Tag Archives: Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 77-78

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hajj ayat 77-78

13 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj (Haji)
Surah Madaniyyah; surah ke 22: 78 ayat

tulisan arab alquran surat al hajj ayat 77-78“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan. (QS. 22:77) Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilihmu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu Pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. 22:78)” (al-Hajj: 77-78)

Para imam rahimahumullah berbeda pendapat tentang ayat sujud yang kedua dalam surat al-Hajj ini, apakah disyari’atkan sujud atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Firman-Nya: wa jaaHiduu fillaaHi haqqa jiHaadiHi (“Dan beijihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya,”) yaitu dengan harta, lisan dan jiwa-jiwa kalian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Firman-Nya: Huwajtabaakum (“Dia telah memilihmu,”) yaitu, wahai umat ini! Allah telah memisahkan dan memilih kalian atas seluruh umat serta mengutamakan, memuliakan dan mengistimewakan kalian dengan Rasul-Nya yang termulia dan syari’at-Nya yang amat sempurna. Wa maa ja’ala ‘alaikum fid diini min haraj (“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,”) yaitu, Dia tidak membebani kalian dengan sesuatu yang kalian tidak mampu, serta tidak mengharuskan kalian dengan sesuatu yang memberatkan kalian, kecuali Dia menjadikan untuk kalian kelapangan dan jalan keluar. Shalat yangmerupakan rukun Islam yang paling besar setelah dua kalimat syahadat, diwajibkan dalam keadaan hadir empat raka’at dan di dalam keadaan safar dengan diqashar menjadi dua raka’at. Di waktu rasa takut (perang), sebagian imam melakukan shalat satu raka’at, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits.

Dia pun dapat shalat dalam (keadaan) berjalan dan berkendaraan (berkuda), menghadap kiblat atau tidak menghadap kiblat. Demikian pula dalam shalatsunnah di waktu safar, dia dapat menghadap kiblat atau tidak menghadapnya. Berdiri di dalam shalat dapat gugur karena udzur penyakit, di mana orang yang sakit dapat melakukan shalat dalam keadaan duduk, jika tidak mampu dia dapat melakukannya dengan berbaring di atas lambung kanannya serta rukhshah dan keringanan lain dalam seluruh fardhu dan kewajiban. Untuk itu Nabi bersabda: “Aku diutus dengan agama yang hanif dan kasih. Hadits-hadits dalam masalah ini cukup banyak.

Ibnu `Abbas berkata tentang firman-Nya: Wa maa ja’ala ‘alaikum fid diini min haraj (“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,”) yaitu suatu kesempitan.” Firman-Nya: millata abiikum ibraaHiim (“[Ikutilah] agama orang tuamu, Ibrahim.”) Ibnu Jarir berkata: “Dibaca nashab dengan takdir,” Dan Dia sekali-kali lak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,” yang berarti kesulitan, bahkan Dia memberikan keluasan bagi kalian seperti agama bapak kalian, Ibrahim as. Ibnu Jarir pun berkata: “Boleh jadi pula dibaca manshub atas takdir, ikutilah agama bapak kalian, Ibrahim.” (Aku berkata) Makna yang terkandung di dalam ayat ini seperti firman-Nya: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus.” dan ayat seterusnya. (QS. Al-An’ aam: 161).

Firman-Nya: Huwa sammaakumul muslimiina min qablu (“Dia telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu.”) Dalam masalah ini, Imam `Abdullah Ibnul Mubarak berkata dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya ini, yaitu Allah. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, `Atha’, adh-Dhahhak, as-Suddi, Muqatil bin Hayyan dan Qatadah. Mujahid berkata: “Allah telah menamai kalian orang-orang muslim dari dahulu dalam kitab-kitab terdahulu dan di dalam adz-Dzikr.”

Wa fii Haadzaa (“Dan begitu pula dalam [al-Qur’an] ini,”) yaitu al-Qur’an, demikian yang dikatakan oleh yang lainnya. Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: liyakuunar rasuulu syaHiidan ‘alaikum wa takuunu syuHadaa-a ‘alan naasi (“Agar Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu menjadi saksi atas segenap manusia,”) yaitu Kami menjadikan kalian seperti itu sebagai umat yang wasath (pertengahan), adil, terpilih dan menjadi saksi bagi seluruh umat dengan keadilan kalian agar pada hari Kiamat, kalian menjadi: syuHadaa-a ‘alan naasi (“saksi bagi seluruh manusia”) Karena pada waktu itu, seluruh umat mengakui kepemimpinan dan keutamaan mereka dibandingkan dengan umat yang lain. Untuk itu, persaksian mereka diterima pada hari Kiamat, yaitu tentang kenyataan bahwa para Rasul telah menyampaikan risalah Rabb mereka. Rasul (Muhammad saw) pun menjadi saksi atas umat ini bahwa dia telah menyampaikannya kepada mereka. Masalah ini telah dibahas terdahulu pada firman-Nya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikanmu umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas diri-mu, ” (QS. Al-Baqarah: 143).

Firman-Nya: fa aqiimush shalaata wa aatuz zakaata (“Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat,”) yaitu terimalah oleh kalian nikmat yang besar ini dengan mensyukurinya secara benar, maka tunaikanlah hak Allah oleh kalian dengan melaksanakan apa saja yang difardhukan, mentaati apa saja yang diwajibkan dan meninggalkan apa saja yang diharamkan. Di antara hal tersebut yang paling penting adalah mendirikan shalat dan menunaikan zakat, yaitu berbuat baik kepada sesama makhluk Allah dengan sesuatu yang diwajibkan kepada orang kaya untuk orang yang fakir dengan mengeluarkan satu bagian hartanya dalam satu tahun untuk orang-orang yang lemah dan orang-orang yang membutuhkan, sebagaimana telah dijelaskan dan dirinci dalam pembahasan yang lalu dalam ayat zakat di surat at-Taubah.

Dan firman-Nya: wa’tashimuu billaaHi (“Dan berpeganglah kamu pada tali Allah,”) yaitu berpegang teguh kepada Allah, minta tolonglah, bertawakkal dan mintalah dukungan kepada-Nya. Huwa maulaakum (“Dia adalah pelindungmu,”) yaitu pemelihara, penolong dan pemberi kemenangan bagi kalian dari musuh-musuh kalian. Fani’mal maulaa wa ni’mal wakiil (“Maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong,”) yaitu sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong dari musuh-musuh kalian. Wallahu a’lam.

&