Tag Archives: ‘ulumul qur’an

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (18)

2 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 32-34“32. dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui. 33. dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat Perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari Keuntungan duniawi. dan Barangsiapa yang memaksa mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu. 34. dan Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (an-Nuur: 32-34)

Firman Allah: wa ankihul ayaamaa minkum (“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu”) ini merupakan perintah untuk menikah. Sebagian ulama berpendapat, nikah wajib hukumnya atas setiap orang yang mampu. Mereka berdalil dengan dhahir hadits: “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kamu yang memiliki kemampuan, hendaklah ia segera menikah. Karena menikah itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena ibadah shaum merupakan salah satu peredam nafsu syahwat baginya.”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka dari hadits ‘Abdullah bin Mas’ud ra. Dalam kitab sunan disebutkan dari beberapa jalur bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Nikahilah wanita yang subur, berusahalah mendapatkan keturunan. Sebab aku berbangga dengan jumlahmu yang banyak.”
Dalam riwayat lain ditambahkan: “Hingga [aku juga berbangga] dengan jumlah janin [Muslim] yang gugur.”

Kata “al-ayaamu” adalah bentuk jamak dari kata “ayyamun” artinya wanita yang tidak mempunyai suami lelaki yang tidak mempunyai istri, sama halnya ia sudah menikah kemudian bercerai atau memang belum menikah sama sekali. Demikian disebutkan oleh al-Jauhari dari para pakar bahasa. Dalam bahasa Arab disebut lelaki ayyim dan wanita ayyim.

Firman Allah: iy yakuunuu fuqaraa-a yughniHimullaaHu min fadl-liHi (“Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya”) dan ayat seterusnya. ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan perkataan ‘Abdullah bin ‘Abbas: “Allah mendorong mereka untuk menikah dan memerintahkan orang-orang merdeka maupun budak untuk melaksanakannya serta menjanjikan kekayaan bagi mereka. Allah berfirman: iy yakuunuu fuqaraa-a yughniHimullaaHu min fadl-liHi (“Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya”)

Firman Allah: wal yasta’fifil ladziina laa yajiduuna nikaahan hattaa yughniyaHumullaaHu min fadl-liHi (“Dan orang-orang yang tidak mampu nikah hendaklah menjaga kesucian [diri]nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.”) ini merupakan perintah Allah kepada siapa saja yang mampu menikah untuk menjaga kesucian dirinya dari perkara-perkara haram.

Firman Allah: wal ladziina yabtaghuunal kitaaba mimmaa malakat aimaanukum fa kaatibuuHum in ‘alimtum fiiHim khairan (“Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka.”) ini merupakan perintah dari Allah kepada para tuan apabila budak-budak mereka meminta mukaatabah (menebus dirinya dengan cicilan) agar memenuhinya dengan syarat si budak memiliki jalan dan usaha untuk menebus dirinya dari tuannya. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa perintah di sini maksudnya adalah bimbingan dan anjuran, bukan keharusan dan kewajiban. Si tuan memiliki hak pilih apabila budaknya meminta mukaatabah, ia boleh memenuhinya dan ia boleh juga menolaknya. Sebagian ulama berpendapat, wajib hukumnya atas si tuan apabila budaknya meminta mukaatabah untuk memenuhinya berdasarkan dhahir perintah tersebut.

Firman Allah: fa kaatibuuHum in ‘alimtum fiiHim khairan (“Jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka”) sebagian ulama mengatakan, maksudnya yaitu sifat amanah.

Abu Dawud meriwayatkan dalam Maraasil-nya, dari Yahya bin Abi Katsir, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda tentang firman Allah: fa kaatibuuHum in ‘alimtum fiiHim khairan (“Jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka”) yakni jika kalian tahu ia memiliki usaha dan janganlah engkau lepaskan begitu saja budakmu hingga ia bergantung kepada orang lain.”

Firman Allah: wa aatuHum mim maalillaaHil ladzii aataakum (“Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.”) yaitu sebagian dari apa yang Allah wajibkan atasmu dari harta zakat. ‘Abdullah bin ‘Abbas ra. berkata, “Allah memerintahkan kaum Mukminin agar membantu budak yang ingin memerdekakan dirinya.”

Firman Allah: wa laa tukriHuu fatayaatikum ‘alal bighaa-i (“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran.”) dahulu kaum jahiliyyah apabila mereka memiliki budak-budak wanita, mereka mengirimkannya untuk berzina dan mengharuskan budak-budak itu menyerahkan sertoran yang mereka ambil setiap waktu. Ketika Islam datang, Allah melarang kaum Mukminin dari hal itu. Sebab turunnya ayat yang mulia ini seperti yang disebutkan oleh sejumlah ahli tafsir dari kalangan salaf dan khalaf berkenaan dengan ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, ia memiliki budak wanita yang ia paksa untuk melacur karena mengharapkan setoran darinya, karena menginginkan anak-anak mereka dan karena kekuasaannya, demikian anggapannya.

Firman Allah: wa laa tukriHuu fatayaatikum ‘alal bighaa-i (“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran.”) yaitu zina. Firman Allah: in aradna tahassunaa (“Sedang mereka sendiri menginginkan kesucian.”) ini dilihat dari kebiasaan yang umum terjadi, tidak bisa diambil makna implisit dari firman Allah tersebut.

Firman Allah: latabghuu ‘aradlal hayaatid dun-yaa (“Karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi”) yakni mengharapkan setoran mereka, bayaran mereka dan anak-anak mereka. rasulullah saw. telah melarang mengambil uang hasil upah membekam, bayaran pelacur dan bayaran dukun.” (Rasulullah saw. melarang mengambil uang hasil penjualan anjing, bayaran pelacuran dan upah dukun).

Dalam riwayat lain disebutkan: “Uang hasil melacur itu haram, uang hasil membekam itu haram dan uang hasil penjualan anjing juga haram.”

Firman Allah: wa may yukriH Hunna fa innallaaHa mim ba’di ikraaHiHinna ghafuurur rahiim (“Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang [kepada mereka] sesudah mereka dipaksa [itu]].”) yakni memberi ampun kepada mereka. Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan perkataan ‘Abdullah bin ‘Abbas ra: “Jika kalian melakukannya [pelacuran karena dipaksa oleh tuannya], maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang kepada mereka dan dosa mereka ditimpakan kepada orang-orang yang memaksa mereka.” demikian yang dikatakan oleh Mujahid, ‘Atha’ al-Khurasani, al-A’Masy dan Qatadah.

Dalam sebuah hadits marfu’, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Alllah telah mengangkat [memaafkan] dari umatku kekeliruan, lupa dan perbuatan yang dilakukan karena terpaksa.”

Firman Allah: wa laqad anzalnaa ilaikum aayaatim mubayyinaat (“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang memberikan penerangan,” ) yakni, al-Qur’an berisi ayat-ayat yang jelas dan memberi penerangan.

Firman Allah: wa matsalam minal ladziina khalau min qabliHim (“Dan contoh-contoh dari orang-orang terdahulu sebelumnya.”) yakni kabar-kabar dari umat terdahulu dan adzab yang menimpa mereka karena menyelisihi perintah-perintah Allah, seperti yang disebutkan dalam ayat lain:

Fa ja’alnaaHum salafaw wa matsalal lil aakhiriin (“Dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.”) (az-Zukhruf: 56). Sebagai peringatan agar kalian tidak melakukan perbuatan dosa dan perbuatan haram.
Firman Allah: wa mau’idhatal lil muttaqiin (“Dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”) yakni bagi orang-orang yang bertakwa dan takut kepada Allah. Dalam menyebutkan sifat-sifat al-Qur’an, ‘Ali bin Abi Thalib ra. berkata: “Di dalamnya terdapat hukum di antara kalian, kabar umat-umat sebelum kalian dan memisahkan antara haq dan bathil dan sekali-sekali bukanlah senda gurau. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takabbur, maka Allah akan menghancurkannya, barangsiapa mencari petunjuk pada selainnya, maka Allah akan menyesatkannya.”

&

KEMU’JIZATAN AL-QUR’AN

16 Mei

Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an; Manna’ Khalil al-Qattan;

Alam yang luas dan dipenuhi makhluk-makhluk Allah ini; gunung-gunung yang menjulang tinggi, samudera yang melimpah, daratan yang luas, menjadi kecil di hadapan makhluk yang lemah, manusia. Itu semua disebabkan Allah telah menganugerahkan kepada makhluk manusia itu berbagai keistimewaan dan kelebihan serta memberinya kekuatan berfikir cemerlang yang dapat menembus segala medan untuk menundukkan unsur-unsur kekuatan alam tersebut dan menjadikannya sebagai pelayan bagi kepentingan kemanusiaan.

Allah sama sekali tidak akan menelantarkan manusia, tanpa memberikannya wahyu, dari waktu ke waktu yang membimbingnya ke jalan petunjuk sehingga mereka dapat menempuh liku-liku hidup ini atas dasar keterangan dan pengetahuan.

Namun watak manusia yang sombong dan angkuh terkadang menolak untuk tunduk kepada manusia lain yang serupa dengannya selama manusia lain itu tidak membawa kepadanya sesuatu yang tidak membawa kepadanya sesuatu yang tidak disanggupinya hingga ia mengakui, tunduk dan percaya akan kemampuan manusia lain itu yang tinggi di atas kemampuannya sendiri. Oleh karena itu Rasul-rasul Allah di samping diberi wahyu, mereka juga dibekali kekuatan dengan hal-hal yang luar biasa yang dapat menegakkan hujjah atas manusia sehingga mereka mengakui kelemahannya di hadapan hal-hal luar biasa tersebut serta tunduk dan taat kepadanya.

Namun mengingat akal manusia pada awal fase perkembangannya tidak melihat sesuatu yang lebih dapat menarik hati selain mukjizat-mukjizat alamiyah yang hissi (indrawi) karena akal mereka belum mencapai puncak ketinggian dalam bidang pengetahuan dan pemikiran, maka yang paling relevan adalah jika setiap Rasul itu hanya diutus kepada kaumnya secara khusus dan mukjizatnya pun hanya berupa sesuatu hal luar biasa yang sejenis dengan apa yang mereka kenal selama ini.

Hal demikian itu agar saat tidak mampu menandinginya, mereka segera tunduk dan percaya bahwa hal luar biasa itu datang dari “kekuatan langit”. Dan ketika akal mereka telah mencapai taraf sempurna maka Allah mengumandangkan risalah Muhammad saw yang abadi kepada seluruh umat manusia. Serta mukjizat bagi risalahnya juga berupa mukjizat yang ditujukan kepada akal manusia yang telah berada pada tingkat kematangan dan perkembangannya yang paling tinggi.

Bila dukungan Allah kepada Rasul-rasul terdahulu berbentuk ayat-ayat kauniyah yang memukau mata, dan tidak ada jalan bagi akal untuk menentangnya, seperti mukjizat tangan dan tongkat bagi Nabi Musa, dan penyembuhan orang buta serta menghidupkan orang yang sudah mati dengan izin Allah bagi Nabi Isa, maka mukjizat Nabi Muhammad, pada masa kejayaan ilmu pengetahuan ini berbentuk mukjizat ‘aqliyah, mukjizat bersifat rasional, yang berdialog dengan akal manusia dan menantangnya untuk selamanya. Mukjizat tersebut adalah Al-Qur’an dengan segala ilmu dan pengetahuan yang dikandungnya serta tentang segala berita tentang masa lalu dan masa yang akan datang. Akal manusia betapapun majunya, tidak akan sanggup menandingi Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah ayat kauniyah yang tiada bandingnya. Kelemahan aka yang bersifat kekurangan substantif ini merupakan pengakuan akal itu sendiri bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya dan sangat diperlukan untuk dijadikan pedoman dan pembimbing. Itulah makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah dengan sabdanya:

“Tiada seorang nabipun kecuali diberi mukjizat yang dapat membuat manusia beriman kepadanya. Namun apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku. Karena itu aku berharap semoga kiranya aku menjadi Nabi paling banyak pengikutnya.”

Demikianlah. Allah telah menentukan keabadian mukjizat Islam sehingga kemampuan manusia menjadi tak berdaya menandinginya, padahal waktu yang tersedia cukup panjang dan ilmu pengetahuan pun telah maju pesat.

Pembicaraan tentang kemukjizatan Al-Qur’an juga merupakan satu macam mukjizat tersendiri, yang di dalamnya para penyelidik tidak bisa mencapai rahasia satu sisi daripada sampai ia mendapatkan di balik sisi itu sisi-sisi lain yang akan disingkapkan kemukjizatannya oleh zaman. Persis sebagaimana dikatakan oleh ar-Rafi’: “Betapa serupa (bentuk pembicaraan) Qur’an, dalam susunan kemukjizatannya dan kemukjizatan susunannya dengan sistem yang alam, yang dikerumuni oleh para ulama dari segala arah serta diliputi dari segala sisinya. Segala sisi itu mereka jadikan obyek kajian dan penyelidikan, namun bagi mereka ia senantiasa tetap menjadi makhluk baru dan tempat tujuan yang jauh.”

&

Manfaat dan Cara Mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah

29 Apr

‘Ulumul Qur’an; Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an; Mannaa’ Khalil al-Qattaan

1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan al-Qur’an. Sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar. Sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafaz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh atas yang terdahulu.
2. Meresapi gaya bahasa al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi, merupakan arti paling khusus dalam ilmu retorika. Karakteristik gaya bahasa Makkiyyah dan Madaniyyah dalam al-Qur’an pun memberikan kepada orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kejiwaan lawan berbicara dan menguasai fikiran dan perasaannya serta mengatasi apa yang ada di dalam dirinya dengan penuh kebijaksanaan. Setiap tahapan dakwah mempunyai topik dan pola penyampaian tersendiri. Pola penyampaian itu berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan tata cara, keyakinan dan kondisi lingkungan. Hal yang demikian nampak jelas dalam berbagai cara al-Qur’an menyeru berbagai golongan: orang yang beriman, yang musyrik, yang munafik dan ahli kitab.
3. Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah saw. sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik pada periode Makkah maupun periode Madinah, sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan. Al-Qur’an adala sumber pokok bagi peri kehidupan Rasulullah. Perjalanan hidup beliau yang diriwayatkan ahli sejarah harus sesuai dengan al-Qur’an; dan al-Qur’an pun memberikan kata putus terhadap perbedaan riwayat yang mereka riwayatkan.

Untuk mengetahui dan menentukan Makkiyyah dan Madaniyyah para ulama bersandar pada dua cara utama: simaa’i naqli (pendengaran seperti apa adanya) dan qiyaasi ijtihaadi (kias hasil ijtihad). Cara pertama didasarkan pada riwayat shahih dari para shahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu; atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para shahabat; bagaimana dan dimana serta peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu. Sebagian besar penentuan Makkiyyah dan Madaniyyah itu didasarkan pada cara pertama ini. Namun demikian, tentang hal ini tidak diperoleh sedikitpun keterangan dari Rasulullah saw. karena ia tidak termasuk suatu kewajiban, kecuali dalam batas yang dapat membedakan mana yang nasikh dan mana yang mansukh. Qadi Abu Bakar Ibnu Tayyib al-Baqalani dalam al-Intisaar menegaskan: “Pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah itu mengacu pada hafalan para shahabat dan tabi’in. Tidak ada suatu keterangan pun yang datang dari Rasulullah saw. mengenai hal ini, sebab ia tidak diperintahkan untuk itu, dan Allah tidak menjadikan ilmu pengetahuan mengenai hal itu sebagai kewajiban umat. Bahkan sekalipun sebagai pengetahuannya dan pengetahuan mengenai sejarah nasikh dan mansukh itu wajib bagi ahli ilmu, tetapi pengetahuan tersebut tidak harus diperoleh melalui nas dari Rasulullah saw.

Cara kedua adalah cara qiyaasi ijtiHaadi didasarkan pada ciri-ciri makkiyyah dan Madaniyyah. Apabila dalam surah makkiyyah terdapat suatu ayat yang mengandung sifat madaniyyah atau mengandung peristiwa madaniyyah, maka dikatakan bahwa ayat itu madaniyyah. Dan apabila dalam surah Madaniyyah terdapat ayat yang mengandung sifat makkiyyah atau mengandung peristiwa makkiyyah, maka ayat tadi dikatakan sebagai ayat makkiyyah. Demikian pula apabila dalam satu surah terdapat ciri-ciri Madaniyyah, maka surah itu dinamakan surah madaniyyah. Inilah yang disebut qiyaasi ijtiHaadi. Oleh karena itu para ahli mengatakan: “Setiap surah yang di dalamnya mengandung kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, maka surah itu adalah makkiyyah. Dan setiap surah yang mengandung kewajiban atau ketentuan, surah itu adalah madaniyyah. Dan begitu seterusnya.” Ja’bari mengatakan: “Untuk mengetahui Makkiyyah dan madaniyyah ada dua cara, yaitu sima’i (pendengaran) dan qiyyasi (kias).” Sudah tentu sima’i pegangannya adalah berita pendengaran, sedang qiyasi berpegang pada penalaran. Baik berita pendengaran maupun penalaran, keduanya merupakan metode pengetahuan yang valid dan metode penelitian ilmiah.

Makkiyyah dan Madaniyyah

29 Apr

‘Ulumul Qur’an; Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an; Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Semua bangsa berusaha keras untuk melestarikan warisan pemikiran dan sendi-sendi kebudayaannya. Demikian juga umat Islam amat memperhatikan kelestarian risalah Muhammad yang memuliakan semua umat manusia. Itu disebabkan risalah Muhammad bukan sekedar risalah ilmu dan pembaruan yang hanya memperhatikan sepanjang diterima akal dan mendapat respons manusia; tetapi, di atas itu semua, ia agama yang melekat pada akal dan terpateri dalam hati. Oleh sebab itu kita dapati para pengemban petunjuk yang terdiri atas para shahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya meneliti dengan cermat turunnya al-Qur’an ayat demi ayat, baik dalam hal waktu ataupun tempatnya. Penelitian ini merupakan pilar kuat dalam sejarah perundang-undangan yang menjadi landasan bagi para peneliti untuk mengetahui metode dakwah, macam-macam seruan, dan pentahapan dalam penetapan hukum dan perintah. Mengenai hal ini antara lain seperti dikatakan oleh Ibnu Mas’ud ra:

“Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, setiap surah al-Qur’an kuketahui dimana surah itu diturunkan; dan tiada satu ayatpun dari kitab Allah kecuali pasti kuketahui mengenai apa ayat itu diturunkan. Sekiranya aku tahu ada seseorang yang lebih tahu daripadaku mengenai kitab Allah, dan dapat kujangkau orang itu dengan untaku, pasti aku pacu untaku kepadanya.”

Dakwah menuju jalan Allah itu memerlukan metode tertentu dalam menghadapi segala kerusakan akidah, perundang-undangan dan perilaku. Beban dakwah itu baru diwajibkan setelah benih subur tersedia baginya dan fondasi kuat telah dipersiapkan untuk membawanya. Dan asas-asas perundangan dan aturan sosialnya juga baru digariskan setelah hati manusia dibersihkan dan tujuannya ditentukan, sehingga kehidupan yang teratur dapat terbentuk atas dasar bimbingan dari Allah.

Orang yang membaca al-Qur’anul Karim akan melihat bahwa ayat-ayat Makkiyyah mengandung karakteristik yang tidak ada dalam ayat-ayat Madaniyyah, baik dalam irama maupun maknanya; sekalipun yang kedua ini didasarkan pada yang pertama dalam hokum-hukum dan perundang-undangannya.
Pada zaman jahiliyah masyarakat sedang dalam keadaan buta dan tuli, menyembah berhala, mempersekutukan Allah, mengingkari wahyu, mendustakan hari akhir dan mereka mengatakan: a idzaa mitnaa wa kunnaa turaaban wa ‘idhaaman a innaa lamab’uutsuun (“Apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, benarkah kami akan dibangkitkan kembali?”) (ash-Shaaffaat: 16)
“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan yang akan membinasakan kita hanyalah waktu.” (al-Jaatsiyah: 24)

Mereka ahli bertengkar yang sengit sekali, tukang berdebat dengan kata-kata pedas dan retorika yang luar biasa. Sehingga wahyu makkiyyah (yang diturunkan di Makkah) juga berupa goncangan-goncangan yang mencekam, menyala-nyala seperti api yang member tanda bahaya disertai argumentasi sangat tegas dan kuat. Semua itu dapat menghancurkan keyakinan mereka pada berhala, kemudian mengajak mereka kepada agama tauhid. Dengan demikian tabir kebobrokan mereka berhasil dirobek-robek, begitu juga segala impian mereka dapat dilenyapkan dengan memberikan contoh-contoh kehidupan akhirat; surga dan neraka yang terdapat di dalamnya. Mereka yang begitu fasih berbahasa dengan kebiasaan retorika tinggi, ditantang agar membuat seperti apa yang ada dalam al-Qur’an, dengan mengemukakan kisah-kisah para pendusta terdahulu sebagai pelajaran dan peringatan.

Demikianlah akan kita lihat al-Qur’an surah Makkiyyah itu penuh dengan ungkapan-ungkapan yang kedengarannya amat keras di telinga, huruf-hurufnya seolah melontarkan api ancaman dan siksaan, masing-masing sebagai penahan dan pencegah, sebagai suara pembawa malapetaka, seperti dalam surah al-Qaari’ah, al-Ghaasyiyah dan al-Waaqi’ah, dengan huruf-huruf hijaiyyah pada permulaan surah. Dan ayat-ayat berisi tantangan di dalamnya, nasib umat-umat terdahulu, bukti-bukti alamiah dan yang dapat diterima akal. Semua itu ciri-ciri al-Qur’an surah Makkiyyah.

Setelah terbentuk jamaah yang beriman kepada Allah, malaikat, kitab dan Rasul-Nya, kepada hari akhir dan qadar, baik dan buruknya, serta aqidahnya telah diuji dengan berbagai cobaan dari orang musyrik dan ternyata dapat bertahan, dan dengan agamanya itu mereka berhijrah karena lebih mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada kesenangan hidup duniawi –maka di saat itu kita melihat ayat-ayat Madaniyyah yang panjang-panjang membicarakan hukum-kukum Islam serta ketentuan-ketentuannya, mengajak berjihad dan berkurban di jalan Allah kemudian menjelaskan dasar-dasar perundang-undangan, meletakkan kaidah-kaidah kemasyarakatan, menentukan hubungan pribadi, hubungan internasional dan antar bangsa. Juga menyingkapkan aib dan isi hati orang-orang munafik, berdialog dengan ahli kitab dan membungkam mulut mereka. Inilah ciri-ciri umum al-Qur’an yang Madaniyyah.

Cara Wahyu Allah Turun Kepada Malaikat

9 Apr

Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an

Di dalam al-Qur’anul Karim terdapat nas mengenai kalam Allah kepada para malaikat-Nya yang artinya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah: 30)
Juga terdapat nas tentang wahyu Allah kepada mereka yang artinya:
“(ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. (al-Anfaal: 12)
Di samping itu ada juga nas tentang para malaikat yang mengurus urusan dunia menurut perintah-Nya: fal muqassimaati amran (“Demi malaikat-malaikat yang membagi-bagi urusan.”)(az-Zaariyaat: 4)
Nas-nas di atas dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantaraan dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu. Hal itu diperkuat oleh hadits dari Nawas bin Sam’an yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu; maka langitpun tergetarlah dengan getaran –atau dia mengatakan dengan goncangan- yang dahsyat karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Apabila penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan jatuh bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama kali mengangkat muka di antara mereka itu adalah Jibril, maka Allah memberikan wahyu itu kepada Jibril menurut apa yang dikehendaki-Nya. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali ia melalui satu langit, maka bertanyalah kepadanya malaikat langit itu: Apakah yang telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai Jibril? Jibril menjawab: Dia mengatakan yang haq dan Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Para malaikat itu semuanya pun mengatakan seperti apa yang dikatakan Jibril. Lalu Jibril menyampaikan wahyu itu seperti perintah Allah ‘azza wa jalla.”
Hadits ini menjelaskan bagaimana wahyu turun. Pertama Allah berbicara, dan para malaikat mendengarnya. Dan pengaruh wahyu itu pun sangat dahsyat. Apabila pada lahirnya –di dalam perjalanan Jibril untuk menyampaikan wahyu- hadits di atas menunjukkan turunnya wahyu khusus mengenai al-Qur’an, akan tetapi hadist tersebut juga menjelaskan cara turunnya wahyu secara umum. Pokok persoalan itu terdapat dalam sebuah hadits shahih:
“Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena terpengaruh oleh firman-Nya, bagaimana mata rantai di atas batu yang licin.”
Telah nyata pula bahwa al-Qur’an telah dituliskan di lauhul mahfuz, berdasarkan firman Allah: “Bahkan ia adalah al-Qur’an yang mulia yang tersimpan di lauhul mahfuz.” (al-Buruuj: 21-22)
Demikian pula bahwa al-Qur’an itu diturunkan sekaligus ke baitul ‘izza yang berada di langit dunia pada malam lailatul qadar di bulan Ramadlan: innaa anzalnaaHu fii lailatil qadr (“Sesungguhnya Kami menurunkannya [Al-Qur’an] pada suatu malam lailatul Qadar”)(al-Qadar: 1)
Innaa anzalnaaHu fii lailatim mubaarakatin (“Sesungguhnya Kami menurunkannya [al-Qur’an] pada suatu malam yang diberkahi.”(ad-Dukhan: 3)
syaHru ramadlaanalladzii unzila fiiHil qur-aanu (“Bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an”)(al-Baqarah: 185)
di dalam sunnah terdapat hal yang menjelaskan nuzul [turunnya] al-Qur’an yang menunjukkan bahwa nuzul itu bukanlah nuzul ke dalam hati Rasulullah saw.
dari Ibnu ‘Abbas dengan hadits mauquf: “Al-Qur’an itu diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul qadar. Kemudian setelah itu diturunkan selama dua puluh tahun. Lalu Ibnu ‘Abbas membacakan: ‘Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu dengan membawa sesuatu yang benar dan yang paling baik penyelesaiannya.’[al-Furqaan: 33]. ‘Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya secara perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.’ [al-Israa’: 106]
Dan dalam satu riwayat: “Telah dipisahkan al-Qur’an dari az-Zikr, lalu diletakkan di Baitul ‘izzah di langit dunia; kemudian Jibril menurunkannya kepada Nabi saw.”
Oleh karena itu para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Qur’an kepada Jibril dengan beberapa pendapat:
a. Bahwa Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah dengan lafalnya yang khusus.
b. Bahwa Jibril menghafalnya dari lauhul mahfuz.
c. Bahwa maknanya disampaikan ke Jibril, sedang lafalnya adalah lafal Jibril, atau lafal Muhammad saw.
Pendapat pertama itulah yang benar; dan pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh ahlus sunnah wal jama’ah, serta diperkuat oleh hadits Nawas bin Sam’an di atas.
Menisbahkan al-Qur’an kepada Allah itu terdapat dalam beberapa ayat:
“Sesungguhnya kamu benar-benar diberi al-Qur’an dari Allah yang Mahabijaksana dan Mahamengetahui.” (an-Naml: 6)
“Dan jika ada orang di antara kaum musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya sempat mendengar firman Allah.” (at-Taubah: 6)
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan Pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”. (Yunus: 15),
Al-Qur’an adalah kalam Allah dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad. Sedangkan pendapat kedua di atas itu tidak dapat dijadikan pegangan, sebab adanya al-Qur’an di lauhul mahfuz itu seperti hal-hal ghaib yang lain, termasuk al-Qur’an.
Dan pendapat ketiga lebih sesuai apabila yang dimaksud adalah hadits. Sebab hadits itu wahyu dari Allah kepada Jibril, kemudian kepada Muhammad saw. secara maknawi saja. Lalu hal itu diungkapkan dengan ungkapan beliau sendiri.
“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 3-4)
Dan oleh sebab itulah diperbolehkan meriwayatkan hadits menurut maknanya, sedang al-Qur’an tidak.

Kemungkinan dan Terjadinya Wahyu

9 Apr

(Ulumul Qur’an)

Perkembangan ilmu pengetahuan telah maju dengan pesat, dan cahayanya pun telah menyapu segala keraguan yang selama ini merayap dalam diri manusia mengenai roh yang ada di balik materi. Ilmu materialistis yang meletakkan sebagian besar dari yang ada di bawah percobaan dan eksperimen percaya terhadap dunia ghaib yang berada di balik dunia nyata ini, dan percaya pula alam ghaib itu lebih rumit dan lebih dalam daripada dunia nyata, dan bahwa sebagian besar penemuan modern yang membimbing pikiran manusia menyembunyikan rahasia yang samar yang hakekatnya tidak bisa dipahami oleh ilmu itu sendiri, meskipun pengaruh dan gejalanya dapat diamati. Hal yang demikian ini telah mendekatkan jarak antara pengingkaran terhadap agama-agama dengan keimanan. Dan ini sesuai dengan firman Allah yang artinya: “Akan kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Qur’an itu benar adanya.” (Fushilat: 53) dan firman-Nya: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (al-Israa’: 85)
Pembahasan psikologik dan rohani kini mempunyai tempat yang penting dalam ilmu pengetahuan. Dan hal itu pun didukung dan diperkuat oleh perbedaan manusia dalam kecerdasan, kecenderungan dan naluri mereka. Di antara intelegensia itu ada yang istimewa dan cemerlang sehingga dapat menemukan segala yang baru. Tetapi ada juga yang dungu dan sukar memahami urusan yang mudah sekalipun. Di antara dua sisi ini, terdapat sekian banyak tingkatan. Demikian pula halnya dengan jiwa. Ada yang jernih dan cemerlang, dan ada pula yang kotor dan kelam.
Di balik tubuh manusia ada roh yang merupakan rahasia hidupnya. Apabila tubuh itu kehabisan tenaga dan jaringan-jaringan mengalami kerusakan jika tidak mendapatkan makanan menurut kadarnya, maka demikian pula roh. Ia memerlukan makanan yang dapat memberikan tenaga rohani agar ia dapat memelihara sendi-sendi dan ketentuan-ketentuan lainnya.
Bagi Allah bukan hal yang jauh dalam memilih dari antara hamba-Nya sejumlah jiwa yang dasarnya begitu jernih dan kodrat yang lebih bersih dan siap menerima sinar ilahi dan wahyu dari langit serta hubungan dengan makhluk yang lebih tinggi; agar kepadanya diberikan risalah ilahi yang dapat memenuhi keperluan manusia. Mereka mempunyai ketinggian rasa, keluhuran budi dan kejujuran dalam menjalankan hukum. Mereka itu adalah para Rasul dan Nabi Allah. Maka tidaklah aneh bila berhubungan dengan wahyu yang datang dari langit.
Manusia kini menyaksikan adanya hipnotisme yang menjelaskan bahwa hubungan jiwa manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi itu menimbulkan pengaruh. Ini mendekatkan orang pada pemahaman tentang gejala wahyu. Orang yang berkemauan lebih kuat dapat memaksakan kemauannya kepada orang yang lebih lemah; sehingga yang lemah ini tertidur pulas dan ia dikemudikan menurut kehendaknya sesuai dengan isyarat yang diberikan, maka mengalirlah semua itu ke dalam hati dan mulutnya. Apabila ini yang diperbuat manusia terhadap sesama manusia, bagaimana pula dengan yang lebih kuat dari manusia?
Sekarang orang dapat mendengar percakapan yang direkam dan dibawa oleh gelombang eter, menyeberangi lembah dan dataran tinggi, daratan dan lautan tanpa melihat si pembicara, bahkan sesudah mereka wafat sekalipun. Kini dua orang dapat berbicara melalui telepon, sekalipun yang seorang berada di ujung timur dan yang lain di ujung barat, dan terkadang pula keduanya saling melihat dalam percakapan itu, sementara orang-orang di sekitarnya tidak mendengar apa-apa selain dengingan yang seperti suara lebah, persis seperti dengingan di waktu turun wahyu.
Siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami percakapan dengan diri sendiri, dalam keadaan sadar atau dalam keadaan tidur yang pernah terlintas dalam fikirannya tanpa melihat orang yang diajak bicara di hadapannya?
Yang demikian ini serta contoh-contoh lain yang serupa cukup menjelaskan kepada kita tentang hakekat wahyu.
Orang yang sezaman dengan wahyu itu menyaksikan wahyu dan menukilnya secara mutawatir dengan segala persyaratannya yang meyakinkan kepada generasi-generasi sesudahnya. Umat manusiapun menyaksikan pengaruhnya di dalam kebudayaan bangsanya serta dalam kemampuan pengikutnya. Manusia akan menjadi mulia selama tetap berpegang pada keyakinan itu, dan akan hancur serta hina bila mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu serta kepastiannya sudah tak dapat diragukan lagi, serta perlunya manusia kembali kepada petunjuk wahyu demi menyiram jiwa yang haus akan nilai-nilai luhur dan kesegaran rohani.
Rasul kita Muhammad saw. bukanlah Rasul pertama yang diberi wahyu. Allah telah memberikan juga wayu kepada rasul-rasul sebelum itu seperti yang diwahyukan kepadanya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud. dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung[381].” (an-Nisaa’: 163-164)
[381] Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa a.s. merupakan keistimewaan Nabi Musa a.s., dan karena Nabi Musa a.s. disebut: Kalimullah sedang Rasul-rasul yang lain mendapat wahyu dari Allah dengan perantaraan Jibril. dalam pada itu Nabi Muhammad s.a.w. pernah berbicara secara langsung dengan Allah pada malam hari di waktu mi’raj.
Dengan demikian, maka wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw. itu bukanlah suatu hal yang menimbulkan rasa heran. Oleh sebab itu Allah mengingkari rasa heran itu bagi orang-orang yang berakal.
“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang Tinggi di sisi Tuhan mereka”. orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata”. (Yunus: 2)
Sumber: Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Definisi Wahyu

9 Apr

Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an

Dikatakan wahaitu ilaiHi dan auhaitu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalan isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan yang berupa rumus dan lambing, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.
Al-wahy atau wahyu adalah kata masdar (infinitive); dan materi kata itu menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu: tersembunyi dan cepat. Oleh karena itu, maka dikatakan bahwa wahyu ialah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi terkadang juga bahwa yang dimaksudkan adalah al-muuhaa yaitu pengertian isim maf’uul, yang diwahyukan. Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi:
1. Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa a.s.: auhainaa ilaa ummi muusaa an ardli-‘iiH (“Dan Kami wahyukan kepada ibu Musaa: ‘Susuilah dia..’”)(al-Qasash: 7)
2. Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah: wa auhaa rabbuka ilan nahli anit takhidzii minal jibali buyuutaw wa minasy syajari wa mimmaa ya’risyuun (“Dan Rabb-mu telah mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di rumah-rumah yang didirikan manusia.’”)(an-Nahl: 68)
3. Isyarat yang cepat melalui rumus dank ode, seperti isyarat Zakaria yang dikisahkan dalam Al-Qur’an: fa kharaja ilaa qaumiHii minal mihraabi fa auhaa ilaiHim an sabbahuu bukrataw wa ‘asyiyyaa (“Maka keluarlah dia dari mihrab, lalu memberi isyarat kepada mereka: ‘Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.’”)(Maryam: 11)
4. Bisikan dan tipu daya syaitan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia. Wa innasy syayaathiina layuuhuuna ilaa auliyaa-iHim liyujaadiluukum (“Sesungguhnya syaitan-syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.”)(al-An’am: 121)
Wa kadzaalika ja-‘alnaa likulli nabiyyin ‘aduwwan syayaathiinal ingsi wal jinni yuuhii ba’dluHum ilaa ba’dlin zukhrufal qauli ghuruuraa (“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan dari jenis jin; sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.”)(al-An’am: 112)
5. Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikat-Nya berupa suatu perintah untuk dikerjakan: idz yuuhii rabbuka ilal malaa-ikatiHii annii ma-‘akum fatsabbatul ladziina aamanuu (“Ingatlah ketika Rabb-mu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman.’”)(al-Anfaal: 12)
Sedangkan wahyu Allah kepada para Nabi-Nya secara syara’ mereka definisikan sebagai “kalam Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi.” Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul, yaitu al-muuhaa (yang diwahyukan). Ustadz Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalatut Tauhid sebagai “Pengetahuan yang didapati seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan melalui perantara maupun tidak; yang pertama melalui suara yang terjelma dalam telinganya atau tanpa suara samasekali. Beda wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui darimana datangnya. Hal seperti itu serupa denganperasaan lapar, haus, sedih dan senang.”
Definisi di atas adalah definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bagian awal definisi ini mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau kasyaf; tetapi perbedaannya dengan ilham di akhir definisi meniadakan hal ini.
Sumber: studi ilmu-ilmu al-qur’an, Mannaa’ Khalil al-Qattaan