Tabaqat (Kelompok) Mufasir

10 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Berdasarkan uraian sebelumnya, kita dapat mengelompokkan mufasir sebagai berikut:

1. Mufasir dari kalangan shahabat.
Di antara mereka yang terkenal adalah empat khalifah, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubai bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin az-Zubair, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Jabir dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘As.

Di antara empat khalifah yang paling banyak diriwayatkan tafsirnya adalah Ali bin Abi Thalib, sedang periwayatan dari tiga khalifah lainnya jarang sekali. Hal ini karena mereka meninggal lebih dahulu, sebagaimana terjadi pada Abu Bakar. Ma’mar meriwayatkan dari Wahb bin Abdullah, dari Abut Tufail, ia berkata: “Saya pernah menyaksikan Ali berkhutbah, mengatakan: ‘Bertanyalah kepadaku karena, demi Allah, kamu tidak menanyakan kepadaku melainkan aku akan menjawabnya. Bertanyalah kepadaku tentang Kitabullah karena, demi Allah, tidak satu ayatpun yang tidak aku ketahui apakah ia diturunkan waktu malam ataukah pada waktu siang, di lembah ataukah di gunung.’”

Sementara itu Ibnu Mas’ud lebih banyak diriwayatkan tafsirnya daripada Ali. Ibnu Jarir dan yang lain meriwayatkan dari Ibn Mas’ud, ia berkata: “Demi Allah, tiada Tuhan selain Dia, tidaklah diturunkan satu ayatpun dari Kitabullah kecuali aku tahu berkenaan dengan siapa dan dimanakah ia diturunkan. Andaikata aku mengetahui tempat seseorang yang lebih tahu dari aku tentang Kitabullah sedang ia dapat dicapai dengan kendaraan, pasti aku datangi.”
Mengenai Ibn ‘Abbas, insya Allah akan kita kemukakan riwayatnya.

2. Mufasir dari kalangan tabi’in. Ibn Taimiyah menjelaskan, orang yang paling mengetahui tentang tafsir adalah penduduk Makkah, karena mereka adalah murid-murid Ibn ‘Abbas, seperti Mujahid, ‘Atha’ bin Abi Rabah, ‘Ikrimah maula (sahaya yang dimerdekakan oleh) Ibn ‘Abbas, Said bin Jubair, Thawus dan lain-lain. Di Kufah adalah murid-murid Ibn Mas’ud dan di Madinah adalah Zaid bin Aslam yang tafsirnya diriwayatkan oleh putranya sendiri Abdurrahman bin Zaid, dan Malik bin Anas. Di antara murid Ibn Mas’ud adalah ‘Alqamah, al-Aswad bin Yazid, Ibrahim an-Nakha’i dan asy-Sa’bi. Termasuk mufasir kelompok ini adalah al-Hasan al-Bashri, ‘Atha’ bin Abi Muslim al-Khurrasani, Muhammad bin Ka’b al-Qarazi, Abul ‘Aliyah Rafi’ bin Mhran ar-Rabi’ bin Anas dan as-Sadi. Mereka adalah para mufasir pendahulu dari kalangan tabi’in, dan pada umumnya pendapat mereka diterima dari para shahabat.

3. Kemudian lahir generasi berikutnya, yang sebagian besar berusaha menyusun kitab-kitab tafsir yang menghimpun pendapat-pendapat para shahabat dan tabi’in, seperti Sufyan bin ‘Uyainah, Waki’ bin al-Jarrah, Syu’bah bin al-Hajjaj, Yazid bin Harun, Abdurrazzaq, Adam bin Abi Iyas, Ishaq bin Rahawaih, ‘Abd bin Humaid, Rauh bin ‘Ubadah, Abu Bakar bin Abi Syaibah dan lain-lain.

4. Angkatan berikutnya diantaranya: Ali bin Abi Thalhah, Ibn Jarir at-Tabari, Ibn Abi Hatim, Ibn Majah, al-Hakim, Ibn Mardawaih, Abusy-Syaikh bin Hibban, Ibnul Mudzir dan lain-lain. Tafsir-tarsir mereka memuat riwayat-riwayat yang disandarkan kepada para shahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Semuanya sama, kecuali yang disusun oleh Ibn Jarir at-Tabari, dimana ia mengemukakan berbagai pendapat dan mentarjih salah satu atas yang lain, serta menerangkan i’rab dan istinbaat (penyimpulan hukum). Karena itu tafsir ini lebih unggul dari lainnya.

5. Generasi berikutnya menyusun kitab-kitab tafsir yang dipenuhi dengan keterangan-keterangan berguna yang dinukil dari para pendahulunya. Pola demikian terus berlangsung sampai datang masa kebangkitan modern. Maka sebagian mufasir menempuh pola baru dengan memperhatikan pada kelembutan uslub, keindahan ungkapan dan penekanan pada aspek-aspek sosial dan pemikiran kontemporer. Sehingga lahirlah tafsir bercorak sastra “sastra sosial” yang tidak menyebutkan sanad-sanad, ditambah sedikit pendapat dari penulisnya. Misalnya karya Abu Ishaq az-Zujaj, Abu Ali al-Farisi, Abu Bakar an-Naqqasy, Abu Ja’far an-Nahhas dan Abul Abbas al-Mahdawi.

6. Kemudian golongan muta’akhkhiriin menulis kitab-kitab tafsir. Mereka meringkas sanad-sanad riwayat dan mengutip pendapat-pendapat secara terputus. Karenanya masuklah ke dalam tafsir sesuatu yang asing dan riwayat yang shahih bercampur baur dengan yang tidak shahih.

7. Selanjutnya, setiap mufasir memasukkan begitu saja ke dalam tafsir pendapat yang diterima dan apa-apa yang terlintas dalam pikirannya yang dipercayainya. Kemudian generasi sesudahnya mengutip apa adanya semua yang tercantum di sana dengan anggapan bahwa hal itu mempunyai dasar, tanpa meneliti lagi tulisan yang datang dari ulama salaf dan shalih dan mereka yang menjadi panutan dalam hal ini. Akibatnya masuklah ke dalam tafsir berbagai macam pendapat. Sampai-sampai as-Suyuti mengatakan, “Penafsiran firman Allah; ghairil maghdluubi ‘alaiHim wa laadl dlaalliin; ada sepuluh pendapat. Padahal penafsiran yang berasal dari Nabi, semua shahabat dan tabi’in hanya ada satu, yaitu ‘orang Yahudi dan Nasrani”.” Oleh karena itu Ibnu Abi Hatim berkata, “Saya tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di antara para mufasir mengenai hal itu.”

8. Sesudah itu banyak mufasir yang mempunyai keahlian dalam berbagai disiplin ilmu mulai menulis tafsir. Mereka memenuhi kitab-kitabnya dengan cabang ilmu tertentu dan hanya membatasi pada bidang yang dikuasainya, seakan-akan al-Qur’an hanya diturunkan untuk ilmu tersebut, bukan untuk yang lain, padahal al-Qur’an memuat penjelasan mengenai segala sesuatu.

Misalnya kita lihat ahli nahwu. Ia tidak mempunyai perhatian lain kecuali hanya membeberkan panjang lebar persoalan i’rab dan wajah-wajah yang dimungkinkannya, sekalipun telah menyimpang terlalu jauh. Dan untuk itu ia kemukakan kaidah-kaidah nahwu, masalah-masalahnya, cabang-cabangnya dan bermacam pendapat mengenainya, seperti dilakukan oleh Abu Hayyan dalam al-Bahr dan an-Nahr.

Mufasir ahli berita hanya memikirkan kisah-kisah yang dibeberkannya secara tuntas serta menyuguhkan sejumlah riwayat yang diterima dari orang dulu, shahih maupun bathil, seperti as-Sa’labi. Sedang ahli fiqih menumpahkan semua permasalahan fiqih dalam tafsirnya, dan bahkan terkadang ia mengemukakan dalil-dalil fiqih yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ayat, serta menolak dalil-dalil pihak lawan, seperti dilakukan oleh Qurthubi.

Demikian pula ahli ilmu-ilmu rasional, ‘Aqli, terutama Imam Fakhruddin ar-Razi. Ia memenuhi tafsirnya dengan kata-kata ahli hikmah dan filosof, dan ia keluar dari suatu pembahasan ke pembahasan lain, sehingga orang yang memperhatikan merasa heran akan ketidasesuaiannya dengan ayat yang ditafsir. Dalam al-Bahr Abu Hayyan mengatakan, “Imam ar-Razi telah menghimpun dalam tafsirnya segala hal panjang lebar yang sebenarnya tidak diperlukan bagi ilmu tafsir. Oleh karena itu sebagian ulama berkata, di dalam tafsirnya terdapat segala sesuatu kecuali tafsir itu sendiri.”

Tidak terkecuali juga dengan ahli bid’ah. Ia tidak mempunyai maksud lain kecuali menyelewengkan ayat-ayat dan menafsirkannya dengan selera madzabnya yang rusak, sehingga kalau tampak baginya sesuatu yang aneh dan jauh, dikejarnya, atau jika mendapatkan sesuatu kesempatan (untuk mendukung pendiriannya) ia segera memanfaatkannya. Keterangan dari Bulqini membuktikan hal tersebut. Ia mengatakan: “Saya mengutip dari al-Kasysyaaf sejumlah faham Mu’tazilah untuk didiskusikan. Antara lain mengenai firman Allah yang artinya “Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung.” (Ali ‘Imraan: 185) disebutkan: “Keuntungan manakah yang lebih besar bagi orang itu daripada masuk surga?” penafsiran ini mengisyaratkan tentang tiadanya melihat Tuhan.”
Demikian pula halnya kaum atheis dan golongan sesat lainnya.

9. Masa kebangkitan modern. Pada saat ini para mufasir menempuh langkah dan pola baru dengan memperhatikan keindahan uslub dan kehalusan ungkapan serta menitikberatkan pada aspek-aspek sosial, pemikiran kontemporer, sehingga lahirlah tafsir bercorak “sastra-sosial”. Di antara mufasir kelompok ini ialah Muhammad Abduh, Sayid Muhammad Rasyid Rida, Muhammad Mustafa al-Maraghi, Sayid Quthub dan Muhammad ‘Izza Darwazah.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: