Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 101

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 101“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafkannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.” (QS. at-Taubah / al-Baraah: 101)

Allah memberitahu Rasul-Nya, Muhammad saw, bahwa di antara masyarakat Arab yang tinggal di sekitar Madinah terdapat orang-orang munafik. Demikian halnya di tengah-tengah masyarakat Madinah, juga terdapat orang-orang munafik. Maradduu ‘alan nifaaqi (“Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya.”) Yaitu, secara berkelanjutan dan terns menerus dalam melakukan kemunafikan tersebut.

Dari kata marad itu pula syaitan itu disebutkan sebagai mariid dan maarid. Tamarrada fulan yang berarti si fulan itu melampui batas dan sombong.

Dan firman Allah: laa ta’lamuHum nahnu na’lamuHum (“Engkau [Muhammad] tidak mengetahui mereka, tetapi Kamilah yang mengetahui mereka.”) Yang demikian itu tidak bertentangan dengan firman-Nya yang artinya berikut ini:
“Dan jika Kami hendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.” (QS. Muhammad: 30)

Karena yang demikian itu termasuk masalah pemberian tanda kepada mereka dengan sifat-sifat yang dengannya mereka dikenal dan tidak berarti bahwa Nabi saw. mengetahui masing-masing orang munafik yang ada di sekitarnya. Dan Nabi saw. sendiri mengetahui bahwa di antara penduduk Madinah yang bergaul dengan beliau terdapat juga orang munafik, meskipun beliau melihatnya setiap pagi dan sore hari.

Mengenai firman Allah: sanu’adzdzibuHum marrataini (“Nanti mereka akan Kami siksa dua kali.”) Mujahid mengatakan: “Yaitu berupa pembunuhan dan penangkapan.” Dalam sebuah riwayat,ia mengatakan: “Yaitu berupa kelaparan dan siksa kubur. Baru kemudian mereka dikembalikan ke adzab yang besar.”

Ibnu Juraij mengatakan: “Yaitu adzab dunia dan adzab kubur. Baru kemudian mereka dikembalikan ke adzab yang besar, yaitu neraka.”
Sedangkan `Abdurrahman bin Zaid mengemukakan: “Adapun adzab di dunia itu berupa harta kekayaan dan anak.” Lalu ia membacakan firman Allah Ta’ala [yang artinya]:
“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya dengan memberikan harta benda dan anak-anak itu, Allah hendak mengadzab mereka dalam kehidupan di dunia.” (QS. At-Taubah: 55).

Semua musibah tersebut merupakan adzab bagi mereka, sedangkan bagi orang-orang mukmin merupakan pahala. Dan adzab di akhirat kelak adalah di neraka.

Tsumma turadduuna ilaa ‘adzaabin ‘adhiim (“Kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.”) Mujahid mengatakan: “Yaitu neraka.”

Diceritakan kepada kami, bahwa `Umar bin al-Khaththab ra, jika ada orang yang meninggal dunia dari kalangan mereka (orang-orang munafik), maka ia melihat Hudzaifah, jika Hudzaifah menshalatkannya, maka ia akan menshalatkannya, dan jika tidak ia akan meninggalkannya.

Diceritakan pula kepada kami, bahwasanya `Umar bin al-Khaththab pernah bertanya kepada Hudzaifah: “Apakah aku termasuk dari mereka?” “Tidak, dan aku tidak akan percaya seorang pun dari mereka sepeninggalmu.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 100

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 100“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah / al-Baraah: 100)

Allah memberitahukan tentang keridhaan-Nya terhadap orang-orang terdahulu dari kalangan kaum Muhajirin, kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta keridhaan mereka kepada Allah atas apa yang Allah telah sediakan untuk mereka berupa surga-surga yang penuh kenikmatan dan kenikmatan yang abadi.

Asy-Sya’bi mengatakan: “Yang disebut dengan as-sabiqun al-awwalun (orang-orang terdahulu lagi yang paling pertama) adalah kaum Muhajirin dan kaum Anshar, yang mendapatkan peristiwa perjanjian Bai’atur Ridwan pada tahun Hudaibiyyah.”

Abu Musa al-Asy’ari, Said bin al-Musayyib, Muhammad bin Sirin, al-Hasan dan Qatadah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang pernah mengerjakan shalat dengan menghadap ke dua kiblat bersama Rasulullah saw.”

Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi pernah menceritakan, ‘Umar bin al-Khaththab pernah melewati seseorang yang tengah membaca ayat: was saabiquunal awwaluuna minal muHaajiriina wal anshaari (“Orang-orang yang terdahu lagi yang pertama-tama [masuk Islam] di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar.”)
Kemudian `Umar menarik tangan orang itu seraya berucap: “Siapakah yang membacakan ayat ini kepadamu?” Orang itu menjawab: “Ubay bin Ka’ab.”
“Jangan pergi dariku sebelum aku membawamu kepadanya,” papar ‘Umar bin al-Khaththab. Setelah mendatangi Ubay bin Ka’ab, `Umar berkata: “Apakah benar kamu yang membacakan ayat ini demikian kepada orang ini?”
Ubay bin Ka’ab menjawab: “Benar.” “Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ?” tanya `Umar. “Ya,” jawabnya. `Umar berkata: “Aku melihat bahwa kami telah ditinggikan pada ketinggian yang tidak yang tidak dapat dicapai oleh seorang sepeninggal kami.”
Ubay berkata: “Ayat yang memberikan peneguhan ayat tersebut terletak pada awal surat al Jumu’ah: ‘Dan kepada kaum yang lain dari mereka yang belunI berhubungan dengan mereka. Dan Allahlah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.’ Dan juga ayat yang terdapat pada surat al-Hasyr: ‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka [Muhajirin dan anshar].’”
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Allah memberitahukan, bahwa Dia telah meridhai orang-orang dari kalangan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, alangkah celakanya orang-orang yang membenci dan mencela mereka atau sebagian saja dari mereka. Apalagi terhadap pemuka sahabat setelah Rasulullah saw, yaitu sahabat pilihan dan Khalifah paling agung, ash-Shiddiq al-Akbar yaitu, Abu Bakar bin Abi Quhafah ra. Ada sebuah kelompok terhina dari kalangan kaum Rafidhah yang memusuhi, membenci, mencaci dan mencela para sahabat yang paling mulia. Na’udzu billaaHi min dzalik.

Yang demikian itu menunjukkan, bahwa akal mereka telah terbalik dan hati mereka pun telah linglung. Lalu dimanakah posisi keimanan orang-orang tersebut terhadap al-Qur’an, di mana mereka telah mencela orang-orang yang telah diridhai oleh Allah oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya ? sedangkan ahlus sunnah senantiasa meridlai orang-orang yang diridlai Allah, mencela orang-orang yang dicela Allah dan Rasul-Nya, mendukung orang-orang yang didukung oleh-Nya, memusuhi orang-orang yang dimusuhi oleh-Nya.

Ahlus sunnah adalah muttabi’un (yang mengikuti Rasulullah) dan bukan mubtadi’un (pembuat bid’ah), kaum yang taat dan bukan kaum yang membangkang. Mereka ini adalah golongan Allah jalla wa ‘ala yang beruntung dan merupakan hamba-hamba-Nya yang beriman.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 97-99

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 97-99“Orang-orang Arab Badui itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar jika tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (9:97) Di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan menanti-nanti marabahaya menimpamu; merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. 9:98) Dan di antara orang-orang Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan memandang apa yang dinafkahkannya (dijalan Allah) itu sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah, dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya; sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 9:99)” (at-Taubah / al-Baraah: 97-99)

Allah memberitahukan, bahwa di antara orang-orang Arab Badui itu terdapat orang-orang kafir, orang-orang munafik dan orang-orang yang beriman. Tetapi, kekufuran dan kemunafikan mereka lebih parah dan lebih keras daripada masyarakat lainnya. Dan mereka lebih layak jika tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, dari Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bertempat tinggal di dusun (pedalaman), maka ia akan menjadi kasar. Barangsiapa berburu, maka ia akan menjadi lengah. Dan barangsiapa mendekati penguasa, maka ia akan tergoda (terfitnah).” (HR. Ahmad)

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i. Imam at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut derajatnya hasan gharib, di mana kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits ats-Tsauri.

Karena kekasaran dan kekakuan sudah menjadi karakter masyarakat Badui (pedusunan), maka Allah tidak mengutus seorang Rasul pun kalangan mereka. Dan Allah hanya mengutus Rasul dari masyarakat kota. Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya:
“Kami tidak mengutus sebelummu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk kota.” (QS. Yusuf: 109)

Setelah orang Arab Badui memberikan hadiah itu kepada Rasulullah beliau memberikan balasan yang berlipat ganda sehingga ia ridha. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya aku berkeinginan untuk tidak menerima hadiah, kecuali suku Quraisy, dari suku Tsaqafi, dari kaum Anshar dan orang dari suku Dausi.”

Karena mereka ini tinggal di perkotaan; di Makkah, Tha’if, Madinah dan ‘aman. Mereka ini lebih lembut akhlaknya dari pada masyarakat Arab Badui, karena tabi’at masyarakat Badui itu sangatlah kasar.

Ada sebuah hadits tentang masyarakat Arab Badui dalam mencium anak, diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari `Aisyah radhiyallahu ‘anha, bercerita: “Ada beberapa orang Arab Badui yang datang kepada Rasulullah saw. lalu mereka bertanya: `Apakah kalian suka mencium anak-anak kalian? Para sahabat Rasulullah menjawab: `Ya.’ Kemudian mereka berkata: `Demi Allah, kami ini tidak suka mencium mereka.’ Maka Rasulullah saw. pun bersabda: “Apakah aku berkuasa jika Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari kalian.”

Sedangkan Ibnu Numair mengatakan: “Mencabut kasih sayang dari hatimu.”
Sedangkan menurut riwayat Imam al-Bukhari adalah sebagai berikut: “Apakah aku berkuasa
Allah telah mencabut kasih sayang dari hati kalian.”

Firman Allah: wallaaHu ‘aliimun hakiim (“Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”) Maksudnya, Allah Ta’ala mengetahui siapa orang yang berhak mendapatkan pengajaran tentang keimanan dan ilmu. Allah bijaksana dalam membagikan ilmu, kebodohan, keimanan, kekufuran dan kemunafikan di antara hamba-hamba-Nya. Dan Allah tidak akan dimintai pertanggunganjawab atas apa yang Allah perbuat berdasarkan pengetahuan dan kebijaksanaan.

Kemudian Allah memberitahukan, bahwa di antara masyarakat Arab Badui itu, may yattakhidzu maa yunfiqu (“Ada yang memandang apa yang diinfakkannya.”) Yaitu, di jalan Allah. Maghraman (“sebagai sesuatu kerugian”) yaitu kesia-siaan. Wa tarabbishu bikumud dawaa-ir (“Dan ia menanti-nanti marabahaya menimpa kalian.”) Maksudnya, menunggu-nunggu berbagai macam bencana dan malapetaka menimpa kalian. ‘alaiHim daa-iratus sau-i (“Merekalah yang akan ditimpa marabahaya”) Artinya, bencana dan malapetaka itu justru akan berbalik kepada mereka dan menimpanya. wallaaHu samii’un ‘aliim (“Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.”)
Maksudnya, Allah mendengar do’a yang dipanjatkan oleh hamba-hamba-Nya. Allah mengetahui siapa-siapa saja yang berhak mendapat pertolongan dan siapa yang berhak mendapatkan penghinaan.

Firman Allah, selanjutnya: wa minal a’raabi may yu’minu billaaHi wal yaumil aakhiri wa yattakhidzu may yunfiqu qurubaatin ‘indallaaHi wa shalawaatir rasuuli (“Dan di antara orang-prang Arab Badui itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta memandang apa yang diinfakkannya [di jalan Allah] itu sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rasul.”)

Inilah kelompok orang-orang Badui yang mendapatkan pujian. Mereka inilah yang memandang apa yang diinfakkannya di jalan Allah Ta’ala itu sebagai salah satu jalan bertaqarrub (mendekatkan dirt) kepada Allah Ta’ala. Dan dengan itu, mereka mengharapkan do’a Rasul bagi mereka.

Allaa innaHaa qurbatul laHum (“Ketahuilah, sesungguhnya infak itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Maksudnya, yang demikian itu akan menjadi hasil bagi mereka.

Sayudkhilu HumullaaHu fii rahmatiHii innallaaHa ghafuurur rahiim (“Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 94-96

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 94-96“Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan ‘udzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah: ‘Janganlah kamu mengemukakan ‘udzur; kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami, beritamu yang sebenarnya. Dan Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Allah memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ (QS. 9:94) Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada meraka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis, dan tempat mereka adalah Jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 9:95) Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha terhadap mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu. (QS. 9:96)” (at-Taubah / al-Baraah: 94-96)

Allah memberitahukan tentang keadaan orang-orang munafik, di mana jika Rasulullah saw. dan kaum muslimin kembali ke Madinah, niscaya orang-oorang munafik itu akan menyampaikan udzur mereka.

Qul laa ta’tadziruu lan nu’mina lakum (“Katakanlah: ‘Janganlah kalian mengemukakan udzur, kami tidak percaya lagi kepada kalian.’”) Yakni, kami tidak akan pernah percaya kepada kalian. Qad nabba-annallaaHu min akhbaarikum (“Karena sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami berita kalian yang sebenarnya.”) Artinya, Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada kami semua keadaan kalian.

Wa sayarallaaHu ‘amalakum wa rasuuluHu (“Allah dan Rasul-Nya akan melihat pekerjaan kalian.”) Maksudnya, Allah akan memperlihatkan amal perbuatan kalian di dunia kepada umat manusia.
Tsumma turadduuna ilaa ‘aalimil ghaibi wasy-syaHaadati fa yunabbi-ukum bimaa kuntum ta’maluun (“Kemudian kalian akan dikembalikan kepada yang Mahamengetahui yang ghaib dan yang nyata. Lalu Allah memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.”)

Yakni, Allah akan memberitahukan kepada kalian semua amal perbuatan kalian, baik maupun buruknya, serta akan memberikan balasan atas semua perbuatan tersebut. Selanjutnya, Allah memberitahukan bahwa orang-orang munafik itu akan bersumpah kepada kalian sambil menyampaikan udzur mereka supaya kalian merelakan mereka. Maka berpalinglah kalian dari mereka dengan memandang hina terhadap mereka. Karena sesungguhnya mereka itu kotor lagi najis dalam bathin dan keyakinan mereka. Di akhirat kelak, tempat kembali mereka adalah Jahannam, sebagai balasan atas apa yang pernah mereka kerjakan, berupa perbuatan dosa dan kesalahan.

Lebih lanjut Allah A memberitahukan, bahwa apabila Rasulullah dan orang-orang yang beriman meridhai sumpah mereka: fa innallaaHa laa yardlaa ‘anil qaumil faasiqiin (“Maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.”) Yaitu, orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Al-fisqu berarti keluar. Bertolak dari kata tersebut, maka tikus itu disebut sebagai fuwaisiqah, karena keluarnya ia dari tempat persembunyiannya untuk melakukan pengrusakan. Darinya pula dikatakan, fasaqat ar-ruthbah yang berarti jika kurma itu telah copot dari tandanannya, rusaklah ia (fasik).

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 91-93

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 91-93“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 9:9 1) Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (QS. 9:92) Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu adalah orang-orang yang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. 9:93)” (at-Taubah / al-Baraah: 91-93)

Setelah itu, Allah menjelaskan alasan-alasan yang membolehkan orang untuk tidak berangkat berperang. Allah menyebutkan, di antaranya adalah alasan yang menjadi suatu keharusan bagi setiap orang yang tidak mungkin dihindari, kelemahan fisik sehingga tidak memungkinkan baginya untuk berjihad. Yang termasuk hal itu antara lain: Buta, pincang, dan lain-lain yang semisalnya. Oleh karena itu, Allah memulai ayat di atas dengan alasan kelemahan tersebut.

Alasan lainnya adalah yang bersifat insidentil (hanya terjadi pada kesempatan-kesempatan tertentu), yang disebabkan oleh penyakit yang bersemayam dalam tubuh seseorang yang menyebabkan dirinya tidak mampu untuk pergi berjihad di jalan Allah, atau disebabkan kefakirannya yang menyebabkan dirinya tidak mampu untuk mempersiapkan perlengkapan (bekal) untuk berperang. Bagi mereka ini tidak ada dosa jika mereka tetap di tempat. Dan pada saat itu mereka harus tulus ikhlas menjalaninya, serta tidak berusaha untuk menggoyahkan orang lain dan tidak juga menghalang-halangi mereka. Dan mereka tetap baik dalam menjalani keadaan mereka ini.

Oleh karena itu, Allah berfirman: maa ‘alal muhsiniina min sabiiliw wallaaHu ghafuurur rahiim (“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”)

Sufyan ats-Tsauri menceritakan, dari `Abdul `Aziz bin Rafi’, dari Abu Tsumamah, ia menceritakan, al-Hawariyyun (Para sahabat setia) berkata: “Hai Ruhullah, beritahukan kepada kami tentang orang yang tulus ikhlas kepada Allah Ta ala.” la menjawab: “Yaitu yang mendahulukan hak Allah atas hak manusia. Jika terjadi pada dirinya dua urusan atau tampak olehnya urusan dunia dan urusan akhirat, maka ia akan memulai dengan urusan akhirat, baru setelah itu beralih kepada urusan dunia.”

Al-Auza’i menceritakan, orang-orang pernah pergi menunaikan shalat istisqa’ (meminta hujan), lalu Bilal bin Sa’ad berdiri di tengah-tengah mereka. la memanjatkan pujian kepada Allah dan kemudian berkata: “Wahai para hadirin sekalian, bukankah kalian mengakui berbuat keburukan?” Mereka menjawab: “Benar.” Kemudian Bilal berucap: “Ya Allah, sesungguhnya kami mendengar Engkau berfirman: maa ‘alal muhsiniina min sabiil (“Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.”) Ya Allah, sesungguhnya kami telah mengakui berbuat keburukan, maka ampunilah kami, sayangilah dan turunkanlah hujan kepada kami.” Setelah itu ia mengangkat kedua tangannya dan orang-orang pun mengangkat tangan mereka, hingga akhirnya diturunkan hujan kepada mereka.

Qatadah mengatakan, ayat ini turun berkenaan dengan `A-idz bin `Amr al-Muzani, Ibnu Abi Hatim memberitahu kami, dari Zaid bin Tsabit, ia bercerita, aku pernah menuliskan wahyu untuk Rasulullah saw. Aku menulis surat Bara-ah, lalu aku letakkan pena ditelingaku, tiba-tiba beliau memerintahkan kami berperang. Lalu Rasulullah menunggu apa yang akan turun kepadanya, mendadak ada seorang buta yang datang seraya bertanya: “Lalu bagaimana denganku, ya Rasulullah, sedang aku ini seorang yang buta?” Maka turunlah ayat: laisa ‘aladl-dlu’afaa-i ( “Tidak ada dosa [lantaran tidak pergi berjihad] bagi orang-orang yang lemah.”)

Mengenai ayat ini, al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu `Abbas: Yang demikian itu, bahwasanya Rasulullah saw. memerintahkan agar orang-orang berangkat menuju dua perang bersama beliau. Kemudian sejumlah sahabatnya mendatangi beliau yang di antara mereka adalah `Abdullah bin Mughaffal bin Muqrin al-Muzani. Mereka berkata: “Ya Rasulullah, ajaklah kami berangkat.”
Maka beliau bertutur kepada mereka: “Demi Allah, aku tidak mendapatkan kendaraan yang dapat mengangkut Maka mereka kembali sambil menangis. Mereka merasa berat untuk tidak ikut berjihad sedang mereka tidak mempunyai biaya dan juga kendaraan.

Setelah Allah A mengetahui kesungguhan mereka untuk mencintai-Nya clan mencintai Rasul-Nya, Allah menurunkan alasan bagi mereka dalam kitab-Nya. Allah berfirman yang artinya:
“Tidak ada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) bagi orang-orang yang lemah, bagi orang-orang yang sakit dan bagi orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Dan tidak pula dosa bagi orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu katakan: ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.’ Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu adalah orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).”

Mengenai firman Allah Ta’ala: walaa ‘alal ladziina idzaa maa atauka litahmilaHum (“Dan tidak ada pula dosa bagi orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan.”) Mujahid mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan Bani Muqrin dari Muzinah.”

Sedangkan Muhammad bin Ka’ab mengatakan: “Mereka berjumlah tujuh orang dari Bani ‘Amr bin ‘Auf bin Salim bin Auf, dari Bani Waqif Harami bin `Amr, dari Bani Mazin an-Najjar `Abdurrahman bin Ka’ab (Abu Laila) dan dari Bani al-Ma’ali Bani Salamah `Amr bin `Utbah dan `Abdullah bin `Amr al-Muzani.”

Muhammad bin Ishaq mengatakan: Dalam perjalanan menuju perang Tabuk, kemudian ada beberapa orang dari kaum muslimin yang mendatangi Rasulullah saw, sedang mereka dalam keadaan menangis. Mereka ini berjumlah tujuh orang dari kaum Anshar dan yang lainnya, termasuk Bani `Amr bin `Auf Salim Ibnu `Umair, `Aliyah bin Zaid saudara Bani Haritsah, serta Abu Laila `Abdurrahman bin Ka’ab saudara Bani Mazin bin an-Najjar, `Amr bin al-Hamam bin al-Jamuh saudara Bani Salamah dan`Abdullah bin al-Mughaffal al-Muzani.

Sebagian orang berkata, tetapi ia adalah `Abdullah bin `Amr al-Muzani dan Harami bin `Abdullah saudara Bani Waqif `Iyadh bin Sariyah al-Fazari. Mereka meminta agar Rasulullah saw. membawa mereka dan mereka termasuk orang yang mempunyai hajat (orang yang tidak mempunyai penghasilan yang cukup). Kemudian beliau bersabda: “Aku tidak mendapatkan kendaraan yang dapat mengangkut kalian.”
Kemudian mereka pun kembali, sedangkan air mata mereka bercucuran karena merasa sedih, tidak mendapatkan apa yang dapat dijadikan biaya perjalanan.

Sedangkan dalam kitab ash-Shahihain, disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di Madinah ini terdapat beberapa kaum. Kalian tidak melintasi lembah dan tidak juga menempuh suatu perjalanan melainkan mereka (kaum-kaum itu) bersama kalian.”
Para sahabat bertanya: “Padahal mereka itu tetap berada di Madinah?”
Beliau menjawab: “Benar, udzur (alasan) telah menahan mereka.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir, ia menceritakan, Rasulullah saw. pernah bersabda: “Kalian telah meninggalkan beberapa orang di Madinah. Kalian tidak melintasi lembah dan tidak pula kalian menempuh jalan melainkan mereka bersekutu dengan kalian dalam hal pahala. Mereka itu ditahan oleh penyakit.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Kemudian Allah mencela orang-orang yang meminta izin untuk tidak ikut berperang padahal mereka adalah orang kaya. Allah mengingatkan kerelaan mereka untuk tetap tinggal bersama kaum wanita yang tidak ikut berperang: wa thaba’allaaHu ‘alaa quluubiHim faHum laa ya’lamuun (“Dan Allah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 90

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 90“Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan ‘udzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjibad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa adzab yang pedih.” (QS. at-Taubah / al-Baraah: 90)

Selanjutnya Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beralasan untuk tidak ikut berjihad, di mana mereka datang kepada Rasulullah saw. untuk menyampaikan alasan kepada beliau, serta menjelaskan kelemahan dan ketidakmampuan mereka untuk pergi berjihad. Mereka itu adalah penduduk Arab yang tinggal di sekitar Madinah.

Ibnu Ishaq menceritakan: “Yang sampai kepadaku, mereka adalah beberapa orang dari Bani Ghifar Khafaf bin Ghaima’ bin Rukhshah.”
pendapat ini lebih jelas dalam memberikan pengertian terhadap ayat tersebut, karena setelah itu, Allah berfirman: wa qa’adal ladziina kadzdzabullaaHa wa rasuulaHuu (“Sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri.”)
Maksudnya, mereka yang tidak ikut datang untuk menyampaikan alasan mereka.

Selanjutnya, Allah Tabaraka wa Ta ala mengancam mereka dengan adzab yang sangat pedih, di mana Allah t berfirman: sayushiibul ladziina kafaruu min Hum ‘adzaabun aliim (“Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa adzab yang pedih.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 88-89

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 88-89“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. (QS. 9:88) Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. 9:89)” (at-Taubah / al-Baraah: 88-89)

Setelah Allah menyebutkan dosa orang-orang munafik dan menjelaskan pujian-Nya kepada orang-orang yang beriman serta apa yang akan mereka dapatkan di akhirat kelak, Allah berfirman: laakinir rasuulu wal ladziina aamanuu ma’aHu jaaHaduu (“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka.”) Yang menjelaskan keadaan mereka dan tempat kembali mereka.

Dan firman-Nya: wa ulaa ika laHumul khairaat (“Dan mereka itulah orang-orang yang nemperoleh kebaikan.”) Yaitu, di alam akhirat, di surga Firdaus dan derajat yang tinggi.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 86-87

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 86-87“Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang-orang munafik itu): ‘Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya,” niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: ‘Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk.’ (QS. 9:86) Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad). (QS. 9:87)” (at-Taubah / al-Baraah: 86-87)

Allah berfirman dengan mengingkari dan mencela orang-orang yang tidak mau pergi berjihad, serta orang-orang yang membangkang, padahal mereka mampu melakukannya dan memiliki keleluasaan dan kelonggaran. Mereka meminta izin kepada Rasulullah saw, untuk tidak pergi berjihad seraya mengatakan:
“Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang.”

Mereka rela mendapatkan aib dan tetap tinggal di tempat mereka bersama kaum wanita yang tetap tinggal setelah keberangkatan tentara. Jika terjadi perang, maka mereka adalah orang yang paling pengecut. Dan jika dalam keadaan aman, maka mereka adalah orang yang paling banyak bicara. Sebagaimana Allah pernah menyinggung mereka dalam ayat yang lain yang artinya: “Apabila datang ketakutan (bahaya), kalian lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati. Dan apabila ketakutan itu telah hilang, mereka mencacimu dengan lidah yang tajam.” (QS. Al-Ahzaab: 19)

Yaitu, lidah mereka menjadi lancar berbicara dengan kata-kata yang tajam, ketika dalam keadaan aman. Sedangkan pada saat perang, mereka ini menjadi orang yang paling takut. Sebagaimana yang dikemukakan seorang penyair:

“Apakah pada saat aman mereka pembual, keras dan kasar. Sedangkan
pada saat perang, mereka menjadi seperti wanita-wanita yang dimarahi”

Dalam ayat lain, Allah berfirman yang artinya:
“Dan orang-orang yang beriman berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan suatu Surat?’ Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, engkau melihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaan bagi mereka. Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jika mereka benar (imannya) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 20-21)

Firman-Nya: wa thubi-‘a ‘alaa quluubiHim (“Dan hati mereka telah dikunci mati.”) Yaitu, disebabkan keengganan mereka untuk berjihad dan pergi bersama Rasulullah saw. di jalan Allah.

faHum laa yafqaHuun (“Maka mereka tidak mengetahui.”) Maksudnya, mereka tidak memahami hal-hal yang mengandung kebaikan bagi mereka, sehingga mereka mengerjakannya dan tidak mengetahui apa yang mengandung bahaya bagi mereka, lalu mereka menjauhinya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 85

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 85“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki untuk mengadzab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir.” (QS. at-Taubah / al-Baraah: 85)

Penafsiran ayat ini telah dikemukakan sebelumnya di ayat yang senada dengan ayat ini, (yaitu pada ayat 55 dari surat at-Taubah).

