Tag Archives: surah al kahfi

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 110

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 110“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia sepertimu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Ilahmu itu adalah Ilah Yang Esa.’ Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Qul (“Katakanlah,”) kepada orang-orang musyrik yang mendustakan ke-Rasulanmu; innamaa ana basyarum mitslukum (“Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia sepertimu.”) Barangsiapa yang menganggap diriku ini seorang pendusta, maka hendaklah ia mendatangkan seperti apa yang telah aku bawa. Sesungguhnya aku tidak mengetahui yang ghaib mengenai hal-hal terdahulu yang aku sampaikan kepada kalian, yakni tentang Ash-haabul Kahfi yang kalian tanyakan kepadaku, juga berita tentang Dzulqarnain yang memang sesuai dengan kenyataan. Hal itu tidak akan demikian, jika Allah Ta’ala tidak memperlihatkannya kepadaku.

Sesungguhnya aku beritahukan kepada kalian: annamaa ilaaHukum (“Bahwa sesungguhnya Ilahmu itu,”) yang aku seru kalian untuk menyembah-Nya; ilaaHuw waahidun (“Adalah Ilah Yang Esa,”) yang tiada sekutu bagi-Nya.

Fa man kaana yarjuu liqaa-a rabbiHii (“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya,”) yakni, pahala dan balasan-Nya yang baik; falya’mal ‘amalan shaalihan (“Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih.”) Yakni yang sesuai dengan syari’at Allah. Wa laa yusyriku bi-‘ibaadati rabbiHii ahadan (“Dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”) Itulah perbuatan yang dimaksudkan untuk mencari keridhaan Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Kedua hal tersebut merupakan rukun amal yang maqbul (diterima). Yaitu harus benar-benar tulus karena Allah dan harus sesuai dengan syari’at Rasulullah saw.

Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Thawus, ia menceritakan, ada seseorang yang bertanya: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku bersikap dengan beberapa sikap, yang kukehendaki hanyalah keridhaan Allah, aku ingin agar tempatku diperlihatkan.” Maka Rasulullah tidak memberikan jawaban sama sekali sehingga turun ayat ini: Fa man kaana yarjuu liqaa-a rabbiHii falya’mal ‘amalan shaalihaw Wa laa yusyriku bi-‘ibaadati rabbiHii ahadan (“Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”) Demikianlah yang dikemukakan oleh Mujahid dan beberapa ulama lainnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id bin Abi Fadhalah al-Anshari, yang ia termasuk salah seorang sahabat, ia bercerita, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Jika Allah telah mengumpulkan orang-orang yang hidup pertama dan orang-orang yang hidup terakhir pada hari yang tidak ada keraguan terjadinya. Lalu ada seorang (Malaikat) yang berseru: ‘Barangsiapa yang dalam suatu perbuatan yang dilakukannya menyekutukan Allah dengan seseorang, maka hendaklah ia meminta pahalanya kepada selain Allah, karena Allah merupakan Rabb yang tidak memerlukan sekutu.’” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Bakrah, ia bercerita, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang berbuat sum’ah [ingin didengar] maka Allah akan memperdengarkan dengannya. Dan barangsiapa yang riya’ maka Allah akan menjadikan riya’ dengan dirinya.”

sekian

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 109

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 109“Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi: 109)

Allah berfirman, katakanlah hai Muhammad, seandainya air laut itu dijadikan tinta pena untuk digunakan menulis kalimat-kalimat Allah swt., hukum-hukum-Nya, ayat-ayat yang menunjukkan kekuasaan-Nya, niscaya akan habis air laut itu sebelum penulisan semuanya itu selesai. Meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu Pula.”

Yakni, seperti laut yang lain, lalu yang lain lagi, dan seterusnya dan kemudian dipergunakan untuk menulis semuanya itu, niscaya kalimat-kalimat Allah Ta’ala itu tidak akan selesai (habis) ditulis. Sebagaimana yang Dia firmankan berikut ini:
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Luqman: 27)

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 107-108

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 107-108“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus (yang) menjadi tempat tinggal. (QS. 18:107) Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya. (QS. 18:108)” (al-Kahfi: 107-108)

Allah menceritakan tentang hamba-hamba-Nya yang berbahagia, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta membenarkan apa yang dibawa oleh para Rasul-Nya, bahwa mereka akan mendapatkan surga Firdaus.
Mujahid berkata: “Al-Firdaus berarti kebun menurut bahasa Romawi.” Sedangkan Ka’ab, as-Suddi dan adh-Dhahhak mengatakan: “Yaitu kebun yang di dalamnya terdapat pohon anggur.”

Dan dalam kitab ash-Shahihain disebutkan, Rasulullah bersabda: “Jika kalian memohon surga kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya surge Firdaus, karena ia merupakan surga yang paling tinggi sekaligus surga paling pertengahan, dan darinya terpancar sungai-sungai surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Firman-Nya: nuzulan; artinya tempat tinggal. Firman-Nya: khaalidiina fiiHaa (“Mereka kekal di dalamnya,”) yakni, akan tinggal di sana untuk selamanya dan tidak akan disingkirkan darinya, untuk selamanya. Laa yabghuuna ‘anHaa hiwalan (“Mereka tidak ingin berpindah darinya.”) Maksudnya, mereka tidak akan memilih yang lain selain darinya dan tidak akan mencintai yang lainnya. Sebagaimana yang diungkapkan seorang penyair:

Hati telah terpikat, aku tidak tertarik pada yang lainnya, dan tidak
pula cintaku kepadanya berubah.

Dalam firman-Nya: Laa yabghuuna ‘anHaa hiwalan (“Mereka tidak ingin berpindah darinya.”) terdapat petunjuk yang mengisyaratkan keinginan dan kecintaan mereka terhadapnya, padahal ia merasa ragu, bukankah orang yang tetap tinggal disatu tempat itu akan menemukan kejenuhan atau merasa bosan? Kemudian Dia memberitahukan bahwa dengan keabadian dan kekekalan tersebut mereka tidak akan mempunyai keinginan untuk berpindah dari tempat mereka itu dan tidak pula hendak mencari ganti serta ingin pergi meninggalkannya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 103-106

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 103-106“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ (QS. 18:103) Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. 18:104) Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan-Nya, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat. (QS. 18:105) Demikianlah, balasan mereka itu neraka jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan para Rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. 18:106)” (al-Kahfi: 103-106)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Mush’ab, ia menceritakan, aku pernah bertanya kepada ayahku, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash mengenai firman Allah: qul Hal nunabi-ukum bil akhsariina a’maalan (“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’”) Apakah mereka itu al-Hururiyyah? la menjawab: “Tidak, mereka itu adalah Yahudi dan Nasrani. Adapun orang-orang Yahudi itu telah mendustakan Muhammad saw. Sedangkan orang-orang Nasrani, ingkar akan adanya surga dan mereka mengatakan: “Tidak ada makanan dan minuman di dalamnya.” Al-Hururiyyah adalah orang-orang yang membatalkan janji Allah setelah mereka berjanji kepada-Nya.

Yang jelas, hal itu bersifat umum yang mencakup semua orang yang menyembah Allah Ta’ala dengan jalan yang tidak diridhai, yang mereka mengira bahwa mereka benar dan amal perbuatan mereka diterima, padahal mereka itu salah dan amal perbuatannya tidak diterima.

qul Hal nunabi-ukum bil akhsariina a’maalan (“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’”)Kemudian Dia menafsirkan mereka seraya berfirman: alladziina dlalla sa’yuHum fil hayaatid dun-yaa (“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,”) yakni orang-orang yang mengerjakan perbuatan yang sesat dan tidak berdasarkan syari’at yang ditetapkan, diridhai dan diterima oleh Allah.

Wa Hum yahsabuuna annaHum yuhsinuuna shun’an (“Sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”) Mereka berkeyakinan bahwa mereka telah berbuat sesuatu dan yakin bahwa mereka diterima dan dicintai. Dan firman-Nya: ulaa-ikal ladziina kafaruu bi aayaati rabbiHim wa liqaa-iHi (“Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan [kufur terhadap] perjumpaan dengan-Nya.”) Maksudnya, mereka mengingkari ayat-ayat dan bukti-bukti kekuasaan Allah di dunia yang telah disampaikan-Nya, juga mendustakan keesaan-Nya, tidak beriman kepada para Rasul-Nya, serta mendustakan alam akhirat.

