Rasul-Nya yang mulia adalah benar dan jujur.

Yakaaduuna yasthuuna bil-ladziina yat-luuna ‘alaiHim aayaatinaa (“Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat kami di hadapan mereka,”) yaitu, hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang berhujjah dengan dalil-dalil yang shahih dari al-Qur’an serta berusaha menyerang mereka dengan kejahatan melalui tangan dan lisan mereka.

Qul (“Katakanlah,”) hai Muhammad kepada mereka: afa unab-bi-ukum bisyarrim min dzaalikumun naara wa ‘adaHallaaHul ladziina kafaruu (“Apakah mau aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk dari pada itu, yaitu neraka? Allah telah mengancamkannya kepada Qrang-orang yang kafir,”) yaitu adzab dan siksa neraka lebih dahsyat, lebih berat, lebih keras dan lebih besar dari apa yang kalian ancamkan kepada para wali Allah di dunia.

Firman-Nya: wa bi’sal mashiir (“Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali,”) yakni neraka itu seburuk-buruk tempat tinggal, tempat singgah, tempat kembali, dan tempat berdiam. “Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqaan: 66).

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 70

12 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 70“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauhul Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang kesempurnaan ilmu-Nya kepada para makhluk dan Dia Mahameliputi apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada seberat biji dzarrah pun yang tersembunyi dari-Nya, di bumi dan di langit, yang lebih kecil atau yang lebih besar dari itu semua. Dia Allah Ta’ala Mahamengetahui seluruh kejadian sebelum terwujud serta telah mencatatnya di dalam Kitab-Nya, Lauhul Mahfuzh. Sebagaimana yang tercantum di dalam Shahih Muslim, bahwa `Abdullah bin ‘Amr ra. berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menentukan berbagai ketentuan makhluk lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Sedangkan ‘Arsy-Nya di atas air.”

Di dalam kitab-kitab sunan dari hadits yang diriwayatkan oleh jama’ah sahabat, bahwa Rasulullah bersabda: “Awal sesuatu yang diciptakan oleh Allah adalah al-Qalam. Dia berfirman: ‘Catatlah!’ Al-Qalam itu bertanya: `Apa yang harus aku catat?’ Allah berfirman: `Segala sesuatu yang terjadi.’ Maka, al-Qalam pun mencatat apa saja yang terjadi hingga hari Kiamat.”

Itulah yang difirmankan Allah kepada Nabi-Nya: alam ta’lam annallaaHa ya’lamu maa fis samaawaati wal ardli (“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?”) Ini merupakan kesempurnaan ilmu-Nya. Dia Mahamengetahui segala sesuatu sebelum diadakan, ditetapkan dan dicatat. Apa saja yang dilakukan oleh para hamba, sungguh telah diketahui oleh Allah sebelum hal itu (terjadi), menurut cara yang mereka lakukan. Dia Mahamengetahui sebelum tercipta bahwa yang ini taat dengan ikhtiarnya dan yang itu maksiat dengan ikhtiarnya, serta dicatatnya hal itu di sisi-Nya. Ilmu-Nya Mahameliputi terhadap segala sesuatu dan hal itu amat mudah dan ringan bagi-Nya. Untuk itu Allah Ta’alaberfirman: inna dzaalika fii kitaabin inna dzaalika ‘alallaaHi yasiir (“Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 67-69

12 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 67-69“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantahmu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (QS. 22:67) Dan jika mereka membantah maka katakanlah: ‘Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.’ (QS. 22:68) Allah akan mengadili di antara kamu pada hari Kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya. (QS.22:69)” (al-Hajj: 67-69)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menjadikan mansak untuk setiap kaum. Ibnu Jarir berkata, yaitu bagi setiap kaum ada seorang Nabi yang mansak. Dia berkata: “Asal mansak dalam bahasa Arab adalah tempat perhentian dan bolak-baliknya manusia, baik untuk kebaikan maupun untuk keburukan.” Untuk itu, dinamakan manasik haji (terhadap hal itu) dikarenakan bolak-balik dan berdiamnya manusia di tempat itu.

Jika hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Jarir tentang maksud setiap umat memiliki Nabi yang dijadikan mansak, maka maksud firman-Nya, “Maka janganlah sekali-kali mereka membantahmu dalam urusan ini.” Yaitu, orang-orang musyrik, dan jika yang dimaksud ayat, “Tiap umat telah Kami tetapkan mansak,” maka artinya, Kami telah jadikan sebagai ketentuan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, wa likulli wijHatun Huwa muwalliiHaa (“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya [sendiri] yang ia menghadap kepadanya.”) (QS. Al-Baqarah: 148).

Untuk itu Allah berfirman di sini: Hum naasikuuHu (“Yang mereka kerjakan,”) yang mereka lakukan. Dhamir (kata ganti) di sini kembali kepada mereka yang memiliki manasik dan cara-cara tertentu. Yaitu mereka melakukan ini karena ketentuan Allah dan kehendak-Nya, maka janganlah engkau terpengaruh oleh bantahan mereka kepadamu serta hendaklah hal tersebut tidak memalingkanmu dari kebenaran yang engkau anut.

Untuk itu Dia berfirman: wad’u ilaa rabbika innaka la-‘alaa Hudam mustaqiim (“Dan serulah kepada Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus,”) yaitu jalan yang jelas lagi lurus dan menyampaikan kepada tujuan.
Firman-Nya: wa in jaadaluuka faqulillaaHu a’lamu bimaa ta’maluun (“Dan Jika mereka membantahmu, maka katakanlah: ‘Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan,’”) sebuah peringatan yang sangat tegas dan ancaman yang sangat.

Untuk itu Dia berfirman: allaaHu yahkumu bainakum yaumal qiyaamati fiimaa kuntum fiiHi takhtalifuun (“Allah akan mengadili di antara kamu pada hari Kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya.”)

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 63-66

12 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 63-66“Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Mahamengetahui. (QS. 22:63) Kepunyaan Allah-lah segala yang ada dilangit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya lagi Mahaterpuji. (QS. 22:64) Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapengasih lagi Mahapenyayang kepada manusia. (QS. 22:65) Dan Dialah Allah yang telah menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (lagi), sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat mengingkari nikmat. (QS. 22:66)” (al-Hajj: 63-66)

Ayat ini pun merupakan petunjuk tentang ketetapan dan keagungan kekuasaan-Nya. Dia mengirim angin yang menggiring awan, lalu turunlah hujan di atas tanah gersang yang tidak ada tumbuhan di atasnya, yaitu tanah kering dan hitam legam. Fa idzaa anzalnaa ‘alaiHal maa-aH tazzat wa rabat (“Kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah.”) (QS. Al-Hajj: 5).
Dan firman-Nya: fatush-bihul ardlu mukh-dlarratan (“Lalu jadilah bumi itu hijau.”)

Huruf fa (maka) dalam ayat ini untuk ta’gib (penjelasan setelahnya). Ta’qib adalah suatu akibat dari sebelumnya, sebagaimana Allah berfirman: “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.” (QS.Al-Mu’minuun: 14).

Telah dinyatakan di dalam ash-Shahihain, bahwasanya antara dua hal itu adalah 40 hari. Karenanya, Dia mengiringinya dengan fa. Demikianlah, di sini Allah berfirman: fatush-bihul ardlu mukh-dlarratan (“Lalu jadilah bumi itu hijau.”) setelah kering dan gersang. Sesungguhnya diceritakan dari sebagian penduduk Hijaz, bahwa jadilah bumi itu hijau setelah turunnya hujan. Wallahu a’am.

Firman-Nya: innallaaHa lathiifun khabiir (“Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha-mengetahul,”) yaitu Mahamengetahui apa saja yang ada di permukaan, sudut dan bagian bumi; berupa biji, walaupun kecil, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

Firman-Nya: laHuu maa fis samaawaati wamaa fil ardli (“Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di bumi dan segala yang ada di langit,”) yaitu milik-Nyalah segala sesuatu dan Dia tidak butuh kepada selain-Nya. Sedangkan segala sesuatu adalah abdi-Nya serta amat butuh kepada-Nya.

Firman-Nya: alam tara annallaaHa sakh-khara lakum maa fil ardli (“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi,”) yaitu berupa hewan-hewan, benda-benda padat; tanam-tanaman dan buah-buahan sebagaimana firman-Nya: “Dan Dia telah menundukkan lautan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari pada-Nya,” (QS. Al jaatsiyah: 13) , Yakni berupa kebaikan, kelebihan dan anugerah-Nya,
Wal fulka tajrii fil bahri bi-amriHi (“Dan bahtera yang berlayar di laut dengan perintah-Nya,”) yaitu dengan aturan dan kemudahan-Nya. Yakni, di lautan yang luas dan getaran ombak, bahtera itu berlayar dengan para penumpangnya dengan angin yang baik dan tenang. Mereka membawa di dalamnya apa yang mereka kehendaki berupa barang-barang dagangan, benda-benda dan jasa dari satu kota ke kota lain dan dari satu benua benua yang lain. Mereka membawa apa yang mereka miliki kepada yang lain serta membawa hasil yang mereka peroleh dari yang lain pula, sesuatu yang mereka butuhkan, mereka cari dan mereka inginkan.

