Asbabun Nuzul Surah Muhammad

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

1. Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka*.
2. Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan Itulah yang Haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.
(Muhammad: 1-2)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa yang dimaksud dengan al-ladziina kafaruu wa shadduu ang sabiilillaahi adlalla a’maalahum (orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi [manusia] dari jalan Allah, Allah menghapus amalan-amalan mereka. (Muhammad: 1) adalah orang-orang Mekah. Sementara ayat-ayat selanjutnya, wal-ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaat… (dan orang-orang yang beriman [kepada Allah] dan mengerjakan amal-amal yang shaleh …) (Muhammad: 2) adalah kaum Anshar di Madinah.

4. Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) Maka pancunglah batang leher mereka. sehingga apabila kamu Telah mengalahkan mereka Maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.
(Muhammad: 4)

* Maksudnya: semua amal perbuatan mereka tidak mendapat bimbingan dari Allah, tidak dihargai dan tidak mendapat pahala.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Qatadah bahwa akhir ayat ini (Muhammad: 4) turun pada waktu Perang Uhud, saat Rasulullah berada di markas. Pada waktu itu perang sedang berkecamuk dan banyak yang luka-luka serta gugur. Kaum musyrikin berteriak: “A’laa hubal (keagungan bagi tuhan Hubal).” Kaum Muslimin berseru: “Allaahu a’laa wa ajal (Alah lebih Luhur dan Mulia).” Kaum musyrikin berkata: “Kami mempunyai al-‘Uzza, sedang kalian tidak mempunyai al-‘Uzza.” Rasulullah saw memerintahkan pasukannya untuk menyahut: Allaahu maulaanaa wa laa maulaakum (Allah pelindung kami , dan kamu tidak mempunyai pelindung). Ayat ini (Muhammad: 4) mengemukakan jaminan pahala kepada orang yang berperang fisabilillah.

13. Dan betapa banyaknya negeri yang (penduduknya) lebih Kuat dari pada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang Telah mengusirmu itu. kami Telah membinasakan mereka, Maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka.
(Muhammad: 13)

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Rasulullah saw. keluar dari gua, beliau menoleh ke arah Mekah sambil berkata: “Engkau bumi Allah yang paling aku cintai. Sekiranya penduduknya tidak mengusirku, tentu aku tidak akan keluar.” Maka turunlah ayat ini (Muhammad: 13) yang menegaskan bahwa ada negeri lain yang lebih kuat daripada itu (Mekah) yang telah dihancurkan, dan tidak ada yang dapat menolongnya.

16. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang Berkata kepada orang yang Telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” mereka Itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.
(Muhammad: 16)

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa kaum Mukminin dan kaum munafikun berkumpul mengelilingi Nabi saw. Kaum Mukminin mendengarkan dan memperhatikan ucapan Rasulullah saw, sedang kaum munafikun hanya mendengarkan tapi tidak memperhatikan. Ketika mereka keluar, bertanyalah kaum munafikun: “Apa yang dikatakannya tadi?” Ayat ini (Muhammad: 16) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan perbedaan antara Mukminin dan munafik.

33. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.
(Muhammad: 33)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Muhammad bin Nashr al-Marwazi di dalam Kitabush salaah, yang bersumber dari Abul ‘Aliyah bahwa ada shahabat-shahabat Rasulullah saw. yang menganggap tidak menjadi dosa berbuat maksiat setelah mengucapkan laa ilaaha illallaah (tidak ada tuhan selain Allah). Hal ini didasarkan pada suatu ketetapan bahwa amal seseorang tidak akan diterima kalau diikuti dengan syirik. Ayat ini (Muhammad: 33) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memberikan petunjuk bagaimana cara taat kepada Allah. Setelah turun ayat tersebut, para shahabat berhati-hati dalam melaksanakan amalannya.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: