Tag Archives: tobat

Istighfar dan taubat

3 Jan

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

istighfar dan taubat 1 istighfar dan taubat 2

Syarat-Syarat Bertaubat

21 Mei

At-Tadzkirah Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Syarat-syarat bertaubat ada empat:
1. Penyesalan dengan sepenuh hati
2. Meninggalkan maksiat seketika
3. Bertekad bulat tidak akan mengulangi perbuatan yang sama
4. Didasari rasa malu dan takut kepada Allah swt, bukan kepada selain-Nya
Jika salah satu dari syarat itu tidak terpenuhi maka tidak sah taubatnya.

Pendapat lain, di antara syarat-syarat taubat ialah: mengakui dosa, dan banyak istighfar yang berakibat lepasnya sama sekali dari ketagihan berbuat dosa dan berpengaruh nyata terhadap sikap hati, bukan sekadar ucapan dengan lidah.

Adapun orang yang lidahnyaa mengucapkan “astaghfirullaaH” sedangkan hatinya tetap ingin melakukan maksiat, maka istighfarya itu justru memerlukan istighfar, dan dosa kecil yang dilakukannya malah akan berlanjut dengan dosa besar. Demikianlah, sebagaimana diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, bahwa ia berkata, “Istighfar kita membutuhkan istighfar lagi.”

Syaikh al-Qurthubi ra. berkata, “Begitulah yang dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri di masa hidupnya. Apalagi di zaman kita sekarang ini, saat manusia tampak getol melakukan kedhaliman bahkan semakin bergairah, tanpa mau berhenti darinya, sementara tangannya memegang tasbih. Disangka hal demikian itu sudah meleburkan dosanya. Padahal, itu justru merupakan penghinaan dan pelecehan terhadap Allah. Orang-orang seperti itu termasuk mereka yang menjadikan ayat-ayat Allah Ta’ala sebagai bahan ejekan dan permainan. Dalam al-Qur’an ditegaskan,
“Janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai permainan.” (al-Baqarah: 231)

&

Arti Taubat

20 Mei

At-Tadzkirah Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Ali ra. pernah melihat seseorang seusai shalatnya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu dengan segera.” Ali menanggapi, “Apa ini? Sesungguhnya cepatnya istighfar adalah taubatnya para pendusta. Dan taubatmu itu memerlukan taubat lagi.”
Orang itu bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah taubat itu sebenarnya?”
Ali menjawab, “Taubat adalah sebuah kata yang mempunyai enam arti:
1. Taubat atas dosa-dosa yang telah lalu adalah menyesal
2. Taubat atas melakukan kewajiban-kewajiban secara serampangan adalah mengulang
3. Taubat atas mengambil barang orang lain secara dhalim adalah mengembalikannya kepada pemiliknya
4. Membiasakan diri melakukan ketaatan, sebagaimana sebelumnya terbiasa melakukan kemaksiatan
5. Membuat nafsu merasa pahitnya taat, sebagaimana sebelumnya merasakan manisnya maksiat
6. Menghiasi diri taat kepada Allah, sebagaimana sebelumnya menghiasinya dengan maksiat kepada-Nya, serta menangis sebagai ganti tiap-tiap ketawa yang kamu lakukan.”

&

Anjuran Segera Bertaubat

20 Mei

At-Tadzkirah Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi; Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Manusia wajib bertaubat sebelum terdengar dengkuran maut dari tenggorokannya. Dan itulah kiranya taubat yang dimaksud dalam firman Allah swt, “Kemudian mereka bertaubat dengan segera.” (an-Nisaa’: 17)

Menurut Ibnu Abbas dan as-Suddi, kata-kata “min qariib” [dengan segera] pada ayat itu maksudnya adalah sebelum sakit dan mati.

Adapun menurut Abu Mijlaz, adh-Dhahhak, Ikrimah, Ibnu Zaid dan para ulama lainnya, yaitu; sebelum melihat para malaikat, sebelum dicabut nyawanya, dan sebelum orang yang bersangkutan tidak sadarkan diri.

Mahmud al-Warraq bertutur dalam syairnya;

Utamakan taubat bagi dirimu,
Sebagaimana diharapkan bagi kebaikanmu,
Sebelum kematian datang menjelang,
Sebelum kelu lidahmu berbincang.

Taubatlah segera, wahai jiwa yang ingin tenang!
Karena taubat adalah simpanan kekayaan.
Kunci rapat jangan sampai terbuang-buang.
Bekal kembali membawa kemenangan.

Kata para ulama kita bahwa bertaubat sebelum hadirnya malaikat maut masih bisa dibenarkan, tak lain adalah karena pada saat itu masih ada harapan, dan masih dibenarkan orang menyesal dan bertekad meninggalkan kemaksiatan.

Dan ada pula yang mengatakan, maksud kata-kata “min qariib” di atas ialah, bahwa mereka bertaubat pada saat baru saja melakukan dosa, dan tidak kembali melakukannya. Segera bertaubat selagi masih sehat dan segar bugar adalah lebih utama dan lebih patut dilakukan. Karena dengan demikian diharapkan masih banyak kesempatan untuk beramal shalih, dan barangkali masih jauh sekali dari kematian. Meskipun bertaubat sebelum dekat kematian pun masih bisa juga disebut taubat dengan segera. Demikian dari adh-Dhahhak juga.

Dan dari al-Hasan al-Bashri, bahwa ketika iblis disuruh turun dari surga ia berkata, “Demi keagungan-Mu, aku tidak akan membiarkan manusia selagi nyawanya masih ada dalam tubuhnya.” Maka Allah swt berfirman, “Demi Keagungan-Ku, Aku tidak akan menolak taubat dari manusia selagi nyawanay belum sampai ke tenggorokan.”

&

Kisah Tobat Abdullah bin Ka’ab bin Malik ra (2)

12 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi

Selang empat puluh hari, tiba-tiba seorang utusan Rasulullah saw. datang kepadaku dan berkata: “Rasulullah saw. memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.” Ka’ab bertanya: “Apakah saya harus menceraikannya, atau bagaimana?” utusan itu menjawab: “Tidak, tetapi hindarilah dia, jangan dekat-dekat kepadanya.”
Rasulullah saw. juga mengirimkan utusan kepada kedua orang temanku (Murarah dan Hilal), yang dimaksudnya sama dengan yang kuterima. Saya berkata kepada istriku: “Pulanglah kepada keluargamu. Sementara menetaplah engkau di sana, sampai keputusan Allah datang.
Suatu saat istri Hilal bin Umayyah menghadap Rasulullah saw. memohon kepada beliau: “Ya Rasulallah, suamiku, Hilal bin Umayyah, adalah seorang tua sebatangkara dan tidak mempunyai pelayan. Apakah engkau keberatan bila aku melayaninya?” Rasulullah menjawab: “Tidak, tetapi yang saya maksud jangan sampai ia dekat-dekat kepadamu.” Istri Hilal pun berkata: “Demi Allah, Hilal sudah tidak lagi mempunyai keinginan sedikitpun (gairah) terhadapku. Dan demi Allah, tak henti-hentinya dia menangis sejak engkau melarang muslimin berbicara dengannya, sampai hari ini.”
Sebagian keluarga berkata kepada saya: “Hai Ka’ab. Kalau saja engkau meminta izin kepada Rasulullah untuk istrimu tentu itu lebih baik, sebagaimana istri Hilal bin Umayyah untuk melayani suaminya.” Saya menjawab: “Saya tidak akan meminta izin kepada Rasulullah saw. apabila saya meminta izin kepada beliau, sedangkan saya seorang yang masih muda.”
Saya lalui kehidupan tanpa istri itu selama sepuluh hari (menunggu keputusan Allah). Genaplah sudah bagi kami, lima puluh hari sejak ada larangan berbicara dengan kami. Kemudian pada hari ke lima puluh, di bagian atas rumahku pada saat aku sedang duduk ketika shalat subuh, Allah menyebut-nyebut tentang kami. Di saat itu pula hatiku sangat resah, bumi yang sedemikian luas seakan sempit bagiku. Kemudian aku mendengar suara orang yang berteriak-teriak naik ke atas Sal’i. “Hai Ka’ab bin Malik, bergembiralah.” Serta merta aku menjatuhkan diri bersujud syukur dan aku tahu, bahwa saya dapat penyelesaian.
Rasulullah saw. memberitahu kepada kaum Muslimin, bahwa Allah Yang Mahaagung dan Mahatinggi telah menerima tobat kami bertiga. Kabar itu disampaikan seusai beliau mengerjakan shalat subuh. Maka kaum Muslimin berdatangan mengucapkan selamat dan ikut bergembira, juga kepada kedua orang teman (Murarah dan Hilal). Mereka ada yang datang berkuda, ada juga penduduk Aslam yang berjalan kaki dan ada pula yang naik gunung berteriak mengucapkan selamat, sehingga suaranya lebih cepat dari larinya kuda.
Ketika saya mendengar ucapan selamat dari orang pertama dan datang kepada saya, seketika itu juga saya melepaskan pakaian dan saya kenakan kepadanya. Padahal demi Allah, waktu itu saya tidak memiliki pakaian. Setelah itu saya meminjam pakaian dan berangkat untuk menghadap Rasulullah saw. sementara kaum Muslmini menyambut, mengucapkan selamat atas diterimanya tobatku. Mereka berkata kepada saya: “Selamat atas pengampunan Allah kepadamu.”
Demikianlah, sepanjang jalan kaum muslimin memberikan selamat. Sesampainya di masjid, ternyata Rasulullah saw. sedang duduk dikelilingi oleh para shahabat. Melihat kedatanganku, shahabat Thalhah bin Ubaidillah segera berdiri menyongsongku, menjabat tangan saya dan memberi ucapan selamat. Demi Allah. Tak seorangpun di antara para shahabat Muhajirin yang berdiri, kecuali dia. Karena itulah Ka’ab tidak bisa melupakan kebaikannya.
Ka’ab meneruskan ceritanya: “Tatkala saya mengucapkan salam kepada Rasulullah saw. beliau menyambut saya dengan wajah yang berseri-seri dan berkata: “Bergembiralah karena hari ini merupakan hari terbaik bagimu, sejak kamu dilahirkan ibumu.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu darimu sendiri atau dari sisi Allah?” Beliau menjawab: “Dari Allah Yang Maha Agung dan Mahatinggi.”
Jika merasa senang, wajah Rasulullah saw. bersinar terang, seolah-olah merupakan potongan rembulan. Melalui wajahnya, kami mengetahui bahwa Rasulullah saw. sedang senang hatinya. Ketika aku duduk menghadap beliau, aku berkata: “Ya Rasulullah, sungguh, termasuk tobat saya (sebagai pernyataan rasa syukurku) aku hendak menyerahkan harta bendaku sebagai sedekah untuk (mendapatkan ridla) Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah saw. bersabda: “Simpanlah sebagian harta-bendamu (jangan engkau serahkan seluruhnya). Itu lebih baik.” Kemudian saya menjawab: “Saya masih mempunyai tanah yang menjadi bagian saya hasil rampasan perang di Khaibar.” Lebih lanjut saya berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya, Allah telah menyelamatkanku karena kejujuran. Dan saya nyatakan, bahwa termasuk tobatku (sebagai pernyataan rasa syukur kepada Allah) saya tidak akan berbicara selain yang benar, selama hidup saya.” Demi Allah, saya tidak pernah melihat seorangpun di antara kaum muslimin yang diuji Allah Ta’ala untuk berkata jujur, lebih baik dari saya semenjak berjanji kepada Rasulullah saw. hingga hari ini, aku tidak pernah sengaja berbohong. Dan saya berharap semoga Allah menjagaku dalam sisa hidupku.
Kemudian Allah menurunkan ayat 117-119: “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, Padahal bumi itu Luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
Menurut Ka’ab, demi Allah. Belum pernah Allah memberikan nikmat, sesudah Dia memberi saya petunjuk memeluk Islam yang melebihi kejujuran saya kepada Rasulullah saw. sebab, andaikata saya berbohong kepada beliau, pastilah bencana menimpa saya (rusak agamaku) sebagaimana orang-orang munafik yang berdusta kepada beliau. Sungguh, Allah telah berfirman untuk orang-orang yang mendustai Rasulullah saw. dan mengecam betapa jelek orang tersebut. Sebagaimana firman Allah dalam surah at Taubah ayat 95 dan 96: “kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena Sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahannam; sebagai Balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. 96. mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. tetapi jika Sekiranya kamu ridha kepada mereka, Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang Fasik itu.”
Lebih lanjut Ka’ab berkata: “Urusan kami bertiga ditunda dari urusan orang-orang munafik, ketika mereka bersumpah kepada Rasulullah saw. lalu mereka menerima baiat mereka dan meminta ampun kepada Allah swt. tetapi masalah kami ditunda Rasulullah saw. sampai Allah memutuskan menerima tobat kami. Sebagaimana firman Allah: “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan tobatnya.” (at Taubah: 118)
Firman Allah tersebut menurut Ka’ab, bukan berarti kami bertiga ketinggalan dari perang Tabuk, tetapi mempunyai arti bahwa persoalan kami bertiga diundur dari orang munafik yang bersumpah kepada Rasulullah saw. dan menyampaikan bermacam-macam alasan yang kemudian diterima oleh Rasulullah saw.” (HR Bukhari dan Muslm)
Dalam salah satu riwayat disebutkan: “Nabi saw. pada waktu perang Tabuk keluar pada hari Kamis; dan memang sudah menjadi kesukaan beliau untuk bepergian pada hari kamis.”
Dalam salah satu riwayat disebutkan: “Biasanya beliau kalau datang dari bepergian pada waktu pagi hari, dan bila datang biasanya langsung ke Masjid dan shalat dua rakaat kemudian duduk di dalamnya.”

Kisah Tobat Abdullah bin Ka’ab bin Malik ra (1)

12 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi

Dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik ra. (beliau adalah salah seorang panglima perang), dari anaknya, ia berkata: “Saya mendengar Ka’ab bin Malik bercerita tentang tertinggalnya (tidak bersama) Rasulullah saw. dalam perang Tabuk. Ka’ab bin Malik berkata: “Saya selalu bersama Rasulullah saw. dalam setiap peperangan, kecuali dalam perang Tabuk. Memang, saya juga tidak bersama beliau dalam perang Badar, tetapi tak seorangpun dicela, karena tidak ikut perang tersebut. Sebab waktu itu Rasulullah saw. bersama kaum muslimin keluar bertujuan menghadang rombongan Quraisy, lalu tanpa terduga Allah mempertemukan mereka dengan musuh. Sungguh aku mengikuti pertemuan bersama Rasulullah saw. pada malam hari di dekat Jumrah Aqabah, ketika kami berjanji memeluk agama Islam. Saya tidak merasa lebih senang seandainya saya bisa mengikuti perang Badar, tetapi tidak mengikuti Baiat di Jumrah Aqabah, meskipun perang Badar lebih banyak disebut-sebut keutamaannya di kalangan manusia daripada Baiat di Jumrah Aqabah. Adapun cerita tentang diriku tidak ikut perang Tabuk, waktu itu saya sama sekali tidak merasa lebih kuat ataupun lebih mudah (mencari perlengkapan perang), daripada ketika aku tertinggal dari Rasulullah saw. dalam perang Tabuk. Demi Allah sebelum perang Tabuk saya tidak dapat mengumpulkan dua kendaraan sekaligus, tetapi waktu perang Tabuk kalau mau saya bisa melakukannya. Dikarenakan Rasulullah saw. berangkat ke Tabuk ketika hari sangat panas, menghadapi perjalanan sangat jauh dan sulit, serta menghadapi musuh yang berjumlah besar, maka Rasulullah saw. merasa perlu membekali kaum Muslimin akan kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi, agar kaum Muslimin membuat persiapan yang cukup. Rasulullah saw. juga menjelaskan tentang tujuan mereka.
Waktu itu, kaum Muslimin yang ikut perang Tabuk bersama Rasulullah saw. cukup banyak (sekitar 30.000 orang), tetapi nama-nama mereka tidak tercatat dalam buku. Sedikit sekali di antara mereka yang absen (bersembunyi tidak ikut perang). Orang-orang yang absen itu mengira bahwa Rasulullah saw. tidak mengetahuinya, selama wahyu Allah tidak turun.
Rasulullah saw. berangkat ke Tabuk ketika buah-buahan dan tetumbuhan kelihatan bagus. Karena itu, hatiku lebih condong kesana (kepada buah-buahan dan tetumbuhan). Tatkala Rasulullah dan kaum Muslimin hendak berangkat mempersiapkan segala sesuatunya, akupun bergegas keluar, guna mempersiapkan diri bersama mereka. Namun saya kembali tanpa menghasilkan apa-apa, padahal dalam hati saya berkata: “Saya mampu mempersiapkannya jika sungguh-sungguh.” Demikian itu berlangsung terus, dan saya selalu menundanya untuk mempersiapkan perlengkapan perang, sampai kesibukan kaum muslimin memuncak. Pada akhirnya, di pagi hari Rasulullah saw. beserta kaum Muslimin berangkat, sementara saya belum mengadakan persiapan. Lalu saya keluar (untuk mencari perlengkapan), tetapi saya kembali dengan tangan kosong. Hingga kaum Muslimin bertambah jauh dan pertempuran semakin dekat. Kemudian saya putuskan untuk menyusul kaum muslimin. Dengan perasaan menyesal saya berkata: “Andai saja saya berbuat demikian, namun takdir menentukan lain.”
Akhirnya, apabila saya keluar dan bergaul dengan masyarakat sesudah berangkatnya Rasulullah saw. hatiku resah dan saya menganggap diri ini tidak lebih sebagai seorang munafik, atau lelaki yang diberi keringanan oleh Allah karena lemah (pada saat itu, di Madinah yang tinggal hanyalah orang-orang yang disebut munafik dan orang-orang yang udzur karena amat lemah, seperti orang yang tidak dapat berjalan, buta, sakit dan sebagainya). (Menurut keterangan teman-teman) Rasulullah saw. tidak pernah menyebut-nyebut saya, hingga sampai ke Tabuk. Sesampainya di Tabuk beliau bertanya: “Apa sebenarnya yang dikerjakan oleh Ka’ab bin Malik?” salah seorang dari Bani Salimah menjawab: “Ya, Rasulallah, dia terhalang oleh selendangnya dan sedang memandang kedua pinggangnya (sedang bersenang-senang memakai pakaiannya).” Tetapi Mu’adz bin Jabal menghardiknya: “Betapa buruk perkataanmu, Demi Allah, yang kami ketahui dari Ka’ab hanyalah kebaikan.” Rasulullah saw. pun diam, pada saat itulah Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki berpakaian putih sedang berjalan di kejauhan. Rasulullah saw. berasabda: “Mudah-mudahan itu adalah Abu Khaitsamah.” Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah al-Anshariy. Dialah yang bersedekah segantang kurma, ketika diolok-olok oleh munafikun.
Ka’ab meneruskan ceritanya: “Tatkala saya mendengar, bahwa Rasulullah saw. berada dalam perjalanan pulang dari Tabuk, maka kesusahanpun mulai menyelimuti saya. Saya mulai mereka-reka, alasan apa yang bisa menyelamatkan saya dari Rasulullah saw.. Saya juga meminta bantuan keluargaku mencari alasan dan jalan keluar yang baik.
Tetapi ketika mendengar bahwa Rasulullah saw. sudah dekat, hilanglah segala macam kebohongan yang saya siapkan, hingga saya yakin bahwa tidak ada alasan yang bisa menyelamatkan dari Rasulullah saw., selamanya. Karena itu saya akan mengatakan yang sebenarnya. Keesokan harinya, Rasulullah saw. tiba. Biasanya, kalau beliau datang dari bepergian, yang beliau tuju pertama kali adalah masjid. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat lalu duduk menunggu kaum muslimin melaporkan sesuatu dan sebagainya.
Maka berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang Tabuk, menemui beliau. Mereka mengemukakan berbagai alasan kepada Rasulullah saw. disertai dengan sumpah. Mereka yang tidak ikut perang Tabuk ada 80 orang lebih. Rasulullah saw. menerima mereka, beliau memperkenankan memperbaharui baiat dan memohonkan ampunan bagi mereka, sedangkan batin mereka, beliau serahkan kepada Allah Ta’ala. Tibalah giliran saya menghadap. Ketika saya mengucapkan salam beliau tersenyum sinis, kemudian bersabda: “Kemarilah.” Ka’ab berjalan mendekat dan duduk di hadapan beliau. Lalu beliau mulai bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau tidak ikut berangkat? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?” saya menjawab: “Ya, Rasulullah, demi Allah, andaikan aku duduk di hadapan orang sekalinmu, saya yakin akan dapat bebas dari kemarahannya dengan mengemukakan alasan yang bisa diterima. Sungguh, saya telah dikaruniai kepandaian bicara. Namun demi Allah aku benar-benar yakin, seumpama hari ini aku berkata bohong dan engkau menerimanya, pasti sebentar lagi Allah akan menggerakkan hatimu untuk marah kepada saya. Sebaliknya jika saya berkata benar, yang membuatmu marah kepadaku, maka saya dapat mengharapkan penyelesaian yang baik dari Allah. Demi Allah saya tidak mempunyai udzur. Demi Allah diriku sama sekali tidak merasa lebih kuat dan lebih mudah daripada ketika aku tidak mengikutimu ke Tabuk. Sekarang ini, saya merasa cukup segalanya.”
Rasulullah saw. bersabda: “Orang ini (Ka’ab bin Malik) telah berkata benar. Berdirilah. Tunggulah keputusan Allah terhadap dirimu.” Aku pun berdiri. Beberapa orang dari bani Salimah menghampiri saya. Mereka berkata kepada saya: “Demi Allah, kami tidak pernah melihat engkau melakukan dosa sebelum ini. Engkau benar-benar tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah saw. seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain yang tidak ikut ke Tabuk. Mestinya cukuplah bagimu, jika Rasulullah saw. memintakan ampun untukmu.”
Ka’ab melanjutkan: “Demi Allah, orang-orang bani Salimah itu terus menerus menyalahkan diriku, sehingga ingin rasanya saya kembali kepada Rasulullah saw. untuk meralat perkataanku. Tetapi kemudian aku bertanya kepada orang-orang bani Salimah itu: “Adakah orang lain yang mengalami seperti yang saya alami?” mereka menjawab: “Ya, memang ada. Ada dua orang yang mengatakan seperti yang engkau katakan dan mereka mendapatkan jawaban sama seperti jawaban yang engkau terima.” Saya bertanya: “Siapa mereka?” mereka menjawab: “Murarah bin Rabi’ah al-Amiriy dan Hilal bin Umayyah al-Waqifiy.”
Dua orang laki-laki shalih itu telah mengikuti perang Badar dan dapat kuikuti karena akhlaknya. Sejak saat itu, Rasulullah saw. melarang kaum Muslimin berbicara dengan kami bertiga. Sejak itu pula mereka telah berubah sikap dan menjauhi kami, sehingga bumi terasa asing bagiku, seolah-olah bumi yang saya pijak ini bukanlah bumi yang sudah kukenal. Keadaan seperti ini berlangsung selama lima puluh hari. Dua orang temanku (Murarah dan Hilal) menyembunyikan diri dan diam di rumahnya masing-masing, sambil tiada henti-hentinya menangis memohon ampun kepada Allah karena tidak ikut perang.
Di antara kami bertiga, akulah yang paling muda dan paling kuat. Aku tetap keluar rumah untuk mengikuti shalat jamaah bersama kaum muslimin, juga pergi ke pasar, tetapi tidak seorangpun mau diajak bicara. Saya pergi menghadap Rasulullah saw. untuk sekedar mengucapkan salam kepada beliau di tempat duduk beliau sesudah shalat. Tetapi hati ini berkata: “Apakah Rasulullah saw. akan menggerakkan bibir beliau untuk menjawab salam, ataukah tidak?” kemudian saya mengerjakan shalat berdekatan dengan beliau, sesekali saya melirik beliau. Apabila menghadap ke shalat, beliau memandangiku, kalau menengok ke arah beliau, beliau berpaling dari saya.
Hal itu terjadi berturut-turut sampai suatu hari saya berjalan-jalan, lalu melompati pagar pekarangan Abu Qatadah. Dia adalah saudara sepupu dan orang yang paling aku sayangi. Kuucapkan salam kepadanya, demi Allah, bukankah engkau tahu bahwa aku ini cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?” Abu Qatadah diam saja. Sehingga kuulangi pertanyaanku, dia tetap diam, sesudah saya ulangi pertanyaan saya sekali lagi, berulah ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Seketika itu mengalirlah air mata sya dan saya pun pulang.
Pada suatu hari saya sedang berjalan-jalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang petani beragama Kristen dari Syam yang datang ke Madinah untuk menjual bahan makanan. Petani itu bertanya (kepada orang-orang yang berada di pasar): “Siapakah yang dapat menunjukkan diriku kepada Ka’ab bin Malik?” orang-orang memberi isyarat ke arahku. Petani itu mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku, dari raja Ghassan. Setelah saya baca ternyata isinya sebagai berikut: “Amma ba’du. Sungguh, kami mendengar bahwa temanmu (Nabi Muhammad saw.) mendiamkanmu, sedangkan Allah sendiri tidak menjadikanmu untuk tinggal di tempat hina san tersia-sia. Karena itu datanglah ke negeri kami. Kami pasti menolongmu.” Saat membaca surat itu aku berfikir: “Ini juga merupakan cobaan.” Kemudian saya bakar surat itu di dapur.

Tobat (1)

12 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi

Menurut pendapat para ulama, tobat hukumnya wajib. Syarat-syarat bertobat ada tiga, jika perbuatan dosanya tidak bersangkutan dengan manusia, yaitu:
1. Harus meninggalkan maksiat yang telah dilakukan
2. Menyesali perbuatannya
3. Bertekad tidak melakukannya kembali perbuatan itu selama-lamanya.
Apabila salah satu dari tiga syarat itu tidak dipenuhi, maka tobatnya tidak sah. Kalau maksiat itu berhubungan dengan sesama manusia, maka syarat tobatnya ada empat, yaitu tiga syarat yang sudah disebutkan dan ditambah dengan membersihkan atau membebaskan diri dari hak tersebut, dengan cara:
– Apabila berupa harta benda, maka harta itu harus dikembalikan kepada pemiliknya
– Apabila berupa had qadzaf (menuduh zina) dan semisalnya, maka kewajibannya menyerahkan diri kepada orang yang punya hak, atau meminta maafnya. Menurut ahli haq, seseorang yang bertobat hanya sebagian dosanya, adalah sah, tetapi dosa yang lain masih tetap ada. Adapun dalil-dalil dalam al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama tentang kewajiban-kewajiban tobat banyak sekali, di antaranya:
Allah Ta’ala berfirman: “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (an-Nur: 31)
Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu minta ampun kepada Tuhanmu dan bertobatlah kepada-Nya.” (Hud: 3)
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (at-Tahrim: 8)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali setiap hari.” (HR Bukhari)
Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzanniy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya saya bertobat seratus kali setiap hari.” (HR Muslim)
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshariy (pembantu Rasulullah saw.) berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah gembira menerima tobat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian ketika menemukan kembali untanya yang hilang di padang yang luas.” (HR Bukhari Muslim)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat gembira menerima tobat hamba-Nya ketika bertobat kepada-Nya, melebihi dari kegembiraan seseorang yang berkendaraan di tengah padang pasir tetapi hewan yang dikendarainya lari meninggalkannya, padahal di atas hewan itu terdapat makanan dan minuman, kemudian dia berteduh di bawah pohon, dan membaringkan badannya, sedangkan ia benar-benar putus asa untuk menemukan kembali hewan yang dikendarainya. Ketika bangkit tiba-tiba ia menemukan kembali hewan yang dikendarainya lengkap dengan bekal yang dibawanya, iapun segera memegang tali kekangnya, seraya berkata dengan gembira: “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu.” Ia keliru mengucapkan kalimat itu karena luapan kegembiraannya.”
Dari Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ariy ra. Dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala itu membentangkan tangan-Nya (memberi kesempatan) pada waktu malam, untuk tobat orang yang berbuat dosa pada siang hari. Dan Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu siang, untuk tobat orang yang berbuat dosa pada malam hari, hingga matahari terbit di barat.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah menerima tobatnya.” (HR Muslim)
Dari Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung akan menerima tobat seseorang sebelum nyawa sampai di tenggorokan (sebelum sekarat).” (HR Tirmidzi)
Dari Zir bin Hubais, ia berkata: “Saya mendatangi Shafwan bin ‘Assal ra. untuk menanyakan tentang mengusap kedua khuf, kemudian dia menanyaiku: ‘Wahai Zir, mengapa engkau kemari?’ saya menjawab: ‘Sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu, karena senang terhadap yang dicarinya.’ Kemudian aku melanjutkan pertanyaanku: ‘Wahai Sofwan, saya masih belum jelas tentang cara mengusap kedua sepatu sesudah berak dan kencing, sedangkan engkau adalah salah seorang sahabat Nabi saw. maka saya datang kesini untuk bertanya kepadamu, apakah engkau pernah mendengar beliau menjelaskan masalah itu?’ ia menjawab: ‘Ya. Beliau menyuruh kami bila dalam perjalanan agar tidak melepas khuf selama tiga hari tiga malam kecuali berjanabat, tetapi kalau hanya berak, kencing atau tidur tidak perlu dilepas.’ Saya bertanya lagi: ‘Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah saw. menyebut tentang cinta?’ ia menjawab: ‘Betul. Ketika kami datang bepergian bersama Rasulullah saw. mendadak ada seorang Arab badui memanggil Rasulullah dengan suara yang keras: ‘Ya.. Muhammad.’ Maka Rasulullah pun menjawab menyerupai suaranya. Kemudian saya berkata kepada badui itu: ‘Rendahkanlah suaramu, karena engkau berhadapan dengan Nabi saw. dan kamu dilarang berkata seperti itu.’ Dan orang badui itu berkata lagi: ‘Bagaimana seseorang yang mencintai sekelompok orang, tetapi ia tidak boleh berkumpul bersamanya?’ Nabi saw. menjawab: ‘Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya di hari kiamat.’ Beliau selalu bercerita kepada kami, sampai akhirnya beliau menceritakan tentang sebuah pintu yang berada di sebelah barat, pintu itu selebar 40 atau 70 tahun perjalanan.’ Menurut Sufyan, salah seorang perawi dari daerah Syiria berkata: ‘Allah Ta’ala menciptakan pintu itu ketika Ia menciptakan langit dan bumi; pintu itu senantiasa terbuka untuk menerima tobat dan tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari arah barat. (HR Tirmidzi dan yang lain)
Dari Abu Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudriy ra. Nabi saw. bersabda: “Sebelum kalian, ada seorang laki-laki membunuh 99 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk sekitar tentang seorang alim, maka dia ditunjukkan kepada seorang Rahib (Pendeta bani Israel). Setelah mendatanginya, ia menceritakan bahwa ia telah membunuh 99 orang, kemudian ia bertanya: “Apakah saya bisa bertobat?” ternyata pendeta itu menjawab: “Tidak.” Maka pendeta itupun dibunuhnya sehingga genaplah jumlahnya seratus. Kemudian ia bertanya lagi tentang seorang yang paling alim di atas bumi ini. Ia ditunjukkan kepada seorang laki-laki alim. Setelah menghadap ia bercerita bahwa ia telah membunuh 100 jiwa, dan bertanya: “Bisakah saya bertobat?” orang alim itu menjawab: “Ya, siapakah yang akan menghalangi orang bertobat? Pergilah kamu ke kota ini (menunjukkan ciri-ciri kota yang dimaksud), sebab di sana terdapat orang-orang yang menyembah Allah Ta’ala. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan kembali ke kotamu, karena kotamu kota yang jelek.”
Lelaki itupun berangkat, ketika menempuh separuh perjalanan, maut menghampirinya. Kemudian timbullah perselisihan antara malaikat Rahmat dengan malaikat Ahzab, siapakah yang lebih berhak membawa rohnya. Malaikat Rahmat beralasan bahwa: “Orang ini datang dalam keadaan bertobat, lagipula menghadapkan hatinya kepada Allah.” Sedangkan malaikat Azab (bertugas menyiksa hamba Allah yang berdosa) beralasan: “Orang ini tidak pernah melakukan amal baik.” Kemudian Allah swt. mengutus malaikat yang menyerupai manusia mendatangi keduanya untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan berkata: “Ukurlah jarak kota tempat ia meninggal antara kota asal dengan kota tujuan. Manakah lebih dekat, maka itulah bagiannya.” Para malaikat itu lalu mengukur, ternyata mereka mendapati si pembunuh meninggal dekat dengan kota tujuan, maka malaikat Rahmatlah yang berhak membawa roh orang tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)
Pada riwayat lain di dalam kitab ash-Shahihain disebutkan: “Ia lebih dekat sejengkal untuk menuju kota tujuan, maka ia dimasukkan dalam kelompok mereka.”
Dalam riwayat lain, di dalam ash-Shahihain disebutkan: “Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan kepada daerah hitam itu untuk menjauh dan memerintahkan kepada daerah yang baik itu untuk mendekat kemudian menyuruh kedua malaikat itu mengukurnya, akhirnya mereka mendapatkan daerah yang baik itu sejengkal lebih dekat sehingga ia diampuni.”
Di dalam riwayat lain disebutkan: “Allah mengarahkan hatinya untuk menuju daerah yang baik itu.”

Dari Abu Nujaid Imran bin Al-Husain al-Khuza’iy ra. ia berkata: “Ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada Rasulullah saw. sedangkan ia sedang hamil karena berzina dan berkata: “Ya Rasulallah, saya telah melakukan kesalahan, dan saya harus dihad (dihukum), maka laksanakanlah had itu kepada diri saya.” Kemudian Rasulullah memanggil walinya seraya bersabda: “Perlakukanlah baik-baik wanita ini, apabila sudah melahirkan, bawalah kemari.” Maka dilaksanakan perintah itu oleh walinya. Setelah wanita itu melahirkan, dibawalah ke hadapan Rasulullah saw. dan memerintahkan untuk wanita, maka diikatkanlah pakaiannya dan dirajam. Setelah ia meninggal, maka Rasulullah saw. menshalatkannya. Namun Umar berkata kepada beliau: “Ya Rasulallah, mengapa engkau menshalatkan wanita itu, padahal ia telah berzina.” Beliau menjawab: “Wanita ini benar-benar bertobat, dan seandainya tobatnya dibagi pada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya masih cukup. Pernahkah kamu mendapatkan orang yang lebih utama daripada seseorang yang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung?” (HR Muslim)
Dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik ra. Rasulullah saw bersabda: “Seandainya seseorang mempunyai satu lembah dari emas, niscaya ia ingin mempunyai dua lembah, dan tidak akan merasa puas kecuali tanah sudah memenuhi mulutnya dan Allah senantiasa menerima tobat orang yang bertobat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda: “Allah gembira manakala ada dua orang yang saling membunuh dan keduanya masuk surga. Pertama, seseorang yang mati berjuang di jalan Allah. Yang kedua, orang yang membunuh itu bertobat kepada Allah, kemudian masuk Islam dan terbunuh di jalan Allah (mati syahid).” (HR Bukhari dan Muslim)

Taubat 1 (Akhlak Islam)

20 Feb

1. Definisi Taubat

a. Menurut bahasa: Kembali
b. Menurut istilah: Kembali mendekat kepada Allah setelah menjauhi-Nya.
c. Hakekat taubat: menyesal terhadap apa yang telah terjadi, meninggalkan perbuatan tersebut saat itu juga, dan ber-azam yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut dimasa yang akan datang.

2. Urgensi Taubat

1. Banyak yang tidak tahu akan hakekat taubat, syarat dan adab-adabnya. Oleh karena itu banyak yang bertaubat hanya dengan lisan saja, sedang hati mereka kosong. Para ulama mengatakan: “Taubatnya para pembohong adalah taubat dengan ujung lidah mereka, mereka mengatakan: ‘Saya mohon ampun dan bertaubat kepada Allah.’ Tapi mereka tidak berhenti melakukan maksiat.
2. Allah memerintahkan untuk taubat. Perintah tersebut diulang sebanyak 87 kali, dan Allah juga memerintahkan Rasulullah untuk bertaubat. Allah berfirman: “..dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (24: 31)
Firman Allah dalam ayat lain: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)….” (QS 66: 8).
Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali.” (HR Muslim).
3. Barang siapa tidak bertaubat kepada Allah berarti dzolim terhadap diri sendiri. Allah berfirman: “Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS 49: 11)
4. Taubat adalah ibadah yang paling utama. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS 2: 222).

3. Buah-buah Taubat

1. Taubat adalah jalan menuju keberuntungan. Allah berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS 24: 31).
Ibnul Qayyim berkata: “Janganlah mengharapkan keberuntungan kecuali orang-orang yang bertaubat.”
2. Malaikat berdoa untuk orang-orang yang bertaubat. Allah berfirman: ” (Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,” (QS 40: 7)
3. Mendapat kemudahan hidup dan rizki yang luas. Allah berfirman: “3. Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang Telah ditentukan” (QS 11: 3). Dan firman Allah: “Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS 11: 52). Dan Allah berfirman: “..Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun-,Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12).
4. Penghapus kesalahan dan pengampun dosa. Dalam hadits qudsi Rasulullah bersabda, bahwa Allah berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau telah berdoa kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku. Aku telah ampunkan dosa-dosamu. Dan aku tidak menghiraukan, wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, aku akan mengampunimu. Dan Aku tidak menghiraukan, wahai anak Adam, andaikan kamu datang kepada-Ku dengan kesalahan sebesar bumi, kemudian engkau tdiak pernah mempersekutukan pada-Ku dengan sesuatu apapun, Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar bumi pula.” Dan Rasulullah bersabda: “Orang yang bertaubat dari kesalahan bagaikan orang yang tidak punya dosa.” Dalam hadits lain: “Taubat itu menghapuskan dosa-dosa yang lalu.”
5. Hati menjadi bersih dan bersinar. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang Mukmin jika melakukan perbuatan dosa, maka akan terjadi titik hitam di dalam qalbunya, jika dia bertaubat dan minta ampun pada Allah, kembali cemerlang hatinya, jika dosanya bertambah, bertambah pula titik hitam tersebut, sehingga menutupi hatinya. Itulah ‘ar-ron’ yang disebut oleh Allah dalam firman-Nya: ‘Sekali-sekali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’” (HR. Tirmidzi)
6. Dicintai Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”