Tag Archives: tafsir surat ar ruum

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (11)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Firman Allah: liyudziiqaHum ba’dlal ladzii ‘amiluu (“Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari [akibat] perbuatan mereka.”) yaitu menguji mereka dengan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan sebagai ujian dari-Nya dan balasan atas perilaku mereka. La’allaHum yarji’uun (“Agar mereka kembali.”) dari berbagai perilaku maksiat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
Wa balaunaaHum bil hasanaati was sayyi-aati la’allaHum yarji’uun (“Dan Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan agar mereka kembali.”) dan Allah Ta’ala berfirman: qul siiruu fil ardli fandhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul ladziina ming qablu (“Katakanlah: ‘Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikan bagaimaan kesudahan orang-orang yang dahulu.”) yaitu sebelum kalian. Kaana aktsaruHum musyrikiin (“Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan [Allah].”) yaitu perhatikanlah apa yang menimpa mereka akibat mendustakan para Rasul dan mengkufuri berbagai nikmat.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 43-45“43. oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang Lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah. 44. Barangsiapa yang kafir Maka Dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan Barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan), 45. agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.” (ar-Ruum: 43-45)

Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera beristiqamah dalam ketaatan dan bersegera dalam kebaikan.
Fa aqim wajHaka lid diinil qayyimi ming qabli ay ya’tiya yaumul laa maraddalaHuu minallaaHi (“Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu pada agama yang lurus [Islam] sebelum datang dari Allah suatu hari yang tak dapat ditolak [kedatangannya].”) yaitu hari kiamat. Jika Dia menghendaki terjadinya, maka tidak ada yang mampu menolaknya.
Yauma-idziy yashshadda’uun (“Pada hari itu mereka terpisah-pisah.”) yaitu satu golongan di surga dan satu golongan di neraka yang menyala-nyala. Untuk itu Allah berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang kafir Maka Dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan Barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan), agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya.”
Dia akan membalas mereka dengan balasan keutamaan, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat [dan] hingga tak terbatas sesuai kehendak Allah. innaHuu laa yuhibbul kaafiriin (“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.”) di samping itu, Dia Mahaadil terhadap mereka serta tidak akan mendhaliminya.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 46-47“46. dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahn kamu bersyukur. 47. dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (ar-Ruum: 46-47)

Allah menceritakan nikmat-nikmat-Nya kepada para makhluk, yaitu dikirimnya angin sebagai pembawa berita dari Pemilik rahmat dengan datangnya hujan setelah itu. Untuk itu Allah berfirman: wa layudziiqakum mir rahmatiHii (“Dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya.”) yaitu hujan yang diturunkan-Nya, sehingga dengan air itu para hamba dan negeri-negeri jadi hidup.

Wa litajriyal fulku bi amriHi (“dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya.”) di lautan. Kapal itu dilayarkan melalui perantaraan hembusan angin. Wa litabtaghuu min fadl-liHii (“Dan [juga] supaya kamu dapat mencari karunia-Nya.”) di dalam perdagangan, mencari nafkah serta melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain.
Wala-‘allakum tasykuruun (“Mudah-mudahan kamu bersyukur.”) yaitu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang dilimpahkan kepada kalian, baik berupa nikmat-nikmat lahir maupun nikmat-nikmat bathin yang tidak dapat dihitung dan dicatat.

Wa laqad arsalnaa ming qablika rusulan ilaa qaumiHim fajaa-uuHum bil bayyinaati fantaqamnaa minalladziina ajramuu (“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelummu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan [yang cukup], lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa.”) ini merupakan hiburan dari Allah swt. untuk seorang hamba dan utusan-Nya, yaitu Muhammad saw. yang didustakan. Sesungguhnya mayoritas kaumnya dan manusia telah mendustakan dan menentang para Rasul serta menyelamatkan orang-orang yang mengimani mereka.
Wa kaana haqqan ‘alainaa nashrul mu’miniin (“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”) semua itu adalah hak yang diwajibkan pada diri-Nya Yang Mahamulia sebagai kehormatan dan keutamaan, seperti firman Allah: kataba ‘alaa nafsiHir rahmata (“Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.”)(al-An’am: 12)

Bersambung ke bagian 12

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (10)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Firman Allah: wamaa aataitum min zakaati turiiduuna wajHallaaHi fa-ulaa-ika Humul mudl-‘imuun (“Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencari keridlaan Allah, maka [yang berbuat demikian] itulah orang-orang yang melipatgandakan [pahalanya].”) yaitu orang-orang yang dilipatgandakan pahala dan ganjarannya. Di dalam hadits shahih dinyatakan:
“Tidaklah seseorang bershadqah dengan sepotong kurma pun yang dikeluarkan dari usahanya yang halal, kecuali Allah Yang Mahapemurah akan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, lalu dipelihara-Nya untuk si pemberi shadaqah, sebagaimana salah seorang kalian memelihara anak kuda atau kuda yang baru besar, hingga kurma itu menjadi lebih besar daripada bukit Uhud.” (HR Bukhari)

Dan firman Allah: AllaaHul ladzii khalaqakum tsumma razaqakum (“Allah lah yang menciptakanmu, kemudian memberimu rizky.”) yaitu Dia lah yang Mahapencipta dan Mahapemberi rizky Yang mengeluarkan manusia dari perut ibunya dalam keadaan telanjang, tidak mempunyai pengetahuan, pendengaran, penglihatan dan tidak mempunyai kekuatan. Kemudian, Dia memberikan rizky semua hal tersebut setelah itu, dan juga pakaian dalam, pakaian luar, harta, kekuasaan dan usaha. Sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan dari Habbah dan Sawa bin Khalid, keduanya berkata: “Kami tidak menemui Rasulullah saw. saat beliau memperbaiki sesuatu. Lalu keduanya membantu beliau, maka beliau pun bersabda: “Janganlah kalian berdua putus asa terhadap rizky, selama kedua kepala kalian masih bergerak. Sesungguhnya manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah, tidak ada pembalut atasnya, kemudian Allah swt. memberi rizky.”

Firman Allah: tsumma yumiitukum (“Kemudian mematikanmu.”) setelah kehidupan ini, tsumma yuhyiikum (“Kemudian menghidupkanmu [kembali]”) pada hari kiamat.
Hal min syurakaa-ikum (“Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu.”) yaitu berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah, may yaf’alu min dzaalikum min syai-in (“yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu?”) yaitu tidak ada satu pun di antara mereka yang dapat melakukan semua itu. Akan tetapi Allah adalah Rabb Yang Mahaesa dalam penciptaan, pemberi rizky, menghidupkan dan mematikan. Kemudian Dia membangkitkan seluruh makhluk di hari kiamat. Untuk itu Dia berfirman: subhaanaHuu wa ta’aalaa ‘ammaa yusyrikuuna (“Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.”) yaitu Mahatinggi, Mahasuci, Mahabersih dan Mahaagung Jalla wa ‘Azza dari adanya sekutu, tandingan, kesamaan, anak atau ayah. Akan tetapi Dia Mahaesa, tunggal, yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak ada yang setara dengan-Nya sedikitpun.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 41-42“41. telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). 42. Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (ar-Ruum: 41-42)

Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, as-Suddi dan lain-lain berkata: “Yang dimaksud dengan “albarru” dalam ayat ini adalah hamparan padang yang luas. Sedangkan yang dimaksud “albahru” adalah kota-kota dan kampung-kampung.” Dan di dalam suatu riwayat, Ibnu ‘Abbas dan ‘Ikrimah berkata: “Albahru adalah kota-kota dan kampung-kampung yang berada di sisi pantai.” Sedangkan ulama lain mengatakan: “Yang dimaksud dengan “albarri” di sini adalah daratan yang kita kenal dan “bahru” adalah lautan yang kita kenal dalam arti kata tersebut.”
Za’id dan Rafi’ berkata: “DhaHaral fasaadu; [Telah nampak kerusakan], yaitu terhentinya hujan di daratan yang diiringi masa paceklik serta dari lautan, yaitu yang mengenai binatang-binatangnya. (HR Ibnu Abi Hatim).

Pendapat pertama lebih jelas serta menjadi pegangan kebanyakan ahli tafsir.
Makna firman Allah: dhaHaral fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aidiin naasi (“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,”) yaitu, kekurangan tanam-tanaman dan buah-buahan disebabkan oleh kemaksiatan.

Abul ‘Aliyah berkata: “Barangsiapa yang berlaku maksiat kepada Allah di muka bumi, maka berarti ia telah berbuat kerusakan di dalamnya. Karena kebaikan bumi dan langit adalah dengan sebab ketataan.”
Untuk itu, tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud: “Satu hukuman hadd yang ditegakkan di muka bumi lebih disukai bagi penghuninya daripada mereka diberikan hujan [selama] 40 [hari] pagi hari.”

Sebabnya adalah, jika hudud ditegakkan, niscaya manusia dan mayoritas mereka akan menahan diri dari melakukan hal-hal yang diharamkan. Dan jika maksiat-maksiat ditinggalkan, maka hal tersebut menjadi sebab tercapainya berbagai berkah dari langit dan bumi. Untuk itu jika ‘Isa bin Maryam as. turun di akhir zaman, dia akan berhukum dengan syariat yang suci ini pada saat itu sebelum membunuh babi, menghancurkan salib dan menghapuskan upeti. Maka beliau tidak akan menerima apapun kecuali Islam atau pedang. Jika pada zaman itu Allah telah membinasakan Dajjal dan para pengikutnya serta Ya’juj dan Ma’juj, maka dikatakanlah kepada bumi: “Keluarkanlah berkahmu.” Lalu berbagai golongan manusia mampu memakan delima serta mampu berlindung dengan kulitnya. Susu unta mampu mencukupi sekelompok manusia. Semua itu tidak lain disebabkan berkah merealisasikan syari’at Muhammad saw. Maka setiap kali keadilan ditegakkan, semakin banyaklah keberkahan dan kebaikan.

Untuk itu tercantum pula dalam ash-Shahihain bahwa jika orang yang jahat mati, niscaya para hamba, kota, pohon dan binatang-binatang melata akan mendapat ketenangan.

Bersambung ke bagian 11

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (9)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Sebagian ulama berkata: “Demi Allah, seandainya yang mengancamku adalah seorang penjaga yang ahli, niscaya akupun takut kepadanya. Bagaimana kalau yang mengancam di dalam ayat ini adalah Rabb yang berkata terhadap segala sesuatu: kun fayakuun [“jadilah” maka jadilah ia]. Kemdian Allah berfirman mengingkari orang-orang musyrik tentang perkara yang mereka perselisihkan tentang penyembahan kepada selain-Nya tanpa dalil, hujjah dan bukti. Am anzalnaa ‘alaiHim sulthaanan (“Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan?”) yaitu dalil, faHuwa yatakallamu (“lalu keterangan itu menunjukkan”) berbicara tentang, bimaa kaanuu biHii musyrikuuna (“Kebenaran apa yang mereka selalu mempersekutukan dengan Rabb”), dan ini adalah istifham inkari [pertanyaan yang menunjukkan pengingkaran], artinya mereka tidak memiliki semua itu sedikitpun.

Firman Allah: wa idzaa adzaqnan naasa rahmatan fariha biHaa wa in tushibHum sayyiatum bimaa qaddamat aidiiHim idzaaHum yaqnathuuna (“Apabila Kami rasakan suatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah [bahaya] disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.”) ini merupakan pengingkaran kepada manusia dimanapun dia berada, kecuali orang-orang yang dipelihara dan diberi taufik oleh Allah. Sesungguhnya manusia jika ditimpa kenikmatan maka dia akan berbangga diri dengan merasa bergembira terhadap dirinya dan menyombongkan diri terhadap orang lain. Sedangkan jika ditimpa kesulitan, dia merasa putus asa dan kecewa terhadap adanya kebaikan yang akan diraih sesudahnya.

Illalladziina shabaruu wa’amilush shaalihaati (“Kecuali orang-orang yang sabar [terhadap bencana], dan mengerjakan amal-amal shalih.”)(Huud: 11). Yaitu mereka bersabar di saat kesulitan dan beramal shalih di waktu lapang, sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits shahih:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal itu tidak terdapat melainkan pada seorang Mukmin. Jika ia ditimpa kelapangan ia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya dan jika ia ditimpa kesulitan ia bersabar, maka itu pun merupakan kebaikan baginya.”

Firman Allah: awalam yarau annallaaHa yabsuthur rizqa limay yasyaa-u wa yaqdir (“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rizky bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia [pula] yang menyempitkan [rizky itu].”) yaitu Dia-lah Rabb yang mengatur lagi melakukan semua itu dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Dia memberikan keluasan kepada suatu kaum dan memberikan kesempitan kepada kaum yang lain.
Inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy yu’minuuna (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi kaum yang beriman.”)

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 38-40“38. Maka berikanlah kepada Kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan[1171]. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka Itulah orang-orang beruntung. 39. dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). 40. Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (ar-Ruum: 38-40)

[1171] Yang berhak menerima zakat Ialah: 1. orang fakir: orang yang Amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam Keadaan kekurangan. 3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. pada jalan Allah (sabilillah): Yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. 8. orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

Allah Ta’ala berfirman untuk memberikan: dzal qurbaa haqqaHuu (“Pada kerabat yang terdekat akan haknya.”) berupa kebaikan dan silaturahim, wal miskiina (“demikian [pula] pada fakir miskin”) yaitu orang yang tidak memiliki sesuatu yang dinafkahkan atau memiliki sesuatu akan tetapi tidak mencukupi kebutuhannya. Wabnas sabiili (“dan orang-orang yang dalam perjalanan.”) yaitu seorang musafir yang membutuhkan nafkah dan bekal di dalam perjalanannya.
Dzaalika khairul lilladziina yuriiduuna wajHallaaHi (“Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridlaan Allah.”) yaitu memandang-Nya pada hari kiamat dan itulah tujuan yang besar. Wa ulaa-ika Humul muflihuun (“dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”) di dunia dan di akhirat.

Wa maa aataitum mir ribaa lyarbuu fii amwaalin naasi falaa yarbuu ‘indallaaHi (“Dan suatu riba [tambahan] yang kamu berikan agar menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.”) yaitu barangsiapa yang memberikan sesuatu guna mengharapkan balasan manusia yang lebih banyak kepadanya dari apa yang dia berikan, maka perilaku itu tidak mendapatkan pahala di sisi Allah. Demikian yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak, Qatadah, ‘Ikrimah, Muhammad bin Ka’ab dan asy-Sya’bi. “Sikap demikian ini dibolehkan sekalipun tidak memiliki pahala. Akan tetapi Rasulullah saw. melarangnya secara khusus.” Itulah yang dikatakan oleh adh-Dhahhak dan dia berdalih dengan firman Allah: walaa tamnun tastaktsir (“Dan janganlah kamu memberi [dengan maksud] memperoleh [balasan] yang lebih banyak.”)(al-Muddatstsir: 6). Yaitu, janganlah engkau memberikan sesuatu karena menghendaki sesuatu yang lebih besar dari pemberianmu itu. Dan Ibnu ‘Abbas berkata: “Riba itu ada dua; riba yang tidak sah yaitu riba buyu’/ jual-beli, dan riba yang tidak mengapa, yaitu hadiah yang diberikan seseorang karena berharap kelebihan dan pelipatannya. Kemudian beliau membaca ayat ini, Wa maa aataitum mir ribaa lyarbuu fii amwaalin naasi falaa yarbuu ‘indallaaHi (“Dan suatu riba [tambahan] yang kamu berikan agar menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.”) sedangkan pahala pada sisi Allah adalah zakat.

Bersambung ke bagian 10

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (8)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Untuk itu Ibnu ‘Abbas, Ibrahim, an-Nakha’i, Sa’id bin Jubair, Mujahid, ‘Ikrimah, Qatadah, adh-Dhahhak dan Ibnuz Zaid berkata tentang firman-Nya: laa tabdiila likhalqillaaH (“Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”) yaitu pada agama Allah.
Khalqul awwaliin adalah agama orang-orang terdahulu. Dien dan fitrah adalah Islam.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang anak-anak orang-orang musyrik, lalu beliau bersabda: “Allah Mahamengetahui tentang apa yang dahulu mereka kerjakan, ketika Dia menciptakan mereka.” Ditakhrij dari ash-Shahihain.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Iyadh bin Himar, bahwa suatu hari Rasulullah saw. berkhutbah. Di dalam khutbahnya itu beliau bersabda: “Sesungguhnya Rabb-ku memerintahkanku untuk mengajarkan kalian sesuatu yang kalian tidak ketahui. Di antaranya adalah apa yang diberitahukan kepadaku hari ini: ‘Seluruh apa yang aku berikan kepada hamba-hamba-Ku adalah halal. Dan sesungguhnya Aku menciptakan seluruh hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung pada kebenaran). Kemudian syaitan datang menyesatkan mereka dari agama yang mengharamkan sesuatu yang telah Aku halalkan kepada mereka serta memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku tanpa dalil yang Aku turunkan.’ Kemudian Allah swt. memandang penghuni bumi, lalu memurkai mereka, baik yang berbangsa Arab maupun non Arab kecuali beberapa gelintir ahlul kitab. Dia berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu hanya untuk mengujimu dan aku uji manusia dengan sebabmu serta Aku turunkan kepadamu sebuah kitab yang tidak terhapus oleh air lagi engkau membacakannya kepada orang yang tidur dan orang yang sadar.’ Sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk membakar orang Quraisy, lalu aku berkata: ‘Ya Rabb-ku, kalau itu aku lakukan, mereka pasti akan membelahku dan menjadikannya seperti sebuah roti.’ Dia berfirman: ‘Keluarkanlah mereka, sebagaimana mereka mengeluarkanmu, perangilah mereka niscaya Kami akan perang bersamamu, berinfaklah niscaya Kami akan memberi nafkah kepadamu dan kirimlah satu pasukan niscaya Kami akan mengutus lima pasukan yang seperti itu serta perangilah orang-orang yang menentangmu bersama orang yang mentaatimu.
Beliau bersabda: “Penghuni surga itu ada tiga; Penguasa yang adil, suka bersedekah dan disetujui, seorang laki-laki yang penyayang, lembut hati kepada setiap kerabat dan menjaga kehormatan orang lain.
Sedangkan penghuni neraka itu ada lima: orang lemah yang tidak memiliki kecerdikan, dimana mereka mengikuti kalian tanpa mengharapkan keluarga dan harta, pengkhianat yang terang-terngan tamak sekalipun kecil dia akan mengkhianatinya, serta laki-laki yang tidak berpagi-pagi dan bersore-sore kecuali dia akan memperdayakanmu terhadap keluarga dan hartamu.” Beliau menyebutkan orang yang berakhlak buruk, pendusta dan golongan-golongan busukk. (Ditakhrij sendiri oleh Muslim dari beberapa jalan dari Qatadah)

Firman Allah: dzaalikad diinul qayyimu (“[itulah] agama yang lurus.”) yaitu berpegang teguh dengan syariat dan fitrah yang selamat adalah agama yang tegak lurus. Walaakinna aktsarannaasi laa ya’lamuuna (“tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”) yaitu sekalipun demikian, dengan sikap menyimpang darinya. Dan firman-Nya: muniibiina ilaiHi (“Dengan kembali bertobat kepada-Nya.”) Ibnu Zaid dan Ibnu Juraij berkata: “Yaitu mereka kembali kepada-Nya.” wattaquuHu (“dan bertakwalah kepada-Nya”) yaitu mereka takut dan merasa diawasi, wa aqiimush shalaata (“Serta dirikanlah shalat.”) yaitu, ia sebagai ketaatan yang besar. Wa laa takuunuu minal musyrikiina (“dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”) yaitu jadilah kalian orang-orang yang bertauhid dan mengikhaskan hanya kepada-Nya serta tidak menghendaki selain-Nya.

