Tag Archives: surat al-a’raf

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 205-206

7 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 205-206“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS. 7:205) Sesungguhnya Malaikat-Malaikat yang ada di sisi Rabbmu tidaklah merasa enggan beribadah kepada Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nyalah mereka bersujud. (QS. 7:206)” (al-A’raaf: 205-206)

Allah mengingatkan untuk senantiasa banyak mengingat-Nya di waktu pagi dan petang. Sebagaimana Allah memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya pada kedua waktu tersebut dalam firman-Nya yang artinya: “Dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam[nya].”) (Qaaf: 39)

Hal ini terjadi sebelum diwajibkannya shalat lima waktu pada malam Isra’ Mi’raj. Ayat ini termasuk Makkiyyah (diturunkan di Makkah).

Dalam ayat ini, Allah berfirman: “bil ghuduwwi” yang berarti permulaan siang (waktu pagi). Sedangkan kata “al aashaal” adalah jamak dari kata “ashiilun” yang berarti petang hari, sebagaimana kata “al aimaanun” adalah jamak dari kata “yamiinun” (sumpah).

Adapun firman Allah: tadlarru’aw wa khifyatan (“Dengan merendahkan diri dan takut”) maksudnya ingatlah Allah dalam dirimu dengan penuh harapan dan juga rasa takut serta tidak mengeraskan suara. Oleh karena itu Allah berfirman: wa duunal jaHri minal qauli (“dan dengan tidak mengeraskan suara.”) Demikianlah itulah dzikir yang disunnahkan, bukan dengan seruan dan suara keras.

Oleh karena itu, ketika para Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: “Apakah Rabb kita itu dekat sehingga cukup bermunajat, atau jauh sehingga kita perlu menyerunya (dengan suara keras)?” Maka Allah menurunkan firman-Nya, yang artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah ‘Bahwa Aku adalah dekat.’ Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslin), diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Orang-orang mengeraskan suaranya ketika berdo’a dalam salah satu perjalanan. Maka Rasulullah saw. bersabda kepada mereka:
“Hai sekalian manusia, rendahkanlah suara kalian dalam do’a. Sebab sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada yang tuli dan yang ghaib. Sesungguhnya yang kalian seru itu adalah Mahamendengar lagi sangat dekat. Allah lebih dekat kepada kalian melebihi dekatnya salah seorang di antara kalian kepada leher binatang kendaraannya.”

Dan maksud ayat ini bisa berarti juga seperti firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, serta carilah jalan tengah di antara keduanya.” (QS. Al-Israa’: 110)

Karena orang-orang musyrik jika mendengar al-Qur’an, mereka mencacinya dan mencaci (Allah) Yang menurunkannya, serta mencaci orang yang membawanya. Lalu Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw untuk tidak mengeraskan bacaan al-Qur’an, supaya tidak dicaci oleh orang-orang musyrik dan juga diperintahkan untuk tidak merendahkannya sehingga tidak terdengar oleh para Sahabatnya. Dan hendaklah ia mengambil jalan tengah antara keduanya (jahr dan sirr).

Demikian juga firman Allah dalam ayat ini: wa duunal jaHri minal qauli bil ghuduwwi wal aashaali wa laa kakum minal ghaafiliin (“Dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”) Oleh karena itu, Allah memuji malaikat yang senantiasa bertasbih pada malam dan Siang hari, serta tidak henti-hentinya. Allah berfirman:

Innal ladziina ‘inda rabbika laa yastakbiruuna ‘an ‘ibaadatiHi (“Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Rabbmu tidaklah merasa enggan beribadah kepada Allah.”) Allah menyebutkan hal itu supaya dijadikan teladan dalam ketaatan dan ibadah mereka. Oleh karena itu, di sini disyari’atkan kepada kita untuk bersujud setelah disebutkan sujudnya para Malaikat itu kepada Allah swt. Dan ini adalah sujud (yaitu sujud tilawah,-pent) pertama kali di dalam al-Qur’an yang disyari’atkan kepada pembaca dan pendengarnya, berdasarkan ijma’.

Demikian itulah akhir dari penafsiran surat al-A’raaf. Segala puji dan karunia hanya milik Allah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 204

7 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 204“Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-A’raaf: 204)

Setelah Allah menyebutkan bahwa al-Qur’an itu merupakan bukti yang nyata, petunjuk dan rahmat bagi umat manusia, Allah pun memerintahkan supaya diam ketika dibacakan al-Qur’an. Sebagai suatu pengagungan dan perhormatan kepadanya, tidak seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir dari kaum Quraisy dalam ucapan mereka yang artinya: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya.” (QS. Fushshilat: 26)

Bahkan hal itu lebih ditekankan lagi dalam shalat wajib jika imam membaca ayat al-Qur’an secarajahr (jelas/keras). Sebagaimana diriwayatkan Muslim dalam kitab Shahihnya, dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya dijadikan untuk diikuti imam itu. Jika ia bertakbir, maka hendaklah kalian bertakbir. Dan jika ia membaca (al-Qur’an), maka hendaklah kalian diam mendengarkannya.” (HR. Muslim. Demikian pula diriwayatkan para perawi penulis kitab as-Sunan, dari Abu Hurairah. Dan dinyatakan shahih oleh Muslim bin al-Hajjaj, tetapi ia tidak mengeluarkannya dalam kitabnya)

Ibrahim bin Muslim al-Hijri mengatakan dari Abu ‘Iyadh dari Abu Hurairah, ia berkata: “Orang-orang sebelumnya berbicara dalam shalat dan setelah turun ayat: wa idzaa quri-al qur-aana fastami’uu laHu (“Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik.”) Maka mereka pun diperintahkan untuk diam memperhatikan.”

Ibnu Jarir mengatakan, Ibnu Mas’ud berkata: “Dulu sebagian kami mengucapkan salam kepada sebagian yang lain dalam shalat, lalu turunlah ayat al-Qur’an: wa idzaa quri-al qur-aana fastami’uu laHu wa anshituu la’allakum turhamuun (“Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”)

Ibnu Jarir juga mengatakan dari Basyir bin Jabir, ia berkata, Ibnu Mas’ud pernah mengerjakan shalat, lalu ia mendengarkan beberapa orang yang membaca bacaan bersama imam. Dan setelah selesai shalat, ia berkata: “Belumkah tiba saatnya bagi kalian untuk memahami, belumkah tiba saatnya pada kalian untuk memikirkan ayat: wa idzaa quri-al qur-aana fastami’uu laHu wa anshituu (“Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang.”) telah diperintahkan oleh Allah kepada kalian.”

Imam Ahmad dan beberapa penulis kitab as-Sunan meriwayatkan hadits az-Zuhri, dan Abu Aktamah al-Laitsi, dari Abu Hurairah ra, bahwa setelah Rasulullah saw. selesai mengerjakan shalat yang di dalamnya beliau membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan jahr, beliau bertanya: “Apakah ada salah seorang di antara kalian yang ikut membaca bersamaku tadi?” “Benar, ya Rasulullah,” jawab salah seorang dari mereka. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku mengatakan: `Mengapa masih ada orang menentangku dalam bacaan al-Qur’an?’”
Maka orang-orang pun tidak lagi membaca al-Qur’an bersama Nabi dalam shalat yang di dalamnya dibacakan al-Qur’an secara jahr, ketika mereka mendengar hal itu dari Rasulullah saw. (At-Tirmidzi mengatakan: “Ini adalah hadits hasan, dan hadits ini juga dinyatakan shahih oleh Abu Hatim ar-Razi”)

Abdullah Ibnul Mubarak mengatakan dari Yunus, dari az-Zuhri ia berkata: “Orang yang berada di belakang imam tidak membaca al-Qur’an dalam shalat yang dijahrkan dan cukup bagi mereka bacaan imam, meski pun mereka tidak mendengar suaranya. Tetapi mereka membaca al-Qur’an dalam shalat yang tidak dijahrkan yaitu secara sirri (pelan). Dan tidak dibenarkan bagi orang yang berada di belakangnya membaca al-Qur’an bersama-sama imam dalam shalat yang dijahrkan, baik secara sirri maupun terang-terangan. Karena Allah berfirman: wa idzaa quri-al qur-aana fastami’uu laHu wa anshituu la’allakum turhamuun (“Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”)

Menurutku (Ibnu Katsir), “Ini merupakan pendapat sekelompok ulama, bahwa dalam shalat yang dijahrkan bacaannya, seorang makmum itu tidak wajib membaca bacaan yang dijahrkan oleh imam, baik al-Fatihah maupun bacaan al-Qur’an lainnya. Dan hal itu juga merupakan salah satu dari pendapat Imam asy-Syafi’i, yaitu pendapat lama, juga pendapat Imam Malik dan sebuah riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal, berdasarkan dalil-dalil yang telah kami sebutkan sebelumnya.

Dan dalam pendapat Imam asy-Syafi’i yang baru, dalam shalat yang tidak dijahrkan bacaannya, seorang makmum hanya diwajibkan membaca surat al-Fatihah saja pada saat-saat berhentinya
imam. Dan ini adalah pendapat sekelompok Sahabat dan Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal berkata: “Seorang makmum tidak diwajibkan sama sekali membaca bacaan, baik dalam shalat yang disirrkan maupun yang dijahrkan.” Berdasarkan sabda Rasulullah: “Barangsiapa shalat bersama imam, maka bacaan imam itu merupakan bacaan baginya.”

Hadits tersebut di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya, dari Jabir sebagai hadits marfu’. Sedang dalam kitab al-Muwaththa’, oleh imam Malik, dari Wahab bin Kisan, dari Jabir sebagai hadits mauquf. Dan inilah yang lebih benar)

“Masalah ini telah dijelaskan panjang lebar di luar pembahasan ini. Dan Imam Abu ‘Abdillah al-Bukhari telah memaparkannya secara khusus dalam sebuah kitab tersendiri. Dan beliau memilih untuk mewajibkan bacaan bagi makmum di belakang imam, baik dalam shalat yang disirrikan bacaannya maupun dijahrkan. Wallahu aalam.”

(Kutinggalkan pembahasan ini secara tuntas, meskipun dalam pembahasan ini terdapat beberapa hadits yang berkenaan dengannya, karena hal mi merupakan pembahasan fiqih yang lengkap (detail). Hadits-hadits itu pun telah dishahihkan oleh sebagian imam dan mereka menjadikannya sebagai dalil (dalam beragumentasi) dengan hadits-hadits tersebut.)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 203

7 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 203“Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat al-Qur’an kepada mereka, mereka berkata: ‘Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Rabbku kepadaku. Al-Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Rabbmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. al-A’raaf: 203)

Berkenaan dengan firman Allah: wa idzaa lam ya’tiHim bi-aayaatin qaaluu lau lajtabaitaHaa (“Dan apabila engkau tidak membawa suatu ayat al-Qur’an kepada mereka, mereka berkata: ‘Mengapa tidak engkau bunt sendiri ayat itu?’”) dari Mujahid, ia berkata: “Artinya, mengapa engkau tidak menetapkan sendiri ayat tersebut, yakni mereka berkata: `Keluarkanlah ayat itu dari dirimu sendiri.”‘
Demikian pula dikatakan oleh Qatadah, as-Suddi dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Dan inilah yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Firman Allah: wa idzaa lam ta’tiHim bi-aayatin (“Dan apabila engkau tidak membawa suatu ayat al-Qur’an kepada mereka.”) Maknanya yaitu, mukjizat dan sesuatu yang luar biasa. Mereka mengatakan kepada Rasulullah saw: “Mengapa engkau tidak berusaha keras untuk menuntut ayat-ayat dari Allah, sehingga kami melihat dan mempercayainya.” Maka Allah Ta’ala berfirman kepada beliau:

Qul innamaa attabi’u maa yuuhaa ilayya mir rabbii (“Katakanlah: `Sesungguhnya aku hanya men kuti apa yang diwahyukan dari Rabbku kepadaku.”)’ Maksudnya, aku tidak mengajukan kepada-Nya sesuatu apa pun, tetapi aku hanya mengikuti apa yang Allah perintahkan kepadaku. Lalu aku menjalankan apa yang diwahyukan kepadaku. Jika dikirimkan kepadaku suatu ayat, maka aku pun menerimanya. Dan jika Allah manahannya, maka aku tidak memintanya, kecuali jika Allah Ta’ala memperkenankan kepadaku untuk itu, karena sesungguhnya Allah Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.

Selanjutnya Allah menunjukkan kepada mereka bahwa al-Qur’an ini adalah mukjizat yang paling agung, dalil yang paling jelas dan hujjah, serta keterangan yang paling benar. Allah berfirman: Haadzaa bashaa-iru mir rabbikum wa Hudaw wa rahmatul liqaumiy yu’minuun (“Al-Qur an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Rabbmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 201-202

7 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 201-202“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. 7:201) Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (QS. 7:202)” (al-A’raaf: 201-202)

Allah memberitahukan tentang hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yang senantiasa mentaati semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya, bahwa; idzaa massaHum (“Apabila mereka ditimpa was-was dari syaitan.”) Sebagian ada yang membaca “thaifun” dan sebagian lainnya membaca “tha-ifun” sebagaimana terdapat hadits yang menyebutkan hal ini dan kedua bacaan itu adalah masyhur.

Ada yang mengatakan bahwa kedua kata itu mempunyai satu arti, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa antara kedua kata tersebut terdapat perbedaan arti. Di antara ulama ada yang menafsirkan dengan kemurkaan dan ada juga yang menafsirkan dengan kemasukan syaitan, yaitu (hingga pada keadaan) terjatuh dan semisalnya, ada pula yang menafsirkannya dengan keinginan berbuat dosa, juga ada yang menafsirkannya dengan perbuatan dosa.

Dan firman-Nya: tadzakkaruu (“Mereka ingat”) yakni siksaan dan besarnya pahala Allah, janji dan ancaman-Nya, sehingga mereka segera bertaubat dan kembali kepada-Nya dan memohon perlindungan-Nya.
Fa idzaaHum mubshiruun (“Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”) maksudnya mereka telah beristiqamah dan sadar berpegang teguh pada apa yang mereka jalani.

Firman Allah selanjutnya: wa ikhwaanuHum yamudduunaHum (“Dan teman-teman mereka [orang-orang kafir dan fasik] membantu syaithan-syaithan”) yaitu sekutu-sekutu [teman-teman] syaithan yang berasal dari golongan manusia, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan” (al-Israa’: 27)

Mereka itu adalah para pengikut dan dan orang-orang yang setia dan taat kepada syaithan yang selalu menyambut perintah mereka.
yamudduunaHum fil ghayyi (“Membantu syaithan-syaithan dalam menyesatkan.”) Maksudnya, mereka dibantu oleh syaitan-syaitan untuk berbuat maksiat, mempermudah jalan bagi mereka dan memperindahnya untuk mereka. Ibnu Katsir berkata: “Al-muddu” berarti tambahan. Maksudnya, menjadikan mereka bertambah dalam kebodohan.

Tsumma laa yuqsharuun (“Dan mereka tidak henti-hentinya [menyesatkan]”) Ada yang mengatakan, artinya, “Sesungguhnya syaitan itu senantiasa menyesatkan manusia dan tidak pernah menghentikannya.” Sebagaimana dikatakan oleh Ali bin Abi Thalhah, dan Ibnu ‘Abbas, mengenai firman-Nya: wa ikhwaanuHum yamudduunaHum fil ghayyi tsumma laa yuqsharuun (“Dan teman-teman mereka [orang-orang kafir dan fasik] membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan, dan mereka tidak henti-hentinya [menyesatkan],”) ia berkata: “Manusia tidak menghentikan perbuatannya sedangkan syaitan juga tidak menghalang-halangi mereka.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 199-200

7 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 199-200“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. (QS. 7:199) Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. 7:200)” (al-A’raaf: 199-200)

Mengenai firman Allah: khudzil ‘afwa (“Jadilah engkau pemaaf.”) Al-afwu menurut Ibnu `Abbas, “Yaitu kebajikan.” Dan masih mengenai firman-Nya, “Jadilah engkau pemaaf.” `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Allah menyuruh Rasulullah saw. untuk memberikan maaf dan kelapangan dada kepada orang-orang musyrik selama sepuluh tahun. Setelah itu, Allah menyuruh beliau untuk bersikap keras kepada mereka.” Pendapat ini pun menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Dari Abu Zubair, mengenai firman-Nya, “Jadilah engkau pemaaf,” ia berkata: “Merupakan akhlak manusia. Demi Allah, aku pasti akan menjadi pemaaf kepada mereka, selama aku bersahabat dengan mereka.” Demikian itulah pendapat yang paling masyhur (terkenal).

Mengenai firman Allah: khudzil ‘afwa wa’mur bil ‘urfi wa’ridl ‘anil jaaHiliin (“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah engkau daripada orang-orang yang bodoh.”) Dari Qatadah, ia berkata: “Ini adalah akhlak yang diperintahkan dan ditunjukkan oleh Allah kepada Nabi saw.”

Sebagian orang bijak berpegang pada makna tersebut dan mengungkapkannya dalam dua bait sya’ir yang di dalamnya terdapat lafazh yang sama, tetapi maknanya berbeda:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang berbuat kebaikan, sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah engkau dari orang-orang bodoh.
Dan lembutkanlah dalam tutur kata kepada setiap manusia, karena merupakan suatu kebaikan dari orang-orang mulia adalah bersikap lemah lembut.

Dalam menafsirkan firman Allah: wa immaa yanzaghannaka minasy syaithaani nazghun (“Dan jika engkau ditimpa sesuatu godaan syaitan.”) Ibnu Jarir berkata: “Dan jika engkau menjadi marah karena syaitan yang menghalangimu berpaling dari orang-orang bodoh, serta menyeretmu untuk membalasnya.

Fasta’idz billaaH (“Maka berlindunglah kepada Allah.”) Maksudnya, mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaannya. innaHuu samii’un ‘aliim (“Sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.”) Mahamendengar kebodohan orang bodoh terhadapmu, juga terhadap permohonan perlindungan kepada-Nya dari godaan syaitan dan berbagai macam pembicaraan lainnya dari para makhluk-Nya, tidak ada sedikit pun tersembunyi dari-Nya. Dia Mahamengetahui apa yang dapat membebaskanmu dari godaan syaitan dan lain sebagainnya dari urusan makhluk-Nya.”

Dan kami telah mengemukakan hadits-hadits tentang isti’adzah (permohonan perlindungan) ini pada permulaan tafsir, sehingga tidak perlu diulang kembali di sini.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 191-198

7 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 191-198“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun. Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. (QS. 7:191) Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah penyembabnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. (QS. 7:192) Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri. (QS. 7:193) Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah), yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu, lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar. (QS. 7:194) Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar. Katakanlah: ‘Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, tanpa memberi tangguh (kepadaku). (QS. 7:195) Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) dan Allah melindungi orang-orang yang shalih. (QS. 7:196) Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.” (QS.7:197) Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak
melihat, (QS. 7:198)” (al-A’raaf: 191-198)

Ini adalah pengingkaran dari Allah terhadap orang-orang musyrik yang menyembah sekutu-sekutu, berhala dan patung selain Allah, padahal semua itu adalah makhluk Allah yang tidak mempunyai kemampuan apa pun. Tidak dapat memberikan mudharat dan tidak juga manfaat, tidak dapat melihat dan menolong para penyembahnya. Bahkan semuanya itu tidak lain adalah benda mati yang tidak dapat bergerak, mendengar atau melihat. Penyembah-penyembahnya justru lebih sempurna karena mereka dapat mendengar, melihat dan memegang. Oleh karena itu, Allah berfirman:

A yusyrikuuna maa laa yakhluqu syai-aw wa Hum yukhlaquun (“Apakah mereka mempersekutukan [Allah dengan] berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu buatan orang.”) Maksudnya, apakah kalian (orang-orang musyrik) mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun dan tidak mampu untuk itu. Yang demikian sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Hai sekalian manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, meskipun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemah yang menyembah dan amat lemah pula yang disembah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagung yang semestinya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi perkasa.” (QS. Al-Hajj: 73-74)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa, jika ilah-ilah mereka itu secara keseluruhan berkumpul, niscaya mereka tidak akan mampu menciptakan seekor lalat. Bahkan jika ada seekor lalat yang mengambil sedikit dari makanan dan membawanya terbang, niscaya mereka tidak sanggup menyelamatkan makanan itu darinya. Dengan sifat dan keadaan seperti itu, bagaimana mungkin dilbadahi untuk dimintai rizki dan pertolongan?

Oleh karena itu, Allah berfirman: laa yakhluqu syai-aw wa Hum yukhlaquun (“Yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang,”) maksudnya justru mereka (berhala-berhala) itu merupakan suatu benda yang dicipta dan dibuat. Sebagaimana yang dikatakan Ibrahim Kbalilullah dalam firman Allah yang artinya: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?” (QS. Ash-Shaaffaat: 95)

Firman Allah selanjutnya: wa laa yastathii’uuna laHum nashran (“Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada mereka.”) Yaitu, kepada penyembah-penyembahnya.
Wa laa anfusiHim yanshuruun (“Dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan,”) maksudnya, berhala-berhala itu pun tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya.

Dan firman-Nya: wa in tad’uuHum ilal Hudaa laa yattabi’uukum (“Dan jika kamu [hai orang-orang musyrik] menyerunya [berhala] untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu.”) Yakni, bahwa berhala-berhala ini tidak dapat mendengar seruan orang yang menyeranya. Keadaannya akan sama, diseru atau didiamkan. Sebagaimana yang dikatakan Ibrahim as. melalui firman Allah yang artinya:
“Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolakmu sedikit pun?” (QS. Maryam: 42)

Setelah itu Allah menyebutkan, bahwa berhala-berhala itu adalah sama dengan penyembahnya, yaitu sama-sama diciptakan, bahkan manusia lebih sempurna daripada berhala-berhala tersebut, karena mereka dapat mendengar, melihat dan memegang, sedangkan berhala-berhala itu tidal dapat melakukannya sama sekali.

Firman Allah: qulid’uu syurakaa-akum (“Katakanlah, Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah.”) Dengan kata lain, mintalah bantuan kepada berhala-berhala itu untuk melawanku (Rasulullah saw), tanpa memberi tangguh sekejap mata pun dan kerahkanlah semua kekuatan dan tenaga kalian.

Inna waliyyiyallaaHul ladzii nazzalal kitaaba wa Huwa yatawallash shaalihiin (“Sesungguhnya pelindungku Allah, yang telah menurunkan al-Kitab [al-Qur’an], dan Allah melindung orang-orang yang shalih.”) Maksudnya, cukuplah bagiku Allah, Allahlah satu-satunya penolong bagiku. Hanya kepada-Nya aku bersandar dan berlindung. Allah adalah pelindungku di dunia dan akhirat dan Allah adalah pelindung bagi setiap orang shalih setelahku.

Firman-Nya: walladziina yad’uuna min duuniHii…. (“Dan [berhala-berhala] yang kamu seru selain Allah,…” hingga akhir ayat) Adalah mempertegas apa yang terkandung dalam ayat sebelumnya, hanya saja ayat ini menggunakan shighah khithab (kata ganti orang kedua) dan ayat sebelumnya menggunakan shghah ghaib (kata ganti orang ketiga). Oleh karena itu, Allah berfirman: Laa yastathii’uuna nashrakum wa laa anfusaHum yanshuruun (“Tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.”)

Firman-Nya lebih lanjut: Wa in tad’uuHum ilal Hudaa laa yasma’uu wa taraaHum yandhuruuna ilaika wa Hum laa yubshiruun (“Dan jika kamu menyeru [berhala-berhala] untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarkannya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat.”) Seperti firman Allah yang artinya: “Jika kamu menyeru mereka mereka tiada mendengar seruanmu.” (QS. Faathir: 14)

Dan firman-Nya: wa taraaHum yandhuruuna ilaika wa Hum laa yubshiruun (“Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat.”) Dalam ayat tersebut Allah berfirman: “yandhuruuna ilaika” artinya berhala-berhala itu menghadap ke arah kalian dengan mata buatan, seakan-akan mereka melihat, padahal ia itu benda mati. Oleh karena itu, berhala-berhala tersebut diperlakukan seperti makhluk yang berakal, karena ia dalam bentuk seperti manusia, lalu engkau melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu. Maka, Allah mengungkapkannya dengan menggunakan dhamir (kata ganti) untuk makhluk yang berakal.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 189-190

6 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 189-190“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya mengandung kandungan yang ringan dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Rabb keduanya seraya berkata: ‘Sesungguhnya jika Engkau memberi anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.’ (QS. 7:189) Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. 7:190).” (al-A’raaf: 189-190)

Allah mengingatkan bahwa Dia telah menciptakan umat manusia ini secara keseluruhan dari diri Adam as. Dan darinya pula Allah menciptakan isterinya, Hawa. Kemudian dari keduanya, bermunculanlah umat manusia, sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang wanita dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (al-Hujuraat: 13)

Dan firman-Nya yang artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan isterinya.” (QS. An-Nisaa’: 1)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah berfirman: wa ja’ala minHaa zaujaHaa liyaskuna ilaiHaa (“Dan darinya Allah menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.”) Maksudnya, agar ia merasa senang dan tenang dengannya. Yang demikian itu seperti firman-Nya yang artinya:

“Dan antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Allah menciptakan untukmu dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Ruum: 21)

Dengan demikian, tidak ada ikatan antara dua ruh yang lebih agung daripada ikatan antara suami isteri. Oleh karena itu, Allah menyebutkan, mungkin saja seorang penyihir melalui sihirnya dapat memisahkan antara seorang suami dengan isterinya.

Fa lammaa taghasy-syaaHaa (“Maka setelah dicampuri.”) Artinya, setelah digaulinya; hamalat hamlan khafiifan (“Isterinya itu mengandung kandungan yang ringan.”) Yaitu awal kehamilan, pada saat itu seorang wanita tidak merasakan sakit, karena kehamilan itu baru berupa nuthfah lalu menjadi segumpal darah dan kemudian berubah menjadi segumpal daging.

Dan firman-Nya: fa marrat biHii (“Dan teruslah dia merasa ringan [beberapa waktu]”) Mujahid mengatakan: “la melanjutkan kehamilannya itu.” Dari Ibnu Abbas, “Lalu ia meneruskan masa kehamilannya itu, sehingga ia ragu, apakah ia hamil atau tidak.”

Fa lammaa atsqalat (“Kemudian tatkala dia merasa berat,”) maksudnya, ia merasa berat dengan kehamilannya itu. As-Suddi mengatakan: “Maksudnya, anak itu semakin membesar dalam perutnya.”
Da’awallaaHa rabba Humaa la-in aataitanaa shaalihan (“Keduanya [suami isteri] bermohon kepada Allah, Rabb keduanya seraya berkata: ‘Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna.’”) yaitu seorang anak yang normal, sebagaimana dikatakan adh-Dhahhak. Dari Ibnu ‘Abbas, “Keduanya merasa takut jika kandungannya itu berupa binatang.” Demikian juga yang dikatakan oleh Abu Bukhturi dan Abu Malik, “Kedua orang tuanya itu khawatir kandungannya itu tidak berupa manusia.”

Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Jikalau Engkau mengaruniakan kami seorang anak:
Lanakuunanna minasy syaakiriin. Falammaa aataa Humaa shaalihan ja’alaa laHuu syurakaa-a fiimaa aataa Humaa fa ta’aalallaaHu ‘ammaa yusyrikuun (“Tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur. Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya mejadikan sekutu bagi Allah terhadap anak-anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

la (al-Has an al-Bashri) mengatakan, yang dimaksudkan dengan hal itu adalah anak keturunan Adam dan siapa di antara mereka yang menyekutukan-Nya setelah itu, yaitu: “Keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak-anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu.”

Basyar telah menceritakan kepada kami, Yazid telah menceritakan kepada kami, Said telah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, ia berkata bahwa al-Hasan al-Bashari berkata: “Mereka itu adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka dikaruniai anak oleh Allah, lalu mereka menjadikannya Yahudi dan Nasrani.”

Semua sanad di atas shahih dari al-Hasan al-Bashri, bahwa ia telah menafsirkan ayat tersebut demikian, dan ini merupakan penafsiran terbaik dan pengertian yang lebih tepat mengenai maksud ayat tadi. Oleh karena itu Allah berfirman: fa ta’aalallaaHu ‘ammaa yusyrikuun (“Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 188

6 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 188“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kernudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-A’raaf: 188)

Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah agar menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Selain itu, beliau juga diperintahkan agar mengatakan bahwa beliau tidak mengetahui hal ghaib yang akan datang dan tidak juga pengetahuan tentang hal itu sedikit pun, kecuali apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya, sebagaimana firman-Nya, yang artinya:
“(Dialah) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.” (QS. Al Jinn: 26)

Dan firman-Nya: wa lau kuntu a’lamul ghaiba lastaktsartu minal khairi (“Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya,”) yakni harta benda. Dalam sebuah riwayat disebutkan, niscaya aku akan mengetahui jika aku membeli sesuatu yang tidak menguntungkan, maka aku tidak akan menjual sesuatu melainkan menguntungkanku, sehingga aku tidak tertimpa kemiskinan.

Ibnu Jarir dan ulama lainnya berkata: “Hal itu berarti, jika aku mengetahui alam ghaib, niscaya aku akan mempersiapkan diri satu tahun musim paceklik dengan menyimpan hasil dari masa subur dan untuk masa mahal dengan membeli barang-barang pada masa murah.”

Dan mengenai firman-Nya: wamaa massani-as suu-i (“Dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan,”) ‘Abdurrahman bin Zaidbin Aslam mengatakan: “Niscaya aku (Rasulullah saw) akan menjauhi dan menghindarkan diri dari keburukan sebelum terjerumus ke dalamnya.”

Selanjutnya, Nabi saw memberitahukan bahwa beliau adalah seorang pemberi peringatan dan juga berita gembira. Yaitu peringatan terhadap adzab dan pemberi berita gembira bagi orang-orang yang beriman berupa Surga. Sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Maka sesungguhnya, Kami telah mudahkan al-Qur an itu dengan bahasamu, agar engkau dapat memberi kabar gembira kepada orang-orang yang bertakwa dan agar engkau memberi peringatan dengannya kepada kaum. yang membangkang.” (QS. Maryam: 97)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 187

6 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 187“Mereka menanyakan kepadamu tentang Kiamat: ‘Bilakah terjadinya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Rabbku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” (QS. al-A’raaf: 187)

Firman Allah: yas-aluunaka ‘anis saa’ati (“Mereka menanyakan kepadamu tentang Kiamat: ‘Bilakah terjadinya?’”) Ayat ini sama seperti firman-Nya yang artinya: “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit.”) (Al-Ahzaab: 63)

Ayat tersebut turun berkenaan dengan orang-orang Quraisy. Mereka bertanya tentang waktu hari kebangkitan, dengan maksud untuk menafikan terjadinya peristiwa tersebut dan untuk mendustakan kejadiannya. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Orang-orang yang tidak beriman kepada hari Kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa Kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya Kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.” (QS. Asy-Syuura: 18)

Dan firman-Nya: ayyaana mursaaHaa (“Bilakah terjadinya?”) ‘Ali bin Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Berarti batas waktunya, maksudnya kapan berakhirnya dan kapan batas akhir masa kehidupan dunia yang merupakan awal dari hari kebangkitan itu?”

Qul innamaa ‘ilmuHaa ‘inda rabbii laa yujalliiHaa liwaqtiHaa illaa Huwa (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Rabbku. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Allah.’”) Allah memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw, jika ditanya tentang waktu datangnya Kiamat, agar mengembalikan ilmunya kepada Allah Ta’ala, karena hanya Allah yang mampu menjelaskan waktunya, atau mengetahui kejelasan masalah itu. Dan mengenai waktunya secara tepat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah semata.

Oleh karena itu, Allah berfirman: tsaqulat fis samaawaati wal ardli (“Kiamat itu amat berat [huru haranya bagi makhluk] yang di langit dan di bumi.”) Mengenai firman-Nya ini, `Abdur Razzaq mengatakan dari Ma’mar, dari Qatadah, ia berkata: “Ilmu mengenai hari Kiamat itu terasa berat diketahui oleh penghuni langit dan bumi ini.” Sedangkan Ma’mar mengatakan dari al-Hasan, ia berkata: “Jika hari Kiamat itu tiba, maka terasa berat bagi penghuni langit dan bumi.”

Sedangkan Ibnu Jarir memilih bahwa yang dimaksudkan adalah, terlalu berat ilmu tentang waktunya untuk diketahui oleh penduduk langit dan bumi ini, sebagaimana dikatakan oleh Qatadah. Perkataan keduanya sama seperti firman-Nya: laa ta’tiikum illaa baghtatan (“Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.”) Dan hal itu tidak menafikan beratnya waktu kedatangannya bagi penghuni langit dan bumi. Wallahu a’lam.

Dan firman-Nya: laa ta’tiikum illaa baghtatan (“Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.”) Hari Kiamat itu akan datang secara tiba-tiba dan mendatangi manusia ketika mereka dalam keadaan lengah.

Al-Bukhari mengatakan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Hari Kiamat itu tidak datang sehingga matahari terbit dari arah barat, maka apabila matahari itu telah terbit dan manusia melihatnya, mereka akan beriman semuanya. Yang demikian itu tatkala tidak bermanfaat lagi keimanan seseorang yang belum pernah beriman sebelumnya, atau belum berbuat kebaikan dalam keimanannya. Hari Kiamat itu akan datang saat dua orang telah membentangkan pakaian mereka, maka tidak sempat lagi mereka berjual-beli dan tidak juga sempat melipat pakaian itu. Kiamat itu akan datang ketika ada seseorang telah kembali membawa susu perahannya dan ia tidak sempat meminumnya. Kiamat akan datang ketika ada seseorang telah memperbaiki kolam aimya dan ia tidak sempat mengairinya. Dan hari Kiamat akan datang pada saat seseorang telah mengangkat suapan makanan ke mulutnya dan ia tidak sempat memakannya.” (HR. Al-Bukhari)

Dan firman-Nya: yas-aluunaka ka-annaka hafiyyun ‘anHaa (“Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinnya.”) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan, seolah-olah engkau (Muhammad) mengetahuinya, padahal Allah telah menyembunyikan ilmunya atas semua makhluk-Nya. Lalu ia membaca firman-Nya: innallaaHa ‘indaHuu ‘ilmus saa’ati (“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja pengetahuan tentang hari Kiamat.”) (QS. Luqman: 34)

Oleh karena itu, Allah berfirman: qul innamaa ilmuHaa ‘indallaaHi wa laakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”)

Maka tatkala Jibril datang dengan menyerupai seorang Arab untuk mengajarkan kepada mereka tentang agama mereka. la duduk di hadapan Rasulullah seperti duduknya orang yang bertanya sambil memohon bimbingan. Kemudian ia bertanya kepada Rasulullah mengenai Islam, lalu iman, setelah itu ihsan, kemudian ia bertanya: “Kapankah hari Kiamat tiba?” Lalu Rasulullah saw berkata kepadanya: “Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.”
Maksudnya, aku tidak lebih tahu darimu dan tidak seorang pun lebih tahu dari yang lainnya. Kemudian Nabi membaca ayat: innallaaHa ‘indaHuu ‘ilmus saa’ati (“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja pengetahuan tentang hari Kiamat.”) (QS. Luqman: 34)

Dalam riwayat lain disebutkan, lalu bertanya kepada beliau tentang tanda-tanda hari Kiamat. Maka beliau menjelaskan tanda-tanda hari Kiamat, kemudian berkata: “Ada pada lima hal yang tidak diketahui, kecuali hanya oleh Allah saja.” Selanjutnya beliau membacakan ayat tersebut. Setiap jawaban yang disampaikan oleh Rasulullah saw, orang itu (Jibril) berkata: shadaqta (“Engkau benar”). Oleh karena itu, Para Sahabat merasa heran terhadap orang yang bertanya kepada beliau ini, ia bertanya kepada beliau dan ia pun membenarkannya. Kemudian setelah orang itu pergi, Rasulullah a bersabda: “la itu adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan kepada kalian agama kalian.”

Dan dalam sebuah riwayat disebutkan, beliau bersabda: “la (Jibril) tidak mendatangiku dalam suatu bentuk melainkan aku mengenalinya, kecuali dalam wujudnya yang ini.”

Hadits ini telah aku (Ibnu Katsir) sebutkan melalui beberapa jalan dan berbagai lafazh baik yang shahih, maupun hasan, pada bagian awal Syarh al-Bukhari. Dan segala puji dan kebaikan hanya milik Allah.

Dan tatkala ada seorang Arab Badui menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah saw. dan memanggil beliau dengan suara lantang: “Hai Muhammad!” Lalu beliau mengatakan kepadanya: “Ya, apa?” Dengan suara selantang suaranya. Kemudian orang itu bertanya: “Kapan hari Kiamat itu tiba?” Maka Rasulullah AW, berkata kepadanya: “Celaka engkau, sesungguhnya hari Kiamat itu pasti datang, lalu apa yang sudah engkau persiapkan untuk menyambutnya?” la menjawab: “Aku tidak mempersiapkan untuknya berupa shalat dan puasa yang banyak, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Setelah itu, Rasulullah berkata kepadanya: “Seseorang itu akan bersama dengan yang dicintai.”

Dan tidaklah kaum muslimin berbahagia dengan sesuatu, sebagaimana bahagianya mereka dengan hadits tersebut. (Hadits ini mempunyai berbagai jalan dalam ash-Shahihain [Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim] dan kitab-kitab lainnya, dari sejumlah Sahabat, dari Rasulullah saw., di mana beliau bersabda: “Seseorang itu akan bersama dengan yang dicintai.” Menurut para huffazh yang teliti, hadits tersebut mutawatir.

Di dalamnya disebutkan, bahwa Rasulullah jika ditanya tentang hal ini (Kiamat), yang mana mereka tidak perlu mengetahui tentang ilmunya, maka beliau akan membimbing mereka kepada suatu yang lebih penting bagi mereka, yaitu mempersiapkan diri untuk menghadapi hart Kiamat itu sebelum tibanya, meskipun mereka tidak mengetahui waktu kedatangannya secara pasti.

Oleh karena itu Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari ‘Aisyah, ia berkata: “Ketika orang-orang Arab Badui menghadapRasulullah saw, mereka bertanya kepada beliau mengenai hari Kiamat: ‘Kapankah hari Kiamat itu tiba?’ Lalu beliau melihat ke arah orang yang paling muda di antara mereka, lalu beliau bersabda: ‘Jika orang ini hidup, maka ia belum mencapai masa tua sehingga telah tiba Kiamat kalian kepada kalian.’”

Maksud dari kata “Kiamat kalian” adalah, kematian mereka yang membawa mereka ke alam barzakh, alam akhirat.

Selanjutnya Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw mengenai hari Kiamat, maka Rasulullah menjawab: “Jika anak ini hidup, mudah-mudahan ia belum mencapai usia tua sehingga telah datang Kiamat.” (Hanya Muslim saja yang meriwayatkannya)

Diriwayatkan pula dari Anas bin Malik, ia berkata: Ada seorang budak milik al-Mughirah bin Syu’bah yang sebaya denganku sedang lewat, lalu Nabi saw. bersabda: “Jika dia ini dipanjangkan umurnya, maka dia belum mencapai usia tua sehingga datang Kiamat.” (Hadits ini diriwayatkan al-Bukhari dalam kitab [bab] al-Adab dalam Shahihnya)

Penyebutan Kiamat secara mutlak dalam riwayat-riwayat tadi, hendaklah dipahami secara muqayyad (terbatas). Yaitu, “Kiamat kalian.” Sebagaimana dalam hadits `Aisyah ra.

Inilah Nabi yang ummi, penghulu dan penutup para Rasul, Muhammad shalawaatullaah alaihi wa Salaamuh. Seorang Nabi pembawa rahmat dan pintu taubat, Nabi yang mengobarkan perjuangan, Nabi terakhir dan yang dimuliakan, dihadapannya dikumpulkan umat manusia. Di mana beliau menyatakan. dalam hadits shahih dari Arias, dan Sahl bin Sa’ad:
“Jarak waktu antara aku diutus dan terjadinya Kiamat, adalah seperti ini.” Seraya beliau mendekatkan kedua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah.

Namun demikian, Allah telah memerintahkan beliau agar mengembalikan ilmu tentang waktu hari Kiamat itu kepada-Nya, jika ditanya oleh umatnya. Allah berfirman: qul innamaa ilmuHaa ‘indallaaHi wa laakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 186

6 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 186“Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.” (QS. al-A’raaf: 186)

Maksud firman Allah tersebut, barangsiapa yang telah ditetapkan baginya kesesatan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya, meskipun ia memperhatikan dirinya dengan seksama, maka ia tidak dapat berbuat apa pun terhadapnya.

Allah berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah.” (QS. Al-Maa-idah: 41)

&