Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 132-135

30 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 132-135“Mereka berkata: ‘Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.’ (QS. 7:132) Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. (QS. 7:133) Dan ketika mereka ditimpa adzab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata: ‘Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan adzab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.’ (QS. 7:134) Maka setelah Kami hilangkan adzab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. (QS. 7:135)” (al-A’raaf: 132-135)

Ini adalah berita dari Allah dan keingkaran kaum Fir’aun terhadap kebenaran serta tetap terus menerusnya mereka di atas kebathilan, dalam ucapan mereka: maHmaa ta’tinaa biHii min aayaatil litasharanaa biHaa famaa nahnu laka bimu’miniin (“Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan pada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.”) Mereka berkata: “Ayat (bukti) apa pun yang engkau datangkan kepada kami serta hujjah dan dalil apa pun yang engkau kemukakan kepada kami, maka kami pasti akan menolaknya, sebab kami tidak akan pernah mau menerimanya dan tidak juga kami beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa.”

Allah berfirman: fa arsalnaa ‘alaiHimuth thuufaana (“Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan.”) Dari Ibnu ‘Abbas: “Taufan itu adalah hujan lebat yang dapat menenggelamkan dan merusak segala macam tanaman dan buah-buahan.”

Sedangkan al jarad (belalang) sudah biasa dikenal dan masyhur, termasukbinatang yang dapat dimakan. Sebagaimana ditegaskan dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari Abu Ya’fur, ia mengatakan, aku pernah bertanya kepada ‘Abdullah bin Abi Aufa tentang belalang, maka ia berkata: “Kami pernah berangkat berperang bersama Rasulullah sebanyak tujuh kali, kami memakan belalang.”

Sedangkan mengenai al-qummal (kutu), diriwayatkan dari Ibnu Jarir, al-qummal adalah jamak dan mufrad (tunggal)nya adalah qummalah, yaitu binatang serupa dengan kutu yang memakan unta.

Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata: “Maka musuh Allah (Fir’aun) pun kembali pulang dalam keadaan kalah dan kecewa, ketika para ahli sihir itu beriman. Lalu ia menolak beriman dan tetap berada dalam kekafiran dan kejahatan. Maka Allah menurunkan kepadanya berbagai macam tanda kekuasaan-Nya, antara lain Allah menghukum Fir’aun dengan mendatangkan musim kemarau yang berkepanjangan serta mengirimkan angin taufan kepadanya, setelah itu belalang, lalu kutu, selanjutnya katak dan kemudian darah. Semuanya itu merupakan bukti yang memberi penjelasan yang benar-benar terang. Allah mengirim taufan, yaitu berupa air yang membanjiri permukaan bumi kemudian menggenangi, sehingga orang-orang tidak dapat bercocok tanam dan berbuat apa-apa sampai akhirnya mereka ditimpa kelaparan. Setelah kondisi mencapai demikian, maka:

Qaaluu yaa muusad’ulanaa rabbaka bimaa ‘aHida ‘indaka la-in kasyafta ‘annar rijza lanu’minanna laka wa lanursilanna ma’aka banii israa-iil (“Mereka pun berkata: `Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu dengan [perantaraan] kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan adzab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.”)

Musa pun memanjatkan do’a kepada Rabbnya, maka Allah Ta’ala menghilangkan penderitaan itu, tetapi mereka tidak menepati janji yang telah mereka sampaikan kepada Musa.

Selanjutnya Allah mengirimkan belalang, yang memakan semua tanaman, pepohonan, bahkan menurut berita yang aku (Muhammad bin Ishaq bin Yasar) terima, belalang-belalang itu memakan paku-paku pintu yang terbuat dari besi hingga rumah dan tempat tinggal mereka hancur runtuh. Lalu mereka mengatakan seperti yang dahulu pernah mereka katakan. Maka Musa pun berdo’a kepada Rabbnya, lalu Allah menghilangkan penderitaan tersebut. Namun setelah itu mereka pun tidak memenuhi janji mereka kepada Musa.

Kemudian Allah mengirimkan kutu kepada mereka. Disebutkan kepadaku (Muhammad bin Ishaq bin Yasar), bahwa Musa as. diperintahkan pergi ke anak bukit dan memukulnya dengan tongkatnya. Maka ia pun berangkat ke suatu anak bukit yang cukup besar, lalu memukulnya dengan tongkat miliknya, hingga kutu-kutu berhamburan menghinggapi mereka sampai kutu-kutu itu memenuhi rumah dan makanan mereka dan menyebabkan mereka tidak dapat tidur dan tenang. Setelah mereka merasa kelelahan, mereka mengatakan apa yang dahulu pernah mereka katakan kepada Musa. Kemudian Musa pun berdo’a kepada Rabbnya, lalu la pun menghilangkan penderitaan mereka. Namun tidak juga mereka menepati apa yang mereka katakan.

Selanjutnya Allah mengirimkan kepada mereka katak-katak yang memenuhi rumah-rumah, makanan dan bejana-bejana mereka, sehingga tidak ada seorang pun yang membuka pakaian atau pun makanan melainkan di dalamnya sudah terdapat katak telah memenuhi tempat itu. Dan setelah mereka kelelahan dengan hal itu, mereka berkata seperti yang apa yang sebelumnya mereka katakan. Selanjutnya Musa memohon kepada Rabbnya, maka la pun menghilangkan penderitaan yang menimpa mereka. Tetapi sekali lagi mereka tidak menepati apa yang mereka katakan. Dan akhirnya Allah mengirimkan darah sehingga semua air kaum Fir’aun itu menjadi darah. Mereka tidak dapat mengambil air dari sumur dan sungai. Mereka tidak menciduk air dari bejana melainkan langsung menjadi darah segar.”

Zaid bin Aslam berkata: “Yang dimaksud dengan darah itu adalal darah yang keluar dari lubang hidung.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim; Di dalam kisah ini terdapat beberapa hal yang tidak ditegaskan dalam kitab-kitab shahih, tetapi siyaq (redaksi) penafsiran memerlukannya, karena pembahasan (ayat) ini, penulis (Ibnu Katsir) tidak menyampaikan kecuali berupa kisah-kisah dan kisah inilah di antara kisah yang terpendek.)

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: