Tag Archives: ta fsir ibnu katsir

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 228

13 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 228“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkat kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 228)

Ini merupakan perintah Allah bagi para wanita yang diceraikan, yang sudah dicampuri oleh suami mereka, dan masih haid. Mereka diperintahkan untuk menunggu selama tiga kali quru’. Artinya, mereka harus berdiam diri selama tiga quru’ (masa suci atau haid) setelah diceraikan oleh suaminya; setelah itu jika menghendaki mereka boleh menikah dengan laki-laki lain.

Empat Imam (Maliki, Hanafi, Hambali, dan Syafi’i) telah mengecualikan hamba sahaya dari keumuman ayat tersebut. Menurut mereka, jika hamba sahaya itu diceraikan, maka ia hanya perlu menunggu dua guru’ saja, karena mereka berkedudukan setengah dari wanita merdeka, sedangkan quru’ itu sendiri tidak dapat dibagi menjadi dua. Sehingga cukup bagi para hamba sahaya untuk menunggu dua quru’ saja.

Para ulama Salaf dan Khalaf serta para imam berbeda pendapat mengenai apa yang dimaksud quru’ itu. Mengenai hal itu terdapat dua pendapat:

Pertama, yang dimaksud dengan quru’ adalah masa suci. Dalam kitab-nya, al-Muwattha’, Imam Malik meriwayatkan, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya Hafshah binti Abdurrahman pindah (ke rumah suaminya) ketika ia menjalani haid yang ketiga kalinya. Kemudian hal itu disampaikan kepada Umrah binti Abdurrahman, maka ia pun berkata, “Urwah benar.” Namun hal itu ditentang oleh beberapa orang, di mana mereka mengatakan, sesungguhnya Allah telah berfirman dalam kitab-Nya, “Tiga kali quru.” Lalu Aisyah menuturkan, “Kalian memang benar, tetapi tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan quru’? Quru’ adalah masa suci.”

Imam Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab, aku pernah mendengar Abu Bakar bin Abdur Rahman mengatakan, “Aku tidak mengetahui para fuqaha kita melainkan mereka mengatakan hal itu.” Yang dimaksudkan dengan hal itu adalah ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha.

Lebih lanjut Imam Malik mengatakan, “Pendapat Ibnu Umar itulah yang menjadi pendapat kami.”

Hal yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit,Salim, al-Qasim, Urwah, Sulaiman bin Yasar, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abban bin Utsman, Atha’ bin Rabah, Qatadah, az-Zuhri, dan beberapa fuqaha lainnya. Itu pula yang menjadi pendapat Imam Malik, Syafi’i, Dawud, AbuTsaur, dan sebuah riwayat dari Ahmad. Pendapat itu didasarkan pada firman Allah yang artinya: “Maka hendaklah kalian menceraikan mereka pada waktu mereka (menjalani) iddahnya (yang wajar).” (QS. Ath-Thalaaq: 1) Maksudnya, ceraikan mereka ketika mereka berada pada masa suci.

Oleh karena masa suci itu menjadi sandaran dalam pelaksanaan perceraian, hal itu menun-jukkan bahwa masa suci itu merupakan salah satu dari quru’ yang diperintahkan untuk menunggunya. Karenanya, mereka mengatakan, bahwa seorang wanita yang menjalani masa iddahnya karena diceraikan suaminya dapat mengakhirimasa iddahnya tersebut dan berpisah dari suaminya dengan berhentinya masa haid yang ketiga. Batas waktu minimal seorang wanita mendapatkan nafkah selama menyelesaikan masa iddahnya itu adalah 32 hari lebih beberapa saat.

Abu Ubaidah dan ulama lainnya (berpendapat seperti itu) berdasarkan pada ungkapan seorang penyair, yaitu al-A’sya:

Setiap tahun engkau melibatkan diri dalam peperangan,
kesabaranmu yang kuat telah mengantarmu kepada puncaknya.
Dengan mewariskan harta benda, yang pada dasarnya adalah kehor-matan,
karena hilangnya masa quru’ istrimu pada masa itu.

Syair tersebut memuji salah seorang panglima perang, yang lebih mengutamakan berperang hingga hilang masa suci isterinya, dan ia tidak sempat mencampuri mereka.

Pendapat kedua, yang dimaksud dengan quru’ adalah haid. Sehingga seorang wanita belum dinyatakan selesai menjalani masa iddahnya sampai suci dari haidnya yang ketiga. Ulama lainnya menambahkan dengan kalimat: dan ia sudah mandi besar. Batas waktu minimal pemberian nafkah kepada wanita pada masa menjalani masa iddahnya adalah 33 (tiga puluh tiga) hari dan sesaat sesudahnya.

Ats-Tsauri meriwayatkan, dari Mansur, dari Ibrahim, dari Alqamah, ia menceritakan, kami pernah berada di sisi Umar bin Khattab ra, lalu ada seorang wanita mendatanginya seraya berkata: “Suamiku telah meninggalkanku satu atau dua kali. Kemudian ia datang kembali kepadaku sedang aku telah mengemasi pakaianku dan menutup rapat pintuku.” (Maksudnya: telah berlalu haid yang ketiga kali, dan siap untuk mandi besar lalu suaminya datang untukkembali rujuk). Maka Umar berkata kepada Ibnu Mas’ud, “Aku berpendapat, dia tetap menjadi istrinya selama dia belum boleh mengerjakan shalat (belum mandi wajib).” Ibnu Masud pun berpendapat seperti itu.

Diriwayatkan juga dari Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Darda’, Ubadah bin Shamit, Anas bin Malik, Ibnu Mas’ud, Mu’adz, Ubay bin Ka’ab, Abu Musa al-Asy’ari,Ibnu Abbas, Sa’id bin Musayyab, al-Qamah, al-Aswad, Ibrahim, Muhajid, Atha’, Thawus, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, Muhammad bin Sirin, al-Hasan,Qatadah, asy-Sya’abi, Rabi’ bin Anas, Muqatil bin Hayyan, as-Suddi, Makhul,adh-Dhahhak, dan Atha’ al-Khurasani. Mereka semua menyatakan bahwa quru’ berarti haidh.

Itu pula yang menjadi pendapat Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya, serta pendapat yang paling shahih dari dua riwayat Imam Ahmad bin Hambal. Diceritakan al-Atsram, bahwa ia mengatakan, para pembesar dari kalangan sahabat Rasulullah berkata: “Quru’ adalah haidh.” Dan itu Pula yang menjadi pendapat ats-Tsauri, al-Auza’i, Ibnu Abi Laila,Ibnu Syubrumah, Hasan bin Shalih bin Hayi, Abu Ubadah, dan Ishak bin Rahawaih.

Ibnu Jarir mengatakan, dalam percakapan masyarakat Arab, quru’ berarti waktu datangnya sesuatu, yang sudah rutin dan diketahui waktunya, dan waktu berlalunya sesuatu yang sudah rutin, dan sudah diketahui waktu berlalunya. Istilah quru’ ini berlaku untuk keduanya. Dan sebagian ulama ushul telah berpendapat dengan makna tersebut. Wallahu a’lam.

Syaikh Abu Umar bin Abdul Barr mengatakan: “Para ahli bahasa Arab dan juga fuqaha tidak berbeda pendapat bahwa yang dimaksud dengan quru’ itu adalah masa haid dan juga masa suci. Tetapi mereka hanya berbeda pendapat mengenai maksud dari ayat tersebut hingga terbagi menjadi dua pendapat.

Dan firman Allah: wa laa yahillu laHunna ay yaktumna maa khalaqallaaHu fii arhaamiHinn (“Mereka tidak boleh menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka.”) Yaitu, hamil atau haid. Demikian dikatakan ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, asy-Sya’bi, al-Hakam bin Unaiyah, Rabi’ bin Anas, adh-Dahhak, dan ulama lainnya.

Firman-Nya lebih lanjut: in kunna yu’minna billaaHi wal yaumil aakhiri (“Jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir.”) Itu merupakan ancaman bagi mereka (para isteri) jika mereka menyalahi kebenaran. Hal itu menunjukkan bahwa persoalan ini berpulang kepada para wanita itu sendiri, karena hanya merekalah yang mengetahui persoalan tersebut. Dan sangat sulit untuk meminta keterangan mengenai hal itu, sehingga persoalan itu diserahkan kepada mereka dan mereka diancam agar tidak memberitahukan sesuatu yang tidak benar, baik karena ingin segera menyelesaikan masa iddah maupun karena ingin memperpanjang masa iddahnya. Dan mereka diperintahkan agar memberitahukan keadaan yang sebenarnya, tanpa tambahan dan pengurangan.

Firman Allah: wa bu’uulatuHunna ahaqqu biraddiHinna fii dzaalika in araaduu ish-laahan (“Dan para suami berhak merujuknya dalam masa menunggu itu. Jika mereka [para suami] itu menghendaki ishlah.”) Artinya, suami yang menceraikannya lebih berhak untuk merujuknya selama ia masih menjalani masa iddah, jika dengan rujuk tersebut ia bermaksud mengadakan ishlah dan kebaikan. Hal itu berlaku pada wanita-wanita yang di talak raj’i. Sedangkan wanita-wanita yang ditalak ba’in (talak tiga), pada saat ayat ini turun belum ada wanita yang ditalak ba’in. Dan terjadinya talak ba’in ini setelah mereka dibatasi dengan tiga talak. Sedangkan ketika turunnya ayat ini, seorang laki-laki lebih berhak merujuk istrinya meskipun ia telah mentalaknya seratus kali talak. Tetapi ketika mereka dibatasi oleh ayat berikutnya bahwa talak itu hanya sampai batas tiga kali, maka terdapatlah wanita yang ditalak ba’in (talak tiga) dan talak raj’i (talak yang pertama dan yang kedua).

Dan firman-Nya: wa laHunna mitslul ladzii ‘alaiHinna bil ma’ruuf (“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”) Artinya, para istri itu mempunyai hak atas suami mereka seperti hak yang dimiliki suami atas diri mereka. Masing-masing dari keduanya harus menunaikan hak tersebut dengan cara yang baik. Sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Shahih Muslim, dari Jabir, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda dalam khutbahnya yang disampaikan pada waktu haji wada’:

“Takutlah kepada Allah dalam urusan wanita. Karena sesungguhnya kalian telah mengambil (menikahi) mereka dengan amanat Allah dan meminta kehalalan dalam mencampuri mereka dengan kalimat Allah. Akan tetapi, kalian memiliki (hak) atas mereka, bahwa mereka (isteri) tidak boleh mengizinkan seseorang yang kalian benci menginjak tikar (rumah) kalian. Jika mereka melakukan hal itu, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Juga diwajibkan atas kalian (suami) memberi nafkah dan pakaian kepada mereka (isteri) dengan cara yang baik.” (HR. Muslim).

Dan dalam hadits Bahaz bin Hakim, dari Mu’awiyah bin Haidah al-Qusyairi, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya ia pernah bertanya: “Ya Rasulullah, apakah hak istri salah seorang dari kami?” Maka beliau bersabda: “Hendaklah engkau memberikan makan kepadanya jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau berpakaian, dan engkau tidak boleh memukul wajahnya, tidak boleh menghina, dan tidak boleh juga mengisolasinya kecuali di dalam rumah.” (HR. Abu Dawud dengan sanad Shahih dan Nasa’i).

Firman Allah: wa lir rijaali ‘alaiHinna darajatun (“Akan tetapi para suami mempunyai suatu tingkat kelebihan daripada istrinya.”) Maksudnya, kelebihan dalam bentuk tubuh, kedudukan, ketaatan terhadap perintah, pemberian nafkah, penunaian berbagai kewajiban dan kepentingan, serta kelebihan didunia dan akhirat. Sebagaimana yang difirmankan-Nya ini yang artinya:

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisaa’: 34).

Firman Allah Ta’ala selanjutnya: wallaaHu ‘aziizun hakiim (“Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) Artinya, perkasa dalam memberikan siksaan kepada orang yang mendurhakai-Nya dan melanggar perintah-Nya, serta bijaksana dalam perintah, syari’at, dan ketetapan-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 226-227

13 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 226-227“Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. Al-Baqarah: 226) Dan jika mereka ber’azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 227)

“al i’laa’” berarti sumpah. Jika seseorang bersumpah tidak mencampuri istrinya dalam waktu tertentu, baik kurang atau lebih dari empat bulan. Jika kurang dari empat bulan, maka ia harus menunggu berakhirnya masa yang telah ditentukan. Setelah itu ia boleh mencampuri isterinya kembali. Bagi si isteri agar bersabar, dan tidak berhak menuntutnya untuk ruju’ pada masa itu. Demikian itulah yang telah ditegaskan dalam Shahihain (al-Bukhari danMuslim), dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah pernah meng-ilaa’ (bersumpah untuk tidak mencampuri) isterinya selama satu bulan. Kemudian beliau turun (dari biliknya) pada hari kedua puluh sembilan. Dan beliau bersabda, “Satu bulan itu dua puluh sembilan hari.”

Hal yang sama juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Umar bin Khaththab ra. mengenai hal yang sama.

Tetapi jika lebih dari empat bulan, maka bagi sang isteri boleh menuntut suaminya mencampurinya setelah masa empat bulan atau menceraikannya. Dan untuk itu, hakim boleh memaksa suami. Hal ini agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi isterinya tersebut. Oleh karena itu, Allah swt. berfirman: lil ladziina yu’luuna min nisaa-iHim (“Kepada orang-orang yang mengilaa’ isteri-isterinya.”) Artinya, bersumpah untuk tidak mencampuri istrinya.

Ini menunjukkan bahwa ilaa’ itu hanya dikhususkan terhadap isteri bukan hamba sahaya. Sebagaimana yang menjadi pendapat jumhur ulama.

Firman-Nya: tarabbushu arba’ati asyHurin (“Diberi tangguh empat bulan.”) Maksudnya, si suami harus menunggu selama empat bulan dari sejak sumpah itu diucapkan, setelah itu ia dituntut untuk mencampuri atau menceraikan isteri-nya tersebut. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: fa in faa-uu (“Kemudian jika mereka kembali.”) Artinya, jika mereka kembali seperti semula. “Kembali” di sini merupakan kiasan dari jima’. Demikian dikatakan Ibnu Abbas, Masruq, asy-Sya’abi, Sa’id bin Jubair, dan ulama lainnya, di antaranya adalah Ibnu Jarir rahimahullahu. Fa innallaaHa ghafuurur rahiim (“Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Atas pengabaian suami terhadap hak isterinya disebabkan oleh sumpah.

Firman-Nya: fa in faa-uu fa innallaaHa ghafuurur rahiim (“Kemudian jika mereka kembali [kepada istrinya], maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Menurut salah satu dari beberapa pendapat ulama, di antaranya pendapat lama dari asy-Syafi’i, ayat ini mengandung dalil bahwa jika seseorang yang meng-ilaa’ isterinya kembali setelah empat bulan, maka tiada kafarat (denda) baginya. Dan hal itu diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari kakeknya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa bersumpah atas suatu hal, lalu ia melihat hal lainnya lebih baik daripada sumpahnya tersebut, maka meninggalkan sumpahnya itu adalah kafaratnya.’” (Dha’if: Didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Dha’iiful Jaami’.)
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi. Sedangkan pendapat baru dari madzhab Imam Syafi’i, bahwa ia harus membayar kafarat berdasarkan pada universalitas kewajiban membayar kafarat bagi setiap orang yang bersumpah, sebagaimana telah dikemukakan dalam beberapa hadits shahih sebelumnya. Wallahu a’lam.

Firman Allah: wa in ‘azamuth thalaaqa (“Dan jika mereka berketetapan hati untuk talak.”) Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa talak itu tidak jatuh hanya sekedar karena berlalunya waktu empat bulan, inilah yang menjadi pendapat jumhur ulama muta’akhkhirin, yaitu dia harus menentukan, yakni ia dituntut untuk mencampurinya kembali atau menceraikannya. Jadi, talak itu tidak terjadi hanya karena berlalunya waktu empat bulan.

Diriwayatkan Imam Malik, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar, pernah mengatakan: “Jika seorang laki-laki meng-ilaa’ isterinya, maka hal itu tidak menyebabkan jatuhnya talak meskipun telah berlalu empat bulan, hingga ia mempertimbangkan untuk menceraikan atau mencampurinya kembali.”

Hadits tersebut juga diriwayatkan al-Bukhari. Asy-Syafi’i rahimahullah meriwayatkan dari Sulaiman bin Yasar, katanya, “Aku pernah mendapati sekitar sepuluh orang atau lebih dari sahabat Nabi saw. yang mengatakan: “Orang yang bersumpah harus menentukan pendiriannya.” Lebih lanjut Imam Syafi’i mengatakan: “Paling sedikit tiga belas orang sahabat.”

Imam Syafi’i juga meriwayatkan, dari Ali bin Abi Thalib, bahwasanya orang yang meng-ilaa’ isterinya harus dituntut untuk menentukan pendiriannya. Lalu ia mengatakan: “Demikianlah pendapat kami, dan itu sejalan dengan apa yang kami riwayatkan dari Umar, Ibnu Amr, Aisyah, Utsman, Zaid bin Tsabit, dan lebih dari sepuluh orang sahabat Nabi.” Demikianlah pendapat Imam Syafi’i rahimahullah.

Ibnu Jarir meriwayatkan, dari Suhail Ibnu Abi Shalih, dari ayahnya, ia menceritakan: “Pernah kutanyakan kepada dua belas orang sahabat tentang seseorang yang meng-ilaa’ isterinya. Semua mengatakan, tidak ada kewajiban apa pun baginya hingga empat bulan berlalu, lalu ia diminta untuk menentukan pendiriannya, jika berkehendak ia boleh kembali, dan jika tidak ia boleh menceraikannya.

Diriwayatkan juga oleh ad-Daruquthni melalui jalur Suhail.

Aku (Ibnu Katsir) katakan, ia meriwayatkannya dari Umar, Utsman, Ali, Abu Darda’, Aisyah Ummul Mukminin, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Hal itu Pula yang menjadi pendapat Sa’id bin Musayyab, Umar bin Abdul Aziz, Mujahid, Thawus, Muhammad bin Ka’ab, dan al Qasim juga menjadi pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal dan para sahabat mereka, juga yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Dan merupakan pendapat al-Laits, Ishaqbin Rahawaih, Abu Ubaid, Abu Tsaur, dan Dawud. Mereka mengatakan, jika ia tidak mencampuri istrinya, maka ia harus menceraikannya, dan jika ia tidak mau menceraikannya juga maka hakim yang harus menceraikannya. Jenis talaknya adalah raj’i sehingga si suami masih boleh rujuk kepada istrinya tersebut pada masa iddah. Tetapi Imam Malik sendiri mengemukakan, “Si suami tidak diperbolehkan merujuknya sehingga ia mencampurinya pada masa iddah.” Pendapat ini jelas aneh sekali.

Berkenaan dengan masa penangguhan selama empat bulan, para fuqaha dan juga yang lainnya menyebutkan sebuah atsar yang diriwayatkan Imam Malik bin Anas rahimahullahu, dalam kitab al-Muwattha’, dari Abdullah bin Dinar, ia menceritakan, Umar bin Khatthab ra. pernah pergi pada malam hari, lalu ia mendengar seorang wanita mengucapkan:

Malam begitu panjang dan hitam kelam sekelilingnya,
aku tak dapat tidur tiada kekasih yang berkencan denganku.
Demi Allah, jika bukan karena Allah yang selalu mengawasiku,
niscaya sisi-sisi pelaminan ini telah bergoyang.

Kemudian Umar berkata kepada putrinya, Hafshah radhiallahu ‘anha, “Berapa lama seorang wanita dapat bersabar menunggu suaminya?” Hafshah menjawab, “Enam atau empat bulan.” Maka Umar pun berucap, “Aku tidak akan menahan seorang prajurit lebih lama dari masa tersebut.”

Muhammad bin Ishak meriwayatkan, dari Sa’id bin Jubair budak Ibnu Abbas, yang pernah bertemu dengan para sahabat Nabi saw, ia menuturkan, aku masih tetap ingat hadits Umar, bahwa pada suatu malam ia pernah pergi mengelilingi Madinah, ia memang sering melakukan hal tersebut. Tiba-tiba ia melewati seorang wanita Arab yang pintu rumahnya tertutup seraya berucap:

Malam ini begitu panjang, menghiasi sekelilingnya,
ketiadaan teman tidur membuatku terjaga.
Aku kencani ia dari masa ke masa,
seakan-akan ia menutupi cahaya bulan dalam kepekatan malam.
Membuat senang orang berkencan di sisinya,
dalam kelembutan bantal yang tidak melindunginya, aku mendekatinya.
Demi Allah jika bukan karena Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia,
niscaya hancurlah sisi pelaminan ini.
Namun aku takut pada malaikat Raqib yang ditugaskan mengawasidiri kami,
yang selalu mencatatnya sepanjang masa.
Takut kepada Rabb-ku, rasa malu, dan rasa hormat kepada suami,menghalangi diriku, agar kehormatannya tidak tercemar.

Kemudian perawi melanjutkan kelengkapannya seperti yang disebutkan di atas atau semisalnya. Hal ini diriwayatkan juga melalui beberapa jalan yang masyhur.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 224-225

13 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 224-225“Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah diantara manusia. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. Al-Baqarah: 224) Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleb hatimu. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyantun.” (QS. Al-Baqarah: 225)

Allah berfirman, “Janganlah kamu menjadikan sumpah-sumpah (yang telah) kamu (ucapkan) kepada Allah sebagai penghalang bagimu dari berbuat kebaikan dan menyambung tali kekelurgaan jika sebelumnya kamu telah bersumpah untuk meninggalkan hal itu.” Hal itu seperti firman-Nya [yang artinya]:
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?” (QS. An-Nuur: 22).

Dengan demikian, orang yang tetap menjalankan sumpahnya itu berdosa. Dan untuk keluar dari sumpah itu, pelakunya harus membayar kafarat. Sebagaimana yang diriwayatkan al-Bukhari, dari Hamam bin Munabbih, ia menceritakan, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Kita adalah umat yang lahir di masa terakhir tetapi yang paling awal masuk ke dalam surga pada hari kiamat kelak.” Dan beliau bersabda: “Demi Allah, salah seorang di antara kalian yang mempertahankan sumpahnya untuk memojokkan keluarganya, lebih berdosa di sisi Allah daripada -melanggar sumpah itu- dengan membayar kafarat (denda) yang telah diwajibkan Allah atasnya.” (HR. Muslim).

Mengenai firman-Nya: wa laa taj’alullaaHa ‘urdlatal li aimaanikum (“Janganlah kamu menjadikan [nama] Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang,”) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Artinya jangan-lah sekali-kali engkau menjadikan sumpahmu sebagai penghalang bagimu untuk berbuat kebaikan. Namun bayarlah denda sumpahmu dan lakukanlah kebaikan.” Hal yang sama juga dikatakan oleh Masruq, asy-Sya’abi, Ibrahim an-Nakha’i, Mujahid, Thawus, Sa’id bin Jubair, Atha’, Ikrimah, Makhul, az- Zuhri, Hasan al-Bashri, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, Rabi’ bin Anas, adh-Dhahhak, Atha’ al-Khurasani, dan as-Suddi.

Pendapat para ulama tersebut diperkuat dengan hadits yang terdapat dalam kitab ash-Shahihain, dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku insya Allah tidaklah bersumpah lalu aku melihat hal lain lebih baik daripada sumpah itu, melainkan aku akan menjalankan yang lebih baik tersebut, dan aku lepaskan sumpah itu dengan membayar kafarat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam kitab ash-Shahihain, juga ditegaskan bahwa Rasulullah pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah: “Hai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Sesungguhnya jika kepemimpinan itu diberikan kepadamu tanpa engkau minta, niscaya Allah akan membantumu untuk menjalankannya. Dan jika kepemimpinan itu diberikan kepadamu setelah engkau minta, niscaya engkau dibiarkan dengan kepemimpinan itu (tidak mendapat pertolongan dari Allah). Dan jika engkau telah terlanjur bersumpah, kemudian engkau melihat ada sesuatu yang lebih baik daripada sumpahmu, maka hendaklah engkau mengerjakan yang lebih baik itu dan bayarlah denda atas sumpahmu tadi.”

Dan firman-Nya: laa yu-aakhidzukumullaaHa bil laghwi fii aimaanikum (“Allah tidak akan menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksudkan [untuk bersumpah]”). Artinya, Allah tidak akan menghukum dan tidak juga mengharuskan kalian untuk memenuhi sumpah keliru yang telah kalian ucapkan, sedangkan ia tidak bermaksud mengucapkannya, tetapi sumpah itu keluar dari mulutnya tanpa adanya keyakinan dan kesungguhan. Sebagaimana telah ditegaskan dalam kitab ash-Shahih (Bukhari dan Muslim), dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah telah bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan menyebutkan nama Latta dan `Uzza, maka hendaklah ia mengucapkan: Laa Ilaaha illallaah (tidak ada Ilah yang berhak untuk diibadahi selain Allah).”

Hal ini disampaikan Rasulullah kepada suatu kaum yang baru saja lepas daripada masa jahiliyah, mereka telah memeluk Islam namun lidah mereka sudah terbiasa menyebutkan nama Latta dan ‘Uzza, tanpa adanya kesengajaan. Kemudian mereka diperintahkan untuk mengucapkan kalimat ikhlas), sebagaimana mereka telah mengucapkan kata-kata tersebut tanpa sengaja. Oleh karena itu Allah, berfirman: wa laakiy yu-aakhidzukum bimaa kasabat quluubukum (“Tetapi Allah menghukummu disebabkan [sumpahmu] yang sengaja [untuk bersumpah] oleh hatimu.”) Dan dalam surat yang lain Dia berfirman dengan menggunakan kalimat yang artinya: “Tetapi Dia menghukummu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. “(QS. Al-Maa-idah: 89).

Dalam bab Laghwul yamin (sumpah yang tidak dimaksudkan untuk bersumpah), Imam Abu Dawud meriwayatkan, dari Atha’, bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan, sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda: “Laghwul yamin adalah ucapan seseorang di dalam rumahnya, kalla wallaHi (tidak, demi Allah) dan balaa wallaHi (ya, demi Allah).”

Selanjutnya Abu Dawud mengatakan: “Hadits ini diriwayatkan Ibnul Furat, dari Ibrahim ash-Sha’igh, dari Atha’, dari Aisyah sebagai hadits mauquf. Juga diriwayatkan az-Zuhri, Abdul Malik, dan Malik bin Maghul, semuanyadari Atha’, dari Aisyah radhiallahu ‘anha sebagai hadits mauquf.

Mengenai firman Allah Ta’ala: laa yu-aakhidzukumullaaHa bil laghwi fii aimaanikum; Abdur Razak meriwayatkan dari Mu’ammar, dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah radhiallahu `anha, ia mengatakan; “Mereka itu adalah kaum yang saling membela diri dalam masalah yang diperselisihkan, lalu ia mengatakan: “Tidak, demi Allah, ya, demi Allah, dan benar-benar tidak, demi Allah.” Mereka saling membela diri dengan bersumpah tanpa adanya keyakinan dalam hati mereka.”

(Pengertian kedua): Dibacakan kepada Yunus bin Abdul A’la dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Aisyah pernah menafsirkan ayat: laa yu-aakhidzukumullaaHa bil laghwi fii aimaanikum; ia berkata, maksudnya adalah apabila seseorang di antara kalian bersumpah dalam suatu hal dan ia tidak menghendaki kecuali kejujuran semata, tetapi ternyata kenyataan yang ada berbeda dengan sumpahnya itu.

Hal yang senada juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Abbas dalam salah satu dari dua pendapatnya, Sulaiman bin Yasar, Sa’id bin Jubair, Mujahid dalam salah satu dari dua pendapatnya, Ibrahim an-Nakha’i dalam salah satu dari dua pendapatnya, al-Hasan, Zararah bin Aufa, Abu Malik, Atha’al-Khurasani, Bakar bin Abdullah, dan salah satu dari pendapat Ikrimah, Habibbin Abi Tsabit, as-Suddi, Makhul, Muqatil, Thawus, Qatadah, Rabi’ bin Anas,Yahya bin Said, dan Rabi’ah.

Dalam bab Yamin fil ghadhab (sumpah pada waktu marah), Abu Dawud meriwayatkan, dari Sa’id bin Musayyab, bahwasanya ada dua orang bersaudar adari kaum Anshar yang memiliki harta warisan. Salah seorang di antaranya meminta bagian dari harta warisan tersebut lalu saudaranya menjawab: “Jika engkau kembali menanyakan bagian warisan kepadaku, maka semua hartaku berada di pintu Ka’bah.” Maka Umar berkata kepadanya: “Sesungguhnya Ka’bah sama sekali tidak membutuhkan hartamu, bayarlah kafarat dari sumpahmu itu, dan berbicaralah dengan saudaramu. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada sumpah bagimu, tidak juga nadzar dalam berbuat maksiat kepada Rabb swt, tidak juga dalam pemutusan hubungan silaturahmi, dan tidak juga pada apa yang tidak engkau miliki.” (Dha’if: Didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabDba’iifAbiDawud [1/713]).

Dan firman Allah: wa laakiy yu-aakhidzukum bimaa kasabat quluubukum (“Tetapi Allah menghukummu disebabkan [sumpahmu] yang sengaja [untuk bersumpah] oleh hatimu.”) Ibnu Abbas, Mujahid, dan ulama lainnya mengatakan, yaitu seseorang bersumpah atas sesuatu sedang ia mengetahui bahwa dirinya bohong. Lebih lanjut Mujahid dan ulama lainnya mengatakan, ayat tersebut sama seperti firman Allah [yang artinya]: “Tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah yang kamu sengaja.” (QS. Al-Maa-idah: 89).

Dan firman-Nya: wallaaHu ghafuurun haliim; artinya, Dia Mahapengampun dan Mahapenyantun terhadap hamba-hamba-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 222-223

13 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 222-223“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: ‘Haidh itu adalab suatu kotoran.’ Oleb sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah: 222) Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 223)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, bahwasanya jika wanita orang-orang Yahudi sedang haid, maka mereka tidak mau makan dan tidur bersama. Kemudian para sahabat Nabi menanyakan tentang hal itu, maka Allah menurunkan firman-Nya yang artinya:
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalah kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita pada waktu haid. Dan janganlah kalian mendekati mereka sehingga mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. ”

Kemudian Rasulullah bersabda: “Lakukan apa saja selain berhubungan badan.” Maka berita itu sampai kepada orang-orang Yahudi, lalu mereka pun berkata: “Orang ini (Muhammad) tidak meninggalkan satu perkara pun dari urusan kita kecuali menyelisihinya.”

Kemudian datanglah Usaid bin Hudhair dan Ubad bin Basyar, keduanya berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi telah mengatakan begini dan begitu, apakah tidak kita campuri saja?” Maka berubahlah raut wajah Rasulullah sehingga kami kira beliau sedang marah kepada keduanya. Selanjutnya kedua orang itu pergi, lalu datanglah hadiah berupa susu untuk beliau. Kemudian beliau mengutus utusan kepada keduanya dan memanggilnya untuk diberikan kepada keduanya. Akhirnya keduanya mengetahui bahwa beliau tidak marah kepada mereka. Demikianlah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Hamad bin Zaid bin Salamah.

Firman-Nya: fa’tazilun nisaa-a fil mahiidl (“Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita pada waktu haid, “) yaitu pada kemaluannya. Hal itu didasarkan pada sabda Rasulullah “Berbuatlah apa saja, kecuali berhubungan badan.” Oleh karena itu banyak atau bahkan mayoritas ulama berpendapat, bahwasanya dibolehkan menggauli wanita yang sedang haid kecuali pada kemaluannya.

Abu Dawud meriwayatkan dari Imarah bin Gharab, bahwa bibinya pernah memberitahukan kepadanya bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah radhiallahu ‘anha, “Salah seorang dari kami sedang haid. Sementara ia dan suaminya tidak mempunyai tempat tidur kecuali hanya satu saja.” Maka Aisyah pun berkata: “Akan kuberitahukan kepadamu tentang apa yang pernah
dilakukan Rasulullah. Suatu hari beliau memasuki rumah dan langsung menuju ke masjidnya.” Abu Dawud mengatakan bahwa yang dimaksud masjid di sini adalah tempat shalat di rumahnya. Dan ketika beliau kembali aku telah tertidur lelap. Saat itu beliau tengah diserang rasa dingin (kedinginan), maka beliau berkata kepadaku: “Mendekatlah kepadaku.” Lalu kukatakan kepada beliau: “Aku sedang haid.” Dan beliau pun berucap: “Singkaplah kedua pahamu.” Maka aku pun membuka pahaku, dan kemudian beliau meletakkan pipi dan dadanya di atas pahaku. Dan aku mendekapkan tubuh beliau sehingga terasa hangat, hingga beliau tertidur. (Dha’if: Didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Dha’iif Abi Dawud [1/52].)

Dan dalam hadits shahih disebutkan, juga dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia menceritakan: “Aku pernah menggigit daging sedang aku dalam keadaan haid. Kemudian aku berikan daging itu kepada Nabi , maka beliau menggigit pada bagian yang telah aku gigit. Aku juga pernah minum, lalu aku berikan minuman itu kepada beliau, maka beliau pun meletakkan bibirnya pada bagian yang darinya aku minum.

Sedang dalam riwayat Abu Dawud, juga dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata: “Jika aku haid, aku turun dari tempat tidur ke atas tikar. Maka dia tidak mendekati Rasulullah saw. hingga dia suci dari haidh.” (Dha’if: Didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani sebagaimana terdapat dalam kitab Dha’iif Abi Dawud [1/53]).

Hal itu dipahami sebagai suatu upaya pencegahan dan kehati-hatian. Uama lainnya berpendapat bolehnya seseorang mencumbui isteri yang sedang haid kecuali pada bagian di bawah kain. Sebagaimana hal itu telah ditegaskan dalam kitab Shahihain, dari Maimunah bin al-Harits al-Hilaliyah, ia menceritakan, jika Nabi hendak mencumbui salah seorang dari isterinya yang sedang haid, maka beliau menyuruhnya mengenakan kain.

Demikian lafazh yang disampaikan Imam al-Bukhari. Hadits senada diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, dari Aisyah radhiallahu anha.

Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari al-‘Ala’, dari Hizam bin Hakim, dari pamannya, Abdullah bin Sa’ad al-Anshari, bahwasanya ia pernah bertanya kepada Rasulullah: “Apa yang boleh aku lakukan terhadap isteriku yang sedang haid?” Maka beliau pun
menjawab: “Engkau boleh berbuat apa saja terhadapnya pada bagian di atas kain.”

Juga hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, dari Mu’adz bin Jabal, ia menceritakan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai apa-apa yang boleh aku lakukan terhadap isteriku yang sedang haid. Maka beliau pun menjawab: “Engkau boleh berbuat apa saja terhadapnya pada bagian di atas kain, dan menghindari hal itu adalah tindakan yang lebih baik.” (Dha’if: Didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Dha’iif Abi Dawud [36]).

Hadits tersebut diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Ibnu Abbas, Sa’id bin Musayyab, dan Syuraih.

Hadits-hadits tersebut di atas dan yang senada dengannya merupakan hujjah bagi orang yang membolehkan mencumbui isteri yang sedang haidh sebatas pada bagian di atas kain saja. Ini merupakan salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Syafi’i rahimahullahu. Dan ditarjih oleh banyak ulama Irak dan lain-lainnya. Mereka menyimpulkan bahwa daerah sekitar farji adalah haram, agar tidak terjerumus melakukan hal-hal yang diharamkan Allah swt. sebagaimana disepakati oleh para ulama bahwa haram menggaulinya pada kemaluan. Barangsiapa yang melakukan hal itu, berarti ia telah berdosa. Maka hendaklah ia segera memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah Ta’ala.

Firman Allah: wa laa taqrabuuHunna hatta yath-Hurn (“Dan janganlah kamu mendekati mereka sehingga mereka suci.”) merupakan penafsiran dari firman-Nya: fa’tazilun nisaa-a fil mahiidl (“Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita pada waktu haid.”) Allah Ta’ala melarang mencampuri wanita selama ia masih menjalani haid. Pengertiannya adalah halal melakukan hal itu jika haidnya telah berhenti.

Firman-Nya: fa idzaa tattaHHarna ta’tuuHunna min haitsu amarakumullaaHu (“Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.”) Dalam ayat tersebut terdapat anjuran dan bimbingan untuk mencampuri isteri setelah mereka mandi.

Ibnu Hazm berpendapat, wajib melakukan hubungan badan setiap usai haid. Hal itu didasarkan pada firman Allah: fa idzaa tattaHHarna ta’tuuHunna min haitsu amarakumullaaHu (“Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.”) Dalam hal ini Ibnu Hazm tidak mempunyai sandaran, karena hal itu merupakan perintah setelah larangan.

Dalam hal ini terdapat banyak pendapat para ulama ushul fiqih. Di antara pendapat mereka ada yang mewajibkan sebagaimana perintah mutlak, dan mereka ini memerlukan jawaban yang sama dengan Ibnu Hazm. Ada juga yang berpendapat, ayat itu untuk membolehkan hubungan badan setelah haid. Mereka beralasan dengan didahulukannya larangan atas perintah maka hukum perintah itu tidak wajib. Namun pendapat ini masih perlu dipertimbangkan. Adapun pendapat yang didukung oleh dalil ialah yang menyatakan bahwa hukum itu dikembalikan kepada hukum sebelumnya, yaitu sebelum adanya larangan, jika wajib maka wajiblah hukumnya, seperti misalnya firman Allah swt. berikut ini:

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu.” (QS. At-
Taubah: 5). Atau mubah, jika berhukum mubah, seperti misalnya firman Allah yang berbunyi: “Dan jika kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka kamu boleh berburu.” (QS. Al-Maa-idah: 2). Dan juga firman-Nya: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi.” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Pendapat inilah yang diperkuat oleh banyak dalil. Hal ini telah dikemukakan oleh al-Ghazali dan juga yang lainnya, dan menjadi pilihan sebagian imam muta’akhirin, dan itulah yang shahih.

Para ulama telah sepakat, jika seorang wanita telah selesai menjalani masa haid, maka tidak dibolehkan mencampurinya hingga ia mandi atau bertayamum jika ada alasan yang membolehkan bertayamum. Namun Abu Hanifah rahimahullahu berpendapat lain, jika darah haid seorang wanita telah berhenti pada hari maksimal haid, yaitu 10 hari, maka menurutnya, boleh mencampurinya hanya dengan terhentinya darah tersebut, dan tidak perlu mandi terlebih dahulu. Wallahu a’lam.

Ibnu Abbas mengatakan: hattaa yath-Hurn (“Sehingga mereka suci,”) dari darah haid. Fa idzaa tathaHHarna (“jika mereka telah bersuci, “) dengan air.
Hal senada juga dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Hasan al-Bashri, Muqatil bin Hayyan, al-Laits bin Sa’ad, dan ulama lainnya.

Firman-Nya: min haitsu amarakumullaaHu (“Di tempat yang diperintahkan Allah kepada kamu.”) Ibnu Abbas, Mujahid, dan ulama lainnya mengatakan: “Yaitu kemaluan.”

Mengenai firman-Nya: min haitsu amarakumullaaHu (“Di tempat yang diperintahkan Allah kepada kamu.”) Ibnu Abbas, Mujahid, dan Ikrimah juga mengatakan: “(Artinya) hendaklah kalian menjauhi mereka.” Pada saat yang sama, ayat ini mengandung dalil yang menunjukkan diharamkannya melakukan hubungan dari dubur, yang mana pembahasannya secara tuntas akan dikemukakan selanjutnya, insya Allah.

Firman Allah: innallaaHa yuhibbut tawwaabiina (“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat.”) Maksudnya, dari dosa meskipun percampuran itu dilakukan berkali-kali. Wa yuhibbul mutathaHHiriin (“Dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”) Maksudnya, menyucikan diri dari berbagai macam kotoran, yaitu segala sesuatu yang dilarang, seperti mencampuri wanita yang sedang haidh atau tidak pada tempatnya (kemaluan).

Firman-Nya: nisaa-ukum hartsul lakum (“Isteri-isterimu adalah [seperti] lahan tempat kamu bercocok tanam.”) Ibnu Abbas mengatakan, al-harts berarti tempat mengandung anak. Fa’tuu hartsakum annaa syi’tum (“Maka datangilah lahan tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.”) Maksudnya, kalian boleh mencampurinya sekehendak hati kalian, dari depan maupun dari belakang, tetapi tetap pada satu jalan (yaitu lewat kemaluan). Sebagaimana yang telah ditegaskan dalam banyak hadits.

Imam Bukhari meriwayatkan, dari Ibnul Munkadir, ia menceritakan, aku pemah mendengar Jabir mengatakan, dulu, orang-orang Yahudi mengatakan, “Jika seorang suami mencampuri istrinya dari belakang, maka akan lahir anak bermata juling.” Maka turunlah ayat: nisaa-ukum hartsul lakum Fa’tuu hartsakum annaa syi’tum (“Istri-istri kalian adalah [seperti] lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Sedang dalam hadits Bahz bin Hakim bin Mu’awiyah bin Haidah al-Qusyairi, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya ia pernah mengatakan, “Ya Rasulullah, pada bagian mana isteri-isteri kami yang boleh kami datangi dan bagian mana yang harus kami jauhi?”

Maka beliau bersabda: “(Isterimu adalah seperti) lahan kamu bercocok tanam, datangilah lahanmu itu bagaimana saja yang engkau kehendaki, dengan tidak memukul bagian wajah, tidak boleh mencelanya dan tidak juga mengisolasi(nya) kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad dan para penulis kitab as-Sunan).

Imam Ahmad juga meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, ayat “nisaa-akum hartsul lakum” turun berkenaan dengan beberapa orang Anshar yang mendatangi Nabi, lalu mereka menanyakan kepada beliau, dan beliau pun bersabda, “Datangilah mereka dengan cara bagaimanapun selama masih pada kemaluan.” (HR. Ahmad).

Masih dalam riwayat Imam Ahmad, dari Abdullah bin Sabith, ia menceritakan, aku pernah menemui Hafshah binti Abdurrahman bin Abu Bakar dan kutanyakan: “Aku akan bertanya kepadamu mengenai suatu hal yang aku malu untuk mengemukakannya.” Maka Hafshah pun menyahut: “Janganlah malu, wahai keponakanku.” Abdullah bin Sabith menuturkan: “Tentang mencampuri isteri dari belakang.” Ia pun mengemukakan, Ummu Salamah pernah memberitahuku bahwa kaum Anshar sangat suka menggauli isteri mereka dari arah belakang, sedang orang-orang Yahudi dulu mengatakan: “Barangsiapa mendatangi isterinya dari arah belakang, maka anaknya akan lahir juling.”

Dan ketika orang-orang Muhajirin tiba di Madinah, mereka menikahi wanita-wanita Anshar. Maka ketika mereka hendak mencampuri isterinya dari arah belakang, ada seorang wanita yang menolak mentaati suaminya seraya berkata: “Engkau jangan melakukan hal itu hingga aku mendatangi Rasulullah. Kemudian ia menemui Ummu Salamah dan menyebutkan hal itu kepadanya.” Maka Ummu Salamah pun berujar: “Duduklah hingga Rasulullah datang.” Dan ketika beliau tiba, wanita Anshar tersebut merasa malu untuk bertanya kepada Rasulullah, sehingga wanita itu pun keluar. Lalu Ummu Salamah bertanya kepada beliau. Maka beliau bersabda: “Panggilah wanita Anshar itu.” Kemudian Ummu Salamah pun memanggilnya. Setelah itu, beliau membacakan kepadanya ayat:

nisaa-ukum hartsul lakum Fa’tuu hartsakum annaa syi’tum (“Istri-istri kalian adalah [seperti] lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” Tetapi dengan satu tujuan (kemaluan). (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).

Nasa’i meriwayatkan, dari Ka’ab bin Alqamah, dari Abu Nadhr, bahwa ia pernah berkata kepada Nafi’ budak Ibnu Umar, “Sesungguhnya banyak yang menyebutkan bahwa engkau menceritakan Ibnu Umar pernah memberikan fatwa yang membolehkan mendatangi isteri dari dubur mereka.” Maka ia pun menuturkan: “Mereka telah berbohong mengenai diriku. Tetapi akan kuberitahukan kepadamu kejadian yang sebenarnya. Pada suatu hari, Ibnu Umar membaca al-Qur’an dan aku berada di sisinya. Ketika ia sampai pada bacaan: nisaa-ukum hartsul lakum Fa’tuu hartsakum annaa syi’tum; ia (Ibnu Umar) mengatakan: “Hai Nafi’, apakah engkau mengetahui siapa yang diperintahkan oleh ayat ini?” “Tidak”, jawab Nafi’. Maka Ibnu Umar mengatakan: “Sesungguhnya kami kaum Quraisy terbiasa mendatangi isteri dari belakang (tapi tetap pada kemaluan). Ketika tiba di Madinah, kami menikahi wanita-wanita Anshar.Dan kami menghendaki dari mereka (berhubungan badan) seperti yang kami inginkan. Tetapi hal itu menyakitkan mereka, maka mereka menolak dan bahkan memperbesar persoalan. Dan wanita-wanita Anshar sudah terbiasa dengan kebiasaan orang-orang Yahudi, yaitu mendatangi isteri-isteri mereka dari arah depan.”

Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat: nisaa-ukum hartsul lakum Fa’tuu hartsakum annaa syi’tum (“Istri-istri kalian adalah [seperti] lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Isnad hadits ini shahih).

Kami juga pernah meriwayatkan suatu hal yang secara jelas bertentangan dengan hal itu, dari Ibnu Umar, bahwa mendatangi istri dengan cara seperti itu tidak boleh dan bahkan dilarang. Sebagaimana akan diuraikan lebih lanjut. Dan banyak hadits yang diriwayatkan dari berbagai jalur, yang semuanya mencela dan melarang perbuatan semacam itu.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Khuzaimah bin Tsabit, bahwasanya Nabi saw. telah melarang suami mendatangi isterinya dari duburnya.

Abu Isa at-Tirmidzi dan an-Nasa’i meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, Rasulullah saw. pernah bersabda: “Allah tidak akan melihat orang yang mendatangi seorang laki-laki atau istri-nya pada bagian dubur.” (HR. At-Tirmidzi dan Nasa’i).

Lebih lanjut at-Tirmidzi mengatakan, hadits ini hasan gharib. Demikianlah diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitab, Shahih Ibnu Hibban, dan dishahih-kan oleh Ibnu Hazm.

Abd meriwayatkan dari Abdur Razaq, dari Mu’ammar, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Ibnu Abbas tentang mendatangi isteri dari duburnya. Maka ia menjawab: “Engkau menanyakan kepadaku mengenai kekufuran.”
Isnad hadits itu shahih. Dan an-Nasa’i juga meriwayatkan hal senada.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi pernah bersabda: “Mencampuri isteri dari bagian dubur adalah homoseksual kecil.”

Qatadah menceritakan, Uqbah bin Wisaj memberitahuku, dari Abu Darda’, ia mengatakan: “Dan tidaklah hal itu dilakukan kecuali oleh orang kafir.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan, dari Ali bin Thalaq, ia menceritakan: “Rasulullah melarang seseorang mencampuri isteri dari duburnya, dan Allah tidak malu membicarakan kebenaran.”

Hadits tersebut juga diriwayatkan Ahmad, dari Abu Mu’awiyah, dan Abu Isa at-Tirmidzi juga melalui jalan Abu Mu’awiyah, dari Ashim al-Ahwal, yang di dalamnya terdapat tambahan. Dan ia (at-Tirmidzi) mengatakan, hadits ini hasan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dalam sebuah hadits marfu’, bahwa Rasulullah saw. beliau bersabda: “Allah swt. tidak akan melihat kepada orang yang mencampuni isterinya dari duburnya.”

Hal yang sama juga diriwayatkan Ibnu Majah melalui jalur Suhail. Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia menceritakan ,Rasulullah saw. telah bersabda: “Terlaknat orang yang mencampuri istrinya dari duburnya.”

Hal senada juga diriwayatkan Abu Dawud dan an-Nasa’i melalui jalurWaki’.

Ats-Tsauri meriwayatkan, dari as-Shalt bin Bahram, dari Abul Mu’tamar, dari Abu Juwairah, ia menceritakan, ada seseorang yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib tentang mencampuri isetri dari duburnya. Maka ia mengatakan: “Engkau telah berbuat kehinaan, maka Allah akan menghinakanmu. Tidakkah engkau mendengar firman Allah [yang artinya]: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu (homoseksual), yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kamu?’” (QS. Al-A’raaf: 80).

Ibnu Mas’ud, Abu Darda’, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Ibnu `Amr berpendapat tentang haramnya perbuatan tersebut. Dan tidak diragukan lagi, bahwa inilah yang benar dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, yaitu bahwa ia mengharamkannya.

Abu Muhammad Abdurrahman bin Abdullah ad-Darimi dalam Musnadnya, dari Sa’id bin Yasar Abu Hibab, ia menceritakan: “Aku pernah mengatakan kepada Ibnu Umar: “Bagaimana pendapat anda tentang budak perempuan apakah boleh dicampuri dari tahmidh?” Ibnu Umar pun bertanya, “Apa yang dimaksud dengan tahmidh itu?” “Tahmidh berarti dubur,” jawab Sa’id. Maka Ibnu Umar mengatakan: “Apakah ada dari kalangan kaum muslimin yang melakukannya?”

Hal yang sama juga diriwayatkan Ibnu Wahab dan Qutaibah, dari al-Laits. Isnad hadits ini shahih dan sebagai nash yang sharih (jelas) dari Ibnu Umar yang mengharamkan sodomi. Dengan demikian, setiap keterangan dari Ibnu Umar yang membolehkan atau mengandung kemungkinan yang membolehkan perbuatan tersebut tertolak oleh nash muhkam (jelas) ini.

Dan diriwayatkan oleh Mu’ammar bin Isa dari Malik bahwa perbuatan tersebut adalah haram.

Abu Bakar bin Ziyad an-Naisaburi berkata, telah mengabarkan kepadaku Ismail bin Husain, telah mengabarkan kepadaku Israil bin Ruh (katanya), aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik: “Bagaimana pendapat anda tentang mencampuri isteri dari dubur?” Anas menjawab: “Kalian adalah bangsa Arab, bukanlah ladang itu melainkan tempat bercocok tanam. Janganlah kalian melampaui batas kemaluan.” Kutanyakan lagi, “Hai Abu Abdillah, mereka mengatakan bahwasanya engkau telah mengatakan hal itu.” Ia punmenjawab: “Mereka telah berbohong dengan mengatas namakan diriku, mereka telah berbohong dengan mengatas namakan diriku.”

Demikianlah riwayat yang kuat dari Anas bin Malik. Hal itu juga menjadi pendapat Abu Hanifah, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal dan seluruh para sahabatnya. Juga menjadi pendapat Sa’id bin Musayyab, Abu Salamah, Ikrimah, Thawus, Atha’, Sa’id bin Jubair, Urwah bin Zubair, Muhajid bin Jabar, Hasan al-Bashri, dan lain-lainnya dari kalangan ulama salaf, bahwa mereka semua secara tegas dan keras menentang perbuatan tersebut, bahkan sebagian dari mereka menganggap kufur perbuatan sodomi dan itulah pendapat jumhur ulama. Wallahu a’lam.

Firman Allah: wa qaddimuu li anfusikum (“Dan kerjakanlah [amal yang baik] untuk dirimu.”) Yaitu dengan berbuat ketaatan dan meninggalkan semua perbuatan yang dilarang Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wat taqullaaHa wa’lamuu annakum mulaaquuHu (“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya.”) Artinya, Dia akan menghisab semua amal perbuatan kalian. Wa basy-syiril mu’miniin (“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.”) Yaitu orang-orang yang menaati Allah swt. dengan menjalankan semua perintah-Nya, dan yang meninggalkan semua larangan-Nya.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari telah ditegaskan, dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian hendak mendatangi isterinya, maka hendaklah ia mengucapkan:

bismillaaHi allaaHumma jannabnasy syaithaana maa razaqtanaa (“Dengan nama Allah, Ya Allah hindarkanlah kami dari syaitan, dan jauhkan-lah syaitan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami.”) Karena sesungguhnya jika dari hubungan itu keduanya ditakdirkan mempunyai anak, maka anak itu tidak akan pernah dicelakakan oleh syaitan selamanya.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 221

13 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 221“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah perintah) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221)

Ini adalah pengharaman bagi kaum muslimin untuk menikahi wanita-wanita musyrik, para penyembah berhala. Jika yang dimaksudkan adalah kaum wanita musyrik secara umum yang mencakup semua wanita, baik dari kalangan ahlul kitab maupun penyembah berhala, maka Allah Ta’ala telah mengkhususkan wanita Ahlul Kitab, melalui firman-Nya yang artinya:

“(Dan dihalalkan menikahi) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, jika kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik.” (QS. Al-Maa-idah: 5).

Mengenai firman Allah Ta’ala: wa laa tankihul musyrikaati hattaa yu’minn (“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman,”) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Dalam hal ini, Allah swt. telah mengecualikan wanita-wanita Ahlul Kitab.”

