Tag Archives: syarah

Keotentikan Sumber ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Hal ini ‘aqidah Ahlus sunnah semata-mata hanya bersandarkan kepada al-Qur’an, hadits, dan ijma’ para ulama salaf serta penjelasan dari mereka. ciri ini tidak terdapat pada aliran-aliran mutakallimin (pengagung ilmu kalam), ahli bid’ah, dan kaum shufi yang selalu bersandar kepada akal dan pemikiran atau kepada kasyaf, ilham, wujud dan sumber-sumber lain yang berasal dari manusia yang lemah. Mereka jadikan hal tersebut sebagai patokan atau sandaran di dalam masalah-masalah yang ghaib.

Sedangkan ahlus sunnah wal jama’ah selalu berpegang teguh kepada al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw., ijma’ salafus shalih dan penjelasan-penjelasan dari mereka. jadi, aqidah apa saja yang bersumber dari selain al-Qur’an, hadits, ijma’ salaf, dan penjelasan mereka itu, maka termasuk kesesatan dan kebid’ahan.

&

Kaidah Keenam: “Dalil ‘aqli (akal) yang Benar akan Sesuai dengan Dalil Naqli (Nash yang Shahih)

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Kata ‘aql dalam bahasa Arab (etimologi) mempunyai beberapa arti, di antaranya: ad-Diyah [benda], al-Hikmah [kebijaksanaan], husnut tasharruf [tindakan yang baik atau tepat]. Secara istilah (terminologi): ‘Aql [selanjutnya dituli akal] digunakan untuk dua pengertian:
1. Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia.
2. Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang.

Akal merupakan ‘ardh atau bagian dari indera yang ada dalam diri manusia yang bisa ada dan bisa hilang. Sifat ini dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam salah satu sabdanya: “…dan orang gila sampai ia kembali berakal.” (HR Abu Dawud [no.4403]. lihat shahih Sunan Abi Dawud [III/832, no. 3703] dan Irwaa-ul Ghaliil [II/5-6])

Akal adalah daya fikir yang diciptakan Allah [untuk manusia] kemudian diberi muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktifitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan oleh Allah.

Firman Allah: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan…” (al-Israa’: 70)

Syari’at Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. Hal itu dapat dilihat pada beberapa point berikut:

1. Pertama, Allah hanya menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal, karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya.

Firman Allah: “…Dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Shaad: 43)

2. Kedua, akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif [beban hukum] dari Allah swt. Hukum-hukum syariat tidak berlaku bagi mereka yang tidak menerima taklif. Di antara yang tidak menerima taklif itu adalah orang gila karena kehilangan akalnya.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Pena [catatan pahala dan dosa] diangkat [dibebaskan] dari tiga golongan: orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia bermimpi [baligh], dan dari orang gila sampai ia kembali berakal [sadar].”

3. Ketiga, Allah mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. Misalnya celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya:
“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan [peringatan itu] niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (al-Mulk: 10)

4. Keempat, penyebutan begitu banyak proses dan anjuran berfikir dalam al-Qur’an, seperti tadabbur, tafakkur, ta-aqqul dan lainnya.

5. Kelima, Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. Firman Allah: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (al-Baqarah: 170)

Perbedaan antara taqlid dan ittiba’ adalah sebagaimana telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal: “Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa-apa yang datang dari Rasulullahsaw.”

Ibnu ‘Abdil Barr (wafat 463) dalam kitabnya, Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, menerangkan perbedaan antara ittiba’ (mengikut) dan taklid, yaitu terletak pada dalil-dalil qath’i yang jelas. Bahwa ittiba’ yaitu penerimaan riwayat berdasarkan diterimanya hujjah, sedangkan taqlid adalah penerimaan yang berdasarkan pemikiran logika semata.

Berkata Ibnu Khuwaiz Mindad al-Maliki (namanya: Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdillah, wafat th. 390 H): “Makna taqlid secara syar’i adalah merujuk kepada perkataannya yang tidak ada hujjah (dalil) dari orang yang mengatakannya. Dan makna ittiba’ yaitu mengikuti apa-apa yang berdasarkan atas hujjah (dalil) yang tetap. Ittiba’ diperkenankan dalam agama, namun taqlid dilarang.”

Jadi definisi taqlid adalah: menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi dalil.

6. Keenam, Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan mengikuti kebenaran.

Firman Allah: “….sebab itu sampaikanlah berita (gembira) itu kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (az-Zumar: 17-18)

7. Ketujuh, pembatasan wilayah kerja akal dan fikiran manusia, sebagaimana firman Allah: “Mereka bertanya kepamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu adalah urusan Rabbku. Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit.’” (al-Israa’: 85)

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (ThaaHaa: 110)

Ulama salaf (ahlus sunnah) senantiasa mendahulukan naql (wahyu) atas ‘aql (akal). Naql adalah dalil-dalil syar’i yang tertuang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedangkan yang dimaksud dengan akal menurut Mu’tazilah adalah, dalil-dalil ‘aql yang dibuat oleh para ulama ilmu kalam dan mereka jadikan sebagai agama yang menundukkan (mengalahkan) dalil-dalil syar’i.

Mendahulukan dalil naql atas akal bukan berarti Ahlus Sunnah tidak menggunakan akal. Tetapi maksudnya adalah dalam menetapkan ‘aqidah mereka tidak menempuh cara seperti yang ditempuh para ahli kalam yang menggunakan akal semata untuk memahami masalah-masalah yang sebenarnya tidak dapat dijangkau oleh akal dan menolak dalil naqli (dalil syar’i) yang bertentangan dengan akal mereka atau rasio mereka.

Imam Abul Mudzaffar as-Sam’ani (wafat 498 H) berkata: “Ketahuilah, bahwa madzab Ahlus Sunnah mengatakan bahwa akal tidak mewajibkan sesuatu bagi seseorang dan tidak melarang sesuatu darinya, serta tidak ada hak baginya untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, sebagaimana juga tidak ada wewenang baginya untuk menilai ini baik atau buruk. Seandainya tidak datang kepada kita wahyu, maka tidak ada bagi seseorang suatu kewajiban agama pun dan tidak ada pula yang namanya pahala dan dosa.”

Secara ringkas pandangan Ahlus Sunnah tentang penggunaan akal, di antaranya sebagai berikut:
1. Syariat didahulukan atas akal, karena syariat itu ma’sum sedang akal tidak ma’shum.
2. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global, tidak bersifat detail.
3. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan syariat
4. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang bertentangan dengan syariat
5. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib, haram dan seterusnya) adalah hak prerogatif syariat
6. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu, walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk
7. Batasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh syariat.
Firman Allah: “…Dan Kami tidak akan mengadzab hingga Kami mengutus seorang Rasul.” (al-Israa’: 15)
8. Janji surga dan ancaman neraka sepenuhnya ditentukan oleh syariat
9. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah yang ditentukan oleh akal kita kepada-Nya. karena Allah berfirman tentang diri-Nya: “Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (al-Buruuj: 16)

Dari sini dapat dikatakan bahwa keyakinan Ahlus Sunnah adalah benar dalam masalah penggunaan akal sebagai dalil. Jadi akal dapat dijadikan dalil jika sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dan tidak bertentangan dengan keduanya. Jika bertentangan dengan keduanya, maka ia dianggap bertentangan dengan sumber dan dasarnya. Keruntuhan pondasi berarti juga keruntuhan bangunan yang ada di atasnya. Sehingga akal tidak lagi menjadi hujjah (argumen, alasan) namun berubah menjadi dalil yang bathil.”

&

Kaidah Kedua: “Setiap Sunnah yang Shahih, yang Berasal dari Rasulullah saw. Wajib Diterima, Walaupun Sifatnya Ahad.”

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Hadits ahad adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits Mutawatir atau tidak memenuhi sebagian dari syarat-syarat mutawatir. (lihat an-Nkat ‘alaa Nuz-hatin Nadzar Syarah Nukhbatil Fikr [hal 70-71] oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan bin’Ali al-Atsari)

Para ulama ummat ini pada setiap generasi, baik yang mengatakan bahwa hadits ahad menunjukkan ilmu yakin maupun yang berpendapat bahwa hadits ahad menunjukkan dhann, mereka berijma’ [sepakat] atas wajibnya mengamalkan hadits ahad. Tidak ada yang berselisih di antara mereka, kecuali kelompok kecil yang tidak masuk hitungan, seperti Mu’tazilah dan Rafidhah. (lihat Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah [1/112] oleh Dr. Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-‘Aqiil)

Syaikh Muhammad al-Amin bin Muhammad Mukhtar asy-Syinqithi (wafat 1393 H) mengatakan: “Ketahuilah, bahwa penelitian yang tidak boleh menyimpang dari hasilnya bahwa hadits ahad yang shahih harus diamalkan untuk masalah-masalah Ushuluddin, sebagaimana ia diambil dan diamalkan untuk masalah-masalah hukum/furu’. Maka, apa yang datang dari Rasulullah saw. dengan sanad yang shahih mengenai sifat-sifat Allah, wajib diterima dan diyakini dengan keyakinan bahwa sifat-sifat itu sesuai dengan ke-Mahasempurnaan dan ke-Mahaagungan-Nya sebagaimana firman-Nya: “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syuura: 11)

Dengan demikian, anda menjadi tahu bahwa penerapan para ahli kalam dan pengikutnya bahwa hadits-hadits ahad itu tidak bisa diterima sebagai dalil dalam masalah-masalah aqidah seperti tentang sifat-sifat Allah, karena hadits-hadits ahad itu tidak menunjukkan pada hal yang yakin melainkan kepada dhann (dugaan) sementara aqidah itu harus mengandung keyakinan. Ucapan mereka itu adalah batil dan tertolak. Dan cukuplah sebagai bukti dari kebatilannya bahwa pendapat ini mengharuskan menolak riwayat-riwayat shahih yang datang dari Nabi saw. berdasarkan hukum akal semata.” (Mudzakkirah fii Ushuulil Fiqh [hal 124] cet III/ Maktabatul ‘Ulum wal Hikam, th. 1425 H)

Rasulullah saw. adalah pemakai bahasa Arab terbaik dan terfasih, beliau telah dikaruniai jawaami’ul kalim (kemampuan mengungkap kalimat ringkas dengan makna yang padat, kalimat sarat makna) dan ditugaskan untuk menyampaikannya. Dengan begitu, tidaklah dapat dibayangkan –baik secara syar’i maupun ‘aqli- bahwa beliau saw. akan membiarkan masalah ‘aqidah menjadi samar dan penuh syubhat, sebab ‘aqidah merupakan bagian terpenting dari seluruh rangkaian ajaran agama. Sehingga bila beliau menjelaskan masalah furu secara detail, mustahil beliau saw. tidak melakukan hal yang sama pada masalah ushul (pokok).

Rasulullah saw. sudah menjelaskan masalah ushul (‘aqidah) dengan detail (rinci) dengan sejelas-jelasnya. Karena itu seorang Muslim wajib menerima apa yang datang dari Rasulullah saw. meskipun derajat haditsnya adalah ahad, tidak mencapai mutawatir. Imam Ahmad berkata: “Barangsiapa yang menolak hadits Nabi saw. maka ia berada di tepi jurang kebinasaan.” (al-Ibaanah libni Baththah [I/260 no. 97].

&

Kaidah dan Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam Mengambil dan Menggunakan Dalil

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

1. Sumber ‘aqidah adalah Kitabullah (al-Qur’an), Sunnah Rasulullah yang shahih, dan ijma’ Salafush Shalih.

2. Setiap sunnah yang shahih, yang berasal dari Rasulullah saw. wajib diterima, walaupun sifatnya ahad.
Firman Allah: “… Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah…” (al-Hasyr: 7)

3. Yang menjadi rujukan dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah adalah nash-nash (teks al-Qur’an maupun hadits) yang menjelaskannya, pemahaman Salafush Shalih dan para Imam yang mengikuti jejak mereka, serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Jika hal tersebut telah benar, maka tidak dipertentangkan lagi dengan hal-hal yang sifatnya berupa kemungkinan menurut bahasa.

4. Prinsip-prinsip utama dalam agama (ushuluddin), semua telah dijelaskan oleh Nabi saw. Siapapun yang tidak berhak untuk mengadakan sesuatu yang baru, yang tidak ada contohnya sebelumnya, apalagi sampai menyempurnakan agama-Nya, wahyu telah terputus dan kenabian telah ditutup, sebagaimana firman Allah:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridlai Islam itu menjadi agama bagimu.” (al-Maaidah: 3)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalannya tertolak.”

5. Berserah diri (taslim), patuh, dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan batin. Tidak menolak sesuatu dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih, (baik menolaknya itu) dengan qiyas (analogi), perasaan, kasfy (iluminasi atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib), ucapan seorang syaikh, ataupun pendapat-pendapat imam-imam dan lainnya.

Firman Allah: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisaa’: 65)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (al-Hasyr: 7)

6. Dalil ‘aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli (nash yang shahih). Sesuatu yang qath’i (pasti) dari kedua dalil tersebut, tidak akan bertentangan selamanya. Apabila sepertinya ada pertentangan di antara keduanya, maka dalil naqli (ayat maupun hadits) harus didahulukan.

7. Rasulullah saw. adalah ma’shum (dipelihara Allah dari kesalahan) dan para shahabat secara keseluruhan dijauhkan Allah dari bersepakat di atas kesesatan, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah melindungi ummatku dari berkumpul (bersepakat) di atas kesesatan.” (HR Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitaabus Sunnah [82], dari shahabat Ka’ab bin ‘Ashim al-‘Asy’ari. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahihain [1331])

Namun secara individu, tidak ada seorangpun dari mereka yang ma’shum. Jika ada perbedaan pendapat di antara para Imam atau yang selain mereka, maka perkara tersebut dikembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. dengan memaafkan orang yang keliru dan berprasangka baik bahwa ia adalah orang yang berijtihad.

8. Bertengkar dalam masalah agama itu tercela, akan tetapi mujadalah (berbantahan) dengan cara yang baik itu masyru’ah (disyariatkan). Dalam hal yang telah jelas (ada dalil dan keterangannya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah) dilarang berlarut-larut dalam pembicaraan panjang tentangnya, maka wajib mengikuti ketetapan dan menjauhi larangannya, wajib menjauhi diri untuk berlarut-larut dalam pembicaraan yang memang tidak ada ilmu bagi seorang Muslim tentangnya (misalnya tentang sifat Allah, qadla’ dan qadar, tentang ruh dan lainnya, yang ditegaskan bahwa itu termasuk urusan Allah swt.). selanjutnya sudah selayaknya menyerahkan hal itu kepada Allah swt.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah sesat suatu kaum setelah Allah memberikan petunjuk atas mereka kecuali mereka suka berbantah-bantahan.” Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat: “…Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (az-Zukhruf: 58) (HR Tirmidzi [3253])

9. Kaum Muslimin wajib senantiasa mengikuti manhaj (metode) al-Qur’an dan as-Sunnah dalam menolak sesuatu, dalam hal ‘aqidah dan dalam menjelaskan suatu masalah. Oleh karena itu, suatu bid’ah tidak boleh dibahas (dibantah) dengan bid’ah lagi, kekurangan tidak boleh dibantah dengan berlebih-lebihan atau sebaliknya. (maksud dari pernyataan ini adalah tentang bid’ahnya Jahmiyyah yang menafikan [meniadakan] sifat-sifat Allah, dibantah oleh Musyabbihah [Mujassimah] yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, dll)

10. Setiap perkara baru yang tidak ada sebelumnya di dalam agama adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR An-Nasa’i [III/189] dengan sanad yang shahih)

Firman Allah: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang Amat pedih.” (asy-Syuura: 21)

&

Hukum Bid’ah dalam Agama Islam

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sesungguhnya agama Islam sudah sempurna sejak wafatnya Rasulullah saw. Allah berfirman: “..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridlai Islam itu jadi agama bagimu…” (al-Maa-idah: 3)

Rasulullah saw. telah menyampaikan semua risalah, tidak ada satu pun yang ditinggalkan. Beliau telah menunaikan amanah dan menasehati ummatnya. Kewajiban seluruh ummat mengikuti petunjuk Nabi Muhammad saw. karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad saw. dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan. Wajib bagi seluruh ummat untuk mengikuti beliau dan tidak berbuat bid’ah serta tidak mengadakan perkara-perkara yang baru karena setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.

Tidak diragukan lagi bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan haram, berdasarkan sabda Nabi saw.: “Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perakara baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Dawud)

“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak,” (HR Bukhari – Muslim)

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa perkara baru yang dibuat-buat dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat dan tertolak. Bid’ah dalam agama ini diharamkan. Namun tingkat keharamannya berbeda-beda tergantung jenis bid’ah itu sendiri.

Ada bid’ah yang menyebabkan kekufuran seperti berthawaf keliling kuburan untuk mendekatkan diri kepada penghuninya, mempersembahkan sembelihan dan nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdoa kepada mereka, meminta keselamatan kepada mereka, demikian juga pendapat kalangan Jahmiyyah, Mu’taziah dan Rafidhah.

Ada juga bid’ah yang menjadikan suasana kemusyrikan, seperti mendirikan bangunan di atas kuburan, shalat dan berdoa di atas kuburan, dan mengkhususkan ibadah di sisi kubur.

Ada juga bid’ah yang bernilai kemaksiatan, seperti bid’ah membujang –yakni menghindari pernikahan- puasa sambil berdiri di terik panas matahari, mengebiri kemaluan dengan niat menahan syahwat, dan lain-lain.

Ahlus sunnah telah sepakat tentang wajibnya mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafus Shalih, yaitu tiga generasi yang terbaik (shahabat, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in) yang disaksikan oleh Nabi saw. bahwa mereka adalah sebaik-baik manusia. Mereka juga sepakat tentang haramnya bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan kebinasaan, tidak ada di dalam Islam bid’ah yang hasanah (bid’ah yang baik).

Ibnu ‘Umar berkata: “Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya baik.”

Imam Syufyan ats-Tsaury (wafat 161 H) berkata: “Perbuatan bid’ah lebih dicintai iblis daripada kemaksiatan dan pelaku kemaksiatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiatannya, sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya.”

Imam Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali bin Khalaf al-Barbahari (belau adalah Imam Ahlus Sunnah wal Jam’ah pada zamannya, wafat 329 H) berkata: “Jauhilah setiap perkara bid’ah sekecil apapun, karena bid’ah yang kecil lambat laun akan menjadi besar. Demikian pula kebid’ahan yang terjadi pada ummat ini berasal dari perkara kecil yang remeh yang mirip kebenaran sehingga banyak orang terpedaya dan terkecoh, lalu mengikuti hati mereka sehingga susah untuk keluar dari jeratannya dan akhirnya mendarah daging lalu diyakini sebagai agama. Tanpa disadari, pelan-pelan mereka menyelisihi jalan lurus dan keluar dari Islam.”

Seorang Muslim yang berakal wajib menjauhkan semua perkara bid’ah, karena bid’ah sangat berbahaya. Bid’ah merusak akal, hati, agama, dan menyebabkan perpecahan.
Mudah-mudahan kita diselamatkan dari semua perkara bid’ah kecil maupun besar. Amiiin.

&

Kewajiban Ittiba’ Berdasarkan pada Dalil-Dalil dari Penjelasan Para Ulama

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

‘Abdullah bin Mas’ud berkata: “Hendaklah kalian mengikuti dan janganlah kalian berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi [dengan Islam ini], dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Ibnu Mas’ud juga berkata: “Sesungguhnya Allah melihat dari hamba-hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad saw. adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad saw. sebagai utusan-Nya dan Allah memberikan risalah kepadanya. Kemudian Allah melihat dari seluruh hamba-hamba-Nya setelah Nabi-Nya, maka didapati hati para shahabat merupakan hati paling baik sesudahnya, maka Allah menjadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang mereka berperang untuk agama-Nya. Apa yang dipandang kaum Muslimin [para shahabat Rasul] itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah dan apa yang mereka [para shahabat Rasul] pandang buruk, maka di sisi Allah hal itu adalah buruk.” (HR Ahmad [I/379] dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir [no.3600])

‘Abdullah bin Mas’ud juga mengatakan: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para shahabat Nabi Muhammad saw. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitabnya Jaami’ Bayaanil ‘ilmi wa Fadlilih [II/ 947 no.1810], tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairi)

Imam al-Auza’i (wafat 157 H) mengatakan: “Bersabarlah di atas sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan salafush Shalih karena akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka.” (Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah [I/174 no.315])

Beliau juga berkata: “Hendaklah engkau berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah dirimu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataan yang indah.” (HR al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah [I/445 no.127] dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Muhammad bin Sirrin (wafat th.110 H) berkata: “Mereka [para shahabat] mengatakan: ‘Jika ada seseorang berada di atas atsar [sunnah], maka sesungguhnya ia berada di atas jalan yang lurus.’” (HR ad-Darimi [I/54])

Imam Ahmad (wafat 241 H) berkata: “Prinisip ahlus Sunnah adalah berpegang dengan apa yang dilaksanakan oleh para shahabat, dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlus Sunnah wal Jama’ah oleh al-Lalika-i [I/176, no. 317])

Jadi, dari penjelasan tersebut di atas dapat dikatakan bahwa Ahlus Sunnah meyakini kema’shuman dan keselamatan hanya ada pada manhaj Salaf. Bahwasannya seluruh manhaj yang tidak berlandaskan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush shalih adalah menyimpang dari ash-Shirath al-Mustaqiim, penyimpangan itu sesuai dengan kadar jauhnya mereka dari manhaj Salaf. Kebenaran yang ada pada mereka juga sesuai dengan kadar kedekatan mereka dengan manhaj Salaf. Sekiranya para pengikut manhaj-manhaj menyimpang itu mengikuti pedoman manhaj mereka, niscaya mereka tidak akan dapat mewujudkan hakekat penghambaan diri kepada Allah swt. sebagaimana mestinya selama mereka jauh dari manhaj Salaf.

Sekiranya mereka berhasil meraih tampuk kekuasaan tidak berdasarkan manhaj yang lurus ini, maka janganlah terpedaya dengan hasil yang mereka peroleh itu. Karena kekuasaan hakiki yang dijanjikan oleh Rasulullah saw. hanyalah bagi orang-orang yang berada di manhaj Salaf ini. Janganlah kita merasa terasing karena sedikitnya orang-orang yang mengikuti kebenaran dan jangan pula kita terpedaya karena banyaknya orang-orang yang tersesat.

Ahlus Sunnah meyakini bahwa generasi akhir ummat ini hanya akan menjadi baik dengan apa yang menjadikan baik generasi awalnya. Alangkah ruginya orang-orang yang terpedaya dengan manhaj [metode] baru yang menyelisihi syariat dan melupakan jerih payah Salafush Shalih. Manhaj [metode] baru itu semestinya dilihat dengan kacamata syariat, bukan sebaliknya.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Ikutilah jalan-jalan petunjuk [sunnah], tidak membahayakanmu sedikitpun orang yang menempuh jalan tersebut. Jauhkan dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah engkau tertipu dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Barangsiapa yang berpaling dari madzab Shahabat dan Tabi’in dan penafsiran mereka kepada yang menyelisihinya, maka ia telah salah bahkan [disebut] Ahlul Bid’ah. Jika ia sebagai mujtahid, maka kesalahannya akan diampuni. Kita mengetahui bahwa al-Qur’an telah dibaca oleh para shahabat, Tabi’in dan yang mengikuti mereka, dan sungguh mereka lebih mengetahui tentang penafsiran al-Qur’an dan makna-maknanya, sebagaimana mereka lebih mengetahui tentang kebenaran yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya.”

&

Kewajiban Ittiba’ Berdasarkan pada Dalil-Dalil ash-Sunnah

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

‘Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: “Ini jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: “Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat), tidak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaithan yang menyeru kepadanya.” Selanjutnya beliau membaca firman Allah [yang artinya]: “Dan bahwa [yang Kami perintahkan ini] adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan [yang lain] karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (al-An’am: 153) (HR Ahmad, al-Hakim; shahih)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (Muttafaq ‘alaih; hadits mutawatir)

Dalam hadist ini Rasulullah mengisyaratkan tentang kebaikan dan keutamaan mereka, yang merupakan sebaik-baik manusia. Sedangkan perkataan ‘sebaik-baik manusia’ yaitu tentang ‘aqidah, manhajnya, akhlaknya, dakwahnya dan lain-lainnya. Oleh karena itu mereka dikatakan sebaik-baik manusia.

Dalam riwaya lain disebutkan dengan kata ‘sebaik-baik kalian’ dan riwayat lain disebutkan ‘sebaik-baik ummatku’.

Dalam hadits lain pun disebutkan tentang kewajiban kita mengikuti manhaj Salafus shalih (para shahabat), yaitu hadits yang terkenal dengan hadits ‘Irbadh bin Sariyah, hadits ini terdapat pula dalam al-Arba’in an-Nawawiyah no. 28:

Berkata al-Irbadh bin Sariyah: Suatu hari Rasulullah saw. pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberi nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: “Wahai Rasulallah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari seorang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh orang yang masih hidup di antara kalian setelahku akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru [dalam agama], karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR Ahmad [iv/ 126/127] dll)

Nabi saw. mengabarkan tentang akan terjadinya perselisihan dan perpecahan pada ummatnya, kemudian beliau memberikan jalan keluar untuk selamat dunia dan akhirat, yaitu dengan mengikuti sunnahnya dan sunnah para shahabatnya. Hal ini menunjukkan tentang wajibnya mengikuti sunnahnya (sunnah Nabi saw.) dan sunnah para shahabatnya.

Kemudian dalam hadits yang lain, ketika Rasulullah saw. menyebutkan tentang hadits iftiraq [akan terpecahnya umat ini menjadi 73 golongan], beliau bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari golongan ahlul kitab telah terpecah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya [ummat] agama ini [Islam] akan berpecah-belah menjadi 73 golongan dan 72 golongan masuk di dalam neraka dan hanya satu golongan yang di dalam surga, yaitu al-Jama’ah.” (HR Abu Dawud [no.4597])

Dalam riwayat lain disebutkan: “Semua golongan tersebut tempatnya di neraka, kecuali satu [yaitu] yang aku dan para shahabatku berjalan di atasnya.” (HR at-Tirmidzi [no.2641])

Hadits iftiraq tersebut juga menunjukkan bahwa ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semua binasa kecuali satu golongan, yaitu yang mengikuti apa yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah saw. dan para shahabatnya. Jadi, jalan selamat itu hanya satu, yaitu mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih [para shahabat].

Hadits di atas menunjukkan bahwa setiap orang yang mengikuti Nabi saw. dan para shahabatnya adalah termasuk ke dalam al-Firqatun Naajiyah [golongan yang selamat]. Sedangkan yang menyelisihi [tidak mengikuti] para shahabat, maka mereka adalah golongan yang binasa dan akan mendapat ancaman dengan masuk ke dalam neraka.

&

Kewajiban Ittiba’ Berdasarkan pada Dalil-Dalil al-Qur’an

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Firman Allah: “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu). Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 137)

Melalui ayat ini Allah menjadikan iman para shahabat Nabi saw. sebagai timbangan (tolok ukur)
Untuk membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebathilan. Apabila ahlul kitab beriman sebagaimana berimannya para shahabat Nabi saw. maka sungguh mereka mendapat hidayah (petunjuk) yang mutlak dan sempurna. Jika mereka (ahlul kitab) berpaling (tidak beriman) sebagaimana berimannya para shahabat, maka mereka jatuh ke dalam perpecahan, perselisihan, dan kesesatan yang sangat jauh…

Memohon hidayah dan iman adalah sebesar-besar kewajiban, menjauhkan perselisihan dan kesesatan adalah wajib; jadi mengikuti (manhaj) shahabat Rasul adalah kewajiban yang paling wajib.

Firman Allah: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (al-An’am: 153)

Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud bahwa jalan itu hanya satu, sedangkan jalan selainnya adalah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya ahli bid’ah. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw. dan para shahabatnya. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim yang wajib atas setiap Muslim menempuhnya dan jalan inilahyang akan mengantarkan kepada Allah.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah hanya satu… tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Allah kecuali melalui jalan yang satu ini.

Firman Allah: “Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisaa’: 115)

Ayat ini menunjukkan bahwa menyalahi jalannya kaum Mukminin sebagai sebab seseorang terjatuh ke dalam jalan-jalan kesesatan dan diancam dengan masuk neraka jahanam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah saw. adalah sebesar-besar prinsip dalam Islam yang mempunyai konsekuensi wajibnya umat Islam untuk mengikuti jalannya kaum Mukminin, sedangkan jalannya kaum Mukminin pada ayat ini adalah keyakinan, perkataan, dan perbuatan para shahabat. karena ketika turunnya wahyu tidak ada orang yang beriman kecuali shahabat, seperti firman Allah: “Rasul (Muhammad saw) telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman…” (al-Baqarah: 285)

Orang-orang Mukmin ketika itu hanyalah para shahabat, tidak ada yang lain.

Ayat di atas menunjukkan bahwa mengikuti jalan para shahabat dan memahami syariat Allah adalah wajib dan menyalahinya adalah kesesatan.

Firman Allah: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Ayat tersebut sebagi hujjah bahwa manhaj para shahabat adalah benar. Orang yang mengikuti mereka akan mendapatkan keridlaan dari Allah dan disediakan bagi mereka surga. Mengikuti manhaj mereka adalah wajib atas setiap Mukmin. Kalau mereka tidak mau mengikuti jalan mereka maka mereka akan mendapat hukuman dan tidak mendapat keridlaan dari Allah. Hal ini harus diperhatikan.

Firman Allah: “Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (Ali ‘Imraan: 110)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan keutamaan atas sekalian umat-umat yang ada dan dalam hal ini menunjukkan keistiqamahan para shahabat dalam setiap keadaan karena mereka menyimpang dari syariat yang terang benderang, sehingga Allah mempersaksikan bahwa mereka memerintahkan kepada setiap kema’rufan (kebaikan) dan mencegah setiap kemungkaran. Hal tersebut menunjukkan secara pasti bahwa pemahaman mereka (shahabat) adalah hujjah atas orang-orang setelah mereka sampai Allah swt. mewariskan bumi dan isinya.

&

Karakteristik ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’a

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sesungguhnya orang yang mau berfikir obyektif, jika ia mau melakukan perbandingan antara berbagai keyakinan yang ada di antara ummat manusia saat ini, niscaya ia menemukan beberapa karakter dan ciri-ciri ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang merupakan ‘aqidah Islamiyyah yang haq (benar) berbeda dengan lainnya. Di antara karakteristik dan ciri-ciri ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah:

1. Keotentikan Sumbernya
Hal ini ‘aqidah Ahlus sunnah semata-mata hanya bersandarkan kepada al-Qur’an, hadits, dan ijma’ para ulama salaf serta penjelasan dari mereka. ciri ini tidak terdapat pada aliran-aliran mutakallimin (pengagung ilmu kalam), ahli bid’ah, dan kaum shufi yang selalu bersandar kepada akal dan pemikiran atau kepada kasyaf, ilham, wujud dan sumber-sumber lain yang berasal dari manusia yang lemah. Mereka jadikan hal tersebut sebagai patokan atau sandaran di dalam masalah-masalah yang ghaib.

