Tag Archives: Talak

Talak

28 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Dimakruhkan menjatuhkan talak ketika hubungan pergaulan suami-istri sedang rukun, damai dan tenteram. Demikian menurut kesepakatan para ulama. Namun Hanafi yang mengharamkannya.

Apakah ta’liq talak itu sah? Misalnya seorang berkata kepada seorang perempuan yang bukan istrinya, “Jika aku menikahimu maka kamu bertalak.” Atau: “Setiap perempuan yang aku nikahi tertalak.”

Hanafi berpendapat: Ta’liq demikian hukumnya adalah sah dan jatuhlah talak, baik diucapkan secara mutlak atau umum maupun secara khusus.

Maliki berpendapat: sah ta’liq dan lazim talaq apabila ditentukan kabilahnya atau negerinya. Sedangkan jika ta’liq dikemukakan secara umum maka ta’liq itu tidak sah dan jatuh talak yang di-ta’liq itu.

Syafi’i dan Hambali berpendapat: ta’liq yang demikian itu tidak sah dan tidak lazim secara mutlak.

Apakah yang menjatuhkan talak itu laki-laki atau perempuan? Maliki, Syafi’i dan Hambali mengatakan: yang menjatuhkan talaq adalah laki-laki. Sedangkan Hanafi: yang menjatuhkan talak adalah perempuan.

Adapun bentuknya, menurut pendapat jama’ah, adalah bagi laki-laki merdeka mempunyai tiga talak, sedangkan bagi budak dua kali talak. Hanafi berpendapat: perempuan merdeka mempunyai tiga talak. Sedangkan budak perempuan mempunyai dua talak, baik suaminya merdeka maupun budak.

Seseorang menalak istrinya dengan suatu sifat, seperti seseorang berkat, “Jika kamu memasuki rumah ini maka tertalak.” Kemudian ia menceraikan istrinya, padahal istrinya tidak melanggar ta’liq tersebut dalam keadaan sudah diceraikan. Lalu suaminya menikahinya lagi, dan istri tersebut memasuki rumah yang pernah dijadikan ta’liq talak oleh suaminya. Dalam hal ini, jika talak tersbut bukan talak tiga maka ta’liq nya tidak berlaku lagi. Demikian pendapat Hanafi dan Maliki.

Sementara Syafi’i mempunyai tiga pendapat, pertama, seperti pendapat Hanafi. Kedua, jika talak itu adalah talak tiga maka ta’liq tersebut tidak ada gunanya. Ketiga, jika talak itu adalah talak ba’in, kemudian suaminya menikahinya lagi lalu menyetubuhinya maka ta’liq nya yang dahulu tidak berlaku lagi. Inilah pendapat yang paling shahih dari Syafi’i.

Hambali berpendapat: ta’liq talak itu tidak berlaku, baik istri sudah terlepas dengan talak tiga maupun dengan kurang dari talak tiga. Adapun jika perempuan tersebut memasuki rumah itu dalam keadaan ditalak maka tidak berulang ta’liq atau sumpah tersebut. Demikian menurut pendapat Hanafi, Syafi’i dan Maliki. Sedangkan Hambali berpendapat: ta’liq tersebut tetap berulang dengan berulangnya pernikahan.

Para imam madzhab sepakat bahwa talak yang dijatuhkan pada masa haid setelah disetubuhi atau pada masa suci setelah disetubuhi hukumnya adalah haram, tetapi talaknya tetap sah. Demikian pula, mengumpulkan tiga talak sekaligus dengan sekali ucapan hukumnya adalah haram, tetapi talaknya tetap sah.

Para imam madzhab berbeda pendapat mengenai jenis talak yang dijatuhkan tersebut, apakah talak sunnah ataukah bid’ah?

Dari Hambali diperoleh dua pendapat, seperti dua pendapat di atas, dan al-Khiraqi memilih pendapat yang dinyatakan sebagai talak sunnah.

Para imam Madzhab juga berbeda pendapat tentang orang yang mengatakan, “Engkau tertalak sejumlah batu kerikil dan debu.” Dalam hal ini Hanafi berpendapat: talak tersebut menghendaki terlepasnya istri dari ikatan perkawinan. Maliki, Syafi’i dan Hambali mengatakan: jatuh talak tiga.

Para ulama pengikut Hanafi, Maliki dan Hambali sepakat bahwa orang yang mengatakan kepada istrinya, “Apabila aku menalakmu maka sebelum aku talak, engkau telah tertalak tiga.” Kemudian ia pun menalak istrinya, maka talak itu adalah talak tiga.

Sedangkan para ulama pengikut Syafi’i berlainan pendapat dalam masalah ini. Menurut pendapat ar-Rafi’i, yang paling shahih sebagaimana disebutkan dalam kitab ar-Rawdhah, yaitu talak jatuh sebanyak yang disebutkan pada waktu menjatuhkan talak. Adapun menurut pendapat al-Muzani, Ibn Suraij, al-Haddad, al-Qaffal, Syaikh Abu Hamid, penulis kitab al-Muhadzdzab (Abu Ishaq asy-Syirazi) dan lain-lain, yang demikian itu tidak jatuh talak sama sekali. Hal demikian telah diriwayatkan dari nas Syafi’i. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa jatuh talak tiga, sebagaimana pendapat jama’ah.

Para imam madzhab berbeda pendapat dalam masalah ungkapan kiasan dalam talak, seperti meninggalkan, terlepas, cerai, putus, engkau telah merdeka, urusanmu di tanganmu sendiri, ber-‘iddah-lah engkau, pulanglah ke keluargamu, dan sebagainya. Apakah talak semacam itu memerlukan niat?

Hanafi, Syafi’i dan Hambali mengatakan: memerlukan niat atau petunjuk keadaan. Maliki berpendapat: talak jatuh dengan menggunakan ungkapan tersebut, tidak perlu niat.

Jika ungkapan kiasan tersebut ditunjuki keadaan, seperti marah atau menyebut-nyebut talak, tetapi suami menyangkalnya dengan mengatakan bahwa ia tidak bermaksud menalak, maka ucapannya tidak dapat diterima. Artinya tetap jatuh talak. Apabila ia mengucapkannya dalam keadaan marah, tetapi tidak disebut-sebut kata talak, maka tidak jatuh jika yang diucapkan tiga kali ungkapan kiasan tersebut. Sedangkan jika menggunakan ungkapan lain maka tidak jatuh talak.

Maliki berpendapat: segalam macam ungkapan kiasan yang jelas jika diucapkan dengan kemauannya sendiri ataupun sebagai jawaban atas istri yang meminta talak, maka jatuh talak. Sedangkan pengakuan suami yang menyatakan bahwa yang dimaksud bukanlah menalak tidak dapat diterima.

Syafi’i berpendapat: semua bentuk ungkapan kiasan dalam talak membutuhkan niat.
Dari Hambali diperoleh dua riwayat. Pertama, seperti pendapat Syafi’i. Kedua, tidak memerlukan niat, melainkan cukup dengan petunjuk keadaan.

Para ulama sepakat bahwa ungkapan talak, berpisah, dan melepaskan merupakan ungkapan yang jelas menunjukkan talak, yang tidak memerlukan niat.
Hanafi berpendapat bahwa ungkapan talak yang jelas, yang tidak memerlukan niat, hanyalah kata “talak”. Sedangkan ungkapan berpisah [firaq] atau melepaskan [sarah] tidak menyebabkan jatuh talak.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang ungkapan kiasan dalam talak apabila diniatkan talak, tetapi tidak diniatkan berbilang, dan disebutkan sebagai jawaban atas permintaan talak. Dihitung jatuh talak berapa?

Hanafi berpendapat: jatuh talak satu dengan sumpah suami. Maliki berpendapat: jika istri telah dicampuri maka tidak dibenarkan pengakuan suami, kecuali dalam keadaan khulu’. Sedangkan jika ia belum dicampuri maka pengakuan suami dapat dibenarkan dengan sumpahnya. Semua yang diniatkan dapat menjatuhkan talak, kecuali lafadz albattah [putus]. Tentang lafadz tersebut ada perbedaan pendapat. Menurut satu riwayat, jatuh talak di bawah talak tiga. Sedangkan menurut riwayat lain, pengakuan suami dapat diterima dengan sumpahnya.

Syafi’i berpendapat: pengakuan suami dapat diterima, baik mengenai asal talak maupun soal bilangannya.
Hambali berpendapat: jika disertai petunjuk keadaan atau diniatkan talak, maka jatuh talak tiga, baik diniatkan maupun tidak, baik istri tersebut sudah dicampuri maupun belum.

Para imam madzhab berbeda pendapat tentang ungkapan kiasan yang tidak jelas, seperti pergilah kamu, engkau adalah perempuan yang ditinggalkan, dan sebagainya yang sepadan.

Hanafi berpendapat: semuanya seperti ungkapan kiasan yang jelas. Jika tidak diniatkan berbilang maka jatuh talak satu, tetapi jika diniatkan talak tiga maka jatuh talak tiga. Sedangkan jika diniatkan talak dua, maka tidak jatuh kecuali talak satu.
Syafi’i dan Hambali: jika diniatkan talak dua maka jatuh talah dua.

Para imam madzhab berbeda pendapat mengenai ungkapan “ber-‘iddah-lah kamu” dan “Tuntutlah keberanian rahimmu” dengan niat menjatuhkan talak.
Hanafi: jatuh talak raj’i. Maliki: tidak jatuh talak kecuali suami menyebutkannya dengan kemauannya sendiri, bukan kehendak istri. Sedangkan jika dalam keadaan marah atau menyebut-nyebut talak maka jatuh talak yang diniatkan.
Syafi’i: tidak jatuh talak kecuali diniatkan talak, dan tidak jatuh sebanyak yang diniatkan terhadap istri yang sudah dicampuri. Sedangkan jika belum dicampur, maka jatuh satu talak.
Dari Hambali diperoleh dua riwayat. Pertama, jatuh talak tiga. Kedua, jatuh talak sebanyak yang diniatkan.

Para imam madzhab berbeda pendapat mengenai orang yang mengatakan kepada istrinya, “Aku adalah tertalak darimu” atau ia menyerahkan urusan kepada istrinya, lalu istrinya mengatakan, “Engkau tertalak dariku.”

Hanafi dan Hambali mengatakan: hal demikian tidak menjatuhkan talak. Sedangkan Maliki dan Syafi’i mengatakan: jatuh talak.

Jika suami mengatakan kepada istrinya: “Engkau adalah orang yang tertalak” dengan diniatkan talak tiga maka jatuh talak satu saja. demikian pendapat Hanafi dan salah satu pendapat Hambali yang dipilih oleh al-Khiraqi. Sedangkan menurut pendapat Maliki, Syafi’i, dan pendapat Hambali yang lain: jatuh talak tiga.

Jika suami mengatakan kepada istrinya, “urusanmu berada di tanganmu sendiri” serta diniatkan talak, kemudian istri tersebut menalak dirinya dengan talak tiga, dan suami meniatkannya talak tiga, maka jatuhlah talak tiga. Sedangkan jika diniatkan talak satu, maka tidak jatuh talak sama sekali. Demikian pendapat Hanafi.

Maliki berpendapat: jatuh talak sebanyak yang disebutkan istri jika suami tidak membantah atau mengingkarinya. Sedangkan jika suami mengingkarinya maka ia harus disumpah dan talak jatuh menurut pengakuan suami.

Syafi’i berpendapat: tidak jatuh talak tiga, kecuali jika suami meniatkannya talak tiga. Jika diniatkannya talak tiga. Jika diniatkannya kurang dari tiga maka jatuhlah talak kurang dari tiga.
Hambali berpendapat: jatuh talak tiga, baik diniatkan oleh suami dengan talak tiga maupun talal satu.

Apabila suami mengatakan pada istriya: “Talaklah dirimu sendiri” kemudian iapun menalak dirinya dengan talak tiga, maka tidak jatuh talak sama sekali. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Maliki. Sementara itu Syafi’i dan Hambali mengatakan: jatuh talak satu.

Para imam madzhab sepakat bahwa apabila suami mengatakan kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga.” Maka jatuhlah talak tiga.

Para imam madzhab berbeda pendapat dalam hal apabila suami tersebut mengatakan kepada istrinya, “Engkau tertalak, engkau tertalak, engkau tertalak” dengan ucapan yang berulang-ulang.
Hanafi, Syafi’i dan Hambali mengatakan, “Tidak jatuh talak kecuali talak satu saja. sedangkan Maliki berpendapat: jatuh talak tiga.

Apabila suami mengatkan kepada istrinya yang sudah dicampuri “Yang kami maksudkan dengan sebutan kedua dan ketiga hanyalah untuk menegaskan saja” maka jatuhlah talak tiga. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Maliki.
Syafi’i dan Hambali mengatakan: tidak jatuh talak kecuali talak satu.

Apabila suami mengatakan kepada istrinya yang belum dicampuri, “Engkau tertalak, tertalak, tertalak” maka jatuhlah talak satu. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Syafi’i.
Maliki dan Hambali mengatakan: jatuh talak tiga.

Para imam madzhab berbeda pendapat tentang talak anak kecil yang belum mengerti maksud talak. Menurut pendapat Hanafi, Maliki, dan Syafi’i: jika keadannya demikian, tidak jatuh talak. Dari Hambali diperoleh dua riwayat, dan yang paling jelas: terjadi talak.

Para imam madzhab berbeda pendapat tentang talak yang dijatuhkan oleh orang yang mabuk. Hanafi dan Maliki: jatuh talak. Dari Syafi’i diperoleh dua pendapat, dan yang lebih shahih menyatakan: jatuh talak. Dari Hambali diperoleh dua riwayat, dan yang lebih jelas adalah jatuh talak.
Ath-Thahawi dan al-Kurkhi dari madzab Hanafi serta al-Muzani dan Abu Tsawr dari madzhab Syafi’i mengatkan: orang yang mabuk tidak menjatuhkan talak.

Para imam madzhab berbeda pendapat tentang talak yang dilakukan oleh orang yang dipaksa dan pemerdekaan yang dipaksa. Hanafi berpendapat: talak jatuh dan pemerdekaannya sah. Maliki, Syafi’i dan Hambali mengatakan: tidak jatuh talak jika dilakukan untuk membela diri.

Para imam madzhab berbeda pendapat tentang ancaman yang menurut perkiraan dapat dilaksanakan atau dilakukan, apakah yang demikian termasuk paksaan?

Hanafi, Syafi’i, dan Maliki berpendapat: benar, termasuk paksaan. Hambali mempunyai tiga riwayat: pertama, seperti pendapat jamaah [tiga madzhab di atas]. Kedua, tidak termasuk paksaan. Pendapat ini dipilih oleh al-Kiraqi. Ketiga, apabila ancaman tersebut berupa pembunuhan atau berupa pemotongan jari, maka termasuk paksaan. Sedangkan jika tidak demikian maka tidak termasuk paksaan.

Para imam madzhab berbeda pendapat, apakah paksaan itu khusus dari penguasa? Maliki dan Syafi’i mengatakan: tidak ada perbedaan antara penguasa dan lainnya. Dari Hambali diperoleh dua riwayat. Pertama, bukan paksaan kecuali dari penguasa. Kedua, seperti pendapat Maliki dan Syafi’i di atas. Dari Hanafi juga diperoleh dua riwayat, yaitu seperti dua pendapat di atas.

Para imam madzhab berbeda pendapat mengenai suami yang mengatakan kepada istrinya, “Engkau tertalak, insya Allah.”
Menurut Hanafi dan Syafi’i: tidak jatuh talak. Sedangkan Maliki dan Hambali: jatuh talak.

Para imam madzhab berbeda pendapat mengenai suami yang ragu-ragu, apakah ia telah menalak istrinya atau belum. Menurut Hanafi, Syafi’i dan Hambali: ditetapkan berdasarkan keyakinannya. Sedangkan menurut Maliki yang masyhur: yang dimenangkan adalah perasaan yang condong pada sudah menjatuhkan talak.

Para imam madzhab berbeda pendapat tentang suami yang dalam keadaan sakit menalak istrinya dengan talak ba’in [talak yang tidak dapat dirujuk, kecuali setelah dinikah dulu oleh laki-laki lain], kemudian suami tersebut meninggal karena sakitnya.

Hanafi, Maliki dan Hambali mengatakan: istrinya yang ditalak tersebut berhak mendapat warisan. Namun Hanafi mensyaratkan dalam mewarisinya bahwa talak tersebut bukan permintaan istri. Syafi’i mempunyai dua pendapat, dan yang jelas: tidak berhak mewarisi.

Apakah ia berhak mewarisi, sampai kapan ia berhak atas warisan tersebut? Hanafi berkata: ia berhak mewarisinya selama dalam masa ‘iddahnya. Sedangkan jika suami meninggal sesudah masa ‘iddah maka istri tidak berhak mewarisi.

Maliki berpendapat: ia berhak mendapat waris, meskipun sudah menikah dengan orang lain. Hambali berpendapat: ia berhak mendapat waris selama belum menikah dengan orang lain. Dari Syafi’i ada tiga pendapat: pertama, ia berhak mewarisi selama dalam masa ‘iddahnya. Kedua, ia berhak mewarisi selama belum menikah dengan orang lain. Ketiga, ia berhak mewarisi walaupun ia sudah menikah lagi dengan orang lain.

Para imam madzhab berbeda pendapat tentang suami yang mengatakan kepada istrinya, “Engkau tertalak sampai setahun lagi.”
Menurut Hanafi dan Maliki: pada saat itu juga istri tertalak. Sedangkan Syafi’i dan Hambali: istri tidak tertalak hingga terpenuhinya satu tahun yang diucapkannya.

Para imam madzhab berbeda pendapat tentang suami yang menalak raj’i salah seorang istrinya, tetapi tidak ditentukan istri mana yang ditalaknya, atau ditentukan tetapi ia sudah lupa.

Menurut Hanafi dan Ibn Abi Hurairah dari seorang ulama pengikut Syafi’i: tidak ada halangan untuk menyetubuhi istri-istrinya, dan ia pun boleh menyetubuhi istri mana saja yang ia kehendaki. Apabila ia sudah mencampuri seorang di antara istri-istrinya maka talak jatuh pada istri yang belum disetubuhinya.

Menurut pendapat madzhab Syafi’i: jika talak ba’in, maka tertalaklah salah seorang di antara istri-istrinya, dan harus segera ditentukan mana yang ditalaknya. Ia pun tidak boleh menyetubuhi istri-istrinya sebelum ditentukan siapa yang ditalak tersebut, dan yang demikian harus dilakukan sesegera mungkin. Sedangkan jika talaknya raj’i, maka tidak harus ditentukan dengan segera, karena dalam talak raj’i masa ‘iddah mulai dihitung sejak suami menyatakan talak, tidak pada saat menentukan mana di antara istrinya yang ditalak.
Maliki berpendapat: semua istrinya tertalak.
Hambali: suami dilarag menyetubuhi semua istrinya sebelum diadakan undian siapa yang ditalaknya. Istri yang keluar dalam undian tersebut, maka itulah yang tertalak.

Para imam madzab sepakat bahwa apabila suami mengatakan kepada istrinya, “Engkau tertalak separuh talak,” maka jatuhlah talak satu.

Al-Qadhi ‘Abdul Wahhab al-Maliki berpendapat: diriwayatkan dari Dawud bahwa apabila seorang laki-laki mengatakan kepada istrinya, “Engkau tertalak separuh talak” maka hal itu tidak menjatuhkan talak.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang suami yang memiliki empat istri mengatakan, “Istriku tertalak”, tetapi tidak menentukan istri mana yang ditalaknya.
Hanafi dan Syafi’i berpendapat: yang tertalak adalah salah satunya, dan suami berhak menjatuhkan talak tersebut kepada istrinya yang mana saja yang ia kehendaki.
Maliki dan hambali mengatakan: semua istrinya tertalak.

Para imam madzhab berbeda pendapat tentang suami lupa tentang jumlah talak yang telah dijatuhkannya.
Hanafi, Syafi’i dan Hambali mengatakan: ditetapkan yang sedikit. Maliki mengatakan dalam pendapatnya yang masyhur: yang dimenangkan adalah jatuh talak tanpa memandang berapa talak yang sudah dijatuhkannya.

Para imam madzhab berbeda pendapat tentang suami yang mengisyaratkan talak dengan satu anggota badan istri yang bersambung dalam keadaan selamat seperti tangan.
Menurut Hanafi: jika diisyaratkan pada salah satu dari lima anggota badan, yaitu muka, kepala, leher, punggung dan kemaluan, maka jatuh talak. Sedangkan jika diisyaratkan dengan satu anggota tubuh yang dapat dipisahkan dalam keadaan selama, seperti gigi, rambut dan kuku, maka tidak jatuh talak.

Maliki, Syafi’i dan Hambali mengatakan: jatuh talak dengan isyarat pada semua anggota badan yang bercerai, seperti jari-jari.

Adapun jika isyarat dengan anggota badan yang bersambung, seperti rambut, maka tetap jatuh talak juga. Demikian menurut pendapat Maliki dan Syafi’i. Tetapi menurut pendapat Hambali: tidak jatuh talak.

&

Talak

23 Feb

TALAK
Wanita Dalam Pandangan Islam
Karya: Dr. Syarief Muhammad abdul adhim;
Penerjemah: Ibrahim Qamaruddin, Lc.

Terdapat perbedaan-perbedaan yang jelas di antara ketiga agama (Islam, Yahudi dan Masihi) mengenai talak. Orang-orang Masihi menolak talak secara sempurna. Ini dijelaskan dalam Kitab Perjanjian Baru dari Kitab Al-Muqaddas pada perkataan yang dinisbatkan kepada al-Masiih (Isa as.): “Dan saya berkata kepada kalian sesungguhnya orang yang mentalak isterinya kecuali karena suatu alasan perzinahan maka dia membuat isterinya tersebut seperti perempuan yang berzina. Dan barangsiapa yang menikahi perempuan yang tertalak maka dia berzina”. (Matius 5: 32).

Akan tetapi hal ini tidak pernah terjadi walaupun sekali, karena hal ini membutuhkan akhlak yang sempurna dan ini tidak akan pernah tercapai. Karena ketika suami isteri gagal dalam membina rumah tangga dan mustahil untuk hidup bersama lagi, maka pengharaman talak tidak akan bermanfaat sedikitpun bagi keduanya. Maka tidak ada faidah memaksa keduanya untuk tetap bersatu kalau keduanya tidak mampu lagi untuk hidup bersama secara terus menerus dalam pernikahan. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwasanya masyarakat Masihi terpaksa membolehkan talak.

Adapun orang-orang Yahudi, mereka membolehkan talak walaupun tanpa sebab. Karena Perjanjian Lama dari Kitab Al-Muqaddas memperbolehkan bagi suami untuk mentalak isterinya hanya karena disebabkan dia tidak mencintainya. “Jika seorang laki-laki mengambil seorang perempuan dan menikahinya, kemudian jika dia (suami) tidak mendapatkan nikmat dalam pandangannya karena dia mendapati pada isterinya itu sedikit aib, maka dia menulis untuknya surat talak dan menyerahkan langsung kepada isterinya dan melepaskannya (mentalaknya) dari rumahnya. Dan ketika isterinya keluar dari rumahnya (suami yang mentalak), dan dia menjadi isteri lagi bagi laki-laki lain, kemudian jika dia membuat marah laki-laki lain tersebut dan dia menulis surat talak untuknya dan menyerahkannya kepada perempuan tersebut dan mentalaknya dari rumahnya. Atau jika meninggal laki-laki yang terakhir tersebut yang mengambilnya sebagai isteri, maka tidak boleh bagi suaminya yang pertama yang telah mentalaknya untuk kembali mengambilnya sebagai isteri setelah perempuan itu bernajis. Karena hal itu adalah kotoran di sisi Tuhan. Maka jangan kamu mengambil dosa di atas muka bumi yang Tuhanmu telah berikan kepadamu sebagai bagian”. (Tatsniyaah 24: 1-4).

Akan tetapi, ulama Yahudi berbeda pendapat mengenai penafsiran kalimat (abgadhaha) dan (`aib). Terdapat dalam Kitab Talmuud pendapat-pendapat mereka yang berbeda-beda: “Menurut kelompok Syamaie, tidak berhak bagi laki-laki untuk mentalak isterinya kecuali jika dia fasik (berzina). Adapun kelompok Haliel, maka laki-laki boleh mentalak isterinya sebagaimana yang dia kehendaki sehingga walaupun dia hanya mendapati perempuan yang lebih cantik dari isterinya tersebut”. (Talmuud Gittin 90 a-b).

Dan Perjanjian Baru mengambil pendapat Syamaie. Sedangkan undang-undang Yahudi mengikuti pendapat dua pendeta Haliel dan `Aqieban, kemudian pendapat Haliel-lah yang dipakai dalam undang-undang Yahudi.

Dia membolehkan suami untuk mentalak isterinya walaupun tanpa sebab secara mutlak.
Perjanjian Lama tidak hanya membolehkan bagi suami untuk mentalak isterinya jika dia membencinya, bahkan dia memerintahkan untuk itu. “Sesungguhnya isteri yang jelek memberikan kehinaan kepada suaminya dan cemoohan bagi yang lain. Dan sesungguhnya sangat disayangkan bagi suami yang isterinya tidak mampu membahagiakannya. Sesungguhnya perempuan adalah sumber kesalahan dan dengan sebab dia (perempuan) kita semua akan mati. Jangan kau biarkan isteri yang jelek mengatakan apa yang dia kehendaki, jika dia tidak menerima keputusanmu maka talaklah dia dan kau terbebas darinya”. (Ecclesiasticus 25:25).

Talmuud memberikan contoh-contoh perbuatan isteri yang menyebabkan suami mereka mentalaknya. “Jika dia (isteri) mengambil atau minum di jalan, Pendeta Maier mengatakan bahwasanya isteri tersebut wajib ditalak”. (Talmuud Gittin 89 a).

Dan Talmuud mewajibkan untuk mentalak perempuan yang mandul (yang tidak melahirkan anak-anak selama sepuluh tahun). Seorang pendeta mengatakan: “jika seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan, kemudian isterinya tidak melahirkan anak-anak selama sepuluh tahun maka talaklah dia”. (Talmuud Yeb 64 a).

Akan tetapi bagi para isteri dalam undang-undang Yahudi, mereka tidak mempunyai hak untuk meminta talak jika mereka menginginkannya. Dan boleh bagi perempuan Yahudi untuk minta talak di pengadilan jika dia mengajukan sebab yang kuat. Diantara sebab yang memperbolehkan perempuan untuk minta talak: jika suaminya terkena penyakit organ tubuh atau penyakit kulit, atau jika suaminya tidak menunaikan kewajibannya sebagai suami, dan seterusnya. Maka pengadilan boleh menerima permintaan talaknya, akan tetapi pengadilan tidak mampu memutuskan bahwa dia tertalak. Karena suamilah satu-satunya yang mampu mengakhiri pernikahan dengan memberikan surat talak kepada isterinya. Dan boleh bagi pengadilan memberikan perlindungan terhadap sang isteri dengan memberikan hukuman kepada suami, kewajiban membayar denda, memenjarakannya atau melarangnya untuk masuk gereja agar dia mentalak isterinya. Akan tetapi, jika suami menolak untuk mentalaknya boleh bagi dia untuk menjadikan isterinya Mu`allaq (tergantung tidak diceraikan) sepanjang umurnya. Dan mungkin juga bagi suami untuk meninggalkannya seperti itu, tidak menikah dan tidak tertalak. Dan suami boleh menikah dengan perempuan lain atau dia boleh melakukan hubungan yang tidak sah dan menghasilkan anak-anak (anak-anak tersebut dikategorikan sebagai anak-anak yang sah dan sesuai dengan undang-undang Yahudi) dan sang isteri tidak bisa menikah karena dia masih bersuami dan dia tidak mampu untuk hidup dengan lelaki manapun. Karena, jika dia melakukan hal tersebut dia akan termasuk sebagai perempuan penzina. Dan jika dia melahirkan anak-anak, mereka dikategorikan sebagai anak-anak yang tidak syar`i (tidak sah) selama sepuluh generasi. Dan perempuan yang seperti ini di namakan “yang terikat”.

Terdapat di wilayah-wilayah Amerika sekarang dari 1000 sampai 1500 isteri Yahudi yang “terikat”. Dan di Israel bilangan isteri-isteri tersebut mencapai 16000 isteri yang terikat. Dan suami-suami mendapatkan penghasilan sampai beribu-beribu Dolar dari isteri-isteri mereka agar para isteri tersebut tertalak.

Kemudian Islam datang untuk menghentikan hal tersebut yang terjadi diantara dua agama yaitu Yahudi dan Masihi. Karena pernikahan dalam Islam adalah ikatan suci yang tidak mungkin untuk dipisahkan kecuali dengan sebab-sebab yang kuat, maka wajib bagi suami-isteri untuk mencari dan mendapatkan solusi-solusi yang bisa menyelamatkan pernikahannya jika hampir terjadi kehancuran. Karena talak akan terjadi apabila di sana tidak terdapat solusi.

Ringkasnya, Islam membolehkan talak akan tetapi dia mencoba melarangnya atau mencegahnya dengan segala cara. Islam memberikan kepada laki-laki hak untuk mentalak dan memberikan perempuan -berbeda dengan Yahudi- hak untuk menghentikan pernikahannya dengan cara khulu` (perceraian atas permintaan isteri dengan pemberian ganti rugi dari pihak isteri).

Jika seandainya suami mentalak isterinya, dia tidak berhak mengambil kembali hadiah apapun yang telah dia berikan kepada isterinya. Dan telah dijelaskan dalam al-Qur`an tentang pengharaman bagi seorang suami setelah mentalak untuk mengambil hadiah apapun yang telah dia berikan kepada isterinya bagaimanapun berharga dan mahalnya hadiah tersebut. “Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang diantara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?”. (QS. An-Nisaa: 20).

Akan tetapi, jika perempuan yang ingin menghentikan pernikahan maka dia boleh mengembalikan hadiah-hadiah tersebut kepada suaminya. Pengembalian hadiah-hadiah disini dikategorikan sebagai pengganti secara adil untuk suami yang ingin menjaga pernikahannya, akan tetapi isterinya yang telah memilih untuk meninggalkannya. Hal ini telah disebutkan dalam al-Qur`an bahwasanya tidak berhak bagi suami untuk mengambil hadiah-hadiah yang telah dia berikan kepada isterinya kecuali jika isteri yang ingin menghentikan pernikahan. Allah Swt. berfirman:

“…Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Baqarah: 229).

Seorang perempuan datang menghadap kepada Rasulullah Saw., ia mengatakan bahwa dirinya ingin mengakhiri pernikahannya. Akan tetapi dia tidak mengadukan sedikitpun tentang pribadi suaminya dan akhlaknya. Masalahnya cuma satu, bahwasanya dia tidak mencintainya lagi atau tidak bisa hidup bersamanya. Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Apakah kamu telah kembalikan kepadanya hadiah-hadiahnya?” Perempuan itu menjawab: ”Ya…!” Rasulullah Saw. bersabda: “Terimalah (untuk suami) hadiah-hadiah tersebut dan talaklah dia…”. (HR. Bukhary).

Dan seorang isteri boleh meminta talak dengan sebab-sebab yang kuat, seperti: suami yang kejam atau ditinggalkan tanpa sebab, atau suami tidak melakukan tanggung jawabnya sebagai suami dan seterusnya. Pada keadaan seperti ini pengadilan Islam memutuskan dengan jatuhnya talak.

Secara ringkas Islam telah memberikan kepada perempuan hak-hak yang tidak tertandingi untuknya: perempuan boleh mengakhiri pernikahan dengan khulu` (perceraian atas permintaan isteri dengan pemberian ganti rugi dari pihak isteri), atau meminta talak di depan pengadilan. Perempuan muslimah tidak mungkin dibelenggu selama-selamanya. Hak-hak inilah yang menjadikan isteri-isteri orang Yahudi ketika Islam muncul, mereka meminta talak dari suami-suami mereka melalui pengadilan Islam. Akan tetapi para pendeta Yahudi menolak talak ini dan memberikan sebagian hak-hak kepada perempuan agar mereka dapat mencegah isteri-isteri tersebut untuk berlindung kepada pengadilan-pengadilan Islam. Akan tetapi isteri-isteri Yahudi yang hidup dalam masyarakat Masihi tidak mendapatkan hak-hak ini, maka undang-undang Romania (yang dipraktekkan di sana) tidak pernah lebih bagus keadaannya dari undang-undang Yahudi.

Sekarang mari kita perhatikan Islam dan melihat bagaimana dia tidak menyetujui terjadinya talak. Rasulullah Saw. bersabda kepada orang-orang mukmin: “Sesuatu yang halal yang dibenci oleh Allah ialah talak…” (HR. Abu Daud).

Maka seorang suami tidak berhak mentalak isterinya hanya karena disebabkan dia tidak menyukainya. Oleh karena itu, al-Qur`an memerintahkan suami untuk bergaul dengan isterinya dengan bagus sehingga walupun dia tidak menyukainya, Allah Swt. berfirman: “…Dan bergaullah dengan mereka secara baik, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (QS. An-Nisaa: 19).

Dan Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak dipisahkan suami-isteri, jika suaminya membencinya dengan satu akhlaknya karena mungkin dia akan suka darinya akhlaknya yang lain”. (HR. Muslim). Kemudian Rasulullah Saw. telah menguatkan bahwasanya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling bagus akhlaknya, beliau bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang bagus akhlaknya…” (HR. Tirmidzi).

Maka Islam adalah agama praktek dan memantau bahwasanya di sana terdapat keadaan-keadaan yang mustahil pada keadaan-keadaan tersebut untuk memperbaiki pernikahan, pada keadaan seperti ini tidak akan bermanfaat seorang suami memperbaiki hubungan pernikahannya dengan isterinya. Karena hal tersebut tidak akan berfaidah. Oleh karena itu al-Qur`an memberikan nasihat-nasihat untuk suami-isteri, ketika salah satu diantara keduanya menyakiti yang lain, maka al-Qur`an memberikan suami empat nasihat yang harus dia ikuti, jika isterinya buruk perlakuannya terhadapnya:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita). Dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang solehah ialah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatiri nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah diri dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal”. (QS. An-Nisaa: 34-35).

Maka wajib bagi suami untuk mengikuti tiga nasihat yang pertama, jika gagal maka dia harus meminta pertolongan dari pihak keluarga. Dan sesungguhnya sangat jelas pada ayat-ayat ini bahwasanya seorang suami tidak boleh langsung memukul kecuali jika isterinya Nusyuz (durhaka kepada suaminya). Dan karena terpaksa, diharapkan dengan hal itu pernikahan akan selamat. Dan jika suami telah berhasil, maka dia tidak boleh menyakiti isterinya setelah itu. Dan kalau dia tidak berhasil maka dia tidak berhak untuk memukul isterinya yang kedua kalinya. Akan tetapi dia wajib untuk meminta hakam dari pihak keluarga isteri dan dari pihak dia. (Adapun pukulan tersebut harus yang tidak melukai perempuan dan tidak pada tempat-tempat yang sensitif bagi perempuan seperti wajah). Rasulullah Saw. telah memerintahkan laki-laki muslim pada Khutbah al-Wada` agar mereka tidak mengambil tindakan-tindakan ini kecuali karena darurat, seperti jika isteri berbuat hal-hal yang faahisyah (hal-hal yang jelek dari perkataan atau perbuatan selain zina). Apabila sampai pada keadaan seperti ini, hukuman yang diberikan kepada isteri harus yang ringan. Apabila isteri berhenti dari perbuatannya tersebut, maka suami tidak berhak menyakitinya untuk yang kedua kalinya.

Rasulullah Saw. bersabda: “Ketahuilah, saling berwasiatlah kalian tentang perempuan dengan baik, karena sesungguhnya mereka itu adalah tawanan di sisi kalian, kalian tidak memiliki dari mereka sedikitpun kecuali hal itu, kecuali jika mereka berbuat hal-hal yang buruk. Jika mereka melakukan hal tersebut, maka pisah tempat tidurlah dari mereka, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai atau menyakiti. Jika mereka mentaati kalian. Maka janganlah kalian mencari-cari bagi mereka suatu jalan…” (HR. Tirmidzi).

Rasulullah Saw. melarang suami untuk memukul isterinya tanpa sebab, ketika sebagian isteri mengadu kepada Rasulullah Saw. bahwasanya suami-suami mereka telah memukul mereka, Rasullah Saw bersabda: “Sungguh telah berkeliling (datang) kepada keluarga Muhammad isteri-isteri, yang mereka banyak mengadukan suami mereka, mereka (suami-suami) itu bukan pilihan kalian…” (HR. Abu Daud).

Dan sabdanya lagi: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang baik terhadap keluarganya, dan saya sebaik-baiknya manusia bagi keluargaku…” (HR. Tirmidzi).

Rasulullah Saw. telah menasihati perempuan yang bernama Fatimah binti Qays agar tidak menikah dengan laki-laki yang dikenal sebagai seseorang yang suka memukul perempuan. Hal ini diriwayatkan oleh sayyidah Fatimah, ia berkata: “Sesungguhnya Mu`awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jaham telah meminangku?…Lalu Rasulullah Saw. bersabda: “Adapun Abu jaham, dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari punggungnya, dan adapun Mu`awiyah adalah orang fakir tidak ada hartanya…” (HR. Muslim).

Sedangkan Talmuud telah mengizinkan memukul isteri untuk mendidiknya.
Dan bukan termasuk hal yang darurat jika perempuan itu fasik baru dia dipukul. Maka boleh memukulnya hanya karena disebabkan dia menolak mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Sebagaimana bahwasanya suami tidak hanya mempergunakan pukulan yang ringan bahkan suami boleh mencambuknya atau melarangnya untuk makan.

Al-Qur`an menerangkan ketika buruknya keadaan akhlak suami: “Dan jika seorang perempuan khawatir akan Nusyuz (meninggalkan kewajiban bersuami-isteri, seperti meninggalkan rumah tanpa izin suami) atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa dari keduanya untuk mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu menggauli isterimu dengan baik dan memelihara dirimu (dari Nusyuz dan sikap tak acuh). Maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Nisaa: 128).

Pada keadaan seperti ini, isteri dinasihati untuk memperbaiki pernikahannya (sama adanya keluarga ikut campur atau tidak). Dan secara jelas al-Qur`an tidak menasihati isteri untuk pisah ranjang atau memukul suaminya untuk menjauhi tindakan keras dari suami jika isteri melakukan hal tersebut. Karena hal ini akan menyebabkan lebih hancurnya hubungan suami-isteri di antara keduanya. Dan sebagaian ulama-ulama muslim memberikan ide agar perempuan meminta peran pengadilan pada hal seperti ini sebagai wakil dari isteri, dan juga agar suami diberikan peringatan oleh pengadilan terlebih dahulu. Kemudian pengadilan memutuskan agar isteri pisah ranjang dengan suaminya, dan yang terakhir pengadilan memutuskan agar suami diberikan sanksi (pukulan).

Secara ringkas Islam telah mempersembahkan nasihat-nasihat kepada suami-isteri untuk menyelamatkan pernikahannya dari kehancuran. Maka, jika salah satu diantara keduanya menyakiti yang lain maka pihak yang lain harus mengikuti nasihat-nasihat ini agar dia bisa menyelamatkan ikatan suci ini. Jika dia gagal maka Islam membolehkan keduanya untuk berpisah dengan baik.

&

Talak (Perceraian)

26 Jun

Yusuf Qardhawy; Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah

Para Misionaris dan Orientalis dewasa ini memusatkan serangannya pada dua permasalahan yang berkaitan dengan wanita, yaitu masalah perceraian (talak) dan poligami.
Sungguh sangat disayangkan ghazwul fikri yang disebarkan oleh mereka itu sudah mendapat sambutan luas dari kaum Muslimin. Sehingga mereka ikut-ikutan menganggap kedua masalah tersebut sebagai problematika rumah tangga dan masyarakat.

Padahal sesungguhnya Islam tidak mensyari’atkan kedua masalah tersebut kecuali untuk menyelesaikan problematika yang cukup banyak dalam kehidupan lelaki, wanita, rumah tangga dan masyarakat. Dan problem yang sebenarnya adalah terletak pada kesalahfahaman terhadap syari’at Allah atau salah dalam penerapannya. Dan segala sesuatu, apabila tidak benar dalam penerapannya maka akan menimbulkan bahaya yang lebih besar.

Mengapa Islam Memperbolehkan Talak?
Tidak setiap perceraian itu dibolehkan dalam Islam, karena ada talak yang dimakruhkan, bahkan diharamkan. Karena hal itu dapat merobohkan bangunan rumah tangga yang sangat ditekankan Islam agar kita membina dan membangunnya. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda, “Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian.”
Sehingga perceraian yang disyari’atkan oleh Islam itu mirip dengan operasi menyakitkan yang dirasakan oleh seseorang yang menjalani sakitnya. Bahkan terkadang salah satu anggota tubuhnya harus dipotong demi menjaga seluruh anggota tubuhnya yang tersisa, atau karena menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Apabila sampai diputuskan untuk bercerai antara dua pasangan dan tidak berhasil segala sarana perbaikan dan upaya mempertemukan kembali di antara kedua belah pihak, maka perceraian dalam keadaan seperti ini merupakan obat yang sangat pahit yang tidak ada obat yang lainnya. Oleh karena itu dikatakan dalam pepatah, “Jika tidak mungkin bertemu, maka ya berpisah.” Al Qur’an Al Karim juga mengatakan: “Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-rnasing dari limpahan karunia-Nya…” (An-Nisa’: 130)

Apa yang telah disyari’atkan oleh Islam, itulah yang sesuai dengan akal, hikmah dan kemaslahatan. Karena termasuk sesuatu yang jauh dari logika akal sehat dan fithrah, jika dipaksakan dengan kekuatan hukum suatu pabrik yang merusak dua penanam saham yang keduanya tidak saling bertemu dan tidak saling mempercayai.

Sesungguhnya memaksakan kehidupan ini dengan kekuasaan hukum adalah siksaan yang keras. Manusia tidak tahan, karena itu lebih buruk daripada penjara sepanjang masa. Bahkan menjadi neraka yang kita tidak kuat menahannya. Seorang ahli hikmah mengatakan, “Sesungguhnya bahaya yang terbesar adalah mempergauli orang yang tidak menyetujui kamu dan tidak menentang kamu.”

Mempersempit Lingkup Perceraian
Islam telah meletakkan sejumlah kaidah (prinsip-prinsip) dan ajaran-ajaran yang seandainya manusia mau mengikuti dengan baik dan melaksanakannya, maka sedikit sekali kita menemukan perceraian dan niscaya semakin minim perceraian itu. Di antara prinsip-prinsip itu adalah:

1. Memilih isteri dengan baik dengan cara memusatkan perhatian pada agama dan akhlaq sebelum harta, pangkat (jabatan) dan kecantikan. Rasulullah SAW bersabda: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agama, maka beruntunglah orang yang memperoleh wanita yang kuat agama-nya, maka tanganmu akan penuh debu (rugi) jika tidak kamu ikuti.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

2. Melihat wanita yang dikhitbah sebelum terlaksananya aqad, agar memperoleh kemantapan dan kepuasan hati. Karena melihat sejak dini itu merupakan langkah menuju kerukunan dan cinta kasih.

3. Perhatian wanita dan wali-walinya untuk memilih suami yang mulia (baik) dan mengutamakan yang baik agama dan akhlaqnya, sebagaimana petunjuk dalam Sunnah.

4. Disyaratkan pihak wanita harus ridha untuk menikah dengan calon suami yang ditawarkan kepadanya. Tidak boleh ada pemaksaan untuk menikah dengan orang yang tidak dicintainya.

5. Mendapat ridha (memperoleh persetujuan) dari wali wanita, baik yang wajib atau sunnah.

6. Bermusyawarah dengan ibu dari calon pengantin putri, agar pernikahan itu disetujui oleh semua pihak. Karena Rasulullah SAW bersabda, “Ajaklah para wanita untuk bermusyawarah tentang anak-anak wanitanya.”

7. Diwajibkannya mempergauli (bergaul) dengan baik dan melaksanakan hak-hak dan kewajiban antara suami isteri, serta membangkitkan semangat keimanan untuk berpegang teguh pada ketentuan-ketentuan Allah serta bertaqwa kepada Allah SWT.

8. Mendorong suami agar hidup secara realistis, karena tidak mungkin ia menginginkan kesempurnaan mutlak pada isterinya. Tetapi hendaknya ia melihat yang baik-baik (kebaikan-kebaikan), selain kekurangan-kekurangannya. Jika ia tidak suka kepada suatu sikap tertentu dari isterinya ia juga merasa senang dengan sikapnya yang lain.

9. Mengajak para suami untuk berfikir dengan akal dan kemaslahatan. Jika ia merasa tidak suka terhadap isterinya, maka jangan sampai ia cepat memperturuti perasaannya, dengan mengharap semoga Allah merubah sikapnya dengan yang lebih baik. Allah berfirman:
“Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa’: 19)

10. Memerintahkan kepada suami untuk menghibur dan menasehati isterinya yang sedang nusyuz dengan bijaksana dan bertahap. Dari lemah lembut yang tidak lemah, sampai pada yang keras namun tidak kasar. Allah berfirman:
“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesunggahnnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisa’: 34)

11. Memerintahkan masyarakat untuk ikut menyelesaikan ketika terjadi perselisihan antara suami isteri, yaitu dengan membentuk “Majlis Keluarga.” Majlis ini terdiri dari orang-orang yang bisa dipercaya dari keluarga kedua belah pihak, untuk berupaya mengishlah dan merukunkan serta memecahkan krisis yang menimpa dengan baik, Allah SWT berfirman:
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam (juru damai) dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufiq kepada suami isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (An-Nisa’: 35)

Inilah beberapa ajaran Islam, yang seandainya kaum Muslimin mau mengikutinya dan memeliharanya dengan sungguh-sungguh maka kasus perceraian itu akan berkurang.

Kapan dan Bagaimana Perceraian itu Dilakukan?
Islam tidak mensyari’atkan talak (perceraian) pada setiap waktu dan setiap keadaan. Sesungguhnya talak yang diperbolehkan sesuai dengan petunjuk Al Qur’an dan As-Sunnah adalah hendaknya seseorang itu pelan-pelan dan memilih waktu yang sesuai. Maka tidak boleh mencerai istrinya ketika haid, dan tidak boleh pula dalam keadaan suci sedangkan ia mempergaulinya. Jika ia melakukan hal itu maka talaknya adalah talak yang bid’ah dan diharamkan. Bahkan sebagian fuqaha’ berpendapat talaknya tidak sah, karena dijatuhkan tidak sesuai dengan perintah Nabi SAW Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang melakukan perbuatan tanpa dilandasi perintah kami maka itu tertolak (tidak diterima).”

Dan wajib bagi seseorang yang mentalak bahwa dia dalam keadaan sadar. Apabila ia kehilangan kesadaran, terpaksa, atau dalam keadaan marah yang menutup ingatannya sehingga ia berbicara yang tidak ia inginkan, maka menurut pendapat yang shahih itu tidak sah. Berdasarkan hadits, “Tidak sah talak dalam ketidaksadaran.” Abu Dawud menafsirkan hadits ini dengan ‘marah’, dan yang lain mengartikan karena ‘terpaksa’. Kedua-duanya benar.

Dan hendaklah orang yang mencerai itu bermaksud untuk mencerai dan berpisah dari isterinya. Adapun menjadikan talak itu sebagai sumpah atau sekedar menakut-nakuti, maka tidak sah menurut pendapat yang Shahih sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf dan ditarjih oleh Al ‘Allamah lbnul Qayyim dan gurunya Ibnu Taimiyah.

Jika semua bentuk talak ini tidak sah maka tetaplah talak yang diniati dan dimaksudkan yang berdasarkan pemikiran dan yang sudah dipelajari sebelumnya. Dan ia melihat itulah satu-satu jalan penyelesaian untuk keselamatan dari kehidupan yang ia tidak lagi mampu bertahan. Inilah yang dikatakan Ibnu Abbas, “Sesungguhnya talak itu harena diperlukan.”

Yang Dilakukan Setelah Talak
Perceraian yang terjadi tidak harus memutuskan hubungan suami isteri sama sekali, yang kemudian tidak ada jalan menuju perbaikan. Karena talak seperti dijelaskan dalam Al Qur’an memberikan bagi setiap orang yang bercerai untuk mengevaluasi dan mempelajari kembali. Oleh karena itu talak terjadi satu kali, satu kali. Apabila kedua kalinya tidak juga bermanfaat maka terjadilah talak ketiga yang memutuskan hubungan selamanya, sehingga tidak halal baginya setelah itu.

Maka mengumpulkan tiga talak dalam satu ucapan itu bertentangan dengan syari at Al Qur’an. Inilah yang dijelaskan dan diambil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qayyim dan yang dipakai Mahkamah Syar’iyah di negara-negara Arab.

Perceraian tidak mengharamkan bagi wanita untuk memperoleh nafkah selama masa iddah, dan tidak boleh bagi suami mengeluarkan isterinya dari rumah. Bahkan wajib atas suami untuk membiarkan sang istri tinggal di rumahnya dekat dengan dia, barangkali dengan begitu kerukunan akan kembali dan hati menjadi jernih. Allah SWT berfirman: “Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.” (At-Thalaq: 1)

Perceraian tidak memperbolehkan bagi seseorang untuk memakan mahar (maskawin) yang telah diberikan kepada isterinya atau meminta kembali mahar atau segala sesuatu yang telah diberikan kepada isterinya sebelum perceraian, Allah SWT berfirman: “Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.” (Al Baqarah: 229)

Begitu pula isteri yang ditalak itu berhak memperoleh mut’ah sebagaimana ditetapkan oleh kebiasaan. Allah SWT berfirman: “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kuwajiban bagi orang-orang yang bertaqwa” (Al Baqarah: 241)

Selain itu tidak halal bagi suami (yang mentalak) bersikap keras terhadap isterinya atau menyebarkan keburukannya atau menyakiti dirinya dan keluarganya. Allah SWT berfirman: “Talak (yang dapat dirujuki) itu dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (Al Baqarah: 229)

“Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu.” (Al Baqarah: 237)

Inilah talak yang disyari’atkan oleh Islam. Sungguh itu merupakan terapi yang diperlukan pada saat dan alasan yang tepat, dengan tujuan dan cara yang benar.

Agama Masehi Katolik mengharamkan talak secara mutlak kecuali dengan alasan zina menurut Katolik Ortodox, sehingga mayoritas kaum Masehi Kristen keluar dari hukum yang mereka yakini yaitu haramnya talak. Itulah yang membuat sebagian besar negara-negara Kristen memberlakukan hukum buatan mereka sendiri yang memperbolehkan cerai tanpa memakai persyaratan-persyaratan sebagaimana hukum Islam dengan segala ketentuan-ketentuan serta adab-adabnya. Maka tidak heran jika mereka itu bisa bercerai dengan sebab-sebab yang sepele (ringan) dan akhirnya kehidupan rumah tangga mereka terancam berantakan dan hancur.

Alasan Hak Cerai di Tangan Lelaki
Mereka bertanya mengapa hak cerai itu di tangan lelaki dan mempermasalahkannya, maka kita jawab, “Sesungguhnya lelaki adalah sebagai kepala rumah tangga, yang bertanggungjawab pertama kali dan yang memikul beban di dalam rumah tangganya. Dialah yang harus memberikan mahar dan kewajiban-kewajiban lain setelahnya, sehingga dia dapat membangun rumah tangga di atas tanggung jawabnya. Barangsiapa dapat berbuat demikian maka ia menjadi mulia dan tidak mungkin merusak bangunan rumah tangga itu kecuali karena ada tujuan-tujuan tertentu, atau karena kebutuhan yang memaksa yang menjadikan ia berkorban dengan menanggung seluruh kerugian karenanya.

Kemudian laki-laki itu pada umumnya lebih mengetahui tentang akibatnya dan lebih banyak bertahan, serta lebih sedikit terpengaruh daripada wanita, sehingga lebih baik jika wewenang itu berada di tangannya.

Adapun wanita, ia cepat terpengaruh, mudah emosi dan selalu hangat perasaannya. Kalau seandainya talak itu berada dalam kekuasaannya, pasti akan sering terjadi perceraian dengan alasan-alasan yang ringan dan perselisihan kecil.

Bukan pula suatu kemaslahatan jika talak itu diserahkan kepada Peradilan (Mahkamah), karena tidak setiap sebab talak itu boleh diumumkan di peradilan yang kemudian menjadi permainan para pengacara dan para penulis serta menjadi bahan perbincangan.

Orang-orang Barat telah menjadikan talak melalui peradilan, maka tidak sedikit perceraian di kalangan mereka dan peradilan tidak henti-hentinya mengurus suami-istri yang ingin bercerai.
Bagaimana Seorang Istri yang tidak Suka Pada Suami Itu Bisa Melepaskan Dirinya?

Ada pertanyaan yang menghantui kebanyakan orang, yaitu, “Jika talak itu berada di tangan laki-laki sebagaimana yang kita ketahui alasan-alasannya, maka apa wewenang yang diberikan oleh syari’at Islam kepada wanita? Dan bagaimana cara menyelamatkan dirinya dari cengkeraman suaminya jika ia tidak suka hidup bersama karena tabi’atnya yang kasar, atau akhlaqnya yang buruk, atau karena suami tidak memenuhi hak-haknya atau karena lemah fisiknya, hartanya, sehingga tidak bisa memenuhi hak-haknya atau karena sebab-sebab lainnya.”

Sebagai jawabannya adalah, “Sesungguhnya Allah SWT Yang Bijaksana telah memberikan kepada wanita beberapa jalan keluar yang dapat membantu wanita untuk menyelamatkan dirinya, antara lain sebagai berikut:

1. Wanita membuat persyaratan ketika aqad bahwa hendaknya ia diberikan wewenang untuk bercerai. Ini boleh menurut Imam Abu Hanifah dan Ahmad. Dalam hadits shahih dikatakan, “Persyaratan yang benar adalah hendaknya kamu memenuhinya selama kamu menginginkan halal kemaluannya.”

2. Khulu’, wanita yang tidak suka terhadap suaminya boleh menebus dirinya, yaitu dengan mengembalikan maskawin yang pernah ia terima atau pemberian lainnya. Karena tidaklah adil jika wanita yang cenderung untuk cerai dan merusak mahligai rumah tangga, sementara suaminya yang menanggung dan yang dirugikan. Allah SWT berfirman, “Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus diri. . .” (Al Baqarah: 229)
Di dalam hadits diceritakan bahwa isteri Tsabit bin Qais pernah mengadu kepada Rasulullah SAW tentang kebenciannya kepada suaminya. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya, “Apakah kamu sanggup menggembalikan kebunnya, yang dijadikan sebagai mahar” maka wanita itu berkata, “Ya.” Maka Nabi SAW memerintahkan Tsabit untuk mengambil kebunnya dan Tidak lebih dari itu.

3. Berpisahnya dua hakam (dari kedua belah pihak) ketika terjadi perselisihan. Allah SWT berfirman: “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimkanlah seorang hakam dan keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscanya Allah memberi taufik kepada suami isteri ini.”
Penamaan Al Qur’an terhadap Majlis keluarga ini dengan nama “Hakamain” menunjukkan bahwa keduanya mempunyai hak memutuskan (untuk dilanjutkan atau tidak). Sebagian sahabat mengatakan kepada dua hakam, “Jika kamu berdua ingin mempertemukan, pertemukan kembali, dan jika kamu berdua ingin memisahkan maka pisahkanlah.

4. Memisahkan (menceraikan) karena lemah syahwat, artinya apabila seorang lelaki itu lemah dalam hubungan seksual maka diperbolehkan bagi seorang wanita untuk mengangkat permasalahannya ke hakim sehingga hakimlah yang memutuskan pisah di antara keduanya. Hal ini untuk menghindarkan wanita itu dari bahaya, karena tidak boleh saling membahayakan di dalam Islam.

5. Meminta cerai karena perlakuan suami yang membahayakan, seperti seorang suami yang mengancam isterinya, menyakitinya, dan menahan infaqnya. Maka boleh bagi isteri untuk meminta kepada qadhi untuk menceraikannya secara paksa agar bahaya dan kezhaliman itu dapat dIhindarkan dari dirinya. Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu tahan mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka…” (Al Baqarah: 231)
“Maka ditahan (dirujuk) dengan baik atau menceraikan dengan cara yang baik…” (Al Baqarah: 229)
Di antara bahaya yang mengancam adalah memukul isteri tanpa alasan yang benar.

Bahkan sebagian imam berpendapat bolehnya menceraikan antara wanita dengan suaminya yang kesulitan, sehingga ia tidak mampu untuk memberikan nafkah dan isterinya meminta cerai. Karena hukum tidak membebani dia untuk bertahan dalam kelaparan dengan suami yang fakir. Sesuatu yang ia tidak bisa menerima sebagai realisasi kesetiaan dan akhlaq yang mulia.
Dengan solusi ini maka Islam telah membuka kesempatan bagi wanita sebagai bekal persiapan untuk menyelamatkan dirinya dari kekerasan suami dan penyelewengan kekuasaan suami yang tidak benar.

Sesungguhnya undang-undang yang dibuat para ahli tidak lebih hanya menzhalimi hak-hak wanita. Adapun sistem yang dibuat Allah SWT sebagai pencipta manusia, laki-laki atau perempuan maka tidak ada kezhaliman di dalamnya dan tidak ada pernikahan. Itulah keadilan yang sempuma, Allah SWT berfirman: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin. (Al Maidah: 50)

Salah Faham dan Salah Terap dalam Talak
Kebanyakan kaum Muslimin telah salah dalam menfungsikan talak. Mereka menempatkannya bukan pada tempatnya dan mereka menggambarkan talak itu seakan seperti pedang yang dihunus lalu diletakkan di atas leher sang isteri. Mereka juga mempergunakan sebagai sumpah untuk sesuatu yang berat atau yang ringan. Banyak fuqaha’ yang memperluas di dalam menjatuhkan talak, sampai talaknya orang yang mabuk dan marah, bahkan orang yang terpaksa. Padahal haditsnya mengatakan, “Tidak sah talak yang dalam ketidaksadaran.” Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya talak itu berdasarkan keperluan.” Sehingga mereka juga menjatuhkan talak tiga dengan satu perkataan ketika marah. Padahal talak itu dimaksudkan untuk menakut-nakuti dalam pertengkaran di luar rumah, sedangkan dengan isterinya ia sangat bahagia dan rukun.

Tetapi yang dimaksud oleh nash-nash dan tujuan dari syari’ah yang mudah di dalam membina rumah tangga dan memeliharanya, adalah mempersempit dalam menjatuhkan talak, maka tidak sah kecuali dengan kata-kata yang jelas, pada saat tertentu, dan dengan maksud tertentu. Inilah yang kita berlakukan, pendapat yang dianut oleh Imam Bukhari dan sebagian ulama salaf, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim dan ulama lainnya memperkuat pendapat ini dan menyetujuinya, ini pula yang sesuai dengan ruh Islam.

Adapun kesalahfahaman dan salah penerapan hukum Islam itu adalah tanggung jawab kaum Muslimin, bukan tanggungjawab Islam itu sendiri.

&

Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (20)

11 Feb

asbabun nuzul surah al-qura’an

tulisan arab surah al baqarah ayat 224“Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia[139]. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 224)

[139] Maksudnya: melarang bersumpah dengan mempergunakan nama Allah untuk tidak mengerjakan yang baik, seperti: demi Allah, saya tidak akan membantu anak Yatim. tetapi apabila sumpah itu Telah terucapkan, haruslah dilanggar dengan membayar kafarat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij. Bahwa ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 224) diturunkan berkenaan dengan sumpah Abu Bakr untuk tidak memberi belanja lagi kepada Misthah, karena ia ikut memfitnah Siti ‘Aisyah. Ayat tersebut di ata sebagai teguran agar sumpah itu tidak menghalangi seseorang untuk berbuat kebaikan.

tulisan arab surat albaqarah ayat 228“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'[142]. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya[143]. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 228)

[142] Quru’ dapat diartikan Suci atau haidh.
[143] hal Ini disebabkan Karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga (lihat surat An Nisaa’ ayat 34).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Asma’ binti Yazid bin as-Sakan. Bahwa Asma’ binti Yazid bin as-Sakan al-Anshariyyah berkata mengenai turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 228) sebagai berikut: “Pada zaman Rasulullah saw. aku ditalak oleh suamiku di saat belum ada hukum idah bagi wanita yang ditalak. Maka Allah menetapkan hukum idah bagi wanita, yaitu menunggu setelah bersuci dari tiga kali haid.”

Diriwayatkan oleh ats-Tsa’labi dan Hibatullah bin Salamah di dalam kitab an-Nasikh, yang bersumber dari al-Kalbi dan Muqatil. Bahwa Isma’il bin ‘Abdillah al-Ghifari mencerai istrinya, Qathilah, di zaman Rasulullah saw., ia sendiri tidak mengetahui bahwa istrinya itu hamil. Setelah ia mengetahuinya, iapun rujuk kepada istrinya. Istrinya melahirkan dan meninggal, demikian juga bayinya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 228) yang menegaskan betapa pentingnya masa idah bagi wanita, untuk mengetahui hamil tidaknya seorang istri.

tulisan arab surat albaqarah ayat 229-230“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang Telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya[144]. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 229)

[144] ayat inilah yang menjadi dasar hukum khulu’ dan penerimaan ‘iwadh. Kulu’ yaitu permintaan cerai kepada suami dengan pembayaran yang disebut ‘iwadh.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Aisyah. Bahwa seorang laki-laki menalak istrinya sekehendak hati. Menurut anggapannya, selama rujuk itu dilakukan dalam masa idah, wanita itu tetap istrinya, walaupun sudah seratus kali ditalak ataupun lebih. Laki-laki itu berkata kepada istrinya: “Demi Allah, aku tidak akan menalakmu, dan kamu tetap berdiri di sampingku sebagai istriku, dan aku tidak akan menggaulimu sama sekali.” Istrinya berkata: “Apa yang akan kamu lakukan?” Suaminya menjawab: “Aku menceraikanmu, kemudian apabila akan habis idahmu, aku akan rujuk lagi.” Maka menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah saw. untuk menceritakan hal itu. Rasulullah terdiam, sehingga turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 229) sampai kata…bi ihsaan…(…dengan cara yang baik..).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab an-Naasikh wal Mansuukh, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa seorang laki-laki memakan harta benda istrinya dan maskawin yang ia berikan sewaktu kawin, dan juga harta lainnya. Ia menganggap bahwa perbuatannya itu tidak berdosa. Maka turunlah ayat,….wa laa yahillu lakum ang ta’khudzuu…(… tidak halal bagi kamu mengambil kembali..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 229), yang melarang merampas hak istri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij. Bahwa turunnya ayat.. wa laa yahillu lakum..(…tidak halal bagi kamu..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 229), berkenaan dengan Habibah yang mengadu kepada Rasulullah saw. tentang suaminya yang bernama Tsabit bin Qais. Rasulullah saw. bersabda: “Apakah engkau sanggup memberikan kembali kebunnya (maskawinnya)?” Ia menjawab: “Ya.” Kemudian Rasulullah saw. memanggil Tsabit bin Qais seraya menerangkan pengaduan istrinya yang akan mengembalikan kebunnya. Maka berkatalah Tsabit bin Qais: “Apakah kebun itu halal bagiku?” Nabi menjawab: “Ya.” Ia berkta: “Saya terima.”
Kejadian ini membenarkan seorang suami menerima kembali maskawin yang dikembalikan istrinya sebagai tanda sahnya si istri memutus hubungan perkawinan.

“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.” (al-Baqarah: 230)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muqatil bin Hibban. Bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 230) berkenaan dengan pengaduan ‘Aisyah binti ‘Abdirrahman bin ‘Atik kepada Rasulullah saw. bahwa ia telah ditalak oleh suaminya yang kedua (‘Abdurrahman bin Zubair al-Qurazhi) dan akan kembali kepada suaminya yang pertama (Rifa’ah bin Wahb bin ‘Atik) yang telah menalak baa’in (talak yang tidak bisa dirujuk karena sudah 3 kali, kecuali kalau si istri telah kawin dulu dengan yang lain). ‘Aisyah berkata: “Abdurrahman bin Zubair telah menalak saya sebelum menggauli. Apakah saya boleh kembali kepada suami yang pertama?” Nabi menjawab: “Tidak, kecuali kamu sudah digauli oleh suami kedua.”
Kejadian ini membenarkan seorang suami yang telah menalak baa’in istrinya untuk mengawini kembali istrinya, setelah istrinya itu digauli dan diceraikan oleh suaminya yang kedua.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;