Tag Archives: surat al Hijr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 94-99

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 93-99“94. Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. 95. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), 96. (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya Tuhan yang lain di samping Allah; Maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). 97. dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, 98. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), 99. dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).’” (al-Hijr: 94-99)

Allah berfirman memerintahkan kepada Rasulullah agar menyampaikan risalahnya, melaksanakan dan menyampaikannya dengan cara terang-terangan, yaitu dengan berhadapan langsung dengan orang-orang musyrikin, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu `Abbas tentang firman Allah: fashda’ bimaa tu’maru (“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan [kepadamu]”) fasda’ bihi=amdhihi (laksanakanlah, lakukanlah).

Abu `Ubaidah meriwayatkan dart Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Nabi terus berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi, sampai turun ayat: fashda’ bimaa tu’maru (“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan [kepadamu]”). Setelah turun ayat ini barulah beliau keluar dengan para Sahabatnya.”

Firman Allah: wa a’ridl ‘anil musyrikiina. Innaa kafainaakal mustaHji-iin (“Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara [melindungi]) kamu dari [kejahatan] orang-orang yang memperolok-olok [mu].”) Maksudnya, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, dan jangan menoleh (menghiraukan) orang-orang musyrik yang ingin menghalangimu dari ayat-ayat Allah. Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak pula kepadamu. Dan jangan kamu sembunyi dart mereka, karena Allah melindungimu dan menjagamu dari kejahatan mereka.

Seperti firman Allah: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan [apa yang diperintahkan itu, berarti] kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memeliharamu dari [gangguan] manusia.” (QS. Al-Maa-idah: 67)

Berkata Muhammad bin Ishaq: Adalah pembesar-pembesar Quraisy yang mengolok-olok Nabi sebagaimana yang diriwayatkan kepadaku oleh Yazid bin Ruman, dari `Urwah bin az-Zubair, jumlah mereka adalah lima orang, yang mana mereka itu orang-orang kuat dan terpandang dalam kaum mereka.
Dari Bani Asad bin `Abdil `Uzza bin Qushay, ialah al-Aswad bin al-Muththalib, Abu Zam’ah.
Dari Bani Zahrah, al-Aswad bin `Abdi Yaguts bin Wahb bin `Abdi Manaf bin Zahrah.
Dari Bani Makhzum, al-Walid bin al-Mughirah bin `Abdillah bin `Amr bin Makhzum.
Dari Bani Salim bin `Amr bin Hashish bin Ka’ab bin Lu-ay, al-‘Ash bin Wa-il bin Hisyam bin Sa’id bin Sa’ad.
Dan dari Bani Khuza’ah, al-Harits bin ath-Thalathilah bin `Amr bin al-Harits bin `Abd bin `Amr bin Malkan.

Tatkala (mereka) memperluas kejahatan dengan memperbanyak cemoohan-cemoohan kepada Rasulullah, Allah menurunkan:
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memeliharamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (mu). (Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain disamping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya).” (QS. Al-Hijr: 94-96)

Firman Allah: alladziina yaj’aluuna ma’allaaHi ilaaHan aakhara fasaufa ya’lamuuna (“[yaitu] orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain selain Allah, maka mereka kelak akan mengetahui [akibat-akibatnya]”) adalah ancaman yang keras dan pasti bagi orang yang menjadikan bersama Allah sesembahan lain (musyrik).

Firman Allah: wa laqad na’lamu annaka yadliiqu shadruka bimaa yaquuluuna. Fasabbih bihamdi rabbika wa kum minas saajidiin (“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud [shalat].”)

Maksudnya: sesungguhnya wahai Muhammad, Kami mengetahui bahwa dadamu terasa sempit dan sumpek disebabkan perbuatan mereka yang menyakitimu, maka hal itu jangan sampai memundurkanmu dari menyampaikan risalah Allah, dan bertawakkallah kepada-Nya, karena Allahlah yang menjamin dan menolongmu melawan mereka. Maka, sibukkanlah dirimu dengan berdzikir, memuji, bertasbih dan beribadah kepada Allah, yang semuanya itu adalah shalat.

Karena itu Allah berfirman: Fasabbih bihamdi rabbika wa kum minas saajidiin (“Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud [shalat],”) sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Nu’aim bin `Ammar, bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: `Hai anak Adam, janganlah kamu lemah dari melakukan (shalat) empat raka’at pada permulaan siang (pagi), maka Aku akan mencukupimu pada akhir siang.’” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa’i.

Firman Allah Ta’ala: wa’bud rabbaka hattaa ya’tiyakal yaqiin (“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini [ajal].”) Al-Bukhari berkata: “Salim mengatakan bahwa al-yaqin=al-maut (kematian).” Mujahid, al-Hasan, Qatadah, `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan lain-lain juga mengatakan seperti itu, dengan dalil firman Allah Ta’ala, yang memberitakan tentang penduduk Neraka bahwa mereka berkata:
“Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, kami membicarakan yang bathil bersama-sama orang yang membicarakannya, kami dustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian (al-yaqin =al-maut)” (QS. Al-Muddatstsir: 43-47)

Disebutkan dalam hadits shahih dari hadits az-Zuhri, dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit Ummul `Ala’, seorang wanita dari kaum Anshar, bahwa sesungguhnya Rasulullah masuk rumah `Utsman bin Mazh’un setelah ia meninggal, maka Ummul `Ala’ berkata: “Semoga rahmat Allah terlimpah kepadamu hai Abu Sa-ib, aku bersaksi untukmu bahwa Allah telah memuliakanmu.” Rasulullah bertanya: “Bagaimana kamu tahu bahwa Allah memuliakannya?” Aku berkata: “Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah, jadi siapa (yang dimuliakan Allah)?” Rasulullah menjawab: “Adapun dia, sesungguhnya sudah datang kepadanya kematian (al-yaqin), dan aku sungguh-sungguh mengharapkan kebaikan baginya. (HR. Al-Bukhari dalam kitab al Jana-iz dan Ahmad)

Ayat ini: wa’bud rabbaka hattaa ya’tiyakal yaqiin (“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini [ajal].”) menjadi dalil bahwa ibadah; seperti shalat dan lain-lainnya adalah wajib hukumnya bagi manusia, selama akalnya sehat, maka ia boleh mengerjakan shalat sesuai dengan keadaan masing-masing. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari `Imran bin Hushain ra, bahwa Rasulullah bersabda: “Shalatlah dengan berdiri, bila tidak mampu berdiri, duduklah, dan jika tidak bisa duduk, maka berbaringlah!”

Ayat ini juga dijadikan dalil dengan pengertian yang salah oleh kaum atheis yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan yagin adalah ma’rifah. Jadi, bila salah seorang di antara mereka sudah sampai pada maqam ma’rifah, maka dia terbebas dari kewajiban beribadah menurut pendapat mereka. Pendapat seperti ini adalah merupakan kekafiran, kesesatan dan kebodohan, karena para Nabi saw, dan para sahabat mereka adalah orang yang lebih tahu tentang Allah, lebih mengerti hak-hak dan sifat-sifat-Nya, dan Allah berhak diagungkan. Kendati demikian, mereka itu adalah orang-orang yang paling (banyak) beribadah kepada Allah, rajin berbuat aneka macam kebaikan sampai ajal datang merenggut mereka.

Yang dimaksud dengan al-yaqin di sini adalah al-maut (kematian) sebagaimana telah kami jelaskan diatas.

Catatan penulis: “Orang-orang atheis itu adalah penganut aliran wihdatul wujud, yang merupakan puncak dari hakikat ilmu tashawwuf dan merupakan tingkat tertinggi dari hakikat menurut pendapat mereka, yaitu tingkat al-wushul, dengan berkeyakinan bahwa orang yang dapat mencapai tingkat ini, berarti telah mencapai hakikat! Yaitu keyakinan bahwa Allah Mahapencipta itu adalah makhluk itu sendiri, kendatipun berbeda-beda bentuk Dzatnya. Semuanya adalah satu, yaitu Allah! Kalau hamba sudah menjadi Rabb, maka siapa yang diibadahinya? Apakah dia beribadah kepada dirinya sendiri? Di sini, gugurlah kewajiban-kewajiban ibadah itu. Kita berlindung kepada Allah dari kekafiran dan kekecewaan tidak mendapat pertolongan Allah dari tempat kembali yang buruk dan dari bisikan serta hembusan syaitan. Karena orang yang telah dimuliakan Allah dengan Islam dan merasakan manisnya, kemudian dia memilih kepahitan tempat kembali kemusyrikan yang menakutkan itu, maka dia berhak mendapatkan lapisan terbawah dari neraka Jahannam dan siksa terberat yang disediakan bagi penduduk Neraka. Na’uudzubillah min dzalik.”-Pent.

Selesai

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 89-93

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 89-93“89. dan Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.’ 90. sebagaimana (kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (kitab Allah) 91. (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi, 92. Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, 93. tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (al-Hijr: 89-93)

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya mengatakan kepada manusia: innii ana nadziirul mubiin (“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.”) Yang jelas peringatannya, pemberi peringatan bagi manusia dari adzab yang pedih yang akan menimpa mereka karena mendustakan Nabi Muhammad saw, sebagaimana yang telah menimpa umat-umat terdahulu yang mendustakan para Rasul mereka dan apa yang diturunkan Allah kepada mereka berupa siksa dan pembalasan.

Firman Allah: almuqtasimiin (“Membagi-bagi,”) maksudnya, al-mutahaalifiin,yaitu bersumpah bersama-sama untuk bersekutu menentang, mendustakan dan menyakiti para Nabi, seperti firman Allah yang menceritakan tentang kaum Nabi Shalih as, bahwa `Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, ‘bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari.” (QS. An-Naml: 49)

Mujahid mengatakan bahwa mereka bersumpah dan bersekutu, seolah-olah setiap kali mereka mendustakan sesuatu dari dunia ini, mereka bersumpah, maka mereka disebut al-muqtasimiin.

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan shahih Muslim sebuah hadits dari Abu Musa dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda:
“Perumpamaan aku dengan risalah yang telah ditupaskan Allah kepadaku itu seperti seorang yang datang kepada kaumnya lalu berkata: `Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah melihat tentara dengan kedua mataku, dan sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan yang tidak merahasiakan sesuatu, maka carilah keselamatan, carilah keselamatan. Lalu sebagian dari kaum itu mematuhinya, dan mereka pergi keluar pada malam hari. Mereka pun pergi perlahan-lahan, dan selamatlah mereka. Tetapi, ada sekelompok lain yang mendustakannya, dan mereka sampai pagi hari masih tetap di tempatnya, maka tentara pun menjumpai mereka pagi itu juga lalu mereka membinasakan dan dilindas oleh tentara tersebut. Itulah perumpamaan orang yang taat kepadaku dan mengikuti apa yang aku sampaikan, dan perumpamaan orang yang durhaka dan mendustakan kebenaran yang aku sampaikan.”

Firman Allah: alladziina ja’aluunal qur-aana ‘idliin (“[yaitu] orang yang telah menjadikan al-Qur’an itu terbagi-bagi.”) Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang ayat ini, ia berkata: “Mereka itu adalah Ahli Kitab yang membagi-bagi Kitab itu menjadi bagian-bagian, lalu mereka percaya kepada sebagian dan kafir kepada sebagian yang lain.”

Al-Hakam bin Abban meriwayatkan dari `Ikrimah dari Ibnu `Abbas tentang ayat ini, `Idliin’ adalah sihir.” `Ikrimah berkata al-`idl adalah sihir menurut bahasa orang Quraisy, mereka menyebut tukang sihir perempuan dengan al- Aadlihah. Mujahid mengatakan, Adlauhu a’dha’, mereka mengatakan: “Sihir,” ada yang mengatakan: “Kahanah” atau mistik, ada yang mengatakan: “Mitos orang-orang dahulu.”

`Athiyyah al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Umar tentang firman Allah: fa wa rabbika lanas-alannaaHum ajma’iin ‘ammaa kaanuu ya’maluun (“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”) Yaitu tentang Laa Ilaaha illallaah.

At-Tirmidzi, Abu Ya’la al-Mushili, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadits dari Syarik al-Qadhi, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Basyir bin Nuhaik, dari Anas, dari Nabi: fa wa rabbika lanas-alannaaHum ajma’iin (“Maka demi Rabbmu pasti Kami akan menanyai mereka
semuanya,”) beliau bersabda, tentang Laa Ilaaha illallaah.

Ibnu Jarir meriwayatkan, Ahmad berkata kepada kami, Abu Ahmad berkata kepada kami, Syarik berkata kepada kami, dari Hilal, dari `Abdullah bin `Ukaim, ia mengatakan, -hadits itu diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya dari hadits Anas yang marfu’-, dan `Abdullah bin Mas’ud berkata: “Demi Allah yang tidak ada Ilah (yang haq) selain-Nya, setiap orang di antara kalian pasti akan berhadapan sendirian dengan Allah pada hari Kiamat seperti ia berhadapan sendirian dengan bulan pada waktu bulan purnama, maka Allah bertanya kepadanya: “Hai anak Adam, apakah ada sesuatu dari-Ku yang menipumu terhadap-Ku? Hai anak Adam, apakah yang telah kau lakukan tentang apa yang telah kau ketahui? Hai anak Adam, apakah jawabanmu kepada para Rasul?”

Abu Ja’far meriwayatkan dari ar-Rabi’, dari Abul `Aliyah tentang firman Allah: fa wa rabbika lanas-alannaaHum ajma’iin ‘ammaa kaanuu ya’maluun (“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”) dia mengatakan, “Allah menanyai hamba semuanya tentang dua hal pada hari Kiamat; Apa yang mereka sembah dahulu (waktu di dunia) dan apa jawaban mereka kepada para Rasul.

`Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah ini ia mengatakan: fa yauma-idzil laa yus-alu ‘an dzambiHi insuw walaa jaann (“Maka pada hari itu tidak ditanya manusia atau pun jin tentang dosanya,”) ia mengatakan, Allah tidak bertanya apakah kalian berbuat begini (atau begitu), karena Allah lebih mengetahui hal itu daripada mereka sendiri. Tetapi Allah bertanya kepada mereka: “Mengapa kalian berbuat begini dan begitu?”

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 87-88

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 87-88“87. dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung. 88. janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (al-Hijr: 87-88)

Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw. sebagaimana Aku telah memberitahukan kepadamu al-Qur’an yang agung, maka janganlah kamu melihat kepada dunia dan perhiasannya dan kesenangan atau kenikmatan hidup di dunia fana yang akan lenyap ini yang Kami berikan kepada ahli dunia untuk menguji mereka. maka, janganlah kamu iri dengan apa yang mereka miliki dan jangan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka, karena mereka mendustakanmu dan menyelisihi agamamu.

Wakhfidl janaahaka lilmu’miniin (“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.”) Maksudnya bersikaplah lemah lembut kepada mereka, seperti firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Ulama berbeda pendapat tentang apakah sab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) itu. Ibnu Mas’ud, Ibnu `Umar, Ibnu `Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, adh-Dhahhak lain-lain mengatakan: “As-sab’ul matsani itu adalah tujuh surat yang panjang-panjang, yaitu; al-Baqarah, Ali `Imran, an-Nisaa’, al-Maa-idah, al-An’aam, al-A’raaf dan Yunus.” Adapun pendapat kedua, sab’ul matsani itu ialah al-Fatihah yang terdiri dari tujuh ayat. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dengan alasan hadits-hadits yang menerangkan hal itu, dan telah kami jelaskan dalam pembicaraan tentang keutamaan al-Fatihah pada awal kitab tafsir ini.

Firman Allah Ta’ala: laa tamuddanna ‘ainaka ilaa maa maatta’naa biHii azwaajam minHum (“Janganlah kamu sekali-kali menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka [orang yang kafir itu].”) Maksudnya, cukuplah (puaslah) dengan al-Qur’an yang agung yang diberikan Allah kepadamu itu, tanpa menoleh kepada kesenangan dan kenikmatan dunia yang fana yang ada pada mereka.

Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas: laa tamuddanna ‘ainaka (“Janganlah kamu sekali-kali menunjukkan pandanganmu,”) ia mengatakan: “Allah melarang orang mengharapkan apa yang dimiliki oleh kawannya.” Mujahid mengatakan tentang: ilaa maa maatta’naa biHii azwaajam minHum(“Kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka,”) mereka yang dimaksud adalah orang-orang kaya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 85-86

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 85-86“85. dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. dan Sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. 86. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang Maha Pencipta lagi Maha mengetahui.” (al-Hijr: 85-86)

Allah Ta’ala berfirman: wa maa khalaqnas samaawaati wal ardla wamaa bainaa illaa bil haqqi wa innas saa’ata la aatiyatun (“dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. dan Sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang,”) dengan benar, yaitu dengan adil. Liyajziyal ladziina asaa-uu bimaa ‘amiluu (“untuk membalas orang-orang yang berbuat jahat dengan apa yang telah mereka lakukan.”) (an-Najm: 31)

Kemudian Allah memberitakan tentang terjadinya hari kiamat yang pasti akan terjadi, tidak bisa tidak. Lalu Allah memerintahkan kepada Muhammad saw. agar memaafkan orang-orang musyrik dengan baik atas penganiayaan yang telah mereka lakukan kepadanya, dan pendustaan mereka terhadap apa yang disampaikan kepada mereka, firman Allah: fash-fah ‘anHum wa qul salaamun fasaufa ya’lamuun (“Maka ampunilah mereka dan katakanlah selamat, maka mereka akan tahu.”)(az-Zukhruf: 89)

Mujahid, Qatadah dan lain-lain mengatakan: “Ini adalah sebelum ada perang [sebelum ada perintah jihad).” Pendapat mereka ini benar, karena surat ini adalah Makkiyyah, sedang peperangan melawan orang kafir mulai disyariatkan setelah hijrah ke Madinah.

Firman AllaH: inna rabbaka Huwal khallaaqul ‘aliim (“Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang Mahapencipta lagi Mahamengetahui.”) adalah ketentuan tentang hari akhirat, dan sesungguhnya Allah Ta’ala kuasa menjadikan hari kiamat, karena Allah adalah Mahapencipta yang kuasa menciptakan segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang Dia tidak dapat ciptakan, lagi Mahamengetahui jasad yang sudah hancur luluh dan terpisah-pisah di segala penjuru bumi ini.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 80-84

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 80-84“80. dan Sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul, 81. dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling daripadanya, 82. dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. 83. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi. 84. Maka tak dapat menolong mereka, apa yang telah mereka usahakan.” (al-Hijr: 80-84)

Penduduk al-Hijr adalah kaum Tsamud yang mendustakan Nabi Shalih as., nabi mereka. barangsiapa mendustakan seorang Rasul, maka berarti telah mendustakan Allah. Oleh karena itu dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka mendustakan para Rasul Allah. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia telah mendatangkan kepada mereka ayat-ayat [tanda-tanda] yang menunjukkan kebenaran apa yang disampaikan oleh Nabi Shalih as. kepada mereka, dan Allah menyebutkan bahwa: wa kaanuu yanhituuna minal jibaali buyuutan aaminiin (“Mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu [yang didiami] dengan aman.”) maksudnya, tanpa rasa takut dan rasa butuh kepada-Nya, tetapi karena rasa angkuh, sombong dan melakukan perbuatan sia-sia.

Firman Allah: fa akhadzatHumush shaihatu mushbihiin (“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi.”) maksudnya di saat pagi di hari yang keempat. Fa maa aghnaa ‘anHum maa kaanuu yaksibuun (“Maka tak dapat menolong mereka, apa yang telah mereka usahakan.”) maksudnya apa yang mereka kerjakan dalam pertanian mereka dan penghasilan buah-buahan mereka sehingga mereka bakhil memberi air minum kepada unta Allah, lalu mereka menyembelihnya, agar tidak menghabis-habiskan air, ternyata harta benda mereka tersebut tidak mempertahankan dan tidak berguna bagi mereka setelah datang keputusan Allah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 78-79

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 78-79“78. dan Sesungguhnya adalah penduduk Aikah[809] itu benar-benar kaum yang zalim, 79. Maka Kami membinasakan mereka. dan Sesungguhnya kedua kota[810] itu benar-benar terletak di jalan umum yang terang.” (al-Hijr: 78-79)

Penduduk Aikah itu adalah kaum Nabi Syu’aib. Adh-Dhahhak, Qatadah dan lain-lain mengatakan bahwasannya Aikah adalah pohon yang rimbun. Perbuatan-perbuatan dhalim mereka [dengan menyekutukan Allah], merampok di tengah jalan, mengurangi takaran dan timbangan, telah menyebabkan [adanya] pembalasan Allah terhadap mereka, yang berupa suara keras yang mengguntur, gempa yang menggoncang mereka adzab pada hari naungan awan. Mereka itu berdekatan dengan kaum Nabi Luth, datang setelah mereka dari segi masanya, tetapi tempat kedua kaum itu sama-sama ditandai. Oleh karena itu Allah berfirman: wa inna Humaa labi imaamim mubiin (“Dan sesungguhnya kedua kota itu benar-benar terletak di jalan umum yang terang.”) maksudnya jalan yang jelas. Ibnu ‘Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak dan lain-lain mengatakan: “Jalan yang terang atau nampak.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 73-77

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 73-77“73. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. 74. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. 75. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. 76. dan Sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). 77. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (al Hijr: 73-77)

Allah Ta’ala berifirman: fa akhadzatHumush shaihatu musyriqiin (“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.”) ash-shaihah di sini adalah suara yang sangat keras mengguntur yang terjadi menjelang matahari terbit, bersama dengan negeri mereka yang terangkat tinggi ke udara, kemudian dibalik yang semula di atas menjadi di bawah, sambil dihujani batu dari sijjil [batu dari tanah yang keras] yang berjatuhan di atas kepala mereka. tentang sijjil ini sudah dibicarakan dalam surah Huud atau 82 dengan jelas.

Firman Allah: inna fii dzallika la aayaatil lil mutawassimiin (“Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Kami] bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda .”) maksudnya tanda-tanda yang jelas dari kemurkaan Allah terhadap negeri itu bagi orang yang mau merenungkannya, dan melihat tanda-tanda itu dengan mata penglihatannya dan pikiran mereka.

Mujahid mengatakan tentang firman Allah: al mutawassimiin= al mutafarrisiin [berfirasat]. Ibnu ‘Abbas dan adh-Dhahhak mengatakan al-mutawassimiin = an-naadhiriin [orang-orang yang melihat/berfikir], Qatadah mengatakan: almutwassimiin: almu’tabiriin [orang-orang yang mau mengambil ibarah/contoh]. Malik mengatakan, bahwa sebagian ahli Madinah menafsirkannya dengan al muta’ammiliin [orang-orang yang mau berfikir/ merenungkannya].

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits marfu’, dari Abu Sa’id, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah kepada firasat orang Mukmin, karena sesunggguhnya dia melihat dengan cahaya Allah.” Kemudian Rasulullah saw. membaca: inna fii dzaalika la aayaatil lil mutawassimiin (“Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasan Kami] bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.” Hadits ini diriwayatkan olah at-Tirmidzi dan Ibnu Jarir.

Firman Allah: wa innaHaa labisabiilim muqiim (“Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih telah [dilalui manusia].”) maksudnya negeri Sadum [sebelah selatan laut Mati di Palestina] yang tertimpa bencana dengan dibalik secara bentuk dan secara pengertian, dan dihujani dengan batu sehingga berubah menjadi danau yang berbau busuk dan menjijikkan, dengan jalan-jalan yang dikeraskan [aspal], masih ada sampai hari ini. Seperti firman Allah yang artinya: “Dan sesungguhnya kalian [penduduk Makkah] pasti akan melalui bekas-bekas di waktu pagi, dan di waktu malam. Maka apakah kalian tidak memikirkan? Dan sesungguhnya Yunus adalah termasuk dari para Rasul.” (ash-Shaaffaat: 137-139).

Mujahid dan adh-Dhahhak mengatakan: wa innaHaa labi sabiilim muqiim (“Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap [dilalui manusia].”) muqiim=mu’allam [ditandai], Qatadah berkata: “Jalan yang jelas.”

Firman Allah: inna fii dzaalika la aayaatal lil mu’miniin (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi orang-orang yang beriman”) maksudnya, sesungguhnya apa yang telah Kami perbuat terhadap kaum Luth yang berupa kerusakan, kehancuran dan penyelamatan Luth dan pengikutnya adalah bukti yang jelas atas kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 67-72

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 67-72“67. dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. 68. Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; Maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), 69. dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina”. 70. mereka berkata: “Dan Bukankah Kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” 71. Luth berkata: “Inilah puteri-puteriku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”. 72. (Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), Sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. (al-Hijr: 67-72)

Allah Ta’ala memberitakan tentang kedatangan kaum Luth setelah mereka mengetahui tamu-tamunya yang tampan dengan wajah-wajah yang cerah. Mereka datang ke rumah Luth dengan penuh kegembiraan.

Qaala inna Haa-ulaa-i dlaifii falaa tafdlahuuni. wattaqullaaHa wa laa tukhzuuni (“Luth berkata: ‘Sesungguhnya mereka adalah tamuku, maka janganlah kamu memberi malu [kepadaku], dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina.”) dia mengatakan seperti itu sebelum dia mengetahui bahwa mereka adalah utusan Allah sebagaimana dikatakan dalam surah Huud. Adapun di sini disebutkan dulu bahwa mereka adalah utusan Allah. Kemudian diikuti dengan menyebutkan kedatangan kaumnya dan perdebatan dengan mereka. tetapi ‘athaf dengan huruf wawu itu tidak menunjukkan bahwa kejadian yang disebut dalam kalimat itu terjadi secara berurutan, apalagi bila ada hal yang menunjukkan kebalikannya. Maka mereka berkata: awalam nanHaka ‘anil ‘aalamiin (“Bukankah kami sudah melarangmu dari [melindungi] manusia?”) maksudnya, bukankah kami telah melarangmu untuk menerima seorang tamu pun? Luth lalu mengarahkan mereka pada perempuan-perempuan mereka untuk melampiaskan keinginan seksual mereka dengan cara kebenaran.

Hal itu semua terjadi, sedang mereka dalam keadaan lalai atau tidak mengetahui apa yang akan menimpa mereka, dan bencana yang telah mengepung mereka, serta adzab yang pasti terjadi pada esok pagi hari. Oleh karena itu Allah berfirman kepada Muhammad saw: la’amruka innaHum lafii sakratiHim ya’maHuun (“Demi umurmu [Muhammad], sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan [kesesatan].”) Allah TA’ala bersumpah dengan hidup Nabi saw. yang menunjukkan kehormatan yang besar, kedudukan yang tinggi dan kemuliaan yang luas bagi beliau.

‘Amr bin Malik an-Nakri meriwayatkan dari Abul Jauza’, dari Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Allah tidak menciptakan, tidak mengembangbiakkan, dan tidak membebaskan seorang pun yang lebih mulia daripada Muhammad saw. dan aku tidak pernah mendengar Allah bersumpah dengan hidup seseorang selain dengan hidup Muhammad saw.”

Firman Allah: la’amruka innaHum lafii sakratiHim ya’maHuun (“Demi umurmu [Muhammad], sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan [kesesatan].”) Allah berfirman: demi hidupmu, umurmu, dan keberadaanmu di dunia. innaHum lafii sakratiHim ya’maHuuna (“Sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan [kesesatan].”) perkataan Ibnu ‘Abbas ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Qatadah berkata: “Fii sakratihim artinya fii dlalaalatiHim [dalam kesesatan mereka], ya’maHuun artinya yal’abuun [bermain-main].”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 65-66

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 65-66“65. Maka Pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang di perintahkan kepadamu”. 66. dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, Yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (al-Hijr: 65-66)

Allah menuturkan tentang Malaikat, bahwa mereka memerintahkan kepada Luth agar berjalan bersama keluarganya setelah lewat sebagian dari malam, dan Luth agar berjalan di belakang mereka untuk lebih menjaga mereka. demikian jugalah Rasulullah berjalan di belakang tentara Islam pada waktu peperangan. Beliau sebagai penggiring, menuntun orang yang lemah dan membawa orang yang tidak tahu jalan.

Firman Allah: wa laa yaltanfit minkun ahadun (“Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang.”) maksudnya, bila kalian mendengar suara keras yang mengguntur pada kaum itu, maka janganlah kalian menoleh kepada mereka dan biarkan mereka tertimpa adzab dan hukuman. Wamdluu haitsu tu’maruuna (“Dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.”) seolah-olah ada petunjuk jalan bagi mereka.

Wa qadlainaa ilaiHi dzaalikal amra (“Dan telah Kami wahyukan kepadanya [Luth] perkara itu.”) sudah Kami ajukan hal itu: anna daabira Haa-ulaa-i maqthuu’um mubiina (“Yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu shubuh.”) mushbihiin artinya waktu shubuh, seperti firman Allah dalam ayat lain: inna mau’idaHumush shubhu alaisash shubhu biqadiir (“Sesungguhnya waktu yang telah ditentukan untuk mereka adalah waktu shubuh, bukankah waktu shubuh itu sudah dekat?”) (Huud: 81)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 61-64

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 61-64“61. Maka tatkala Para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut pengikutnya, 62. ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”. 63. Para utusan menjawab: “Sebenarnya Kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. 64. dan Kami datang kepadamu membawa kebenaran dan Sesungguhnya Kami betul-betul orang-orang benar.” (al-Hijr: 61-64)

Allah Ta’ala memberitakan tentang Luth setelah Malaikat datang dalam bentuk pemuda-pemuda yang tampan, dan mereka masuk ke rumah Luth.
Qaala innakum qaumum munkaruuna. Qaaluu bal ji’naaka bimaa kaanuu fiiHi yamtaruu (“Ia berkata: ‘Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.’ Para utusan menjawab: ‘Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa adzab yang selalu mereka dustakan.’”
Maksudnya, untuk menyiksa, membinasakan, menghancurkan mereka yang selama ini mereka ragukan akan terjadinya hal seperti itu dan menimpa daerah mereka.

Wa atainaaka bil haqqi (“Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran.”) seperti firman Allah: maa nunazzilul malaa-ikata illaa bil haqqi (“Kami tidak menurunkan Malaikat kecuali dengan membawa kebenaran.”)(al-Hijr: 8)

Dan firman-Nya: wa innaa lashaadiquuna (“Dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang yang benar.”) untuk menyakinkan berita yang mereka sampaikan kepada Luth tentang keselamatan dan kebinasaan kaumnya.

Bersambung