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 84

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 84“Dan janganlah sekali-kali kamu menshalatkan (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. at-Taubah: 84)

Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk membebaskan diri dari orang-orang munafik dan tidak menshalatkan seorang pun yang meninggal dunia dari mereka, serta tidak berdiri di atas kuburnya guna memohonkan ampunan baginya atau mendo`akannya, karena mereka itu telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka meninggal dunia dalam keadaan kafir. Hukum itu berlaku bagi siapa saja yang telah diketahui kemunafikannya, meskipun sebab turunnya ayat ini hanya berkenaan dengan ‘Abdullah Ubay bin Salul, pemimpin orang-orang munafik.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Ibnu’Umar, ia menceritakan:
“Ketika `Abdullah bin Ubay meninggal dunia, puteranya yang bernama `Abdullah bin `Abdullah datang kepada Rasulullah saw, lalu ia meminta beliau supaya memberikan kepadanya baju beliau untuk mengkafani ayahnya. beliau pun memberikannya. Lalu ia meminta beliau untuk menshalatkan jenazahnya, maka Rasulullah berangkat untuk menshalatkan. Kemudian `Umar menarik baju beliau seraya berkata: `Ya Rasulullah, apakah engkau akan menshalatkannya, padahal Rabbmu telah melarangmu untuk menshalatkannya?’”

“Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepadaku, di mana Allah berfirman: `Engkau mohonkan ampun bagi mereka atau tidak engkau mohonkan ampun bagi mereka adalah sama saja. Kendatipun engkau mohonkan ampun mereka tujuh puluh kali, nmmun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka,’ dan aku akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali.”
`Umar berkata: “Sesungguhnya, ia adalah seorang munafik.”

Ibnu `Umar melanjutkan ceritanya, maka Rasulullah pun menshalatkannya, lalu Allah menurunkan ayat: wa laa tushallii ‘alaa ahadin minHum maata abadaw walaa taqum ‘alaa qabriHi (“Dan janganlah kalian sekali-kali menshalatkan [jenazah] seorang yang mati di antara mereka. Dan janganlah kalian berdiri [mendo’akan] di kuburnya.”)

Demikian pula hadits senada yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

`Umar bin al-Khaththab tidak menshalatkan jenazah orang yang diketahui keadaannya, sehingga Hudzaifah bin al-Yaman menshalatkannya, karena ia mengetahui setiap individu dari orang-orang munafik dan Rasulullah saw sendiri telah memberitahukan kepadanya tentang orang-orang munafik tersebut.

Dalam kitab al-Gharib fi Hadits `Umar, Abu `Ubaid menceritakan, bahwa ketika ia hendak menshalatkan jenazah seseorang, Hudzaifah mencubitnya seolah-olah ia (Hudzaifah) hendak menghalang-halanginya menshalatkan jenazah tersebut. Diceritakan dari sebagian mereka, bahwa cubitan (al-marzu) menurut orang-orang yang mengetahui maksudnya adalah, cubitan (al-qarshu) dengan. menggunakan ujung-ujung jari.

Setelah Allah melarang untuk menshalatkan jenazah orang-orang munafik dan berdiri di atas kuburan mereka guna memohonkan ampunan bagi mereka, maka yang demikian itu menjadi salah satu bentuk amalan mendekatkan diri yang paling besar bagi orang-orang yang beriman, hal itupun disyari’atkan. Di mana bila mengerjakannya, maka akan memperoleh pahala yang besar.

Sebagaimana yang ditegaskan di dalam buku-buku hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah telah bersabda:
“Barangsiapa yang menghadiri jenazah sampai jenazah itu dishalatkan, maka baginya satu qirath. Dan barangsiapa menghadiri jenazah sampai jenazah dikuburkan, maka baginya dua qirath.”
Ditanyakan: “Apakah yang dimaksud dengan dua qirath tersebut?”
Beliau menjawab: “Yang paling kecil di antara keduanya itu adalah seperti gunung Uhud.”

&