Wa yumsikus samaa-a an taqa’a ‘alal ardli illaa bi-idz-niHi (“Dan Dia menahan benda-benda langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya,”) seandainya Dia mau, niscaya Dia mengizinkan langit untuk jatuh ke bumi, sehingga membinasakan penghuninya. Akan tetapi, karena kelembutan, rahmat dan ketetapan-Nya, Dia menahan langit untuk tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya. Untuk itu Dia berfirman: innallaaHa bin naasi lara-uufur rahiim (“Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapengasih lagi Mahapenyayang kepada manusia,”) yaitu, di samping kedhaliman mereka.

Wa Huwal ladzii ahyaakum (“Dan Dia-lah Allah yang telah menghidupkanmu,”) yaitu menciptakan kalian dan sebelumnya kalian tidak ada. Tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum (“Kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu lagi,”) yaitu pada hari Kiamat.

Innal insaana lakafuur (“Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat mengingkari nikmat,”) yaitu membangkang.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 61-62

12 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 61-62“Yang demikian itu adalah, karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Mahamendengar lagi Mahamelihat. (QS. 22:61) (Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (Rabb) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Maha-besar. (QS. 22:62)” (al-Hajj: 61-62)

Allah Ta’ala berfirman, menyadarkan bahwa Dia adalah Mahapencipta yang mengatur makhluk-Nya sesuai kehendak-Nya. Makna `ilajnya malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam adalah masuknya malam ke dalam siang dan masuknya siang ke dalam malam. Terkadang, malam lebih panjang dan siang lebih pendek seperti di musim dingin, serta siang lebih panjang dan malam lebih pendek seperti di musim panas.

Firman-Nya: wa annallaaHa samii’um bashiir (“Dan bahwasanya Allah Maha-mendengar lagi Mahamelihat,”) yaitu Mahamendengar perkataan-perkataan hamba-Nya serta Mahamelihat mereka. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya dalam kondisi, gerakan dan diamnya mereka.

Tatkala sudah jelas bahwa Dia yang Mahamengatur wujud ini lagi Mahabijaksana yang tidak ada yang mampu menandingi kebijaksanaan-Nya, Dia berfirman: dzaalika bi-annallaaHa Huwal haqqu (“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Rabb yang haq,”) yaitu Ilaahul haqq yang tidak ada peribadatan yang layak kecuali hanya kepada-Nya. Karena Dia adalah pemilik kekuasaan yangagung, apa saja yang dikehendaki-Nya pasti ada, dan apa saja yang tidak dikehendaki-Nya niscaya tidak akan ada. Sedangkan seluruhnya amat butuh dan berserah diri kepada-Nya.

Wa anna maa yad’uuna min duuniHii Huwal baathilu (“Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil,”) yaitu berupa patung-patung, tandingan-tandingan dan berhala-berhala. Segala sesuatu yang disembah selain Allah, itulah yang bathil. Karena hal itu tidak memiliki mudharat dan manfaat.

Firman-Nya: wa annallaaHa Huwa ‘aliyyul kabiir (“Dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”) Maka, segala sesuatu berada di bawah kekuasaan, kerajaan dan keagungan-Nya. Tidak ada Ilah (yang berhak di-ibadahi dengan benar) kecuali Dia dan tidak ada Rabb selain-Nya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 58-60

12 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 58-60“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rizki yangbaik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rizki.(QS. 22:58) Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha-mengetahui lagi Mahapenyantun. (QS. 22:59) Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapemaaf lagi Mahapengampun. (QS. 22:60)” (al-Hajj: 58-60)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang yang keluar untuk berhijrah di jalan-Nya dalam rangka mencari keridhaan Allah dan mencari balasan disisi-Nya, meninggalkan tanah air, keluarga dan rekan-rekan, serta meninggalkan negerinya karena Allah, Rasul-Nya dan menolong agama-Nya. Kemudian mereka terbunuh di dalam jihad atau mereka wafat di pembaringan, bukan terjun ke dalam peperangan, maka mereka meraih pahala besar dan pujian indah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” (QS. An-Nisaa’: 100).

Firman-Nya: layarzuqanna HumullaaHu rizqan hasanan (“Benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik,”) yaitu sesungguhnya Dia akan membalas mereka dengan rahmat dan rizki-Nya di dalam surga, sesuatu yang menyejukan mata-mata mereka. Wa innalaaHa laHuwa khairur raaziqiina. Layud-khilannaHum mud-khalay yardlaunaHu (“Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rizky. Sesungguhnya Allah memasukkan mereka ke dalam suatu tempat yang mereka menyukainya,”) yaitu surga.

Kemudian Dia berfirman: wa innallaaHa la-‘ilmun (“Dan sesungguhnya Allah Mahamengetahui,”) orang yang betul-betul berhijrah dan berjihad di jalan-Nya serta orang yang berhak melakukan itu.
Haliimun (“Lagi Mahapenyantun,”) yaitu menyantuni, memaafkan dan mengampuni dosa-dosa mereka serta menghapuskannya dengan hijrah dan tawakkal mereka kepada-Nya. Sedangkan orang yang mati terbunuh di jalan Allah di antara orang yang hijrah dan orang yang tidak berhijrah, maka sesungguhnya dia akan hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rizki, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki.” (QS. Ali `Imran: 169).

Hadits-hadits dalam masalah ini cukup banyak, sebagaimana telah lalu. Sedangkan orang yang wafat di jalan Allah di antara orang yang berhijrah dan orang yang bukan berhijrah, maka ayat-ayat yang mulia dan hadits-hadits shahih mengandung pemberian rizki dan besarnya kebaikan Allah kepadanya.

Firman-Nya: dzaalika wa man ‘aaqaba bimits-li maa’uuqiba biHi tsumma bughiya ‘alaiHi layanshuran-naHullaaHu innallaaHa la’afuwwun ghafuur (“Demikianlah dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah derita kemudian dia dianiaya [lagi], pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapemaaf lagi Mahapengampun.”)

Muqatil bin Hayyandan Ibnu Jarir menyebutkan bahwa ayat ini turun tentang pasukan perang Sahabat yang bertemu dengan sekelompok pasukan kaum musyrikin di Muharram. Lalu kaum muslimin menyerukan mereka (orang-orang musyrik) agar tidak memerangi mereka di bulan haram. Akan tetapi orang-orang musyrik menolak seruan itu dan mereka tetap memeranginya, serta berbuat dhalim. Maka kaum muslimin memerangi mereka dan Allah pun menolong mereka.

innallaaHa la-‘afuwwun ghafuur (“Sesungguhnya Allah Mahapemaaf lagi Ma”apengampun”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 55-57

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 55-57“Dan senantiasa-lah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur’an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka adzab hari Kiamat. (QS. 22:55) Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal shalih adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan. (QS. 22:56) Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka bagi mereka adzab yang menghinakan. (QS. 22:57)” (al-Hajj: 55-57)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang orang-orang kafir, bahwa mereka terus-menerus dalam miryah, yaitu keraguan dan kebimbangan terhadap al-Qur’an. Hal tersebut dikatakan oleh Ibnu Juraij dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Sa’id bin Jubair dan Ibnu Zaid berkata: minHu (“Terhadapnya,”) adalah terhadap apa-apa yang dibisikkan oleh syaitan.”

Hattaa ta’tiyaHumus saa’atu baghtatan (“Hingga datang kepada mereka saat kematiannya dengan tiba-tiba.”) Mujahid berkata: “Secara mendadak.” Qatadah berkata: baghtatan; yaitu, saat (kematian) kaum yang sombong terhadap perintah Allah. Allah tidak akan menyiksa suatu kaum sedikit pun kecuali ketika mereka dalam keadaan mabuk, tertipu dan senang. Maka, janganlah kalian menipu Allah, karena tidak ada yang menipu Allah kecuali kaum yang fasik.”

Firman-Nya: au ya’tiyaHum ‘adzaabu yaumin ‘aqiim (“Atau datang kepada mereka adzab hari Kiamat.”) `Ikrimah dan Mujahid dalam satu riwayat mengatakan, itulah hari Kiamat yang tidak ada malamnya. Demikian yang dikatakan oleh adh-Dhahhak dan al-Hasan al-Bashri.

Untuk itu, Dia berfirman: al mulku yauma-idzil lillaaHi yahkumu bainaHum falladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Kekuasaan pada hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal shalih,”) yaitu hati mereka beriman dan membenarkan Allah dan Rasul-Nya, serta mengamalkan apa yang mereka ketahui. Hati, perkataan dan amal-amal mereka konsisten.
Fii jannaatin na’iim (“Di dalam surga yang penuh kenikmatan,”) yaitu mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang penuh kenikmatan yang tidak berubah, hilang atau lenyap.

Walladziina kafaruu wa kadz-dzabuu bi-aayaatinaa (“Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami,”) yaitu, hati mereka kufur terhadap kebenaran, mengingkarinya dan mendustakannya serta menyelisihi para Rasul dan sombong untuk mengikuti mereka, fa ulaa-ika laHum ‘adzaabum muHiin (“Maka bagi mereka adzab yang menghinakan,”) yaitu sebagai balasan kesombongan dan pembangkangan mereka kepada kebenaran, seperti firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan dakhirin,” (QS. Al-Mu’min: 60). Yaitu hina dina.

Bersambung