Tag Archives: Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 116-117

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 116-117

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 116-117“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan, yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka dan orang-orang yang dhalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (QS. 11:116) Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 11:117)” (Huud: 116-117)

Allah berfirman, apakah tidak ditemukan orang-orang baik dari sisa-sisa generasi terdahulu yang melarang kejahatan, kemungkaran dan kerusakan di muka bumi yang ada di antara mereka. Dan firman-Nya: illaa qaliilan (“Kecuali sebagian kecil.”) Maksudnya, telah ditemukan orang yang mempunyai sifat seperti ini, sedikit dan tidak banyak, mereka adalah orang-orang yang diselamatkan Allah di saat datang kemarahan-Nya dan tibanya siksaan-Nya, maka dari itu Allah menyuruh umat yang mulia ini, supaya ada di antara mereka yang menyeru kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-`Imran: 104)

Untuk itu Allah berfirman: falau laa kaana minal quruuni min qablikum uluu baqiyyatiy yanHauna ‘anil fasaadi fil ardli illaa qaliilam mimman anjainaa minHum (“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan, yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.”)

Dan firman-Nya: wat taba’al ladziina dhalamuu maa ut-rifuu fiiHi (“Dan orang-orang yang dhalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka.”) Maksudnya, mereka selalu berada dalam perbuatan maksiat dan perbuatan mungkar dan tidak ada orang-orang yang menegur perbuatan ingkar mereka itu sampai adzab datang kepada mereka dengan serentak.

Wa kaanuu mujrimiin (“Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa,”) kemudian Allah Ta’ala memberitakan, bahwasanya Allah tidak membinasakan suatu negeri kecuali negeri itu berbuat dhalim terhadap dirinya sendiri (melakukan maksiat). Dan adzab-Nya tidak menimpa suatu negeri yang baik (penduduknya orang-orang yang baik), kecuali mereka (penduduknya) sudah menjadi orang-orang yang dhalim.

Bersambung