Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (5)

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hujuraat (Kamar-Kamar)
Surat Madaniyyah; Surat ke 49: 18 ayat

 

Firman-Nya: fa im baghat ihdaaHumaa ‘alal ukhraa faqaatilul latii tabghii hattaa tafii-a ilaa amrillaaH (“tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah.”) maksudnya kembali kepada perintah Allah dan Rasul-Nya serta mendengar kebenaran dan mentaatinya, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits shahih, dari  Anas, bahwa Rasulullah bersabda: “Tolonglah saudaramu yang berbuat dzalim maupun yang didzalimi.” Lalu kutanyakan: “Ya Rasulallah, menolong orang yang didzalimi itu aku dapat mengerti, lalu bagaimana aku menolong orang yang dzalim?” beliau menjawab: “Yaitu engkau mencegahnya dari berbuat dzalim, dan itulah pertolonganmu untuknya.”

Imam Ahmad meriwayatkan, ‘Arim memberitahu kami, Mu’tamir memberitahu kami, ia bercerita: “Aku pernah  mendengar ayahku memberitahukan bahwa Anas bercerita: ‘Pernah kutanyakan kepada Nabi saw.: ‘Seandainya engkau mendatangi ‘Abdullah bin Ubay.’ Maka beliaupun berangkat menemuinya dengan menaiki keledai, lalu kaum muslimin berjalan kaki di tanah yang bersemak. Setelah Nabi saw. datang menemuinya, Ubay berkata: ‘Menjauhlah engkau dariku.’ Kemudian ada seorang dari kaum Anshar yang berkata: ‘Demi Allah, keledai Rasulullah saw. itu lebih wangi daripada baumu.’ Hingga akhirnya banyak orang-orang dari kaum ‘Abdullah bin Ubay marah kepadanya, lalu setiap orang dari dua kelompok marah. Dan di antara mereka telah terjadi pemukulan dengan menggunakan pelepah daun kurma dan juga tangan serta terompah.’” Perawi hadits ini melanjutkan: “Telah sampai kepada kami berita bahwasannya telah turun ayat yang berkenaan dengan mereka, yaitu: wa in thaa-ifataini minal mu’miniinaqtataluu fashlihuu bainaHumaa (“Dan jika ada dua golongan  dari orang-orang mukmin berperang, maka damikanlah antara keduanya.”) diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab ash-Shulh [dalam shahihnya], dari Musaddad  dan Muslim dalam bab al-Mughazi [dalam shahihnya] dari Muhammad bin ‘Abdil A’la, keduanya dari Mu’tamir bin Sulaiman, dari  ayahnya.

Firman Allah selanjutnya: fa ing faa-at fa ashlihuu bainaHumaa bil ‘adli wa aqshithuu innallaaHa yuhibbul muqsithiin (“kalau Dia telah surut [kembali ke jalan Allah], maka damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.”) maksudnya, bersikap adil dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di antara keduanya.

innallaaHa yuhibbul muqsithiin (“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr ia bercerita, sesungguhnya Rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di dunia, kelak berada di mimbar yang terbuat dari  mutiara di hadapan ar-Rahmaan atas keadilan yang pernah ia lakukan di dunia.”

Dan diriwayatkan oleh an-Nasa-i, dari Muhammad bin al-Mutsana, dari ‘Abdul A’la dengan lafazhnya. Dan sanad hadits ini jayyid qawi, dan para rijalnya berdasarkan pada syarat shahih. Dan Muhammad bin ‘Abdullah bin Zaid memberitahu kami, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah pada hari kiamat kelak berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya di sebelah kanan ‘Arsy, yakni mereka berbuat adil dalam hukum, keluarga, dan semua yang berada di bawah kekuasaan mereka.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasa-i dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah.

Firman Allah: innamal mu’minuuna ikhwatun (“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.”) maksudnya, seluruh kaum muslimin merupakan satu saudara karena agama. Sebagaimana disabdakan Rasulullah saw.: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh mendzalimi dan membiarkannya [didzalimi].”) dan dalam hadits shahih disebutkan: “Allah akan terus menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.”  Dan dalam hadits lain: “Jika seorang muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka Malaikata akan mengucapkan: ‘Amiin dan bagimu sepertinya.’” Dan dalam hadits lain lagi: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota badan akan merasa demam dan susah tidur.” Dalam hadits lain: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan yang sebagian dengan sebagian lainnya saling menguatkan.” Dan pada saat itu Rasulullah saw. menjalinkan jari-jemari beliau.

Imam Ahmad meriwayatkan, Ahmad bin al-Hajjaj memberitahu kami, Abu Hazim memberitahuku, ia bercerita: “Aku pernah  mendengar Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi menceritakan hadits dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Sesunggguhnya [hubungan] orang mukmin dengan orang-orang yang beriman adalah seperti [hubungan] kepala dengan seluruh badan. Seorang mukmin akan merasa sakit karena orang mukmin lainnya sebagaimana badan akan merasa sakit karena sakit pada kepala.” (Hadits ini diriwayatkan sendiri oleh Imam Ahmad).

Firman Allah: fa ashlihuu baina akhawaikum (“Karena itu,  damaikanlah antara kedua saudaramu.”) yaitu dua golongan yang saling bertikai. wattaqullaaHa (“Dan bertakwalah kepada Allah”) dalam seluruh urusan kalian. La’allakum turhamuun (“Supaya kamu mendapat rahmat”) hal tersebut merupakan penegasan dari Allah Ta’ala, dimana Dia akan memberikan rahmat kepada orang yang bertakwa kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: