Tag Archives: surat huud

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 123

3 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 123“Dan kepunyaan Allah lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka beribadahlah kepada Allah dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 123)

Allah mengabarkan, bahwa Allah adalah mengetahui keghaiban langit dan bumi dan bahwasanya kepada-Nyalah tempat kembali dan bernaung. Dan setiap orang akan didatangkan amalnya pada hari perhitungan, maka bagi-Nyalah ciptaan dan perintah, kemudian Allah memerintahkan untuk beribadah dan bertawakkal kepada-Nya, karena sesungguhnya Allah adalah Dzat yang mencukupi kepada orang yang bertawakkal dan kembali kepada-Nya.

Dan firman-Nya: wa maa rabbuka bighaafilin ‘ammaa ta’maluun (“Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”) Maksudnya, tidak tersembunyi apa yang dilakukan oleh para pendusta wahai Muhammad, akan tetapi Dia Mahamengetahui dengan keadaan dan ucapan mereka dan Allah akan membalas mereka, dengan balasan yang sempurna di dunia dan akhirat. Allah akan menolongmu dan pasukanmu atas mereka di dunia dan akhirat.

Selesai
&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 121-122

3 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 121-122“Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: ‘Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya Kami pun berbuat (pula).’ (QS. 11:121) Dan tunggulah (akibat perbuatanmu); sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).’ (QS. 11:122)” (Huud: 121-122)

Allah berfirman seraya menyuruh Rasul-Nya, supaya dia berkata kepada orang orang yang tidak beriman kepada apa yang dia bawa dari Rabbnya, dengan nada mengancam: i’maluu ‘alaa makaanatikum (“Berbuatlah menurut kemampuanmu”) maksudnya di atas jalan dan caramu; innaa ‘aamiluun (“Sesungguhnya Kami pun berbuat pula”) maksudnya atas jalan dan cara kami. Wantadhiruu innaa muntadhiruun (“Dan tunggulah [akibat perbuatanmu]; sesungguhnya kami pun menunggu [pula].”) maksudnya: “Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan.” (QS. Al-An’aam: 135)

Allah telah menepati janji terhadap Rasul-Nya, Allah menolongnya dan menguatkannya dan Allah menjadikan kalimat-Nya adalah yang paling tinggi dan kalimat orang-orang yang kafir adalah rendah, Allah adalah Mahamulia dan Mahabijaksana.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 120

3 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 120“Dan semua kisah dari para Rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud: 120)

Allah berfirman, Kami kabarkan seluruh kisah kepadamu, dari berita-berita para Rasul yang terdahulu sebelummu bersama umat-umatnya dan bagaimana perdebatan dan pertentangan yang terjadi pada mereka, pendustaan juga siksaan yang dirasakan oleh para Nabi dan bagaimana Allah menolong pasukan-Nya, orang-orang yang beriman dan merendahkan musuh-musuh-Nya yang kafir. Semua ini adalah termasuk sesuatu yang Kami buat hatimu teguh. Maksudnya, menjadikan keteguhan dalam hatimu ya Muhammad dengan berita-berita itu, agar menjadi contoh bagimu dari kisah saudaramu para Rasul yang telah lalu.

Dan firman-Nya: wa jaa-aka fii HaadziHil haqqu (“Dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran,”) maksudnya, dalam kebenaran ini ialah, dalam surat ini. Ini adalah perkataan Ibnu `Abbas, Mujahid dan ulama salaf. Telah datang kepadamu kisah-kisah yang sesungguhnya dan berita yang benar, juga nasihat yang membuat orang-orang kafir terpukul dan peringatan yang harus diingatkan oleh orang-orang yang beriman.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 118-119

3 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 118-119“Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Allah menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, (QS. 11:118) kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. 11:119)” (Huud: 118-119)

Allah memberi kabar, bahwasanya Allah mampu untuk menjadikan manusia semuanya menjadi satu umat, baik dalam keimanan atau dalam kekufuran, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya.” (QS. Yunus: 99)

Firman-Nya: walaa yazaaluuna mukhtalifiina. Illaa mar rahima rabbuka (“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.”) Maksudnya, penyimpangan tetap masih terjadi di antara manusia dalam agama mereka, dalam keyakinan mereka, dalam ikutan mereka dan dalam pandangan mereka.

Dan firman-Nya: illaa mar rahima rabbuka (“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.”) Maksudnya, kecuali orang-orang yang dirahmati, yaitu pengikut-pengikut para Rasul yang berpegang teguh kepada perintah agama.

Para Rasul Allah memberi tahu mereka; bahwa langkah mereka masih seperti itu hingga datangnya Nabi (Muhammad saw.), penutup para Rasul dan para Nabi, lalu mereka mengikutinya, membenarkannya dan membelanya, maka mereka meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat karena mereka adalah kelompok yang selamat, sebagaimana telah ada hadits yang diriwayatkan dalam kitab-kitab musnad dan sunan dari berbagai jalur yang saling menguatkan:

“Sesungguhnya, orang-orang Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Dan sesungguhnya, orang-orang Nasrani telah terpecah menjadi tujuhpuluh dua golongan. Dan umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga Tongan yang semuanya di neraka kecuali satu golongan.” Mereka (para sahabat) berkata: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau saw. berkata: “Yaitu, siapa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya (yang mengikutiku dan mengikuti para sahabatku).”

Al-Hakim meriwayatkan dalam mustadraknya dengan tambahan ini. Qatadah berkata: “Kelompok yang mendapatkan rahmat Allah adalah kelompok al Jama’ah (mereka tidak berselisih), meskipun negeri dan badan mereka berpencar-pencar. Dan kelompok yang bermaksiat kepada-Nya adalah kelompok yang berpecah-pecah, meskipun negeri dan badan mereka bersatu.”

Dan firman-Nya: wa lidzaalika khalaqaHum (“Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.”)

Al-Hasan al-Bashri berkata dalam suatu riwayatnya: “Allah menciptakan mereka untuk berbeda-beda.” Makki bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas: “Allah menciptakan mereka dengan dua kelompok, sebagaimana firman-Nya: ‘Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.’” (QS. Huud: 105). Dan dikatakan: “Allah menciptakan mereka untuk dirahmati.”

Firman-Nya: wa tammat kalimatu rabbika la-amla anna jaHannama minal jinnati wan naasi ajma’iin (“Kalimat Rabbmu [keputusan-Nya] telah ditetapkan: ‘Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka jahannam dengan jin dan manusia [yang durhaka] semuanya.’”) Allah Ta’ala mengabarkan, bahwasanya Allah telah mendahulukan keputusan-Nya dan takdir-Nya, karena pengetahuan-Nya yang sempurna dan kebijaksanaan-Nya yang selalu berlaku, bahwa sebagian orang yang Allah ciptakan, ada yang berhak mendapatkan surga dan ada yang berhak mendapatkan neraka dan bahwasanya Allah mesti memenuhi neraka Jahannam dengan dua makhluk ini, yaitu jin dan manusia, Allah mempunyai alasan yang tepat dan kebijakan yang sempurna.

Dalam ash-shahihain, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Surga dan neraka saling berselisih, maka surga berkata: `Mengapa yang masuk kepadaku hanya orang-orang yang lemah dan orang-orang yang berperingkat rendah.’ Dan neraka berkata: `Aku dipenuhi dengan orang orang yang sombong dan penguasa,’ maka Allah berfirman kepada surga: `Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki.’ Dan Allah berkata kepada neraka: `Engkau adalah siksa-Ku, denganmu Aku menyiksa siapa saja yang Aku kehendaki. Setiap salah satu dari kalian berdua, mereka akan memenuhinya. Adapun surga, masih tetap ada di dalamnya tempat yang berlebih, sehingga Allah menciptakan makhluk untuknya yang menempati kelebihan tempat surga tersebut. Dan adapun neraka, ia senantiasa selalu berkata: ‘Apakah ada tambahan, sehingga Rabb yang Mahaperkasa meletakkan kaki-Nya, maka neraka berkata: ‘Cukup-cukup, demi kemulyaan Engkau.’”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 116-117

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 116-117“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan, yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka dan orang-orang yang dhalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (QS. 11:116) Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 11:117)” (Huud: 116-117)

Allah berfirman, apakah tidak ditemukan orang-orang baik dari sisa-sisa generasi terdahulu yang melarang kejahatan, kemungkaran dan kerusakan di muka bumi yang ada di antara mereka. Dan firman-Nya: illaa qaliilan (“Kecuali sebagian kecil.”) Maksudnya, telah ditemukan orang yang mempunyai sifat seperti ini, sedikit dan tidak banyak, mereka adalah orang-orang yang diselamatkan Allah di saat datang kemarahan-Nya dan tibanya siksaan-Nya, maka dari itu Allah menyuruh umat yang mulia ini, supaya ada di antara mereka yang menyeru kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-`Imran: 104)

Untuk itu Allah berfirman: falau laa kaana minal quruuni min qablikum uluu baqiyyatiy yanHauna ‘anil fasaadi fil ardli illaa qaliilam mimman anjainaa minHum (“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan, yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.”)

Dan firman-Nya: wat taba’al ladziina dhalamuu maa ut-rifuu fiiHi (“Dan orang-orang yang dhalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka.”) Maksudnya, mereka selalu berada dalam perbuatan maksiat dan perbuatan mungkar dan tidak ada orang-orang yang menegur perbuatan ingkar mereka itu sampai adzab datang kepada mereka dengan serentak.

Wa kaanuu mujrimiin (“Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa,”) kemudian Allah Ta’ala memberitakan, bahwasanya Allah tidak membinasakan suatu negeri kecuali negeri itu berbuat dhalim terhadap dirinya sendiri (melakukan maksiat). Dan adzab-Nya tidak menimpa suatu negeri yang baik (penduduknya orang-orang yang baik), kecuali mereka (penduduknya) sudah menjadi orang-orang yang dhalim.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 114-115

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 114-115“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS. 11:114) Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 11:115)” (Huud: 114-115)

`Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: wa aqiimush shalaata tharafayin naHaari (“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dari petang]”) ia berkata: “Yakni shubuh dan maghrib,” begitu juga yang dikatakan oleh al-Hasan dan `Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam.

Al-Hasan berkata dalam riwayat Qatadah, adh-Dhahhak dan lain-lainnya: “Ia adalah shubuh dan ashar.” Dan Mujahid berkata: la adalah shubuh pada awal siang dan selanjutnya zhuhur dan ashar.”

Wa zulafam minal lail (“Dan pada bahagian permulaan daripada malam.”) Ibnu `Abbas, Mujahid, al-Hasan dan lain-lainnya berkata: “Yaitu shalat isya.”
Al-Hasan berkata dalam riwayat Ibnul Mubarak, dari Mubarak bin Fadhalah, darinya: Wa zulafam minal lail (“Dan pada bahagian permulaan daripada malam.”) yakni maghrib dan isya’.

Kemungkinan ayat ini turun sebelum diwajibkannya shalat lima waktu pada malam Isra’, karena sesungguhnya shalat yang diwajibkan hanyalah dua, yaitu shalat sebelum terbit matahari dan shalat setelah terbenamnya matahari. Pada pertengahan malam, wajib atasnya dan juga umatnya melaksanakan shalat qiyamul lail, lalu dihapuskan kewajiban tersebut dari umatnya, akan tetapi tetap kewajiban itu untuk beliau, juga ada yang berpendapat, dihapuskan pula kewajiban itu atas beliau setelah itu. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aat (“Sesungguhnya perbuatan perbuatan yang baik menghapuskan [dosa] perbuatan perbuatan yang buruk.”) Allah berfirman: “Sesungguhnya melakukan kebaikan adalah menghapus dosa-dosa yang telah lewat.”

Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ahli hadits dari Amirul Mukminin `Ali bin Abi Thalib, ia berkata: “Dulu aku mendengar suatu hadits dari Rasululah saw, maka Allah memberiku manfaat darinya dengan sebaik-baik manfaat, jika seseorang membicarakan hadits kepadaku, aku meminta ia untuk bersumpah. Dan jika ia telah bersumpah, aku mempercayainya. Abu Bakar membicarakan hadits kepadaku dan ia adalah seorang yang jujur, bahwasanya ia telah mendengar Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang muslim yang melakukan dosa, kemudian ia berwudhu dan shalat dua rakaat, melainkan ia diampuni.”

Dalam ash-shahihain dari Amirul Mukminin `Utsman bin ‘Affan bahwasanya dia berwudhu seperti wudhunya Rasulullah di hadapan para sahabat, kemudian dia berkata: “Beginilah aku melihat Rasulullah berwudhu dan beliau saw. bersabda: ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku, kemudian ia shalat dua rakaat yang ia tidak membicarakan dirinya dalam shalatnya, maka diampuni dosanya yang telah lewat.’”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Ja’far bin Jarir dari hadits Abu ‘Uqail Zahrah bin Ma’bad, bahwasanya dia mendengar al-Harits, budak yang dimerdekakan `Utsman, ia berkata: `Utsman pada suatu hari sedang duduk, kemudian kami duduk bersamanya, lalu datanglah seorang muadzdzin kepadanya, maka dia meminta air dalam bejana, saya kira air itu sebanyak mud, lalu dia berwudhu, kemudian berkata: “Aku telah melihat Rasulullah berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau besabda: ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian berdiri dan melakukan shalat dhuhur, maka ia diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat dhuhur dan shalat shubuh. Kemudian ia shalat ashar, maka diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat ashar dan shalat dhuhur. Kemudian ia shalat maghrib, maka diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat maghrib dan shalat ashar. Kemudian ia shalat isya’, maka diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat isya’ dan shalat maghrib. Kemudian barangkali ia mengotori kehormatannya pada malam harinya, kemudian jika ia bangun lalu berwudhu dan shalat shubuh, maka ia diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat shubuh dan isya’ dan itu semua adalah kebaikan yang menghapus keburukan.”

Dalam ash-shahih dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw, bahwasanya beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian, jika di pintu salah seorang di antara kalian ada sungai yang banyak airnya, ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apakah kotorannya masih ada yang tersisa?” Para sahabat menjawab: “Tidak wahai Rasulullah,” beliau bersabda: “Begitu juga shalat lima waktu, Allah akan menghapuskan dosa-dosa kesalahan-kesalahan dengannya.”

Muslim berkata dalam shahihnya dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda: “Shalat lima waktu, Jum’at hingga jum’at, Ramadhan hingga Ramadhan adalah menghapus dosa-dosa yang ada di antara keduanya selama dosa-dosa besar dihindari (dijauhi).”

Imam Ahmad berkata dari Syuraih bin `Ubaid, bahwa Ibrahim as-Sam’i pernah bercerita, bahwa Abu Ayyub al-Anshari bercerita kepadanya, bahwasanya Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya setiap shalat menghapus kesalahan yang ada di hadapannya.”

Abu Ja’far bin Jarir berkata dari Abu Malik al-Asy’ari dia berkata, Rasulullah bersabda: “Shalat itu dijadikan sebagai pelebur dosa yang ada di antaranya. Karena sesungguhnya Allah swt. berfirman: innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aat (“Sesungguhnya perbuatan perbuatan yang baik menghapuskan [dosa] perbuatan perbuatan yang buruk.”)”

Imam al-Bukhari berkata dari Ibnu Mas’ud, bahwa seorang laki-laki telah mencium seorang perempuan, maka datanglah ia kepada Nabi saw. dan mengabarinya. Maka Allah menurunkan: wa aqiimish shalaata tharafayin naHaari wa zulafam minal laili innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aat (“”Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk.”) Maka berkatalah seorang laki-laki itu: “Wahai Rasulullah, apakah ini hanya untukku?” Beliau menjawab: “Untuk umatku semuanya.” Begitulah ia meriwayatkannya dalam kitab ash-shalah dan juga dalam bab at-tafsir dari Musaddad, dari Zaid bin Zurai’ dengan hadits yang sama. Imam Muslim, Imam Ahmad dan ahlus sunan juga meriwayatkannya, kecuali Abu Dawud.

Imam Ahmad, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Jarir meriwayatkannya dengan lafazh dari berbagai jalur, dari Sammak bin Harb, bahwasanya dia mendengar Ibrahim bin Yazid meriwayatkan dari ‘Alqamah dan al-Aswad, dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menemukan seorang perempuan di suatu kebun, lalu aku berbuat dengannya segala sesuatu, hanya aku tidak menyetubuhinya, aku menciumnya dan memeluknya dan aku tidak
melakukan selain itu, maka lakukanlah terhadapku apa yang engkau mau.’

Maka Rasulullah tidak berkata apa pun kepadanya, lalu orang laki-laki itu pergi. Maka `Umar berkata: `Sungguh Allah menutupinya, jika ia menutupi perbuatan dirinya.’ Maka Rasulullah mengarahkan pandangan kepadanya, kemudian berkata: `Kembalikanlah ia kepadaku,’ lalu mereka (para sahabat) membawanya kembali ke hadapannya dan beliau membacakan kepadanya: wa aqiimish shalaata tharafayin naHaari wa zulafam minal laili innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aati dzaalika dzikraa lidz dzaakiriin (“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”)

Maka Mu’adz berkata, -riwayat lain mengatakan- Umar: ‘Wahai Rasulullah, apakah (berita ini) hanya untuknya seorang atau untuk semua manusia?’ Maka beliau berkata: ‘Untuk manusia semuanya.’”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 112-113

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 112-113“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat besertamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 11:112) Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang dhalim yang menyebabkanmu disentuh api neraka dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (QS. 11:113)” (Huud: 112-113)

Allah memerintahkan Rasul dan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk teguh dan selalu tetap dalam istiqamah, itu merupakan sebab yang dapat memberikan pertolongan yang besar dalam meraih kemenangan atas musuh-musuh dan dapat menghindari bentrokan serta dapat terhindar dari perbuatan melampaui batas, karena melampaui batas itu merupakan kehancuran, meskipun terhadap orang musyrik dan Allah memberi tahu bahwa Allah adalah Mahamelihat kepada perbuatan hamba-hamba-Nya, Allah tidak lalai dan tidak tersamar sedikit pun (dari-Nya).

Firman-Nya: walaa tarkanuu ilal ladziina dhalamuu (“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang dhalim.”)

`Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: “Janganlah kamu bermanis mulut.” Abul `Aliyah berkata: “Janganlah kamu rela dengan perbuatan mereka.” Ibnu Jarir berkata dari Ibnu `Abbas: “Janganlah kamu tertarik kepada orang-orang yang dhalim.” Ucapan ini adalah baik, maksudnya; “Janganlah kalian meminta tolong dengan kedhaliman, maka seolah-olah kamu rela dengan perbuatan mereka.”

Fatamassakumun naaru wa maa lakum min duunillaaHi min auliyaa-a tsumma laa tunsharuun (“Yang menyebabkan kamu disentuh api neraka dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”)
Maksudnya, kamu tidak mempunyai penolong yang menyelamatkan dan menolong kamu dari siksa-Nya selain Allah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 109-111

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 109-111“Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang diibadahi oleh mereka. Mereka tidak beribadah melainkan sebagaimana nenek-moyang mereka beribadah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikit pun. (QS. 11:109) Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepadaMusa, lalu diperselisihkan tentang Kitab itu. Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara inereka. Dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Makkah) dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap al-Qur’an. (QS. 11:110) Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Rabbmu akan menyempurnakan dengan cukup, (balasan) pekerjaan mereka. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. 11:111)” (Huud: 109-111)

Allah berfirman: falaa taku fii miryatim mimmaa ya’budu Haa-ulaa-i (“Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang diibadahi oleh mereka.”) Orang-orang musyrik, sesungguhnya apa yang mereka ibadahi itu merupakan suatu kebathilan, kebodohan dan kesesatan, karena mereka hanyalah beribadah kepada apa yang diibadahi oleh bapak-bapak mereka sebelumnya, maksudnya mereka tidak mempunyai pegangan dalam apa yang mereka kerjakan kecuali hanyalah mengikuti bapak-bapak mereka dalam kebodohan dan Allah akan membalas perbuatan mereka dengan balasan yang paling sempurna, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang tidak pernah disiksakan kepada seorang pun, meskipun mereka mempunyai kebaikan dan Allah telah membalasnya di dunia sebelum di akhirat.

Sufyan ats-Tsauri berkata dari Jabir al-Ju’fi, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas: wa innaa lamuwaffuuHum nashiibaHum ghaira manquush (“Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan terhadap mereka tidak dikurangi sedikitpun.”) ia berkata: “Yaitu sesuatu yang dijanjikan kepada mereka, baik berupa kebaikan maupun keburukan.”

`Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Sungguh Kami menimpakan siksaan sebagai adzab bagi mereka tanpa dikurangi.” Lalu Allah menyebutkan tentang diberikannya Musa al-Kitab (Taurat), maka manusia ketika itu saling berbeda pendapat dalam menanggapi al-Kitab tersebut, sebagian orang mau beriman dan sebagian lagi menolaknya. Dengan demikian, hal sebagai contoh bagimu terhadap kejadian-kejadian para Nabi sebelummu nereka juga(mereka juga banyak yang mendustakan), maka pendustaan-pendustaan dari umatmu ya Muhammad, jangan membuatmu panik (emosi) dan jangan membuatmu bimbang.

Wa lau laa kalimatun sabaqat mir rabbika laqudliya bainaHum (“Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka.”) Ibnu Jarir berkata: “Seandainya penangguhan siksa belum diputuskan dalam waktu yang telah ditentukan, niscaya Allah menurunkan siksa di antara mereka dan dimungkinkan bahwa yang dimaksud dengan kata “al-kalimah”, bahwasanya Allah tidak menyiksa seseorang kecuali setelah Allah mendirikan hujjah dan mengutus seorang Rasul kepadanya, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” (QS. Al-Israa’: 15)

Allah telah berfirman di ayat lain yang artinya: “Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada yang telah ditentukan, pasti (adzab) itu menimpa mereka. Maka sabarlah kamu atas yang mereka katakan.” (QS. Thaahaa: 129-130)

Kemudian, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Allah akan mengumpulkan dari mulai manusia yang pertama sampai manusia yang terakhir dan Allah akan membalas amal-amal mereka. Jika baik, dibalas dengan kebaikan dan jika uruk dibalas dengan keburukan, maka Allah berfirman: wa inna kulla lammaa layuwaffiyannaHum rabbuka a’maalaHum innaHuu bimaa ya’lamuuna khabiir (“Dan sesungguhnya kepada masing-masing [mereka yang berselisih itu] pasti Rabbmu akan menyempurnakan dengan cukup, (balasan) pekerjaan mereka. “Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan.” Maksudnya, Allah Mahamengetahui tentang amal perbuatan mereka semua, baik yang bernilai tinggi maupun yang bernilai rendah, baik kecil maupun besar.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 108

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 108“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya adalah di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali Rabbmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Huud: 108)

Allah berfirman: wa ammal ladziina su’iduu (“Adapun orang-orang yang bahagia”) mereka adalah para pengikut Rasul. Fa fil jannati (“maka tempatnya adalah surga”) maksudnya tempat mereka adalah surga. Khaalidiina fiiHaa (“mereka kekal di dalamnya”) maksudnya mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya. maa daamatis samaawaatu wal ardlu illaa maa syaa-a rabbuka (“selama ada langit dan bumi. Kecuali jika Rabbmu menghendaki lain.”) Arti pengecualian di sini adalah, bahwa keabadian mereka dalam kenikmatan bukanlah sesuatu yang harus dilakukan oleh Allah , akan tetapi hal itu adalah diserahkan kepada kehendak Allah Ta’ala, maka hak Allahlah pemberian anugerah yang terus-menerus kepada mereka, maka dari itu mereka diilhami untuk bertasbih dan bertahmid sebagaimana mereka bernafas.

Adh-Dhahhak dan al-Hasan al-Bashri berkata: “Ayat itu menjelaskan tentang hak orang-orang ahli maksiat yang bertauhid yang semula mereka berada di neraka, kemudian dikeluarkan darinya, maka Allah melanjutkan firman-Nya: ‘athaa’an ghaira majdzuudz (“Sebagai karunia yang tiada putus putusnya”) maksudnya, tidak terputus.” Mujahid, Ibnu `Abbas, Abul `Aliyah dan yang lainnya mengatakan tentang ini (yaitu ayat: ‘Karunia yang tiada putus putusnya’)

Untuk tidak menjadikan keraguan (untuk meyakinkan) bagi orang-orang yang ragu setelah adanya pengecualian kehendak Allah, yang mana di sana menggambarkan adanya keterputusan, atau adanya kesamaran atau sesuatu pengertian yang lain. Akan tetapi dengan adanya keterangan ayat yang terakhir itu, menjelaskan bahwa Allah menekankan adanya kesinambungan dan tidak keterputusan, sebagaimana pula Allah menjelaskan di sana, bahwa adzab ahli neraka di dalamnya, kekal selama-lamanya. Kekekalan ini tertolak dengan adanya pengecualian kehendak-Nya.

Sesungguhnya Allah Ta’ala dengan keadilan-Nya dan kebijaksanaan-Nya telah mengadzab mereka, itulah sebabnya Allah berfirman: inna rabbaka fa’-‘aalul limaa yuriid (“Sesungguhnya Rabbmu berbuat terhadap apa yang Dia kehendaki.”) Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 23)

Di sini, Allah Ta’ala menenteramkan hati dan menetapkan maksud dengan firman-Nya, ‘athaa’an ghaira majdzuudz (“Sebagai karunia yang tiada putus putusnya”) Telah ada hadits dalam ash-shahihain:
“Kematian didatangkan dengan bentuk kambing yang indah rupanya, kemudian ia disembelih antara surga dan neraka, kemudian dikatakan; ‘Wahai ahli surga, kekal-lah, tidak ada kematian. Dan wahai ahli neraka, kekal-lah tidak ada kematian.’”

Dan di dalam shahihain juga:
“Maka dikatakan; `Wahai ahli surga, sesungguhnya kamu akan hidup dan tidak akan mati selama-lamanya dan kamu akan selalu muda dan tidak akan tua selama-lamanya dan kamu akan sehat dan tidak sakit selama-lamanya dan kamu akan (merasa) menikmati dan tidak akan (merasa) kesulitan selama-lamanya.” (HR. Muslim, kitab al Jannah bab fii Dawaam na’iimi Ahlil Jannah)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 106-107

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 106-107“Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan nafas dan menariknya dengan (merintih), (QS. 11:106) mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabbmu Mahapelaksana terhadap apa yang Dia dikehendaki. (QS. 11:107)” (Huud: 106-107)

Allah Ta’ala berfirman: laHum fiiHaa zafiiruw wa saHiiq (“Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih].”) Ibnu `Abbas berkata: “Az-Zafair tempatnya di tenggorokan dan asy-SyaHiiq tempatnya di dada, maksudnya, mereka mengeluarkan nafas dengan merintih dan menarik nafas dengan sesak, karena siksaan yang menimpa mereka, semoga Allah melindungi kita dari siksa itu.

Khaalidiina fiiHaa maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi.”) Imam Abu Ja’far bin Jarir berkata: “Kebiasaan orang Arab, jika hendak memberi sifat kepada sesuatu dengan sifat abadi, mereka selalu berkata: ‘Ini kekal seperti kekalnya langit dan bumi,’ begitu juga mereka berkata: ‘Ia adalah tetap selama malam dan Siang silih berganti,’ dan ‘selama orang yang begadang berbicara sepanjang malam,’ juga `selama keledai menggerakkan ekornya,’ bahwa yang dimaksud dengan semua itu adalah abadi, Allah yang Mahaterpuji berbicara kepada mereka dengan sesuatu yang mereka saling mengetahuinya.

Maka Allah berfirman: Khaalidiina fiiHaa maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi.”) Aku (Ibnu Katsir) berkata: “Dan bisa juga yang dimaksud dengan ‘selama langit dan bumi masih ada’ adalah jenisnya, karena di alam akhirat ada langit dan bumi.” Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “[Yaitu] pada hari [ketika] bumi diganti dengan bumi yang lain dan [demikian pula] langit.”) (QS. Ibrahim: 48)

Untuk itu al-Hasan al-Bashri berkata tentang firman-Nya: maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“selama ada langit dan bumi.”) ia berkata: yang bukan langit ini dan bumi yang bukan bumi ini, karena langit dan bumi itu adalah tidak kekal.”

Ibnu Abi Hatim berkata, disebutkan dari Sufyan bin Husain dari al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu `Abbas, bahwa firman-Nya: maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“selama ada langit dan bumi.”) Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Bahwa senantiasa bumi adalah bumi dan langit adalah langit.”

Firman-Nya: illaa maasyaa-a rabbuka inna rabbaka fa’-‘al limaa yuriid (“Kecuali jika Rabbmu menghendaki [yang lain]. Sesungguhnya Rabbmu Mahapelaksana terhadap apa Allah kehendaki.”) Seperti firman-Nya yang artinya: “Neraka itu tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali jika Allah menghendaki (yang lain) Sesungguhnya Rabbmu Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.” (QS. Al-An’aam: 128)

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud dari pengecualian ini, mereka mempunyai banyak pendapat, hal ini menurut Syaikh Abu: Faraj bin al-Jauzi dalam kitabnya “Zadul Masir” dan ulama-ulama tafsir lainnya. Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullah telah banyak menukilnya dalam kitabnya dan ia memilih pendapat yang dinukilnya dari Khalid bin Ma’dan, adh-Dhahhak, Qatadah dan Ibnu Sinan.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu `Abbas dan juga al-Hasan, bahwa pengecualian itu adalah kembali kepada ahli maksiat dari ahli tauhid, yaitu orang-orang yang dikeluarkan oleh Allah dari neraka dengan syafaatnya orang yang memberi syafa’at, yaitu Para Malaikat, Para Nabi dan orang-orang mukmin, hingga mereka memberi syafa’at kepada para pelaku dosa besar.
Kemudian, datanglah rahmat Allah yang Mahapenyayang, maka dikeluarkanlah orang yang tidak melakukan kebaikan sama sekali dan ia berkata: “Suatu dalam suatu masa: `Laa Ilaaha Illallaah’.” Sebagaimana telah diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih yang masyhur dari Rasulullah tentang dari hadits Anas, Jabir, Abu Said, Abu Hurairah dan sahabat-sahabat lainnya, yaitu: “Tidak ada dalam neraka setelah itu, kecuali orang yang harus kekal di dalamnya dan yang tidak ada keringanan lama sekali baginya.”

Qatadah berkata: “Allah lebih mengetahui dengan kandungannya.”

Bersambung