Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 72

28 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 72“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. at-Taubah/ al-Bara’ah:72)

Allah mengabarkan apa yang Allah janjikan kepada orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, berupa aneka kebaikan kenikmatan yang abadi di: jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru khaalidiina fiiHaa (“Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.”) Yakni, mereka akan tinggal di dalamnya untuk selama-lamanya.

Wa masaakina thayyibatan (“Juga mendapatkan tempat-tempat yang bagus.”) Yaitu, bangunan yang indah (baik lagi bagus sebagai tempat tinggal, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab ash-Shahihain, dari hadits Abu `Imran al Jauni, dari Abu Bakar bin Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari, dari ayahnya, ia menceritakan, Rasulullah saw pernah bersabda: “Ada dua surga, yang mana bejana dan apa yang terdapat di dalamnya terbuat dari emas. Dan ada juga dua surga, yang mana bejana dan apa yang terdapat dalamnya terbuat dari perak. Pemisah antara suatu kaum untuk memandang Rabbnya hanyalah berupa rida’ (tirai) kebesaran yang terdapat pada wajah-Nya di surga `Adn.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan dalam kitab ash-shahihain juga disebutkan, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya bagi orang-orang mukmin di dalam surga sebuah rumah yang terbuat dari satu mutiara yang bulat, yang panjangnya enam puluh mil di langit. Di dalamnya ada beberapa keluarga, ia mengelilingi mereka, yang sebagian mereka tidak mengetahui sebagian lainnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Masih dalam kitab ash-shahihain juga, disebutkan dari Abu Hurairah ia menceritakan, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, mengerjakan puasa Ramadhan, maka keharusan bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, baik ia sebagai orang yang berhijrah di jalan Allah, maupun ia tetap tinggal di tanah kelahirannya.”
Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kita tidak perlu memberitahu orang-orang?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus derajat (tingkatan) yang disiapkan Allah bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Jarak antara setiap dua derajat (tingkatan) adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya surga Firdaus, karena ia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah. Dari surga Firdaus itu memancar sungai-sungai surga, dan di atasnya terdapat ‘Arsy ar-Rahman.”

Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, dari ‘Ubadah bin ash-Shamith dan dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’ad, ia menceritakan, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya para penghuni surga itu dapat melihat kamar-kamar di dalam surga, sebagaimana mereka dapat melihat bintang di langit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam dua kitab shahih mereka, kemudian ia (penghuni surga) akan mengetahui bahwa tingkatan tertinggi di surga adalah tempat yang diberi nama al-wasilah. Diberi nama itu karena kedekatannya dari ‘Arsy. Itulah yang menjadi tempat Rasulullah di surga.

Sedangkan dalam kitab shahih Muslim disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Alqamah, dari `Abdurrahman bin Jubair Abdullah bin `Amr bin al-‘Ash, bahwasanya ia pernah mendengar Nabi saw. bersabda: “Jika kalian mendengar mu’adzdzin, maka ucapkanlah seperti apa yang ucapkannya, lalu bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya barangsiapa
yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah al-wasilah untukku, karena ia merupakan kedudukan di surga, yang tidak layak ditempati kecuali hanya oleh seorang hamba dari hamba-hamba-Nya. Dan aku berharap hamba itu adalah aku. Barangsiapa meminta al-wasilah kepada Allah untukku, maka halal baginya syafa’at pada hari Kiamat kelak.” (HR. Muslim)

Dan firman-Nya: wa ridlwaanum minallaaHi akbar (“Dan keridlaan Allah adalah lebih besar”) yakni keridlaan Allah kepada mereka lebih besar dan agung daripada kenikmatan yang mereka rasakan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Malik, dari Zaid bin Aslam, dari Atha’ bin Yasar, dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah akan berkata kepada para penghuni surga: ‘Wahai para penghuni surga.’ Maka mereka pun menjawab: ‘Ya Rabb kami, kami penuhi panggilan-Mu, dan kebaikan berada di tangan-Mu.’ Allah bertanya: ‘Apakah kalian ridha?’ ‘Mengapa kami tidak ridha, ya Rabb kami, sedang Engkau telah memberi kami sesuatu yang belum pernah diberikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu?’ sahut mereka. Allah bertanya: ‘Maukah kalian Aku beri sesuatu yang lebih baik dari itu?’ Mereka menjawab: ‘Ya Rabb kami, apakah sesuatu yang lebih baik dari hal tersebut?’ Allah menjawab: ‘Aku telah tetapkan keridhaan-Ku bagi kalian, sehingga setelah ini Aku tidak akan pemah murka lagi kepada kalian.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Malik.)

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: