Turunnya Al-Qur’an secara Bertahab

6 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Firman Allah:
“Dan al-Qur’an itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam; ia dibawa turun oleh ar-Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan; dengan bahasa Arab yang jelas.” (asy-Syu’ara: 192-195)

“Katakanlah: Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.” (an-Nahl: 102)

“Kitab ini diturunkan dari Allah yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana.” (al-Jaatsiyah: 2)

“Dan jika kamu tetap dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah saja yang semisal dengan al-Qur’an itu.” (al-Baqarah: 23)

“Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (al-Baqarah: 97)

Ayat-ayat di atas menyatakan bahwa al-Qur’anul Karim adalah kalam Allah dengan lafalnya yang berbahasa Arab; dan bahwa Jibril telah menurunkannya ke dalam hati Rasulullah saw. dan bahwa turunnya itu bukan lah turunnya yang pertama kali ke langit dunia. Tetapi yang dimaksud adalah turunnya al-Qur’an secara bertahab. Ungkapan untuk arti menurunkan dalam ayat-ayat di atas menggunakan kata tanzil bukannya inzal. Ini menunjukkan bahwa turunnya itu secara bertahab dan berangsur-angsur. Ulama bahasa membedakan antara inzal dan tanzil. Tanzil berarti turun secara berangsur-angsur sedang inzal hanya menunjukkan turun atau menurunkan dalam arti umum.

Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun: tiga belas tahun di Makkah menurut pendapat yang kuat, dan sepuluh tahun di Madinah. Penjelasan tentang turunnya secara berangsur itu terdapat dalam firman Allah: “Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (al-Israa’: 106).

Maksudnya: Kami telah menjadikan turunnya al-Qur’an itu secara berangsur agar kamu membacakannya kepada manusia secara perlahan dan teliti dan Kami menurunkannya bagian-demi bagian sesuai dengan peristiwa dan kejadian-kejadian.

Adapun kitab-kitab samawi yang lain, seperti Taurat, Injil dan Zabur, turunnya sekaligus, tidak turun secara berangsur-angsur. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya: “Dan berkatalah orang-orang kafir: ‘Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok.” (al-Furqaan: 32)

Ayat ini menunjukkan bahwa kitab-kitab samawi terdahulu itu turun sekaligus. Dan inilah yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama. Seandainya kitab-kitab terdahulu itu turun secara berangsur-angsur, tentulah orang-orang kafir tidak akan merasa heran terhadap al-Qur’an yang turun secara berangsur-angsur. Makna kata-kata mereka, ‘Mengapa al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja’ ; seperti halnya kitab-kitab yang lain. Mengapa ia diturunkan secara bertahab? Mengapa ia diturunkan secara berangsur-angsur? Allah tidak menjawab mereka bahwa ini adalah sunnah-Nya di dalam menurunkan semua kitab samawi sebagaimana Dia menjawab kata-kata mereka:

“Dan mereka berkata: ‘Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar?’” (al-Furqaan: 7) dengan jawaban:

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (al-Furqaan: 20) dan seperti Dia menjawab ucapan mereka:

“Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi Rasul?” (al-Israa’: 94) dengan jawaban:

“Katakanlah: ‘Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul.” (al-Israa’: 95) dan dengan firman-Nya:

“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad) melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka.” (al-Anbiyaa’: 7)

Tetapi Allah menjawab mereka dengan menjelaskan hikmah mengapa al-Qur’an diturunkan secara bertahab dengan firman-Nya: “Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu.” Maksudnya Kami menurunkan al-Qur’an secara bertahab dan terpisah-pisah karena suatu hikmah, yaitu untuk memperkuat hati Rasulullah saw.

“Dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok,” maksudnya: Kami menentukan seayat demi seayat atau bagian demi bagian, atau Kami menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya, karena turunnya yang bertahab sesuai dengan peristiwa-peristiwa itu lebih dapat memudahkan hafalan dan pemahaman yang merupakan salah satu penyebab kemantapan (di dalam hati).

Penelitian terhadap hadits-hadits shahih menyatakan bahwa al-Qur’an turun menurut keperluan, terkadang turun lima ayat, terkadang sepuluh ayat, terkadang lebih dari itu atau lebih sedikit. Terdapat hadits shahih yang menjelaskan sepuluh ayat telah turun sekaligus berkenaan dengan berita bohong tentang Aisyah. Dan telah turun pula sepuluh ayat dalam permulaan surah Mukminun secara sekaligus. Dan telah turun pula, ….. yang tidak mempunyai alasan (ghaira ulid darari) saja yang merupakan bagian dari suatu ayat. (Hal yang demikian itu dinukil oleh as-Suyuti dari Makki bin Abi Talib yang wafat tahun 1367 H. Dalam kitabnya an-Nasikh wal Mansuukh, Lihat al-itqaan jilid 1 hal 42).

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: