Tag Archives: Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf

Tafsir Ibu Katsir Surah Az-Zumar (9)

17 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar (Rombongan-Rombongan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 39: 75 ayat

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 32-35“32. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat Dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? 33. dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. 34. mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah Balasan orang-orang yang berbuat baik, 35. agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (az-Zumar: 32-35)

Allah berfirman yang ditujukan kepada orang-orang musyrik yang mengada-ada tentang Allah, menjadikan ilah-ilah lain selain Allah, mengklaim bahwa Allah adalah anak-anak perempuan Allah dan menjadikannya sebagai anak Allah. Mahatinggi Allah dengan setinggi-tingginya dan sebesar-besarnya dari semua itu. Meski demikian mereka mendustakan kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka melalui lisan-lisan para Rasul Allah.
Faman adhlamu mimman kadzaba ‘alallaaHi wa kadzdzaba bishshidqi idz jaa-aHu (“Maka siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya?”) yaitu tidak ada seorang pun yang lebih dhalim dari orang ini, karena dia telah menghimpun antara dua sisi kebathilan, yaitu berdusta atas Allah dan mendustakan Rasulullah saw. mereka mengatakan kebathilan dan menolak kebenaran.
Alaisa fii jaHannama matswal lil kaafiriin (“Bukankah di neraka jahanam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang kafir?”) mereka adalah orang-orang yang menentang dan mendustakan.

Walladzii jaa-a bishshidqi wa shaddaqa biHi (“Dan orang yang membawa kebenaran [Muhammad] dan membenarkannya.”) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: Walladzii jaa-a bishshidqi; (“Dan orang yang membawa kebenaran”) adalah Rasulullah saw.; wa shaddaqa biHi (“dan membenarkannya”) adalah orang-orang Islam.

Ulaa-ika Humul muttaquun (“Mereka itulah orang-orang yang bertakwa”) Ibnu Abbas berkata: “Mereka takut kepada kesyirikan.”
laHum maa yasyaa-uuna ‘inda rabbiHim (“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Rabb mereka.”) yaitu di dalam surga, kapan saja mereka minta, mereka akan mendapatkannya.

Dzaalika jazaa-ul muhsiniin, liyukaffirallaaHu ‘anHum aswa-alladzii ‘amiluu wa yajziyaHum ajraHum bi ahsanil ladzii kaanuu ya’maluun. (“Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi [mengampuni] bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”) sebagaimana Allah berfiman di dalam ayat yang lain.

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 36-40“36. Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? dan siapa yang disesatkan Allah Maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. 37. dan Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab? 38. dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaKu, Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaKu, Apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. 39. Katakanlah: “Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui, 40. siapa yang akan mendapat siksa yang menghinakannya dan lagi ditimpa oleh azab yang kekal.” (az-Zumar: 36-40)

Allah berfirman: alaisallaaHu bikaafin ‘abdaHu (“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?”) sebagian mereka membaca: “’ibaadaHu”, yaitu bahwa Allah Ta’ala cukup untuk melindungi hamba-Nya dan tempat bertawakal. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan di sini dari Fudhalah bin ‘Ubaid al-Anshar, bahwa dia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Beruntunglah orang yang diberi hidayah kepada Islam, hidupnya apa adanya, tetapi ia merasa puas [cukup] dengannya.” (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa’i. At Tirmidzi berkata: “Shahih”)

Wa yukhawwifuunaka billadziina min duuniHi (“Dan mereka mempertakutimu dengan [sembahan-sembahan] selain Allah”) yaitu orang-orang musyrik menakut-nakuti Rasulullah saw. serta mengancam beliau dengan berhala-berhala dan tuhan-tuhan mereka yang mereka seru selain Allah karena kejahilan dan kesesatan mereka.

Wa may yudl-lilillaaHu famaa laHuu min Haad. Wa may yaHdillaaHu famaa laHuu mim mu-dlill. AlaisallaaHu bi ‘aziizin dzin tiqaam (“Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Mahaperkasa lagi mempunyai [kekuasaan untuk] mengadzab?”) yaitu Mahaperkasa lindungan-Nya, dimana orang yang bersandar ke sisi-Nya dan berlindung kepada-Nya tidak akan merasa sempit. Karena sesungguhnya Dia Mahaperkasa, dimana tidak ada lagi yang lebih perkasa dari-Nya serta tidak ada yang lebih dahsyat hukumannya dari-Nya terhadap orang yang kufur, berbuat syirik dan menentang Rasulullah saw.

Firman Allah: wa la-in sa-altaHum man khalaqas samaawaati wal ardla layaquulunnallaaHu (“Dan sesungguhnya apabila kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’”) yaitu orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah swt. adalah Mahapencipta segala sesuatu. Walaupun demikian, mereka menyembah selain Allah bersama-Nya sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki mudlarat dan manfaat untuk mereka. Maka Allah berfirman: “Katakanlah: “Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaKu, Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaKu, Apakah mereka dapat menahan rahmatNya?” artinya, mereka tidak memiliki urusan apapun.

Bersambung ke bagian 10

Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (14)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

As-suddi berkata: “qul in kaana lir rahmaani waladun Fa ana awwalul ‘aabidiina (“Katakanlah: jika benar [Rabb] yang Mahapemurah mempunyai anak. Maka akulah [Muhammad] orang yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu, seandainya Dia memiliki anak, maka akulah yang pertama menyembahnya, tetapi Dia tidak memiliki anak.”
Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Jarir, ia menyebutkan ucapan yang mengatakan bahwa kata “in” adalah nafyu (penolakan).

Untuk itu Allah berfirman: subhaana rabbis samaawaati wal ardli rabbil ‘arsyi ‘ammaa yashifuuna (“Mahasuci Rabb Yang mempunyai langit dan bumi, Rabb Yang mempunyai ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.”) yaitu, Mahatinggi lagi Mahakudus dan suci –Pencipta segala sesuatu- dari memiliki anak, karena Dia Mahaesa, segala sesuatu bergantung kepada-Nya, tidak ada yang sebanding dan semisal dengan-Nya, sehingga Dia tidak memiliki anak.

Firman Allah: fadzarHum yakhuudluu (“Maka, biarkanlah mereka tenggelam.”) dalam kebodohan dan kesesatan mereka. Wa yal’abuu (“dan bermain-main”) di dalam dunia mereka. Hattaa yulaaquu yaumaHumul ladzii yuu-‘aduuna (“Sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.”) yaitu hari kiamat. Artinya mereka akan mengetahui bagaimana tempat kembali, tempat tinggal dan kondisi mereka pada hari itu.

Firman Allah: wa Huwal ladzii fis samaa-i ilaaHuw wafil ardli ilaaHu (“Dan Dia-lah Ilah [yang diibadahi] di langit dan Ilah [yang diibadahi] di bumi.”) artinya, Dia-lah Ilah yang ada di langit dan Ilah yang ada di bumi, dimana para penghuninya mengabdi kepada-Nya. Mereka seluruhnya tunduk dan rendah di hadapan-Nya. Wa Huwal hakiimul ‘aliimu (“Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.”) ayat ini seperti firman Allah: “Dan Dia-lah Allah [yang diibadahi], baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui [pula] apa yang kamu usahakan.” (al-An’am: 3). Yaitu, Dia-lah Allah Yang diseru di langit dan di bumi.

Wa tabaarakal ladzii laHuu mulkus samaawaati wal ardli wa maa bainaHumaa (“Dan Mahasuci [Rabb] Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya.”) Dia-lah Mahapencipta, Pemilik dan Pengatur keduanya, tanpa ada yang menolak dan membangkang. Mahasuci serta Mahatinggi Allah dari memiliki anak. Tabaaraka; artinya, telah pasti keselamatan bagi-Nya dari berbagai cacat dan kekurangan karena Dia adalah Rabb Yang Mahatinggi lagi Mahabesar, Pemilik segala sesuatu yang di tangan-Nya berbagai urusan, baik dibatalkan atau dilanjutkan. Wa ‘indaHuu ‘ilmus saa-‘ati (“Dan di sisi-Nya lah pengetahuan tentang hari kiamat.”) yaitu tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Dia.
Wa ilaiHi turja-‘uuna (“Dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”) lalu, semuanya dibalas sesuai dengan amalnya. Jika baik, akan dibalas dengan kebaikan. Dan jika buruk akan dibalas dengan keburukan.

Firman Allah: wa laa yamlikul ladziina yad’uuna min duuniHi (“Dan tidaklah sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Dia.”) yaitu patung-patung dan berhala-berhala itu. Asy-syafaa-‘ata (“dapat memberikan syafaat”) yaitu tidak mampu memberikan syafaat kepada mereka. Illaa man syaHida bil haqqi wa Hum ya’lamuuna (“Akan tetapi [orang yang dapat memberi syafaat ialah] orang yang mengakui yang haq [tauhid] dan mereka meyakini[nya].”) ini adalah istisna munqathi’ [pengecualian yang betul-betul kuat]. Artinya, akan tetapi syafaat orang yang mengakui kebenaran dengan ilmu pengetahuan yang mendalam dapat bermanfaat dengan izin Allah.

Firman Allah: wa la-in sa-altaHum man khalaqaHum layaquulunnallaaHu fa annaa yu’fakuuna (“Dan sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’”) artinya mereka mengakui bahwa Dia-lah Pencipta segala sesuatu, Dia Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi, walaupun demikian mereka mengabdi kepada ilah lain yang tidak memiliki apapun dan tidak mempunyai kemampuan sedikitpun. Dengan demikian, mereka benar-benar berada dalam kebodohan, kepandiran dan kelemahan akal yang amat nyata. Untuk itu Allah berfirman: fa annaa yu’fakuuna (“Maka, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan [dari beribadah kepada Allah]?”)

Firman Allah: wa qii liHii yaa rabbi inna Haa-ulaa-i qaumul laa yu’minuuna (“Dan [Allah mengetahui] ucapan Muhammad: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.”) Muhammad saw. berkata dengan ucapannya, yaitu mengadu kepada Rabb-nya tentang kaumnya yang mendustakan dirinya, dimana dia berkata: “Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.” Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Mujahid dan Qatadah, dan atas dasar itu Ibnu Jarir menafsirkannya. Al-Bukhari meriwayatkan, ‘Abdullah bin Mas’ud membaca: wa qaalar rasuulu yaa rabbi.
Mujahid berkata tentang firman Allah: wa qii liHii yaa rabbi inna Haa-ulaa-i qaumul laa yu’minuuna (“Dan [Allah mengetahui] ucapan Muhammad: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.”) yaitu Allah mengedepankan perkataan Muhammad saw. Qatadah berkata: “Itulah perkataan Nabi kalian saw. yang mengadu tentang kaumnya kepada Rabb-nya. Kemudian dalam firman-Nya: wa qii liHii yaa rabbi; Ibnu Jarir menceritakan bahwa ada dua bacaan. Salah satunya dibaca nashab, dimana dia memiliki dua kedudukan, salah satunya ma’thuf [dihubungkan] atas firman Allah Ta’ala: nasma-‘u sirraHum wa najwaaHum; dan yang kedua adalah takdir fi’il yaitu “wa qaala qiiliHii”. Sedangkan bacaan yang kedua adalah khafadh. Dan kata “qiiliHi” sebagai ‘athaf ats firman-Nya: wa ‘indaHuu ‘ilmus saa-‘ati; takdirnya yaitu: wa ‘alima qiiliHii.

Firman Allah: fashfah ‘anHum (“Maka berpalinglah [hai Muhammad] dari mereka.”) yaitu dari orang-orang musyrik. Wa qul salaamun (“Dan katakanlah: ‘Salam [selamat tinggal].’”) yaitu janganlah engkau menjawab mereka –atas apa yang mereka katakan- dengan jawaban yang buruk. Akan tetapi, berlemah lembut dan ma’afkanlah mereka, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Fa saufa ya’lamuuna (“Kelak mereka akan mengetahui [nasib mereka yang buruk].”) ini merupakan ancaman dari Allah Ta’ala kepada mereka. Untuk itu, mereka ditimpa dengan adzab-Nya yang tidak dapat ditolak serta Dia tinggikan agama dan kalimat-Nya, serta Dia syariatkan jihad dan perjuangan setelah itu, hingga manusia memasuki agama Allah dengan berbondong-bondong, lalu serbarkanlah Islam di seluruh penjuru timur dan barat. wallaaHu a’lam.
Sekian.

Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (13)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

Wa naadau yaa maaliku (“Mereka berseru: ‘Hai Malik.’”) yaitu penjaga neraka. al-Bukhari meriwayatkan dari Shafwan bin Ya’la, bahwa ayahnya berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. membaca di atas mimbar: Wa naadau yaa maaliku liyaqdli ‘alainaa rabbuka (“Mereka berseru: ‘Hai Malik. Biarlah Rabbmu membunuh kami saja.’”) yaitu menggenggam ruh-ruh kami, lalu kami dapat beristirahat dari hukuman yang kami derita. Sesungguhnya [keadaan] mereka seperti firman Allah Ta’ala: “Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak [pula] diringankan dari mereka adzabnya.” (Faathir: 36) dan firman Allah: “Orang-orang yang celaka [kafir] akan menjauhinya. [Yaitu] orang-orang yang akan memasuki api yang besar [neraka]. kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak [pula] hidup.” (al-A’laa: 11-13)

Ketika mereka meminta kematian, maka Malik menjawab mereka: qaala innakum maa kitsuuna (“Dia menjawab: ‘Kamu akan tetap tinggal [di neraka ini].”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Dia telah tinggal seribu tahun, kemudian dia berkata: ‘Sesungguhnya kalian akan tetap tinggal.’” (HR Ibnu Abi Hatim). Artinya kalian tidak akan keluar dan tidak dapat lolos darinya. Kemudian Dia menceritakan tentang sebab kecelakaan mereka, yaitu sikap mereka yang menentang dan menyelisihi kebenaran. Dia berfirman: laqad ji’naakum bil haqqi (“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepadamu.”) telah Kami jelaskan, telah Kami tegaskan, dan Kami rinci tentangnya kepada kalian.
Wa laa kinna aktsarakum lilhaqqi kaariHuuna (“Tetapi kebanyakan di antara kamu benci kepada kebenaran itu.”) yaitu, akan tetapi orang seperti kalian tidak akan menerimanya. Dia hanya tunduk dan membanggakan kebathilan, menghalangi dan menolak kebenaran serta membenci pelakunya. Maka kembalikanlah penyesalan itu kepada diri-diri kalian sendiri dan menyesallah, dimana penyesalan itu tidak berguna lagi.

Firman Allah: am ab-ramuu amran fa innaa mub-rimuuna (“Bahkan mereka telah menetapkan satu tipu daya [jahat] maka sesungguhnya Kami akan membalas tipu daya mereka.”) Mujahid berkata: “Mereka hendak melakukan tipu daya jahat, maka Kami balas tipu daya mereka.” Apa yang dikatakan Muhahid ini seperti firman Allah: “Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar [pula], sedang mereka tidak menyadari.” (an-Naml: 50). Hal itu karena orang-orang musyrik mencari-cari celah dalam menolak kebenaran dengan kebathilan melalui berbagai celah dan tipu daya yang mereka tempuh. Maka, Allah Ta’ala menipu daya mereka dan mengembalikan bencananya kepada mereka sendiri. Untuk itu Allah berfirman: am yahsabuuna annaa laa nasma’u sirraHum wa najwaaHum (“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka.”) yaitu, rahasia dan terus-terangnya mereka. Balaa wa rusulunaa ladaiHim yaktubuuna (“Sebenarnya [Kami mendengar], dan utusan-utusan [malaikat-malaikat] Kami selalu mencatat di sisi mereka.”) yaitu, Kami mengetahui apa yang ada pada mereka, begitu pula para Malaikat mencatat amal-amal mereka, baik kecil maupun besar.

tulisan arab alquran surat az zukhruf ayat 81-89“81. Katakanlah, jika benar Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak, Maka Akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu). 82. Maha suci Tuhan yang Empunya langit dan bumi, Tuhan yang Empunya ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.83. Maka Biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.84. dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. 85. dan Maha suci Tuhan yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. 86. dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya). 87. dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, Maka Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )?, 88. dan (Allah mengetabui) Ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman”.
89. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan Katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).” (az-Zukhruf: 81-89)

Allah berfirman: qul (“Katakanlah”) hai Muhammad. In kaana lir rahmaani waladun fa ana awwalul ‘aabidiina (“Jika benar [Rabb] Yang Mahapemurah mempunyai anak, maka akulah [Muhammad] yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu seandainya memang demikian, niscaya aku akan menyembahnya, karena aku adalah seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya yang menaati seluruh apa yang diperintahkan-Nya kepadaku, tidak ada kesombongan dan keengganan sedikitpun dariku. Seandainya pengandaian ini terjadi, niscaya itulah yang terjadi, akan tetapi tentu saja hal itu mustahil bagi hak Allah Ta’ala. Syarat itu tidak pasti dan juga tidak boleh terjadi. Sebagaimana Allah berfirman: “Kalau sekirannya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Dia-lah Allah Yang Mahaesa lagi Mahamengalahkan.” (az-Zummar: 4)

Dikatakan bahwa kata “in” di sini bukan sebagai syarat, akan tetapi sebuah nafyu [penolakan], sebagaimana ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah: qul in kaana lir rahmaani waladun (“Katakanlah: jika benar [Rabb] yang Mahapemurah mempunyai anak.”) yaitu Allah Yang Maharahman tidaklah memiliki anak dan aku orang yang pertama-tama bersaksi.” Mujahid berkata: “Fa ana awwalul ‘aabidiina (“Maka akulah [Muhammad] orang yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu orang yang pertama mengabdi dan mengesakan-Nya, serta orang yang pertama-tama mendustakan kalian.” Al-Bukhari berkata: “Fa ana awwalul ‘aabidiina (“Maka akulah [Muhammad] orang yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu tunduk kepadanya.”
(bersambung ke bagian 14)

Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (12)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

Firman Allah: yaa ‘ibaadii laa khaufun ‘alaikumul yauma wa laa antum tahzanuuna (“Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati.”)

Kemudian Allah memberi kabar gembira kepada mereka dengan firman-Nya: alladziina aamanuu bi aayaatinaa wa kaanuu muslimiina (“[Yaitu] orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri.”) yaitu hati mereka beriman dan anggota tubuh serta lahiriyah mereka tunduk kepada syariat Allah. Al-Mu’tamar bin Sulaiman berkata dari ayahnya bahwa pada hari kiamat, ketika manusia dibangkitkan, tidak ada seorangpun yang tidak terkejut. Lalu berserulah seorang penyeru: yaa ‘ibaadii laa khaufun ‘alaikumul yauma wa laa antum tahzanuuna (“Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati.”) semua manusia mengharapkannya. Ia berkata: “Lalu ia mengikutinya.”
alladziina aamanuu bi aayaatinaa wa kaanuu muslimiina (“[Yaitu] orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri.”) ia berkata: “Maka putus asalah manusia darinya, kecuali orang-orang mukmin.”

udkhuluuHal jannata (“Masuklah kamu ke dalam surga”) artinya dikatakan kepada mereka: “Masuklah kalian ke dalam surga.” Antum wa azwaajukum (“Kamu dan istri-istri kamu”) yaitu orang-orang yang sama dengan kalian. Tuhbaruuna (“Digembirakan”) yaitu kalian bersenang-senang dan bahagia, pernafsirannya telah berlalu pada surah ar-Ruum. Yuthaafu ‘alaiHim bishihaafim min dzaHabi (“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas.”) yaitu, tambahan-Ku adalah bejana makanan.
Wa akwaabin (“Dan cangkir-cangkir”) yaitu, bejana minuman yang terbuat dari emas, tidak lemas dan tidak bolong. Wa fiiHaa maa tasytaHil anfusu (“Dan di dalam surga itu terdapat segala yang diinginkan oleh hati.”) sebagian mereka membacanya [dengan]: tasytaHiiHil anfusu.
Wa taladzdzul a’yunu (“Dan [sedap] dipandang.”) yaitu rasa dan baunya sedap lagi enak dipandang.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya penghuni surga yang paling rendah tingkatannya adalah yang memiliki tujuh tingkat dan ia berada pada tingkat keenam dan di atasnya tingkat ke tujuh, sesungguhnya dia mempunyai tigaratus pelayan yang datang kepadanya pada tiap pagi dan sore hari dengan membawa tiga ratus piring besar –aku tidak mengetahuinya kecuali ia berkata: ‘Dari emas’ –masing-masing piring menghidangkan yang berbeda dari yang lain, yang pertama sama lezatnya dengan yang terakhir. Dan dari minuman [ada] tiga ratus bejana, setiap bejana menghidangkan minuman yang rasanya berbeda dengan yang lainnya, yang pertama sama lezatnya dengan yang terakhir. Dan sesungguhnya ia akan berkata: ‘Wahai Rabb-ku, seandainya Engkau mengizinkanku, niscaya aku akan memberi makan dan minum kepada penghuni surga, tidak akan mengurangi apa yang ada padaku sedikitpun.’ Dan baginya tujuh puluh dua bidadari yang bermata jeli sebagai istri selain istrinya ketika di dunia, salah seorang di antara mereka akan mengambil tempat duduknya sejauh satu mil dari bumi.”

Firman Allah: wa antum fiiHaa (“dan kamu di dalamnya”) yaitu di dalam surga. Khaaliduuna (“Kekal”) artinya, kalian tidak akan keluar darinya dan tidak akan dipindahkan. Kemudian dikatakan kepada mereka untuk memuliakan dan memberi nikmat kepada mereka: wa tilkal jannatul latii uuritsumuuHaa bimaa kuntum ta’lamuuna (“dan itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.”) yaitu amal-amal shalih kalian yang menjadi sebab kalian diliputi rahmat Allah, karena tidak ada seorangpun yang masuk surga karena amalnya, tetapi [ia masuk surga] karena rahmat dan karunia Allah. Hanya saja perbedaan derajat dapat diperoleh berdasarkan amal-amal shalihnya.

Firman Allah: lakum fiiHaa faakiHatung katsiiratun (“Di dalam surga itu adal buah-buahan yang banyak untukmu.”) yaitu dari semua jenis. minHaa ta’kuluuna (“Yang sebagiannya kamu makan.”) yaitu mana saja yang kalian pilih dan inginkan. Setelah Allah menyebutkan makanan dan minuman, Dia pun menyebutkan buah-buahan agar nikmat dan kegembiraan menjadi sempurna, wallaaHu a’alam.

tulisan arab alquran surat az zukhruf ayat 74-80“74. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka Jahannam. 75. tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa. 76. dan tidaklah Kami Menganiaya mereka tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri. 77. mereka berseru: “Hai Malik Biarlah Tuhanmu membunuh Kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”. 78. Sesungguhnya Kami benar-benar telah memhawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu. 79. bahkan mereka telah menetapkan satu tipu daya (jahat), Maka Sesungguhnya Kami menetapkan pula. 80. Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? sebenarnya (kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (az-Zukhruf: 74-80)

Setelah Allah menceritaan kondisi orang-orang yang bahagia, maka yang kedua Dia menceritakan orang-orang yang celaka dengan firman-Nya: innal mujrimiina fii ‘adzaabi jaHannama khaaliduuna. Laa yufattaru ‘anHum (“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam adzab neraka jahanam. Tidak diringankan adzab itu dari mereka.”) sesaat pun. Wa Hum fiiHi mublisuuna (“Dan mereka di dalamnya berputus asa.”) yaitu berputus asa dari setiap kebaikan.

Wa maa dhalamnaa Hum wa laakin kaanuu Humudh-dhaalimuuna (“Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”) yaitu disebabkan amal-amal mereka yang buruk setelah tegaknya hujjah, dan diutusnya para Rasul kepada mereka, lalu mereka mendustakan dan melanggarnya. Sehingga mereka dibalas dengan balasan yang setimpal. Dan Rabbmu tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.
(bersambung ke bagian 13)

Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (11)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

Firman Allah: in Huwa illaa ‘abdan an’amnaa ‘alaiHi (“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat [kenabian].” Yakni ‘Isa a.s. dikaruniai nikmat oleh Allah berupa kenabian dan risalah. Wa ja-‘alnaaHu matsalal libanii israa-iil (“Dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti [kekuasaan Allah] untuk bani Israil, yaitu dalil, hujjah dan keterangan atas kekuasaan Kami sesuai yang Kami kehendaki.

Firman Allah: wa lau nasyaa-u laja-‘alnaaHu minkum (“Dan kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu.”) yaitu sebagai ganti kalian. Malaa-ikatan fil ardli yakhlufuuna (“Di muka bumi malaikat-malaikat yang turun-temurun.”) as-Suddi berkata: “Mereka menggantikan kalian di dalamnya.” Ibnu ‘Abbas dan Qatadah berkata: “Sebagian mereka mengganti yang lainnya, sebagaimana kalian mengganti yang lain.” Pendapat ini sama dengan pendapat pertama. Mujahid berkata: “Mereka menggantikan kalian memakmurkan bumi.”

Firman Allah: wa innaHuu la-‘ilmul lissaa-‘ati (“Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Kiamat.”) maksudnya, bahwa turunya sebelum terjadinya kiamat, sebagaimana firman Allah: wa im min aHlil kitaabi illaa layu’minanna biHii qabla mautiHi (“Tidak ada seorangpun dari ahli Kitab kecuali akan beriman kepadanya [‘Isa] sebelum kematiannya.”) (an-Nisaa’: 159). Yaitu, sebelum ‘Isa a.s. wafat. “Dan hari Kiamat nanti, ‘Isa akan menjadi saksi terhadap kalian.” (an-Nisaa’: 159). Makna ini diperkuat oleh qira’at lain yaitu: wa innaHuu la-‘ilmul lissaa-‘ati (“Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Kiamat.”) yaitu tanda dan dalil atas terjadinya kiamat, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid: bahwa tanda kiamat adalah keluarnya ‘Isa bin Maryam sebelum terjadinya.” Demikian pula yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, al-Hasan, Qatadah, dan adl-Dlahhak serta yang lainnya. Banyak hadits yang diriwayatkan secara mutawathir dari Rasulullah saw. bahwa beliau memberitahukan mengenai turunnya ‘Isa a.s. sebelum terjadinya kiamat sebagai imam dan hakim yang agung.

Firman Allah: falaa tamtarunna biHaa (“Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu.”) jangan kalian ragu dengannya, sesungguhnya ia pasti terjadi, tanpa ada keraguan. Wattaba-‘uun (“Dan ikutilah Aku.”) yaitu apa yang ia beritahukan kepada kalian. Haadzaa shiraathum mustaqiimuw walaa yashuddannakumusy syaithaan (“Inilah jalan yang lurus, dan janganlah kamu sekali-sekali dipalingkan oleh syaithan.”) Yaitu dari mengikuti kebenaran.
innaHuu lakum ‘aduwwum mubiinuw wa lammaa jaa-a ‘iisaa bil bayyinaati qaala qad ji’tukum bil hikmati (“Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Dan tatkala ‘Isa datang membawa kebenaran, dia berkata: ‘Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah.’”) yaitu dengan kenabian. Wa li-ubayyina lakum ba’dlalladzii takhtalifuuna fiiHi (“Dan untuk menjelaskna kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih dengannya.”) Ibnu Jarir berkata: “Maksudnya, dari urusan keagamaan, bukan urusan keduniaan.” Ucapannya ini baik dan bagus.

Firman Allah: fattaqullaaHa (“Maka, bertakwalah kepada Allah.”) yaitu, apa yang diperintahkan kepada kalian. Wa athii-‘uuna (“dan taatlah kepadaku.”) terhadap apa yang aku bawa kepada kalian dengannya.
innallaaHa Huwa rabbii wa rabbukum fa’buduuHu Haadzaa shiraathum mustaqiimun (“Sesungguhnya Allah, Dia-lah Rabb-ku dan Rabb-mu, maka ibadahilah Dia, ini adalah jalan yang lurus.”) maksudnya, aku dan kalian adalah hamba bagi-Nya, butuh kepada-Nya, berhimpun dalam beribadah kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Haadzaa shiraatum mustaqiimun (“Ini adalah jalan yang lurus.”) maksudnya, yang aku bawa kepada kalian ini adalah jalan yang lurus, yaitu beribadah kepada Rabb Ta’ala semata.

Firman Allah: fakhtalafal ahzaabu mim bainiHim (“Maka, berselisihlah golongan-golongan [yang ada] di kalangan mereka.”) maksudnya, kelompok-kelompok tersebut berbeda pendapat, mereka menjadi beberapa golongan, di antara mereka ada yang mengakui bahwa dia [‘Isa] adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, dan itu yang benar, dan di antara mereka ada yang mengklaim bahwa dia adalah putera Allah, serta ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya dia adalah Allah. Mahatinggi Allah dari perkataan mereka itu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: fa wailul lilladziina dhalamuu min ‘adzaabi yaumin aliimin (“lalu, kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang dhalim, yakni siksa hari yang pedih [kiamat].”)

tulisan arab alquran surat az zukhruf ayat 66-73“66. mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya. 67. teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.68. “Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. 69. (yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. 70. masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. 71. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”. 72. dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.73. di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan.” (az-Zukhruf: 66-73)

Allah berfirman: “Apakah orang-orang musyrik yang mendustakan Rasul-rasul itu menunggu, illas saa-‘ata an ta’tiyaHum baghtataw waHum laa yasy-‘uruuna (“Kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.”) artinya, sesungguhnya kiamat itu pasti terjadi, tanpa ada keraguan. Sedangkan mereka itu lalai darinya dan tidak bersiap untuknya. Ketika ia telah datang, mereka tidak menyadarinya. Maka, ketika mereka itu menyesal dengan penyesalan yang teramat sangat, dimana penyesalan tersebut tidak bermanfaat bagi mereka dan tidak pula dapat membela mereka.

Firman Allah: al akhillaa-u yauma-idzim ba’dluHum liba’dlin ‘aduwwun illal muttaqiina (“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”) yaitu setiap perkawanan dan persahabatan yang [intinya] bukan karena Allah, maka ia akan berbalik pada hari kiamat menjadi permusuhan, kecuali jika hal itu karena Allah, maka ia akan kekal selamanya. Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan Qatadah berkata: “Semua teman akan menjadi musuh pada hari kiamat, kecuali orang-orang bertakwa.”
(bersambung ke bagian 12)

Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (10)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

wa lammaa dluribabnu maryama matsalan idzaa qaumuka minHu yashidduuna (“Dan tatkala putera Maryam [‘Isa] dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaumnya [Quraisy] bersorak karenanya.”) yaitu mereka palingkan perintahmu tentang hal itu dari perkataannya. Kemudian Dia menceritakan ‘Isa dengan firman-Nya: “Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan Dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan Sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat.” Yaitu mukjizat-mukjizat yang ada di tangannya berupa menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit. Maka cukuplah hal itu sebagai bukti tentang pengetahuan hari kiamat. Dia berfirman: “Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”

Ibnu Jarir dalam salah satu riwayatnya menyebutkan dari al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas, tentang firman Allah: wa lammaa dluribabnu maryama matsalan idzaa qaumuka minHu yashidduuna (“Dan tatkala putera Maryam [‘Isa] dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaumnya [Quraisy] bersorak karenanya.”) yaitu orang-orang Quraisy ketika dikatakan kepada mereka: “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (al-Anbiyaa’: 98) hingga akhir ayat. Maka orang Quraisy bertanya kepadanya: “Mengapa anak Maryam?” Beliau menjawab: “Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” Mereka mengatakan: “Demi Allah, dia tidak menghendaki ini kecuali kami jadikan ia sebagai tuhan, sebagaimana Nasrani menjadikan ‘Isa bin Maryam sebagai tuhan.” Maka Allah berfirman: maa dlarabuuHu laka illaa jadalan bal Hum qaumun khasimuuna (“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.”)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Yahya, mantan budak Ibnu ‘Aqil al-Anshari berkata: Ibnu ‘Abbas berkata: “Sesungguhnya aku mengetahui satu ayat dalam al-Qur’an yang tidak ada seorangpun bertanya kepadaku tentang ayat itu, dan aku tidak mengetahui orang yang lebih mengetahuinya, tetapi mereka tidak bertanya tentang ayat tersebut atau mereka belum mengerti lalu bertanya.” Ia berkata: “Kemudian ia mulai menerangkan kepada kami, tatkala ia berdiri, ia membacakannya. Lalu tidak ada di antara kami yang bertanya kepadanya. Maka aku berkata: ‘Besok aku akan bertanya tentang ayat tersebut.’ Pada keesokan harinya aku berkata: “Wahai Ibnu ‘Abbas. Kemarin engkau mengatakan bahwa ada satu ayat dalam al-Qur’an yang tidak ada seorangpun bertanya kepadamu tentangnya, dan engkau tidak mengetahui seorang manusia pun yang lebih tahu atau mereka tidak mengetahui maknanya.” Maka aku bertanya: “Beritahukanlah kepadaku tentang ayat itu dan ayat-ayat yang engkau baca sebelumnya.” Beliau berkata: “Benar, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda kepada orang Quraisy: ‘Wahai segenap orang Quraisy, sesungguhnya tidak ada kebaikan sedikitpun bagi orang yang beribadah kepada selain Allah.’”

Sedangkan orang Quraisy mengetahui bahwa orang Nasrani menyembah ‘Isa bin Maryam, maka bagaimana pendapatmu mengenai Muhammad? Mereka berkata: “Wahai Muhammad. Bukankah engkau menyangka bahwa ‘Isa bin Maryam adalah seorang Nabi dan hamba Allah yang shalih? Maka jika engkau benar, berarti ilah mereka benar sebagaimana yang kalian katakan.” Maka ia berkata: “Maka Allah menurunkan firman-Nya: wa lammaa dluribabnu maryama matsalan idzaa qaumuka minHu yashidduuna (“Dan tatkala putera Maryam [‘Isa] dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaumnya [Quraisy] bersorak karenanya.”) aku berkata: “Apa maksud yashidduun?” Ia menjawab: “Mereka tertawa.”
Wa innaHuu la-‘ilmul lis saa’ata (“dan sesungguhnya ‘Isa itu itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Kiamat.”) ia berkata: “Keluarnya ‘Isa bin Maryam sebelum hari kiamat.”

Firman-Nya: wa qaaluu aaliHatunaa khairun am Huwa (“dan mereka berkata: ‘Manakah yang lebih baik, ilah-ilah kami atau dia [‘Isa]?’”) Qatadah berkata: “Mereka berkata: ‘Tuhan-tuhan kami lebih baik darinya.’” Lebih lanjut, Qatadah berkata, Ibnu Mas’ud membaca: wa qaaluu aalihatunaa khairun am Haadzaa (“Dan mereka berkata: ‘Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah ini?’”) yang dimaksud adalah Muhammad saw.

Firman Allah: maa dlarabuuHu laka illaa jadalan (“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja.”) yaitu sekedar pamer, sedang mereka mengetahuinya bahwa hal itu tidak disebutkan dalam ayat tersebut, karena berkaitan dengan hal yang tidak dapat dipahami, yaitu firman Allah Ta’ala:
Innakum wa maa ta’buduuna min duunillaaHi hashabu jaHannama (“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan jaHanam (al-Anbiyaa’: 98) kemudian ia merupakan ungkapan yang ditujukan kepada Quraisy bahwa mereka hanya menyembah berhala-berhala dan tandingan-tandingan dan mereka tidak menyembah al-Masih hingga ia menyuruh mereka, maka jelaslah bahwa ucapan mereka itu hanya merupakan bantahan dari mereka yang mereka sendiri tidak meyakini kebenarannya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umamah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah sesat suatu kaum setelah sebelumnya mendapat petunjuk melainkan mereka diberi tabiat gemar al-jadal [berbantah-bantahan].”
Kemudian Rasulullah saw. membaca ayat ini: maa dlarabuuHu laka illaa jadalan bal Hum qaumun khasimuuna (“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.”) diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu jarir dari hadits Hajjaj bin Dinar dengan lafadznya, kemudian at-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Abu Umamah, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. keluar menemui orang-orang, sedang mereka berdebat mengenai al-Qur’an, maka beliau sangat marah seolah-olah mukanya ditumpahi cuka, kemudian beliau bersabda: “Janganlah kalian mempertentangkan Kitab Allah satu dengan yang lainnya, karena sesungguhnya tidaklah suatu kaum itu sesat kecuali mereka diberi tabiat gemar jadal [berbantah-bantahan].” Kemudian beliau membaca: maa dlarabuuHu laka illaa jadalan bal Hum qaumun khasimuuna (“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.”)
(bersambung ke bagian 11)

Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (9)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

As-Suddi berkata: “Laa yakaadu yubiinu (“Dan yang hampir tidak dapat menjelaskan [perkataannya].”) yaitu hampir tidak memahami.” Qatadah, as-Suddi dan Ibnu Jarir berkata: “Yaitu cadel pada lisan.” Sedangkan Sufyan berkata: “Pada lisannya ada sedikit sesuatu akibat bara api yang diletakkan di mulutnya ketika kecil. Apa yang dikatakan oleh Fir’aun –semoga laknat Allah baginya- adalah kebohongan dan mengada-ada. Sedangkan Musa as. sendiri amat agung, terhormat dan indah dalam pandangan orang-orang yang berakal.”

Perkataannya, maHiinun (“Orang yang hina ini”) adalah kedustaan, akan tetapi dialah sebenarnya yang hina, baik bentuk, akhlak dan juga agamanya. Sedangkan Musa adalah orang yang mulia, pemimpin yang jujur, amat berbakti dan pandai. Wa laa yakaadu yubiinu (“dan yang hampir tidak dapat menjelaskan [perkataannya].”) adalah mengada-ada pula. Karena di saat kecilnya, lisannya terkena sesuatu dari bara api. Sehingga ia minta kepada Allah untuk melepaskan ikatan lisannya agar mereka dapat memahami perkataannya, lalu Allah memperkenankan doanya tersebut dalam firman-Nya: qad uutiya su’laka yaa muusaa (“Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.”)(ThaaHaa: 36)
Kemungkinan masih ada sesuatu yang belum diminta untuk dihilangkannya. Sebagaimana al-Hasan al-Bashri berkata: “Dia hanya meminta hilangnya hal yang mengganggunya sampainya berita dan pemahaman. Padahal bentuk-bentuk yang bukan merupakan perbuatan seorang hamba bukanlah sesuatu yang tercela dan hina. Sedangkan Fir’aun, walaupun dia memahami dan memiliki akal, akan tetapi dia tidak mengerti hal tersebut. Yang dia kehendaki hanyalah menggiring rakyatnya, karena mereka adalah orang-orang bodoh dan hina.” Demikian pula perkataannya: falau laa ulqiya ‘alaiHi aswiratun min dzaHabi (“Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas.”) yaitu perhiasan yang dipakai di tangan, itulah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Qatadah dan ulama lainnya.

Au jaa-a ma-‘aHul malaa-ikatu muqtariniina (“Atau malaikat datang bersama-sama dengannya untuk mengiringkannya.”) yaitu mengiringinya agar mengabdi dan menyaksikan kebenarannya. Dia hanya memandang kepada bentuk dhahir dan tidak memahami rahasia hakiki yang lebih jelas dari apa yang ia lihat itu, seandainya dia memahami. Untuk itu Allah berfirman:
Fastakhaffa qaumaHuu fa athaa-‘uu (“Maka, Fir’aun mempengaruhi kaumnya [dengan perkataan itu], lalu ia patuh kepadanya.”) yaitu dia mempengaruhi akal mereka, lalu menyeru mereka kepada kesesatan, dan mereka pun memperkenankannya. innaHum kaanuu qauman faasiqiina (“Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.”)

Firman Allah: falammaa aasafuunan taqamnaa minHum fa aghraqnaaHum ajma’iina (“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya [di laut].”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Aasafuunaa artinya, mereka membuat kami murka.” Adl-Dlahhak berkata dari beliau: “Yaitu mereka membuat kami marah.” Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, Qatadah, as-Suddi dan ahli tafsir lainnya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amr, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika engkau melihat Allah Tabaaraka wa Ta’ala memberikan apa saja yang dikehendaki-Nya kepada seorang hamba, sedangkan orang itu sendiri berada dalam maksiat kepada-Nya, maka hal itu adalah istidraj [penguluran/tipuan] dari-Nya.”
Kemudian beliau membaca ayat: falammaa aasafuunan taqamnaa minHum fa aghraqnaaHum ajma’iina (“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya [di laut].”)

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz berkata: “Aku mendapati bencana [itu] bersama kelalaian.” Yang dimaksud adalah firman Allah: falammaa aasafuunan taqamnaa minHum fa aghraqnaaHum ajma’iina (“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya [di laut].”)

Firman Allah: faja-‘alnaaHum salafaw wa matsalal lil aakhiriina (“Dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.”) Abu Mijlaz berkata: “Salafan; yaitu perumpamaan bagi orang yang beramal seperti amal mereka.” Sedangkan dia dan Mujahid berkata: “Wa matsalan; yaitu pelajaran bagi orang-orang sesudah mereka.”

tulisan arab alquran surat az zukhruf ayat 57-65“57. dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamnaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. 58. dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan Kami atau Dia (Isa)?” mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. 59. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan Dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail. 60. dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. 61. dan Sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah aku. Inilah jalan yang lurus. 62. dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. 63. dan tatkala Isa datang membawa keterangan Dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku”. 64. Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu Maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. 65. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim Yakni siksaan hari yang pedih (kiamat).” (az-Zukhruf: 57-65)

Allah berfirman memberikan kabar tentang kesengsaraan orang Quraisy dalam kekufuran, serta kesengajaan mereka dalam pembangkangan dan persengketaan mereka: wa lammaa dluribabnu maryama matsalan idzaa qaumuka minHu yashidduuna (“Dan tatkala putera Maryam [‘Isa] dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaumnya [Quraisy] bersorak karenanya.”) bukan hanya satu ulama yang mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, as-Suddi dan adl-Dlahhak, yaitu mereka menertawakan. Artinya mereka merasa heran dengan hal itu. Qatadah berkata: “Mereka kaget dan tertawa.” Sedangkan Ibrahim an-Nakha’i berkata: “Mereka berpaling.”
(bersambung ke bagian 10)

Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (8)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

Wa saufa tus-aluuna (“Dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban.”) yaitu tentang al-Qur’an ini, bagaimana kalian mengamalkan dan memperkenankannya.

Was-al man arsalnaa ming qablika mir rusulinaa aja-‘alnaa min duunir rahmaani aalihatay yu’baduuna (“Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelummu: ‘Adakah Kami menentukan ilah-ilah untuk disembah?’”) yaitu seluruh Rasul menyeru kepada apa yang engkau seru manusia kepadanya, yaitu beribadah kepada Allah Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya, serta melarang menyembah berhala-berhala dan patung-patung, seperti firman Allah Yang Mahaagung kebesaran-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat [untuk menyerukan]: ‘Ibadahilah Allah [saja], dan jauhilah thaghut itu.” (an-Nahl: 36)

Mujahid berkata dalam qiraat ‘Abdullah bin Mas’ud: “Tanyakanlah kepada para Rasul Kami yang telah Kami utus kepada mereka sebelummu.” Demikian yang diceritakan oleh Qatadah, adl-Dlahhak, dan as-Suddi dari Ibnu Mas’ud. Seakan-akan ini merupakan tafsir, bukan bacaan. wallaaHu a’lam.
‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Tanyakanlah kepada mereka pada malam Isra’, karena para Nabi berkumpul kepadanya. Ibnu Jarir memilih pendapat yang pertama, wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat az zukhruf ayat 46-50“46. dan sesunguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seru sekalian alam”. 47. Maka tatkala Dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami dengan serta merta mereka mentertawakannya. 48. dan tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu mukjizat kecuali mukjizat itu lebih besar dari mukjizat-mukjizat yang sebelumnya. dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (ke jalan yang benar). 49. dan mereka berkata: “Hai ahli sihir, Berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) Kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; Sesungguhnya Kami (jika doamu dikabulkan) benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk. 50. Maka tatkala Kami hilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya).” (az-Zukhruf: 46-50)

Allah berfirman mengabarkan tentang seorang hamba dan utusan-Nya, yaitu Musa as. yang diutus-Nya kepada Fir’aun dan para pembesarnya, yaitu para gubernur, para menteri, para panglima, para pengikut dari bangsa Qibthi dan Bani Israil. Dia mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah Mahaesa Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, serta melarang mereka untuk menyembah selain-Nya. Dia utus bersamanya mukjizat-mukjizat besar, seperti tangannya, tongkatnya, dikirimnya topan, belalang, belatung, kodok dan darah, berkurangnya tanam-tanamna, jiwa dan buah-buahan. Bersamaan dengan itu mereka tetap sombong dengan tidak mengikuti dan tidak tunduk kepadanya, mereka mendustakan dan mengejeknya serta menertawakan orang yang membawanya.

Wa maa nuriiHim min aayaati illaa Hiya akbaru min ukhtiHaa (“Dan tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu mukjizat kecuali mukjizat itu lebih besar dari mukjizat-mukjizat sebelumnya.”) akan tetapi mereka tetap tidak kembali dari penyimpangan dan kesesatan mereka serta kebodohan dan kepandiran mereka. Setiap kali datang kepada mereka satu mukjizat dari mukjizat-mukjizat tersebut, merekapun merendahkan diri sambil mengungkapkan kata-kata lembut kepada Musa as., yaa ayyuHas saahiru (“Hai ahli sihir.”) yaitu orang yang ‘alim/ahli. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Jarir, karena orang-orang ‘alim/ahli di masa mereka adalah tukang-tukang sihir. Sihir di masa mereka bukanlah sesuatu yang tercela, sehingga kata-kata itu bukan merupakan penghinaan, karena kondisi saat itu adalah kondisi dimana mereka membutuhkannya, yang tentu saja tidak sesuai. Kata-kata ini hanyalah penghormatan menurut sangkaan mereka. Karena setiap kali mereka berjanji kepada Musa as, jika dia hilangkan adzab dari mereka, niscaya mereka akan beriman dan membiarkan Bani Israil bersamanya. Tetapi setiap kali itu pula mereka mengkhianati apa yang mereka janjikan itu.

tulisan arab alquran surat az zukhruf ayat 51-56“51. dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; Maka Apakah kamu tidak melihat(nya)? 52. Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? 53. mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau Malaikat datang bersama-sama Dia untuk mengiringkannya?” 54. Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan Perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. 55. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut), 56. dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (az-Zukhruf: 51-56)

Allah berfirman tentang Fir’aun, keengganannya, berpalingnya dia, kekufurannya dan pembangkangannya, bahwa dia menghimpun kaumnya, lalu menyeru mereka untuk selalu bangga dan hormat dengan kerajaan Mesir dan kelakuannya kepadanya.
Alaisalii mulku mishra wa HaadziHil anHaaru tajrii min tahtii (“dan Fir’aun berseru kepada kaumnya [seraya] berkata: ‘Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan [bukankah] sungai-sungai ini mengalir di bawahku?’”) Qatadah berkata: “Mereka telah memiliki kebun-kebun dan air-air sungai.” Afalaa tubshiruuna (“Maka apakah kamu tidak melihatnya?”) yaitu apakah kalian tidak melihat kebesaran dan kerajaan yang aku miliki. Yang dia maksud adalah Musa dan para pengikutnya dari kaum fuqara’ dan dlu’afa’.

Am ana khairum man Haadzal ladzii Huwa maHiinun (“Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini?”) as-Suddi berkata: “Dia berkata: ‘Bahkan aku lebih baik daripada orang yang hina ini.’” Demikian pula sebagian ahli Nahwu Bashrah berkata: “Sesungguhnya am disini bermakna bal [bahkan]. Yang dimaksud adalah, bahwa Fir’aun –semoga laknat Allah baginya- lebih baik dari Musa as. Sungguh dia telah berdusta dalam perkataannya ini dengan kedustaan yang amat jelas dan tegas. Maka laknat Allah yang terus-menerus akan menimpanya hingga hari kiamat. Yang dimaksud dengan perkataannya maHiinun sebagaimana yang dikatakan Sufyan, yaitu orang yang hina. Sedangkan Qatadah dan as-Suddi berkata: “Yaitu orang yang lemah.”
Wa laa yakaadu yubiinu (“Dan yang hampir tidak dapat menjelaskan [perkataannya].”) yaitu, dan yang hampir tidak dapat fashih dalam perkataannya, karena ia cadel.
(bersambung ke bagian 9)

Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (7)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

tulisan arab alquran surat az zukhruf ayat 36-45“36. Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. 37. dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. 38. sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat) Dia berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib, Maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)”.39. (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah Menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu. 40. Maka Apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata? 41. sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan) Maka Sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka (di akhirat). 42. atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka. Maka Sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka. 43. Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. 44. dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. 45. dan Tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?” (az-Zukhruf: 36-45)

Firman Allah: wa may ya’syu (“Barangsiapa yang berpaling”) yaitu pura-pura buta dan lalai, serta berpaling. ‘an dzikri rahmaani (“Dari pengajaran [Rabb] Yang Mahapemurah.”) yaitu jika kata “al-‘asyaa” ditujukan kepada mata, maka artinya adalah lemah penglihatan. Sedangkan yang dimaksud dalam ayat ini adalah lemahnya mata hati. Nuqayyidl laHuu syaithaanan faHuwa laHuu qariin (“Kami adakan baginya syaitan [yang menyesatkan], maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”) seperti firman-Nya: falammaa zaaghuu azaghallaaHu quluubaHum (“Maka tatkala mereka berpaling [dari kebenaran], Allah memalingkan hati mereka.” (ash-Shaff: 5)

Wa innaHum layashudduunaHum ‘anis sabiili wa yahsabuuna annaHum muHtaduun, hattaa idzaa jaa-anaa (“Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami.”) orang yang berpura-pura lalai dari hidayah ini Kami adakan baginya syaitan-syaitan yang menyesatkannya dan memberinya jalan ke neraka jahim. Jika Allah hadapkan pada hari kiamat, diapun menyesal dengan syaitan yang menyertainya.
Qaala yaa laita bainii wa bainaka bu’dal masyriqaini fa bi’sal qariin (“Dia berkata: ‘Aduhai, semoga [jarak] antara aku dan kamu seperti jarak antara masyriq dan maghrib, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman [yang menyertai manusia]”)

Sebagian mereka membaca: hattaa idzaa jaa-anaa (“Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami.”) yaitu teman dan yang ditemani. Yang dimaksud dengan al-masyriqaini di sini adalah apa yang ada antara timur dan barat. Hal itu digunakan disini karena ia lebih dominan. Sebagaimana dikatakan: alqamaraani (dua bulan) al-‘umuraani (dua Umar) al-abawaani (dua orang tua).” Hal itu dikatakan oleh Ibnu Jarir dan lain-lain.

Firman Allah: wa lay yanfa-‘ukumul yauma idz dhalamtum annakum fil ‘adzaabi musytarikuuna (“[Harapanmu itu] sekali-sekali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari ini, karena kamu telah menganiaya [dirimu sendiri]. Sesungguhnya kamu bersekutu dalam adzab itu.”) yaitu semua itu tidak dapa membela kalian dari bersatunya kalian di dalam api neraka dan bersekutunya kalian dalam adzab yang sangat pedih.

Firman Allah: afa anta tusmi-‘ush shumma au taHdil ‘umya wa mang kaana fii dlalaalim mubiinin (“Maka, apakah kamu dapat menjadikan orang yang tuli bisa mendengar atau [dapatkah] kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta [hatinya] dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?”) hal itu bukan menjadi tugasmu, akan tetapi tugasmu hanyalah menyampaikan, bukan memberi petunjuk kepada mereka. Akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Mahabijaksana lagi Mahaadil dalam semua itu.

Firman Allah: fa immaa tadzHabanna bika fa innaa minHum muntaqimuuna (“Sungguh, jika Kami mewafatkanmu [sebelum kamu mencapai kemenangan], maka sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka [di akhirat].”) yaitu Kami pasti akan menghukum dan menyiksa mereka, sekalipun engkau telah wafat.
Au nuriyannakal ladzii wa ‘adnaaHum fa innaa ‘alaiHim muqtadiruuna (“Atau Kami memperlihatkan kepadamu [adzab] yang telah Kami [Allah] ancamkan kepada mereka. Maka sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka.”) yaitu Kami berkuasa atas engkau dan mereka. Dan Allah tidak akan mewafatkan Rasulullah saw. hingga Dia menyejukkan matanya [dengan] melihat musuh-musuh-Nya kalah dan hukum-Nya berada di atas mereka dan kekuasaan-Nya meliputi kekuasaan mereka. Demikian pendapat as-Suddi dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

Fastamsik billadzii uuhiya ilaika innaka ‘alaa shiraathim mustaqiimin (“Maka, berpegang tehuhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.”) yaitu peganglah al-Qur’an yang diturunkan kepada hatimu, karena itulah kebenaran, dan apa yang ditunjukkannya adalah kebenaran yang dapat mengarahkan kepada jalan Allah yang lurus serta dapat mengantarkanmu menuju surga yang penuh kenikmatan dan kebaikan yang kekal abadi.

Firman Allah: wa innaHuu ladzikrul laka wa liqaumika (“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu.”) satu pendapat mengatakan: “Maknanya adalah, kemuliaan bagimu dan bagi kaummu.”

Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, as-Suddi dan Ibnu Zaid berkata, serta dipilih oleh Ibnu Jarir: “Yaitu tidak dihikayatkan yang sama dengannya.” At-Tirmidzi membawakan riwayat az-Zuhri dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im, dari Mu’awiyah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya urusan [khilafah] ini pada Quraisy, tidak ada seorangpun yang merebutnya dari mereka kecuali Allah akan menjungkirkan wajahnya, selam mereka menegakkan agama.” (HR al-Bukhari)

Maknanya, bahwa Dia memuliakan mereka dimana Dia menurunkan wahyu dengan bahasa mereka, sehingga mereka adalah manusia paling faham tentangnya. Untuk itu mereka layak menjadi manusia yang paling lurus dan paling mengerti tentang kandungannya. Demikian pula kelompok yang paling terpilih dan paling bersih di kalangan mereka, di kalangan Muhajirin yang paling terdahulu dan paling pertama masuk Islam, serta orang-orang yang sama dengan mereka dan para pengikut mereka.

Pendapat lain mengatakan: “Makna: wa innaHuu ladzikrul laka wa liqaumika; adalah sebagai peringatan bagimu dan kaummu.” Pengkhususan sebutan mereka tidak berarti meniadakan selain mereka, seperti firman Allah: wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiina (“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”)(asy-Syu’araa’: 214)

(bersambung ke bagian 8)

Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (6)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

Allah berfirman menolak pertentangan mereka ini: a Hum yaqsimuuna rahmata rabbika (“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu?”) yaitu perkaranya bukanlah dikembalikan kepada mereka, akan tetapi kepada Allah. Dan Allah lebih mengetahui kepada siapa Dia jadikan risalah-Nya, karena Dia tidak menurunkannya kecuali kepada makhluk-Nya yang hati dan jiwanya paling bersih, serta keluarganya paling terhormat dan asal-usulnya paling suci. Kemudian Allah berfirman memberikan penjelasan bahwa Dia memberikan tingkatan kepada makhluk-Nya tentang harta, akal dan pemahaman yang diberikan kepada mereka serta berbagai daya, lahir dan batin. Maka Dia berfirman: nahnu qasamnaa bainaHum ma-‘iisyataHum fil hayaatiddun-yaa (“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”)

Firman Allah: Liyattakhidza ba’dluHum ba’dlan sukhriyyan (“Agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.”) satu pendapat mengatakan bahwa maknanya adalah, agar sebagian mereka mempergunakan sebagian yang lain dalam berbagai amal, karena sebagian membutuhkan sebagian yang lain. Itulah yang dikatakan oleh as-Suddi dan lain-lain. Sedangkan Qatadah dan adl-Dlahhak berkata: “Agar sebagian mereka memiliki sebagian yang lain.” Dan makna ini kembali kepada yang pertama.

Firman Allah: wa rahmatu rabbika khairum mimmaa yajma-‘uun (“Dan rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”) yaitu rahmat Allah kepada para makhluk-Nya lebih baik bagi mereka daripadaapa yang mereka miliki berupa harta benda dan kesenangan kehidupan dunia. Kemudian Allah berfirman: wa lau laa ay yakuunanaasu ummataw waahidatan (“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu.”) yaitu sekiranya bukan karena kebanyakan manusia yang bodoh berkeyakinan bahwa harta yang Kami berikan merupakan bukti kecintaan Kami kepada orang-orang yang Kami beri itu, lalu mereka bersatu dalam kekufuran karena harta. Inilah makna perkataan Ibnu ‘Abbas, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi dan lain-lain.

Laja-alnaa limay yakfuru bir rahmaani libuyuutiHim suqufam min fidl-dlatiw wa ma-‘aarija (“Tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada [Rabb] Yang Mahapemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan [juga] tangga-tangga.”) yaitu tangga-tangga dan tingkat dari perak. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, as-Suddi, Ibnu Zaid dan lain-lain. ‘alaiHaa yadh-Haruun (“Yang mereka menaikinya”) wa libuyuutiHim abwaaban (“Dan Kami buatkan pula pintu-pintu perak bagi rumah-rumah mereka.”) yaitu kunci-kunci bagi pintu-pintu mereka.

Wa sururan ‘alaiHaa yattaki-uuna (“Dan [begitu pula] dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”) yaitu seluruhnya terbuat dari perak. Wa zukhrufan (“Dan [Kami buatkan pula] perhiasan-perhiasan”) emas-emas. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Qatadah, as-Suddi dan Ibnu Zaid.

Firman Allah: wa ing kullu dzaalika lammaa mataa-‘ul hayaatid dun-yaa (“Dan semua itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia.”) semua itu hanyalah bagian dunia yang fana, hilang dan hina di sisi Allah. Artinya, Dia menjadikan kebaikan yang mereka amalkan di dunia berupa makanan dan minuman sebagai pemenuhan akhirat. Dan mereka tidak memiliki kebaikan yang akan mendapatkan balasan di sisi Allah. Sebagaimana yang tercantum dalam hadits shahih.

Firman Allah: wal aakhiratu ‘inda rabbika lilmuttaqiin (“Dan kehidupan akhirat itu di sisi Rabb-mu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”) kehidupan akhirat itu khusus untuk mereka, yang tidak akan didapatkan oleh selain mereka [yang bertakwa]. Untuk itu, Umar bin al-Kaththab berkata kepada Rasulullah saw. ketika beliau menjauhi istri-istri beliau, beliau tidur di atas pasir-pasir berdebu, sehingga terlihat bekasnya di punggung beliau, lalu Umar menangis dan berkata: “Ya Rasulallah, para raja dan kaisar telah mengenyam kenikmatan, padahal engkau adalah makhluk pilihan Allah?” Ketika itu Rasulullah saw. sedang bertelekan, lalu beliau duduk dan bersabda: “Apakah engkau [berada] dalam keraguan wahai Ibnul Khaththab?” kemudian beliau bersabda: “Mereka adalah kaum yang kebaikan mereka [telah] didahulukan dalam kehidupan dunia mereka.”

Dalam satu riwayat dikatakan: “Apakah engkau tidak senang jika mereka mendapatkan dunia, sedangkan kita mendapatkan akhirat?”
Tercantum juga dalam ash-Shahihain dan selain keduanya, bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian minum dalam bejana emas dan perak, dan janganlah kalian makan pada piring keduanya. karena semua itu untuk mereka [orang-orang kafir] di dunia dan untuk kita di akhirat.”

Allah Ta’ala memberikan hal itu bagi mereka di dunia karena kehinaannya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari jalan Abu Hazim, bahwa Sahl bin Sa’ad berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya dunia ini berharga di sisi Allah seberat satu sayap nyamuk saja, niscaya Dia tidak akan memberikan minum kepada orang kafir walaupun hanya seteguk air selama-lamanya.” At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.”

(bersambung ke bagian 7)