Fa laa nuqiimu laHum yaumal qiyaamati wizran (“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari Kiamat.”) Artinya, Kami tidak akan memberatkan timbangan mereka, karena dalam timbangan mereka tidak terdapat kebaikan.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah di mana beliau bersabda: “Pada hari Kiamat, akan datang seseorang yang (berbadan) besar lagi gemuk, yang ia tidak lebih berat timbangannya di sisi Allah dari beratnya sayap nyamuk.” Lebih lanjut beliau bersabda: “Jika kalian berkehendak, bacalah: Fa laa nuqiimu laHum yaumal qiyaamati wizran (“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari Kiamat.”)
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Firman-Nya: dzaalika jazaa-uHum jaHannamu bimaa kafaruu (“Demikianlah, balasan mereka itu neraka jahannam disebabkan kekafiran mereka.”) Maksudnya, Kami berikan balasan kepada mereka dengan balasan seperti itu disebabkan oleh kekufuran mereka dan tindakan mereka memperolok-olok ayat-ayat dan para Rasul Allah. Mereka memperolok para Rasul dan benar-benar mendustakan mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 100-102

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 100-102“Dan Kami nampakkan Jahannam pada bari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas. (QS. 18:100) Yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar. (QS. 18:101) Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain-Ku? Sesungguhnya Kami akan menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal orang-orang kafir. (QS. 18:102) (al-Kahfi: 100-102)

Allah berfirman seraya menceritakan apa yang akan Dia lakukan terhadap orang-orang kafir pada hari Kiamat kelak. Dia akan memperlihatkan Jahannam kepada mereka agar mereka menyaksikan adzab dan siksaan yang terdapat di dalamnya sebelum mereka masuk ke dalamnya. Yang demikian itu agar mereka lebih cepat merasakan kegoncangan dan kesedihan.

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan dari Ibnu Mas’ud bersabda: “Jahannam akan didatangkan, ia digiring pada hari Kiamat kelak menuju kepada tujuh puluh ribu golongan, yang setiap golongan terdapat tujuh puluh ribu Malaikat.” (HR. Muslim)

Kemudian Allah menceritakan tentang mereka, Dia berfirman: alladziina kaanat a’yunuHum fii ghithaa-in ‘an dzikrii (“Yaitu orang-orang yang matanya dalam keadan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku.”) Maksudnya, mereka lengah, buta, dan bisu untuk menerima petunjuk dan mengikuti kebenaran, sebagaimana yang Dia firmankan berikut ini:
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang Mahapemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)

Sedangkan di sini, Dia berfirman: wa kaanuu laa yastathii-uuna sam’an (“Dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.”) Maksudnya, mereka tidak pernah memikirkan perintah dan larangan Allah.

Kemudian Dia berfirman: a fa hasibal ladziina kafaruu ay yattakhidzuu ‘ibaadii min duunii auliyaa-a (“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain-Ku?”) Maksudnya, mereka berkeyakinan bahwa boleh saja mereka meminta pertolongan kepada selain Allah dan mereka pun meyakini bahwa hal itu dapat berguna bagi mereka. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia telah menyediakan neraka Jahannam di hari Kiamat kelak sebagai tempat tinggal bagi mereka yang mempunyai keyakinan seperti itu.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 97-99

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 97-99“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. (QS. 18:97) Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabbku. Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar.’ (QS. 18:98) Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya. (QS. 18: 99)” (al-Kahfi: 97-99)

Allah berfirman seraya menceritakan tentang Ya’juj dan Ma’juj, bahwa mereka tidak sanggup menaiki bagian atas dinding ini dan tidak pula mereka mampu melubanginya pada bagian bawahnya. Ketika naik di atasnya lebih mudah daripada melubanginya, menyiapkan yang layak untuknya, maka Dia berfirman: fa mastathaa’uu ay yadh-HaruuHu wa mastathaa’uu laHuu naqban (“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa pula melubanginya.”)