Sedangkan ahlus sunnah wal jama’ah selalu berpegang teguh kepada al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw., ijma’ salafus shalih dan penjelasan-penjelasan dari mereka. jadi, aqidah apa saja yang bersumber dari selain al-Qur’an, hadits, ijma’ salaf, dan penjelasan mereka itu, maka termasuk kesesatan dan kebid’ahan.

2. Berpegang teguh kepada prinsip berserah diri kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.
‘Aqidah adalah masalah yang ghaib, dan hal yang ghaib itu hanya tegak dan bersandar kepada kepasrahan (taslim) serta keyakinan sepenuhnya (mutlak) kepada Allah (dan Rasul-Nya). maksudnya hal tersebut adalah apa yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya wajib diterima dan diyakini sepenuhnya. Taslim merupakan ciri dan sifat kum beriman yang karenanya mereka dipuji oleh Allah, seraya berfirman:

“Alif laam miim. Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka bertakwa kepada yang ghaib….” (al-Baqarah: 1-3)

Perkara ghaib ini tidak dapat diketahui atau dijangkau oleh akal. Oleh karena itu, ahlus sunnah membatasi diri dalam masalah ‘aqidah kepada berita dan wahyu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sangat berbeda dengan ahli bid’ah dan mutakallimin (ahli kalam). Mereka memahami masalah yang ghaib itu dengan berbagai dugaan. Tidak mungkin mereka mengetahui masalah-masalah yang ghaib. Mereka tidak melapangkan akalnya dengan taslim, berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak pula menyelamatkan ‘aqidah mereka dengan ittiba’ dan mereka menghalangi kaum Muslimin awam berada dalam fitrah yang telah Allah ciptakan bagi mereka.

3. Sejalan dengan fitrah yang suci dan akal yang sehat
Hal itu karena ‘aqidah sunnah wal Jama’ah berdiri di atas prinsip ittiba’ (mengikuti), iqtida’ (meneladani) dan berpedoman pada petunjuk Allah, bimbingan Rasulullah saw. dan ‘aqidah generasi terdahulu (salafus shalih). ‘Aqidah ahlus sunnah bersumber dari fitrah yang suci dan akal yang sehat serta pedoman yang lurus. Betapa sejuknya sumber rujukan ini. Sedangkan ‘aqidah dan keyakinan golongan lain itu hanya berupa khayalan dan dugaan-dugaan yang membutakan fitrah dan membingungkan akal belaka.

4. Mata rantai sanadnya sampai kepada Rasulullah saw., Para shahabatnya, para Tabi’in, serta para imam yang mendapat petunjuk.
Tidak ada satu prinsip pun dari prinsip-prinsip ‘aqidah ahlus sunnah wal Jam’ah yang tidak mempunyai dasar atau sanad atas qudwah (contoh) dari para shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, serta para imam yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat. Hal ini sangat berbeda dengan ‘aqidah kaum mubtadi’ah (ahli bid’ah) yang menyalahi kaum salaf di dalam ber’aqidah. ‘Aqidah mereka merupakan hal yang baru (bid’ah) tidak mempunyai sandaran dari al-Qur’an dan as-Sunnah, ataupun dari para shahabat Nabi dan Tabi’in. Oleh karena itu, mereka berpegang kepada kebid’ahan serta bid’ah adalah sesat.

5. Jelas dan gamblang
‘Aqidah ahlus sunnah mempunyai ciri khas yaitu jelas dan gamblang, bebas dari kontradiksi dan ketidakjelasan, jauh dari filsafat, serta kerumitan kata dan maknanya, karena ‘aqidah ahlus sunnah wal jama’ah bersumber dari firman Allah yang sangat jelas, yang tidak datang kepadanya kebathilan (kepalsuan), baik dari depan maupun dari belakang, dan bersumber dari sabda Rasulullah saw. yang beliau tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya. Sedangkan ‘aqidah yang lainnya berasal dari ramuan yang dibuat oleh manusia atau ta’wil dan tahrif mereka terhadap nash-nash syar’i. Sungguh jauh perbedaan sumber dari ‘aqidah ahlus sunnah dan kelompok lainnya. ‘aqidah ahlus sunnah adalah tauqifiyyah (berdasarkan dalil/nash) dan bersifat ghaib, tidak ada pintu bagi ijtihad sebagaimana yang telah dimaklukmi.

6. Bebas dari kerancuan, kontradiksi, dan kesamaran
Tidak ada kerancuan dalam ‘aqidah Islamiyyah yang murni ini, tidak pula kontradiksi dan kesamaran. Hal ini karena ‘aqidah tersebut bersumber dari wahyu, kekuatan hubungan para penganutnya dengan Allah, realisasi tawakkal kepada-Nya semata, kekokohan keyakinan mereka terhadap al-haqq (kebenaran) yang mereka miliki. Orang yang meyakini dan memahami ‘aqidah dan manhaj salaf yang benar, maka tidak akan bingung, cemas, ragu dan insya Allah akan dijauhkan dari syubhat dalam beragama. Berbeda halnya dengan para ahli bid’ah, tujuan dan sasaran mereka tidak pernah lepas dari penyakit bingung, cemas, ragu, rancu dan mengikuti kesamaran.

