Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 61 (15)

23 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 61“61. atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.” (an-Naml: 61)

Allah Ta’ala berfirman: amman ja’alal ardla qaraaran (“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi qaraaran”) yaitu sebagai tempat tinggal yang tetap. Dia tidak menggoyang dan menggerakkan penghuninya serta tidak menggoncangkan mereka. seandainya itu terjadi, niscaya kehidupan tidak berlangsung baik. Akan tetapi Allah menjadikan bumi dengan keutamaan dan rahmat-Nya sebagai hamparan yang tetap, yang tidak goncang dan tidak bergerak.

Wa ja’ala khilaalaHaa anHaaran (“dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya”) yaitu Dia menjadikan sungai-sungai tawar dan baik untuk digunakan mengalirkan sungai itu di celah-celah-Nya. lalu Dia alirkan sungai-sungai besar dan kecil ke arah mana sesuai kemaslahatan hamba-hamba-Nya di wilayah dan di daerah mereka. Dimana Dia mengembangbiakkan mereka di permukaan bumi dan menumbuhkan rizky mereka sesuai kebutuhan mereka.

Wa ja’ala laHaa rawaasiya (“dan yang menjadikan gunung-gunung untuk mengokohkannya.”) yaitu gunung-gunung yang menjulang kokoh dan menancap ke bumi agar tidak menggoncangkan kalian.
Wa ja’ala bainal bahraini haajizan (“dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut”) yaitu Dia menjadikan pemisah di antara air tawar dan air asin yang dapat mencegahnya untuk bercampur agar bagian satu tidak merusak bagian yang lainnya. Sesungguhnya hikmah Ilahiyyah mengharuskan ketetapan masing-masing keduanya menurut sifatnya yang asli. Karena laut yang segar itu merupakan sumber dari sungai-sungai yang mengalir di lingkungan manusia. Tujuannya agar menjadi tawar dan nikmat, dimana hewan, manusia dan tumbuhan dapat mengambil manfaat darinya. Sedangkan lautan yang asin adalah hanya melingkari daratan dan benua di berbagai pelosok. Tujuannya agar air itu menjadi asin yang tidak merusak udara dengan baunya. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir [berdampingan]; yang ini tawar dan segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (al-Furqaan: 53). Untuk itu Allah berfirman: a ilaaHum ma’allaaH (“apakah ada ilah-ilah lain bersama Allah?”) yaitu yang dapat melakukan semua itu atau menurut pendapat yang lain, ilah-ilah lain yang diibadahi. Kedua pendapat tersebut saling terkait dan benar.
Bal aktsaruHum laa ya’lamuun (“Bahkan, kebanyakan mereka tidak mengetahui.”) tentang penyembahan mereka kepada selain-Nya.

Bersambung ke bagian 16

Satu Tanggapan ke “Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 61 (15)”

  1. Tajuddin 2 Desember 2021 pada 07.46 #

    Tqvm kepada Innu Katsir atas tafsir ayat – ayat Alquran. Ayat 61 surah An Naml. Mudahan dirahmati Allah.
    Apa komenter para saintis bukan islam atas terjadi pembahagian air tawar dan air masin. Adakah mereka akan katakan itu natural of law?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: