Tag Archives: Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 36

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 36

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 36“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepadamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS. Al-Hajj: 36)

Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada hamba-Nya berupa budna yang diciptakan untuk mereka dan menjadikannya sebagai syi’ar. Dia menjadikan budna sebagai hadiah menuju Baitul Haram, bahkan hal tersebut merupakan hadiah yang paling utama.

Ibnu Turaij berkata, ‘Atha’ berkata tentang firman-Nya: wal budna ja’alnaaHaa lakum min sya’aa-irillaaHi (“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu bahagian dari syi’ar Allah,”) yaitu sapi dan unta, demiikian yang diriwayatkan Ibnu `Umar, Sa’id bin al-Musayyab dan al-Hasan al-Bashri. Mujahid berkata: “Budna hanyalah unta.” (Aku berkata), sedangkan penyebutan al-Budnah disebut untuk unta betina, telah disepakati. Mereka berbeda pendapat tentang kebenaran penyebutan al-Budnah dengan sapi. Dalam hal ini terdapat dua pendapat; Pendapat yang paling shahih, bahwa dapat dibenarkan penyebutan al-Budnah untuk binatang sapi secara hukum syar’i, sebagaimana yang tercantum dalam hadits shahih.

Kemudian, Jumhur ulama berpendapat bahwa al-Budnah dapat mencukupi untuk tujuh orang, dan sapi pun dapat mencukupi untuk tujuh orang, sebagaimana yang tercantum dalam hadits Shahih bahwa Jabir bin `Abdillah berkata: “Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk bersekutu dalam binatang kurban, unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang.” Ishaq Rahawaih dan yang lainnya berkata: “Bahkan sapi dan unta dapat mencukupi sepuluh orang.” Haditsnya telah tercantum di dalam Musnad Ahmad, Sunan an-Nasa’i dan lain-lain. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: lakum fiiHaa khairun (“Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya,”) yaitu pahala di negeri akhirat. Mujahid berkata: “Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya,” yaitu pahala dan berbagai manfaat. Firman-Nya: fadzkurus mallaaHi ‘alaiHaa shawaaffa (“Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri.”)

Dari al-Muththalib bin `Abdillah bin Hanthab, dari Jabir bin ‘Abdillah: “Aku shalat bersama Rasulullah pada hari raya Adh-ha. Ketika beliau selesai, beliau diberikan satu kambing dan disembelihnya dengan berucap: “Dengan nama Allah, dan Allah Mahabesar. Ya Allah, ini adalah dariku dan dari umatku yang tidak mampu berkurban.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmiidzi)

Al-A’masy berkata dari Abu Dzabyan, dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya: fadzkurus mallaaHi ‘alaiHaa shawaaffa (“Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri.”) yaitu dalam keadaan berdiri diatas tiga tiang yang diikat oleh tangan kirinya sambil berkata: bismillaaHi wallaaHu akbar, laa ilaaHa illaallaaHu allaaHumma minka wa laka (“Dengan nama Allah, dan Allah Mahabesar. Tidak ada Ilah [yang haq] kecuali Allah, Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.”) Pendapat yang serupa diriwayatkan dari Mujahid, `Ali bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi dari Ibnu `Abbas.

Di dalam ash-Shahihain diriwayatkan bahwa Ibnu `Umar mendatangi seorang laki-laki yang sedang menyembelih unta, lalu dia berkata: “Kirimlah dia dalam keadaan berdiri terikat menurut Sunnah Abul Qasim saw.”

Di dalam Shahih Muslim yang berasal dari Jabir, tentang sifat haji Wada’, ia berkata: “Rasulullah saw. menyembelih 63 unta dengan tangannya, menyembelih dengan pedang yang ada pada tangannya.”

Firman-Nya: fa idzaa wajabat junuubuHaa (“Kemudian apabila telah mati.”) Ibnu Abi Najih berkata dari Mujahid: “Yaitu tersungkur jatuh ke bumi.” Itulah satu riwayat dari pendapat Ibnu `Abbas, juga perkataan Muqatil bin Hayyan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: fa idzaa wajabat junuubuHaa (“Kemudian apabila telah mati.”) yaitu telah mati.” Pendapat inilah yang dimaksud oleh Ibnu ‘Abbas dan Mujahid, karena tidak boleh memakan unta yang disembelih sampai unta itu mati dan tidak lagi bergerak.

Hal tersebut didukung oleh hadits Syadad bin Aus yang tercantum di dalam Shahih Muslim: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik dalam segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara terbaik dan jika kalian menyembelih, menyembelihlah dengan cara terbaik. Dan hendaklah salah seorang kalian mempertajam mata pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya.

Abu Waqid al-Laitsi berkata, Rasulullah bersabda: “Bagian mana saja binatang yang terputus dan dia dalam keadaan hidup, maka bagian terputus itu adalah bangkai.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi serta dishahihkannya).

Firman-Nya: fakuluu minHaa wa ath’imul qaani’a wal mu’tarra (“Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta,”) sebagian ulama Salaf berkata tentang firman-Nya: “Maka makanlah sebagiannya,” adalah perintah penghalalan (mubah). Malik berkata: “Hal itu dianjurkan.” Sedangkan ulama lainnya mengatakan wajib, dan ini adalah satu pendapat dari madzhab Syafi’iyyah. Mereka berbeda pendapat tentang maksud dari al-Qaani’ dan al-Mu’tarr. `Alibin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: “Al-Qaani’ adalah orang-orang yang menjaga diri (dengan tidak meminta-minta) dan al-Mu’tarr adalah orang yang meminta.” Inilah pendapat Qatadah, Ibrahim an-Nakha’i dan Mujahid dalam satu riwayatnya.

Sedangkan Ibnu `Abbas, `Ikrimah, Zaid bin Aslam, al-Kalbi, al-Hasan al-Bashri, Muqatil bin Hayyan dan Malik bin Anas berkata: “Al-Qaani’ adalah orang yang rela kepadamu dan meminta kepadamu, sedangkan al-Mu’tarr adalah orang yang merendahkan diri dan tidak meminta kepadamu.” Ini adalah lafazh al-Hasan.

Said bin Jubair berkata: “Al-Qaani’ adalah orang yang meminta, dia berkata: `Tidakkah engkau mendengar perkataan asy-Syamakh: Harta seseorang memberikan kebaikan bagi dirinya, maka ia punmemberikan kecukupan dari kebutuhan-kebutuhannya, mensucikan dari meminta. Dia tidak butuh meminta, itulah perkataan Ibnu Zaid. Ayat ini dijadikan hujjah oleh ulama yang berpendapat bahwa binatang kurban mencukupi tiga bagian; Sepertiga untuk dimakan pemiliknya, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga lagi untuk dishadaqahkan kepada para fuqara’, karena AllahTa’ala berfirman, “Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta. ”

Di dalam hadits shahih tercantum bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada manusia: “Sesungguhnya dahulu aku melarang kalian untuk menyimpan daging binatang kurban lebih dari tiga hari, maka makanlah dan simpanlah sesuai perkiraan kalian.” Di dalam satu riwayat: “Makanlah, simpanlah dan shadaqahkanlah oleh kalian.” Di dalam riwayat lain: “Maka makanlah sebagiannya dan beri makan-lah orang fakir yang sangat membutuhkan.”

Berdasarkan sabdanya dalam hadits: “Makanlah, simpanlah dan shadaqah-kanlah oleh kalian,” jika dia makan semuanya, satu pendapat mengatakan, dia tidak menjamin sedikit pun, itulah yang dikatakan oleh Ibnu Suraij dikalangan Syafi’iyyah. Sebagian mereka berkata: “Dia harus menjamin seluruh-nya dengan yang serupa atau dengan harganya.” Pendapat lain mengatakan menjamin setengahnya, pendapat lain mengatakan sepertiganya dan pendapat lain mengatakan memilih bagian yang paling rendah. Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafi’i. Sedangkan kulit, tercantum di dalam Musnad Ahmad dari Qatadah bin an-Nu’man dalam hadits tentang binatang kurban: “Makanlah, shadaqahkanlah dan manfaatkanlah kulitnya dan jangan dijual.” Sebagian ulama ada yang meringankan tentang menjualnya dan sebagian lain berkata, dibagikan kepada orang-orang fakir. Wallahu a’lam.

BEBERAPA PERMASALAHAN:

Al-Barra’ bin ‘Azib berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya hal yang pertama kali kami mulai pada hari ini (hari `Idul Adh-ha) adalah shalat, kemudian kami kembali dan menyembelih binatang kurban. Barangsiapa yang melakukannya, maka berarti ia telah tepat dalam sunnah kami. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka itu hanyalah daging yang diberikan kepada keluarganya dan sedikit pun tidak termasuk kurban.”

Untuk itu, Imam asy-Syafi’i dan jama’ah ulama berkata: “Sesungguhnya awal waktu menyembelih binatang kurban adalah di saat matahari terbit dihari raya ‘Idul Adh-ha setelah berlalunya shalat ‘Id dan dua khutbah.” Ahmad menambahkan: “Sebaiknya Imam menyembelihnya setelah itu.” Sesuai dengan hadits dalam Shahih Muslim: “Janganlah kalian menyembelih, hingga imam menyembelihnya.”

Abu Hanifah berkata: “Adapun sebagian besar penduduk kampong dan yang seperti mereka, hendaknya (mereka) menyembelih setelah terbit fajar, karena tidak disyari’atkan shalat ‘Id bagi mereka. Sedangkan penduduk kota, hendaklah mereka tidak menyembelih sebelum imam menyembelih.” Wallahu a’lam.

Satu pendapat mengatakan: “Penyembelihan kurban tidak disyari’atkan kecuali pada hari ‘Idul Adh-ha-nya saja.” Satu pendapat mengatakan: “Penyembelihan pada hari raya untuk penduduk kota agar memudahkan mereka, dan untuk penduduk desa yaitu hari raya dan hari-hari tasyriq sesudahnya,” itulah pendapat Sa’id bin Jubair. Satu pendapat lain mengatakan, penyembelihan dilakukan pada hari rayanya dan satu hari sesudahnya. Pendapat lain mengatakan: “Dua hari sesudahnya,” inilah pendapat Imam Ahmad. Pendapat lain mengatakan: “Hari raya dan tiga hari tasyriq sesudahnya,” itulah pendapat Imam asy-Syafi’i berdasarkan hadits Jubair bin Muth’im bahwa Rasulullah bersabda: “Hari-hari Tasyriq seluruhnya adalah hari penyembelihan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Firman-Nya: Kadzaalika sakh-kharnaaHaa lakum la’allakum tasykuruun (“Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepadamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.”) Allah Ta’ala berfirman, karena ini sakh-kharnaaHaa lakum (“Kami telah menundukkan unta-unta itu kepadamu,”) yaitu Kami telah menundukkannya untuk kalian dan Kami menjadikannya tunduk dan patuh kepada kalian. Jika kalian suka kalian dapat mengendarainya. Jika kalian suka, kalian dapat memerah susunya dan jika kalian suka kalian dapat menyembelihnya.

Bersambung