Kalimat yang biasa dibaca pemimpin doa di awal doa

25 Agu

Kalimat yang biasa diucapkan oleh pemimpin doa/acara agar doa dan hajat yang dimaksud dikabulkan oleh Allah SWT.
*
عَلَى هَذِهِ النِّيَّةِ وَعَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … اَلْفَاتِحَة
*
‘Alaa hadzihin-niyyah wa ‘alaa kulli niyyatin shoolihah, ilaa hadlratin-nabiyyil-musthofaa sayyidinaa muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam… Al-Fatihah.
* Artinya:
“Atas niat ini dan atas setiap niat yang baik, (ditujukan) kepada kemuliaan Nabi yang terpilih, junjungan kami Muhammad SAW… Al-Fatihah.”

## 💡 Mengapa Kalimat Ini Diucapkan?

* Menyatukan Niat: Pemimpin doa mengajak seluruh jemaah untuk menyatukan tujuan dan keinginan baik mereka dalam hati masing-masing.

* Pengantar Al-Fatihah: Berfungsi sebagai kalimat transisi sebelum jemaah bersama-sama membaca surat utama Al-Fatihah.

* Membuka Keberkahan: Berharap agar majelis taklim, tahlilan, atau acara doa bersama mendapat rida dan syafaat Rasulullah SAW.

***

Peringkat Amal dengan Pahala Terbesar Menurut Al-Qur’an, Hadis, dan Pandangan Ulama:

11 Okt

Berikut ini urutan umum amal dengan pahala terbesar menurut Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama:


🕌 1. Tauhid dan Keimanan kepada Allah (Amal Hati Tertinggi)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisa’: 48)

💎 Pahala tertinggi: keimanan dan tauhid murni kepada Allah — yaitu mengesakan Allah dalam ibadah dan keyakinan.
➡️ Orang yang meninggal dalam keadaan beriman, dijamin surga.
➡️ Semua amal lain tidak berarti tanpa iman.


🌟 2. Menegakkan Shalat dengan Khusyuk dan Konsisten

“Amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat.”
(HR. Tirmidzi)

💎 Shalat adalah tiang agama, pembeda antara Islam dan kufur.
➡️ Shalat dengan khusyuk dan tepat waktu termasuk amal dengan pahala paling besar setelah iman.


💰 3. Sedekah dan Infak di Jalan Allah

“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

💎 Sedekah ikhlas bisa menghapus dosa, menolak bala, dan melipatgandakan pahala hingga 700 kali lipat atau lebih.
➡️ Termasuk sedekah harta, tenaga, waktu, dan ilmu.


⚔️ 4. Jihad Fii Sabilillah (Berjuang di Jalan Allah)

“Satu langkah di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya.”
(HR. Bukhari & Muslim)

💎 Jihad memiliki derajat pahala tertinggi di antara amal fisik.
Namun dalam kondisi damai, bentuk jihad bisa berupa berjuang dengan ilmu, dakwah, dan kerja keras menegakkan kebaikan.


👩‍👦 5. Berbakti kepada Orang Tua

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi)

💎 Amal yang sangat agung setelah ibadah kepada Allah.
➡️ Termasuk berbuat baik, mendoakan, membantu, dan tidak menyakiti hati mereka — bahkan setelah wafat.


📖 6. Menuntut dan Mengajarkan Ilmu Agama

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

💎 Ilmu yang bermanfaat termasuk amal jariyah, terus mengalir pahalanya meski sudah wafat.
➡️ Ilmu dunia yang membawa maslahat juga bernilai tinggi jika diniatkan untuk Allah.


🤝 7. Menolong Sesama dan Amal Sosial

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
(HR. Ahmad)

💎 Membantu orang susah, yatim, sakit, atau lemah — bahkan tersenyum pun bernilai sedekah.
➡️ Amal sosial termasuk jihad kemanusiaan dengan pahala besar.


🕊️ 8. Dzikir, Doa, dan Membaca Al-Qur’an

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.”
(HR. Tirmidzi)

💎 Dzikir menghidupkan hati dan mendekatkan diri pada Allah.
➡️ Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur termasuk amal yang sangat dicintai Allah.


💧 9. Sedekah Jariyah dan Amal yang Terus Mengalir

“Apabila manusia meninggal, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

💎 Amal jariyah — seperti membangun masjid, sumur, sekolah, atau menulis ilmu bermanfaat — pahalanya terus mengalir selama dimanfaatkan.


💖 10. Akhlak Mulia

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.”
(HR. Tirmidzi)

💎 Akhlak mulia seperti jujur, sabar, dermawan, dan rendah hati bisa mengangkat derajat seseorang di sisi Allah lebih tinggi dari ahli ibadah yang keras hatinya.

&

Doa Menghafal Al-Qur’an Metode Ummi

24 Sep

Allaahumma badii-‘as samaawaati wal ardli. Dzal jalaali wal ikraam. Wal ‘izzatil-latii laa turaam. Nas-aluka yaa AllaaHu yaa Rahmaan. Bi jalaalika wa nuuri wajHika. An tulzima quluubanaa hifdha kitaabika kamaa ‘allamtanaa. Warzuqnaa an nat-luwaHu. ‘Alan nahwil ladzii yur-dlii-ka ‘annaa. Wa shalallaaHu ‘alaa nabiyyinaa Muhammadin. Wa ‘alaa aaliHi wa sallama. Wal hamdu lillaaHi rabbil ‘aalamiina.

“Ya Allah Pencipta langit dan bumi, yang memiliki keagungan, kemuliaan, dan kejayaan yang tidak dapat dibayangkan. Kami memohon kepada-Mu ya Allah yang Pengasih, dengan keagungan-Mu dan cahaya wajah-Mu agar Engkau menetapkan dalam hati kami hafalan terhadap kitab-Mu sebagaimana Engkau telah mengajarkan kepada kami. Karuniakanlah kepada kami untuk senantiasa membacanya sesuai yang Engkau sukai.”

Kotak Infak yang Bisa Bicara

14 Sep

📖 القِصَّة: صُنْدُوقُ الإِنْفَاقِ الَّذِي يَتَكَلَّمُ
Kotak Infaq yang Bisa Bicara


1. زَكِيٌّ طَالِبٌ مُجْتَهِدٌ يَدْرُسُ فِي مَدْرَسَةٍ إِسْلَامِيَّةٍ.
Zaky adalah seorang murid rajin yang belajar di sekolah Islam.


2. وَكَانَتْ نَدِيرَةُ زَمِيلَتَهُ فِي الْفَصْلِ.
Dan Nadira adalah teman sekelasnya.


3. فِي الْمَدْرَسَةِ صُنْدُوقُ إِنْفَاقٍ كَبِيرٌ مَوْضُوعٌ فِي الزَّاوِيَةِ.
Di sekolah ada kotak infaq besar yang diletakkan di sudut.


4. كَانَ الطُّلَّابُ يَضَعُونَ فِيهِ النُّقُودَ كُلَّ يَوْمٍ.
Para murid memasukkan uang ke dalamnya setiap hari.


5. فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ سَمِعَ زَكِيٌّ صَوْتًا غَرِيبًا.
Suatu hari Zaky mendengar suara aneh.


6. الصَّوْتُ جَاءَ مِنَ الصُّنْدُوقِ نَفْسِهِ.
Suara itu berasal dari kotak infaq itu sendiri.


7. قَالَ الصُّنْدُوقُ: “يَا زَكِيُّ، أَشْكُرُكَ عَلَى صِدْقِكَ”.
Kotak itu berkata: “Wahai Zaky, aku berterima kasih atas kejujuranmu.”


8. تَعَجَّبَ زَكِيٌّ وَقَالَ: “مَنْ يَتَكَلَّمُ؟”
Zaky terkejut dan berkata: “Siapa yang berbicara?”


9. قَالَ الصُّنْدُوقُ: “أَنَا صُنْدُوقُ الْإِنْفَاقِ”.
Kotak itu berkata: “Aku adalah kotak infaq.”


10. أَخْبَرَ الصُّنْدُوقُ أَنَّهُ يَسْمَعُ دُعَاءَ الطُّلَّابِ.
Kotak itu memberitahu bahwa ia mendengar doa para murid.


11. وَيَشْعُرُ بِالنِّيَّاتِ الطَّيِّبَةِ عِنْدَمَا يَضَعُونَ الْمَالَ.
Dan ia merasakan niat baik ketika mereka memasukkan uang.


12. جَاءَتْ نَدِيرَةُ وَسَمِعَتِ الْحِوَارَ.
Nadira datang dan mendengar percakapan itu.


13. قَالَتْ نَدِيرَةُ: “سُبْحَانَ اللهِ، هَلْ أَنْتَ تَتَكَلَّمُ؟”
Nadira berkata: “Subhanallah, apakah engkau benar-benar berbicara?”


14. أَجَابَ الصُّنْدُوقُ: “نَعَمْ، بِإِذْنِ اللهِ”.
Kotak itu menjawab: “Ya, dengan izin Allah.”


15. قَالَ زَكِيٌّ: “مَا رِسَالَتُكَ لَنَا؟”
Zaky berkata: “Apa pesanmu untuk kami?”


16. قَالَ الصُّنْدُوقُ: “إِذَا أَنْفَقْتُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ، زَادَكُمُ اللهُ بَرَكَةً”.
Kotak itu berkata: “Jika kalian berinfaq di jalan Allah, Allah akan menambah berkah untuk kalian.”


17. أَضَافَ: “الْمَالُ الَّذِي تَضَعُونَهُ يُسَاعِدُ الْفُقَرَاءَ”.
Ia menambahkan: “Uang yang kalian masukkan membantu orang-orang miskin.”


18. قَالَتْ نَدِيرَةُ: “إِذًا فَكُلُّ قِطْعَةٍ صَغِيرَةٍ مُهِمَّةٌ”.
Nadira berkata: “Berarti setiap kepingan kecil itu penting.”


19. قَالَ الصُّنْدُوقُ: “بَلَى، فَاللهُ يُضَاعِفُ الْأُجُورَ”.
Kotak itu berkata: “Benar, Allah melipatgandakan pahala.”


20. تَذَكَّرَ زَكِيٌّ حَدِيثَ النَّبِيِّ ﷺ: “الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ”.
Zaky teringat sabda Nabi ﷺ: “Sedekah memadamkan dosa.”


21. فَرِحَتْ قُلُوبُهُمَا بِهَذِهِ الْمَوْعِظَةِ.
Hati mereka berdua gembira dengan nasihat itu.


22. قَالَ زَكِيٌّ: “سَوْفَ أُشَارِكُ كُلَّ يَوْمٍ وَلَوْ بِقَلِيلٍ”.
Zaky berkata: “Aku akan ikut berinfaq setiap hari meskipun sedikit.”


23. قَالَتْ نَدِيرَةُ: “وَأَنَا أَيْضًا، سَأُسَاعِدُ قَدْرَ مَا أَسْتَطِيعُ”.
Nadira berkata: “Aku juga, akan membantu semampuku.”


24. بَسَمَ الصُّنْدُوقُ وَقَالَ: “جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا”.
Kotak itu tersenyum dan berkata: “Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.”


25. وَقَالَ أَيْضًا: “لَا تَنْسَوْا أَنَّ الْمَالَ أَمَانَةٌ”.
Dan ia juga berkata: “Jangan lupa bahwa harta adalah amanah.”


26. سَأَلَ زَكِيٌّ: “هَلْ تَفْرَحُ عِنْدَمَا تَمْتَلِئُ؟”
Zaky bertanya: “Apakah engkau senang ketika penuh?”


27. أَجَابَ الصُّنْدُوقُ: “نَعَمْ، فَإِنَّهُ يَعْنِي كَثْرَةَ الْخَيْرِ”.
Kotak itu menjawab: “Ya, karena itu berarti banyak kebaikan.”


28. قَالَتْ نَدِيرَةُ: “وَمَاذَا إِذَا نَسِينَا الْإِنْفَاقَ؟”
Nadira bertanya: “Lalu bagaimana jika kami lupa berinfaq?”


29. قَالَ الصُّنْدُوقُ: “حَاوِلُوا أَنْ تَتَذَكَّرُوا، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يُنْسِي”.
Kotak itu berkata: “Berusahalah untuk selalu ingat, karena setan suka membuat lupa.”


30. وَذَكَّرَهُمُ الصُّنْدُوقُ بِآيَةٍ: “وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ”.
Kotak itu mengingatkan mereka pada ayat: “Apa saja yang kalian nafkahkan, Allah akan menggantinya.”


31. تَأَثَّرَ زَكِيٌّ بِكَلِمَاتِهِ.
Zaky terharu dengan kata-katanya.


32. وَكَذَلِكَ نَدِيرَةُ شَعَرَتْ بِالطُّمَأْنِينَةِ.
Begitu juga Nadira merasakan ketenangan.


33. قَالَ زَكِيٌّ: “إِنَّ الْإِنْفَاقَ يَجْعَلُنَا قَرِيبِينَ مِنَ اللهِ”.
Zaky berkata: “Sesungguhnya infaq membuat kita dekat dengan Allah.”


34. قَالَتْ نَدِيرَةُ: “وَيَجْعَلُنَا نُحِبُّ الْمُسَاعَدَةَ”.
Nadira berkata: “Dan membuat kita suka menolong.”


35. قَالَ الصُّنْدُوقُ: “أَنْتُمَا مِثَالٌ جَيِّدٌ لِلطُّلَّابِ”.
Kotak itu berkata: “Kalian adalah teladan baik bagi para murid.”


36. فَضَحِكَ الطُّلَّابُ حِينَ عَلِمُوا بِأَمْرِ الصُّنْدُوقِ.
Para murid tertawa ketika tahu tentang kotak itu.


37. وَلَكِنَّهُمْ تَعَلَّمُوا دَرْسًا عَظِيمًا.
Namun mereka belajar sebuah pelajaran besar.


38. فَصَارَ الْإِنْفَاقُ عَادَةً يَوْمِيَّةً لَهُمْ.
Maka infaq pun menjadi kebiasaan harian mereka.


39. وَكَانَ الصُّنْدُوقُ يَفْرَحُ بِكُلِّ مَا يُوضَعُ فِيهِ.
Dan kotak itu bergembira dengan setiap yang dimasukkan ke dalamnya.


40. وَانْتَهَتِ الْقِصَّةُ بِالْبَرَكَةِ وَالْمَحَبَّةِ بَيْنَ الْجَمِيعِ.
Dan kisah itu berakhir dengan keberkahan dan cinta di antara semua orang.

&

Takon Wektu: Jam Piro? (Tanya Waktu: Jam Berapa?)

5 Sep


       Takon Wektu: Jam Piro?
    (Tanya Waktu: Jam Berapa?)


Luqman: Jam piro saiki, Mir?
Luqman: Sampun jam pinten samenika, Mir?
Luqman: Sekarang jam berapa, Mir?

Amira: Saiki jam sanga, Man.
Amira: Samenika jam sanga, Man.
Amira: Sekarang jam sembilan, Man.

Luqman: Kowe ora kesusu sekolah?
Luqman: Panjenengan mboten enggal-enggal sekolah?
Luqman: Kamu tidak buru-buru sekolah?

Amira: Isih ana wektu, durung bel.
Amira: Taksih wonten wekdal, dereng bel.
Amira: Masih ada waktu, bel belum berbunyi.

Luqman: Aku kira wis jam sepuluh.
Luqman: Kula kinten sampun jam sedasa.
Luqman: Saya kira sudah jam sepuluh.

Amira: Ora, saiki isih jam sanga luwih limang menit.
Amira: Mboten, samenika taksih jam sanga langkung gangsal menit.
Amira: Tidak, sekarang masih sembilan lewat lima menit.

Luqman: Jammu bener ta, Mir?
Luqman: Jam panjenengan leres ta, Mir?
Luqman: Jam kamu benar, Mir?

Amira: Bener, iki saka HP.
Amira: Leres, menika saking HP.
Amira: Benar, ini dari HP.

Luqman: Oalah, aku kaget tak kira wis telat.
Luqman: Ngantos kaget, kula kinten sampun telat.
Luqman: Oh, kaget saya kira sudah terlambat.

Amira: Ora Man, isih ana wektu sakjam maneh.
Amira: Mboten, taksih wonten wekdal setunggal jam malih.
Amira: Tidak Man, masih ada waktu satu jam lagi.

Luqman: Yowis, ayo ngopi sik.
Luqman: Inggih, mangga ngunjuk kopi rumiyin.
Luqman: Baiklah, mari minum kopi dulu.

Amira: Oke, aku gelem.
Amira: Inggih, kula kersa.
Amira: Baik, saya mau.

Luqman: Nanging, jam piro bel sekolahmu?
Luqman: Nanging, jam pinten bel sekolah panjenengan?
Luqman: Tapi, jam berapa bel sekolahmu berbunyi?

Amira: Biasane jam sepuluh pas.
Amira: Biasanipun jam sedasa pas.
Amira: Biasanya jam sepuluh tepat.

Luqman: Yen mangkono, isih ana wektu akeh.
Luqman: Menawi mekaten, taksih wonten wekdal kathah.
Luqman: Kalau begitu, masih banyak waktu.

Amira: Hehe, iya tenan.
Amira: Hehe, leres sanget.
Amira: Hehe, iya benar.

Luqman: Aku uga tak pesen roti.
Luqman: Kula ugi badhe pesen roti.
Luqman: Saya juga mau pesan roti.

Amira: Wah apik, aku melu mangan.
Amira: Wah sae, kula nderek nedha.
Amira: Wah bagus, saya ikut makan.

Luqman: Saiki jam piro maneh, Mir?
Luqman: Samenika jam pinten malih, Mir?
Luqman: Sekarang jam berapa lagi, Mir?

Amira: Wis jam setengah sepuluh, ayo cepet!
Amira: Sampun jam setengah sedasa, mangga enggal!
Amira: Sudah jam setengah sepuluh, ayo cepat!

&

Ngenyang Rega Barang (Menawar Harga Barang)

4 Sep


       Ngenyang Rega Barang
     (Menawar harga Barang)


Ziyad:
Ngoko: “Halo Balqis, kowe ngerti regane sandal iki piro?”
Krama: “Halo Balqis, panjenengan mangertos regi sandal menika pinten?”
Indonesia: “Halo Balqis, kamu tahu berapa harga sandal ini?”

Ngoko: “Aku pengin tuku, nanging dhuwitku mung sithik.”
Krama: “Kula kersa mundhut, nanging arta kula namung sakedhik.”
Indonesia: “Saya ingin membeli, tapi uang saya hanya sedikit.”


Ngoko: “Penjaga tokone kandha regane satus ewu.”
Krama: “Juru toko ngendika reginipun satus ewu.”
Indonesia: “Penjaga tokonya bilang harganya seratus ribu.”


Ngoko: “Wah, larang banget kanggo aku.”
Krama: “Wah, awis sanget kangge kula.”
Indonesia: “Wah, mahal sekali bagi saya.”


Ngoko: “Kowe iso ngewangi aku ngenyang ora?”
Krama: “Panjenengan saged mbantu kula ngawis menapa mboten?”
Indonesia: “Kamu bisa membantu saya menawar tidak?”


Ngoko: “Aku isin nek nawar dhewe.”
Krama: “Kula sungkan menawi ngawis piyambak.”
Indonesia: “Saya malu kalau menawar sendiri.”


Ngoko: “Yen iso separo regane, aku gelem tuku.”
Krama: “Menawi saged setengah regi, kula purun mundhut.”
Indonesia: “Kalau bisa setengah harga, saya mau beli.”


Ngoko: “Penjaga tokone ora gelem mudhunake regane.”
Krama: “Juru toko mboten purun ngirangi reginipun.”
Indonesia: “Penjaga tokonya tidak mau menurunkan harga.”


Ngoko: “Balqis, ayo kowe sing nyoba ngenyang.”
Krama: “Balqis, mangga panjenengan ingkang nyobi ngawis.”
Indonesia: “Balqis, ayo kamu yang coba menawar.”


Ngoko: “Aku yakin kowe luwih pinter ngomong.”
Krama: “Kula pitados panjenengan langkung pinter matur.”
Indonesia: “Saya yakin kamu lebih pandai berbicara.”


Ngoko: “Balqis ngomongo regane larang lan njaluk murah.”
Krama: “Balqis mangga ngendika reginipun awis lan nyuwun mirah.”
Indonesia: “Balqis bilanglah harganya mahal dan minta murah.”

Ngoko: “Penjaga toko banjur mikir lan mesem.”
Krama: “Juru toko lajeng menggalih lan mesem.”
Indonesia: “Penjaga toko lalu berpikir dan tersenyum.”

Ngoko: “Akhire penjaga toko gelem nurunake rega dadi wolung puluh ewu.”
Krama: “Pungkasanipun juru toko kersa ngirangi regi dados wolung dasa ewu.”
Indonesia: “Akhirnya penjaga toko mau menurunkan harga menjadi delapan puluh ribu.”


Ngoko: “Wah, matur nuwun Balqis, kowe pancen pinter.”
Krama: “Wah, matur nuwun Balqis, panjenengan pancen pinter.”
Indonesia: “Wah, terima kasih Balqis, kamu memang pintar.”


Ngoko: “Aku bisa ngirit rong puluh ewu.”
Krama: “Kula saged ngirit kalih dasa ewu.”
Indonesia: “Saya bisa menghemat dua puluh ribu.”


Ngoko: “Dhuwit sisane iso kanggo mangan bareng.”
Krama: “Arta sesanipun saged kangge nedha sesarengan.”
Indonesia: “Sisa uangnya bisa untuk makan bersama.”

Ngoko: “Balqis setuju lan ngajak menyang warung.”
Krama: “Balqis sarujuk lan ngajak dhateng warung.”
Indonesia: “Balqis setuju dan mengajak pergi ke warung.”


Ngoko: “Ing warung aku pesen es teh lan sego goreng.”
Krama: “Wonten warung kula dhawuh es teh lan sekul goreng.”
Indonesia: “Di warung saya memesan es teh dan nasi goreng.”

Ngoko: “Balqis pesen bakso lan es jeruk.”
Krama: “Balqis dhawuh bakso lan es jeruk.”
Indonesia: “Balqis memesan bakso dan es jeruk.”

Ngoko: “Mangan bareng sawise tuku barang kuwi nggawe ati seneng.”
Krama: “Nedha sesarengan sasampunipun mundhut barang menika ndadosaken manah bingah.”
Indonesia: “Makan bersama setelah membeli barang itu membuat hati bahagia.”

&







Ngajak Mangan Bareng (Mengajak Makan Bersama)

4 Sep


        Ngajak Mangan Bareng
    (Mengajak Makan Bersama)


Rayyan: Ayo mangan bareng, Nayla.
Rayyan: Monggo dhahar sareng, Nayla.
Rayyan: Mari makan bersama, Nayla.

Nayla: Oalah, mangan opo ya?
Nayla: Lha, badhe nedha nopo nggih?
Nayla: Hmm, enaknya makan apa ya?

Rayyan: Aku kepengin sego goreng.
Rayyan: Kula kersa sekul goreng.
Rayyan: Aku mau nasi goreng.

Nayla: Wah, aku yo seneng sego goreng.
Nayla: Wah, kula ugi remen sekul goreng.
Nayla: Wah, aku juga suka nasi goreng.

Rayyan: Ning endi enake tuku?
Rayyan: Wonten pundi ingkang sae mundhutipun?
Rayyan: Di mana enaknya beli?

Nayla: Cedhak kene ana warung enak.
Nayla: Caket mriki wonten warung ingkang echo.
Nayla: Dekat sini ada warung yang enak.

Rayyan: Warunge Mbak Sari ta?
Rayyan: Warungipun Mbak Sari nggih?
Rayyan: Warung Mbak Sari ya?

Nayla: Iyo, sing kuwi.
Nayla: Leres, ingkang punika.
Nayla: Iya, yang itu.

Rayyan: Aku sing mbayar, Nayla.
Rayyan: Kula ingkang mbayar, Nayla.
Rayyan: Aku yang traktir, Nayla.

Nayla: Ora usah, aku yo gelem mbayar.
Nayla: Mboten sah, kula ugi kersa mbayar.
Nayla: Nggak usah, aku juga mau bayar.

Rayyan: Wis, tak traktir wae saiki.
Rayyan: Sampun, kula ingkang mbayar mawon sakmenika.
Rayyan: Sudah, biar aku yang traktir sekarang.

Nayla: Hehe, ya wis matur nuwun.
Nayla: Hehe, nggih sampun, matur nuwun.
Nayla: Hehe, ya sudah terima kasih.

Rayyan: Bar mangan, ayo dolan sedhela.
Rayyan: Sasampun nedha, monggo mlampah -mlampah sekedhap.
Rayyan: Setelah makan, ayo jalan sebentar.

Nayla: Dolan endi?
Nayla: Mlampah -mlampah dateng pundi?
Nayla: Jalan ke mana?

Rayyan: Mungkin menyang taman wae.
Rayyan: Mbok bilih dhateng taman kemawon.
Rayyan: Mungkin ke taman saja.

Nayla: Yo apik kuwi.
Nayla: Nggih, sae punika.
Nayla: Ya bagus itu.

Rayyan: Oke, ayo budhal saiki.
Rayyan: Nggih, mangga budhal sakmenika.
Rayyan: Oke, ayo berangkat sekarang.

Nayla: Sepurane, aku kudu ngabari ibuk dhisik.
Nayla: Nyuwun pangapunten, kula kedah matur dhateng ibu rumiyin.
Nayla: Maaf, aku harus izin ke ibu dulu.

Rayyan: Ora popo, aku ngenteni.
Rayyan: Mboten napa-napa, kula ngentosi.
Rayyan: Tidak apa-apa, aku tunggu.

Nayla: Matur nuwun, Rayyan.
Nayla: Matur nuwun sanget, Rayyan.
Nayla: Terima kasih banyak, Rayyan.

Rayyan: Yo, ayo cepet, aku wes ngelih banget.
Rayyan: Nggih, mangga enggal, kula sampun luwe sanget.
Rayyan: Ya, ayo cepat, aku sudah sangat lapar.

&

Tuku Jajan ing Warung (Beli Jajan di Warung)

4 Sep


        Tuku Jajan ing Warung
       (Beli Jajanan di Warung)


Idris: Ayo, Syifa, menyang warung tuku jajan.
Idris: Monggo, Syifa, dhateng warung mundhut jajanan.
Idris: Ayo, Syifa, ke warung beli jajanan.

Syifa: Jajane apa sing enak, Ris?
Syifa: Jajanipun punapa ingkang marem, Ris?
Syifa: Jajanan apa yang enak, Ris?

Idris: Aku kepengin krupuk lan permen.
Idris: Kula kersa krupuk saha permen.
Idris: Aku ingin kerupuk dan permen.

Syifa: Aku luwih seneng roti cilik.
Syifa: Kula langkung remen roti alit.
Syifa: Aku lebih suka roti kecil.

Idris: Ning kene jajane akeh, bingung milih.
Idris: Wonten mriki jajananipun kathah, bingung milih.
Idris: Di sini jajannya banyak, bingung pilih.

Syifa: Kowe duwe dhuwit pira?
Syifa: Panjenengan gadhah arta pinten?
Syifa: Kamu punya uang berapa?

Idris: Aku mung duwe sewu.
Idris: Kula namung gadhah sewu.
Idris: Aku hanya punya seribu.

Syifa: Aku isih duwe rong ewu.
Syifa: Kula taksih gadhah kalih ewu.
Syifa: Aku masih punya dua ribu.

Idris: Yo wis, ayo digabung wae.
Idris: Inggih sampun, mangga dipun gabung kemawon.
Idris: Ya sudah, ayo digabung saja.

Syifa: Becik, dadi isa tuku luwih akeh.
Syifa: Sae, dados saged mundhut langkung kathah.
Syifa: Bagus, jadi bisa beli lebih banyak.

Idris: Aku arep milih es lilin rong wiji.
Idris: Kula badhé milih es lilin kalih.
Idris: Aku mau pilih es lilin dua.

Syifa: Aku melu, aku yo seneng es lilin.
Syifa: Kula ndherek, kula ugi remen es lilin.
Syifa: Aku ikut, aku juga suka es lilin.

Idris: Warunge rame banget saiki.
Idris: Warungipun rame sanget samenika.
Idris: Warungnya ramai sekali sekarang.

Syifa: Yo, wong akeh bocah padha tuku.
Syifa: Leres, kathah lare sami mundhut.
Syifa: Iya, banyak anak-anak yang beli.

Idris: Wis, ayo mbayar saiki.
Idris: Sampun, mangga mbayar samenika.
Idris: Sudah, ayo bayar sekarang.

Syifa: Sapa sing mbayar dhisik?
Syifa: Sinten ingkang mbayar rumiyin?
Syifa: Siapa yang bayar duluan?

Idris: Aku wae sing mbayar dhisik.
Idris: Kula kemawon ingkang mbayar rumiyin.
Idris: Biar aku saja yang bayar duluan.

Syifa: Matur nuwun, Idris.
Syifa: Matur nuwun sanget, Idris.
Syifa: Terima kasih banyak, Idris.

Idris: Ora popo, mengko gantian.
Idris: Mboten napa-napa, enggal gantosan.
Idris: Tidak apa-apa, nanti gantian.

Syifa: Saiki ayo padha mangan jajan bareng.
Syifa: Samenika mangga sami nedha jajanan sareng.
Syifa: Sekarang ayo makan jajanan bersama.

&






Ketika Nilai Raport Membuatku Bersyukur

4 Sep
Video YouTube

📖 القِصَّةُ: عِنْدَمَا جَعَلَتْنِي دَرَجَاتُ التَّقْرِيرِ أَشْكُرُ

(Ketika Nilai Rapor Membuatku Bersyukur)



1. فِي يَوْمِ الْخَمِيسِ ذَهَبَ سُيَامِلُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ وَقَلْبُهُ مُمْتَلِئٌ بِالْقَلَقِ.

Pada hari Kamis, Syamil pergi ke sekolah dengan hati yang penuh cemas.



2. كَانَ الْيَوْمُ يَوْمَ تَوْزِيعِ التَّقَارِيرِ الدِّرَاسِيَّةِ.

Hari itu adalah hari pembagian rapor sekolah.



3. قَالَ فِي نَفْسِهِ: “لَعَلِّي أَحْصُلُ عَلَى دَرَجَاتٍ جَيِّدَةٍ.”

Ia berkata dalam hatinya: “Semoga aku mendapat nilai yang baik.”



4. جَلَسَ سُيَامِلُ مَعَ أَصْدِقَائِهِ فِي الْفَصْلِ وَالْجَمِيعُ يَنْتَظِرُ.

Syamil duduk bersama teman-temannya di kelas, dan semua menunggu.



5. دَخَلَ الْمُعَلِّمُ وَبِيَدِهِ مِلَفٌّ كَبِيرٌ.

Guru masuk dengan sebuah map besar di tangannya.



6. قَالَ الْمُعَلِّمُ: “الْيَوْمَ سَنُعْطِيكُمُ التَّقَارِيرَ.”

Guru berkata: “Hari ini kami akan membagikan rapor kepada kalian.”



7. بَدَأَ الْمُعَلِّمُ يُنَادِي أَسْمَاءَ الطُّلَّابِ وَيُعْطِيهِمُ التَّقْرِيرَ.

Guru mulai memanggil nama-nama siswa dan memberikan rapor.



8. كَانَ قَلْبُ سُيَامِلَ يَدُقُّ سَرِيعًا.

Jantung Syamil berdegup kencang.



9. عِنْدَمَا سَمِعَ اسْمَهُ، تَقَدَّمَ بِخُطُوَاتٍ بَطِيئَةٍ.

Ketika mendengar namanya, ia maju dengan langkah perlahan.



10. أَخَذَ التَّقْرِيرَ وَفَتَحَهُ بِرِجْفَةٍ.

Ia mengambil rapor itu dan membukanya dengan gemetar.



11. وَجَدَ أَنَّ دَرَجَاتِهِ لَيْسَتْ كَمَا يَتَمَنَّى.

Ia mendapati bahwa nilainya tidak sesuai harapannya.



12. قَالَ فِي نَفْسِهِ: “لِمَاذَا لَمْ أَحْصُلْ عَلَى مَرْتَبَةٍ أَعْلَى؟”

Ia berkata dalam hati: “Mengapa aku tidak mendapat peringkat lebih tinggi?”



13. جَلَسَ حَزِينًا فِي مَقْعَدِهِ.

Ia duduk dengan sedih di bangkunya.



14. رَأَتْهُ صَدِيقَتُهُ غِينَا وَقَالَتْ: “مَا لَكَ يَا سُيَامِلُ؟”

Temannya, Ghina, melihatnya dan berkata: “Ada apa denganmu, Syamil?”



15. قَالَ سُيَامِلُ: “دَرَجَاتِي لَيْسَتْ جَيِّدَةً.”

Syamil berkata: “Nilai-nilaiku tidak bagus.”



16. ابْتَسَمَتْ غِينَا وَقَالَتْ: “وَلَكِنَّهَا لَيْسَتْ سَيِّئَةً أَيْضًا.”

Ghina tersenyum dan berkata: “Tapi nilaimu juga tidak buruk.”



17. أَجَابَ سُيَامِلُ: “أَرَدْتُ أَنْ أُفَرِّحَ وَالِدَيَّ.”

Syamil menjawab: “Aku ingin membahagiakan orang tuaku.”



18. قَالَتْ غِينَا: “الْفَرَحُ يَكُونُ بِالْمَجْهُودِ، لَيْسَ بِالْأَرْقَامِ فَقَطْ.”

Ghina berkata: “Kebahagiaan itu ada pada usaha, bukan hanya angka.”



19. أَضَافَتْ: “اللهُ يَنْظُرُ إِلَى جِدِّكَ وَإِخْلَاصِكَ.”

Ia menambahkan: “Allah melihat kesungguhan dan keikhlasanmu.”



20. تَذَكَّرَ سُيَامِلُ دُعَاءَ أُمِّهِ فِي كُلِّ صَبَاحٍ.

Syamil teringat doa ibunya setiap pagi.



21. كَانَتْ تَقُولُ: “اللهُمَّ وَفِّقْ وَلَدِي وَاجْعَلْهُ شَاكِرًا.”

Ibunya selalu berkata: “Ya Allah, beri anakku keberhasilan dan jadikan ia hamba yang bersyukur.”



22. مُسِحَتْ دُمُوعُهُ وَشَعَرَ بِالسَّكِينَةِ.

Air matanya terhapus dan ia merasakan ketenangan.



23. قَالَ فِي نَفْسِهِ: “سَأَكُونُ شَاكِرًا عَلَى مَا أُعْطِيتُ.”

Ia berkata dalam hati: “Aku akan bersyukur atas apa yang diberikan.”



24. بَعْدَ الدِّرَاسَةِ، رَجَعَ إِلَى الْبَيْتِ وَالْبَسْمَةُ عَلَى وَجْهِهِ.

Setelah pelajaran, ia pulang ke rumah dengan senyum di wajahnya.



25. قَابَلَتْهُ أُمُّهُ وَسَأَلَتْ: “كَيْفَ كَانَ تَقْرِيرُكَ؟”

Ibunya menyambut dan bertanya: “Bagaimana rapormu?”



26. قَالَ: “لَيْسَ كَامَا أَتَمَنَّى، وَلَكِنِّي سَأَشْكُرُ اللهَ.”

Ia berkata: “Tidak seperti yang kuharapkan, tapi aku akan bersyukur kepada Allah.”



27. ابْتَسَمَتْ أُمُّهُ وَقَالَتْ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.”

Ibunya tersenyum dan berkata: “Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan.”



28. جَاءَ وَالِدُهُ وَقَالَ: “الْمُهِمُّ أَنْ تَسْتَمِرَّ فِي التَّعَلُّمِ.”

Ayahnya datang dan berkata: “Yang penting kau terus belajar.”



29. أَضَافَ: “الدَّرَجَاتُ لَيْسَتْ كُلَّ شَيْءٍ.”

Ayahnya menambahkan: “Nilai bukanlah segalanya.”



30. شَعَرَ سُيَامِلُ بِالرِّضَا وَالطُّمَأْنِينَةِ.

Syamil merasakan kerelaan dan ketenangan.



31. فِي الْمَسَاءِ صَلَّى الْمَغْرِبَ وَدَعَا اللهَ بِالْخَيْرِ.

Pada malam harinya ia salat Magrib dan berdoa kepada Allah dengan kebaikan.



32. قَالَ فِي دُعَائِهِ: “اللهُمَّ زِدْنِي عِلْمًا وَارْزُقْنِي شُكْرًا.”

Ia berdoa: “Ya Allah, tambahkanlah ilmuku dan karuniakanlah aku rasa syukur.”



33. كَانَ قَلْبُهُ مُمْتَلِئًا بِالنُّورِ.

Hatinya dipenuhi cahaya.



34. فِي الْيَوْمِ التَّالِي قَابَلَ غِينَا فِي الْمَدْرَسَةِ.

Keesokan harinya ia bertemu Ghina di sekolah.



35. قَالَ لَهَا: “شُكْرًا لَكِ عَلَى كَلِمَاتِكِ.”

Ia berkata kepadanya: “Terima kasih atas kata-katamu.”



36. ابْتَسَمَتْ وَقَالَتْ: “الشُّكْرُ يَجْعَلُنَا أَقْوَى.”

Ghina tersenyum dan berkata: “Rasa syukur membuat kita lebih kuat.”



37. فَهِمَ سُيَامِلُ أَنَّ الْحَيَاةَ لَيْسَتْ دَرَجَاتٍ فَقَطْ.

Syamil memahami bahwa hidup bukan hanya tentang nilai.



38. بَلْ هِيَ رِحْلَةُ عِلْمٍ وَإِيمَانٍ وَصَبْرٍ.

Melainkan perjalanan ilmu, iman, dan kesabaran.



39. قَرَّرَ أَنْ يَجْتَهِدَ أَكْثَرَ مَعَ شُكْرٍ دَائِمٍ.

Ia memutuskan untuk lebih giat belajar dengan rasa syukur yang terus-menerus.



40. وَمِنْ ذَلِكَ الْيَوْمِ صَارَ كُلَّمَا نَظَرَ إِلَى تَقْرِيرِهِ يَقُولُ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ.”

Sejak hari itu, setiap kali melihat rapornya, ia berkata: “Alhamdulillah.”



&

Kebun Sayur di Belakang Masjid

4 Sep
Video YouTube



بُسْتَانُ الْخُضْرَاوَاتِ خَلْفَ الْمَسْجِدِ

(Kebun Sayur di Belakang Masjid)



1. ‏اِسْمَاعِيلُ طَالِبٌ فِي مَدْرَسَةٍ إِسْلَامِيَّةٍ صَغِيرَةٍ.

Ismail adalah seorang murid di sekolah Islam kecil.



2. ‏كَانَ يُحِبُّ الْمَسْجِدَ الَّذِي يَقَعُ قُرْبَ بَيْتِهِ.

Dia sangat menyukai masjid yang terletak dekat rumahnya.



3. ‏وَكَانَتْ أُخْتُهُ دَالِيَا تُصَلِّي مَعَهُ فِي كُلِّ صَلَاةٍ.

Saudara perempuannya, Dalia, selalu shalat bersamanya di setiap shalat.



4. ‏فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ قَالَ إِمَامُ الْمَسْجِدِ: “لَدَيْنَا أَرْضٌ خَلْفَ الْمَسْجِدِ غَيْرُ مُسْتَخْدَمَةٍ.”

Suatu hari imam masjid berkata: “Kita punya tanah di belakang masjid yang belum digunakan.”



5. ‏فَكَّرَ إِسْمَاعِيلُ وَقَالَ: “لِمَاذَا لَا نَزْرَعُ فِيهَا خُضْرَاوَاتٍ؟”

Ismail berpikir lalu berkata: “Mengapa tidak kita tanami sayur-sayuran?”



6. ‏فَرِحَتْ دَالِيَا بِالْفِكْرَةِ وَقَالَتْ: “نَعَمْ، سَوْفَ أُسَاعِدُكَ.”

Dalia senang dengan ide itu dan berkata: “Ya, aku akan membantumu.”



7. ‏بَدَأَ الطِّفْلَانِ بِتَنْظِيفِ الْأَرْضِ وَإِزَالَةِ الْأَحْجَارِ.

Kedua anak itu mulai membersihkan tanah dan membuang batu-batu.



8. ‏ثُمَّ أَتَيَا بِالْمَاءِ لِيُرَوِّيَا التُّرَابَ.

Kemudian mereka membawa air untuk menyiram tanah.



9. ‏زَرَعَا بُذُورَ الْخِيَارِ وَالطَّمَاطِمِ وَالْفُلْفُلِ.

Mereka menanam benih mentimun, tomat, dan cabai.



10. ‏كُلَّ يَوْمٍ يَأْتِي إِسْمَاعِيلُ وَدَالِيَا لِيَسْقِيَا الْبُسْتَانَ.

Setiap hari Ismail dan Dalia datang untuk menyiram kebun.



11. ‏كَانَا يَقْرَآنِ دُعَاءَ الزَّرْعِ قَبْلَ الْعَمَلِ.

Mereka selalu membaca doa menanam sebelum bekerja.



12. ‏وَيَقُولَانِ: “اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي زَرْعِنَا.”

Dan mereka berkata: “Ya Allah, berkahilah tanaman kami.”



13. ‏بَعْدَ أُسْبُوعَيْنِ، بَدَأَتِ النَّبَاتَاتُ تُخْرِجُ أَوْرَاقًا صَغِيرَةً.

Setelah dua minggu, tanaman mulai mengeluarkan daun kecil.



14. ‏فَرِحَ الْأَطْفَالُ الَّذِينَ يَلْعَبُونَ قُرْبَ الْمَسْجِدِ عِنْدَمَا رَأَوْا النَّمُوَّ.

Anak-anak yang bermain di dekat masjid senang melihat pertumbuhan itu.



15. ‏قَالَ إِسْمَاعِيلُ: “سَوْفَ نُعْطِي الْخُضْرَاوَاتِ لِلْفُقَرَاءِ.”

Ismail berkata: “Kita akan memberikan sayuran untuk fakir miskin.”



16. ‏أَجَابَتْ دَالِيَا: “هَذَا عَمَلٌ صَالِحٌ وَصَدَقَةٌ.”

Dalia menjawab: “Itu adalah amal saleh dan sedekah.”



17. ‏مَرَّ الإِمَامُ وَقَالَ: “جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا، أَنْتُمَا قُدْوَةٌ.”

Imam lewat dan berkata: “Semoga Allah membalas kebaikan kalian, kalian adalah teladan.”



18. ‏كَبُرَتِ النَّبَاتَاتُ حَتَّى أَصْبَحَتْ تُعْطِي ثِمَارًا.

Tanaman tumbuh besar hingga mulai berbuah.



19. ‏كَانَتِ الطَّمَاطِمُ حَمْرَاءَ جَمِيلَةً، وَالْخِيَارُ أَخْضَرَ طَوِيلًا.

Tomat tampak merah indah, dan mentimun hijau panjang.



20. ‏وَالْفُلْفُلُ أَصْبَحَ يَلْمَعُ بِلَوْنِهِ الزَّاهِي.

Dan cabai tampak berkilau dengan warnanya yang cerah.



21. ‏جَمَعَ إِسْمَاعِيلُ وَدَالِيَا الْخُضْرَاوَاتِ فِي سَلَّةٍ كَبِيرَةٍ.

Ismail dan Dalia mengumpulkan sayuran dalam keranjang besar.



22. ‏ثُمَّ ذَهَبَا إِلَى بُيُوتِ الْأَرَامِلِ وَالْفُقَرَاءِ.

Kemudian mereka pergi ke rumah para janda dan fakir miskin.



23. ‏قَالُوا: “هَذِهِ هَدِيَّةٌ مِنْ بُسْتَانِ الْمَسْجِدِ.”

Mereka berkata: “Ini hadiah dari kebun masjid.”



24. ‏فَبَكَى بَعْضُ الْفُقَرَاءِ مِنَ الْفَرَحِ.

Beberapa fakir miskin menangis karena bahagia.



25. ‏وَقَالَتْ إِحْدَاهُنَّ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَكُمَا رَحْمَةً لَنَا.”

Dan salah satu dari mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang menjadikan kalian rahmat bagi kami.”



26. ‏فَرِحَ إِسْمَاعِيلُ وَدَالِيَا بِكَلِمَاتِهَا.

Ismail dan Dalia gembira dengan ucapannya.



27. ‏ثُمَّ رَجَعَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَشَكَرَا اللَّهَ.

Kemudian mereka kembali ke masjid dan bersyukur kepada Allah.



28. ‏قَالَ الإِمَامُ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ عَنْ قِصَّتِهِمَا.

Imam bercerita tentang kisah mereka dalam khutbah Jumat.



29. ‏قَالَ: “الأَرْضُ وَالنِّعْمَةُ أَمَانَةٌ عِنْدَنَا.”

Imam berkata: “Tanah dan nikmat adalah amanah bagi kita.”



30. ‏وَأَضَافَ: “مَنْ يَزْرَعْ خَيْرًا يَحْصُدْ أَجْرًا.”

Dan beliau menambahkan: “Barang siapa menanam kebaikan akan menuai pahala.”



31. ‏سَمِعَ النَّاسُ وَتَأَثَّرُوا بِالْقِصَّةِ.

Orang-orang mendengarnya dan terinspirasi oleh kisah itu.



32. ‏بَعْدَ أَيَّامٍ، بَدَأَ بَعْضُ الشُّبَّانِ يُسَاعِدُونَ فِي الْبُسْتَانِ.

Beberapa hari kemudian, beberapa pemuda mulai membantu di kebun.



33. ‏فَأَصْبَحَ الْمَسْجِدُ مَكَانًا لِلْعِبَادَةِ وَالزِّرَاعَةِ مَعًا.

Maka masjid menjadi tempat ibadah sekaligus pertanian.



34. ‏وَتَعَلَّمَ الْجَمِيعُ أَنَّ الْعَمَلَ فِي الْأَرْضِ قُرْبَةٌ.

Dan semua belajar bahwa bekerja di tanah juga ibadah.



35. ‏قَالَتْ دَالِيَا: “لَيْسَ الْمَسْجِدُ لِلصَّلَاةِ فَقَطْ.”

Dalia berkata: “Masjid bukan hanya untuk shalat.”



36. ‏بَلْ هُوَ مَرْكَزٌ لِلْخَيْرِ وَالنُّورِ.

“Tetapi juga pusat kebaikan dan cahaya.”



37. ‏اِبْتَسَمَ إِسْمَاعِيلُ وَقَالَ: “صَدَقْتِ يَا أُخْتِي.”

Ismail tersenyum dan berkata: “Benar sekali, wahai saudariku.”



38. ‏وَقَالَ: “الآنَ نَفْهَمُ أَنَّ الْعَمَلَ وَالْعِبَادَةَ يَجْتَمِعَانِ.”

Dia berkata: “Sekarang kita paham bahwa kerja dan ibadah bisa bersatu.”



39. ‏كَانَ الْمَسْجِدُ أَكْثَرَ حَيَاةً بِبُسْتَانِهِ الْمُثْمِرِ.

Masjid menjadi lebih hidup dengan kebunnya yang berbuah.



40. ‏وَكَانَ إِسْمَاعِيلُ وَدَالِيَا يَشْكُرَانِ اللَّهَ كُلَّ يَوْمٍ.

Dan Ismail serta Dalia senantiasa bersyukur kepada Allah setiap hari.



&