Tag Archives: Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah (6)

22 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Jatsiyah
Surah Makkiyyah; Surah ke 45: 37 ayat

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 30-37“30. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh Maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata. 31. dan Adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan): “Maka Apakah belum ada ayat-ayat Ku yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu Jadi kaum yang berbuat dosa?” 32. dan apabila dikatakan (kepadamu): “Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya”, niscaya kamu menjawab: “Kami tidak tahu Apakah hari kiamat itu, Kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan Kami sekali-kali tidak meyakini(nya)”. 33. dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. 34. dan dikatakan (kepada mereka): “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan Pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong”. 35. yang demikian itu, karena Sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat. 36. Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam. 37. dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan bumi, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Jaatsiyah: 30-37)

Allah memberitahukan tentang keputusan yang Dia berikan kepada semua makhluk-Nya pada hari kiamat kelak. Dimana Dia berfirman: fa ammaal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih.”) yakni hati mereka yang beriman, lalu seluruh anggota badan mereka mengerjakan amal shalih, [yaitu] yang dikerjakan secara tulus dan sesuai dengan syariat. Fa yudkhiluHum rabbuHum fii rahmatiHi (“Maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya”) yaitu surga.
Sebagaimana yang ditegaskan di dalam hadits shahih, bahwa Allah Ta’ala telah berfirman kepada surga: “Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku memberikan rahmat kepada siapa yang Aku kehendaki.”
Dzaalika Huwal fauzul mubiin (“Itulah keberuntungan yang nyata.”) yaitu, yang benar-benar jelas dan gamblang.

Allah berfirman: wa ammalladziina kafaruu afalam takun aayaatii tutlaa ‘alaikum fastakbartum (“Dan adapun orang-orang kafir [kepada mereka dikatakan]: ‘Maka apakah belum ada ayat-ayat-Ku yang dibacakan kepada kalian, lalu kalian menyombongkan diri?’”) yakni hal itu dikatakan kepada mereka sebagai hinaan dan celaan. Bukankah telah dibacakan ayat-ayat Allah Ta’ala kepada kalian, tetapi kalian malah menolak mengikutinya dan enggan mendengarkannya? Dan kalian adalah kaum yang benar-benar berbuat dosa dalam perbuatan kalian dengan segala kedustaan yang telah menyelimuti hati kalian.

Wa idzaa qiila inna wa’dallaaHi haqquw was saa-‘atu laa raiba fiiHaa (“Dan apabila dikatakan [kepada kalian]: ‘Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan kepadanya.’”) masudnya jika hal itu dikatakan oleh orang-orang yang beriman kepada kalian, qultum maa nadrii mas saa-‘atu (“Niscaya kalian menjawab: ‘Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu.’”) maksudnya kami tidak mengetahuinya. In nadhunnu illadh dhannan (“Kami sekali-sekali tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”) artinya kami meragukan kejadiannya tanpa dasar. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa maa nahnu bimustaiqiniin (“Dan kami sekali-sekali tidak meyakini[nya].”) maksudnya, tidak mempercayainya.

Allah Ta’ala berfirman: wa badaalaHum sayyi-aatu maa ‘amiluu (“Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan.”) maksudnya tampak oleh mereka hukuman amal perbuatan mereka yang buruk. Wa haaqa biHim (“Dan mereka diliputi.”) dikelilingi, maa kaanuu biHii yastaHzi-uun (“Oleh apa yang mereka selalu memperolok-olokkannya.”) yakni adzab dan siksaan. Wa qiilal yauma nansaakum (“Dan dikatakan [kepada mereka]: ‘Pada hari ini Kami melupakanmu.”) maksudnya Kami memperlakukan kalian seperti perlakuan orang yang lupa kepada kalian di neraka jahannam. Kamaa nasiitum liqaa-a yaumikum Haadzaa (“Sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan [dengan] harimu ini.”) maka kalian tidak mau beramal untuk menghadapinya, karena kalian tidak mempercayainya. Wa ma’waakumun naaru wa maa lakum min naashiriin (“dan tempat kembali kamu adalah neraka dan kamu sekali-sekali tidak memperoleh penolong.”)

Di dalam hadits shahih telah ditegaskan bahwa Allah berfirman kepada sebagian hamba pada hari kiamat kelak: “Bukankah Aku telah menikahkanmu, bukankah Aku telah memuliakanmu, bukankah Aku telah menyediakan kuda dan unta untukmu, membiarkanmu menguasai dan mengendarainya?” Maka, ia berkata: “Benar, wahai Rabb-ku.” Kemudian Allah berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan menemui-Ku?” ia menjawab: “Tidak.” Maka Allah berfirman: “Karena itu, sekarang Aku melupakanmu sebagaimana kamu telah melupakan-Ku.”

Firman Allah: dzaalikum bi annakumut takhadztum aayaatillaahi Huzuwan (“Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan.”) maksudnya, sesungguhnya Kami berikan balasan seperti itu kepada kalian, karena kalian telah menjadikan hujjah-hujjah Allah atas kalian hanya sebagai bahan ejekan yang kalian olok-olokkan. Wa gharrakumul hayaatad dun-yaa (“Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia.”) artinya, dunia telah memperdaya kalian dan kalian pun merasa senang dengannya, sehingga kalian termasuk orang-orang yang merugi.
Oleh karena itu Allah berfirman: fal yauma laa yukh-rajuuna minHaa (“Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan darinya.”) yakni dari neraka, wa laa Hum yusta’tabuun (“Dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.”) maksudnya kalian tidak diminta untuk memohon ampun, tatapi justru kalian akan diadzab tanpa hisab dan tanpa kesempatan bertaubat, sebagaimana segolongan orang dari kaum mukminin yang masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab.

Setelah itu Allah menyebutkan hukum-Nya yang berlaku bagi orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, dengan firman-Nya: fa lillaaHil hamdu rabbus samaawaati wa rabbul ardli (“Maka bagi Allah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi.”) yakni raja bagi keduanya dan semua yang ada di dalamnya, rabbul ‘aalamiin (“Rabb semesta alam.”)

Kemudian firman Allah: wa laHul kib-riyaa-u fis samaawaati wal ardli (“Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan Rabb bumi.”) Mujahid berkata: “Yaitu kekuasaan yang agung lagi mulia yang segala sesuatu tunduk kepada-Nya dan senantiasa membutuhkan-Nya.”
Dalam hadits shahih telah ditegaskan: “Allah berfirman: ‘Keagungan-Ku adalah pakaian-Ku dan kesombongan [kebesaran] itu selendang-Ku. Barangsiapa melepas salah satunya dari-Ku, maka Aku akan menempatkannya di neraka-Ku.”
Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Sa’ad, dari Rasulullah saw.

Dan firman-Nya: wa Huwal ‘aziizu (“Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa.”) yang tidak dapat dikalahkan dan tidak dapat dihalangi, alhakiim (“Lagi Mahabijaksana.”) yakni , dalam ucapan, perbuatan, syariat dan kekuasaan-Nya. Mahatinggi Dia lagi Mahasuci, tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia.
Sekian.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah (5)

22 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Jatsiyah
Surah Makkiyyah; Surah ke 45: 37 ayat

Firman Allah: qulillaaHu yuhyiikum tsumma yumiitukum (“Katakanlah: ‘Allah-lah yang menghidupkanmu, kemudian mematikanmu.’”) maksudnya, sebagaimana hal itu telah kalian saksikan, dimana Dia telah mengadakannya dari ketiadaan sebelumnya menjadi berwujud. Artinya Rabb yang telah mampu memulai itu sudah pasti mampu untuk mengembalikan, dan yang terakhir ini lebih mudah. Sebagaimana firman-Nya: wa Huwalladzii yabda-ul khalqa tsumma yu-‘iiduHuu wa Huwa aHwanu ‘alaiHi (“Dan Dia-lah yang menciptakan [manusia] dari permulaan, kemudian mengembalikan [menghidupkan]nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah baginya.”)(ar-Ruum: 27)

Tsumma yajma-‘ukum ilaa yaumil qiyaamati laa raiba fiiHi (“Setelah itu, mengumpulkanmu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya.”) maksudnya, Dia akan mengumpulkan pada hari kiamat kelak dan akan mengembalikan kalian ke dunia. Laa raiba fiiHi; berarti tidak ada keraguan padanya. Walaa kinna aktsarannaasi laa ya’lamuun (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”) oleh karena itu mereka mengingkari kebangkitan dan menolak adanya pembangkitan jasad.

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 27-29“27. dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebathilan. 28. dan (pada hari itu) kamu Lihat tiap-tiap umat berlutut. tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. pada hari itu kamu diberi Balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. 29. (Allah berfirman): “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.” (al-Jaatsiyah: 27-29)

Allah memberitahukan bahwa Dia Penguasa langit dan bumi serta Pemberi keputusan di dunia dan di akhirat. Oleh kerena itu Allah berfirman: wa yauma taquumus saa-‘ata (“Dan pada hari terjadinya kebangkitan.”) yakni hari kiamat. Yakh-sarul mubthiluun (“Akan rugi pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebathilan.”) mereka itu adalah orang-orang yang kafir kepada Allah dan mengingkari apa yang diturunkan kepada para Rasul-Nya berupa ayat-ayat yang jelas dan dalil-dalil yang konkret.

Ibnu Abi Hatim pernah berkata: “Sufyan ats-Tsauri pernah datang ke Madinah, lalu ia mendengar orang yang sedang berjalan mengucapkan kata-kata yang membuat orang-orang tertawa. Lalu Sufyan berkata kepadanya: ‘Hai Syaikh, tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah Ta’ala mempunyai suatu hari yang pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebathilan akan merugi?’ Lebih lanjut Ibnu Abi Hatim bercerita: “Peristiwa itu masih membekas pada orang-orang yang berjalan hingga ia meninggal dunia.” Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Firman Allah: wa taraa kulla ummatin jaatsiyaH (“Dan [pada hari itu] kamu lihat tiap-tiap ummat berlutut.”) yakni di atas lututnya karena penderitaan dan kesengsaraan. Ada yang mengatakan: “Jika ada orang yang dibawa ke jahanam, maka neraka itu akan menyala seraya mengeluarkan suara, bahkan sampai Ibrahim kekasih Allah sekalipun, dimana dia berseru: ‘Diriku, diriku, diriku. Aku tidak memohon kepada-Mu sekarang kecuali [keselamatan] diriku.’ Bahkan ‘Isa as. pun akan berkata: ‘Aku tidak memohon kepada-Mu sekarang ini kecuali [keselamaatan] diriku. Aku tidak memohon kepada-Mu untuk Maryam yang telah malahirkanku.’”

Mengenai firman Allah: wa taraa kulla ummatin jaatsiyaH (“Dan [pada hari itu] kamu lihat tiap-tiap ummat berlutut.”) Mujahid, Ka’ab al-Ahbar, dan al-Hasan al-Bashri berkata: “Yakni di atas lutut.” wallaaHu a’lam.

Firman Allah: kullu ummatin tud-‘aa ilaa kitaabiHaa (“Tiap-tiap umat dipanggil untuk [melihat] buku catatan amalnya.”) yaitu buku catatan perbuatannya. Hal tersebut sama dengan firman Allah: wa wudli’al kitaabu wajii-a binnabiyyiina wasy-syuHadaa-a (“Dan diberikan buku [perhitungan perbuatan masing-masing] dan datanglah para Nabi dan saksi.”)(az-Zummar: 69)

Oleh karena itu Allah berfirman: al-yauma tujzauna maa kuntum ta’lamuun (“Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”) maksudnya kamu akan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan kalian, yang baik maupun yang buruk. Oleh karena itu, Allah yang Keagungan-Nya sangat agung berfirman: Haadzaa kitaabunaa yanthiqu ‘alaikum bil haqqi (“Inilah kitab [catatan] Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar.”) maksudnya, semua amal perbuatan kalian akan dihadirkan tanpa penambahan maupun pengurangan.

Firman Allah: innaa kunnaa nastansikhu maa kuntum ta’maluun (“Sesungguhnya Kami telah menyuruh [untuk] mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”) artinya sesungguhnya Kami menyuruh para Malaikat pencatat untuk mencatat amal perbuatan kalian atas kalian.

Ibnu ‘Abbas dan juga yang lainnya berkata: “Malaikat akan menulis semua amal perbuatan hamba Allah, lalu amal perbuatan itu dibawa naik ke langit, kemudian disambut oleh para malaikat yang menjaga tempat penyimpanan amal perbuatan. Kepada mereka diperlihatkan Lauhul Mahfudh pada setiap malam Laitatul Qadar, yang memuat semua apa yang telah ditetapkan Allah bagi hamba-hamba-Nya sebelum mereka diciptakan, sehingga tidak ada penambahan satu huruf pun dan tidak pula dilakukan pengurangan. Kemudian ia membacakan ayat: innaa kunnaa nastansikhu maa kuntum ta’maluun (“Sesungguhnya Kami telah menyuruh [untuk] mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”)
(bersambung ke bagian 6)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah (4)

22 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Jatsiyah
Surah Makkiyyah; Surah ke 45: 37 ayat

Wa khalaqallaaHus samaawaati wal ardla bil haqqi (“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar.”) yakni dengan penuh keadilan. Wa litujzaa kullu nafsim bimaa kasabat wa Hum laa yudh-lamuun (“Dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya dan mereka tidak akan dirugikan.”)
Afa ra-aita manit takhadza ilaaHaHuu Hawaa-Hu (“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya?”) maksudnya orang itu bertindak berdasarkan hawa nafsunya. Jadi apa yang ia anggap baik, maka ia akan kerjakan, dan apa yang ia anggap jelk, akan ia tinggalkan. Hal itu pula yang telah dijadikan dalil oleh kaum Mu’tazilah bagi pendapatnya tentang tahsin [menganggap baik] dan taqbih [menganggap buruk] menurut akal.

Diriwayatkan dari Malik, penafsiran bahwa tidaklah ia condong kepada sesuatu melainkan ia menyembahnya.

Firman-Nya: wa adlal-laHullaaHu ‘alaa ‘ilmin (“Dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.”) yang demikian itu mencakup dua hal; pertama, Allah menyesatkannya karena pengetahuan-Nya bahwa ia memang berhak menerima hal itu. Kedua, Allah menyesatkannya setelah sampainya ilmu pengetahuan kepadanya serta tegaknya hujjah atasnya. Yang kedua mengharuskan kemungkinan yang pertama, dan tidak sebaliknya.

Firman Allah: wa khatama ‘alaa sam’iHii wa ja-‘ala ‘alaa bashariHii ghisyaawatan (“Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.”) maksudnya ia tidak dapat mendengar apa yang bermanfaat baginya dan tidak menyadari sesuatu pun yang dapat menjadi petunjuk baginya serta tidak dapat melihat hujjah yang dapat ia jadikan sebagai penerang. Oleh karena itu, Allah berfirman: famay yaHdiiHi mim ba’dillaaHi afa laa tadzakkaruun (“Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah [membiarkannya sesat?]? Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”)

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 24-26“24. dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. 25. dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan: “Datangkanlah nenek moyang Kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.” 26. Katakanlah: “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-Jaatsiyah: 24-26)

Allah memberitahukan tentang ucapan golongan ad-Dahriyyah dari orang-orang kafir dan orang-orang musyrik Arab dalam mengingkari kebangkitan.
Wa qaaluu maa Hiya illaa hayaatunad dun-yaa namuutu wa nahyaa (“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup.”) maksudnya, tidak ada kehidupan lain selain kehidupan di dunia ini saja, sebagian orang mati dan sebagian lainnya lahir, juga tidak ada hari kebangkitan dan hari kiamat. Demikianlah yang dikatakan oleh kaum musyrik Arab yang mengingkari kebangkitan dan para filosof teolog, yang mengingkari permulaan dan pengembalian. Hal itu pula yang dikemukakan oleh para filosof yang mengakui kekuatan masa dan perputaran waktu serta mengingkari Rabb Pencipta. Mereka ini berkeyakinan bahwa setiap 36.000 tahun, segala sesuatu akan kembali seperti semula, itulah anggapan mereka dan ini telah berlangsung berkali-kali yang tidak berkesudahan. Oleh sebab itu, mereka mengatakan: wa maa yuHlikunaa illad daHru (“Tidak ada yang membinasakan kita selain masa.”)

Firman Allah: wa maa laHum bidzaalika min ‘ilmin in Hum illaa yadhunnuun (“Dan mereka sekali-sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”) maksudnya, mereka hanya mengira-ngira dan berkhayal semata.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim serta Abu Dawud dan an-Nasa-i, dari Abu Hurairah ia bercerita: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam telah menyakiti-Ku karena ia memaki massa, dan Aku adalah ad-DaHru [Pencipta/Pengatur masa], di tangan-Ku semua urusan, aku membalikkan malam dan siangnya.’”

Dalam riwayat lain: “Janganlah kalian mencaci masa, karena Allah Ta’ala itu adalah ad-DaHr.”
Di dalam menafsirkan hadits ini, Imam Syafi’i, Abu ‘Ubaidah, dan imam lainnya berkata: “Pada masa jahiliyah, masyarakat Arab mempunyai kebiasaan, jika mereka ditimpa musibah, penyakit, atau bencana, maka mereka akan mengatakan: ‘Wahai masa yang sial.’ Dengan demikian mereka menyandarkan semua perbuatan itu pada masa dan bahkan mereka mencelanya. Padahal pelaku sebenarnya adalah Allah Ta’ala. Dengan demikian, mereka seolah-olah mencela Allah karena sebenarnya Dia-lah yang melakukan semua itu. Oleh karen itu, Rasulullah saw. melarang mencaci masa dengan cara seperti itu, karena Allah Ta’ala sendiri adalah masa yang mereka maksudkan tersebut dan yang mereka jadikan sebagai sandaran perbuatan mereka.” Demikianlah penafsiran yang baik dan demikian pula yang dimaksud. wallaaHu a’lam.

Sedangkan Ibnu Hazm dan orang-orang yang sependapat dengannya dari kalangan penganut madzab Dhahiriyyah (tekstual) telah melakukan kesalahan, dimana mereka telah memasukkan ad-DaHr sebagai salah satu asma’ul husna dengan bersandarkan pada hadits tersebut di atas.

Firman Allah: wa idzaa tutlaa ‘alaiHi aayaatunaa bayyinaati (“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas.”) maksudnya jika dikemukakan dalil kepada mereka dan dijelaskan kepada mereka kebenaran bahwa Allah Ta’ala mampu mengembalikan jasad setelah kehancuran dan keterserakannya. Maa kaana hujjataHumm illaa ang qaalu’tuu bi aabaa-inaa ing kuntum shaadiqiin (“Tidak ada bantahan mereka selain mengatakan: ‘Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.”) maksudnya, hidupkanlah mereka jika yang kalian katakan itu memang benar.
(bersambung ke bagian 5)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah (3)

22 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Jatsiyah
Surah Makkiyyah; Surah ke 45: 37 ayat

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 16-20“16. dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). 17. dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); Maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian yang ada di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya. 18. kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. 19. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. 20. Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (al-Jaatsiyah: 16-20)

Allah menyebutkan apa yang telah Dia karuniakan kepada bani Israil berupa diturunkannya kitab-kitab kepada mereka serta diutus-Nya para Rasul dan dijadikannya raja ditengah-tengah mereka. Oleh karena itu Allah berfirman: wa laqad aatainaa banii israa-iilal kitaaba wal hukma wan nubuwwata wa razaqnaaHum minath-thayyibaat (“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada bani Israil al-Kitab [Taurat], kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rizky-rizky yang baik.”) yakni berupa makanan dan minuman. Wa fadl-dlalnaaHum ‘alal ‘aalamiin (“Dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa.”) yaitu pada zaman mereka. Wa aatainaaHum bayyinaati minal amri (“Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan.”) yakni hujjah-hujjah, bukti-bukti, dalil-dalil qath’i. Maka tegaklah hujjah-hujjah bagi mereka, dan setelah itu terjadi perselisihan di antara mereka, dan sesungguhnya yang demikian itu dikarenakan kedengkian sebagian mereka atas sebagian yang lainnya. Inna rabbaka (“Sesungguhnya Rabb-mu”) hai Muhammad, yaqdlii bainaHum yaumal qiyaamati fiimaa kaanuu fiiHi yakhtalifuun (“Akan memutuskan antara mereka pada hari Kiamat terhadap apa yang mereka selalu perselisihkan padanya.”) maksudnya, Dia akan memberikan rincian di antara mereka dengan hikmah keadilan. Dan di dalamnya terdapat peringatan bagi umat ini agar tidak menempuh jalan serta menghindari manhaj mereka. Oleh karena itu Allah berfirman: tsumma ja-‘alnaaka ‘alaa syarii-‘atim minal amri fattabi’Haa (“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at [peraturan] dari urusan [agama] itu, maka ikutilah syariat itu.”) maksudnya ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu oleh Rabb-mu, yang tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia. Dan berpalinglah kalian dari orang-orang musyrik.

Wa laa tattabi’ aHwaa-al ladziina laa ya’lamuuna innaHum lay yughnuuna ‘angka minallaaHi syai-aw wa innadh-dhaalimiina ba’dluHum auliyaa-u ba’dli (“Dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-sekali tidak akan dapat menolak darimu sedikitpun dari [siksaan] Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu, sebagian mereka tidak berarti bagi sebagian yang lain.”) maksudnya pertolongan sebagian mereka itu tidak berarti bagi sebagian lainnya, karena mereka itu tidak menambah kecuali kerugian, kehancuran, dan kebinasaan.

wallaaHu waliyyul muttaqiin (“Dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang bertakwa.”) Dia Mahatinggi, yang mengeluarkan mereka dari kegelapan cahaya yang terang benderang. Sedangkan orang-orang kafir, penolongnya adalah para thaghut yang akan mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan.
Hadzaa bashaa-iru linnaasi (“Ini adalah pedoman bagi manusia.”) yakni al-Qur’an; wa Hudaw wa rahmatal liqaumiy yuuqinuun (“Petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.”)

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 21-23“21. Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.
22. dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan. 23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Jaatsiyah: 21-23)
Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang mukmin itu tidaklah sama dengan orang-orang kafir. Dia berfirman: am hasibal ladziinaj tarahus sayyi-aati (“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka.”) yaitu kejahatan yang telah mereka kerjakan dan usahakan.
An naj’alaHum kalladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati sawaa-am mahyaaHum wa mamaatuHum (“Bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka?”) maksudnya Kami menyamakan orang-orang yang berbuat jahat dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih di dunia dan di akhirat? Saa-a maa yahkumuun (“Sangat buruklah apa yang mereka sangka itu.”) yakni sungguh sangat buruk prasangka mereka terhadap Kami, dan tidak mungkin Kami menyamakan antara orang-orang yang baik dengan orang-orang yang jahat di alam akhirat kelak dan juga di dunia ini.

Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Masruq, bahwa Tamim ad-Dari pernah bangun [shalat] malam sampai pagi dengan membaca ayat berikut ini secara berulang-ulang: am hasibal ladziinaj tarahus sayyi-aati An naj’alaHum kalladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih”) oleh karena itu Allah berfirman: saa-a maa kaanuu yahkumuun (“sangatlah buruk apa yang mereka sangka itu.”)
(bersambung ke bagian 4)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah (2)

22 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Jatsiyah
Surah Makkiyyah; Surah ke 45: 37 ayat

Ulaa-ika laHum ‘adzaabum muHiin (“Merekalah yang memperoleh adzab yang menghinakan.”) yakni yang demikian itu sebagai balasan dan penghinaan dan olok-olokan mereka terhadap al-Qur’an.
Berkenaan dengan hal itu, Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu ‘Umar, ia bercerita bahwa Rasulullah saw. melarang seseorang bepergian dengan membawa al-Qur’an ke negeri musuh, karena ditakutkan Kitab itu akan dirampas oleh musuh.

Lalu Allah manafsirkan adzab yang menimpanya pada hari ia dibangkitkan, dimana Dia berfirman: miw waraa-iHim jaHannamu (“Di hadapan mereka neraka jahannam”) maksudnya setiap orang yang memiliki sifat seperti itu maka mereka akan dimasukkan ke dalam jahannam pada hari kiamat.

Wa laa yughnii ‘anHum maa kasabuu syai-an (“Dan tidak akan berguna lagi bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan.”) maksudnya, harta kekayaan dan juga anak-anak mereka tidak lagi bermanfaat bagi mereka.
Wa laa mat takhadzuu min duunillaaHi auliyaa-a (“Dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sembahan-sembahan mereka dari selain Allah.”) artinya tuhan-tuhan yang mereka jadikan sembahan selain Allah itu sama sekali tidak berguna bagi mereka.
Wa laHum ‘adzaabun ‘adziim (“Dan bagi mereka adzab yang pedih.”)

Firman-Nya: Haadzaa Hudaa (“Ini adalah petunjuk”) yakni al-Qur’an. Walladziina kafaruu bi aayaati rabbiHim laHum ‘adzaabum mir rijzin aliim (“dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya, bagi mereka adzab, yaitu siksaan yang sangat pedih.”) yaitu, yang menyakitkan lagi menyengsarakan. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 12-15“12. Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan Mudah-mudahan kamu bersyukur. 13. dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. 14. Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan. 15. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, Maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, Maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” (al-Jaatsiyah: 12-15)

Allah menceritakan berbagai nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang mana Dia telah menundukkan lautan bagi mereka, litajriyal fulku (“Supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya.”) yakni kapal-kapal yang berlayar atas perintah-Nya, karena Dialah yang telah memerintahkan lautan untuk membawanya. Wa litabtaghuu (“Dan supaya kamu bisa mencari sebagian karunia-Nya.”) yaitu melalui perniagaan dan pekerjaan.
Wa la’allakum tasykuruun (“dan mudah-mudahan kamu bersyukur”) yakni atas dilimpahkannya berbagai manfaat kepada kalian berupa wilayah-wilayah pelosok dan ufuk yang sangat jauh.
Wa sakhkhara lakum maa fis samaawaati wa maa fil ardli (“dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya”) yaitu berupa bintang-bintang, gunung-gunung, lautan, sungai-sungai, dan segala hal yang dapat kalian manfaatkan. Artinya semua itu merupakan karunia, kebaikan, dan anugerah-Nya. Oleh karena itu Dia berfirman: jamii-‘am minHu (“Semuanya dari-Nya”) yaitu dari sisi-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal ini sebagaimana firman-Nya: “Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya. Dan jika kamu ditimpa oleh kemudlaratan, maka hanya kepada-Nya kamu meminta pertolongan.”)(an-Nahl: 53)
Inna fii dzalika la aayaatil liqaumiy yatafakkaruun (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi kaum yang berfikir.”)

Firman Allah: qul lilladziina aamanuu yaghfirulladziina laa yarjuuna ayyaamillaaHi (“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah.”) maksudnya hendaklah mereka memberi maaf kepada orang-orang itu dan menahan penderitaan akibat ulah mereka. Hal itu terjadi pada permulaan Islam, dimana mereka telah diperintahkan untuk bersabar atas gangguan yang dilakukan oleh kaum musyrikin dan ahlul kitab, agar hal itu menjadi pemersatu bagi mereka. Setelah kaum musyrikin itu tetap terus pada keingkaran, Allah Ta’ala mensyariatkan perlawanan dan jihad. Demikianlah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Qatadah.

Mujahid berkata tentang firman-Nya: laa yarjuuna ayyaamillaaHi (“Orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah”) yaitu orang-orang yang tidak menerima nikmat-nikmaat Allah.”)

Firman Allah: liyajziya qumam bimaa kaanuu yaksibuun (“Karena Dia akan membalas suatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”) artinya, jika orang-orang beriman memberikan maaf kepada orang-orang musyrik ketika di dunia, maka sesungguhnya Allah akan memberikan balasan kepada mereka atas amal perbuatan buruk mereka di akhirat kelak. Oleh karena itu, Allah berfirman:
Man ‘amila shaalihan falinafsiHii wa man asaa-a fa-‘alaiHaa tsumma ilaa rabbikum turja’uun (“Barangsiapa yang mengerjakkan amal shalih, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan maka itu akan menimpa dirinya sendiri. Kemudian kepada Rabb-mu lah kamu dikembalikan.”) maksudnya, kalian akan kembali kepada-Nya pada hari kiamat kelak, kemudian diperlihatkan kepada kalian amal perbuatan kalian, lalu Dia akan memberikan balasan terhadap amal perbuatan kalian, yang baik maupun yang buruk. wallaaHu a’lam.
(bersambung ke bagian 3)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah (1)

22 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Jatsiyah
Surah Makkiyyah; Surah ke 45: 37 ayat

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 1-5“BismillaaHir rahmaanir rahiim (Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. 1. Haa Miim[*] 2. kitab (ini) diturunkan dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 3. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. 4. dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, 5. dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (al-Jaatsiyah: 1-5)

[*] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al-Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Allah membimbing makhluk-Nya untuk bertafakkur (memikirkan) berbagai nikmat dan kekuasaan-Nya yang agung yang dengannya Dia menciptakan langit dan bumi serta di dalamnya diciptakan berbagai macam makhluk dengan segala macam jenis dan rupanya yang ada di antara keduanya, baik dari kalangan malaikat, jin, manusia, binatang, burung dan lain-lain. Juga adanya pergantian siang dan malam silih berganti, terus menerus dan yang tidak hilang karena gelap yang ditimbulkan malam dan sinar terang oleh siang. Dan Allah juga menurunkan awan menjadi hujan pada saat dibutuhkan yang disebut sebagai rizky, karena melalui hujan itu tercapailah rizky.
Fa ahyaa biHil ardla ba’da mautiHaa (“Lalu, dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya.”) yakni, setelah sebelumnya gersang, tidak ada tumbuh-tumbuhan dan tidak ada sesuatu padanya.

Firman Allah: wa tashriifir riyaah (“Dan pada perkisaran angin.”) baik angin selatan, angin utara, angin barat maupun angin timur atau juga angin laut, siang maupun malam. Di antaranya ada yang dimaksudkan untuk hujan, dan ada yang dimaksudkan untuk penyerbukan, bahkan ada juga yang dimaksudkan untuk bernafas, dan ada juga yang tidak dapat berproduksi.

Selanjutnya, pertama Allah berfirman: la aayaatil lilmu’miniin (“Terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] untuk orang-orang yang beriman.”) yang kedua, “Terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” Hal ini meningkat dari keadaan mulia menuju kepada yang lebih mulia dan lebih tinggi darinya. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 6-11“6. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; Maka dengan Perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya. 7. kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, 8. Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian Dia tetap menyombongkan diri seakan-akan Dia tidak mendengarnya. Maka beri khabar gembiralah Dia dengan azab yang pedih. 9. dan apabila Dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, Maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. 10. di hadapan mereka neraka Jahannam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. dan bagi mereka azab yang besar. 11. ini (Al Quran) adalah petunjuk. dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Tuhannya bagi mereka azab Yaitu siksaan yang sangat pedih.” (al-Jaatsiyah: 6-11)

Allah berfirman: Tilka aayaatullaaHi (“Itulah ayat-ayat Allah.”) yaitu Al-Qur’an, di dalamnya terdapat hujjah-hujjah dan bebagai macam penjelasan, natluuHaa ‘alaika bil haqqi (“Yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya.”) yakni yang mengandung kebenaran dari yang benar. Jika mereka tidak beriman kepadanya, lalu dengan ucapan siapa setelah Allah dan ayat-ayat-Nya mereka itu beriman?

Firman Allah: wailul likulli affaakin atsiim (“Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa.”) yaitu yang berbohong dalam ucapannya, pendusta, suka bersumpah, hina dan suka berbuat dosa dalam perbuatan dan hatinya lagi kafir terhadap ayat-ayat Allah. Oleh karena itu, Dia berfirman: yasma-‘u aayaatillaaHi tutlaa ‘alaiHi (“Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya.”) tsumma yusharruu (“Kemudian dia tetap menyombongkan diri.”) yakni pada kekafiran dan keingkaran dalam keadaan sombong lagi membangkang, ka allam yasma’Haa (“Seakan-akan dia tidak mendengarnya.”) fabasysyirHu bi ‘adzaabin aliim (“Maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih.”) maksudnya, beritahukan kepadanya bahwa baginya siksa yang pedih lagi menyakitkan di sisi Allah pada hari kiamat kelak.

Wa idza ‘alima min aayaatinaa syai-anit takhadzaHaa Huzuwan (“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok.”) maksudnya, jika ia menghafal sesuatu dari al-Qur’an, maka ia kufur kepadanya dan menjadikannya sebagai permainan dan bahan olokan.
(bersambung ke bagian 2)