Sebagai contoh yang sangat jelas sekali adalah keraguan, kegoncangan dan penyesalan yang terjadi pada para tokoh terkemuka mutakallimin (ahli kalam), tokoh filosof dan para tokoh shufi sebagai dari sikap mereka menjauhi ‘aqidah salaf. Dan sebagian dari mereka kembali pada taslim dan pengakuan terhadap ‘aqidah salaf, terutama ketika usia mereka telah lanjut atau mereka menghadapi kematian, sebagaimana terjadi pada Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat 324 H). Beliau telah merujuk kembali kepada ‘aqidah ahlus sunnah wal Jama’ah (‘aqidah salaf) sebagaimana yang dinyatakan di dalam kitabnya, al-ibaanah ‘an ushuuliddiyyaanah, setelah sebelumnya menganut ‘aqidah mu’tazilah, kemudian talfiq (paduan antara ‘aqidah mu’tazilah dan ‘aqidah salaf) dan akhirnya kembali kepada ‘aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Hal serupa juga dilakukan oleh Imam al-Baihaqi (wafat 403H) sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab at-Tambiid, dan masih banyak lagi tokoh terkemuka lainnya.

7. ‘Aqidah ahlus sunnah wal jama’ah merupakan faktor utama bagi kemenangan dan kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat.
Yakni faktor utama bagi terealisasinya kesuksesan, kemenangan, dan keteguhan bagi siapa saja yang menganutnya dan menyerukannya kepada ummat manusia dengan penuh ketulusan, kesungguhna, dan kesabaran.

Golongan yang berpegang teguh kepada ‘aqidah ini, yaitu ahlus sunnah wal jama’ah adalah golongan yang diberikan kemenangan dan pertolongan, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Akan tetapi ada satu golongan dari ummatku yang berdiri tegak di atas haqq (kebenaran), tidak akan membahayakan bagi mereka orang-orang yang tidak menghiraukan mereka hingga datang perintah Allah dan mereka tetap seperti itu.”

8. ‘Aqidah ahlus sunnah wal jama’ah adalah ‘aqidah yang dapat mempersatukan ummat.
Yakni merupakan jalan yang paling baik untuk menyatukan kekuatan kaum Muslimin, kesatuan barisan mereka dan untuk memperbaiki apa-apa yang rusak dari urusan agama dan dunia. Hal ini dikarenakan ‘aqidah ahlus sunnah mampu mengembalikan mereka kepada al-Qur’an dan as-Sunnah Nabi saw. serta jalannya kaum Mukminin, yaitu jalannya para shahabat.

Keistimewaan ini tidak mungkin terealisasi pada suatu golongan manapun, atau lembaga dakwah apapun atau organisasi apapun yang tidak menganut ‘aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Sejarah adalah saksi dari kenyataan ini. Hanya negara-negara yang berpegang teguh kepada ‘aqidah ahlus sunnah sajalah yang dapat menyatukan kekuatan kaum Muslimin yang berserakan, hanya dengan ‘aqidah salaf, maka jihad serta amar ma’ruf dan nahi munkar itu tegak dan tercapailah kemuliaan Islam.

9. Utuh, kokoh, dan tetap abadi sepanjang masa
‘Aqidah ahlus sunnah wal jama’ah adalah utuh dan sama dalam masalah prinsipil (ushuluddin) sepanjang masa dan akan tetap seperti itu hingga hari kiamat kelak. Artinya ‘aqidah ahlus sunnah wal jama’ah selalu sama, utuh dan terpelihara baik secara riwayat maupun keilmuannya, kata-kata, maupun maknanya. Ia diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya tanpa mengalami perubahan, pencampuradukan, kerancuan dan tidak mengalami penambahan maupun pengurangan. Hal tersebut karena ‘aqidah ahlus sunnah bersumber pada al-Qur’an yang tidak datang kepadanya kebathilan, baik dari depan maupun dari belakang, dan dari sunnah Nabi saw. yang beliau saw. tidak pernah bicara dengan hawa nafsu.

10. Allah menjamin kehidupan yang mulia bagi orang yang menetapi ‘aqidah ahlus sunnah wal jama’ah.
Berada dalam naungan ‘aqidah ahlus sunnah akan mendatangkan rasa aman dan kehidupan yang mulia. Hal ini karena ‘aqidah ahlus sunnah senantiasa menjaga keimanan kepada Allah dan mengandung kewajiban untuk beribadah kepada Allah sebagai satu-satunya yang berhak diibadahi kepada Allah sebagai satu-satunya yang berhak diibadahi dengan benar. Orang yang beriman dan bertauhid akan mendapatkan rasa aman, kebaikan, kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasa aman senantiasa menyertai keimanan, apabila keimanan itu hilang maka hilang pula rasa aman.

Firman Allah: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am: 82)

Orang yang bertakwa dan beriman akan mendapatkan rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna di dunia dan di akhirat. Adapun orang yang berbuat syirik, bid’ah dan maksiat mereka adalah orang-orang yang selalu diliputi oleh rasa takut, was-was, tidak tenang dan tidak ada rasa aman. Mereka selalu diancam dengan berbagai hukuman dan siksaan pada setiap waktu.

&

Kaidah Kesepuluh Ahlus Sunnnah wal Jama’ah

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

“Setiap perkara baru yang tidak ada sebelumnya di dalam agama adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

&