Tag Archives: Waktu

Percakapan Bahasa Arab (Hiwar): Ungkapan Berkenaan dengan Waktu

3 Nov

Belajar Bahasa Arab
Ungkapan Berkenaan dengan Waktu

percakapan bahasa arab - ungkapan berkenaan dengan waktu

Istilah Waktu dalam Bahasa Arab

18 Agu

Berbagai Contoh Pembahasan Bahasa Arab;
Belajar Bahasa Arab

istilah waktu dalam bahasa arab

Orang Mukmin yang Suka Bermaksiat Dikeluarkan dari Neraka Dengan Perbedaan Waktu

20 Feb

Orang Mukmin yang Suka Bermaksiat Dikeluarkan dari Neraka Dengan Perbedaan Waktu
Neraka, Kengerian dan Siksaannya; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Ketika Rasulullah saw. memohon dibukakan pintu surga, masuklah orang-orang yang beriman bersamanya. Masing-masing mendapatkan kedudukan sesuai dengan amalan mereka di dunia. Setelah semua orang beriman masuk, tinggallah orang-orang beriman yang suka bermaksiat. Mereka masuk ke dalam neraka, lalu dimulailah pemberian syafaat di antara mereka.

Rasulullah dan orang-orang mukmin meminta karunia-Nya agar Allah swt. mengizinkan mereka memberi syafaat kepada orang-orang yang mereka ketahui di dalam neraka. mereka masuk ke dalam neraka disebabkan kemaksiatan yang mereka kerjakan di dunia. Setelah pemberian syafaat itu selesai, Allah swt. memberikan rahmat kepada makhluk-Nya. Dia lebih mengetahui para hamba-Nya. Dia akan mengampuni dan memberi adzab kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Penduduk neraka itu tidak mati dan tidak hidup. Manusia terkena adzab neraka karena dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan mereka. api neraka membakar mereka hingga gosong. Setelah mereka menjadi arang, Allah mengizinkan mereka untuk diberi syafaat. Maka mereka datang berkelompok-kelompok, lalu diceburkan ke sungai-sungai surga. Kemudian dikatakan kepada penghuni surga, ‘Wahai penghuni surga, tuangkanlah air di atas mereka.’ Dengan demikian, tumbuhlah banyak tanaman di sepanjang aliran sungai surga.” (HR Muslim)

Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh suatu kaum keluar dari neraka setelah dibakar di dalamnya [kecuali muka], lalu mereka masuk surga.” (HR Muslim)

Dari Imran bin Hushain ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Suatu kaum akan keluar dari neraka dengan syafaat Muhammad saw., lalu masuk surga. Mereka disebut sebagai jahnamiyyiin.” (HR Bukhari)

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Suatu kaum akan keluar dari neraka setelah dihanguskan di dalamnya, lalu mereka masuk surga. Penghuni surga menamakan mereka dengan jahannamiyyin.” (HR Bukhari)

Penghuni surga menamakan mereka dengan jahannamiyyin karena mereka keluar dari neraka setelah sekian lama berada di dalamnya sehingga mempunyai tanda tersendiri. Oleh karena itu, penghuni surga menamakan mereka demikian. Penghuni surgalah yang menyiram mereka dengan air yang bersasal dari sungai-sungai di surga ketika mereka baru saja keluar dari neraka.

Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Kemudian diizinkanlah pemberian syafaat. Maka mereka memberi syafaat dan keluarlah orang yang mengatakan, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah.’ Di dalam hati orang itu masih ada kebaikan walaupun sebesar biji gandum. Oleh karena itu, ia tidak kekal di neraka. kemudian penghuni surga menyirami mereka dengan air dari surga hingga tumbuhlah tanaman di sepanjang aliran sungai itu dan lenyaplah panasnya. Lalu ia bertanya hingga dijadikan baginya satu dunia dengan sepuluh kali lipat yang serupa dengan dunia itu [maksudnya, satu kebaikan diganjar dengan sepuluh kali lipatnya].” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika Allah telah longgar setelah menetapkan hukuman di antara hamba-Nya, Dia memberi rahmat kepada para hamba-Nya [yang masuk neraka] yang dikehendaki-Nya. Lalu Dia memerintahkan kepada para malaikat untuk mengeluarkan mereka dari neraka, yaitu orang-orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Begitu juga dengan orang yang dikasihani Allah dan yang berkata, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah.’ Para malaikat mengetahui mereka telah berada di neraka. Hal itu diketahuinya dari bekas sujudnya. Api neraka membakar manusia kecuali bekas sujudnya. Allah mengharamkan apinya membakar bekas sujudnya. Maka mereka keluar dari neraka setelah hangus di dalamnya, lalu disiramlah mereka dengan air kehidupan dan tumbuhlah mereka sebagaimana tanaman yang tumbuh di sepanjang aliran sungai surga.” (HR Muslim)