Firman Allah: minalladziina farraquu diinaHum wa kaanuu syiya’an kullu khizbim bimaa ladaiHim farihuuna (“Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi orang-orang musyrik yang memecah belah agama mereka, yaitu dengan mengganti dan merubahnya serta mengimani sebagiannya dan mengingkari sebagian lainnya.

Sebagian ahli qiraat membacanya dengan faaraquu diiinaHum, yaitu mereka tinggalkan agamanya di belakang mereka. Mereka seperti orang Yahudi, orang Nasrani, orang majusi, penyembah berhala dan seluruh penganut agama-agama yang bathil selain penganut Islam.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 33-37“33. dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya, 34. sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu). 35. atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, lalu keterangan itu menunjukkan (kebenaran) apa yang mereka selalu mempersekutukan dengan Tuhan? 36. dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. 37. dan Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.” (ar-Ruum: 33-37)

Allah Ta’ala berfirman memberikan kabar tentang manusia yang berada dalam keadaan terjepit, mereka berdoa kepada Allah Mahaesa Yang tidak ada sekutu bagi-Nya. jika mereka dilimpahkan berbagai nikmat, tiba-tiba segolonga mereka yang berada dalam keadaan lapang, berbuat musyrik kepada Allah dan menyembah kepada selain-Nya. liyakfuruu bimaa aatainaaHum (“Sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka.”) huruf lam pada ayat ini adalah lam ‘aaqibah [lam yang menunjukkan tentang akibat suatu peristiwa] menurut pendapat sebagian ulama. Sedangkan menurut ulama yang lainnya, laam nya adalah lam ta’liil [lam yang menunjukkan alasan hukum sebuah kasus], akan tetapi laam itu adalah ‘illat tentang ketentuan Allah kepada mereka. Kemudian Allah mengancam mereka dengan firman-Nya: fatamatta’uu fasaufa ta’lamuun (“Maka bersenang-senanglah kammu sekalian, kelak kamu akan mengetahui [akibat perbuatanmu].”)

Bersambung ke bagian 9

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (7)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Dia-lah Mahaperkasa yang tidak dapat dikalahkan dan ditandingi. Sesungguhnya Dia mengalahkan dan memaksa segala sesuatu dengan kekuasaan dan kerajaan-Nya Yang Mahabijaksana dalam perkataan dan perbuatan-Nya, baik secara syar’i maupun secara qadari.

Dari Malik dalam tafsirnya yang diriwayatkan dari Muhammad bin al-Munkadir tentang firman Allah Ta’ala: wa laHul matsalul a’laa (“Dan bagi-Nya lah sifat yang Mahatinggi.”) ia berkata bahwa tidak ada Ilah [yang haq] kecuali Allah.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 28-29“28. Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; Maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. 29. tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? dan Tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.” (ar-Ruum: 28-29)

Ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah swt. untuk orang-orang musyrik yang menyembah selain Dia bersama-Nya serta menjadikan untuk-Nya berbagai sekutu. Padahal mereka sendiri mengakui bahwa sekutu-sekutu Allah yang berupa berhala-berhala dan patung-patung itu adalah hamba dan milik-Nya. sebagaimana mereka berkata: “Aku penuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu untuk-Mu, Engkau memilikinya dan apayang ia miliki.” Maka Allah berfirman: dlaraba lakum matsalam min anfusikum (“Dia membuat perumpamaan untukmu dari dirimu sendiri.”) yaitu, kalian menyaksikan dan memahami-Nya dari diri kalian sendiri.

Hal lakum mim maa malakat aimaanukum min syurakaa-a fii maa razaqnaakum fa antum fiiHi sawaa-un (“Apakah ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam [memiliki] rizky yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam [hak menggunakan] adalah sama dengan dia [yang menjadikan budaknya sebagai sekutu dalam hartanya).

takhaafuunaHum kakhiifatikum anfusakum (“Kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri?”) yaitu kamu takut mereka mendapatkan bagian harta dari kalian. Abu Mijlaz berkata: “Sesungguhnya hamba sahaya kalian tidak takut membagi-bagi harta kalian, padahal itu bukan miliknya. Demikian pula Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Makna hal itu bahwa salah seorang kalian mengecilkan terhadap hal demikian. Bagaimana kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah di antara makhluk-makhuk-Nya. Demikian pula mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dari kalangan hamba-hamba dan makhluk-Nya, padahal salah seorang mereka sangat menolak dan amat benci seandainya budak yang dimilikinya menjadi sekutu dalam hartanya secara sama yang dapat dibagi-baginya. Mahatinggi Allah dari segala sifat seperti itu setinggi-tinggi-Nya. Dan dikarenakan, memberi peringatan dengan contoh-contoh tersebut menunjukkan bebas dan sucinya Allah swt dari semua itu dengan cara yang lebih utama dan lebih tinggi.

Firman Allah: kadzaalika nufashshilul aayaati liqaumiy ya’qiluuna (“Demikianlah kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.”) kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menyembah selain Dia hanya karena kepandiran dan kebodohan diri mereka sendiri.
Balittabi’alladziina dhalamuu (“Tetapi orang-orang yang dhalim mengikuti.”) yaitu orang-orang musyrik, aHwaa-aHum (“Hawa nafsu mereka.”) yaitu dalam penyembahan mereka terhadap tandingan-tandingan-Nya tanpa ilmu pengetahuan, famay yaHdii man adlallallaaH (“Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan oleh Allah?”) yaitu tidak ada seorang pun yang dapat menunjuki mereka jika Allah telah menetapkan kesesatan bagi mereka.

Wa maa laHum min naashiriin (“Dan tidaklah bagi mereka seorang penolong pun.”) yaitu tidak ada satu pun penyelamat, penjaga dan penolong bagi mereka dari kekuasaan Allah terhadapnya. Karena, apa saja yang dikehendaki-Nya, pasti terjadi dan apa saja yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak terjadi.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 30-32“30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, 31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, 32. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”(ar-Ruum: 30-32)

Allah berfirman, maka perkokohlah pandanganmu dan istiqamahlah di atas agama yang disyariatkan Allah kepadamu, berupa kesucian millah Ibrahim yang Allah bimbing kamu kepadanya dan disempurnakan Allah agama itu untukmu dengan sangat sempurna. Disamping itu hendaknya kamu konsekuen terhadap fitrah lurusmu yang difitrahkan Allah atsa makhluk-Nya. karena Allah telah memfitrahkan makhluk-Nya untuk mengenal dan mengesakan-Nya yang tidak ada Ilah [yang haq] selain-Nya, sebagaimana penjelasan yang lalu dalam firman-Nya: wa ash-HadaHum ‘alaa anfusiHim lalastu birabbikum qaaluu balaa syaHidnaa (“Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman]: ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul [Engkau Rabb kami], kami menjadi saksi.’”)(al-A’raaf: 172)

Firman-Nya: laa tabdiila likhalqillaaH (“Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”) sebagian mereka berkata: “Maknanya adalah, janganlah kalian merubah ciptaan Allah, lalu kalian rubah pula manusia dari fitrah yang diciptakan oleh Allah bagi mereka.” Kaliamat ini menjadi kabar dengan makna thalab [tuntutan], seperti firman Allah: wa man dakhalaHuu kaana aaminan (“Barangsiapa memasukinya [Baitullah itu] menjadi amanlah dia.”) (Ali ‘Imraan: 97). Dan itulah makna yang baik dan tepat. Sedangkan ulama lain berkata: “Kalimat ini menjadi kabar pada kalimat sebenarnya. Maknanya bahwa Allah menyamakan seluruh makhluk-Nya dengan fitrah dengan tabiat yang lurus, dimana tidak ada satu anakpun yang lahir kecuali dalam kondisi demikian serta tidak ada tingkat perbedaan manusia dalam masalah tersebut.

Bersambung ke bagian 8

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (6)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Inna fii dzaalika la aayaatil lil ‘aalimiina wa min aayaatiHii manaamukum bil laili wan naHaari wabtighaa-ukum min fadl-liHi (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya.”) yaitu di antara bukti-bukti kekuasaan-Nya adalah, Allah jadikan sifat tidur di waktu malam dan di waktu siang yang dengannya dapat mencapai istirahat dan ketenangan, serta menghilangkan rasa lemah dan lelah. Serta menjadikan untuk kalian upaya bertebaran, mencari nafkah dan melakukan perjalanan di waktu siang. Dan semua ini adalah lawan dari tidur.

Inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy yasma’uuna (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”) yaitu yang memperhatikan.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 24-25“24. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. 25. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).” (ar-Ruum: 24-25)

Firman Allah: wa min aayaatiHii (“dan di antara tanda-tanda.”) yang menunjukkan keagungan-Nya; yuriikumul barqa khaufaw wa thama’aw (“Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk [menimbulkan] ketakutan dan harapan.”) yaitu terkadang mereka takut dengan kejadian-kejadian sesudahnya berupa hujan deras dan kilat yang menggelegar. Dan terkadang juga mereka berharap akan sinarnya serta cukupnya hujan yang dibutuhkan yang datang kemudian. Untuk itu Allah berfirman: wa yunazzilu minas samaa-i fa yuhyii biHil ardla ba’da mautiHaa (“Dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya.”) yaitu setelah sebelumnya gersang tanpa tumbuh-tumbuhan dan tanpa sesuatu pun. Maka air itu datang: “Hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (al-Hajj: 5)

Dalam masalah ini terdapat pelajaran dan bukti-bukti yang nyata tentang hari kembali dan terjadinya Kiamat. Untuk itu Dia berfirman: inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy ya’qiluuna (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akalnya.”
Wa min aayaatiHii an taquumas samaa-u wal ardlu bi amriHi (“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, berdirinya langit dan bumi dengan iradah-Nya.”) seperti firman-Nya: innallaaHa yumsikus samaawaati wal ardli an tazuulan (“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap.”)(Faathir: 41). Yaitu ketika tegak dan kokoh dengan perintah dan pengaturan-Nya. kemudan ketika hari kiamat tiba, bumi akan digantikan dengan bumi dan langit yang lain. Serta keluarlah orang-orang yang mati dari kubur mereka dalam keadaan hidup dengan perintah Allah swt. serta seruan-Nya kepada mereka. Untuk itu Dia berfirman: tsumma idzaa da’aakum da’watam minal ardli idzaa antum takhrujuuna (“Kemudian apabila Dia memanggilmu sekali panggil dari bumi, seketika itu [juga] kamu keluar [dari kubur].”) yaitu dari [dalam] bumi.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 26-27“26. dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. semuanya hanya kepada-Nya tunduk. 27. dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (ar-Ruum: 27)

Allah Ta’ala berfirman: wa laHuu man fis samaawaati wal ardli (“Dan kepunyaan-Nya lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi.”) yaitu, milik dan abdi-Nya. kullu laHuu qaanituun (“Semuanya hanya tunduk kepada-Nya.”) yaitu tunduk dan khusyu’ dalam keadaan suka maupun terpaksa.

Di dalam hadits Diraj, dari Abul Haitsam, dari Abu Sa’id secara marfu’: “Setiap huruf dari al-Qur’an yang menyebutkan qunut di dalamnya, maka artinya adalah taat.”

Firman Allah: wa Huwal ladzii yabda-ul khalqa tsumma yu’iidzuHuu wa Huwa aHwanu ‘alaiHi (“dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”) Ibnu Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu, lebih ringan bagi-Nya.” sedangkan Mujahid berkata: “Mengulanginya lebih mudah bagi Allah daripada memulainya.” “Sedangkan memulainya sendiri begitu mudah bagi-Nya.” demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah dan lain-lain. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam mendustakan Aku padahal Aku tidak demikian. Dia mencerca-Ku, padahal Aku tidak demikian. Adapun kedustannya terhadap-Ku, yaitu perkataannya: ‘Allah tidak akan menghidupkanku kembali sebagaimana Dia memulainya.’ Padahal awal penciptaan tidak lebih mudah bagi-Ku daripada mengulanginya. Sedangkan cercaannya kepada-Ku adalah perkataannya: ‘Allah mempunyai anak, padahal Aku Mahaesa tempat bergantung yang tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak ada seorang pun yang setera dengan-Nya.’”

Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini sendiri dan diriwayatkannya sendiri pula oleh Imam Ahmad. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan keduanya [dalam menciptakan pertama kali dan dalam mengulanginya] dilihat dari sudut kekuasaan Allah swt. adalah sama saja. sedangkan al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas, semuanya amat mudah bagi-Nya, demikian yang dikatakan oleh ar-Rabi’ bin Khaitsam dan Ibnu Jarir cenderung kepada pendapat itu, serta menyebutkan beberapa pendukung yang banyak sekali. Dia berkata: “Boleh jadi dhamir dalam firman-Nya: wa Huwa aHwanu ‘alaiHi (“Dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”) kembali kepada penciptaan. Hal ini berarti menghidupkannya kembali lebih mudah daripada menciptakannya.

Firman Allah: wa laHul matsalul a’laa fis samaawaati wal ardli (“Dan bagi-Nya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas, seperti firman-Nya: laisa kamitsliHii syai-un (“Tidak ada yang serupa dengan-Nya”) Qatadah berkata bahwa tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi secara benar] kecuali Dia dan tidak ada Rabb selain-Nya. Ibnu Jarir mengatakan seperti itu. Sebagian ahli tafsir ketika menyebut ayat ini menyenandungkan sya’ir kepada sebagian ahli ma’rifah:
“Jika kolam yang jernih tenang airnya,
Dan tidak ada angin yang menggoyangnya,
Niscaya langit di dalamnya dapat terlihat tanpa ragu.
Demikian pula matahari dan bintang-bintang jelas nyata.
Demikianlah hati orang-orang yang sampai pada tajalli,
Dalam kebersihan dapat terlihat Allah Yang Mahaagung.

Bersambung ke bagian 7

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (5)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 20-21“20. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. 21. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (ar-Ruum: 20-21)

Allah berfirman: wa min aayaatiHii (“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya.”) yang menunjukkan keagungan-Nya dan kesempurnaan-Nya ialah, Dia menciptakan bapak kalian, Adam dari tanah.
Tsumma idzaa antum basyarun tantasyiruun (“Kemudian tiba-tiba kamu [menjadi] manusia yang berkembang biak.”) asal kalian adalah dari tanah, kemudian dari air yang hina, lalu dibentuk menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging, lalu menjadi tulang-tulang yang berbentuk manusia, kemudian Allah membalut tulang-tulang itu dengan daging dan meniupkan ruh ke dalam tubuhnya. Lalu dia dapat mendengar dan melihat. Kemudian dia keluar dari perut ibunya sebagai anak kecil yang lemah kekuatannya dan daya geraknya. Dan semakin panjang umurnya semakin sempurna pula kekuatan dan daya geraknya, hingga menjadi kondisi sekarang ini, mampu membangun kota-kota dan benteng-benteng pertahanan, melakukan perjalanan ke berbagai pelosok dunia, mengarungi samudera, mengelilingi berbagai benua dan mengumpulkan berbagai harta.
Diapun memiliki pemikiran, pendalaman, kejelian, pendapat, ilmu dan wawasan tentang perkara-perkara dunia dan akhirat sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Mahasuci Rabb yang memberikan kekuasaan kepada mereka, memperjalankan, mengatur dan mendistribusikan dalam berbagai jenis kehidupan dan usaha serta terjadinya berbagai tingkatan di kalangan mereka dalam bidang ilmu, pemikiran, kebaikan dan keburukan, kekayaan dan kemiskinan serta kebahagiaan dan kecelakaan.
Maka firman Allah: wa min aayaatiHii an khalaqakum min turaabin tsumma idzaa antum basyarun tantasyiruun (“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakanmu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu [menjadi] manusia yang berkembang biak.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dari satu genggaman yang digenggam-Nya dari seluruh bumi. Lalu datanglah anak-anak Adam sesuai dengan bumi, ada yang putih, merah, hitam, dan pada yang di antara yang demikian. Ada pula yang jahat, baik, senang dan yang berduka serta ada yang di antara yang demikian.”
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dari beberapa jalan, dari ‘auf al-A’raby. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”

Firman Allah: wa min aayaatiHii an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan (“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri.”) yaitu Dia menciptakan untuk kalian wanita-wanita yang akan menjadi istri kalian dari jenis kalian sendiri.
Litaskunuuna ilaiHaa (“Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”) sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dia-lah yang menciptakanmu dari diri yang satu dan daripadanya. Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.”)(al-A’raaf: 189). Yaitu Hawa yang diciptakan Allah dari tulang rusuk bagian kiri Adam. Seandainya Allah menciptakan anak Adam seluruhnya laki-laki dan menjadikan wanita dari jenis yang lainnya, seperti dari bangsa jin atau hewan, niscaya perasaan kasih sayang di antara mereka dan di antara berbagai pasangan tidak akan tercapai, bahkan akan terjadi ketidak senangan seandainya pasangan-pasangan itu berbeda jenis.
Kemudian di antara rahmat-Nya kepada manusia adalah menjadikan pasangan-pasangan mereka dari jenis mereka sendiri serta menjadikan perasaan cinta dan kasih sayang di antara mereka. Dimana adakalanya seorang laki-laki mengikat wanita dikarenakan rasa cinta atau rasa kasih sayang dengan lahirnya seorang anak, seling membutuhkan nafkah dan kasih sayang di antara keduanya.
Inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy yatafakkaruuna (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”)

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 22-23“22. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. 23. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (ar-Ruum: 22-23)

Allah Ta’ala berfirman: wa min aayaatiHii (“dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya.”) yang menunjukkan kekuasaan-Nya yang agung;
Khalaqus samaawaati wal ardli (“ialah menciptakan langit dan bumi.”) yaitu penciptaan langit dengan ketinggiannya, keluasan hamparan atapnya, kecemerlangan bintang-bintang yang tetap dan beredar serta penciptaan bumi dengan kerendahan dan ketebalannya serta kandungan-kandungannya yang berbentuk gunung, oase, laut, padang pasir, hewan dan pohon-pohon.

Dan firman-Nya: wakhtilaafu alsinatikum (“Dan berlain-lainan[nya] lisan-lisanmu.”) yaitu bahasa-bahasa kalian. Ada yang berbahasa Arab, Tartar, Rum, bahasa Indonesia dan lain-lain dimana tidak ada yang mengajarkannya kecuali Allah. Dan berbagai warna kulit manusia yang berbeda. Seluruh penduduk bumi dari Nabi Adam hingga hari kiamat masing-masing memiliki dua mata, dua alis, hidung dua buah pelipis, satu mulut dan dua pipi semuanya berbeda dengna sikapnya atau pembicaraannya, baik nyata maupun tersembunyi yang hanya terlihat jika melalui perenungan. Dan setiap wajah dari mereka memiliki bentuk dan susunan pada dirinya sendiri yang tidak sama dengan yang lainnya. Seandainya mereka seluruhnya memiliki kesamaan dalam ketampanan atau kejelekan, niscaya dibutuhkan orang yang membedakan salah satu di antara mereka dengan lainnya.

Bersambung ke bagian 6

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (4)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 11-16“11. Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan 12. dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa. 13. dan sekali-kali tidak ada pemberi syafa’at bagi mereka dari berhala-berhala mereka dan adalah mereka mengingkari berhala mereka itu. 14. dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-golongan. 15. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. 16. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (Al Quran) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, Maka mereka tetap berada di dalam siksaan (neraka).” (ar-Ruum: 11-16)

Firman Allah: AllaaHu yad’ul khalqa tsumma yu’iiduHu (“Allah menciptakan [manusia] dari permulaan, kemudian mengembalikan [menghimpunnya] kembali.”) yaitu sebagaimana Dia Mahakuasa menciptakan manusia dari permulaan, maka Dia pun Mahakuasa mengembalikannya kembali. tsumma ilaiHi turja’uuna (“Kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”) yaitu pada hari kiamat, dimana setiap pelaku akan dibalas sesuai dengan amalnya.

Wa yauma taquumus saa-‘atu yublisul mujrimuuna (“Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Orang-orang yang berdosa berputus asa.” Mujahid berkata: “Orang-orang yang berdosa dibuka rahasianya.” Sedangkan dalam satu riwayat: “Orang-orang yang berdosa dicatat.”

Walam yakul laHum min syurakaa-iHim syufa’aa-u (“Dan sekali-sekalitidak ada pemberi syafaat bagi mereka dari berhala-berhala mereka.”) yaitu ilah-ilah yang mereka sembah selain Allah tidak akan memberi syafaat, mereka ditolak dan dikhianati, sedang keadaan sangat butuh kepada mereka.
Wa yauma taquumus saa’atu yauma-idziy yatafarraquuna (“Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka [manusia] bergolong-golongan.”) Qatadah berkata: “Demi Allah, itulah golongan yang tidak ada pertemuan selain hari kiamat. Yaitu jika satu kelompok sudah diangkat ke derajat yang tinggi dan satu golongan yang lain telah dijerumuskan ke derajat yang paling rendah, maka itulah akhir di antara keduanya.
Fa ammal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati faHum fii raudlatiy yuhbaruuna (“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka di dalam taman [surga] bergembira.”) Mujahid dan Qatadah berkata: “Mereka mendapatkan kenikmatan.” Sedangkan Yahya bin Abi Katsir berkata: “Yaitu mendengarkan senandung lagu.”

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 17-19“17. Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, 18. dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur. 19. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. dan seperti Itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).” (ar-Ruum: 17-19)

Ini merupakan tasbih [penyucian] dari Allah Ta’ala terhadap diri-Nya yang suci serta menjadi petunjuk bagi hamba-hamba-Nya untuk mensucikan dan memuji-Nya pada waktu silih berganti yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya dan keagungan kerajaan-Nya. yaitu, di waktu sore saat datangnya malam dan dengan kegelapannya serta ketika pagi saat cerahnya siang dengan cahayanya. Kemudian Dia menyelingkan dengan puji-pujian-Nya, sesuatu yang sesuai dengan penyucian adalah puji-pujian.

Maka Allah berfirman: wa laHul hamdu fis samaawaati wal ardli (“Dan bagi-Nya lah segala puji di langit dan di bumi.”) Dia Mahaterpuji atas apa yang Dia ciptakan di langit dan di bumi. Kemudian Allah berfirman: wa ‘asyiyyaw wa hiina tudh-Hiruuna (“dan di waktu kamu berada di petang hari dan di waktu kamu berada di waktu dhuhur.”) maka pada waktu isya’ adalah saat gelapnya malam dan jelasnya [dhuhur] adalah kuatnya cahaya. Mahasuci Rabb Pencipta malam dan siang, Pembelah pagi dan Pencipta malam yang menjadi saat istirahat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: wal laili idzaa yaghsyaa wannaHaari idzaa tajallaa (“Demi malam apabila menutupi [cahaya siang] dan siang apabila terang benderang.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Sahl bin Mu’adz bin Anas al-Juhani, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan, mengapa Allah menamakan Ibrahim sebagai Khali-Nya yang selalu menyempurnakan janji? Dikarenakan setiap pagi dan petang dia berdoa: subhaanallaaHi hiina tumsyuuna wa hiina tushbihuuna wa laHul hamdu fis samaawaati wal ardli wa ‘asyiyyaw wa hiina tudh-Hiruun (“Mahasuci Allah, di waktu kalian berada di petang hari dan di waktu kalian berada di waktu shubuh. Bagi-Nya segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu dhuhur.”)”

Ath-Thabrani meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa di waktu sore berdoa: ‘Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.’ –beliau membaca ayat itu sampai sempurna-, niscaya dia akan mendapatkan apa yang luput darinya pada hari itu. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di waktu sore, niscaya dia akan mendapatkan apa yang luput darinya pada malam harinya.” Isnadnya jayyid [dalam Nuskhah Makkiyyah: dlaif] dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya.

Firman Allah: yukhrijul hayya minal mayyiti wa yukhrijul mayyita minal hayyi (“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”) yakni situasi yang kami alami saat ini adalah dalam kekuasaan-Nya yang menciptakan segala sesuatu silih berganti. Ayat-ayat yang berurutan dan mulia dalam jajaran ini mengandung penyebutan tentang ciptaan-Nya yang berupa sesuatu dengan lawannya [yang hidup dan yang mati] untuk menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Di antaranya adalah mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dari biji dan mengeluarkan biji dari tumbuh-tumbuhan, mengeluarkan telur dari ayam dan mengeluarkan ayam dari telur, mengeluarkan manusia dari air mani dan mengeluarkan mani dari manusia, mengeluarkan orang mukmin dari orang kafir dan mengeluarkan orang kafir dari orang mukmin.

Wa yuhyil ardla ba’da mautiHaa (“dan menghidupkan bumi sesudah matinya.”) seperti firman-Nya yang artinya: “Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya [hujan]; hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung –sampai ayat- mudah mudahan kamu mengambil pelajaran.” (al-A’raaf: 57). Untuk itu di dalam ayat ini Dia berfirman: wa kadzaalika tukhrajuun (“Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan [dari kubur].”)

Bersambung ke bagian 5

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (3)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Firman Allah: ya’lamuuna dhaaHiram minal hayaatid dun-yaa wa Hum ‘anil aakhirati Hum ghaafiluuna (“Mereka hanya mengetahui yang lahir [saja] dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang [kehidupan] akhirat adalah lalai.”)
Maksudnya kebanyakan manusia, mereka tidak mempunyai pengetahuan kecuali tentang dunia dan pergulatan serta kesibukannya, juga segala yang ada di dalamnya, dan mereka cukup cerdas untuk mencapai dan menggeluti kesibukannya, tetapi mereka lalai terhadap urusan agama dan berbagai hal yang yang bermanfaat bagi mereka di alam akhirat, seakan-akan seseorang dari mereka lalai, tidak berakal dan tidak pula memiliki pemikiran. Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Demi Allah, seseorang dari mereka akan berhasil menggapai dunia, dimana dia bisa membalikkan dirham di atas kukunya, lalu dia memberitahu anda dengan beratnya, tetapi dia tidak baik dalam mengerjakan shalat.”

Mengenai firman-Nya ini, Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni, orang-orang kafir mengetahui cara membangun dunia, tetapi mengenai urusan agama, mereka benar-benar bodoh.”

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 8-10“8. dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya. 9. dan Apakah mereka tidak Mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebihkuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. dan telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak Berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang Berlaku zalim kepada diri sendiri.” (ar-Ruum: 8-10)

Allah Ta’ala berfirman seraya memperingatkan untuk senantiasa memikirkan makhluk-Nya yang menunjukkan keberadaan-Nya dan keesaan-Nya dalam menciptakannya, dan bahwasannya tidak ada Ilah (yang haq) selain Dia, dan tidak ada Rabb kecuali hanya Dia.

A wa lam yatafakkaruu fii anfusiHim (“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang [kejadian] diri mereka?”) yang dimaksud dengannya adalah pengamatan, perenungan, dan memperhatikan ciptaan Allah, baik yang ada di alam atas maupun di alam bawah serta berbagai macam makhluk yang mempunyai jenis yang berbeda-beda yang terdapat di antara keduanya [atas dan bawah], sehingga mereka mengetahui bahwa semuanya itu tidak diciptakan tanpa guna dan sia-sia, tetapi semuanya itu diciptakan dengan tujuan tertentu, dan telah diberikan batasan waktu tertentu, yaitu hari Kiamat.
Oleh karena itu Allah berfirman: wa inna katsiiram minannaasi biliqaa-i rabbiHim lakaafiruuna (“dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya.”)

Kemudian Allah mengingatkan mereka mengenai kebenaran apa yang telah dibawa oleh para Rasul-Nya yang telah didukung oleh berbagai mukjizat dan dalil-dalil yang jelas berupa pembinasaan orang-orang yang mendustakan mereka serta penyelamatan orang-orang yang membenarkan mereka. Firman-Nya: a wa lam yasiiruu fil ardli (“dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi.”) yakni dengan pemahaman, akal pikiran, dan pandangan mereka, serta pendengaran terhadap berita-berita tentang firman yang terjadi di masa lalu. Oleh karena itu Dia berfirman: fa yandhuruu kaifa kaana ‘aaqibatulladziina ming qabliHim kaanuu asyadda minHum quwwatan (“Dan memperhatikan bagaimana akibat [yang diderita] oleh orang-orang sebelum mereka. Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka [sendiri].”) maksudnya, umat-umat yang telah lalu pada kurun waktu yang terdahulu, wahai umat yang diutus Muhammad saw kepada kalian, mereka adalah umat yang lebih kuat dari kalian, dan mempunyai harta dan anak-anak yang lebih banyak; sedangkan kalian diberikan sepersepuluh dari apa yang diberikan kepada mereka. Dan mereka tinggal di dunia dengan penuh kekuatan yang kalian tidak mencapainya. Mereka memakmurkan daerahnya dengan bangunan-bangunan yang tinggi/ kokoh yang lebih banyak dari kalian. Dan pengembangan daerah mereka lebih banyak/ pesat daripada pengembangan negeri kalian.

Dalam keadaan seperti ini, ketika datang para Rasul dengan membawa keterangan dan penjelasan, mereka bangga dengan apa yang mereka miliki; sebab itulah Allah membinasakan mereka karena dosa mereka. Mereka tidak mempunyai suatu pelindungpun dari adzab Allah Ta’ala, serta tidak ada penghalang antara harta kekayaan dan anak-anak mereka dari siksa Allah. Dan tidak ada sesuatu pun yang dapat melindungi mereka meski hanya seberat biji sawi. Dan Allah tidak akan berbuat dhalim atas adzab dan siksaan yang telah Dia timpakan kepada mereka. Wa lakin kaanuu anfusaHum yadhlimuuna (“Akan tetapi merekalah yang berlaku dhalim kepada diri mereka sendiri.”) yakni kedhaliman itu berasal dari diri mereka sendiri, dimana mereka mendustakan ayat-ayat Allah serta menghinakannya. Dan hal itu disebabkan oleh dosa-dosa mereka di masa lalu mereka serta pendustaan mereka yang mereka lakukan.

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: tsumma kaana ‘aaqibatal ladziina asaa-us suu-aa ang kadzdzabuu bi aayaatillaaHi wa kaanuu biHaa yastaHzi-uuna (“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah [adzab] yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya.”) sebagaimana Dia firmankan berikut ini: wa nuqallibu af-idataHum wa abshaaraHum kamaa lam yu’minuubiHii awwala marratiw wa nadaruHum fii tughyaaniHim ya’maHuuna (“Dan [begitu pula] Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya [al-Qur’an] pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan yang sangat.”)(al-An’am: 110). Dan seperti yang difirmankan-Nya yang artinya: “Maka tatkala mereka berpaling [dari kebenaran], Allah memalingkan hati mereka.” (ash-shaaff: 5)

Berdasarkan hal tersebut kata “as-suu-aa” itu mashub [berharokat fathah] dalam kedudukannya sebagai maf’ul (obyek) bagi kata “asaa-uu”. Ada juga yang berpendapat, tsumma kaana ‘aaqibatal ladziina asaa-us suu-aa (“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah [adzab] yang lebih buruk,”) berarti [adzab yang lebih buruk] adalah akibat terakhir yang menimpa mereka, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka mengolok-oloknya. Dan berdasarkan hal tersebut, kata “as-suu-a” berposisi manshub dengan kedudukan khabar kaana. Demikian arahan Ibnu Jarir dan dinukil dari Ibnu ‘Abbas dan Qatadah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari keduanya [Ibnu ‘Abbas dan Qatadah], dari adh-Dhahhak bin Muzahim, dan ialah yang tampak jelas. wallaaHu a’lam.
Hal tersebut berdasarkan pada firman-Nya: wa kaanuu biHaa yastaHzi-uuna (“Dan mereka selalu memperolok-oloknya.”)

Bersambung ke bagian 4