Yang demikian itu merupakan dalil yang menunjukkan bahwa mereka tidak sanggup untuk melubanginya atau berbuat sesuatu terhadapnya. Imam Ahmad meriwayatkan, Sufyan memberitahu kami, dari az-Zuhri, dari `Urwah, dari Zainab binti Abi Salamah, dari Habibah binti Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dari ibunya, Ummu Habibah, dari Zainab binti Jahsy, isteri Nabi saw, Sufyan mengatakan, empat wanita- bercerita, Nabi pernah bangun tidur dengan muka merah, sedang beliau berucap: “Tidak ada Ilah (yang haq) selain Allah. Celaka bagi bangsa Arab karena sungguh telah dekat suatu keburukan. Pada hari ini telah terbuka sedikit dinding penyumbat Ya’juj dan Ma’juj, seperti ini,” dan beliau membuat lingkaran. Kemudian kutanya: “Ya Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan sedang di tengah-tengah kami terdapat orang-orang shalih?” Beliau menjawab: “Ya, jika semakin banyak kejahatan dan keburukan.”
Hadits di atas derajatnya shahih, yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim dalam meriwayatkannya dari az-Zuhri.

Dalam riwayat al-Bukhari, penyebutan Habibah digugurkan, tetapi ditetapkan oleh Imam Muslim. Di dalamnya terdapat sesuatu yang jarang terjadi dalam pembuatan sanad. Di antaranya riwayat az-Zuhri dari `Urwah, yang keduanya dari kalangan tabi’in.
Yang lainnya adalah berkumpulnya empat wanita dalam sanadnya, yang sebagian mereka meriwayatkan dari sebagian lainnya. Kemudian masing-masing dari keempat wanita itu termasuk dari kalangan Sahabat. Lalu dua di antaranya adalah ibu mertua dan dua lainnya adalah isteri Rasulullah saw.

Firman-Nya: qaala Haadzaa rahmatum mir rabbii (“Dzulqarnain berkata, ‘Ini [dinding] adalah rabmat dari Rabbku.”) Yakni, apa yang telah dibangun oleh Dzulqarnain.
Dzulgarnain berkata, Ini (dinding) adalah rabmat dari Rabbku. Yakni, untuk umat manusia, di mana Dia telah menjadikan antara mereka dengan Ya’juj dan Ma’juj dinding pemisah yang menghalangi mereka berbuat kerusakan di muka bumi.

Fa idzaa jaa-a wa’du rabbii (“Maka apabila sudah datang janji Rabbku,”) yakni, apabila janji yang haq itu sudah dekat: ja’alaHuu dakkaa-a (“Dia akan menjadikannya hancur luluh.”) Maksudnya, Allah akan menyamaratakan dinding itu dengan bumi. Dari kata itu, muncul ungkapan masyarakat Arab, “Naaqah dakka’, jika punggung unta itu rata tidak berpunuk.
Allah sendiri juga telah berfirman: “Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, ijadikannya gunung itu hancur luluh.” (QS. Al-A’raaf: 143). Yakni, hancur dan lama rata dengan bumi.

Mengenai firman-Nya: Fa idzaa jaa-a wa’du rabbii ja’alaHuu dakkaa-a (“Maka apabila sudah datang janji Rabbku, Dia akan menjadikannya hancur luluh,”) `Ikrimah mengatakan: “Yaitu, menjadikannya jalan seperti semula.” Wa kaana wa’du rabbii haqqan (“Dan janji Rabbku adalah benar.”) Yakni, sudah pasti terjadi, tidak mungkin tidak.

Firman-Nya: wa taraknaa ba’dlaHum (“Kami biarkan mereka.”) Maksudnya, sebagian manusia pada hari itu, atau hari hancurnya dinding tersebut. Kemudian mereka itu keluar dan bergabung bersama umat manusia serta melakukan perusakan terhadap harta kekayaan manusia dan segala sesuatu yang mereka miliki. Demikian pula yang dikemukakan oleh as-Suddi mengenai firman-Nya: wa taraknaa ba’dlaHum yauma-idziy yamuuju fii ba’dlin (“Kami biarkan mereka pada hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain.”) As-Suddi mengatakan: “Yang demikian itu adalah pada saat mereka keluar ke tengah-tengah umat manusia. Semuanya itu terjadi sebelum hari Kiamat tiba dan sesudah munculnya Dajjal. Sebagaimana yang akan kami jelaskan lebih lanjut dalam pembahasan firman Allah:

“Hingga apabila dibukakan (tembokj Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (bari berbangkit).” Dan ayat seterusnya. (QS. Al-Anbiyaa’: 96).

Demikianlah Allah Ta’ala berfirman di sini: wa taraknaa ba’dlaHum yauma-idziy yamuuju fii ba’dlin (“Kami biarkan mereka pada hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain.”) As-Suddi mengemukakan: “Yang demikian itu adalah permulaan hari Kiamat. Wa nufikha fish-shuuri ( “Kemudian ditiup lagi sangkakala.”) Yakni, setelah itu. Fajama’naaHum jam’an (“Lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.”)

Firman-Nya: Fajama’naaHum jam’an (“Lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.”) Maksudnya, Kami hadirkan mereka semuanya untuk menjalani perhitungan (hisab). Dia berfirman: “Dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari
mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 92-96

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 92-96“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). (QS. 18:92) Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. (QS. 18: 93) Mereka berkata: “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka.” (QS. 18:94) Dzulqarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, (QS. 18:95) berilah aku potongan-potongan besi. ” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: “Tiuplah (api itu). ” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.” (QS. 18:96) (al-Kahfi: 92-96)

Allah Ta’ala berfirman seraya menceritakan tentang Dzulqarnain.
Kemudian ia menempuh jalan yang lain lagi. Dengan kata lain, ia menempuh jalan di belahan timur bumi sehingga sampai di hadapan kedua bukit itu, yakni dua buah gunung, yang di antara keduanya terdapat satu lubang, yang darinya keluar Ya’juj dan Ma’juj menuju ke negeri Turki. Lalu di sana mereka berbuat dengan melakukan kerusakan, merusak tanaman dan keturunan. Ya’juj dan Ma’juj termasuk dari keturunan Adam as, sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab ash-Shahihain, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Hai Adam.’ Maka Adam menjawab: ‘Aku mendengar panggilan-Mu.’ Allah berfirman: ‘Keluarkan utusan neraka.’ ‘Apa yang dimaksud dengan utusan neraka itu?’ tanya Adam. Dia menjawab: ‘Setiap seribu orang, Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan di antaranya menuju ke neraka sedang satu orang lainnya masuk surga. Maka pada saat itu, anak kecil akan beruban, dan setiap wanita hamil melahirkan kandungannya.’ Kemudian Dia berkata: ‘Sesungguhnya kalian adalah dua umat, tidak ada keduanya kecuali umat Ya’juj dan Ma’juj itu yang mengungguli banyaknya.’”

Dalam kitab al-Musnad, Imam Ahmad meriwayatkan dari Samurah, bahwa Rasulullah bersabda:
“Anak Nuh itu ada tiga: Saam Abul `Arab (bapaknya orang Arab), Haam, Abus Sudan (bapaknya orang Sudan) dan Yafits Abut Turk (bapaknya orang Turki).”

Sebagian ulama mengatakan: “Mereka itu (Ya’juj dan Ma’juj) adalah dari keturunan Yafits Abut Turk. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: wa dakhala min duuniHimaa qaumal laa yakaaduuna yafqaHuuna qaulan (“Ia dapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.”) Yakni, karena keterasingan bahasa yang mereka pergunakan dan tempat tinggal mereka yani terlalu jauh dari umat manusia. Mereka berkata:

Qaaluu yaa dzalqarnaini inna ya’juuja wa ma’juuja mufsiduuna fil ardli faHal naj’alu laka kharjan (“Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu.”) Ibnu Juraij menceritakan dari Ibnu `Abbas, yakni balasan yang besar. Yaitu, mereka bermaksud mengumpulkan harta dari kalangan mereka untuk mereka berikan kepadanya, supaya dengan demikian, ia membuat dinding antara dirinya dengan mereka.

Kemudian dengan penuh kesucian, ketulusan, perbaikan dan tujuan baik, Dzulqarnain berkata: maa makkannii fiiHi rabbii khairun (“Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik.”) Maksudnya, “Sesungguhnya kekuasaan dan kekuatan yang diberikan Allah kepadaku adalah lebih baik bagiku dari apa yang kalian kumpulkan itu.” Sebagaimana yang dikatakan Sulaiman as: “Apakah patut kamu menolongku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku adalah lebih baik daripada apa yang Dia berikan kepadamu,” dan ayat seterusnya. (QS. An-Naml: 36)

Demikian halnya yang dikemukakan oleh Dzulqarnain, di mana ia berkata, “Apa yang ada padaku adalah lebih baik daripada apa yang kalian berikan itu, tetapi hendaklah kalian menolongku dengan kekuatan, yakni dengan perbuatan kalian dan alat-alat bangunan.”