Telah disebutkan dalam beberapa hadits bahwa Allah swt. mengeluarkan orang-orang –yang di dalam hati mereka masih ada iman walaupun seberat dinar, setengah dinar, dan zarrah- dari neraka. Bahkan, Dia mengeluarkan suatu kaum yang tidak berbuat kebaikan sama sekali.

Dalam hadits yang diriwayatkan Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah memasukan penghuni surga ke dalam surga dan memasukkan ke dalamnya siapa saja yang dikehendaki dengan rahmat-Nya. Allah juga memasukkan penghuni neraka ke dalam neraka, lalu berkata, ‘Lihatlah, barangsiapa yang kalian temukan di dalam hatinya masih ada iman walaupun seberat biji sawi, keluarkanlah dia dari neraka.’” (HR Muslim)

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Akan keluar dari neraka siapa saja yang telah mengatakan: ‘Tidak ada tuhan selain Allah,’ sedangkan di dalam hatinya ada kebaikan walaupun seberat gandum. Akan keluar dari neraka siapa saja yang telah mengatakan ‘tidak ada tuhan selain Allah’, sedangkan di dalam hatinya ada kebaikan walaupun seberat jewawut. Dan akan keluar pula dari neraka siapa saja yang telah mengatakan ‘tidak ada tuhan selain Allah’, sedangkan di dalam hatinya ada kebaikan walaupun hanya seberat zarrah.” (HR Muslim)

&

Percakapan Bahasa Arab 48: Bepergian di Waktu Libur

3 Sep

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

Percakapan bahasa arab 48a Bepergian di Waktu Libur Percakapan bahasa arab 48b Bepergian di Waktu Libur

Bahasa Arab: Fi’il Madliy + Keterangan Waktu

3 Apr

Bahasa Arab untuk Memahami Al-Qur’an
Mohammad Ridlo Hisyam, Balai Litbang LPTQ Nasional Team Tadarus “AMM” Yogyakarta

Bahasa Arab: Fi’il Madliy + Keterangan Waktu:

d5 Bahasa Arab Fi’il Madliy + Keterangan Waktu d6 Bahasa Arab Fi’il Madliy + Keterangan Waktu d7 Bahasa Arab Fi’il Madliy + Keterangan Waktu d8 Bahasa Arab Fi’il Madliy + Keterangan Waktu d9 Bahasa Arab Fi’il Madliy + Keterangan Waktu d10 Bahasa Arab Fi’il Madliy + Keterangan Waktu d11 Bahasa Arab Fi’il Madliy + Keterangan Waktu d12 Bahasa Arab Fi’il Madliy + Keterangan Waktu d13 Bahasa Arab Fi’il Madliy + Keterangan Waktu d14 Bahasa Arab Fi’il Madliy + Keterangan Waktu

 

&

Waktu Shalat Dhuhur

2 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Berdasarkan hadits yang telah disebutkan, ternyatalah bahwa waktu shalat Dhuhur itu bermula dari tergelincirnya matahari dari tengah-tengah langit dan berlangsung sampai bayangan sesuatu itu sama panjang dengan benda tersebut.

Hanya disunnahkan ta’khir atau mengundurkan shalat dhuhur itu dari awal waktu hari panas hingga tiada mengganggu kekhusyukan, sebaliknya disunnahkan ta’jil atau menyegerakan pada saat-saat lain dari demikian. Alasannya adalah:

1. Apa yang diriwayatkan oleh Anas:
“Adalah Nabi saw. bila hari amat dingin menyegerakan dilakukannya shalat, dan bila hari panas melambatkan memulainya.” (HR Bukhari)

2. Dari Abu Dzar, katanya:
“Suatu ketika kami berada bersama Nabi saw. dalam suatu perjalanan. Maka muadzdzin pun bermaksud hendak adzan buat shalat dhuhur, lalu ujar Nabi: ‘Tunggu dulu. Kemudian ketika adzan kembali, Nabi mengatakan lagi: ‘Tunggu dulu.’
Demikianlah sampai dua atau tiga kali, hingga tampaklah oleh kami bayang-bayang guguk setelah matahari tergelincir. Kemudian sabda Nabi: ‘Sesungguhnya panas yang amat sangat itu adalah lambaian neraka jahanam. Maka bila hari terlalu panas, undurkanlah melakukan shalat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Batas pengunduran: Berkata Hafidh dalam “al-Fat-h”:
“Para ulama berbeda pendapat tentang batas pengunduran. Ada yang mengatakan sampai bayang-bayang itu sehasta panjangnya setelah tergelincir. Ada pula yang mengatkan seperempat dari tinggi benda. Kata yang lain sepertiga, dan ada pula yang mengatakan seperdua, serta masih ada pendapat lain. Dan yang lazim menurut undang-undang ialah bahwa hal itu berbeda-beda melihat suasana, hanya syaratnya tidak sampai kepada akhir waktu.”

&

Waktu Shalat ‘Ashar

2 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Waktu shalat ‘ashar bermula bila bayang-bayang suatu benda itu sama panjang dengan benda itu sendiri, yakni setelah bayangan waktu tergelincir, dan berlangsung sampai terbenamnya matahari.

Dari Abu Hurairah ra.: “Bahwa Nabi saw. telah bersabda: ‘Siapa yang masih mendapatkan satu rakaat ‘Ashar sebelum matahari terbenam, berarti ia telah mendapatkan shalat ‘Ashar.” (HR Jamaah serta Baihaqi dengan susunan perkataan sebagai berikut: “barangsiapa telah melakukan satu rakaat shalat ‘ashar sebelum matahari terbenam, kemudian melanjutkan shalatnya setelah matahari terbenam, maka berarti waktu ‘asharnya belum lagi luput.”)

Waktu fadhilah dan ikhtiar [utama dan biasa] berakhir dengan menguningnya cahaya matahari. Atas pengertian inilah ditafsirkan hadits-hadits Jabir dan Abdullah yang lalu.

Adapun yang menangguhkan shalat setelah saat menguning tersebut maka walaupun diperbolehkan tapi hukumnya makruh jika tak ada udzur.

Dari Anas ra: Saya dengar Rasulullah saw. bersabda: “Itu adalah shalat orang munafik. Ia duduk menunggu-nunggu matahari, hingga bila telah berada di antara dua tanduk setan, maka dipatuknya empat kali. Hanya sedikit ia mengingat Allah.” (HR Jama’ah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah)

Berkata Nawawi dalam “Syarah Muslim”: “Menurut shahabat kita, waktu ‘ashar itu ada lima macam:
1. Waktu fadhilah atau utama,
2. Waktu ikhtiar atau biasa,
3. Waktu jawaz yakni diperbolehkan tanpa makruh.
4. Waktu diperbolehkan tapi makruh, dan
5. Waktu uzur.”

Adapun waktu fadhilah ialah awal waktunya. Dan waktu ikhtiar berlangsung sampai bayang-bayang suatu benda itu dua kali panjangnya. Waktu jawaz dari saat itu sampai kuningnya matahari dan waktu makruh dari saat kuning hingga terbenamnya, sedang waktu uzur ialah waktu dhuhur bagi orang yang diberi kesempatan untuk menjama’ shalat ‘ashar dengan dhuhur, disebabkan dalam perjalanan atau karena hujan.

Melakukan shalat ‘ashar pada waktu yang kelima ini disebut ada’i yakni mengerjakan pada waktunya, dan jika telah luput kesemuanya disebabkan oleh terbenamnya matahari, maka disebut qadla’.

Pentingnya menyegerakan shalat ‘ashar pada hari mendung, diterima dari Buraida al aslami, katanya: pada suatu waktu kami berada di sebuah peperangan, bersama Rasulullah saw., sabdanya: “Segeralah melakukan shalat pada hari mendung! Karena siapa-siapa yang luput shalat ‘asharnya maka gugurlah amalan-amalannya.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Berkata Ibnu Qaiyim: “Meninggalkan itu ada dua rupa: meninggalkan secara keseluruhan tanpa melakukannya sama sekali, maka ini menggugurkan semua amalan. Kedua meninggalkan secara sebagian-sebagian pada hari tertentu. Maka ini menggugurkan amalan pada hari itu.”

Shalat ‘ashar merupakan shalat wustha, artinya pertengahan. Firman Allah: “Peliharalah shalat-shalat itu, begitupun shalat wustha dan beribadahlah kepada Allah dengan menaati perintah-perintah-Nya.”

Dan telah diterima beberapa hadits shahih yang menegaskan bahwa shalat ‘asharlah yang dimaksud dengan shalat wustha.

1. Dari Ali ra: bahwa Rasulullah saw. bersabda pada waktu perang Ahzab: “Allah akan memenuhi kubur dan rumah-rumah mereka dengan api neraka, sebagaimana mereka menghalang-halangi kita dari shalat wustha sampai matahari terbenam.” (HR Bukhari dan Muslim. Sedang pada riwayat Muslim, Ahmad dan Abu Daud berbunyi berikut: “Mereka menghalangi kita shalat wustha, yakni shalat ‘ashar.”)

2. Dari Ibnu Mas’ud, katanya: orang-orang musyrik telah menahan Rasulullah saw. dari melakukan shalat ‘ashar sampai matahari menjadi merah dan kuning. Maka bersabdalah Rasulullah saw.: ‘Mereka halangi kita dari shalat wustha yakni shalat ‘ashar. Semoga Allah akan memenuhi rongga perut dan kuburan mereka dengan api neraka!’ – atau ‘mengisi rongga perut dan kuburan mereka dengan api neraka.’-“ (HR Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah)

&

Waktu Shalat ‘Isya

2 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Waktu shalat ‘isya bermula di waktu lenyapnya syafak merah dan berlangsung hingga seperdua malam. Dari ‘Aisyah ra. katanya: para shahabat melakukan shalat ‘Isya di antara terbenamnya mega merah sampai sepertiga malam yang pertama. telah bersabda Rasulullah saw.: “Kalau tidaklah akan memberatkan umatku, tentu kusuruh mereka mengundurkan ‘isya sampai sepertiga atau seperdua malam.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Turmudzi yang menyatakan sahnya)

Dan dari Abu Sa’id, katanya: Kami tunggu Rasulullah saw. pada suatu malam untuk melakukan shalat ‘Isya, hingga berlalu kira-kira sebagian malam.”
Ulasnya pula: “Maka Nabi pun datanglah dan shalat bersama kami, sabdanya: “Ambillah tempat dudukmu masing-masing walau orang-orang telah menempati tempat tidur mereka. dan kamu berarti dalam shalat semenjak saat menunggunya. Kalau bukanlah karena kedlaifan orang lemah, halangan dari orang yang sakit, serta keperluan dari orang yang berkepentingan, tentulah akan aku undurkan shalat ini hingga sebagian dari waktu malam.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan an-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah, sedang isnadnya sah)

Demikian adalah waktu ikhtiar. Mengenai waktu jawaz dan darurat maka berlangsung hingga waktu fajar berdasarkan hadits Abu Qatadah: telah bersabda Rasulullah saw.: “Ketahuilah bahwa tidur itu tidaklah berarti lalai. Yang dikatakan lalai ialah orang yang masih belum shalat hingga datang waktu shalat lain.” (HR Muslim)

Dan hadits yang lain mengenai waktu-waktu shalat menunjukkan bahwa waktu masing-masing shalat itu berlangsung sampai masuknya waktu shalat lain kecuali shalat fajar karena ia tidak berlangsung hingga waktu Dhuhur. Para ulama telah ijma’ bahwa waktunya berakhir dengan terbitnya matahari.

Disunnahkan menta’khirkan shalat ‘isya dari awal waktunya. Yang lebih utama adalah mengundurkan shalat ‘isya sampai waktu ikhtiar, yaitu separuh malam berdasarkan hadits ‘Aisyah ra: Bahwa pada suatu malam Nabi saw. mengundurkan shalat ‘Isya hingga berlalu umumnya waktu malam, dan penghuni masjid pun telah pada tidur, kemudian keluar lalu melakukan shalat, dan sabdanya: “Sekarang waktu yang sesungguhnya, kalau tidaklah akan memberatkan umatku.” (HR Muslim dan Nasa’i)

Dan sebelumnya telah disebutkan hadits Abu Hurairah dalam hadits Abu Sa’id yang keduanya semakna dengan hadits Aisyah ini. Semua mengatakan disunnahkan dan lebih utama ta’khir shalat ‘isya, dan Nabi saw. pun menghentikan mengerjakannya terus menerus ialah karena memberatkan bagi umat.

Dan dalam hal ini Nabi saw. selalu memperhatikan keadaan makmum-makmum, maka kadang-kadang disegerakan, dan kadang-kadang dita’khirkannya.

Dari Jabir, katanya: Nabi saw. melakukan shalat Dhuhur itu ketika hari amat panas setelah tergelincir matahari, shalat ‘Ashar ketika matahari sedang bersih, shalat maghrib ketika matahari terbenam, shalat ‘Isya kadang-kadang diundurkan dan kadang-kadang dimajukannya. Bila telah dilihatnya orang-orang berkumpul maka disegerakannya, dan kalau dilihatnya mereka terlambat maka diundurkannya. Sedang shalat shubuh, mereka –atau Nabi saw.- melakukannya pada saat gelap akhir malam. (HR Bukhari dan Muslim)

Dimakruhkan tidur sebelum shalat ‘Isya dan bercakap-cakap sesudahnya, karena hadits Abu Barzah al-Aslami: Bahwa Nabi saw. menyatakan sunah menta’khirkan ‘Isya yang biasa mereka sebut ‘Atmah, dan menyatakan makruh tidur sebelumnya dan bercakap-cakap sesudahnya.” (HR Jama’ah)

Dan diterima dari Ibnu Mas’ud: Rasulullah saw. menjawab kami bercakap-cakap setelah shalat ‘Isya.” (HR Ibnu Majah, katanya: “Menjawab maksudnya ialah mencela dan melarang.”)

Alasan dimakruhkannya tidur sebelumnya dan bercakap-cakap sesudahnya, ialah karena orang yang tidur bisa luput shalat sunahnya atau shalat berjamaah sebagaimana mengobrol setelahnya menyebabkan menghabiskan waktu dan menyia-nyiakan kesempatan.

Tetapi jika tidur itu ada yang membangunkan, atau bercakap-cakap guna memperbincangkan suatu hal yang bermanfaat, maka tidaklah dimakruhkan.

Dari Ibnu ‘Umar ra, katanya: “Adalah Rasulullah saw. juga bercakap-cakap pada malam itu di rumah Abu Bakar membicarakan salah satu urusan kaum muslimin, dan ketika itu saya ikut bersamanya.” (HR Ahmad dan Turmudzi yang menyatakannya sebagai hadits hasan)

Dan dari Ibnu ‘Abbas, katanya: “Saya bermalam di rumah Maimunah pada malam Rasulullah saw. bergilir di sana, untuk mempelajari tata cara shalatnya di waktu malam. Maka saya lihat Nabi saw. bercakap-cakap dengan keluarganya sebentar, kemudian baru pergi tidur.” (HR Muslim)

&

Waktu Shalat Maghrib

2 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Waktu maghrib mulai masuk, bila matahari telah terbenam dan tersembunyi di balik tirai, dan berlangsung sampai terbenam syafak, atau awan merah, berdasarkan hadits Abdullah bin Umar: bahwa Nabi saw. telah bersabda: “Waktu shalat Maghrib ialah bila matahari terbenam syafak belum lagi lenyap.” (HR Muslim)

Dan diriwayatkan pula dari Abu Musa: bahwa seseorang menanyakan kepada Nabi saw. tentang waktu-waktu shalat, maka disebutkannya hadits tersebut. Disana juga disebutkan: maka disuruhnya orang itu shalat, lalu shalat maghriblah ia ketika matahari terbenam. Dan pada hari berikutnya, katanya: kemudian diundurkan oleh Nabi sampai dekat hilangnya syafak serta sabdanya: “Waktunya terdapat di antara dua waktu ini.”

Berkata Nawawi dalam syarah Muslim: “Para penyelidik di kalangan shahabat-shahabat kita berpendapat bahwa mengatakan diperbolehkannya mengundurkan shalat maghrib selama syafak belum lenyap, adalah lebih kuat, hingga ia dapat dilakukan di sembarang waktu di antara keduanya, dan tidak berdosa menangguhkannya di awal waktu.”

Pendapat ini merupakan pendapat yang sah atau benar dan tidak mungkin diterima salain daripadanya. Adapun hadits Jibril sebagai imam, bahwa ia shalat maghrib pada suatu waktu selama dua hari yakni ketika matahari terbenam, maka ia hanya menunjukkan disunahkannya ta’jil atau menyegerakan maghrib.
Beberapa hadits telah diterima menegaskan hal ini:

1. Dari Saib bin Yazid: Bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Senantiasa umatku berada dalam kesucian , selama mereka melakukan shalat maghrib sebelum terbitnya bintang-bintang.” (HR Ahmad dan Thabari)

2. Dalam musnad diterima dari Abu Aiyub al-Anshari: Bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Lakukan shalat maghrib sewaktu berbuka orang puasa dan bersegeralah sebelum terbitnya bintang-bintang.”

3. Dalam shahih Muslim dari Rafi’ bin Khudeij, katanya: “Kami shalat maghrib bersama Rasulullah saw. dan masing-masing kami berpaling sedang ia masih dapat melihat tempat jatuhnya anak panah.”

4. Juga dalam buku tersebut dari Salma bin Akwa’: bahwa Rasulullah saw. biasa melakukan shalat bila matahari telah terbenam dan bersembunyi di balik tabir.”

&

Waktu Shalat Shubuh

2 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Shalat shubuh bermula dari saat terbitnya fajar shadik dan berlangsung sampai terbitnya matahari, sebagaimana tersebut dalam hadits yang lalu.

Disunnahkan menyegerakan shalat shubuh dengan melakukannya di awal waktu, berdasarkan hadits Abu Mas’ud al-Anshari: Bahwa Rasulullah saw. melakukan shalat shubuh di saat kelam di akhir malam, kemudian pada kali yang lain dilakukannya ketika hari telah mulai terang. Setelah itu shalat tetap dilakukannya pada waktu gelap tersebut sampai beliau wafat, dan tak pernah lagi di waktu hari telah mulai terang.” (HR Abu Daud dan Baihaqi dan sanadnya shahih)

Dan dari ‘Aisyah ra. katanya: “Mereka, perempuan-perempuan Mukminat itu ikut melakukan shalat fajar bersama Nabi saw. dengan menyelubungi badan mereka dengan kain, dan setelah selesai shalat, mereka pulang ke rumah masing-masing tanpa dikenal oleh seorang pun disebabkan hari gelap.” (HR Jamaah)

Adapun hadits Rafi’ bin Khudeij, bahwa Nabi saw. bersabda: “Berpagihari-lah melakukan shalat shubuh karena pahalanya bagimu lebih besar.” Dan menurut suatu riwayat: “Berterang benderanglah melalukan shalat fajar, karena pahalanya lebih besar.” (HR Yang Berlima dan disahkan oleh Turmudzi dan Ibnu Hibban)

Maka yang dimaksud dengan terang benderang itu ialah ketika hendak pulang dari menyelesaikannya dan bukan ketika hendak memulainya. Jadi artinya ialah: Panjangkanlah bacaan dalam shalat, hingga kamu selesai dan berangkat pulang hari sudah mulai terang, sebagaimana dilakukan Rasulullah saw. biasa membaca dari 60-100 ayat, atau mungkin juga yang dimaksud menyelidiki kepastian terbitnya fajar, hingga ia tidak melakukannya berdasarkan hanya dugaan atau sangkaan belaka.

Barangsiapa mendapatkan satu rakaat sebelum habis waktu, berarti ia telah mendapatkan shalat keseluruhannya, berdasarkan hadits Abu Hurairah: bahwa Nabi saw. telah bersabda: “Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari suatu shalat, berarti ia mendapatkan keseluruhan shalat itu.” (HR Jamaah)
Ketentuan ini mencakup semua shalat.

Dan menurut riwayat Bukhari: “Bila salah seorang di antaramu mendapatkan satu sujud dari shalat ‘ashar sebelum matahari terbenam, hendaklah ia menyelesaikan shalatnya. Dan jika ia mendapatkan satu sujud dari shalat shubuh sebelum matahari terbit, hendaklah ia menyempurnakan pula shalatnya.”

Yang dimaksud dari sujud di sini ialah rakaat. Dan menurut lahir hadits, siapa-siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat shubuh atau ‘ashar, tidaklah dimakruhkan baginya shalat sewaktu matahari terbit atau saat ia terbenam, walaupun kedua waktu itu merupakan waktu-waktu makruh.

Begitu juga shalat dianggap ada’i jika mendapatkan satu rakaat penuh, walaupun tidak dibolehkan menyengaja ta’khir sampai waktu tersebut.

&