Hal senada juga dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Makhul, Hasan al-Bashri, adh-Dhahhak, Zaid bin Aslam, Rabi’ bin Anas, dan ulama lainnya.

Ada yang mengatakan: “Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah wanita musyrik dari kalangan penyembah berhala, sama sekali bukan wanita Ahlul Kitab. Dan maknanya berdekatan dengan pendapat yang pertama.” Wallahu a’lam.

Setelah menceritakan ijma’ mengenai dibolehkannya menikahi wanita Ahlul Kitab, Abu Ja’far bin Jarir rahimahullahu mengatakan: “Umar melarang hal itu (menikahi wanita Ahlul Kitab) agar orang-orang tidak meninggalkan wanita-wanita muslimah atau karena sebab lain yang semakna.”

Imam Buhkari meriwayatkan, Ibnu Umar mengatakan: “Aku tidak mengetahui syirik yang lebih besar daripada seorang wanita yang mengaku ‘Isa sebagai Rabbnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Firman Allah: wa la amatum mu’minatun kahirum mim musyrikatiw walau a’jabatkum (“Sesungguhnya wanita budak yang beriman itu lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu.”) As-Suddi mengatakan: Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Rawahah yang mempunyai seseorang budak wanita berkulit hitam. Suatu ketika Abdullah marah dan menamparnya, lalu ia merasa takut dan mendatangi Rasulullah dan menceritakan peristiwa yang terjadi di antara mereka berdua (Abdullah dan budaknya). Maka Rasulullah saw. bertanya: “Bagaimana budak itu?” Abdullah bin Rawahah menjawab: “Ia berpuasa, shalat, berwudhu’ dengan sebaik-baiknya, dan mengucapkan syahadat bahwa tidak ada Ilah yang hak selain Allah dan engkau adalah Rasul-Nya.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Wahai Abu Abdullah, wanita itu adalah mukminah.” Abdullah bin Rawahah mengatakan: “Demi Allah yang mengutusmu dengan hak, aku akan memerdekakan dan menikahinya.” Setelah itu Abdullah pun melakukan sumpahnya itu, maka beberapa orang dari kalangan kaum muslimin mencelanya serta berujar: “Apakah ia menikahi budaknya sendiri?” Padahal kebiasaannya mereka ingin menikah dengan orang-orang musyrikin atau menikahkan anak-anak mereka dengan orang-orang musyrikin, karena menginginkan kemuliaan leluhur mereka.

Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat: wa la amatum mu’minatun kahirum mim musyrikatiw walau a’jabatkum (“Sesungguhnya wanita budak yang beriman itu lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu.”)
wa la a’bdum mu’minatun kahirum mim musyrikatiw walau a’jabatkum (“Sesungguhnya wanita budak yang mu’min itu lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu.”)

Dalam kitab shahih pun (al-Bukhari dan Muslim) telah ditegaskan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Pilihlah wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hal senada juga diriwayatkan Imam Muslim, dari Jabir bin Abdullah, dari Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Dan firman-Nya: wa laa tunkihul musyrikiina hattaa tu’minuu (“Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik [dengan wanita-wanita mukmin] sebelurn mereka beriman.”) Artinya, janganlah kalian menikahkan laki-laki musyrik dengan wanita-wanita yang beriman.
shalihah.” (HR. Muslim).

Sebagaimana Allah Ta’ala juga berfirman [yang artinya]: “Mereka (wanita-wanita yang beriman) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tidak halal juga bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10)

Setelah itu Allah swt. berfirman: wa la a’bdum mu’minatun kahirum mim musyrikatiw walau a’jabatkum (“Sesungguhnya wanita budak yang mu’min itu lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu.”)
Artinya, seorang budak laki-laki yang beriman meskipun ia seorang budak keturunan Habasyi (Ethiopia) adalah lebih baik daripada seorang laki-laki musyrik meskipun ia seorang pemimpin yang mulia.

Ulaa-ika yad’uuna ilan naar (“Mereka mengajak ke neraka.”) Maksudnya, bergaul dan berhubungan dengan mereka hanya akan membangkitkan kecintaan kepada dunia dan kefanaannya serta lebih mengutamakan dunia daripada akhirat dan hal ini berakibat buruk.

wallaaHu yad’u ilal jannati wal maghfirati bi-idzniHi (“Sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.”) Yaitu melalui syari’at, perintah, dan larangan-Nya.
Wa yubayyinu aayaatiHii lin naasi la’allaHum yatadzakkaruun (“Dan Allah menerangkan ayat ayat Nya [perintah-perintah] kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 219-220

13 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 219-220“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan Judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebib besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. Al-Baqarah: 219) tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, ktakanlah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu, dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 220)

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Umar bin Khaththab, ia menceritakan bahwa ketika turun ayat pengharaman khamr, ia berdo’a, “Ya Allah terangkanlah kepada kami ihwal khamr sejelas-jelasnya.” Maka turunlah ayat yang ada dalam Surat al-Bagarah ini: yas-aluunaka ‘anil khamri wal maisiri qul fiiHimaa itsmun kabiirun (“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan Judi. Katakanlah, pada keduanya itu terdapat dosa yang besar.”) Kemudian Umar dipanggil dan dibacakan ayat itu kepadanya. Maka ia pun berdo’a lagi: “Ya Allah, terangkanlah kepada kami mengenai masalah khamr ini sejelas-jelasnya.” Maka turunlah ayat yang terdapat dalam surat an-Nisaa’ [yang artinya]: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk. ” (QS. An-Nisaa’: 43).

Dan seorang muadzin Rasulullah jika mengumandangkan iqamah shalat, ia mengucapkan: “Jangan sekali-kali orang yang dalam keadaan mabuk mendekati shalat.” Kemudian Umar dipanggil dan dibacakan ayat tersebut, maka ia pun berdo’a pula: “Ya Allah, terangkanlah kepada kami mengenai khamr ini sejelas-jelasnya.” Maka turunlah ayat yang terdapat dalam surat al-Maidah [yang artinya]: “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi, serta menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu). ” (QS. Al-Maidah: 91)

Lalu Umar dipanggil dan dibacakan ayat tersebut, dan ketika bacaan itu sampai pada kalimat, “FaHal antum muntaHuun (“berhentilah kamu [dari mengerjakan perbuatan itu]”) Umar berkata, “Kami berhenti, kami berhenti.”

Demikian pula hadits yang diriwayatkan Imam Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Ali bin al-Madini mengatakan, isnad hadits ini shaleh (bagus), shahih, dan dishahihkan oleh Tirmidzi. Dan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim, ia menambahkan setelah kalimat, “Kami berhenti, kami berhenti,” yaitu kalimat, “Karena ia dapat menghilangkan harta benda dan menghilangkan akal fikiran.”

Hadits ini juga akan diuraikan lebih lanjut bersamaan dengan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad melalui jalan Abu Hurairah, pada pembahasan surat al-Maidah ayat 90 yang artinya berbunyi:
“Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maa-idah: 90)

Firman Allah: yas-aluunaka ‘anil khamri wal maisiri (“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi.”) Sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khaththab ra, kamr adalah segala sesuatu yang dapat mengacaukan akal. Seperti yang akan diuraikan lebih lanjut dalam pembahasan ayat dalam surat al-Maa-idah. Demikian juga dengan pengertian maisir yang berarti al-qimar (Judi).

Firman-Nya selanjutnya: qul fiiHimaa itsmun kabiiruw wa manaafi’u lin naasi (“Katakanlah, pada keduanya itu terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia.”) Dosanya itu menyangkut masalah agama, sedangkan manfaatnya berhubungan dengan masalah duniawi, yakni minuman itu bermanfaat bagi badan, membantu pencernaan makanan, dan mengeluarkan sisa-sisa makanan, mempertajam sebagian pemikiran, kenikmatan dan daya tariknya yang menyenangkan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Hassan bin Tsabit pada masa jahiliyahnya:

Kami meminumnya hingga kami terasa sebagai raja dan singa.
Yang pertemuan itu tidak menghentikan kami.

Demikian juga menjualnya dan memanfaatkan uang hasil dari penjualannya. Dan juga keuntungan yang mereka dapatkan dari permainan judi, lalu mereka nafkahkan untuk diri dan keluarganya. Tetapi faedah tersebut tidak sebanding dengan bahaya dan kerusakan yang terkandung di dalamnya, karena berhubungan dengan akal dan agama. Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: wa itsmuHumaa akbaru min naf’iHimaa (“Tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.”)

Oleh karena itu, ayat ini diturunkan sebagai pendahulu untuk mengharamkan khamr secara keseluruhan, tapi larangan itu masih dalam bentuk sindiran belum secara tegas. Karenanya, ketika dibacakan ayat ini kepada Umar bin Khaththab berdo’a: “Ya Allah, terangkanlah kepada kami mengenai khamr ini sejelas-jelasnya.” Maka turunlah ayat yang terdapat dalam surat al-Maidah yang secara tegas mengharamkan khamr.

Ibnu Umar, asy-Sya’bi, Mujahid, Qatadah, Rabi’ bin Anas, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Ayat-ayat yang pertama kali turun berkenaan dengan khamr, yaitu firman-Nya [yang artinya]: “Mereka bertanya kepadamu tentang minuman khamr dan judi. Katakanlah, Pada keduanya itu terdapat dosa yang besar.” Ayat yang terdapat dalam surat an-Nisa’, kemudian yang terdapat dalam surah al-Maidah, hingga akhirnya secara tegas khamr tersebut diharamkan.”

Firman Allah: wa yas-aluunaka maa dzaa yunfiquuna qulil ‘afwa (“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: Yang lebih dari keperluan.”) Kata al-‘afw dibaca manshub atau marfu’ dan kedua-duanya baik, beralasan dan berdekatan. Ibnu Abi Hatim menceritakan, ayahku memberitahu kami, ia menuturkan bahwa Mu’adz bin Jabal dan Tsa’labah pernah mendatangi Rasulullah seraya mengatakan: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami mempunyai sejumlah budak dan keluarga, bagaimana kami menginfakkan harta kami?” Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat: wa yas-aluunaka maa dzaa yunfiquuna (“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan.”)

Mengenai firman Ta’ala ini, al-Hakam menceritakan dari Muqsim, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Apa yang lebih dari (kebutuhan untuk) keluargamu.”

Hal senada-juga diriwayatkan dari Ibnu Umar; Mujahid, Atha’, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Ka’ab, Hasan al-Bashri, Qatadah, al-Qasim, Salim, Atha’ Al-Khurasani, Rabi’ bin Anas, dan ulama-ulama lainnya, mengenai firman Allah Ta’ala: “qulil ‘afwa” mereka mengatakan: “Yaitu kelebihan.”

Diriwayatkan dari Thawus, “Yaitu bagian kecil dari segala sesuatu”.
Sedangkan menurut Rabi’ bin Anas, “Yaitu sesuatu yang terbaik dan paling utama dari apa yang engkau miliki”. Tetapi semuanya kembali kepada kelebihan.

Dalam tafsirnya, Abd bin Humaidi meriwayatkan dari al-Hasan mengenai firman Allah: wa yas-aluunaka maa dzaa yunfiquuna qulil ‘afwa; ia mengatakan: “Janganlah engkau menginfakkan seluruh hartamu, lalu engkau duduk sambil meminta-minta kepada orang lain.” Berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Jarir dari Abu Hurairah ra, ia menceritakan: “Ada seseorang yang mengatakan: ‘Ya Rasulullah, aku mempunyai satu dinar.’ Maka beliau bersabda: `Nafkahkanlah untuk dirimu sendiri.’ Orang itu menjawab: ‘Aku masih punya yang lain lagi.’ Dan beliau pun bersabda: ‘Nafkahkanlah untuk keluargamu.’ Orang itu masih berkata lagi: ‘Aku masih punya yang lain lagi, ya Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Nafkahkanlah untuk anakmu.’ ‘Aku masih punya dinar yang lain lagi.’ Dan Rasulullah bersabda: ‘Engkau lebih tahu (kepada siapa uang itu harus dinafkahkan).’” (Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam kitab shahih)

Firman Allah berikutnya: kadzaalika yubayyinullaaHu lakumul aayaati la’allakum tatafakkaruuna fid dun-yaa wal aakhirati (“DemikianlahAllah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir tentang dunia dan akhirat.”) Artinya, sebagaimana Allah Ta’ala telah memberikan rincian dan menjelaskan hukum-hukum ini kepada kalian sebagaimana Dia telah menjelaskan ayat-ayat tentang hukum, janji, dan ancaman-Nya agar kalian memikirkan tentang dunia dan akhirat.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, (makna ayat itu) yaitu tentang kefanaan dan sirnanya dunia serta datangnya negeri akhirat dan kekekalannya.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sha’aq at-Tanimi, ia menuturkan, aku pernah menyaksikan al-Hasan sedang membaca ayat dari Surat al-Baqarah ini: la’allakum tatafakkaruuna fid dun-yaa wal aakhirati; lalu ia berkata: “Demi Allah, barangsiapa memikirkannya, maka ia akan mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat yang penuh cobaan dan ujian, serta tidak abadi. Sedangkan akhirat adalah tempat pemberian balasan dan kekal.” Demikian dikemukakan oleh Qatadah, Ibnu Juraij, dan ulama lainnya.

Abdur Razak meriwayatkan dari Mu’ammar, dari Qatadah, “Agar mereka mengetahui kelebihan akhirat atas dunia.” Dan dalam riwayat lain dari Qatadah: “Maka hendaknya kalian lebih mengutamakan akhirat daripada dunia”.

Firman Allah yang artinya:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah: Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu.” Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, ketika turun ayat: wa laa taqrabul maalal yatiimi illaa bil laatii Hiya ahsan (“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali melalui cara yang lebih baik.”) (QS. Al-An’am: 152), dan ayat [yang artinya]:

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim secara zhalim sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.” (QS. An-Nisaa’: 10). Maka (dengan turunnya ayat tersebut) orang yang mengasuh anak yatim langsung memisahkan makanan dan minumannya dari makanan dan minuman anak yatim yang diasuhnya. Lalu ia menyisakan sebagian dari makanannya dan ia simpan untuk si yatim, sampai si yatim memakannya, atau makanan itu jadi basi. Karena hal itu menyulitkan mereka (pengasuh anak yatim), lalu mereka melaporkan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. maka Allah pun menurunkan ayat:

Yas-aluunaka ‘anil yataamaa qul ishlaahul laHuu khairuw wa in tukhaalithuuHum fa ikhwaanukum (“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah: Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu.”)’ Setelah itu mereka pun menggabung makanan dan minuman mereka dengan makanan dan minuman anak yatim.

Kisah ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih, al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak. Dan begitu juga yang disebutkan oleh banyak ulama berkenaan dengan turunnya ayat ini, baik dari kalangan ulama salaf maupun khalaf.

Jadi firman-Nya: qul ishlaahul laHum khairun (“Katakanlah: mengurus urusan mereka secara patut adalah baik,”) yakni secara terpisah. Wa in tukhaalithuuHum fa ikhwaanukum (“Dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu.”) Artinya, kalian juga boleh menggabungkan makanan dan minuman kalian dengan makanan dan minuman mereka, karena mereka adalah saudara kalian seagama.

Oleh karena itu Allah berfirman: wallaaHu ya’lamul mufsida minal mushlih (“Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan.”) Artinya, Dia mengetahui orang yang berniat membuat kerusakan dari orang bemiat melakukan perbaikan.

Firman Allah: walau syaa-AllaaHu la a’natakum innallaaHa ‘aziizun hakim (“Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) Maksudnya, seandainya Allah menghendaki, niscaya dapat mempersulit dan memberatkan kalian, tetapi Dia memberikan keleluasaan dan keringanan kepada kalian, serta membolehkan kalian menggabungkan makanan dan minuman kalian dengan makanan dan minuman mereka, dengan cara yang lebih baik. Allah swt. telah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik.” (QS. Al-An’am: 152) Bahkan Allah membolehkan makan dari harta anak yatim itu bagi orang yang membutuhkan, dengan cara yang baik, baik dengan syarat harus menggantinya bagi yang mampu atau secara cuma-cuma. Sebagaimana hal itu akan diuraikan lebih lanjut dalam pembahasan surat an-Nisaa’, insya Allah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 217-218

13 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 217-218“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil-haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 217) Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)

Ibnu Abi Hatim menceritakan, dari Jundub bin Abdullah bahwasanya Rasulullah pernah mengutus sebuah delegasi, dan menunjuk Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai pemimpin. Ketika Abu Ubaidah berangkat, ia pun menangis, karena berat meninggalkan Rasulullah, maka beliau pun menahan kepergian Abu Ubaidah. Selanjutnya beliau mengutus Abdullah bin Jahsy untuk menggantikan posisi Abu Ubaidah, Rasulullah menitipkan sepucuk surat kepadanya dan memerintahkan agar ia tidak membacanya hingga ia sampai di suatu tempat ini dan itu, seraya berpesan, “Janganlah engkau memaksa seseorang dari para sahabatmu untuk pergi bersamamu.” Setelah membaca isi surat itu, ia pun berucap: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’uun” dan berkata, “Aku patuh dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.” Selanjutnya ia menyampaikan berita itu dan membacakan surat itu kepada mereka. lalu ada dua orang yang pulang kembali.

(Dalam sirah diceritakan, tidak ada seorang pun dari mereka yang kembali pulang. Tetapi Sa’ad bin Abi Waqqash dan Atabah bin Ghazwan tertinggal di belakang, karena kehilangan unta. Mereka berdua terlambat karena mencari unta tersebut dan kembali pulang ke Madinah setelah delegasi itu berangkat.)

Dan mereka yang tersisa terus berjalan hingga bertemu dengan Ibnu al-Hadhrami, maka mereka membunuhnya, sedang mereka tidak mengetahui bahwa hari itu termasuk bulan Rajab atau Jumadil Tsaniyah. Lalu orang-orang musyrik mengatakan kepada kaum muslimin: “Kalian telah berperang pada bulan Haram.”Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya:

Yas-aluunaka ‘anisy-syaHril haraami qitaalin fiiHi qul qitaalun fiiHi kabiir (“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang padamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, berperang pada bulan itu adalah dosa besar.”) Tidak boleh berperang pada bulan haram itu, namun apa yang kalian kerjakan, hai orang-orang musyrik lebih besar dosanya daripada pembunuhan pada bulan haram ini, yaitu kalian kufur kepada Allah Ta’ala, kalian halangi Muhammad dan para sahabatnya dari Masjidilharam dan kalian mengusir penduduk yang tinggal di sekitar Masjidilharam yaitu ketika mereka mengusir Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Di sisi Allah, hal itu jelas lebih besar dosanya daripada pembunuhan.

Mengenai firman Allah: Yas-aluunaka ‘anisy-syaHril haraami qitaalin fiiHi qul qitaalun fiiHi kabiir (“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang padamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, berperang pada bulan itu adalah dosa besar.”) al-Aufi mengemukakan, dari Ibnu Abbas, yaitu bahwa orang-orang musyrik menghalangi dan melarang Rasulullah masuk Masjidilharam pada bulan Haram. Kemudian Allah Ta’ala membukakan jalan bagi Nabi-Nya pada bulan Haram tahun berikutnya. Karena itulah, orang-orang musyrik menuduh Rasulullah berperang pada bulan Haram.

Maka Allah swt. berfirman: wa shadduu ‘an sabiilillaaHi wa kufrum biHii wal masjidil haraami wa ikhraaju aHliHii minHu akbaru ‘indallaaHi (“Tetapi menghalangi [manusia] dari jalan Allah, kafir kepada Allah, [menghalangi masuk] Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya lebih besar [dosanya] di sisi Allah.”) Yaitu lebih besar dosanya daripada pembunuhan pada bulan Haram ini. Maksudnya yaitu, jika kalian telah melakukan pembunuhan pada bulan haram, tetapi mereka telah menghalangi kalian dari jalan Allah Ta’ala dan Masjidilharam, kafir kepada-Nya, dan mengusir kalian darinya, padahal kalian adalah penduduk asli di sana, maka hal itu: akbaru ‘indallaaHi (“Lebih besar [dosanya] di sisi Allah,”) daripada pembunuhan yang kalian lakukan terhadap salah seorang dari mereka.

Firman-Nya: wal fitnatu akbaru minal qatli (“Dan berbuat fitnah itu lebih besar [dosanya] daripada membunuh.”) Artinya, mereka sebelumnya telah menekan [mengintimidasi] orang muslim dalam urusan agamanya sehingga mereka berhasil mengembalikannya kepada kekufuran setelah keimanannya. Maka perbuatan seperti itu lebih besar dosanya di sisi Allah daripada pembunuhan.

Dan firman-Nya: wa laa yazaaluuna yuqaatiluunakum hattaa yarudduukum ‘an diinikum inistathaa’uu (“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka dapat mengembalikan kamu dari agama kamu [kepada kekafiran], seandainya mereka sanggup.”) Maksudnya, kemudian mereka akan terus melakukan perbuatan yang lebih keji tanpa ada keinginan untuk bertaubat dan menghentikan diri.

Ibnu Ishaq mengatakan: Setelah tampak jelas persoalannya bagi Abdullah bin Jahsy dan para sahabatnya dengan turunnya ayat ini, maka mereka sangat mengharapkan pahala seraya berkata: “Ya Rasulullah, bolehkan kami mengharap adanya peperangan? Hingga kami memperoleh pahala mujahidin dalam perang itu?” Maka Allah swt. pun menurunkan firman-Nya: innal ladziina aamanuu wal ladziina Haajaruu wa jaaHaduu fii sabiilillaaHi ulaa-ika yarjuuna rahmatallaaHi wallaaHu ghafuurur rahiim (“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”)

Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Ziyad, dari Ibnu Ishak, telah disebutkan pula dari sebagian keluarga Abdullah, bahwa Abdullah telah membagi fa’i (harta rampasan perang) ketika Allah Ta’ala telah menghalalkannya, menjadi 4/5 (empat perlima) bagian untuk orang-orang yang diberi harta rampasan (yang ikut berperang), dan 1/5 (seperlima) diserahkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka ketentuan Allah yang berlaku dalam hal ini adalah seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Jahsy pada kafilah (yang membawa harta) orang Quraisy itu.

Lebih lanjut Ibnu Hisyam mengemukakan: “Itulah harta rampasan perang pertama yang diperoleh kaum muslimin. Dan Amr bin al-Hadhrami adalah orang yang pertama kali dibunuh oleh kaum muslimin, sedangkan Utsman bin Abdullah dan al-Hakam bin Kisan adalah orang pertama yang ditawan oleh kaum muslimin.”

Ibnu Ishaq mengatakan: “Maka Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dalam perang (yang dipimpin oleh) Abdullah bin Jahsyi, mengucapkan syair di bawah ini, dan ada yang berpendapat syair itu diucapkan oleh Abdullah bin Jahsyi itu sendiri. Syair itu ia ucapkan ketika orang-orang Quraisy mengatakan, “Muhammad dan para sahabatnya telah menghalalkan perang pada bulan Haram dengan menumpahkan darah, mengambil harta benda, dan menawan banyak orang.”

Ibnu Hisyam menuturkan, bait-bait berikut ini diucapkan Abdullah bin Jahsyi:

Kalian anggap dosa besar berperang pada bulan Haram.
Padahal ada yang lebih besar dari itu, jika orang dewasa memperoleh petunjuk.
(Yaitu) penolakan kalian terhadap apa yang dikatakan Muhammad.
Dan kekufuran kepada Allah, padahal Allah melihat dan menyaksikan.
Tindakan kalian mengusir penghuni Masjidilharam.
Agar tak terlihat lagi orang yang bersujud kepada Allah di Baitullah.
Dan sesungguhnya kami -meskipun kalian telah mencela kami karena
membunuhnya (Ibnu) Hadrami)-.
Hanyalah menggetarkan orang-orang jahat dan dengki terhadap Islam.
Kami telah basahi tombak-tombak kami dengan darah Ibnu Hadrami
di Nakhlah.
Ketika Waqid menyalakan perang.
Dan Utsman ibnu Abdullah menjadi tawanan kami.
Dalam keadaan terbelenggu, akan dikembalikan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 216

13 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 216“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalab sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetabui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ini merupakan penetapan kewajiban jihad dari Allah swt, bagi kaum muslimin. Supaya mereka menghentikan kejahatan musuh di wilayah Islam. Az-Zuhri mengatakan: “Jihad itu wajib bagi setiap individu, baik yang berada dalam peperangan maupun yang sedang duduk (tidak ikut berperang). Orang yang sedang duduk, apabila dimintai bantuan, maka ia harus memberikan bantuan, jika diminta untuk berperang, maka ia harus maju berperang, dan jika tidak dibutuhkan, maka hendaklah ia tetap di tempat (tidak ikut).”

Berkenaan dengan hal tersebut, penulis (Ibnu Katsir) katakan, oleh karena itu, dalam hadits shahih disebutkan: “Barangsiapa meninggal dunia sedang ia tidak pemah ikut berperang dan ia juga tidak pemah bemiat untuk berperang, maka ia meninggal dunia dalam keadaan jahiliyah.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda pada waktu Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah): “Tidak ada hijrah setelah fathu Makkah [pembukaan kota Makkah] akan tetapi yang ada adalah jihad dan niat baik. Bila kalian diminta untuk maju perang maka majulah.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Firman-Nya: wa Huwa kurHul lakum (“Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.”) maksudnya sangat berat dan menyulitkan kalian. Karena berperang akan menyebabkan luka atau kematian. Di samping kesulitan dalam perjalanan serta keberanian dalam menghadapi musuh.

Wa ‘asaa an takraHuu syai-aw wa Huwa khairul lakum (“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu sangat baik bagi kalian.”) artinya karena peperangan itu membawa kemenangan dan keberuntungan atas musuh, penguasaan atas negeri, harta benda, wanita dan anak-anak mereka.

Wa ‘asaa an tuhibbuu syai-aw wa Huwa syarrul lakum (“Dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal ia sangat buruk bagi kamu.”) Pengertian ayat ini bersifat umum dalam segala hal. Bisa saja seseorang menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu tidak mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan baginya. Di antaranya adalah penolakan ikut berperang yang akan berakibat jatuhnya negeri dan pemerintahan ke tangan musuh.

Kemudian Allah berfirman: wallaaHu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun (“Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”) Artinya, Allah Ta’ ala lebih mengetahui akibat dari segala sesuatu. Dan Dia memberitahukan bahwa dalam peperangan itu terdapat kebaikan bagi kalian di dunia maupun di akhirat. Karena itu, sambut dan bersegeralah memenuhi perintah-Nya supaya kalian mendapat petunjuk.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 215

13 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 215“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’ Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Mahamengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 215)

Muqatil bin Hayyan mengatakan: “Ayat ini berkenaan dengan nafkah tathawwu’ (sunnah).”
As-Suddi mengemukakan: “Nafkah ini telah dinasakh (dihapuskan) dengan zakat.”
Namun. hal ini masih perlu ditinjau kembali. Sedangkan makna ayat itu adalah, mereka bertanya kepadamu (Muhammad), bagaimana mereka harus berinfak? Demikian menurut pendapat Ibnu Abbas dan Mujahid.

Maka Allah menjelaskan hal itu dengan berfirman: qul maa anfaqtum min khairin fa lilwaalidaini wal aqrabiina wal yataamaa wal masaakiini wabnis sabiil (“Jawablah, apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’”) Maksudnya, berikanlah infak kepada mereka.

Sebagaimana hal itu telah dijelaskan dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda: “Ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, dan setelah itu orang-orang yang lebih dekat (dalam hubungan kekerabatan).” (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan al-Hakim)

Maimun bin Mahran membaca ayat ini kemudian berkata, “Inilah tempat penyaluran infak. Tidak disebutkan di dalam ayat itu, rebana, seruling, patung kayu, dan tirai-dinding (barang yang haram dan sia-sia.-pent.)

Setelah itu Allah berfirman: wa maa taf’aluu min khairin fa innallaaHa biHii ‘aliim (“Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Mahamengetahui.”) Maksudnya, Allah mengetahui kebaikan apa pun wujudnya, dan Dia akan membalas kebaikan kalian itu dengan pahala yang lebih besar, karena Allah tidak pernah mendhalimi seorang pun meski hanya sebesar dzarrah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 214

13 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 214“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah.’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah: 214)

Allah swt. berfirman: am hasibtum an tadkhulul jannata (“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga.”) Sebelum kamu diuji dan dicoba, sebagaimana yang Allah Ta’ala timpakan kepada orang-orang yang sebelum kamu. Oleh karena itu, Dia pun berfirman: wa lammaa ya’tikum matsalul ladziina khalau min qablikum massatHumul ba’saa-u wadl-dlarraa-u (“Padahal belum datang kepadamu [cobaan] sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan.”) Yaitu berupa berbagai macam penyakit, musibah, dan cobaan.”)

Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abu al-Aliyah, Mujahid, Sa’id bin Jabir, Murrah al-Hamdani, Hasan al-Bashri, Qatadah, adh-Dhahhak, Rabi’ bin Anas, as-Suddi, dan Mugatil bin Hayyan mengatakan, al-ba’saa berarti kefakiran, adh-dharra’ berarti penyakit, wa zulzilu berarti dibuat terguncang jiwa mereka dengan goncangan yang keras dari musuh, dan mereka diuji dengan berbagai cobaan yang sangat berat. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih, dari Khabab bin al-Arat, ia menceritakan, kami tanyakan:
“‘Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak memohon pertolongan untuk kami, dan mengapa engkau tidak mendo’akan kami?” Maka beliau pun bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, ada di antara mereka yang digergaji pada tengah-tengah kepalanya hingga terbelah sampai kedua kakinya, namun hal itu tidak memalingkan dirinya dari agama yang dipeluknya. Ada juga yang tubuhnya disisir dengan sisir besi sampai terpisah antara daging dan tulangnya, namun hal itu tidak menjadikannya berpaling dari agamanya.” Selanjutnya beliau bersabda, “Demi Allah, Allah benar-benar akan menyempurnakan perkara (agama) ini sehingga seorang yang berkendaraan dari Shana menuju ke Hadhramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah, dan hanya mengkhawatirkan serigala atas kambingnya. Tetapi kalian adalah kaum yang tergesa-gesa.”

Allah berfirman yang artinya: “Alif laaf miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabuut: 1-3)

Sebagian besar dari cobaan tersebut telah menimpa para Sahabat pada peristiwa perang Ahzab, sebagaimana firman Allah yang artinya: “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.’” (QS. Al-Ahzaab: 10-12)

Ketika Heraclius bertanya kepada Abu Sufyan: “Apakah kalian memeranginya?” “Ya”, Jawab Abu Sufyan. “Bagaimana peperangan yang terjadi di antara kalian?” tanya Heraclius. Abu Sufyan menjawab: “Bergantian, terkadang kami yang menang, dan terkadang dia yang memenangkannya.” Lebih lanjut Heraclius mengatakan: “Demikian juga para Rasul diuji, sedangkan kemenangan terakhir adalah untuk mereka.”

Dan firman Allah Ta’ala: matsalul ladziina khalau min qablikum (“Sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu.”) Yakni, sudah menjadi ketetapan bagi mereka. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Maka Kami telah binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya daripada mereka itu (kaum Musyrikin Makkah) dan telah terdahulu (tersebut dalam al-Qur an) perumpamaan umat-umat masa lalu.” (QS. Az-Zukhruf: 8)

Firman-Nya selanjutnya: wa zulziluu hattaa yaquular rasuulu wal ladziina aamanuu ma’aHu mataa nashrullaaHi (“Dan mereka digoncangkan [dengan berbagai macam cobaan] sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’”) Artinya, mereka memohon agar diberikan kemenangan atas musuh-musuh mereka dan berdo’a agar didekatkan dengan kemenangan serta dikeluarkan dari kesulitan dan kesusahan.

Maka Allah swt. pun berfirman: alaa inna nashrallaaHi qariib (“Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.”)
Sebagaimana Dia berfirman: fa inna ma’al ‘usri yusran inna ma’al ‘usri yusran (“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 5-6)

Dan sebagaimana difirmankan bahwa kesulitan itu diturunkan bersama pertolongan. Oleh karena itu Dia berfirman: alaa inna nashrallaaHi qariib (“Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.”)

&