Tag Archives: Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 37

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 37

9 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 37“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)

Allah Ta’ala berfirman bahwa Dia mensyari’atkan penyembelihan unta-unta ini, binatang hadiah untuk kurban adalah agar mereka mengingat-Nya ketika menyembelih, karena Dia Mahapencipta dan Mahapemberi rizki. Tidak sedikit pun daging dan darahnya yang akan sampai kepada-Nya. Karena Allah swt. Mahakaya (tidak membutuhkan) dari selain-Nya. Sesungguhnya dahulu di masa Jahiliyyah, jika mereka menyembelih binatang untuk ilah-ilah mereka, mereka meletakkan daging-daging binatang kurban dan melumurkan darahnya itu kepada berhala-berhala tersebut. Maka Allah Ta’ala berfirman: lay yanaalallaaHa luhuumuHaa walaa dimaa-uHaa (“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah.”)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, bahwa Ibnu Juraij berkata: “Dahulu, penduduk Jahiliyyah melumurkan daging dan darah kurban ke Baitullah.” Lalu para Sahabat Rasulullah saw. berkata: “Kami lebih berhak untuk melumurkannya.”
Maka Allah menurunkan: lay yanaalallaaHa luhuumuHaa walaa dimaa-uHaa wa laakiy yanaaluhut taqwaa minkum (“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai [keridhaan] Allah, tetapi ketakwaan darimu-lah yang dapat mencapinya”) yaitu menerima dan membalasnya. Sebagaimana yang tercantum di dalam hadits shahih: “Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk (tubuh) dan tidak juga harta kalian. Akan tetapi, Dia memandang kepada hati dan amal kalian.”

Waki’ berkata dari Yahya bin Muslim [Abi adh-Dhahhak]: “Aku bertanya kepada ‘Amir asy-Sya’bi tentang kulit binatang kurban, maka dia menjawab: ‘Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah,’ jika engkau mau, juallah. Jika engkau mau, tahanlah dan jika engkau mau sedekahkanlah.

Firman-Nya: kadzaalika sakh-kharaHaa lakum (“Demikianlah Allah telah menundukkannya untukmu, karena itulah Dia menundukkan unta-unta itu untuk kalian: litukabbirullaaHa maa Hadaakum (“Supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu,”) yaitu agar kalian mengagungkan-Nya, sebagaimana Dia telah menunjuki kalian kepada agama dan syari’at-Nya serta sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Dia pun melarang kalian untuk melakukan apa yang dibenci dan tidak disukai-Nya.

Finman-Nya: wa basy-syiril muhsiniin (“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik,”) yaitu berilah kabar gembira ya Muhammad, kepada orang-orang yang berbuat baik dalam amal-amal mereka, konsisten dalam batasan-batasan Allah, mengikuti apa yang disyari’atkan-Nya kepada mereka serta membenarkan risalah yang disampaikan dan dibawa oleh Rasul dari Rabb.

BEBERAPA PERMASALAHAN

Abu Hanifah, Malik dan ats-Tsauri berpendapat tentang wajibnya berkurban bagi orang yang telah memiliki nishab, sedangkan Abu Hanifah menambahkan dengan adanya syarat tinggal di tempat. Dia berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan isnad yang rijal-rijalnya tsiqat dari Abu Hurairah secara marfu’: “Barangsiapa yang memiliki keluasan, lalu dia tidak berkurban, maka jangan-lah dia mendekati tempat shalat kami.” Tetapi di dalamnya terdapat perawi yang gharib dan dianggap munkar oleh Imam Ahmad.

Ibnu `Umar berkata: “Rasulullah berkurban ketika (semenjak) beliau tinggal selama sepuluh tahun.” (HR. At-Tirmidzi).

Asy-Syafi’i dan Ahmad berkata: “Berkurban itu tidak wajib, akan tetapi hanya dianjurkan.” Sedangkan ukuran umur binatang kurban, Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyembelih kurban kecuali musinnah (yang umurnya telah mencapai dua tahun dan menginjak tahun ketiga), kecuali jika kesulitan mendapatkannya, maka sembelihlah jadza’ah (umurnya kurang dari dua tahun) dari domba.”

Pendapat yang dipegang oleh Jumhur adalah binatang unta dan sapi yang tsunni; al-ma’az atau jadza’ah dari domba cukup untuk binatang kurban. Unta yang tsunni adalah unta yang telah berumur lima tahun dan menginjak tahun keenam. Sapi yang tsunni adalah sapi yang berumur dua tahun dan menginjak tahun ketiga, pendapat lain mengatakan, yaitu sapi yang umurnya mencapi tiga tahun dan menginjak tahun keempat. Al-ma’adz adalah yang berumur dua tahun. Sedangkan jadza ah dari domba, satu pendapat mengatakan, yang telah mencapai satu tahun; pendapat lain mengatakan, yang berumur sepuluh bulan; pendapat lain lagi delapan bulan dan pendapat satu lagi enam bulan atau kurang.

Bersambung