Tag Archives: Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 77-79

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 77-79

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 77-79“Dan kepunyaan Allahlah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidaklah kejadian Kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. 16:77) Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. 16:78) Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang beriman. (QS. 16:79)” (an-Nahl: 77-79)

Allah Ta’ala memberitahukan tentang kesempurnaan ilmu dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, dengan pengetahuan-Nya terhadap segala yang ghaib, baik di langit maupun di bumi. Ilmu ghaib itu hanya khusus ada pada-Nya. Sehingga tidak seorang pun mampu melihat hal-hal ghaib itu kecuali jika Allah Ta’ala memperlihatkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Dia menjelaskan kekuasaan-Nya yang sempurna yang tidak ditentang dan dicegah. Juga bahwasanya jika Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah,” maka is pun terjadi. Demikian itulah yang Dia firmankan di sini: wamaa amrus saa’ati illaa kalamhil bashari au Huwa aqrabu innallaaHa ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Tidaklah kejadian Kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat [lagi]. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

Sebagaimana yang Dia firmankan di ayat yang lain yang artinya: “Allah menciptakan dan membangkitkanmu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja.” (QS. Luqman: 28)

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan berbagai anugerah yang Dia limpahkan kepada hamba-hamba-Nya ketika mereka dikeluarkan dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun. Setelah itu Dia memberikan pendengaran yang dengannya mereka mengetahui suara, penglihatan yang dengannya mereka dapat melihat berbagai hal, dan hati, yaitu akal yang pusatnya adalah hati, demikian menurut pendapat yang shahih. Ada juga yang mengatakan, otak dan akal.

Allah juga memberinya akal yang dengannya dia dapat membedakan berbagai hati, yang membawa mudharat dan yang membawa manfaat. Semua kekuatan dan indera tersebut diperoleh manusia secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Setiap kali tumbuh, bertambahlah daya pendengaran, penglihatan, dan akalnya hingga dewasa. Penganugerahan daya tersebut kepada manusia dimaksudkan agar mereka dapat beribadah kepada Rabbnya yang Mahatinggi.

Dia dapat meminta kepada setiap anggota tubuh dan kekuatan untuk mentaati Rabbnya, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab shahih Bukhari, dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah saw, dimana beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku berarti dia telah menyatakan perang dengan terang-terangan kepada-Ku. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih baik daripada pelaksanaan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku masih terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia memegang, dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika meminta kepada-Ku maka Aku pasti akan memberinya, dan jika berdo’a kepada-Ku, Aku pasti akan mengabulkannya, Jika memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti akan melindunginya. Aku tidak pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku akan melakukannya. Keraguan-Ku adalah, pada pencabutan nyawa seorang mukmin yang tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya, sedang kematian itu merupakan suatu keharusan baginya.’”

Makna hadits di atas adalah jika seorang hamba telah mengikhlaskan ketaatan, maka seluruh amal perbuatannya hanya untuk Allah, sehingga dia tidak mendengar kecuali karena Allah dan tidak melihat apa yang telah disyari’atkan Allah kepadanya melainkan hanya karena Allah semata, tidak memegang dan tidak pula berjalan melainkan dalam rangka mentaati Allah seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam melakukan semuanya itu.

Karena semuanya itu dalam beberapa riwayat hadits selain yang shahih, disebutkan setelah firman Allah, dan kakinya yang dengannya dia berjalan, “Dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku pula dia melihat, dengan-Ku dia memegang, dan dengan-Ku pula dia berjalan.”

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa ja’ala lakumus sam’a wal abshaara wal af-idata la’allakum tasykuruun (“Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Selanjutnya, Allah Ta’ala mengingatkan hamba-hamba-Nya untuk memperhatikan burung yang terkendali (terbang) antara bumi dan langit, bagaimana Dia membuatnya dapat terbang dengan dua sayap. Di sana tidak ada yang dapat menahannya kecuali Allah dengan kekuasaan-Nya yang padanya Dia telah memberikan kekuatan untuk mampu melakukan hal tersebut. Dia mengerahkan udara supaya membawa dan menerbangkan burung-burung tersebut. Sebagaimana yang Dia firmankan dalam surat al-Mulk yang artinya: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka. Tidak ada yang menahannya [di udara] selain Yang Mahapemurah. Sesungguhnya Dia Mahamelihat segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 19)

Di sini Dia berfirman: inna fii dzaalika la-aayaatal liqaumiy yu’minuun (“Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar terdapat tanda-tanda [kebesaran Rabb] bagi orang-orang yang beriman.”)

bersambung