Aj’al bainakum wa bainaHum radman aatuunii zubaral hadiid (“Maka tolonglah aku dengan kekuatan [manusia dan alat-alat] agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi.”) Kata az-Zubar merupakan jamak dari kata Zabrah yang berarti potongan. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu `Abbas, Mujahid, dan Qatadah, yang ia berbentuk seperti bata.

hattaa idzaa saawaa bainash-shadafaini qaalanfukhuu (“Hingga apabila besi itu telah sama rata
dengan kedua [puncak] gunung itu.”) Yakni, sebagian diletakkan pada sebagian pondasi lainnya, sehingga tumpukan itu menyamai puncak dua gunung, baik panjang maupun lebar. Namun, para ulama masih berbeda pendapat mengenai luas, panjang dan lebarnya, yang menimbulkan beberapa pendapat.

Dzulgarnain berkata: “Tiuplah.” Maksudnya, nyalakanlah api di atasnya sehingga semuanya menjadi api. Qaala aatuunii afrigh ‘alaiHi qith-ran (“Ia pun berkata, ‘Berilah aku tembaga [yang mendidih] agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’”)
Ibnu `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, adh-Dhahhak, Qatadah dan as-Suddi mengatakan: “Yaitu tembaga.” Sebagian mereka menambahkan: “Yakni, cairan tembaga.” Dan hal itu diperkuat dengan firman Allah Ta’ala: “Dan kami alirkan cairan tembaga baginya.” (QS. Saba’: 12)
Dan ini menyerupai butiran embun.

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 89-91

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 89-91“Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). (QS. 18: 89) Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, (QS. 18: 90) demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. (QS. 18: 91)” (al-Kahfi: 89-91)

Allah berfirman: “Kemudian ia menempuh jalan, di mana ia berjalan dari tempat terbenamnya matahari menuju ke tampat terbitnya. Setiap kali melewati segolongan umat, maka ia dapat mengalahkan dan menguasai mereka serta menyeru mereka kepada Allah. Jika mereka menolak seruannya, maka mereka akan dikuasai dan dihalalkan pula harta kekayaan dan perbekalan mereka serta menggunakan segala sesuatu yang ada pada umat tersebut untuk bala tentaranya dalam menyerang wilayah mereka, dan ketika sampai di bumi tempat terbitnya matahari.

Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: wajadaHaa tathlu’u ‘alaa qaumin (“Ia mendapati matahari itu menyinari segolongan kaum.”) Yakni, umat.
Lam naj’al laHum min duuniHaa sitran (“Yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari [cahaya] matahari itu.”) Maksudnya, mereka tidak mempunyai bangunan yang dapat dijadikan sebagai tempat tinggal mereka, tidak juga pepohonan yang dapat menaungi mereka dan menghalangi mereka dari terik matahari. Sa’id bin Jubair mengatakan, mereka itu berwarna merah, bertubuh pendek, sedang tempat tinggal mereka adalah gua-gua, dan makanan mereka adalah ikan.

Mengenai firman Allah Ta’ala: wajadaHaa tathlu’u ‘alaa qaumil Lam naj’al laHum min duuniHaa sitran (“Ia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari [cahaya] matahari itu.”) Ibnu Jarir mengatakan: “Mereka tidak membangun satu bangunan di sana sama sekali. Jika matahari terbit, mereka masuk ke tempat tinggal mereka sehingga matahari lenyap, atau mereka masuk ke laut. Yang demikian itu karena di tanah mereka tidak terdapat gunung.

Firman-Nya: kadzaalika wa qad ahath-naa bimaa ladaiHi khubran (“Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.”) Mujahid dan as-Suddi mengatakan: “Artinya, Kami (Allah) mengetahui semua keadaannya dan keadaan bala tentaranya. Tiada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, meskipun umat mereka terpecah belah dan bumi pun telah luluh lantah. Sesungguhnya bagi Allah Ta’ala: “Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak pula di langit.” (QS. Ali `Imran: 5)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 85-88

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 85-88“Maka dia pun menempuh suatu jalan. (QS. 18:85) Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: ‘Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’ (QS. 18:86) Berkata Dzulqarnain: ‘Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengadzabnya,’ kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya. (QS. 18:87) Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah perintah Kami.” (QS. 18:88) (al-Kahfi: 85-88)

Ibnu `Abbas mengatakan: “fa atba’a sababan (“Maka ia pun menempuh suatu jalan,”) yakni as-sabab, yaitu tempat.”
Mujahid mengatakan: “Maka ia pun menempuh suatu jalan,” yakni, tempat turun dan jalan antara timur dan barat.”
Sa’id bin Jubair mengatakan: “Yakni ilmu pengetahuan.” Hal yang sama juga dikemukakan oleh `Ikrimah, `Ubaid bin Ya’la, dan as-Suddi.
Dan ia pun mengatakan: “Tanda-tanda dan bekas-bekas.”

Firman-Nya: hattaa idzaa balagha maghribasy syamsi (“Hingga apabila ia telah sampai ke tempat terbenam matahari.”) Artinya; lalu ia berjalan melampaui jalan hingga akhirnya sampai di tempat terjauh yang ditempuhnya itu, yakni belahan bumi bagian barat. Adapun mencapai tempat terbenamnya matahari di langit, maka itu merupakan suatu hal yang tidak mungkin.

Firman-Nya: wajadaHaa taghrubu fii ‘ainin hami-atin (“Ia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam.”) Maksudnya, ia menyaksikan matahari dengan matanya sendiri terbenam di dalam samudera. Demikianlah keadaan setiap orang yang pandangannya berakhir sampai pada tepian pantai, di mana ia melihat matahari itu seakan-akan terbenam ke dalam laut tersebut. Sedangkan matahari itu tidak bersinar dari falaknya (orbitnya), dia tetap ada pada
orbitnya, tidak meninggalkannya.

Kata al-hami-ah diambil dari salah satu dari dua macam bacaan, yakni dari al-hama-ah yang berarti tanah, sebagaimana yang difirmankan Allah:
Innii khaaliqum basyaram min shalshaalim min hama-im masnuun (“Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”) (QS. Al-Hijr: 28). Yakni tanah yang lembut, yang telah diuraikan sebelumnya.

Ibnu `Abbas pernah berkata mengenai tanah yang berlumpur hitam, di mana ia menafsirkannya dengan sesuatu yang berlumpur hitam.
`Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas: “Dzulqarnain mendapati matahari terbenam di laut yang panas.” Demikian halnya yang dikemukakan oleh al-Hasan al-Bashri.

Ibnu Jarir menyebutkan, yang benar bahwa keduanya merupakan bacaan yang masyhur. Mana saja di antara kedua bacaan itu dibaca oleh seseorang, maka ia adalah benar. Berkenaan dengan hal tersebut, penulis katakan, bahwasanya tidak ada pertentangan antara makna keduanya, karena mungkin saja air itu panas karena mendapatkan pancaran sinar langit secara langsung pada saat matahari itu terbenam tanpa adanya halangan yang menutupinya dan hami-ah dalam arti air dan tanah hitam (lumpur).

Wa wajada ‘indaHaa qauman (“Dan di sana ia mendapati segolongan kaum.”) Yakni, salah satu dari beberapa umat. Mereka menyebutkan bahwa ia adalah umat yang besar dari Bani Adam.

Firman-Nya: qulnaa yaa dzalqarnaini immaa an tu’adz-dziba wa immaa an tat-takhidza fiiHim husnan (“Kami berkata, ‘Hai Dzulgarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’”) Hal itu berarti bahwa Allah swt. memberikan kekuasaan untuk mengatur mereka dan menjalankan hukum ke tengah-tengah mereka serta memberikan pilihan kepadanya, jika berkehendak ia boleh membunuh dan menawan dan jika berkehendak ia juga boleh memberikan karunia atau menarik fidyah, sehingga Dia akan mengetahui keadilan dan keimanannya sesuai dengan keadilan dan penjelasan yang telah Dia sampaikan dalam firman-Nya: ammaa man dhalama (“Adapun orang yang aniaya.”) Yakni, terus menerus dalam kekafiran dan kemusyrikannya kepada Allah Ta’ala. Fa saufa nu’adz-dzibuHu (“Maka kami kelak akan mengadzabnya.”) Qatadah mengatakan: “Yakni, dengan pembunuhan.” Wallahu a’lam.

Firman-Nya: tsumma yuraddu ilaa rabbiHii fayu’adz-dzibuHuu ‘adzaaban nukran (“Kemudian ia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Rabb mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya.”) Maksudnya, sangat pedih lagi menyakitkan. Dan dalam hal itu terdapat penetapan hari pengembalian dan pembalasan.

Firman-Nya: wa ammaa man aamana (“Adapun orang-orang yang beriman.”) Yakni, yang mengikuti apa yang kami serukan berupa peribadahan kepada Allah Ta’ala semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Fa laHuu jazaa-anil husnaa (“Maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan.”) Yakni, di alam akhirat di sisi Allah.

Wa sanaquulu laHuu min amrinaa yusran (“Dan akan kami titahkan kepadanya [perintah] yang
mudah dari perintah perintah kami.”) Mujahid mengemukakan: “Yakni, yang baik.”

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 83-84

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 83-84“83. Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya”. 84. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,” (al-Kahfi: 83-84)

Allah berfirman kepada Nabi-Nya: wa yas-aluunaka (“Mereka akan bertanya kepadamu,”) hai Muhammad; ‘an dzil qarnaini (“Tentang Dzulqarnain,”) yakni, tentang beritanya. Sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya bahwa orang-orang kafir Makkah pernah mengirim utusan kepada Ahlul Kitab untuk menanyakan kepada mereka tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk menguji Nabi. Kemudian para Ahlul Kitab itu berkata, “Tanyalah kepadanya tentang orang yang berkeliling di muka bumi, tentang apa yang diketahuinya dan tentang apa yang dilakukan oleh beberapa orang pemuda, dan juga tentang ruh. Maka turunlah surat al-Kahfi.

Diberi nama Dzulqarnain karena ia adalah seorang raja Romawi dan Persia. Sebagian orang menyebutkan bahwa di kepalanya terdapat sesuatu yang menyerupai dua tanduk. Ada pula yang menyatakan, diberi nama Dzulqarnain karena ia sudah berhasil mencapai belahan timur dan barat, yaitu tempat matahari terbit dan terbenam.

Firman-Nya: innaa makkannaa laHuu fil ardli (“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi.”) Maksudnya, telah Kami berikan kepadanya kekuasaan yang besar yang mencakup segala sesuatu yang diberikan kepada para raja, yakni berupa bala tentara, peralatan perang dan beberapa benteng. Oleh karena itu ia dapat menguasai bumi belahan timur dan barat dan banyak negeri yang tunduk kepadanya, dan bahkan berbagai raja di dunia
pun turut tunduk kepadanya, dan semua orang, baik Arab maupun non-Arab berbondong-bondong mengabdi kepadanya.

Firman-Nya: wa aatainaaHu min kulli syai-in sababan (“Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan [untuk mencapai] segala sesuatu.”) Ibnu `Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, `Ikrimah, as-Suddi, Qatadah, adh-Dhahhak, dan lain-lain mengatakan: “Yakni ilmu pengetahuan.”

Mengenai firman-Nya ini: wa aatainaaHu min kulli syai-in sababan (“Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan [untuk mencapai] segala sesuatu.”) Qatadah mengemukakan, “Yaitu, tempat tinggal di bumi dan berbagai panjinya.”
Masih mengenai firman-Nya ini, `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Yakni, pengajaran bahasa-bahasa.” Lebih lanjut ia mengatakan: “la tidak memerangi suatu kaum melainkan telah diajak bicara dengan bahasa mereka.”

Berkenaan dengan ratu Balqis, Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan ia telah dianugerahi segala sesuatu.” (QS. An-Naml: 23). Yakni, segala sesuatu yang juga diberikan kepada raja-raja lainnya. Demikian halnya dengan Dzulqarnain, di mana Allah telah membentangkan baginya berbagai jalan dan sarana untuk membebaskan berbagai wilayah dan negeri, menumpas musuh-musuh yang dihadapinya, menyungkurkan raja-raja di bumi serta menghinakan orang-orang musyrik. Dan ia telah diberi segala sesuatu yang ia butuhkan sebagai jalan. Wallahu a’lam.

Bersambung