Tag Archives: surat at tiin

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Tiin

15 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Tiin (Buah Tin)
Surah Makkiyyah; Surah ke 95: 8 ayat

 

Malik dan Syu’bah meriwayatkan dari ‘Adi bin Tsabit dari al-Barra’ bin ‘Azid: “Nabi saw. Dalam suatu perjalanannya pernah membaca surat ati-Tiin wazzaituun dalam satu dari dua rakaat shalat yang beliau kerjakan. Dan aku tidak pernah mendengar seorangpun suara atau bacaan yang lebih bagus dari beliau.” Diriwayatkan oleh al-Jama’ah di dalam kitab mereka masing-masing.

tulisan arab alquran surat at-tiin ayat 1-8

“1. demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, 2. dan demi bukit Sinai, 3. dan demi kota (Mekah) ini yang aman, 4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . 5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), 6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. 7. Maka Apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? 8. Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?” (at-Tiin: 1-8)

Disini para ahli tafsir masih berbeda pendapat dengan pendapat yang cukup banyak. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan at-tiin di sini adalah masjid Damaskus. Ada juga yang berpendapat, ia merupakan buah tin itu  sendiri. Juga ada yang menyatakan bahwa ia adalah gunung yang terdapat di sana. Sedangkan al-Qurthubi  mengatakan: “At-Tiin adalah masjid  Ash-habul Kahfi.” Dan diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas bahwa at-tiin adalah masjid Nuh yang terdapat di bukit al-Judi. Mujahid mengatakan: “Ia adalah at-tiin kalian ini.” Wazzaituun (“Dan demi zaitun”) Ka’ab al ahbar, Qatadah, Ibnu Zaid, dan lain-lain mengatakan: “Yaitu masjid Baitul Maqdis. Mujahid dan ‘Ikrimah mengatakan: “Yaitu buah zaitun yang kalian peras.”

Wa thuuri siiniin (“Dan demi bukit Sinai.”) Ka’ab al-Ahbar dan lain-lain mengatakan: “Yaitu bukit dimana allah berbicara langsung dengan Nabi Musa a.s. Wa Haadzal baladil amiin (“Dan demi kota ini yang aman.”) yakni, kota Mekah. Demikian yang  dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Ibrahim an-Nakha’i, dan tidak ada perbedaan pendapat mengenai masalah tersebut.

Firman Allah Ta’ala: laqad khalaqnal  ingsaana fii ahsani taqwiim (“Sesungguhnya Kami  telah menciptakan manusia dalam wujud dan bentuk sebaik-baiknya.”) dan inilah yang menjadi obyek sumpah, yaitu bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dalam wujud dan bentuk  yang sebaik-baiknya, dengan perawakan yang sempurna serta beranggotakan badan yang normal.  Tsumma radadnaaHu asfala saafiliin (“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”) yakni ke neraka. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Abul ‘Aliyah, al-Hasan, Ibnu Zaid, dan lain-lain. Kemudian setelah penciptaan yang baik dan menakjubkan itu, mereka akan diseret ke neraka jika mereka tidak taat kepada Allah dan tidak mengikuti para Rasul. Oleh karena itu, Dia berfirman: illalladziina aamanuu wa ‘amilushaalihaati (“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih.”) dan firman-Nya: falaHum ajrun ghairu mamnuun (“Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”) yakni, tiada putus-putusnya.

Famaa yukadzibuka (“Maka apakah yang menyebabkanmu mendustakan.”) hai anak Adam, ba’du biddiin (“[Hari] pembalasan sesudah [adanya keterangan-keterangan] itu?” yakni, pembalasan pada hari kebangkitan, padahal kamu telah mengetahui penciptaan pertama dan juga telah mengetahui bahwa Rabb yang mampu memulai, sudah pasti mampu untuk mengembalikan lagi. Lalu apa yang membuatmu mendustakan hari kiamat padahal kamu sudah mengetahui semua itu? Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Manshur, dia berkata: “Aku pernah katakan pada Mujahid, Famaa yukadzibuka (“Maka apakah yang menyebabkanmu mendustakan.”) hai anak Adam, ba’du biddiin (“[Hari] pembalasan sesudah [adanya keterangan-keterangan] itu?” yang dimaksudkan adalah Nabi saw. Mujahid mengatakan: “Na’udzdzubillaaHi, yang dimaksudkan disini adalah manusia.” Demikian itu pula yang dikemukakan oleh ‘Ikrimah dan lain-lain.

alaisallaaHu bi-ahkamil haakimiin (“Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?”) yakni, bukankah Dia adalah hakim yang paling bijak, tidak berbuat sewenang-wenang dan tidak juga mendzalimi seorang pun. Di antara bentuk keadilan-Nya adalah Dia akan mengadakan hari kiamat, lalu Dia akan menuntut keadilan untuk orang yang didzalimi di dunia dari orang yang mendzaliminya.