Thaharah (Bersuci)

19 Mar

Kajian Fiqih menurut Empat Mazhab

 

Shalat tidak sah dikerjakan kecuali dengan bersuci terlebih dahulu. Demikian menurut ijma’. Para ulama sepakat tentang wajibnya bersuci dengan air jika air itu ada dan dapat digunakan, serta tidak ada keperluan lain –yang lebih mendesak, seperti untuk minum. Sementara itu, wajib tayamum  dengan tanah [debu] jika tidak ada air.

Para fuqaha di kota-kota besar –seperti Kufah dan Basrah- telah sepakat bahwa air laut, baik yang tawar maupun yang asin, adalah suci dan mensucikan, seperti air-air yang lain. Namun terdapat beberapa ulama yang  melarang berwudlu dengan air laut. Ada juga sekelompok ahli fiqih yang membolehkannya ketika dalam keadaan darurat saja. Sementara itu, ada ahli fiqih lain yang membolehkan tayamum walaupun ada air laut untuk berwudlu.

Para ulama sepakat bahwa bersuci tidak sah secuali dengan air. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Laila dan al-‘Ashim tentang bolehnya bersuci dengan menggunakan cairan yang lain.

Maliki, Syafi-i, dan Hanbali: Najis tidak dapat dihilangkan kecuali dengan air. Hanafi: Najis dapat dihilangkan dengan segala cairan yang suci.

Pendapat paling shahih dari Syafi-i: air panas karena terkena sinar matahari hukumnya adalah makruh. Sementara itu, pendapat yang dipilih oleh para pengikutnya yang kemudian adalah pendapat yang mengatakan bahwa hal itu  tidak makruh. Demikian juga menurut tiga imam yang lain, yaitu Hanafi, Maliki dan Hanbali.

Air yang dimasak hukumnya tidak makruh, demikian menurut  kesepakatan para ulama. Diriwayatkan dari Mujahid bahwa ia memakruhkannya. Sementara itu, Hanbali memakruhkannya jika ia dipanaskan dengan api.

Air bekas bersuci (musta’mal) hukumnya  adalah suci, tetapi tidak menyucikan. Demikian pendapat yang masyur di kalangan madzab Hanafi, yang paling shahih dalam madzab Syafi-i, dan madzab Hanbali. Maliki: air musta’mal dapat mensucikan. Sementara itu, menurut sebagian riwayat dari Hanafi: air musta’mal adalah najis. Demikian juga menurut pendapat Abu Yusuf.

Air yang berubah karena bercampur dengan ja’faran atau benda-benda suci lain yang sejenis dan perubahannya sangat jelas, menurut Maliki, Syafi-i dan Hanbali: air tersebut tidak dapat digunakan untuk bersuci. Hanafi dan para pengikutnya: boleh bersuci dengan air tersebut. Mereka berpendapat bahwa perubahan air oleh sesuatu yang suci tidaklah menghilangkan sifat mensucikan selama  unsur-unsur airnya tidak hilang.

Air yang berubah karena terlalu  lama disimpan atau tidak digunakan, hukumnya adalah suci. Hal ini berdasarkan kesepakatan ulama. Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, bahwa air tersebut tidak boleh digunakan untuk bersuci.

Mandi dan berwudlu  dengan air zamzam, menurut Hanbali: Hukumnya adalah makruh. Hal ini demi memelihara kemuliaannya.

Api dan matahari tidak dapat menghilangkan najis. Namun Hanafi berpendapat: api dan matahari dapat menghilangkan najis. Menurutnya jika ada kulit bangkai menjadi kering karena sinar matahari, maka hukumnya suci meskipun tidak disamak. Demikian pula jika di atas tanah terdapat najis, kemudian kering karena sinar matahari, maka tempat itu  menjadi suci dan dapat digunakan untuk shalat. Namun, tempat itu tidak dapat dipergunakan untuk tayamum. Hanafi: api dapat menghilangkan najis.

Hanafi, Syafi-i dan Hanbali dalam salah satu  riwayatnya:  apabila air tenang kurang dari dua qullah, ia akan menjadi najis jika terkena benda najis walaupun sifat-sifatnya tidak berubah. Maliki dan Hanbali  dalam riwayat yang lain: air tersebut suci selama sifat-sifatnya  tidak berubah. Adapun jika air itu lebih dari dua qullah, yaitu 500 rithl Bagdad atau 180 rithl Damaskus, atau dalam volume 4x4x4 hasta, tidaklah menjadi najis –terkena benda najis- kecuali  jika sifat-sifatnya berubah, demikian pendapat Syafi-i dan Hanbali.

Maliki: air yang berada di sebuah tempat dengan ukuran tersebut tidak najis jika terkena benda najis. Namun jika warna, rasa atau baunya berubah maka hukumnya adalah najis, baik air itu  sedikit maupun banyak.

Hanafi: campurannya harus diperhatikan. Jika air itu bercampur dengan benda najis maka hukumnya  adalah najis, kecuali jika air tersebut banyak.  Air tersebut dikatakan banyak (ma’katsir) apabila digerakkan salah satu tepinya maka tepi lain tidak bergerak. Dalam keadaan demikian, hukumnya  tidak najis –jika air tersebut terkena benda najis.

Hanafi, Hanbali, dan qaul jadid Syafi-i –yang menjadi pendapat paling kuat di dalam mahdzab Syafi-i: air yang mengalir hukumnya sama dengan air yang tenang. Maliki: air yang mengalir itu tidak menjadi najis –jika terkena benda najis- kecuali jika air tersebut berubah, baik ia air yang banyak maupun sedikit. Seperti itu pula qaul qadim Syafi-i yang dipilih oleh sekelompok shahabatnya, seperti al-Baghawi, Imam al-Haramain, dan al-Ghazali. Imam an-Nawawi, di dalam Syarh al Muhadzdzib, mengatakan bahwa inilah pendapat yang kuat.

Para ulama: penggunaan perkakas yang terbuat dari emas untuk makan, minum, dan berwudlu, baik oleh laki-laki maupun perempuan, adalah haram. Syafi-i berpendapat sebaliknya. Sementara itu Dawud berpendapat bahwa hal itu haram hanya jika digunakan untuk minum. Pendapat Hanafi, Maliki, dan Hanbali yang mengharamkannya lebih kuat  daripada pendapat Syafi-i.

Para ulama: menggunakan saluran air yang terbuat dari emas adalah haram. Adapun, menggunakan saluran air yang terbuat dari perak adalah haram menurut Maliki, Syafi-i, dan Hanbali jika alirannya besar dan untuk hiasan. Hanafi: menggunakan saluran air dari perak tidak haram.

Bersiwak adalah  sunnah menurut kesepakatan para ulama. Sedangkan Dawud berpendapat bahwa hukumnya wajib. Sementara itu Ishaq berpendapat bahwa apabila bersiwak itu ditinggalkan dengan sengaja maka shalatnya batal.

Apakah bersiwak bagi orang yang berpuasa hukumnya adalah  makruh? Hanafi dan Maliki: hal itu  tidak makruh. Syafi-i: hal itu  makruh. Dari Hanbali diriwayatkan dua riwayat yang mengatakan bahwa  hal itu tidak makruh.

Sumber: Fiqih Empat Madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Iklan

3 Tanggapan to “Thaharah (Bersuci)”

  1. abu 5 Juni 2013 pada 10.41 #

    mâsyãallâh.. sangat bermanfaat bang..
    izin segala-galanya tentang semua ini bang..
    بارك الله..فيك

    • untungsugiyarto 5 Juni 2013 pada 11.14 #

      Untuk hal-hal yang bermanfaat, silakan.

      • abu 5 Juni 2013 pada 11.29 #

        sip. Buat otak&hati. Juga tugas”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: